Jurnal Biomedik:JBM

Journal Information
ISSN / EISSN : 2085-9481 / 2597-999X
Published by: Universitas Sam Ratulangi (10.35790)
Total articles ≅ 475
Filter:

Latest articles in this journal

Bianca I. J. J. Mandagi, Jimmy F. Rumampuk, Vennetia R. Danes
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 55-60; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.37585

Abstract:
During the implementation of online learning due to the COVID-19 pandemic, students are exposed to musculoskeletal disorders risk factors such as sitting duration, muscle tension, and uncomfortable positions that can trigger musculoskeletal disorders including complaints of neck pain which ends in Tension Neck Syndrome. This study aims to determine the relationship between sitting duration and the incidence of Tension Neck Syndrome in the course of online learning during the COVID-19 pandemic on students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University, Manado. This is a cross-sectional study with google form questionnaire research instrument. The sample of this study was 64 students who were selected using the Simple Random Sampling method which was processed using the chi-square statistical test. The results of this study indicate that most students feel neck pain complaints after 7-9 hours of attending online lectures in a day. The test results obtained p < 0.008 which means that there is a significant relationship between sitting duration and the incidence of Tension Neck Syndrome. There is a relationship between the duration of sitting and the incidence of Tension Neck Syndrome during the online learning period during the COVID-19 pandemic for students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University, Manado Keywords: sitting duration; tension neck syndrome; neck pain Abstrak: Ditengah pemberlakuan pembelajaran daring oleh karena pandemi COVID-19, mahasiswa terpapar dengan faktor – faktor risiko gangguan musculoskeletal seperti durasi duduk, ketegangan otot, serta posisi yang tidak nyaman sehingga dapat memicu terjadinya gangguan muskuloskeletal termasuk keluhan nyeri leher yang berakhir pada kejadian Tension Neck Syndrome. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi duduk terhadap kejadian Tension Neck Syndrome dalam masa pembelajaran daring selama pandemi COVID-19 pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatancross-sectionalstudy dengan instrumen penelitian kuesioner google formulir. Sampel penelitian ini yaitu 64 mahasiswa yang dipilih kemudian diolah menggunakan uji statistika chi square. Hasil penelitian ini menunjukan durasi duduk yang bervariasi dan sebagian besar mahasiswa merasakan keluhan nyeri leher setelah 7 – 9 jam mengikuti kuliah daring dalam sehari.  Hasil uji didapatkan p < 0,008 yang berarti terdapat hubungan bermakna antara durasi duduk dengan kejadian Tension Neck Syndrome.Terdapat hubungan antara durasi duduk terhadap kejadian Tension Neck Syndrome dalam masa pembelajaran daring selama pandemi COVID-19 pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado Kata Kunci: durasi duduk; tension neck syndrome; nyeri leher
Velania R. O. Maniking, Elvin C. Angmalisang, Djon Wongkar
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 38-45; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.37490

Abstract:
: Obesity is excess fat in the body, which clinically has a relationship with body mass index (BMI) which is thought to be a risk factor for several musculoskeletal disorders such as rheumatoid arthritis (RA). The aim of this study is to determine obesity as a risk factor of RA. The study was conducted using a literature review method and the literature was taken from 1 database, Pubmed. The keywords used were Body Mass Index AND Obesity AND Rheumatoid Arthritis. The article search used the PICOS framework, and obtained 12 literatures. For the result, obesity as a significant risk factor for the development of RA. In Conclusion: In the study, it was found that obesity can be a risk of RA. Keywords: Body Mass Index; Obesity; Rheumatoid Arthritis Abstrak: Obesitas merupakan kelebihan lemak pada tubuh, yang secara klinis memiliki hubungan dengan indeks massa tubuh (IMT) yang diperkirakan dapat menjadi salah satu faktor risiko pada beberapa gangguan muskuloskeletal seperti rheumatoid arthritis (RA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui obesitas sebagai salah satu faktor risiko RA. Penelitian ini menggunakan metode literature review yang diambil dari 1 database, Pubmed. Kata kunci yang digunakan adalah Body Mass Index AND Obesity AND Rheumatoid Arthritis. Pencarian artikel digunakan PICOS framework dan didapatkan 12 literatur. Hasil yang didapatkan obesitas merupakan salah satu faktor risiko yang signifikan terjadinya perkembangan RA. Sebagai simpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa obesitas dapat menjadi salah satu faktor risiko RA. Kata kunci: Indeks Massa Tubuh; Obesitas; Rheumatoid Arthritis
Herdi Arnawan, Nikmatia Latief, Muhammad Ilyas
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 23-29; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.34137

