Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan

Journal Information
ISSN / EISSN : 1411-7649 / 2684-9194
Current Publisher: Sekolah Tinggi Teologi SAAT (10.36421)
Total articles ≅ 76
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Thio Christian Sulistio
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 19; doi:10.36421/veritas.v19i2.380

Abstract:
Doktrin kesaksian internal Roh Kudus adalah doktrin yang digunakan oleh John Calvin untuk menjelaskan mengapa orang Kristen dapat memercayai Alkitab sebagai firman Allah. Namun doktrin ini tidak luput dari problem khususnya berkaitan dengan problem penalaran sirkular, subyektivisme, dan dianggap mengabaikan peran argumen dan bukti. Paper ini berupaya menjawab problem-problem tersebut dengan pertama memaparkan natur dan mekanisme kesaksian internal Roh Kudus. Kedua, menjawab problem-problem tersebut dengan menggunakan konsep pengetahuan bertingkat dan mengakui keberadaan sirkularitas epistemik. Dengan bantuan konsep-konsep tersebut penulis menunjukkan bahwa problem-problem tersebut dapat dijawab dengan baik. The doctrine of the internal testimony of the Holy Spirit was used by John Calvin to explain why Christians can believe in the Bible as the word of God. However, this doctrine is free from problems especially related to the problem of circular reasoning, subjectivism, and is considered to ignore evidence and arguments. This paper tries to answer these problems by first discussing the nature and mechanism of the internal testimony of the Holy Spirit. Secondly, it attempts to answer these problems by using the concept of multilevel knowledge and acknowledging the existence of epistemic circularity. With the help of these concepts, the author will show that these problems can be answered well.
Tony Wiyaret Fangidae
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 19; doi:10.36421/veritas.v19i2.372

Abstract:
Penderitaan merupakan realitas yang tak terelakkan. Kali ini, dunia berhadapan dengan pandemi COVID-19 yang menyebabkan penderitaan di beberapa aspek kehidupan manusia seperti kesehatan, sosial, ekonomi, psikologis, hingga religius. Polemik ini menghantar kita pada diskusi seputar teodisi. Teodisi merupakan paradigma yang digunakan Leibniz untuk membela kemahabaikan dan kemahakuasaan Allah di hadapan realitas penderitaan, tetapi teodisi cenderung berhenti pada ranah teori tanpa praktik. Sontag mengusung paradigma antropodisi dalam wujud solidaritas sosial yang mengedepankan praktik untuk mengkritik teodisi yang terlampau abstrak dalam membela Allah tanpa mempedulikan penderitaan manusia. Antropodisi tampaknya terlalu sosialis dan cenderung berpegang pada kemampuan manusia, sehingga mengeksklusi aspek religius dalam solidaritas sosial. Levinas merespons kegelisahan ini dengan mengusung teodisi etis. Paradigma teodisi etis digunakan Levinas untuk memperlihatkan kehadiran Allah melalui manusia yang bertanggung jawab terhadap penderitaan sesamanya. Artikel ini mengusulkan nama, pemaknaan, dan pengembangan baru terhadap teodisi etis, yaitu teo-antropodisi. Teo-antropodisi merupakan paradigma yang merangkul teodisi sekaligus antropodisi. Teo-antropodisi berusaha membuktikan kasih Allah bukan dengan pembelaan ala Leibniz yang melulu berteori atau bukan semata-mata solidaritas sosial ala Sontag yang mengedepankan praktik. Teo-antropodisi mengorelasikan teori dan praktik tersebut sama seperti iman (teodisi), tanpa perbuatan (antropodisi) adalah mati. Teo-antropodisi berfondasikan prinsip “mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi” serta “mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.” Suffering is an inevitable reality. This time, the world is dealing with a COVID-19 pandemic that causes suffering in several aspects of human life such as health, social, economic, psychological, and religious. This polemic leads us to a discussion around theodicy. Theodicy is a paradigm Leibniz used to defend God's benevolence and omnipotence in front of the reality of suffering, but the theories tend to stop in the realm of theory without practice. Sontag carries the paradigm of anthropodicy in the form of social solidarity that promotes the practice of criticizing the overly abstract theodicy in defense of God regardless of human suffering. Anthropodicy seems to be too socialist and tend to hold on to human abilities, thus excluding the religious aspect in social solidarity. Levinas responded to this anxiety by carrying an ethical theodicy. The ethical theodicy paradigm is used by Levinas to demonstrate God's presence through humans who took responsibility for alleviating the suffering of his neighbor. This article proposes a new name, meaning, and development of ethical theodicy, namely theo-anthropodicy. Theo-anthropodicy is a paradigm that embraces both theodicy as well as anthropodicy. Theo-anthropodicy seeks to prove God's love neither with Leibniz-style defenses that merely theorize nor with Sontag-style social solidarity that merely promotes practices. Theo-anthropodicy correlates these theories and practices in the same way that faith (theodicy), without action (anthropodicy) is dead. Theo-anthropodicy is based on the principles of "loving God with all your heart, soul and mind" and "loving others as yourself."
Chandra Wim
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 19, pp 229-231; doi:10.36421/veritas.v19i2.359

