Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan

Journal Information
ISSN / EISSN : 14117649 / 26849194
Current Publisher: Sekolah Tinggi Teologi SAAT (10.36421)
Total articles ≅ 58
Filter:

Latest articles in this journal

Linda Christine Setiawati, Aileen P. Mamahit, Sylvia Soeherman
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 18; doi:10.36421/veritas.v18i2.321

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian yaitu ada atau tidaknya hubungan antara kelekatan pemuda-orang tua dan dukungan iman orang tua dengan religiositas intrinsik pada pemuda di gereja-gereja injili di Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan penyebaran kuesioner kepada 226 pemuda-pemudi usia 18-29 tahun dan belum menikah di 8 gereja injili di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kelekatan pemuda-ibu dengan religiositas intrinsik pada pemuda. Kelekatan pemuda-ayah tidak ditemukan berhubungan dengan religiositas intrinsik, demikian juga dengan dukungan iman orang tua. This study aims to find answers to research questions, namely whether or not there is a relationship between youth attachment to their parents and the support of parents' faith with intrinsic religiosity of youth from evangelical churches in Bandung. The research method used is quantitative by distributing questionnaires to 226 youth aged of 18-29 years and not married in 8 evangelical churches in Bandung. The results showed a significant relationship between youth-mother attachment with intrinsic religiosity of youth. Youth-father attachment was not found to be related to intrinsic religiosity, nor was parental support of faith.
Liu Wisda
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 18; doi:10.36421/veritas.v18i2.343

Elisabeth Natallina
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 18; doi:10.36421/veritas.v18i2.341

Abstract:
Pergulatan batin memutuskan untuk menikah atau selibat merupakan pergumulan sebagian jemaat Tuhan, khususnya anak-anak muda. Memilih satu dari dua pilihan tersebut kadang menjadi sulit dengan beberapa kompleksitas yang ada, salah satunya karena kurangnya pemahaman akan prinsip-prinsip Alkitab berkaitan dengan isu ini. Sebagian orang percaya kurang mengerti petunjuk-petunjuk Alkitabiah yang dapat membantu mereka dalam masa menggumulkan untuk menikah atau selibat. Sementara pergumulan ini terus berlanjut, data menyatakan bahwa tingkat kelajangan meningkat kuantitasnya baik secara global dan nasional. Baik akan menikah maupun selibat, keputusan untuk menentukan hal tersebut menurut Paulus haruslah berdasarkan pada karunia masing-masing. Tulisan ini akan memaparkan petunjuk-petunjuk yang dapat dipelajari dari nasihat Paulus dalam 1 Korintus 7 untuk mengambil keputusan soal status hidup, khususnya selibat. The inner struggle to decide whether to marry or be celibate is a struggle for some Christians, especially young people. Choosing one of these two options can be difficult with some complexity, one of which is due to a lack of understanding of Bible’s principles related to this issue. Some believers do not understand the biblical instructions that can help them in their struggle to be married or celibate. While this struggle continues, data shows that quantity level of singleness is increasing globally in the world and in Indonesia itself. Either to be married or celibate, the decision to determine between these two options, according to Paul, must be based on their gift. This paper will explain the instructions that can be learned from Paul's advice in 1 Corinthians 7 to make decisions about the status of life, especially celibacy.
Tan Giok Lie
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 18, pp 125-140; doi:10.36421/veritas.v18i2.331

