Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa

Journal Information
ISSN / EISSN : 25990047 / 25986376
Current Publisher: Universitas Islam Bandung (Unisba) (10.29313)
Total articles ≅ 27
Filter:

Latest articles in this journal

Nur Azizah Suhara, Elsya Nurul Mauludiyah, Lu'Lu Ulul Albab, Indra Topik Maulana
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 18-25; doi:10.29313/jiff.v3i1.4889

Abstract:
Infeksi kulit dapat disebabkan oleh patogen yang bervariasi, salah satunya adalah bakteri. Infeksi kulit yang diakibatkan oleh bakteri tidak hanya berupa infeksi primer tetapi bisa juga menyebabkan infeksi sekunder. Mikroalga hijau (Chlorella vulgaris B) merupakan bahan alam yang mengandung senyawa yang memiliki potensi sebagai senyawa antibakteri, khususnya bakteri penyebab infeksi kulit. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antibakteri Staphylococcus epidermidis dari ekstrak dan fraksi dari mikroalga hijau (Chlorella vulgaris B) penyebab infeksi kulit. Untuk mengetahui kandungan senyawa di dalam mikroalga hijau (Chlorella vulgaris B) dilakukan penapisan fikokimia, yang menunjukkan adanya kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, monoterpen/seskuiterpen, polifenolat, steroid, tannin, dan antrakuinon. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak yang dihasilkan sebesar 119,3145 gram. Fraksinasi dilakukan dengan metode ekstraksi cair-cair, menghasilkan fraksi n-heksana sebesar 4,7885 gram, fraksi etil sebesar 0,7852 gram, dan fraksi air sebesar 16,675 gram. Hasil pengujian aktivitas antibakteri penyebab infeksi kulit dari fraksi dengan menggunakan metode difusi agar menghasilkan zona hambat.
Deny Puriyani Azhary
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 44-50; doi:10.29313/jiff.v3i1.5049

Abstract:
Atorvastatin suatu obat antihiperlipidemia golongan statin termasuk kedalam BCS kelas II yang ditandai dengan kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi. Kelarutan yang rendah dalam air menyebabkan laju disolusi obat tersebut rendah dan dapat mempengaruhi bioavailabilitasnya. Salah satu cara untuk meningkatkan laju disolusi obat yaitu dengan sistem dispersi padat. Tujuan penelitian ini untuk meningkatan laju disolusi atorvastatin dengan dispersi padat. Sistem dispersi padat dibuat dengan metode kneading menggunakan karagenan sebagai pembawa. Dispersi padat dibuat dengan variasi perbandingan atorvastatin : karagenan 1:1; 1:3 dan 1:5 b/b. Sifat padatan serbuk dispersi padat dievaluasi dengan metode analisa difraksi sinar-X, mikroskopik SEM, termal DSC, spektrokopik FTIR. Profil disolusi dilakukan dalam medium dapar phospat pH 6,8 dengan alat uji disolusi tipe I USP. Hasil analisa difraksi sinar-X, mikroskopik SEM, termal DSC dan spektrokopik FTIR menunjukkan fase kristalin atorvastatin mengalami penurunan derajat kristalinitas dan pembentukan fase amorf. Profil disolusi menunjukan bahwa dispersi padat atorvastatin memiliki nilai laju disolusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan atorvastatin murni. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan dispersi padat atorvastatin dengan karagenan sebagai pembawa dapat meningkatkan laju disolusi atorvastatin.
Marita - Kaniawati
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 35-43; doi:10.29313/jiff.v3i1.5118