Abstract:
In the last two or three decades, we have witnessed a renewed interest in spirituality in Christian academic circles. More recently, we have also seen a growing number of publi­cations on the mission and missional church—both on popular and academic levels. While one can easily find many quality works on Christian spirituality and some decent books on mission/missional church, one would only find a few works that combine both themes in a single volume. In this work, Charles Fen­sham, professor of theology at Knox College, Toronto, attempts to do just that—as one may discern from the book’s subtitle: A Missional Spirituality. As such, this book ad­dress­es those who have interest in spirituality and/or in mission but particularly to those who would like to see how biblical missional impetus shapes a particular understanding of Christian spirituality.
Oki Hermawati, Erwin Santosa, Innocentius Bernarto
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 19, pp 215-227; doi:10.36421/veritas.v19i2.407

Abstract:
This research aims to find the effect of shepherd leadership and organizational trust on work motivation and school commitment. This study was directed at Ketapang Christian Schools (SKK), located in Jakarta and Cibubur (West Java). This research used a saturated sample technique, which means the entire population became sample. The total number of respondents is 100. The Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM) method was selected as a statistical analysis technique. The conclusion showed that shepherd leadership and school trust had a positive impact on work motivation. Shepherd leadership and organizational trust have a positive influence on school commitment. Shepherd leadership has a supportive influence on school trust, and work motivation has a supportive impact on school commitment. The finding is expected to provide input for the school in considering policies, especially those related to school structures, to build up trust, work motivation, and teachers’ commitment to the school.
Jessica Novia Layantara
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 19, pp 135-150; doi:10.36421/veritas.v19i2.364

Abstract:
Makalah ini akan memberikan beberapa masukan dalam usaha revitalisasi gereja-gereja Protestan masa kini, dengan menganalisis pemikiran kritis Émile Durkheim. Pengamatan dan kritik Durkheim mengenai Protestantisme pada zamannya akan diban-dingkan dengan isu-isu yang dihadapi oleh gereja Protestan masa kini, seperti pola hidup individualistis jemaat, kurangnya solidaritas, kultus individual, kurangnya penghargaan terhadap sakralnya liturgi dan ibadah gereja termasuk perjamuan kudus, dan tidak adanya aturan gereja yang jelas. Selanjutnya, makalah ini juga menawarkan sebuah sintesis sistematik-konstruktif dari analisis tersebut, dalam rangka usaha revitalisasi gereja, yaitu rekonfirmasi simbol-simbol, reklarifikasi konsep sakral-nonsakral, dan reformasi yang melibatkan klan-klan baru dalam gereja. This paper will provide some efforts to revitalize Protestant churches today, by analyzing the critical thinking of Émile Durkheim. Durkheim's observations and critiques of Protestantism in his day will be compared to the issues faced by the Protestant church today: the individualistic lifestyle of the congregation, lack of solidarity, individual cults, lack of respect for the sacred liturgy and church worship including holy communion, no clear church rules, and no clear church rules, and etc. Furthermore, this paper also offers a systematic-constructive synthesis to revitalize the church, including: re-confirmation of symbols, re-clarification of the sacred and non-sacred, and also reformation involving new clans in the church.
Michael Teng, Carmia Margaret
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 19; doi:10.36421/veritas.v19i2.432

