Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa

Journal Information
ISSN / EISSN : 2599-0047 / 2598-6376
Published by: Universitas Islam Bandung (10.29313)
Total articles ≅ 77
Filter:

Latest articles in this journal

Yani Lukmayani
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 5, pp 33-40; https://doi.org/10.29313/jiff.v5i1.8300

Abstract:
Infeksi kulit pada manusia dapat disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa. Ekstrak etanol kayu secang dan minyak bunga cengkeh mengandung metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi aktivitas antibakteri ekstrak etanol kayu secang dan minyak bunga cengkeh serta kombinasinya. Pengujian dilakukan dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kayu secang dan minyak bunga cengkeh pada konsentrasi 1,5% - 4,5% mempunyai potensi aktivitas antibakteri pada kategori sedang hingga sangat kuat. Sedangkan kombinasi A dengan total ekstrak dan minyak 3% serta B dan C dengan total 4,5%, memberikan rata-rata diameter hambat yang lebih kecil dibandingkan dengan ekstrak tunggal kayu secang 3% maupun 4,5%. Nilai diameter hambat kombinasi A, B dan C terhadap bakteri S. aureus lebih besar jika dibandingkan dengan minyak bunga cengkeh 3% dan 4,5%, namun terhadap bakteri P. acnes dan P. aeruginosa sampel kombinasi A, B, C memberikan rata-rata diameter hambat yang lebih kecil. Penambahan ekstrak etanol kayu secang pada minyak bunga cengkeh memberikan efek sinergis yang diharapkan hanya pada aktivitas daya hambat bakteri S. aureus.
Kiki Mulkiya Yuliawati
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 5, pp 52-61; https://doi.org/10.29313/jiff.v5i1.8325

Abstract:
Kulit nanas seringkali menjadi limbah karena dianggap tidak bermanfaat. Akan tetapi jika ditinjau dari segi fitokimia, kulit nanas berpotensi untuk dimanfaatkan kandungan senyawa kimia di dalamnya. Proses ekstraksi merupakan tahap penting dalam pemanfaatan senyawa fitokimia karena dapat menentukan jumlah senyawa terekstraksi. Dalam penelitian ini dilakukan optimasi metode ekstraksi karbohidrat dari kulit nanas yang dilakukan secara konvensional secara pemanasan menggunakan pelarut air yang dilanjutkan dengan proses pengendapan menggunakan etanol. Metode ekstraksi dilakukan pada suhu 60, 70 dan 80oC dengan perbandingan bahan;pelarut 1:25, 1:40 dan 1:55 dan etanol sebagai pengendap dengan konsentrasi 70%, 83% dan 96%. Hasil analisis menggunakan metode respon permukaan menunjukkan bahwa kondisi ekstraksi yang menghasilkan kadar karbohidrat lebih tinggi dari kulit nanas terjadi pada suhu 80oC, perbandingan bahan:pelarut 1:37 dan konsentasi pengendap etanol 96%.
Agustin Yumita, Dwitiyanti Dwitiyanti, Putri Ermawati
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 5, pp 41-51; https://doi.org/10.29313/jiff.v5i1.8829

Abstract:
Rimpang temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.) diketahui memiliki kandungan metabolit sekunder yang dapat berkhasiat sebagai antikonvulsan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antikonvulsan ekstrak etanol 70% rimpang temu ireng pada tikus putih jantan. Ekstraksi yang digunakan dalam metode ini adalah maserasi. Hewan uji diberi ekstrak etanol 70% rimpang temu ireng (100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 400 mg/kgBB), pembanding standar asam valproate. Pengujian antikonvulsan menggunakan alat digital elektrokonvulsiometer dengan parameter yang diamati adalah onset HLE dan durasi HLE. Ekstrak etanol 70% rimpang temu ireng dosis 400 mg/kgBB memiliki aktivitas yang paling baik sebagai antikonvulsan dengan memperpanjang onset HLE dan mempersingkat durasi HLE sebanding dengan pembanding standar. Temu ireng memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai antikonvulsan yang cukup baik.
Wardiyah Wardiyah
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 5, pp 91-100; https://doi.org/10.29313/jiff.v5i1.8869