Abstract:
Fakta di hampir setiap cabang ilmu, termasuk teologi praktika di bidang pendidikan Kristen, menunjukkan adanya kesenjangan antara teori dengan praktek, seolah-olah praktek itu tidak dapat dilakukan menurut teorinya, padahal teori berfungsi sebagai fondasi untuk membangun praktek. Maka dari itu, teori dan praktek harus terpadu dalam satu kesatuan yang disebut praksis. Praksis yang dilakukan akan efektif, sebab jelas tujuannya, esensinya, lingkupnya, dan strateginya. Ini merupakan hal krusial yang perlu dilakukan oleh para pendidik Kristen. Namun dalam merancang sebuah praksis bukanlah perkara mudah. Dalam meresponi hal ini, penulis menyajikan sebuah rancangan praksis pendidikan Kristen yang dibangun di atas kajian teologis dan historis dari teologi perjanjian (theology of covenant) tentang pendidikan Kristen berbasis keluarga beriman dan dilengkapi dengan rekomendasi praktis demi mengestafetkan perjanjian Tuhan dari generasi ke generasi. Diharapkan rancangan praksis ini akan mendorong setiap praktisi pendidikan Kristen untuk membangun praksis secara pribadi. Facts in almost every branch of science, including practical theology in the field of Christian education, show that there is a gap between theory and practice, as if the practice cannot be carried out according to its theory, even though theory serves as a foundation for building practice. Therefore, theory and practice must be integrated in a single unit called praxis. The praxis done will be effective, because it is clear in terms of its purpose, essence, scope and strategy. This is a crucial thing that needs to be done by Christian educators. However, designing a praxis is not an easy matter. In response to this, the author presents a praxis draft of Christian education, that is built on theological and historical studies of theology of covenant in light of Christian education of faith-based families and is equipped with practical recommendations for the preservation of God's covenant from generation to generation. It is hoped that this praxis design will encourage every practitioner of Christian education to build personal praxis.
Carmia Margaret
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 18, pp 141-160; doi:10.36421/veritas.v18i2.330

Abstract:
Cukup banyak tokoh dan tulisan yang berupaya memperkenalkan, mendiskusikan, dan menunjukkan cara kerja pendekatan Interpretasi Teologis Kitab Suci atau yang lebih dikenal sebagai Theological Interpretation of Scripture (TIS), tetapi tidak banyak yang sebenarnya menbedah pemikiran-pemikiran teologis-filosofis di baliknya. Tulisan ini akan memperkenalkan natur, esensi, dan karakteristik khas pendekatan TIS melalui beberapa konviksi pembentuk yang melatarbelakanginya, yang dapat diibaratkan sebagai “DNA” bagi pendekatan TIS dan sekaligus membedakannya dari pendekatan-pendekatan tafsir lainnya. Pendekatan TIS agaknya paling baik dipahami sebagai pembacaan yang dilakukan di dalam dua konteks, yaitu konteks teologis dan ekklesial. Dalam konteks teologis, pendekatan TIS percaya bahwa Kitab Suci sebagai tulisan yang bersifat sakral, Kitab Suci adalah medium komunikasi Ilahi kepada umat di sepanjang sejarah bahkan hingga hari ini, Kitab Suci memiliki kesatuan dalam seluruh bagiannya dengan Yesus Kristus sebagai pusat dan pengikat, dan Kitab Suci paling baik dibaca dengan kesadaran akan lensa teologis pembacanya. Dalam konteks ekklesial, pendekatan TIS menekankan keimaman rajani seluruh anggota tubuh Kristus sebagai pembaca teks, keniscayaan komunitas di dalam pembacaan, dan fungsi normatif teks yang bertujuan menghasilkan transformasi dalam kehidupan umat. There are plenty figures and writings that attempt to introduce, discuss, and show the workings of Theological Interpretation of Scripture (TIS) as an approach in reading the Holy Scripture; however, not many that actually dissect the theological-philosophical thoughts laid behind it. This paper will discuss the nature, essence, and characteristics of the TIS approach through some of the forming convictions behind it, which can be said as "DNA" for the TIS approach and at the same time, differentiates it from other interpretive approaches. The TIS approach seems best understood as a reading that happened in two contexts, namely theological and ecclesial contexts. In a theological context, the TIS approach believes that the Scripture is a sacred writing, the Scripture is a medium of divine communication to people throughout history even today, the Scripture has a unity in all its parts with Jesus Christ as the center and binding, and the Scripture is best read with an awareness of theological lenses of the reader. In an ecclesial context, the TIS approach emphasizes the royal priesthood of all members of the body of Christ as readers of the text, the necessity of the community of believers in reading, and the normative function of the text aimed at producing transformation in the lives of the people of God.
Hendra Yohanes
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 18, pp 107-123; doi:10.36421/veritas.v18i2.332

