Edueksos : Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi

Journal Information
ISSN / EISSN : 2252-9942 / 2548-5008
Published by: IAIN Syekh Nurjati Cirebon (10.24235)
Total articles ≅ 56
Filter:

Latest articles in this journal

Rinita Rosalinda Dewi, Edi Suresman, Cik Suabuana
Edueksos : Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.24235/edueksos.v10i1.7846

Abstract:
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pendidikan karakter mandiri melalui blended learning di sekolah menengah pertama. SMP IT Matahati merupakan salah satu sekolah yang telah berupaya untuk menanamkan pendidikan karakter mandiri melalui blended learning untuk mengatasi permasalahan dari pembelajaran secara daring. Metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptif analisis. Instrumen yang digunakan dalam penelitian yaitu pedoman wawancara, pedoman observasi dan studi dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi data, display data, dan verifikasi/penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah, 1) perencanaan pendidikan karakter mandiri melalui blended learning di SMP IT Matahati telah disiapkan dalam silabus dan RPP yang telah dimodifikasi, 2) proses pelaksanaan pendidikan karakter mandiri melalui blended learning di SMP IT Matahati yaitu proses pelaksanaan pembelajaran telah menggunakan metode, media pembelajaran dan sumber belajar yang beragam, mengintegrasikan karakter mandiri dalam kegiatan pembelajaran, serta evaluasi pendidikan karakter mandiri melalui raport evaluasi sikap/karakter yang berisi deskripsi penilaian sikap spiritual dan sosial selama satu semester, 3) Hasil pendidikan karakter mandiri melalui blended learning di SMP IT Matahati yaitu terjadi perubahan kemandirian belajar dan kemandirian dalam perilaku sehari-hari yaitu siswa sudah menunjukkan tidak bergantung terhadap orang lain, memiliki kepercayaan diri, berperilaku disiplin, memiliki rasa tanggung jawab, berperilaku berdasarkan inisiatif sendiri, dan dapat melakukan kontrol diri.Kata Kunci: Karakter Mandiri, Blended Learning, Sekolah Menengah Pertama ABSTRACTThis research aims to find out the implementation of independent character education through blended learning in junior high schools. SMP IT Matahati is one of schools that instill the independent character education through blended learning to solve problems of online learning. This research used descriptive analysis method. Data were collected through interview, observation, and documentation. Data were analyzed through data reduction, data display, and verification/drawing conclusions. Results of this study are: 1) the planning of independent character education through blended learning at SMP IT Matahati has been prepared well in the modified syllabus and lesson plans, 2) the implementation process of independent character education through blended learning at SMP IT Matahati i.e. the learning process has implemented the various methods, learning media, and learning resources; integrated the independent character in learning activities as well; also evaluation of independent character education with an attitude/character evaluation report card containing the description of spiritual and social attitudes assessment for one semester, 3) the results of independent character education through blended learning at SMP IT Matahati i.e. changes in independent learning and in daily behavior, students shown that they are not dependent on others, have self-confidence, behave in a disciplined manner, have a sense of responsibility, behave based on their own initiative, and can control themselves.Keywords: Independent Character, Blended Learning, Junior High School
Nuryana Nuryana, Mia Fatimatul Munsi
Edueksos : Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.24235/edueksos.v10i1.8089