Abstract:
Masa pandemi COVID-19 dapat diibaratkan sebagai “cermin” yang menunjukkan keaslian atau realita wajah pelayanan gereja. Sebelum masa pandemi, telah ada observasi yang muncul dari berbagai literatur, penelitian, dan beragam pengalaman dalam konteks pelayanan yang menunjukkan adanya keterpisahan antara teologi yang Alkitabiah dan praksis pelayanan kejemaatan serta adanya pengabaian terhadap hal-hal yang primer dalam pelayanan. Kedua observasi ini seolah-olah dibuktikan kebenarannya dalam masa pandemi. Melalui tiga penelitian tentang pelayanan gerejawi yang dilakukan di Indonesia selama masa pandemi, yaitu rangkaian penelitian dari Bilangan Research Center, Survei Nasional dan Rembuk Nasional dari Sekolah Tinggi Teologi SAAT, Malang, serta rangkaian penelitian dari Pusat Studi Pertumbuhan Gereja Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung, Jakarta, didapati bahwa gereja masih memiliki konsep teodisi yang tidak utuh atau proporsional, pelayanan gereja masih sangat bergantung kepada peran rohaniwan sebagai tenaga profesional dan terpusat secara sempit kepada aspek ibadah, ada kesenjangan yang serius antara generasi senior dan generasi muda, serta pelayanan gereja belum siap untuk berhadapan dengan teknologi. Merespons realita tersebut, artikel ini mengusulkan agar gereja melakukan penataan ulang pelayanan pascapandemi dalam enam hal, yaitu: membangun visi teologis yang bisa diejawantahkan dengan jelas dan utuh dalam pelayanan, menjadikan ibadah sebagai sentral tetapi bukan sebagai satu-satunya pelayanan yang penting, menggencarkan pembinaan dan pemuridan berbasis keluarga, memperkuat pelayanan pastoral yang menekankan relasi personal yang mendalam, memperhatikan pelayanan kepada generasi muda atau penerus, serta mengutamakan kapasitas pengutusan daripada kapasitas menampung orang di dalam gereja semata-mata. The COVID-19 pandemic can be likened to a “mirror” that shows the authenticity of church ministries’ real face. Before the pandemic, there had been observations emerging from various kinds of literature, research, and various experiences in the ministry context that showed a separation between biblical theology and the ministry’s praxis and the neglect of the primary things in the ministry. These two observations seem to be proven to be true during the pandemic. In three studies on church services conducted in Indonesia during the pandemic, namely a series of researches from Bilangan Research Center, National Survey and National Dialogue from South East Asia Bible Seminary, Malang, as well as a series of researches from the Center for the Church Growth Studies of Amanat Agung Theological School, Jakarta, it was found that the church still has a disproportionate concept of theodicy. The church services are still very dependent on the clergy’s role as professionals and narrowly centered merely on the worship ministry. There is also a serious gap between the older and the younger generation, and church services are not yet ready to deal with technology. Responding to this reality, the writers propose that the church needs to refocus its post-pandemic ministry in six ways, namely: building a theological vision that can be embodied in the ministry, making worship ministry a central but not as a center in ministry, developing family-based discipleship, strengthening pastoral ministry that emphasizes deep personal relationships, paying attention to ministering the next generation, and prioritize the sending capacity rather than solely the seating capacity.
David Kristanto
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 19, pp 189-200; doi:10.36421/veritas.v19i2.394

Abstract:
Perhaps there is no better time to reflect on the new creation than now, amid the Covid-19 pandemic. All aspects of human life are being impacted by the pandemic, not to mention the danger of death that it generates. This critical situation brings out legitimate questions to the current state of the world (or creation): whether it is perishing, being abandoned by God, or whether God is punishing the world into destruction due to its abundance of sin. Attempting to answer those questions, the author will argue alongside Kuyper and Bavinck that God would never abandon nor destroy his creation. Even though corrupted by sin, God has no intention to destroy the creation; instead, he intends to restore it according to his original plan. God’s intention is not just to redeem the elect but to redeem the whole creation, and that complete redemption will find its fulfillment in the new creation. Such a reflection would encourage the Christian proclamation that God’s salvation extends to all creation.
Hendra Yohanes
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 19, pp 232-234; doi:10.36421/veritas.v19i2.377

