Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan

Journal Information
ISSN / EISSN : 1411-7649 / 2684-9194
Published by: Sekolah Tinggi Teologi SAAT (10.36421)
Total articles ≅ 314
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Wilson Jeremiah
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 20, pp 153-156; https://doi.org/10.36421/veritas.v20i1.417

Abstract:
In the last two or three decades, we have witnessed a renewed interest in spirituality in Christian academic circles. More recently, we have also seen a growing number of publi­cations on the mission and missional church—both on popular and academic levels. While one can easily find many quality works on Christian spirituality and some decent books on mission/missional church, one would only find a few works that combine both themes in a single volume. In this work, Charles Fen­sham, professor of theology at Knox College, Toronto, attempts to do just that—as one may discern from the book’s subtitle: A Missional Spirituality. As such, this book ad­dress­es those who have interest in spirituality and/or in mission but particularly to those who would like to see how biblical missional impetus shapes a particular understanding of Christian spirituality.
Kok-Sin Sia
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 20, pp 51-70; https://doi.org/10.36421/veritas.v20i1.415

Abstract:
Artikel ini berupaya untuk menerapkan analisis tokoh utama dalam kitab Rut untuk mengungkapkan keagungan dari karakter Rut dan mengidentifikasi respons pembaca mula-mula. Analisis tokoh dilakukan dengan menggunakan metode dari Richard L. Pratt Jr. yang meliputi pemaparan penokohan, teknik penokohan dan tujuan penokohan, untuk menyelidiki karakter Naomi, Rut dan Boas sebagai tiga tokoh utama dalam kitab ini. Ketiga tokoh utama ini dianalisis dan dibandingkan untuk menemukan tujuan penokohan dalam kitab ini dan berusaha untuk mengidentifikasi respons pembaca mula-mula. Penulis kitab Rut menghadirkan keagungan Rut itu dalam bayang-bayang keasingannya (sebagai perempuan Moab) dan tokoh utama lainnya, seperti Naomi dan Boas. Pembaca kitab Rut diharapkan dapat mengevaluasi kerohanian mereka sebagai umat Allah, oleh karena menemukan adanya perempuan Moab yang justru mempunyai kehidupan yang lebih saleh daripada mereka. Dari pembaca juga diharapkan bangkit kesadaran tentang Allah Israel yang terbuka untuk semua bangsa dan bahwa bangsa-bangsa lain tidak selalu membawa keburukan bagi kehidupan umat Allah. This article is an effort to apply the character analysis in the book of Ruth that shows the excellence of Ruth and the response of the original readers. Character analysis was carried out using the method of Richard L. Pratt Jr., which includes the description of characterizations, characterization techniques, and characterization purposes, to investigate the characters of Naomi, Ruth, and Boaz as the three main characters in this book. These three characters are analyzed and compared to find the purpose of characterization and the reader’s response. Through this analysis, we can find that the author of the book of Ruth has a purpose to describe indirectly or subtly the noble character of Ruth in the shadows of her background as a Moabites and the other main characters, Naomi and Boaz. Through the reading of the book of Ruth, the first readers can evaluate their spirituality as God’s people because they find that there is a Moabite woman whose life is godlier than them. It also raises awareness that Israel’s God embraces all nations and that non-Israelites do not always negatively influence God’s people.
Robby Igusti Chandra
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 20, pp 107-124; https://doi.org/10.36421/veritas.v20i1.465