Abstract:
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memaparkan aktualisasi distance learning pada masa pandemi, respons guru dan siswa terhadap distance learning, serta faktor-faktor pendukung dan penghambatnya. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur. Dari berbagai sumber literatur tersebut, dapat disimpulkan bahwa guru dan siswa secara umum sudah memahami alasan dan melaksanakan distance learning. Namun, guru dan siswa menemukan berbagai kendala yang mengakibatkan siswa secara umum lebih senang belajar tatap muka secara langsung daripada distance learning. Distance learning yang dilaksanakan di jenjang pendidikan dasar dan menengah menyampaikan materi dengan beragam cara, misalnya; membaca, merangkum, membuat video, dan lain-lain. Media pembelajaran yang digunakan bervariasi, misalnya; Whatsapp, Google Classroom, Google Form, Zoom, Cisco Webex, Quiziz, Edmodo, Eduboy, Youtube dan lain-lain. Dalam segi penilaiannya dapat digunakan berbagai asesmen yang sesuai dengan karakteristik distance learning (Misalnya, tes berbasis daring, portofolio, atau penilaian diri (self assessment)). Dalam pembelajaran distance learning ini ditemukan faktor-faktor pendukung dan juga penghambat. Faktor pendukung antara lain pemerintah, guru, dan fasilitas pembelajaran itu sendiri. Misalnya faktor teknologi, pemberian kuota gratis, perluasan akses internet, penyediaan fasilitas belajar seperi Rumah Belajar dan Belajar dari Rumah di TVRI. Sedangkan faktor penghambat tersebut diantaranya siswa tidak memiliki laptop atau ponsel pintar, tidak memiliki jaringan internet yang baik, siswa tidak memahami penggunaan media pembelajaran yang digunakan guru, dan lain-lain. Kata Kunci: Distance learning, pandemic_covid-19, Pendidikan Dasar dan Menengah.ABSTRACTThis study aims to describe the actualization of distance learning during the pandemic, the responses of teachers and students as well as the supporting and inhibiting factors of distance learning. The research used literature study method. From various sources of literature, it can be concluded that teachers and students in general have understood the reasons and have implemented distance learning. However, teachers and students encountered various obstacles such the students prefer face-to-face learning rather than distance learning. Distance learning which is carried out at the primary and secondary education levels delivers material in various ways, for example; reading, summarizing, making videos, and so on. The learning media used are varied, for example; Whatsapp, Google Classroom, Google Form, Zoom, Cisco Webex, Quiziz, Edmodo, Eduboy, Youtube and others. In terms of assessment, various assessments can be used in accordance with the characteristics of distance learning (for example, online-based tests, portfolios, or self-assessments). This research found supporting factors and obstacles in distance learning. The supporting factors include the government, teachers, and the learning facilities themselves. For example, the technology factor, the provision of free data plan, expansion of internet access, the provision of learning facilities such as Rumah Belajar and Belajar dari Rumah on TVRI. While the inhibiting factors of distance learning include students do not have laptops, smart phones, and a good internet network, besides, students do not undertand the use of learning media used by teachers, and others. Key Words: Distance learning, pandemic Covid-19, Primary and Secondary Education.
Kamaludin Kamaludin
Edueksos : Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.24235/edueksos.v10i1.6371

Abstract:
ABSTRAKPenggunaan teknologi digitalisasi memiliki nilai positif dalam kegiatan usaha yaitu interaksi antara penjual dan pembeli dalam transaksi kegiatan usaha tanpa harus berinteraksi langsung atau tanpa bertatap muka, biaya yang digunakan relatif murah, semakin tidak terasanya faktor jarak, serta ketersediaan selama 24 jam secara penuh. Kurangnya pemahaman terhadap strategi pemasaran serta terhadap peluang pengembangan kegiatan usaha melalui sistem teknologi digitalisasi merupakan permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran terhadap strategi pemasaran yang dilakukan oleh pelaku usaha mikro serta memperoleh kajian mendalam terhadap konsep strategi pemasaran yang relevan bagi pelaku usaha mikro di era Revolusi Industri 4.0 dan mengembangkan kegiatan usaha melalui sistem teknologi digitalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan fokus penelitian yaitu menganalisa strategi pemasaran yang tepat bagi pelaku usaha mikro di era Revolusi Industri 4.0 dalam rangka mengembangkan usahanya. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik dokumentasi.Penelitian ini menghasilkan bahwa terdapat empat komponen utama dalam penerapan strategi pemasaran yaitu spesifikasi produk dengan merek, analisis penetapan harga, distribusi yang digunakan, dan mekanisme mengenalkan produk dengan melakukan edukasi terhadap konsumen. Keberlangsungan sebuah kegiatan usaha tergantung dari kualitas yang dihasilkan. Tanpa kualitas yang baik, modal yang sudah dikeluarkan akan sulit mencapai tingkat pengembalian produksi maupun tingkat pengembalian investasi. Standar kualitas ini merupakan tolak ukur yang diyakini dan dilaksanakan dengan komitmen sebagai sebuah filosofi dalam berbisnis bagi pelaku usaha mikro. Standar kualitas ini harus menjiwai strategi marketing dari mulai internal marketing, eksternal marketing maupun interaktive marketing Kata kunci : Pelaku usaha mikro, revolusi industri 4.0, strategi pemasaranABSTRACTThe use of digitalization technology has a positive value in business activities namely the interaction between the seller and the buyer in the transaction of business activities without having to interact directly or without face-to-face, the cost used relatively cheaply, the less noticeable the distance factor, and the availability for 24 hours in full. Lack of understanding of marketing strategies as well as business activity development opportunities through digitalization technology systems is an issue that will be reviewed in this study. This research aims to obtain an overview of marketing strategies carried out by micro-entrepreneurs as well as obtain an in-depth study of the concept of marketing strategies relevant to micro-enterprises in the era of Industrial Revolution 4.0 and develop business activities through digitalization technology systems. This research uses a qualitative approach with a research focus that is analyzing the right marketing strategies for micro-entrepreneurs in the era of the Industrial Revolution 4.0 to grow their business. The data collection techniques used in this study are observation techniques, interview techniques, and documentation techniques. This research hypothesizes that there are four main components in the implementation of marketing strategies, namely product specifications by brand, pricing analysis, the distribution used, and mechanisms of introducing products by educating consumers. The sustainability of business activity depends on the quality produced. Without good quality, the capital already issued will be difficult to achieve the level of return on production as well as the rate of return on investment. This quality standard is a benchmark that is believed and implemented with a commitment as a philosophy in doing business for micro-businesses. This quality standard should animate marketing strategies ranging from internal marketing, external marketing, and interactive marketing.Keywords: Marketing strategy, micro-business struggle, industrial revolution 4.0
Suniti Suniti
Edueksos : Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.24235/edueksos.v10i1.7874