Abstract:
Tujuan dari artikel ini adalah untuk menyajikan suatu tinjauan kritis-multifaset terhadap tuduhan bahwa Allah Yudeo-Kristen telah memerintahkan genosida kepada bangsa Israel dalam penaklukan Tanah Perjanjian. Sehubungan dengan itu, penulis mencoba memikirkan ulang apa yang dipersoalkan secara esensial dalam tuduhan tersebut dan membedah tuduhan tersebut dalam tiga faset meliputi faset terminologi hukum, penafsiran, dan moral-filosofis. Dengan menganalisis kriteria genosida di dalam hukum internasional, penulis berargumen bahwa catatan penaklukan kuno Tanah Perjanjian di Perjanjian Lama tidak memenuhi kriteria ini sehingga penaklukan ini secara keliru telah diklasifikasikan sebagai genosida. Penulis juga mengumpulkan beberapa contoh kekeliruan penafsiran terhadap catatan penaklukan Tanah Perjanjian. Penulis menyetujui bahwa bahasa figuratif-hiperbol merupakan sebuah perangkat sastra yang umum dalam catatan penaklukan kuno dan ideologi perang dipandang sebagai penghukuman ilahi dalam pandangan dunia Timur Dekat Kuno. Kemudian, penulis mengambil Yosua 9-11 sebagai sebuah studi kasus biblikal untuk menunjukkan jurang sejarah-budaya antara konteks Timur Dekat Kuno dari catatan penaklukan dengan konteks kekinian kita. Pada faset terakhir, penulis secara ringkas berargumen bahwa ada pendekatan yang lebih kontekstual yang berdasarkan argumen moral teistik ketimbang tuduhan kaum Ateis Baru. The purpose of this article is to deliver a critical-multifaceted review against the accusation that the Judeo-Christian God have commanded genocide to Israelites in the conquest of the Promised Land. Correspondingly, I try to reconsider what matters essentially in the accusation and dissect the accusation into three facets, included legal terminology, interpretive and moral-philosophical facets. By analysing criteria of genocide in the international law, I argue that ancient conquest account of the Promised Land in Old Testament dissatisfies these criteria, thus the conquest was incorrectly classified as genocide. I also gather some examples of misinterpretation of the conquest account of the promised land. I agree that the figurative-hyperbolic language as a common literary feature in the ancient conquest account and the ideology of war viewed as the divine retribution in ancient near eastern worldview. Then, I take Joshua chapters 9-11 as a biblical case study to demonstrate historical-cultural gaps between ancient near eastern context of the conquest account and our present context. In last facet, I tersely argue that there is a more contextual approach which based on theistic moral argument instead of the New Atheist accusation.
Sandra Wisantoso
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 18, pp 47-70; doi:10.36421/veritas.v18i1.323

Abstract:
Di dalam gereja/persekutuan terjadi gejala banyak yang mengaku Kristen, tetapi sedikit yang mau dimuridkan. Namun, faktor penyebab utama masalah pemuridan di gereja justru berasal dari dalam Kekristenan sendiri. Ada dikotomi antara “menjadi orang percaya” dan “menjadi murid” yang mengakibatkan orang-orang Kristen tidak lagi menjadikan Kristus sebagai Tuhan dan Raja yang harus disembah dan ditinggikan di dalam seantero kehidupan mereka. Akibatnya, pemuridan hanya menjadi sekadar program yang mentradisi dan tidak lagi menolong orang percaya bertumbuh menjadi murid Kristus yang hidup serupa dengan-Nya. Solusi bagi permasalahan pemuridan ini terletak pada strategi pemuridan yang Yesus kerjakan, yaitu di dalam kerangka atau dimensi Kerajaan Allah. Kerajaan Allah dan Pemuridan merupakan dua topik besar dan signifikan di dalam Injil Matius. Korelasi antara konsep Kerajaan Allah dengan pemuridan dalam Injil Matius adalah pemuridan merupakan sebuah proses untuk membawa semua orang menjadi murid Yesus, yaitu warga Kerajaan Allah, yang tunduk di bawah pemerintahan Allah dan taat melakukan kehendak-Nya. Korelasi inilah yang dapat menjadi jawaban bagi permasalahan pemuridan yang terjadi di dalam gereja/persekutuan pada saat ini
Enny Dewi, Aileen P. Mamahit, Rahmiati Tanudjaja
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 18, pp 47-84; doi:10.36421/veritas.v18i1.326

