JPM17: Jurnal Pengabdian Masyarakat

Journal Information
ISSN / EISSN : 2579-3853 / 2407-7100
Published by: Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (10.30996)
Total articles ≅ 68
Filter:

Latest articles in this journal

Eko April Ariyanto, Sayidah Aulia Ul Haque, Hikmah Husniyah Farhanindya, Dheny Jatmiko
JPM17: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 7, pp 17-22; https://doi.org/10.30996/jpm17.v7i1.6035

Abstract:
Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah memberikan psikoedukasi melalui pelatihan kepada pemuda yang termasuk kedalam kelompok program MBKM Pertukaran Mahasiswa Merdeka, mahasiswa yang terlibat dalam organisasi kemahasiswaan di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dan juga para remaja yang menjadi mitra di kegiatan Matching Fund Desa Minggirasari, Kabupaten Blitar. Metode pelaksanaan yang digunakan yaitu ceramah, diskusi dan games dengan maksud dapat mengembangkan wawasan kebangsaan berdasaarkan landasan dasar filosofis pada para mahasiswa dan para remaja. Hasil yang dicapai dari pengabdian ini menunjukkan ada perbedaan wawasan peningkatan dan kesadaran berbangsa. Pelaksanaan psikoedukasi wawasan kebangsaan dapat efektif meningkatkan pengetahuan peserta, hal ini ditunjukkan berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan uji paired sample T-test diperoleh nilai t sebesar -18,047 dengan taraf signifikan antara hasil taraf signifikasi 0,000 (p<0,01). Artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberikan pelatihan wawasan kebangsaan. Hal tersebut, menunjukkan bahwa pelatihan wawasan kebeangsaan pada mahasiswa inbond kegiatan modul Nusantara di kampus, anggota Badan Eksekutif Mahasiswa, anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa, mahasiswa pertukaran pelajar, serta remaja karang taruna desa Minggirsari, kabupaten Blitar memberikan pengaruh yang bermakna pada pemahaman partisipan.
Jaka Purnama, Erni Puspanantasari Putri, Abdul Halik, Dea Nabilah Idraki, Dea Ayu Maharani Andris
JPM17: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 7, pp 01-08; https://doi.org/10.30996/jpm17.v7i1.6032

Abstract:
Perkembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) furniture saat ini belum menunjukan hasil yang lebih baik dalam perkembangannya. Peralatan yang digunakan masih relatif sederhana dan masih manual. Banyak UKM furniture yang berada di sentral UKM furniture daerah Mojowarno, Jombang, Jawa Timur masih menggunakan peralatan yang sedernana dalam melakukan kegiatan produksi dalam menghasilkan produk furniture berbahan baku kayu jati. Pada saat permintaan tinggi banyak UKM yang tidak mau memenuhi permintaan konsumen karena kapasitas produksi yang terbatas dan model jenis produk yang masih klasik, sehingga perlu adanya perubahan produk yang lebih baik. Dengan menggunakan peralatan yang ergonomis UKM furniture akan mampu memenehi kebutuhan konsemen sesuai dengan harapan yang diinginkan dari para pemakai produk. Penggunan mesin bor dan mesin potong yang ergonomis mampu dalam meningkatakan produksi di UKM furniture. Hasil pengamatan menunjukan bahwa dengan mesin baru dengan menggunakan tenaga listrik didesain secara ergonomis memberikan dampak nyata bahwa peralatan baru mampu meningkatan kapasitas produksi dan lebih aman digunakan. Analisis data terdapat perubahan kecepatan kerja dengan silisih rata-rata waktu mengebor 50 %, waktu pemosisian mata bor 51%, waktu setup 39% dan waktu perpindahan 40%. Perubahan kecepatan kerja berpengaruh terhadap peningkatan efisiensi dan efektivitas kerja di UKM furniture. Pelatihan dan pendampingan dalam menggunakan mesin peralatan yang baru, menunjukan dampak yang positif terhadap keberadaan UKM furniture. Nampak pada keuntungan dan kesejakteraan para pelaku UKM furniture meningkat, karena semua kebutuhan konsumen dapat terpenuhi dan mampu meningkatkan omset para UKM furniture. Kata Kunci : Furniture, Ergonomi, Bor, Potong
Hery Murnawan
JPM17: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 7, pp 09-16; https://doi.org/10.30996/jpm17.v7i1.6033