Abstract:
Obesitas dapat diartikan sebagai jumlah lemak yang berlebih dalam tubuh. Obesitas merupakan salah satu faktor bagi timbulnya penyakit lain seperti dislipidemia, stroke, penyakit jantung koroner dan lain-lain. Salah satu prediktor yang spesifik untuk menilai risiko terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah Indeks Aterogenik Plasma (IAP). IAP dihitung dengan menggunakan rumus Log(TG/HDL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan profil High Density Lipoprotein (HDL), trigliserida (TG) dan IAP serta melihat risiko terjadinya PJK berdasarkan Indeks Aterogenik Plasma. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah wanita dewasa muda yang obes dan non obes dengan teknik pengambilan subjek menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara lingkar perut dengan kadar TG, HDL dan IAP (p<0,05). Pada subjek obes terjadi peningkatan kadar TG, penurunan kadar HDL dan peningkatan nilai IAP. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa berdasarkan nilai IAP subjek obes memiliki risiko PJK 4,472 kali lebih besar dibandingkan dengan subjek non obes.
Sani Ega Priani, Shelma Azhari Abdilla, Anan Suparnan
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 9-17; doi:10.29313/jiff.v3i1.5464

Abstract:
Jerawat adalah suatu kondisi kulit dimana terjadi peradangan pada kelenjar pilosebasea. Infeksi bakteri Propionibacterium acnes menjadi salah satu penyebab utama dari proses peradangan tersebut. Minyak kulit batang kayu manis diketahui mengandung senyawa antibakteri sehingga potensial untuk dikembangkan sebagai antijerawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sediaan mikroemulsi gel mengandung minyak kulit batang kayu manis dan menguji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri penyebab jerawat (P. acnes). Sediaan mikroemulsi gel dibuat dengan variasi konsentrasi surfaktan dan kosurfaktan. Sediaan yang dihasilkan dievaluasi karateristik dan stabilitas fisiknya. Uji aktivitas antibakteri sediaan dilakukan dengan metode difusi agar. Uji iritasi dilakukan dengan metode 4 hours patch test. Formula mikroemulsi gel optimum mengandung minyak kulit batang kayu manis 5%, Tween 80 30%, PEG 400 20%, dan Gel Viscolam 1,6%. Sediaan tersebut memiliki karakteristik dan stabilitas fisik yang baik dengan ukuran globul rata-rata 119 nm. Sediaan mikroemulsion gel memiliki aktivitas antibakteri yang sangat kuat terhadap P. acnes dengan diameter hambat 37,40 ± 0,426 mm. Hasil uji iritasi menunjukkan bila sediaan bersifat sedikit mengiritasi dengan nilai indeks iritasi 0,876 ±0,607 (skor maksimal 4).
Lia Kusmita
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 26-34; doi:10.29313/jiff.v3i1.4595

Abstract:
Mycobacterium tuberculosis telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. Diperkirakan terdapat 8 juta penduduk dunia diserang tuberkulosis dengan kematian 3 juta orang pertahun. .Pengobatan tuberkulosis saat ini ternyata tidak memberikan efektivitas yang tinggi karena munculnya strain MDR Mycobacterium tuberculosis. Oleh karenanya, diperlukan bahan aktif baru guna mengatasi masalah tersebut. Bakteri simbion karang lunak merupakan salah satu sumber yang menjanjikan. Hal ini karena bakteri simbion karang lunak memiliki senyawa bioaktif yang sama dengan inangnya. Bakteri simbion diisolasi dari karang lunak yang diisolasi dari Pulau Panjang. Pada penelitian ini dilakukan pengujian bakteri simbion karang lunak terhadap pertumbuhan Multi drug resistant Mycobacterium tuberculosis (strain rifampicin dan SIRE). Dari 25 bakteri simbion yang diisolasi, ada 4 bakteri yang memiliki aktivitas dalam menghambat pertumbuhan bakteri MDR TB strain SIRE dan Rifampicin. Hasil identifikasi molekuler dilakukan dengan menggunakan PCR 16S DNA, dimana bakteri P.S2 1, P.Sa 1, P.Lo 2, dan P.Lo 3 memiliki kekerabatan terdekat dengan Ponticoccus gilvus, Janibacter indicus, Virgibacillus marismortui dan Brachybacterium canglomeratum
Patihul Husni, Muchamad Luthfi Fadhiilah, Uswatul Hasanah
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 1-8; doi:10.29313/jiff.v3i1.5163

