Agroteknika

Journal Information
ISSN / EISSN : 26853353 / 26853450
Current Publisher: Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (10.32530)
Total articles ≅ 27
Filter:

Latest articles in this journal

Fadzar Bagas Akbar, Asep Yusuf, Ahmad Thoriq, Wahyu K Sugandi
Agroteknika, Volume 3, pp 42-55; doi:10.32530/agroteknika.v3i1.65

Abstract:
Mesin pengupas kulit buah kopi (pulper) dan gabah kopi kering (huller) yang telah ada di pasaran bersifat tidak mudah untuk dipindah-pindahkan (statis). Oleh karena itu perlu adanya mesin pengolah kopi yang dapat mobile atau terintegrasi pada kendaraan seperti pada Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) pengolahan kopi, mencakup pulper dan huller. Kedua mesin tersebut merupakan hasil perancangan home industry sehingga belum memiliki spesifikasi aktual dan data uji kinerjanya, padahal data tersebut penting untuk mengetahui spesifikasi teknis mesin dan produksi massal dapat dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan melakukan pengukuran, pengamatan, dan perhitungan untuk menganalisis teknik dan menguji kinerja mesin. Hasil analisis teknik pada kedua mesin menunjukkan sudah layak secara teknis, dengan parameter pada mesin pulper berupa kebutuhan daya 4,08 HP dan umur bantalan 27.660 jam. Sedangkan pada mesin huller yaitu kebutuhan daya 6,09 HP dan umur bantalan 11.743 jam. Hasil uji kinerja kedua mesin juga menunjukkan sebagian besar sudah memenuhi standar yang berlaku, namun perlu evaluasi untuk tingkat kebisingan dan getarannya. Hasil uji kinerja mesin pulper yaitu kapasitas aktual 390,1 kg/jam, rendemen pengupasan 64,2%, konsumsi bahan bakar 0,72 liter/jam, tingkat kebisingan 87,5 dB, dan getaran mesin 11,26 m/s2. Sedangkan pada mesin huller yaitu kapasitas aktual 107,4 kg/jam, rendemen pengupasan 75,1%, konsumsi bahan bakar 0,95 liter/jam, tingkat kebisingan 85,1 dB, dan getaran mesin 11,04 m/s2.
Nyayu Siti Khodijah, Ratna Santi, Riwan Kusmiadi, Euis Asriani
Agroteknika, Volume 3, pp 26-34; doi:10.32530/agroteknika.v3i1.70

Abstract:
Tailing bekas tambang timah umumnya mengandung pasir dan kuarsa yang cukup tinggi sehingga kapasitas sangga (buffer capacity) terhadap unsur-unsur hara sangat rendah. Dengan demikian diperlukan bahan pembenah (ameliorant) untuk memperbaiki kondisi tersebut dengan melakukan pengujian pemberian lima jenis pupuk. Penelitian tentang budidaya tanaman pangan dan non pangan di lahan tailing timah di Bangka seperti tanaman kehutanan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan dan pakan telah dilakukan. Hasil penelitian umumnya menunjukkan penambahan bahan organik dengan berbagai jenis dan mampu memperbaiki ketahanan tanaman yang ditumbuhkan pada cekaman dilahan tailing timah, tetapi belum menjelaskan keberadaan logam berat dalam jaringan tanaman tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi serta kandungan Pb selada yang ditumbuhkan di media tailing pasca tambang timah dengan penambahan berbagai jenis pupuk. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat tingkat perlakuan jenis pupuk yang diulang sebanyak enam kali. Jenis perlakuan pupuk adalah : jenis 1 (NPK (15:15:15)), jenis 2 (kompos), jenis 3 (Kapur+NPK) dan Jenis 4 (kompos+NPK). Pertumbuhan selada menggunakan media tailing terbaik diperoleh pada perlakuan jenis 4 ( pupuk kompos yang disertai dengan pupuk NPK). Kandungan Pb pucuk selada meningkat mengikuti peningkatan pertumbuhan tanaman akibat pemupukan. Selada dengan perlakuan kompos yang disertai dengan pupuk NPK mempunyai kandungan Pb tertinggi, tetapi kandungan Pb akar tidak mengikuti kecenderungan pertumbuhan akibat pemupukan.
Ajri Mai Ihsan, Zul Ariyandi, Sandi Wisaputra, Zulnadi Zulnadi, Amrizal Amrizal, Fithra Herdian, Mohammad Riza Nurtam, Fanny Yuliana Batubara, Angga Defrian
Agroteknika, Volume 3, pp 55-66; doi:10.32530/agroteknika.v3i1.61