Abstract:
CV. Cahaya Mulia merupakan UKM pengecoran logam alumunium yang pada awalnya memproduksi wajan alumunium, seiring dengan perkembangan waktu dan menurunnya permintaan wajan alumunium. UKM ini merubah produksinya dengan membuat komponen mesin perkakas berupa pulli, tutup oli, tempat bearing, tutup parutan kelapa, propeler, dan lain-lain. Proses produksi komponen tersebut dilakukan dengan menggunakan cetakan logam dan cetakan tanah. Aktivitas produksi proses pencetakan komponen dengan menggunakan layout yang lama mengalami kendala yakni terjadinya proses pengentalan cairan logam yang disebabkan jarak perpindahan dari tungku peleburan menuju cetakan tanah yang terlalu jauh. Proses tersebut mengakibatkan berat setiap komponen tidak sama, sehingga harga jual produksinya tidak dapat memberikan keuntungan yang optimal. Penataan tata letak fasilitas produksi pengecoran logam dengan melakukan pendekatan tungku peleburan logam alumunium dengan cetakan tanah dirasa sangat efisien dan dapat meningkatkan kapasitas produksi. Pemanfaatan oli bekas sebagai bahan bakar pada tungku peleburan logam alumunium dapat mempercepat proses peleburan dan mengurangi biaya produksi sehingga kapasitas produksi dapat ditingkatkan. Hasil analisis harga pokok produksi (HPP) tungku peleburan logam berbahan bakar oli bekas sebesar Rp 38.462. Cetakan Alumunium tersebut dijual pada UKM alat perkakas dengan harga Rp 45.000 per Kg, sedangkan untuk penjualan pada eceran sebesar Rp 50.000. Keuntungan yang didapatkan dengan penggunaan tungku peleburan logam (refraktori) berbahan bakar oli bekas sebesar Rp 6.538 per Kg pada UKM alat perkakas dan sebesar Rp 11.538 pada penjualan eceran. Total keuntungan yang didapatkan untuk peleburan logam sebesar 180 Kg sebesar Rp 1.000.333 pada UKM alat perkakas dan sebesar Rp 1.765.333 pada penjualan eceran. Kata Kunci : Bahan bakar oli bekas, cetakan tanah dan cetakan logam, harga pokok produksi, tata letak, tungku peleburan logam (refraktori).
Aris Heri Andriawan, Harjo Seputro, Dheny Jatmiko, Abraham Fery Rosando, Dwi Harini Sulistyowati
JPM17: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 7, pp 23-29; https://doi.org/10.30996/jpm17.v7i1.6036

Abstract:
Mengembangkan diri menjadi desa ekonomi kreatif. Desa ini telah memiliki laboratorium pusat studi ekonomi kreatif dan pariwisata Jawa Timur hasil dari kegiatan penelitian dan pengbadian civitas akedemika Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Dalam upaya pengembangan ekonomi kreatif insfrastruktur pendukung, salah satunya adalah lampu penerangan. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, maka akan dilakukan pengabdian masyarakat dengan kegiatan optimalisasi PJU LED Solar Cell untuk peningkatan produktivitas ekonomi kreatif Minggirsari, Kanigoro, Kabupaten Blitar. Kegiatan pengabdian ini merupakan implementasi dari kegiatan peneltian yang telah dilakukan sebelumnya. Kegiatan pengabdian ini diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Minggirsari secara umum, pelaku ekonomi kreatif secara khusus, dan Pemerintah Desa Minggirsari secara spesifik. Manfaat yang diharapkan adalah adanya peningkatan produktivitas ekonomi kreatif di Desa Minggirsari sehingga nantinya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonmi Desa Minggirsari. Kata kunci: PJU, Solar Cell, Ekonomi Kreatif, Minggirsari.
Yb Agung Prasaja, Tri Pramesti, Muizzu Nurhadi, Pariyanto Pariyanto, Mateus Rudi Supsiadji
JPM17: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 7, pp 30-35; https://doi.org/10.30996/jpm17.v7i1.6037

Abstract:
The maintenance and preservation of Indonesian traditional knowledge and folklore is urgently needed. Traditional knowledge and folktale are cultural heritages that provide intangible wealth for Indonesia. This paper provides a brief analysis of the traditional values transmitted by our folktales and the functions served by local legends and myths in Plunturan society. This paper offers some practical recommendations for collecting our folktales, myths, and legends in the form of text using the currently available digital technology to create the first comprehensive and dynamic Plunturan folktales. This community service focuses on the problems that can arise when documenting folklore and traditional knowledge. what solutions should be done to overcome these problems. The method used in this study is by interviewing the resource person. The results of this study conclude that text documentation needs to be done to preserve folklore and traditional knowledge.Keywords: Traditional knowledge, Folktales, Plunturan, Documenting
Bagoes Soenarjanto, Arif Darmawan, Tri Yuliyanti
JPM17: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 6; https://doi.org/10.30996/jpm17.v6i02.6314