Abstract:
Serat dibutuhkan dalam pencernaan adalah agar proses pencernaan dapat bekerja secara maksimal. Genjer (Limnocharis flava (L.) Buchenau.) merupakan tanaman yang bagian tangkainya banyak mengandung serat. Kandungan serat yang tinggi pada genjer terutama pada bagian tangkainya berpotensi untuk dikembangkan sebagai suplemen makanan penambah serat berupa granul instan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan formula terbaik granul instan secara fisik. Granul instan dibuat dengan metode granulasi basah menggunakan variasi konsentrasi PVP sebagai pengikat. Uji stabilitas fisik granul instan dilakukan pada suhu kamar selama satu bulan meliputi uji waktu alir, sudut diam, indeks kompresibilitas, kandungan lembab dan waktu larut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu alir granul 8-14 detik untuk 100 gram granul, sudut diam sekitar 40o, indeks kompresibilitas 11-15%, kandungan lembab sekitar 2% dan waktu larut 1-2 menit. Berdasarkan hasil uji stabilitas fisik, formula terbaik granul instan serbuk kering tangkai genjer adalah F2 dengan komposisi serbuk kering tangkai genjer 100 mg, laktosa 70%, PVP 3%, aspartam 1,5%, manitol 20%, Natrium Benzoat 0,5%, Green tea flavor 5% b/b dan etanol qs dengan total bobot granul 1000 mg.
Syafika Alaydrus
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 51-61; doi:10.29313/jiff.v3i1.4540

Abstract:
Penyakit paru obstruksi kronik menduduki peringkat ke empat setelah penyakit jantung, kanker, dan penyakit serebro vaskuler sebagai penyebab kematian, biaya yang dikeluarkan untuk penyakit ini mencapai $24 milyar pertahunnya. INA-CBG merupakan paket pembiayaan kesehatan berbaris kasus dengan mengelompokkan berbagai jenis pelayanan menjadi satu kesatuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola pengobatan PPOK, biaya rata-rata pengobatan, kesesuaian biaya riil dengan biaya paket INA-CBG, serta factor-faktor yang berpengaruh terhadap biaya total pengobatan PPOK di RSUD Sukoharjo. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan penelitian cross sectional menurut perspektif rumah sakit. Metode pengambilan data secara retrospektif. Subyek penelitian adalah pasien rawat inap yang menderita PPOK dengan faktor risiko dan komplikasi. Variable penelitian meliputi karakteristik pasien meliputi umur dan jenis kelamin, faktor resiko dan komplikasi, dan biaya yang digunakan (medical cost dan non medical cost). Analisis data diuji menggunakan uji one sample T-Tes, Anova, Kruskal-wallis tes dan korelasi bivariat. Hasil penelitian menunjukkan usia > 60 tahun dengan jenis kelamin laki-laki paling banyak menderita PPOK (76,2%). Faktor resiko dan komplikasi terbanyak adalah cor pulmonale (42,8%) dan lama rawat inap paling banyak adalah < 4 hari (58,8%). Pola pengobatan kurang sesuai dengan alogaritma terapi menurut GOLD. Factor yang berhubungan dengan total biaya adalah lama rawat inap dan tingkat keparahan. Rata-rata biaya PPOK untuk tingkat keparahan berat sebesar Rp. 1.349.671 untuk ketiga jenis pembiayaan, untuk tingkat keparahan sangat berat dengan jenis pembiayaan umum, jamkesmas dan jamkesda berturut-turut adalah Rp. 1.051.955,5, Rp. 1.815.859 dan Rp. 1.589.706,5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata biaya pengobatan riil PPOK lebih rendah dan berbeda bermakna dengan biaya paket INA-CBG dengan nilai P 0,000.
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa; doi:10.29313/jiff

Patihul Husni, Alika Nuansa Pratiwi, Ardian Baitariza
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 2, pp 101-110; doi:10.29313/jiff.v2i2.4796

Back to Top Top