Abstract:
Konsep perjalanan spiritual dikenal pada berbagai agama. Demikian juga konsep Homo Viator atau manusia yang melakukan perjalanan tersebut. Tulisan ini melakukan kajian atas konsep perjalanan spiritual yang ada dalam Serat Jatimurti, salah satu teks Kejawen, dan membandingkannya dengan narasi di Alkitab yaitu perumpamaan tentang anak yang hilang. Tujuan studi ini adalah untuk memahami suara dari spiritualitas lokal tersebut agar mempermudah penyampaian Injil kepada kalangan ini. Dengan menggunakan analisis linguistik kognitif, hasilnya menunjukkan bahwa ada beberapa kesamaan namun juga perbedaan yang kontras dalam pandangan Kristen mengenai perjalanan spiritual dan peran manusia di dalamnya dibandingkan dengan pandangan kejawen tersebut. Kesamaan-kesamaan yang ada akan akan meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap masing-masing karya spiritualitas serta menjadi common ground yang menyediakan “jembatan” efektif bagi pemberitaan Injil. Perbedaan-perbedaan yang ada dapat menjadi daya tarik untuk memperlihatkan keunikan Injil. Dengan pemahaman tersebut, kajian ini dapat memberikan bekal bagi orang Kristen di dalam mengkomunikasikan kabar baik anugerah Allah di dalam Kristus Yesus kepada kalangan penganut spiritualitas kejawen. The concept of spiritual journey is known in various religions. Likewise, the concept of Homo Viator or humans who made the trip. This paper examines the concept of a spiritual journey in Serat Jatimurti, one of the Kejawen texts, and compares it with the narrative in the Bible, namely the parable of the prodigal son. This study aims to understand the voice of the local spirituality to facilitate the delivery of the gospel to this community. By using cognitive linguistic analysis, the results show some similarities and differences in the Christian view of the spiritual journey and the role of humans in it compared to the Kejawen view. The similarities that exist will increase un­derstanding and appreciation of each spirituality work and become a common ground that provides an effective “bridge” for sharing the gospel. The differences that exist can be an attraction to show the uniqueness of the gospel. With this understanding, this study can provide provisions for Christians in communicating the good news of God’s grace in Christ Jesus to the followers of Kejawen spirituality.
Steven Yong
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 20, pp 125-136; https://doi.org/10.36421/veritas.v20i1.471

Abstract:
Bilangan 5:11­–31 dapat menimbulkan kecurigaan tentang adanya praktik seksisme, penindasan atau pelecehan terhadap wanita. Hal ini bisa dimengerti jika Mishnah menjadi rujukan yang kemudian dijadikan tolok ukur untuk menafsir bagian Alkitab terkait. Dari penggambaran Mishnah Sotah, wanita yang tertuduh melakukan zina dipermalukan dan diperlakukan hampir sama seperti seorang pelacur. Artikel ini berusaha untuk menunjukkan perspektif yang lain dalam mengerti ritual Sotah dalam Bilangan 5:11–31. Dengan menggunakan metode kajian sosiologis, artikel ini akan mengidentifikasi masalah sosiologis yang dituduhkan terhadap teks Bilangan tersebut berdasarkan penjelasan traktat Sotah dalam Mishnah. Kemudian, posisi wanita dalam dunia Timur Dekat Kuno akan dijelaskan berdasarkan konteks budayanya. Akhirnya, dengan menim­bang inferioritas wanita dalam dunia Timur Dekat Kuno dan perbandingan antara ritual Sotah dalam Alkitab dengan ritual sejenis dan setempat, maka artikel ini berargumen bahwa teks Bilangan 5:11–31 dapat dilihat sebagai terobosan budaya dalam membela wanita yang secara budaya pada masa itu dianggap sebagai kaum yang inferior. Numbers 5:11–31 could be interpreted as a kind of sexism and repression to women. In the Mishnaic tradition, the passages indeed are being understood and developed in such manner. From tractate Sotah in Mishnah, the suspected adulterous wife indeed is ashamed and treated as a prostitute. This article seeks to present another perspective on the passage. This article uses the sociological study method to identify the sociological problems alleged against the passage based on the explanation of the Sotah tractate in the Mishnah. Afterward, the inferior position of women in the ancient Near East will be explained as a cultural context to understand the passage better. Finally, considering this cultural context and comparing the Sotah ritual with the common rituals in the ancient Near East, this article argues that Numbers 5:11–31 could be seen as a cultural breakthrough to protect women, which are considered marginalized.
Yudi Jatmiko, Singapore Bukit Batok Presbyterian Church
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 20, pp 37-50; https://doi.org/10.36421/veritas.v20i1.412