Abstract:
Pepaya (Carica papaya L.) adalah salah satu buah yang cukup terkenal di Indonesia dan mengandung enzim papain. Papain adalah enzim proteolitik yang dapat diekstrak dari getah pepaya. VCO (Virgin Coconut Oil) merupakan minyak nabati yang mengandung asam laurat dan senyawa fenolik yang cukup tinggi. Dengan kandungan tersebut, papain dan VCO memiliki potensi pengembangan sediaan kosmetik yang ditujukan untuk perawatan kulit karena memiliki aktivitas antioksidan yang cukup tinggi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Pembuatan krim menggunakan basis cold cream (A/M) dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu F1 (papain 4%), F2 (papain 4% + VCO 5%), F3 (papain 4% + VCO 2,5%), dan F4 (papain 2% + VCO 5%). Evaluasi fisik krim diuji secara organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, dan uji viskositas. Kemudian dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Didapatkan nilai IC50 papain sebesar 45,75 ppm, VCO sebesar 32,22 ppm, basis krim sebesar 77,83 ppm, F1 (papain 4%) sebesar 63,98 ppm, F2 (papain 4% + VCO 5%) sebesar 44,39 ppm, F3 (papain 4% + VCO 2,5%) sebesar 62,09 ppm, dan F4 (papain 2% + VCO 5%) sebesar 56,74 ppm. Kelima formulasi krim termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sangat kuat dan kuat. Krim yang memiliki nilai antioksidan terbaik adalah formulasi F2 sebesar 44,39 ppm dengan kadar papain 4% dan VCO 5%.
Dian Handayani, Dwi Dominica, Reza Pertiwi, Feby R.A Putri, Tya Chalifatul, Dhea Ananda
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 5, pp 9-19; https://doi.org/10.29313/jiff.v5i1.7983

Abstract:
Diabetes mellitus termasuk kelainan metabolik heterogen dimana ditunjukkan dengan adanya hiperglikemia. Sebuah kunci untuk berhasilnya terapi DM yaitu melalui peningkatan kualitas hidup pasien yang bisa diukur memanfaatkan kuesioner DQLCTQ (DiabetesQuality of Life Clinical Trial Quessionnaire). Penelitan ini memiliki tujuan guna mengetahui kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2 dengan antidiabetik oral di Rumah Sakit Harapan dan Do’a Kota Bengkulu berdasar faktor pola terapi yang diterima pasien, jenis obat yang digunakan, dan karakteristik responden. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain Cross Sectional dengan pengambilan data pasien secara concurrent. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Harapan dan Do’a Kota Bengkulu. Sampel penelitian ini sejumlah 98 pasien DM tipe 2 yang melakukan kontrol ke rumah sakit ketika penelitian berlangsung dan memperoleh obat antidiabetik oral dan bersedia mengisi kuesioner DQLCTQ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara faktor karakterisktik responden terhadap kualitas hidup. Skor kualitas hidup pasien yang mendapatkan akarbose, metformin, dan sulfonilurea, masing-masing adalah 61,0;61,3 dan 61,4. Hasil uji statistik dengan ANOVA menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara ketiga kelompok pasien tersebut (p=0,812). Pasien dengan pengobatan ADO tunggal skor kualitas hidupnya 64,0 sedangkan pasien dengan pengobatan ADO kombinasi skor kualitas hidupnya 62,3. Perbedaan ini berdasarkan uji Independent sample t-test, perbedaannya tidak berbeda signifikan (p=0,134).
Yelfi Yelfi, Hadi Susilo, Nia Marlina Kurnia
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 5, pp 79-90; https://doi.org/10.29313/jiff.v5i1.8379

Abstract:
Caries and dental plaque are oral and dental problems. Green spinach (Amaranthus hybridus L.) can be used as medicine and has antibacterial activity. It also benefits human health and is a nutrition source. The phytochemical results of the leaf extract showed that A. hybridus L. contains alkaloids, flavonoids, steroids, saponins, and tannins. This study aimed to determine the inhibitory action of A. hybridus L. leaf extract against the growth of Streptococcus mutans and to formulate A. hybridus L. leaf extract in a mouthwash. The disk diffusion method and brain heart infusion agar medium were used in this study, with five treatment groups: extract concentrations of 25%, 50%, and 100%, positive and negative control were studied. Physical tests, including organoleptic, pH, and viscosity tests, were performed. The pH of A. hybridus L. leaf extract in the mouthwash was 4.80, with a viscosity of 1.2456–1.378 cP. The inhibition zones of antibacterial activity against S. mutans in the extract concentrations of 25%, 50%, and 100% were 1.13, 1.73, and 2.90 mm, respectively. The ethyl acetate extract of A. hybridus L. leaves in mouthwash displayed antibacterial activity against S. mutans, with an average inhibition zone of 0.57 mm. The mouthwash formulation produced an inhibition zone with an average F1 of 0.57 mm and F2 of 1.67 mm.
Erjon Erjon
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 5, pp 62-70; https://doi.org/10.29313/jiff.v5i1.7704