Abstract:
Peran orang tua dalam religiositas remaja sangat penting. Remaja menghadapi banyak tantangan dalam masa pubertas dengan berbagai perkembangan yang cukup kompleks meliputi aspek kognitif, afektif, moral, sosial, dan iman. Peran orang tua dibutuhkan untuk menolong mereka melewati masa ini sehingga mampu mencapai individuasi, termasuk untuk menentukan identitas imannya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara kelekatan dan dukungan iman orang tua dengan religiositas 247 remaja berusia 13-18 tahun yang beribadah di kebaktian remaja di lima jemaat Gereja Kristen Abdiel Gloria di Surabaya. Penelitian kuantitatif ini menggunakan Spearman Rank Correlation untuk analisis data dari tiga kuesioner yaitu Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA), Perceived Faith Support from Parents and Friends (PFS-P dan PFS-F), dan Intrinsic/Extrinsic-Revised Scale. Hasil penelitian menunjukan korelasi yang signifikan dan positif antara variabel-variabel yang diuji. Semakin tinggi kelekatan kepada orang tua, maka semakin tinggi religiositas remaja; dan semakin tinggi dukungan iman orang tua, maka semakin tinggi religiositas remaja.
Christian Reynaldi
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 18, pp 1-13; doi:10.36421/veritas.v18i1.318

Abstract:
Alkitab sebagai Firman Allah merupakan sebuah kredo yang tak terbantahkan di dalam kekristenan. Salah satu implikasi dari keyakinan tersebut adalah munculnya doktrin kecukupan Alkitab. Alkitab dinyatakan cukup untuk mengajarkan manusia menuju kepada keselamatan dan ketaatan yang penuh kepada Allah. Namun bagaimanakah kecukupan Alkitab ini didefinisikan dan diberikan batasan, sebab nampaknya tidak mungkin berteologi tanpa alat bantu apapun. Salah satu alat bantu berteologi yang menarik perhatian penulis adalah tradisi gereja sebab seringkali dipertentangkan antara tradisi dan doktrin kecukupan Alkitab. Akan tetapi benarkah keduanya harus dipertentangkan? Tulisan ini menjawab pertanyaan harmonisasi doktrin kecukupan Alkitab dengan tradisi gereja. Penulis berargumentasi bahwa doktrin kecukupan Alkitab tidak pernah meniadakan tradisi gereja. Tradisi gereja yang mutlak harus dipakai di dalam berteologi secara Kristen adalah Rule of Faith, sebagai rangkuman dari iman kristiani yang sudah ada sejak gereja mula-mula. Tradisi gereja lainnya perlu dievaluasi terlebih dahulu penggunaannya di dalam berteologi. Kata kunci: kecukupan Alkitab, sola scriptura, tradisi, Rule of Faith, harmonisasi English: Scripture as the Word of God is an undeniable creed in christianity. One of many implication from this believe is the doctrine of the sufficiency of scripture. Scripture deemed sufficient enough to teach man toward salvation and full obedience unto God. Nevertheless how sufficiency of scripture is defined and confined, because it seems impossible to theologize without any supplements. One of those supplements that interest me is church tradition because people tend to contrast church tradition and doctrine of the sufficiency of scripture. However, shall two of them be contrasted? This writings will answer harmonization between doctrine of sufficiency of scripture and church tradition. I argue that doctrine of sufficiency of scripture never nulify church tradition. The absolute church tradition that use in theologizing as a christian is Rule of Faith, as a summary of christian faith since early church. Another church traditions need to be evaluated whenever they are used in theologizing. Keywords: sufficiency of scripture, sola scriptura, tradition, Rule of Faith, harmonization