Abstract:
ABSTRAKSaat ini korupsi oleh banyak negara telah dipandang sebagai sebuah kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) karena dampak sistemik yang ditimbulkan oleh tindakan korupsi. Indonesia sebagai Negara berkembang juga menghadapi persoalan korupsi yang menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan. Upaya memberantas korupsi yang dianggap efektif dan murah adalah melalui pendidikan. Bidang pendidikan merupakan salah satu upaya preventif terbaik yang bisa dilakukan. Misalnya melalui Pendidikan Anti Korupsi dan menanamkan nilai-nilai integritas pada anak sejak dini. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru pendidikan Agama Islam dan siswa di SMK Al-Hidayah Cirebon yang berbasis pesantren, telah memahami pengertian dari korupsi dan bentuk-bentuknya. Materi Pendidikan Agama Islam yang dapat diintegrasikan dengan Pendidikan Anti Korupsi antara lain : Memahami Makna Jujur, Pengertian Jujur, Pembagian Sifat Jujur, Ayat-Ayat Al-Qur’an dan Hadits Tentang Perintah Berlaku Jujur. Dalam proses pembelajaran menggunakan Model Integrasi dengan metode social learning dan role playing. Hasil dari penelitian diharapkan dapat meningkatkan penerapan prilaku nilai-nilai pendidikan anti korupsi dalam perilaku sehari-hari. Kata Kunci : Model Pembelajaran, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Anti Korupsi ABSTRACT Currently, corruption by many countries has been viewed as an extraordinary crime because of the systemic impact caused by acts of corruption. Indonesia as a developing country also faces the problem of corruption that touches almost all aspects of life. Efforts to eradicate corruption that are considered effective and inexpensive are through education. The education sector is one of the best preventive measures that can be done. For example, through Anti-Corruption Education and instilling integrity values in children from an early age. The approach used in this research is a qualitative descriptive approach.The results of this study indicate that Islamic religious education teachers and students at the Islamic boarding school-based Vocational School Al-Hidayah Cirebon have understood the meaning of corruption and its forms. Islamic Religious Education materials that can be integrated with Anti-Corruption Education include: Understanding the Meaning of Honest, Understanding Honest, Sharing of Honest Traits, Al-Qur'an Verses and Hadith About the Commandment to Be Honest In the learning process using an Integration Model with social learning and role playing methods. The results of the research are expected to improve the application of anti-corruption educational values in daily behavior. Keywords: Islamic Religion Education, Anti-Corruption Education, Learning Models.
Aris Suherman
Edueksos : Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.24235/edueksos.v10i1.7875