Abstract:
Kabupaten Tuban merupakan pintu masuk ke Jawa Timur. Kabupaten ini berada dalam cekungan wilayah utara dan menjadi lintas strategis antara Semarang dan Surabaya dimana Kabupaten ini memiliki 328 desa/kelurahan. Yang memiliki luas 1839,9 Km2 serta memiliki 20 Kecamatan. Kecamatan Palang adalah salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Tuban yang memiliki 19 desa /kelurahan serta memiliki luas 72,70 Km2 atau 3,95 % dari luas Kabupaten TubanDesa - desa sebagai unit pemerintahan terkecil memiliki peran strategis dalam kemajuan kesejahteraan masyarakatnya. Aktivitas pemerintahan dan efektifitas pelayanan aparatur desa tergantung dari tingkat perkembangan dan kemajuan tehnologi informasi dan komunikasi yang ada di dalam masyarakat desa itu sendiri. Untuk mendorong percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat, salah satu program yang dapat dilakukan oleh pemerintahan desa yaitu melalui peningkatan kualitas administrasi pemerintahan.Persoalan utama yang dihadapi oleh banyak pemerintahan desa di berbagai tempat adalah kurangnya kemampuan untuk mengakses informasi dan peningkatan kualitas pelayanan akibat kurangnya Jaringan WIFI, Server yang up to date dan kompetensi SDM (Sumber Daya Manusia) yang dimiliki. Perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan dapat berkontribusi dalam mengatasi persoalan tersebut melalui penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan maupun penyelenggaraan FGD (focus group discussion)..Oleh karenanya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya ikut serta memberikan bantuan berupa penyuluhan dan pendampingan guna peningkatan kualitas admistrasi pemerintahan desa melalui program ABDIMAS. Sebagai langkah pertama yaitu dilakukan kegiatan FGD untuk memetakan persoalan yang dihadapi dalam upaya mencari solusi yang terbaik. Selanjutnya dilakukan kegiatan pendampingan terhadap perangkat desa sesuai dengan tugasnya masing-masing.
Camelia Putri Agustin, Windy Fitria Kermatigo, Febby Rahmatulla Masruchin
JPM17: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 6; https://doi.org/10.30996/jpm17.v6i02.6317

Abstract:
Wisata Kampoeng Kelengkeng merupakan salah satu destinasi wisata yang saat ini tengah berkembang di kabupaten Sidoarjo, kecamatan Wonoayu, desa Simoketawang. Melihat potensi besar yang ada pada desa Simoketawang, maka kami berencana untuk turut membantu dalam pengembangannya, salah satunya dengan mengembangkan usaha UMKM setempat yang dapat menghasilkan suatu produk kerajinan dari pemanfaatan olahan yang ada pada pohon kelengkeng. Bahan dasar olahan kelengkeng ini dinilai cukup efektif guna mengurangi sampah organik yang banyakdihasilkan oleh pohon kelengkeng terutama pada daun. Para pengelola kebun terbiasa untuk membakar daun sehingga menimbulkan polusi udara. Melihat kondisi seperti ini, kami berupaya untukmenjadikan daun tersebut menjadi produk kerajinan dan dapat diberdayakan guna menambah nilai jual serta sebagai cindera mata Wisata Kampoeng Kelengkeng. Dalam pelaksanaan program ini terdapat tiga tahapan yang dilaksanakan yaitu, (1) tahap perencanaan, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap evaluasi. Adapun pelaksanaan kegiatan ini sudah berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan.
Ibk Bayangkara, Ib. Cempena, Ia Sri Brahmayanti
JPM17: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 6; https://doi.org/10.30996/jpm17.v6i02.6320

Abstract:
Pengabdian ini bertujuan untuk mendampingi mitra dalampenyusunan Uraian Pekerjaan (job description) untuk seluruh fungsi dan karyawan yang menjalankan fungsi-fungsi tersebut dalam operasional perusahaan. Untuk mencapai efektivitasnya, pendampingan menggunakan pendekatan : i) brainstorming, ii) penyusunan draft, iii) pembahasan draft pada setiap Divisi, iv) harmonisasi draft antar divisi dan v) finalisasi penyusunan uraian dan persyaratan pekerjaan. Pada setiap tahapan, setiap karyawan diarahkan untuk berperan aktif dalam menggambarkan aktivitas yang telah dilaksanakan saat ini, tanggung jawab dan kewenangan yang dibutuhkan agar mereka bisa melaksanakan pekerjaan tersebut dengan hasil terbaik. Struktur uraian pekerjaan menggunakan format : identitas jabatan, organisasi yang menaungi jabatan tersebut dan hubungan organisasinya, tujuan jabatan, Tugas, Tanggung jawab, wewenang, laporan yang harus dibuat dan frekuensi pelaporannya. Selama 3 semeseter masa pendampingan, Pengabdian kepada Masyarakat ini, telah mampu memotivasi dan mendampingi penyusunan uraian pekerjaan pada seluruh Divisi yang terdapat pada PT Graha Sarana Gresik.Kata kunci : pengabdian, pendampingan, uraian pekerjaan, persyaratan pekerjaan
Zakariya Zakariya, Kunto Inggit Gunawan, Mataji Mataji
JPM17: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 6; https://doi.org/10.30996/jpm17.v6i02.6313