Abstract:
Tritunggal adalah sebuah doktrin yang amat mendasar dalam iman Kristen. Sekalipun kata “tritunggal” tidak pernah muncul dalam Alkitab, kebenarannya mewarnai sepanjang penulisan Kitab Suci. Walaupun demikian, bukan berarti kebenaran ini diterima begitu saja oleh semua manusia. Dalam konteks Indonesia, yang notabene mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam, ide tentang satu Allah tetapi tiga dan tiga tetapi satu sangat bernuansa politeisme. Kaum muslim sangat menjunjung tinggi konsep monoteisme. Berpijak pada kebenaran monoteisme ini, bagi mereka, ide tentang Tritunggal bukan hanya aneh, tetapi juga harus ditolak dengan keras. Mengamati kedua fakta di atas, penulis melihat perlunya sebuah pembelaan apologetis terhadap tuduhan tersebut. Tulisan ini berusaha untuk memaparkan tuduhan kaum muslim berkaitan dengan problem teologis dan logis konsep Allah Tritunggal serta menyajikan sebuah pembelaan apologetis yang memadai. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sebuah pembelaan apologetis yang obyektif dengan keyakinan bahwa doktrin Tritunggal bersifat monoteistik (pembelaan teologis) dan, walaupun jauh melampaui akal manusia yang terbatas, Tritunggal tidak irasional (pembelaan logis). Trinity is a fundamental doctrine in the Christian faith. Though the word “trinity” never appears in the Bible, its truth is displayed throughout the entire writing of the Scripture. However, it does not mean that all people accept this truth. In the Indonesian context, whose major population is Islam, the idea of one God but three and three but one is very polytheistic. Muslims highly regard the concept of monotheism. Standing on this monotheistic truth, to them, the idea of Trinity is not just simply weird but must also be vigorously rejected. Observing the above two facts, the author sees the need for apologetic defense from those accusations. This article exerts to describes allegations concerning the theological and logical problems of the Trinity as well as providing adequate apologetic defense. This article aims to present an objective apologetic defense in the belief that the doctrine of Trinity is monotheistic (theological defense), and even though far surpassing the limited human reasoning, Trinity is not irrational (logical defense).
Romeo Wibowo
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 20, pp 71-83; https://doi.org/10.36421/veritas.v20i1.419

Abstract:
Etika sosial bukanlah topik utama di kalangan Kristen injili, sehingga beredar asumsi bahwa orang Kristen injili cenderung pesimis tentang situasi dalam dunia dan karena itu menghindari isu-isu dalam etika sosial. Tulisan ini menawarkan diskursus etika sosial bagi kalangan Kristen injili dengan memperkenalkan pemikiran Reinhold Niebuhr. The Serenity Prayer dipakai sebagai metode untuk membingkai pemikiran Niebuhr. Dalam pandangan Niebuhr manusia memiliki realitas paradoksal di dalam dirinya. Di satu sisi, ia adalah manusia berdosa yang memiliki keterbatasan dalam menerapkan kasih yang murni sebagaimana yang Yesus ajarkan. Di sisi lain, ia adalah gambar Allah yang memiliki kemampuan transendensi diri yang mampu berpikir kreatif untuk menciptakan kebaruan dalam hidupnya. Menyikapi realitas paradoksal ini, Niebuhr memberi saran untuk membangun landasan etika sosial yang realistis (dialektis) sehingga tidak jatuh pada sikap optimisme yang berlebihan apalagi jatuh pada sikap pesimisme yang cenderung fatalistik. Social ethics is not a major topic that is often discussed among evangelical Christians. Therefore, arise assumption that evangelical Christians tend to be pessimistic about situations globally and avoid issues in social ethics. This article offers a discourse on social ethics for evangelical Christians by introducing Reinhold Niebuhr’s thoughts. The serenity prayer is used as a method to frame Niebuhr’s thoughts. In Niebuhr’s view, man has a paradoxical reality. He is a sinful man who has limitations in exercising the pure love that Jesus taught. On the other hand, he is an image of God who can self-transcendence and think creatively to create newness in his life. Responding to this paradoxical reality, Niebuhr gave suggestions to build a realistic (dialectical) social ethics foundation that does not fall into an attitude of excessive optimism, let alone fall into an attitude of pessimism that tends to be fatalistic.
Carolien Eunice Tantra, Mark A. Peters
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 20, pp 137-152; https://doi.org/10.36421/veritas.v20i1.473

Abstract:
How do we as Christians today learn about worship and church music? How do we think about not only what music we will sing in Christian worship, but also the principles that should guide us in choosing and leading church music? Certainly, there are many different ways we answer that question: we study the Bible, we sing the words of the Scriptures, we read what theologians, worship leaders, and scholars of church music are writing today, we attend lectures and conferences by scholars and practitioners of church music. In this article, I offer and explore yet another example of how we live out God’s call in leading music for the Christian church: by studying the example of a faithful Christian musician from the past. My particular example for this article is the German composer and church musician Johann Sebastian Bach (1685-1750). I want to clarify from the start that I am not arguing that J. S. Bach is the best example of a Christian church musician and certainly not that he is the only example. But Bach does offer us one example of a musician who dedicated most of his life to creating and leading music for the Christian church and sought to do so faithfully, creatively, and skillfully.
Abel Kristofel Aruan, Surabaya Gereja Kristen Indonesia (Gki) Emaus
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 20, pp 1-20; https://doi.org/10.36421/veritas.v20i1.357