Abstract:
Learning is always interesting to be researched. Learning is a process of active behavior, interactive and constructive when the learning process is used as a social context that needs attention. Social studies learning must be able to become and strengthen the values of local wisdom as a symbol of the students’ character identities. Then there needs to be analyzed the pattern of the development of social science learning materials based on the local wisdom in an effort to shape students’ characters.The purpose of this study is to describe the pattern of the development of social science teaching materials based on the local wisdom. This research was conducted in two approaches, qualitative and quantitative, using two patterns, namely: The Dominant-Lessdominant-Design and the development research design,by carrying out four stages, namely: 1) Initial studies, 2) Preparation of teaching materials, 3) Development of teaching materials and 4) Implementation. The techniques of collectingdata of this research were interviews, questionnaires, observations, tests and documentation. The results of this study can be concluded: 1) The development of social science learning materials based on local wisdom can help teachers to understand students and connect learning materials with the region potentials, 2) The development of social studies learning materials based on local wisdom can help students to understand the potential of their area. This can be seen in the acquisition of research results, the average of pre-test score is 33.70, the average of post-test score is 55.80, there was an increase average about0.35. It is in the sufficient categorized. Keywords : Local wisdom, social studies, learning materials. ABSTRAKPembelajaran merupakan persoalan yang senantiasa menarik untuk dilakukan penelitian. Pembelajaran adalah sebagai proses prilaku aktif, interaktif dan konstruktif manakala proses pembelajaran ini dijadikan sebagai kontekssosial yang perlu mendapat perhatian. Pembelajaran IPS harus mampu menjadi dan menguatkan nilai-nilai kearifan local sebagai symbol identitas karakter anak didik. Maka perlu adanya analisa pola pengembangan materibahan ajar pembelajaran IPS berbasis kearifan local dalam upaya pembentukan karakter siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan pola pengembanagn bahan ajar pendidikan IPS berbasis kearifan lokal. Penelitian ini dilakukan dua pendekatan yaitu kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan dua pola yaitu : The Dominant-Less-Desaign dan Desaign research and development. Dengan melakukan empat tahapan yaitu : 1) Studi awal, 2) Penyusunan bahan ajar, 3) Pengembangan materi bahan ajar dan 4) Implementasi. Teknik pengumpulan data penelitian ini yaitu dengan wawancara, kuesioner, observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan: 1) Pengembangan materi pembelajaran IPS berbasis kearifan local dapat membantu guru dalam upaya pemahaman siswa dan menghubungkan materi pembelajaran dengan potensi wilayah. 2) Pengembangan materi bahan ajar pembelajaran IPS berbasis kearifan local dapat membantu siswa terhadap peningkatan pemahaman potensi daerahnya. Hal ini dapat dilihat pada perolehan hasil penelitian yaitu: dari rata-rata skor pree test 33.70 menjadi 55.80. Ada peningkatan rata-rata 0.35, walaupun pada kategori cukup atau sedang. Kata Kunci :Kearifan lokal, Ilmu Pengetahuan Sosial, Materi pembelajaran.
Risladiba Risladiba, Suciyadi Ramdhani
Edueksos : Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.24235/edueksos.v10i1.8402

Abstract:
ABSTRAKPancasila merupakan dasar negara yang di dalamnya terkandung nilai-nilai toleransi atau penghargaan terhadap keberagaman yang ada di Indonesia. Pancasila lahir sebagai buah pemikiran yang mendalam dari para pendiri negara, agar Pancasila dapat merangkum berbagai perbedaan untuk kemudian dapat menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa. Multikulturalisme Indonesia menghargai akan adanya kebhinnekaan sebagai implementasi dari nilai Pancasila. Keberagaman yang ada di Indonesia bukanlah hal yang harus diperdebatkan atau menimbulkan perpecahan tetapi bagian dari unsur-unsur yang membentuk kesatuan. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah studi literatur, yakni dengan mengumpulkan data yangrelevanyang terkaitdengankajian pembahasan dalam penulisan artikel ini untuk kemudian dilakukan analisis sehingga menghasilkan ide atau gagasan.Hasil penelitian ini antara lain adalahbahwa Pancasila dirancang agar dapat mewadahi keragaman yang ada. Pancasila sebagai ideologi negara juga pedoman dalam berkehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegaramewadahi keberagaman, baik budaya, etnis, ras agama sehingga terbentuklah negara kesatuan Indonesia. Kata Kunci: Pancasila; Multikulturalisme ABSTRACTPancasila as the basis of the state contains values of tolerance or respect for diversity in Indonesia. Pancasila was born as the fruit of deep thought from the founders of the state, so that Pancasila can encapsulate various differences in order to then be able to maintain the integrity of the nation's unity and integrity. Indonesian multiculturalism recognizes the cultural diversity of the ethnic groups in Indonesia as an implementation of the values of Pancasila. The diversity of the cultures of the Indonesian ethnic groups is not a separator but is an element of unity. The method in this writing uses literature studies, namely by collecting relevant data related to the discussion study in writing this article for later analysis to produce ideas or ideas. The results of this study include that Pancasila is designed to accommodate the existing diversity. Pancasila as the state ideology is also a guideline in living in a community, nation and state where the diversity of cultures, religions, ethnicities and races meet and there is a nation state formed. Keywords: Pancasila; Multiculturalism
I Nengah Agus Tripayana, Nastiti Mufidah, Nurlaili Handayani, Basyariah Basyariah
Edueksos : Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.24235/edueksos.v10i1.7586