Abstract:
Kacang tanah merupakan tanaman polong-polongan yang termasuk dalam golongan komoditi pangan terbesar di Indonesia. Umumnya petani masih menggunakan cara tradisional dalam perontokan kacang tanah sehingga mempunyai kapasitas kecil dan membutuhkan banyak tenaga kerja. Tujuan penelitian ini adalah melakukan rancang bangun alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal yang mempunyai kapasitas besar. Metode penelitian dimulai dari identifikasi masalah dan penyempurnaan ide rancangangan alat perontok kacang tanah. Kemudian dilakukan pembuatan alat, uji fungsional dan uji kinerja. Terakhir dilakukan analisa ekonomi. Hasil uji kinerja alat perontok kacang tanah semi mekanis tipe vertikal diperoleh kapasitas alat 22 kg/jam, rendemen 41% persentase kacang tidak terontok 4.44%, presentase buah rusak 4.66% dan laju pengumpanan 58 kg/jam. Hasil analisa ekonomi teknik diperoleh break event point (BEP) pengoperasian alat input 284 kg/tahun dan break event point (BEP) pengoperasian alat output 408,60 kg/tahun.
Novianto Novianto, Iqbal Effendy, Aminurohman Aminurohman
Agroteknika, Volume 3, pp 35-41; doi:10.32530/agroteknika.v3i1.67

Abstract:
Sayuran sawi merupakan sayuran yang sudah terkenal di Indonesia karena mengandung nutrisi yang cukup baik sehingga bermanfaat bagi tubuh manusia dan dapat tumbuh baik pada dataran rendah maupun dataran tinggi. akan tetapi masih perlu upaya peningkatan produksi. Salah satu tindak agronomi untuk meningkatkan hasil tanaman sawi adalah dengan pemberian nutrisi berupa unsur hara seperti pupuk organic cair (POC) yang mudah dalam aplikasinya. Percobaan ini bertujuan untuk mengevaluasi efek dari masa atau waktu fermentasi sabut kelapa diperlukan dalam proses pembuatan pupuk organik cair (POC) terhadap pertumbuhan dan hasil sawi. Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial, terdiri atas 6 taraf perlakuan waktu fermentasi sabut kelapa yaitu : 0, 7, 14, 21, 28 dan 35 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perlakuan lamanya fermentasi sabut kelapa memberikan respon sangat signifikan terhadap jumlah daun, biomas segar, berat akar dan berat tajuk tanaman, serta memacu pertumbuhan tinggi tanaman dan lebar daun. Fermentasi sabut kelapa selama 35 hari memacu peningkatan terhadap semua parameter yang diamati.
Puguh Bintang Pamungkas, Muhammad Kusberyunadi
Agroteknika, Volume 3, pp 16-25; doi:10.32530/agroteknika.v3i1.56

Abstract:
Deteriorasi menghambat usaha dalam pemenuhan kebutuhan kedelai nasional. Imbas proses tersebut menyebabkan kualitas benih kedelai berkurang. Invigorasi dilakukan untuk meningkatkan kualitas benih. Tujuan dari penelitian ini agar dapat mengetahui korelasi antara daya hantar listrik dengan variabel fisiologis benih kedelai. Percobaan berlangsung di laboratorium Agroteknologi Universitas PGRI Yogyakarta dan laboratorium Kimia Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap 5 faktor dengan 3 ulangan. Pengamatan terdiri dari kadar air, daya berkecambah, indeks vigor dan daya hantar listrik. Berdasar percobaan yang dilakukan, terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan pada variabel daya berkecambah dan indeks vigor, sedangkan pada variabel kadar air tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Regresi yang dilakukan memperlihatkan adanya korelasi positif antar variabel daya hantar listrik-kadar air, sedang korelasi negatif terdapat antara variabel daya hantar listrik-daya berkecambah dan daya hantar listrik-indeks vigor. Kualitas benih dapat dilihat melalui kebocoran membran sel, kebocoran elektrolit tinggi pada benih (P4) dianggap kualitasnya rendah, sedangkan kebocoran elektrolit rendah pada benih (P0) dianggap kualitasnya tinggi.
Kavadya Syska, Ropiudin Ropiudin
Agroteknika, Volume 3, pp 1-15; doi:10.32530/agroteknika.v3i1.68

Abstract:
Pengering tipe drum berputar yang dikembangkan merupakan sistem yang terdiri atas empat subsistem yaitu: tungku pembakaran, tangki air, penukar panas, dan silinder pengering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme pindah panas pengering tipe drum berputar, besarnya kehilangan panas, dan efisiensi termal sistem selama proses pengeringan tanpa beban. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analitik pada pengering tipe drum berputar. Variabel penelitian meliputi: (a) variabel pengukuran yaitu perubahan suhu pada masing-masing subsistem, spesifikasi geometri pengering, suhu lingkungan, dan (b) variabel perhitungan meliputi koefisien konveksi bahan, kehilangan panas, dan efisiensi termal. Pengukuran dilakukan setiap 10 menit dan diakhiri pada saat suhu masuk silinder pengering konstan. Data hasil pengukuran dianalisis menggunakan persamaan pindah panas sehingga diperoleh nilai pindah panas untuk mengetahui besarnya nilai kehilangan panas dan efisiensi sistem. Hasil penelitian menunjukkan mekanisme pindah panas pada pengering tipe drum berputar terjadi secara konduksi dan konveksi. Total panas yang hilang pada subsistem tungku pembakaran 261,270 MJ, subsistem tangki air 20,416 MJ, subsistem penukar panas 0,017 MJ, dan subsistem silinder pengering 0,577 MJ. Efisiensi termal pada subsistem tungku pembakaran 30,17%, subsistem tangki air 74,30%, subsistem penukar panas 99,97%, dan subsistem silinder pengering 99,02%. Efisiensi total sistem terhadap besarnya bahan bakar yang diberikan adalah 75,87%.
Kuswandi Kuswandi, Panca Jarot Santoso, Mega Andini, Nofiarli Nofiarli
Published: 31 December 2019
Agroteknika, Volume 2, pp 59-63; doi:10.32530/agroteknika.v2i2.34