Abstract:
Setelah sekian lama pendekatan apologetika klasik dan evidensial kokoh sebagai cara mempertahankan iman Kristen, pascamodernisme muncul untuk mengkritik penggunaan alat verifikasi absolut terhadap klaim-klaim iman. Kendati demikian, James K. A. Smith dan Alister McGrath melihat pascamodernisme sebagai kawan ketimbang lawan, kesempatan ketimbang tantangan. Karena itu, memperhatikan kritik-kritik penting dari semangat pascamodernisme justru akan menolong gereja menjawab tuntutan pascamodernisme itu sendiri. Artikel ini mengusulkan pendekatan apologetika imajinatif sebagai solusi untuk menjawab kritik tersebut. Berbeda dengan apologetika klasik/evidensial, apologetika ini bertendensi menggunakan imajinasi lebih daripada sebelumnya dalam upaya-upaya mempertanggungjawabkan iman Kristen. Di kala apologetika menerima tuduhan kering dan terkesan mengesampingkan aspek eksistensial yang nyatanya berdiam dalam diri manusia, apologetika imajinatif dapat menjadi usulan solusi untuk menghindari tuduhan ini. Dua implikasi muncul dari penalaran ini. Pertama, dalam dialog-dialog apologetika, seorang apologist harus lebih banyak menggunakan alat-alat retoris imajinatif. Kedua, gereja harus menolong pendengar untuk mendapatkan presentasi imajinatif tentang bagaimana rasanya hidup menjadi seorang Kristen, dengan cara menampilkan kisah kehidupan Kristen sehari-hari kepada mereka. Dengan demikian, alih-alih gereja menggunakan apologetika, gereja adalah apologetika itu sendiri. For a long time, classical and evidential apologetics have been firmly established as a way of defending the Christian faith. However, postmodernism appears to criticize the use of absolute verification tools for faith claims. Nevertheless, James K.A. Smith and Alister McGrath see postmodernism as friend rather than foe, opportunity rather than challenge. Therefore, paying attention to important criticisms of the spirit of postmodernism will actually help the church to answer the demands of postmodernism itself. This article proposes an imaginative apologetics approach as a solution to answer this criticism. In contrast to classical/evidential apologetics, this apologetics tends to use imagination more than before in efforts to account for the Christian faith. When apologetics accepts dry accusations and seems to override existential aspects that actually dwell in humans, imaginative apologetics can be a proposed solution to avoid these accusations. Two implications emerge from this reasoning. First, in apologetic dialogues, an apologist must use more imaginative rhetorical tools. Second, the church must help listeners get an imaginative presentation of what it’s like to live as a Christian, by presenting them with stories of everyday Christian life. Thus, instead of the church using apologetics, the church is apologetics itself.
Thio Christian Sulistio
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 20, pp 85-105; https://doi.org/10.36421/veritas.v20i1.423

Abstract:
COVID-19 merupakan kejahatan natural yakni kejahatan yang disebabkan oleh proses natural yang sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya sebagai akibat kejatuhan manusia dalam dosa. Keberadaan COVID-19 sebagai kejahatan natural akan menimbulkan pertanyaan mengapa kejahatan natural dapat ada, untuk apa kejahatan natural ini dan bagaimana akhir dari kejahatan natural ini (problem metafisika kejahatan)? Pertanyaan lain adalah bagaimana respons atau sikap orang-orang percaya terhadap keberadaan kejahatan natural ini (problem moral kejahatan)? Penulis berupaya menjawab dua problem tersebut dengan menggunakan penjelasan trinitarian dari metanarasi Kristen yakni dari sudut providensi Allah, karya Yesus Kristus di salib, dan karya Roh Kudus di dalam gereja Tuhan. Allah di dalam kedaulatan-Nya mengizinkan kejahatan natural COVID-19 untuk kebaikan yang lebih besar. Anak Allah Yesus Kristus mengalahkan kejahatan melalui pelayanan-Nya di bumi dan di Salib. Roh Kudus, yang diutus Bapa dan Anak, menghibur dan memberi kuasa kepada gereja untuk melanjutkan misi Yesus Kristus. COVID-19 is a natural evil, namely an evil caused by a natural process that is not functioning properly because of the fall of humans into sins. The existence of COVID-19 as a natural evil will raise the question of why natural evil can exist, what is the purpose of natural evil, and how does this natural evil ends (the metaphysical problem of evil)? Another question is how the response or the attitude of the believers to the existence of this natural evil (the moral problem of evil)? The author tries to answer these two problems by using a trinitarian explanation of Christian metanarrative, namely from the point of God’s providence, the work of Jesus Christ on the cross, and the work of the Holy Spirit in the church. God in his sovereignty permits the natural evil of COVID-19 for the greater good. Jesus Christ, the Son of God, triumph over evil through His ministry on earth and on the cross. The Holy Spirit, sent by the Father and the Son, comforts, and empowers the church to continues the mission of Jesus Christ.
Wendy Wendy, Malang Program Studi Magister Teologi Sekolah Tinggi Teologi Saat, David Alinurdin
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 20, pp 21-36; https://doi.org/10.36421/veritas.v20i1.408