Abstract:
ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi tradisi magibung sebagai sarana belajar karakter bagi masyarakat. Agar memperoleh gambaran secara holistic, penelitan ini menggunakan studi deskriptif, dengan mengamati tradisi magibung yang ada diDesa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Penelitian ini diperoleh dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif menggunakan teknik triangulasi, dengan melakukan tiga langkah, yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah (1)Tokoh-tokoh senior (panglingsir) masyarakat Desa Pakraman Seraya, (2) BendesaAdat Desa Pakraman Seraya, (3) Pemerintahan adat Desa Pakraman Seraya, (4) Pemerintah Dinas setempat, (5) Pemuda Desa Pakraman Seraya, (6) Tokoh masyarakat, (7) Masyarakat Desa Pakraman Seraya yang dapat memberikan informasi mengenai fokus penelitian yang akan di teliti. Hasil penelitian menunjukan bahwa tradisi magibung mampu menginternalisasi nilai-nilai karakter di lingkungan masyarakat, seperti; karakter religius, kerjasama (gotong-royong), mandiri, jujur, disiplin serta peduli. Kata Kunci: Pendidikan Karakter; magibung; tradisi ABSTRACTThis research was conducted to be explored as a means of learning character for the community. In order to obtain a holistic picture, this research uses a descriptive study, with the maintenance of the magibung tradition in Pakraman Seraya Village, Karangasem District, Karangasem Regency, Bali Province. This research was obtained by using a qualitative descriptive analysis using triangulation techniques, by doing three, namely: data reduction, data presentation and drawing steps / levers. The subjects in this study were (1) senior figures (panglingsir) of the Pakraman Seraya Village community, (2) Bendesa Adat Pakraman Seraya Village, (3) Pakraman Seraya Village customary administration, (4) Local Government Service, (5) Village Youth Pakraman Seraya, (6) community leaders, (7) Pakraman Seraya Village community who can provide information about the focus of the research to be studied. The results showed that the magibung tradition was able to internalize character values in the community, such as; religious character, cooperation (mutual assistance), independent, honest, disciplined and caring. Keywords: Character Education; magibung; tradition
Ratna Puspitasari, Urip Giyono
Edueksos : Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.24235/edueksos.v10i1.7987

Abstract:
ABSTRAKSalah satu moda transportasi yang diminati masyarakat di Indonesia karena menempuh jarak dan waktu yang lebih singkat adalah moda transportasi udara. Moda transportasi udara menempuh perjalanan dengan waktu yang lebih pendek dibanding dengan moda pesawat terbang di luar negeri. Meskipun memiliki resiko delay, terlambat dan kecelakaan yang berimbas pada kehilangan nyawa termasuk hilang sehingga dianggap penting masalah pengoperasian pesawat yang bertanggung jawab pada penumpang terutama pada perempuan dan anak. Perbedaan peran gender antara perempuan dan anak, dengan laki-laki mengakibatkan perbedaan pola perjalanan yang harus ditempuh melalui maskapai penerbangan. Hal ini menjadi penyebab perempuan dan anak sebagai kelompok yang rentan keselamatan pada setiap penerbangan misal: ibu hamil dan bayi. Pertanggungjawaban tersebut diatur dalam PPRI Nomor 40 Tahun 1995 terkait Angkutan Udara Pasal 45 ayat 1. Undang-Undang Nomor 33 dan 34 Tahun 1964 menyebut bahwa pihak Jasa Raharja menyerahkan santunan pada pihak yang menghadapi kecelakaan pada saat meempuh perjalanan dalam menumpang angkutan umum dan korban kecelakaan lalu lintas jalan. Kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 pada tanggal 9 Januari Tahun 2021 rute Jakarta-Pontianak di Kepulauan Seribu melibatkan penumpang dan karyawan berjenis kelamin perempuan dan balita menarik minat penulis untuk melakukan riset terkait analisis kesetaraan gender, moda transportasi dan upaya perlindungan hukum terhadap perempuan dan anak dalam kasus kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 dengan teori struktural fungsional Parsons dan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kata Kunci: kesetaraan gender dan anak, perlindungan hukum, angkutan laut ABSTRACTOne of the modes of transportation that is of interest to people in Indonesia because it covers a shorter distance and time is the air transportation mode. The air mode of transportation takes a shorter time than that of an airplane abroad. Even though it has the risk of delay, delay and accidents that have an impact on loss of life, including loss, it is considered important to issue aircraft operations which are responsible for passengers, especially women and children. The difference in gender roles between women and children and men results in differences in travel patterns that must be taken via airlines. This is the cause of women and children as a group that is vulnerable to safety on every flight, for example: pregnant women and babies. This accountability is regulated in PPRI Number 40 of 1995 regarding Air Transportation Article 45 paragraph 1.Law Number 33 and 34 of 1964 states that Jasa Raharja provides compensation to parties who face accidents while traveling on public transportation and victims of past accidents. cross road. The Sriwijaya Air SJ 182 accident on January 9, 2021, the Jakarta-Pontianak route in the Thousand Islands involving female passengers and employees and under-five attracted the author's interest to conduct research related to gender equality analysis, modes of transportation and legal protection efforts for women and children in cases Sriwijaya Air SJ 182 accident with Parsons functional structural theory and a qualitative method with a case study approach. Keywords: gender and child equality, legal protection, sea transportation
Ilman Nafi'A, Septi Gumiandari
Edueksos : Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.24235/edueksos.v10i1.6963