Abstract:
Sistim imun merupakan mekanisme pertahan tubuh terhadap masuknya benda asing seperti virus, bakteri, jamur, parasit dan protozoa. Telah diteliti efek imunostimulan dari ekstrak etanol daun jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen) terhadap mencit putih jantan jantan. Metode yang digunakan adalah bersihan karbon. Hewan uji yang digunakan adalah 25 ekor mencit putih jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 sebagai kelompok kontrol yang diberi air suling, kelompok 2, 3 dan 4 adalah kelompok perlakuan yang diberi ekstrak etanol daun jengkol dengan dosis berturut-turut 140, 280, dan 560 mg/kgbb dan kelompok 5 sebagai kelompok pembanding yang diberi sediaan fitofarmaka dengan dosis 65 mg/kgbb. Sediaan diberikan peroral selama 7 hari. Parameter yang diamati adalah konstanta fagositosis, waktu paruh eliminasi karbon, indeks fagositosis, dan total leukosit. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak etanol daun jengkol dengan dosis 140, 280, dan 560 mg/kgbb menunjukan peningkatan nilai konstanta fagositosis dan jumlah leukosit dan penurunan waktu paruh eliminasi karbon yang berbeda signifikan (p1). Peningkatan dosis pemberian ekstrak etanol daun jengkol menunjukan hubungan yang sangat kuat (r>0,8) terhadap peningkatan nilai konstanta fagositosis dan jumlah leukosit serta penurunan waktu paruh eliminasi karbon. Kesimpulan dari penelitian adalah pemberian ekstrak etanol daun jengkol dengan dosis 140, 280, dan 560 mg/kgbb dapat sebagai imunostimulan dan peningkatan dosis dapat meningkatan efek imunostimulan.
Lanny Mulqie, Suwendar Suwendar, Muhammad Fakhrur Rajih, Dieni Mardliyani, Imas Yumniati, Widiasari Widiasari, Zakiyyah Nurrosyidah
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 5, pp 1-8; https://doi.org/10.29313/jiff.v5i1.7849

Abstract:
Sumber daya alam yang dimiliki Indonesia cukup berlimpah. Tanaman merupakan sumber daya alam yang banyak dimanfaatkan sebagai obat. Salah satu tanaman obat yang dapat digunakan sebagai obat tradisional adalah jambu air. Tujuan penelitian ini yaitu untuk melihat aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun jambu air terhadap S. aureus, dan E.coli dan penetapan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM), serta pengujian konsentrasi bunuh minimum (KBM). Ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan etanol 96%. Penetapan KHM dilakukan dengan metode mikrodilusi agar. Pengujian KBM dilakukan dengan menggoreskan sejumlah 5 µL alikuot dari sumur pelat mikro yang menunjukkan kejernihan diatas media MHA. Nilai KHM dan KBM ekstrak etanol daun jambu air terhadap S. aureus, dan E.coli yaitu 20.000 μg/mL dan 40.000 μg/mL.
Ratna Sari Dewi
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 5, pp 71-78; https://doi.org/10.29313/jiff.v5i1.7732

Abstract:
Pendahuluan: Penderita HI/AIDS jumlahnya terus meningkat dan penderita harus menjalani terapi seumur hidup. Pemberian antiretroviral (ARV) bertujuan memutuskan penularan dan individu bisa tetap produktif. Tujuan: Penelitian ini untuk memperoleh gambaran tentang penggunaan ARV pada pasien HIV/AIDS serta nilai CD4 pasien setelah mendapatkan ARV. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian non eksperimental yang bersifat deskriptif. Pengambilan data dengan melakukan observasi untuk memperoleh data klinis pasien. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien HIV/AIDS yang tercatat pada data rekam medis tahun 2018. Cara pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling. KesimpulanHasil:Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap 126 sampel, didapatkan hasil bahwa penderita HIV/AIDS terbanyak adalah laki-laki (75,40%), usia terbanyak dewasa awal (70,63%), kombinasi terapi antiretroviral (ARV) yang terbanyak adalah lini 1 (92,86%)dan seluruhnya tepat waktu dalam pengambilan obat (100%). Jumlah pasien yang melakukan pemeriksaan CD4 rutin selama 1 tahun adalah sebanyak 90 orang (71,43%). Dari 90 pasien tersebut diketahui jumlah CD4 saat pertama diperiksa paling banyak pada rentang jumlah CD4 antara 200 - 499 sel/mm3 (52,22%), saat pemeriksaan CD4 pada 6 bulan setelah terapi jumlah CD4 yang meningkat sebanyak 67 orang (74,45%), pada pemeriksaan CD4 1 tahun setelah terapi yang meningkat sebanyak 78 orang (86,7%)
Gita Cahya Eka Darma
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 5, pp 20-32; https://doi.org/10.29313/jiff.v5i1.8846

Abstract:
In the last decade, the world has recognized the existence of a new branch of science in the field of medicine that uses plasma technology in the process, namely plasma medicine. A science that examines plasma as a drug in the form of a medical device or method in medical technology. The use of the term plasma medicine into Indonesian is one of the objectives of this study, because if it is translated into "plasma medicine". This study intends to provide an explanation of plasma (physics), plasma medicine and then an approach to the term into Indonesian becomes Plasma Pharmacy. The results of studies that have been carried out on researches in this new branch of science show similarities to the scope of the pharmaceutical field. Plasma pharmacy refers to the use of plasma that is applied to one or all of the stages in the manufacture of drugs (including drug raw materials, namely active ingredients, additives and packaging), functional food and cosmetics, in addition to plasma itself acting as a drug in the form of a medical device. So that the term plasma pharmacy can be used as an Indonesian vocabulary in explaining plasma medicine
Back to Top Top