Abstract:
Transhumanisme adalah sebuah pergerakan budaya dan filsafat yang melihat manusia memiliki hak dan kebebasan morfologis untuk berevolusi mencapai kondisi pascahuman dengan memodifikasi dan meningkatkan natur serta kapasitas manusia secara radikal menggunakan teknologi terkini seperti rekayasa genetika, robotika, kecerdasan buatan dan nanoteknologi. Pascahuman yang didambakan transhumanisme adalah kondisi manusia yang tidak dapat mengalami kemerosotan, penyakit, dan bahkan kematian. Tujuan akhirnya adalah hidup lebih panjang atau bahkan abadi untuk menikmati kebahagiaan yang tidak terbatas. Dengan mencermati perkembangan agenda transhumanis, muncul keprihatinan dari para sarjana bidang interdisipliner sains, teknologi dan teologi bahwa umat manusia akan diubahkan oleh teknologi atau bahkan malah menjadi tersingkir dan punah. Artikel ini bertujuan mengkaji transhumanisme dari perspektif antropologi Kristen, yang meliputi tiga aspek, yaitu asal-usul dan natur manusia, realitas kehidupan manusia serta solusi bagi masalah manusia. Hasil kajian menunjukkan bahwa janji transhumanisme mengenai evolusi manusia dengan kebebasan morfologis dan determinasi dirinya sendiri dapat mengupayakan perkembangan menuju kondisi pascahuman adalah hal yang tidak menjanjikan untuk tercapai karena natur manusia yang telah jatuh ke dalam dosa cenderung merusak atau menggantikan yang baik menjadi jahat. Agenda dan optimisme transhumanisme untuk menyingkirkan kemerosotan, penyakit dan kematian sepenuhnya dari kehidupan manusia dengan menggunakan teknologi terkini mustahil direalisasikan karena semua realitas tersebut adalah dampak dari kejatuhan manusia ke dalam dosa yang hanya bisa diatasi dengan cara ilahi melalui karya penebusan Kristus yang mengerjakan transformasi jiwa raga secara holistik. Transhumanism is a cultural and philosophical movement that sees humans as having the right and morphological freedom to evolve towards a posthuman state by radically modifying and enhancing human nature and capacity using the latest technologies such as genetic engineering, robotics, artificial intelligence, and nanotechnology. The posthuman that transhumanism craves is the human condition impervious to degeneration, disease, and even death. The end goal is to live longer or even immortal to enjoy unlimited happiness. By observing the development of the transhumanist agenda, there are concerns from scholars in the interdisciplinary fields of science, technology, and theology that humanity will be transformed by technology or even become marginalized and extinct. This article aims to examine transhumanism from Christian anthropology, which includes three aspects: the origin and nature of man, the reality of human life, and solutions to human problems. The results of the study show that the promise of transhumanism regarding human evolution with morphological freedom and self-determination to strive for progress towards a posthuman state is unpromising to achieve because human nature, which has fallen into sin, tends to destroy or exchange good for evil. The agenda and optimism of transhumanism to completely remove degeneration, disease, and death from human life by using the latest technology is impossible to realize because all these realities are the impact of the fall of man into sin, which can only be overcome by divine means through redemptive work of Christ which carries out the transformation of soul and body holistically.
Back to Top Top