Abstract:
This study aims to explain how homeschooling concept can be an alternative Islamic educational institution in the Muslim family. This study used qualitative methodology with a literature approach. The results showed that (1) Homeschooling is not a new issue in Islamic education. Rasulullah is an originator of homeschooling-based education. The education process was carried out by the Rasulullah at Arqam's house where Rasulullah educated many of his friends and gave birth to many students of extraordinary abilities; (2) There are 3 types of homeschooling in the Islamic tradition: single homeschooling (family), compound homeschooling (halaqah), and homeschooling communities (mosque); (3) Homeschooling based on fitrah education contains monotheism, religious, moral, leadership, and vocational educations; (4) There are seven aspects that must be a concern in family education such as faith, morals, physical, intellectual, psychological, social, and sexual aspects; and (5) To internalize these seven aspects of education, it is necessary to use several methods: education by examples, customs, giving advices, attentions, rewards and punishments.Key Words: Homeschooling, Family, and Islamic Education
Etty Ratnawati, Aditya Putra Utama
Edueksos : Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.24235/edueksos.v10i1.8085

Abstract:
ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk menjabarkan kesulitan-kesulitan yang di hadapi mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dalam pembelajaran daring selama masa pandemi COVID-19. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Wawancara tidak terstruktur merupakan alat pengumpulan data yang dipergunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini. Metode jenis ini memungkinkan subjek untuk benar-benar menyuarakan apa yang dipikirkannya selama pembelajaran. Hasil dari penelitianini menunjukkan bahwa terdapat beberapa kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam pembelajaran daring yang dapat digolongkan menjadi kesulitan teknis, kesulitan adaptasi dan ketidaksiapan pengajar. Agar dapat teratasi kesulitan-kesulitan tersebut, para pengajar perlu melakukan perubahan strategi pembelajaran yang dapat menunjang percepatan adaptasi mahasiswa dalam pembelajaran daring. Disamping itu, pengajar juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan TIK-nya sehingga bisa menggunakan media pembelajaran daring yang lebih bervariasi sesuai dengan kesulitan teknis yang dihadapi.Kata Kunci : Pandemi Covid-19, Pembelajaran Daring, Kesulitan BelajarABSTRACTThe purpose of this study was to describe the difficulties faced by students of IAIN Syekh Nurjati Cirebon in online learning during the COVID-19 pandemic. This type of research is a qualitative descriptive study. The subjects in this study were students of IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Unstructured interviews were used as the instrument used to collect data in this study. This type of interview allows the subject to really voice what he is thinking during the lesson. The results of the analysis show that students face several difficulties which are classified into technical difficulties, adaptation difficulties and teacher unpreparedness. To overcome these difficulties, it is necessary to develop learning strategies that can support the acceleration of student adaptation in online learning. In addition, teachers (lecturers) must also improve their ICT skills so that they can use more varied online learning media according to the technical difficulties faced.Keywords: Covid-19 Pandemic, Learning Difficulties, Online Learning
Back to Top Top