Abstract:
Since the enactment of the Asean Economic Community (AEC) at the end of 2015 it should encourage all economic actors, including SMEs and Micro Enterprises, to improve themselves in order to improve the quality of production, both goods and services. If this is not done, then Indonesia is a “soft” market for other Asean countries because Indonesia has the largest population size in Asean, which is close to nearly 260 million people. SMEs and micro enterprises, which are the manifestation of people's economic democracy, will be devastated when the heavy flow of goods and services from various Asean countries invades the Indonesian market. Realizing that, empowering SMEs and Micro Enterprises is a necessity and a necessity to be able to find a national identity that has a comparative and competitive advantage. The activity is one of the media in order to strengthen SMEs and Micro Enterprises. For this reason, in the proposed IbM (Science and Technology for the community) Cake Business Group in Penjaringan Sari Surabaya's Cake Village, we chose:1. AA Micro Business under the brand ADFUN; and2. Rahayu Micro Business under the brand PELITA HATI. Where both of them are engaged in the production of typical Surabaya cakes, which so far are both more distinctively known as the Surabaya cake village. This activity aims to improve product quality in the form of various kinds of products, so that there will be more choices of buyers and if there are more variants, the more attractive it is to buyers.
Yurie Salsabilla Annoralia, Dika Arfita Nur Karim, Febby Rahmatullah Kermatigo
JPM17: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 6; https://doi.org/10.30996/jpm17.v6i02.6321

Abstract:
Desa Simoketawang sebagai salah satu desa yang terdapat di Kabupaten Sidoarjo, memiliki beberapa potensi desa, salah satunya yaitu terdapatnya satu area destinasi wisata Kampung Kelengkeng. Dalam upaya meningkatkan potensi wisata kampung kelengkeng, dianggap perlu untuk mengolah buah kelengkeng yang semula hanya di jual mentah dalam bentuk buah utuh, kemudian dapat dijual dalam berbagai bentuk olahan, salah satunya dalam bentuk olahan sirup kelengkeng. Melihat uraian diatas, maka permasalahan yang dapat ditarik yaitu (1) Bagaimanakah cara pengolahan sirup buah kelengkeng yang tepat, (2) Bagaimanakah cara agar sirup buah kelengkeng memiliki kualitas mutu yang baik. HIMARSITA melalui program WIRA DESA 2021, melaksanakan pelatihan dan sosialisasi tentang cara pengolahan buah kelengkeng menjadi olahan sirup kelengkeng. Tujuan kegiatan ini untuk membantu meningkatkan potensi besar yang ada pada desa Simoketawang serta diharapankan mampu memberi manfaat untuk terjalinnya mitra dari perguruan tinggi, proses publikasi potensi desa, serta terbentuknya unit usaha baru melalui olahan makanan khususnya adalah olahan sirup buah kelengkeng. Kesimpulan yang dapat diambil pada kegiatan ini adalah, sebagai berikut: (1) Proses pengolahan buah kelengkeng menjadi sirup kelengkeng, melalui beberapa proses yaitu: tahap persiapan alat dan bahan, tahap pelaksanaan (penghancuran, perebusan, pemasakan, penyaringan) dan tahap penyelesaian (pengemasan, pelebelan). (2) Agar sirup kelengkeng memiliki kualitas mutu yang baik, maka pada proses pengolahan: menggunakan buah kelengkeng segar dengan daging buah yang tebal, biji kecil, berair, dan beraroma, menggunakan gula pasir berwarna putih dan bersih agar tidak mempengaruhi warna asli buah yang akan dijadikan sirup, menggunakan air yang tidak memiliki warna, rasa, dan bau, pembuatan sirup kelengkeng harus menggunakan alat-alat yang steril agar tidak berjamur dan botol kemasan harus bebas hama, kering, dan tidak berbau.Kata kunci: Sirup, Kelengkeng, Simoketawang
Back to Top Top