Abstract:
Setiap orang Kristen diperhadapkan dengan berbagai macam pilihan pandangan di gelang­gang kontestasi wawasan dunia dalam menja­lani kehidupan ini. Buku ini menunjukkan pemikiran Herman Bavinck di dalam men­jawab tantangan dari berbagai macam wa­wa­san dunia yang berkembang hingga masanya. Menariknya, Bavinck mengusulkan suatu “wawas­an dunia-dan-kehidupan” (world-and-life view) dari perspektif iman Kristen. Buku karya Ba­­vinck ini diterjemahkan dari buku “Christelijke Wereldbeschouwing” edisi kedua (1913). Kehadiran buku ini di dalam bahasa Ing­gris tentu menjadi kabar sukacita bagi peng­gemar studi wawasan dunia Kristen (Christian worldview) dan teologi Reformed. Lagipula, tim penerjemah mencantumkan istilah asli dalam bahasa Belanda, sehingga pembaca yang tertarik dapat menelusuri kembali istilah-istilah yang tidak mudah untuk diterjemahkan.
Billy Kristanto
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 19, pp 119-133; doi:10.36421/veritas.v19i2.353

Abstract:
Dalam artikel ini akan disajikan potensi pemikiran Yohanes Calvin bagi ibadah Kristen masa kini maupun masa yang akan datang. Ibadah menurut Calvin sepertinya tidak menjanjikan untuk dikembangkan dalam konteks masa kini karena kesempitan wawasannya. Artikel ini berusaha untuk menyajikan perspektif sebaliknya. Artikel ini hendak membagikan kontribusi pemikiran Calvin yang dapat menjadi tuntunan dan koreksi bagi ibadah masa kini. Untuk itu, penulis akan menjabarkan prinsip-prinsip teologi reformatoris Calvin yang diaplikasikan dalam aspek ibadah, pandangan Calvin tentang dosa-dosa liturgis, dan gambaran-gambaran atau metafora-metafora yang digunakan Calvin untuk menjelaskan ibadah. Secara metodologis, artikel ini berusaha untuk menimba pemikiran Calvin tentang ibadah dan menerapkannya secara kontekstual, namun tidak memberikan pembahasan yang komprehensif dan historis dalam arti yang ketat. Pemikiran Calvin tentang ibadah bukan saja melampaui pokok bahasan seputar penggunaan alat musik dan Mazmur, melainkan juga memiliki potensi yang kaya untuk pengembangan ibadah Kristen masa kini This article presents the potential of John Calvin's thought on Christian worship for today and the future. Worship according to Calvin does not seem promising to be developed in the present context because of the narrowness of his insight. This article seeks to present a contrary perspective. This article would like to share the contribution of Calvin’s thought that can serve as a guide and correction for contemporary worship. For this reason, I will discuss the principles of Calvin’s theology, which are applied in aspects of worship, Calvin's view of the so-called liturgical sins, and metaphors used by Calvin to explain worship. Methodologically, this article seeks to draw from Calvin’s thoughts on worship and contextualize it but does not offer comprehensive and historical discussion in a strict sense. Calvin’s thought on worship not only goes beyond the subject of the use of musical instruments and psalms but also has rich potential for the development of Christian worship for today.
Sandra Wisantoso
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 19, pp 113-116; doi:10.36421/veritas.v19i1.365

Abstract:
John Lennox adalah seorang profesor emeritus di bidang matematika dari Universitas Oxford di Inggris, dosen emeritus bidang matematika dan filsafat sains di Green Templeton College serta pengajar di The Oxford Centre for Christian Apologetics. Dalam karir akademisnya, Lennox giat membela iman Kristen di dalam debat-debat publik menghadapi para ateis terkenal seperti Richard Dawkins, Christopher Hitchens dan Peter Singer. Tulisan-tulisan dalam buku ini lahir dari perenungan Lennox terhadap situasi kegelisahan dan kebingungan yang sedang melanda dunia ini akibat pandemi virus Corona. Untuk itu, Lennox mengundang para pembacanya seumpama sedang berdialog dengannya di kafe sambil minum kopi dan bertanya: “Di manakah Allah di tengah dunia yang dilanda virus Corona?” Meskipun ditulis dalam waktu relatif singkat dan dengan jumlah halaman yang tidak banyak, buku ini memberikan wawasan yang cukup secara teologis, historis dan saintifik mengenai pandemi yang sedang terjadi saat ini. Tidak hanya itu, Lennox juga berupaya sensitif terhadap penderitaan yang sedang dihadapi pembacanya dengan menceritakan pengalaman-pengalaman pribadi dan keluarganya ketika menghadapi sakit penyakit.
Back to Top Top