Abstract:
Budidaya melon di rumah kaca sangat rentan terhadap kekeringan dan kekurangan hara. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa dosis NPK terhadap produksi melon di rumah kaca. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika pada bulan April-Juni 2018. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah galur MB3, yang merupakan galur melon terpilih koleksi Balitbu Tropika. Percobaan disusun menurut uji t berpasangan dengan 3 perlakuan dosis pupuk NPK, yaitu 100 g (control), 150 g, dan 200 g. Masing-masing perlakuan terdiri dari 30 tanaman, Peubah yang diamati terdiri dari bobot buah, lingkar buah, tebal daging buah, total padatan terlarut, panjang buah dan lebar buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk NPK 100 g (kontrol) merupakan perlakuan terbaik, peningkatan dosis menyebabkan menurunnya kualitas buah.
Arbizon Hamid, Yunan Helmi Lubis, Hafis Hafis, Husein Harahap, Yudistira Yudistira, Irzal Irzal, Musdar Effy Djinis, Elvin Hasman
Published: 31 December 2019
Agroteknika, Volume 2, pp 64-74; doi:10.32530/agroteknika.v2i2.41

Abstract:
Penggunaan limbah tanaman jagung merupakan salah satu alternatif terbaik dalam mengatasi tingginya angka kebutuhan pakan ternak. Masalah utama pada penggunaan tongkol jagung sebagai pakan ternak sapi adalah cara pengolahannyauntuk menghasilkan partikel – partikel kecil untuk pakan ternak dengan hasil yang lebih cepat. Mesin pencacah tongkol jagung untuk pakan ternak diharapkan dapat menghasilkan partikel-partikel tongkol jagung yang dapat menjadi campuran pakan ternak. Hasil uji kinerja mesin pencacah tongkol diperoleh kapasitas alat adalah 143,47 kg/jam, laju pengumpanan 144,92 kg/jam dengan bahan bakar yang digunakan 0,188 liter/jam. Hasil analisa ekonomi teknik diperoleh biaya tetap Rp. 2.057.058 /tahun, biaya tidak tetap Rp.16.290/jam dan break event point (BEP) untuk pengoperasionalan alat 5.322 kg/jam.
Anis Nurhayati
Published: 31 December 2019
Agroteknika, Volume 2, pp 75-84; doi:10.32530/agroteknika.v2i2.38

Abstract:
Agroindustri tape singkong adalah agroindustri unggulan yang mempunyai peran dalam peningkatan pendapatan masyarakat di kabupaten Pasuruan. Agroindustri tape singkong adalah usaha pengolahan singkong melalui proses fermentasi menjadi tape singkong. Tujuan dari riset ini adalah guna mendapatkan kelayakan usaha agroindustri tape singkong di desa Candibinangun kecamatan Sukorejo kabupaten Pasuruan. Sistem riset yang digunakan metode deskriptif dan teknik pengumpulan data digunakan dengan cara sensus. Analisis kelayakan usaha yang dikaji yaitu, harga pokok penjualan, biaya investasi dan produksi, juga kriteria kelayakan usaha antara lain R/C Ratio , PBP, dan NPV. Perhitungan yang diperoleh adalah R/C Ratio setara 1.6 nilainya lebih besar dari 1, PBP 1 tahun 7 bulan tidak melebihi periode yang direncanakan, NPV Rp. 52.568.847 bernilai positif > 0 dan akan tercapai BEP jika produksi sebesar 28.462 Kg dan harga produk Rp. 6.325. Berdasarkanperhitungan analisis kelayakan tersebut dapat disimpulkan agroindustri tape singkong layak dijalankan.
Arief Adhiatma, Rahmad Hidayat, Dedi Gusviandra, Rildiwan Rildiwan, Zulnadi Zulnadi, Amrizal Amrizal, Fanny Yuliana Batubara
Published: 31 December 2019
Agroteknika, Volume 2, pp 85-94; doi:10.32530/agroteknika.v2i2.40

Abstract:
Mesin pengupas sabut kelapa muda berfungsi untuk mempermudah dalam mengupas kelapa muda karena cukup efektif dibanding cara manual. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan uji kinerja mesin pengupas sabut kelapa muda. Hasil pengujian menunjukan kapasitas pengupasan mesin adalah 120 buah/jam. Analisa ekonomi mesin pengupas sabut kelapa muda didapat biaya tetap Rp 1.793.220 /tahun, biaya tidak tetap Rp 16.943/jam, biaya pokok Rp. 147/buah dan break event point (BEP) sebanyak 4.995 buah/tahun.
Back to Top Top