Abstract:
The research aims at assessing the congruity CT scan-base scoring system according to Porcel and the pleural fluid cytology result in distinguishing the malignant from benign pleural effusions. The research used the diagnostic test by assessing the congruity CT scan-base scoring system according to Porcel with pleural fluid cytology result in distinguishing the malignant from benign pleural effusions through the Chi-square test and assessing the sensitivity and specificity of the pleural effusion score. The research result indicates that there are 71 samples with the pleural effusion undergoing the examinations of the chest MSCT scan and pleural fluid cytology in General Central Hospital dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, from September 2019 to August 2020, in which there are 26 samples with the malignant pleural effusion and 45 samples with benign pleural effusion. There is significant correlation between CT scan-base scoring system according to Porcel and the pleural fluid cytology result, in which the score < 7 indicates the benign pleural effusion, while the score ≥ 7 indicates the malignant pleural effusion, with the sensitivity of 88.4% (73.1 – 88.5 %) and specificity of 75.5% (73.1 – 88.5 %). The positive predictive value 67.6%, negative predictive value is 91.8%. Keywords: pleural effusion; malignant pleural effusion; CT scan-base scoring system; pleural metastasis Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesesuaian CT scan-base  scoring system menurut Porcel dengan hasil sitologi cairan pleura dalam membedakan efusi pleura maligna dan benigna. Penelitian ini merupakan uji diagnostic, dengan menilai kesesuaian CT scan base scoring system menurut Porcel dengan hasil sitology cairan pleura dalam membedakan EPM dan EPB melalui Chi Sqaretest serta menilai sensitivitas dan spesifisitas dari skor efusi pleura. Hasil penelitian menunjukan terdapat 71 sampel dengan efusi pleura yang menjalani pemeriksaan MSCT-scan thorax dan sitology cairan pleura di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, periode September 2019 sampai Agustus 2020 yang masuk dalam penelitian kami, dimana terdapat 26 sampel EPM dan 45 sampel EPB. Terdapat hubungan bermakna antara CT scan base scoring system menurut Porcel dengan hasil sitology cairan pleura, dengan skor < 7, yang menunjukan EPB, sedangkan skor ≥ 7 yang menunjukan EPM, dengan sensitivitas 88.4% (73.1 – 88.5 %) dan spesifisitas 75.5% (73.1 – 88.5 %); nilai prediksi positif 67.6%; nilai prediksi negatif 91.8%.Kata kunci: efusi pleura; efusi pleura maligna; CT scan base scoring system; metastasis pleura.
Vera D. Tombokan, Maxi M. L. Moleong, Ageng I. Pratiwi
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 1-9; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.37321

Abstract:
Examination of urine albumin to creatinine ratio can be performed to detect early signs of diabetic nephropathy, and this examination is easier to perform. The reference value used is the ratio of albumin to creatinine > 30 mg/g. Researches related to propolis and its benefits have been carried out for a long time. HDI Propoelix is a type of propolis extract using the CMCE (Continuous Multi-stage Countercurrent Extraction) method produced by PT Harmoni Dinamik Indonesia. HDI Propoelix has 7 bioactive components: CAPE (Caffeic Acid Phenethyl Ester), Narigenin, Chrysin, Galangin, Cinnamic Acid, Pinocembrin, Apigenin. These bioactive components amplify the health benefits of HDI Propoelix because these bioactive components are high in antioxidants, as well as have antidiabetic and nephroprotective properties. This study is a laboratory experimental study with a pretest-posttest with control group design, with 60 respondents who met the inclusion criteria. This study aimed to examine the effect of giving Propolis Extract (Propoelix) on the Urine Albumin to Creatinine Ratio in type II DM patients who have shown signs of diabetic nephropathy. The results obtained are that there is a significant effect in the experimental group given HDI Propoelix at a dose of 2x 200 mg for 90 days where there is a decrease in the urine albumin to creatinine ratio which was not found in the control group who was not given Propoelix. Keywords: diabetic nephropathy; urine albumin to creatinin ratio; propoolis ekstrak (propoelix) Abstrak: Pemeriksaan rasio albumin kreatinin urine sewaktu dapat dilakukan untuk mendeteksi tanda awal nefropati diabetik, dan pemeriksaan ini lebih mudah dilakukan. Nilai rujukan yang dipakai adalah rasio albumin kreatinin > 30 mg/g. Penelitian-penelitian terkait propolis dan manfaatnya telah dilakukan sejak lama. HDI PropoelixTM adalah salah satu jenis propolis Ekstrak metode CMCE (Continouis Multi-stage Countercurrent Extaction) yang di produksi oleh PT Harmoni Dinamik Indonesia. HDI PropoelixTM memiliki komponen bioaktif: CAPE (Caffeic Acid Phenethyl Ester), Narigenin, Chrysin, Galangin, Cinnamic Acid, Pinocembrin, Apigenin. Komponen bioaktif ini memperkuat manfaat kesehatan HDI Propoelix karena komponen bioaktif ini memiliki antioksidan yang tinggi ,dan bersifat antidiabetik dan nefroprotektor. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan penelitian pretest-posttest dengan kelompok kontrol, terhadap 60 responden yang memenuhi kriteria inklusi Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian Propolis Ekstrak (Propoelix) terhadap Rasio Albumin Kreatinin Urin pada pasien DM tipe II yang sudah menunjukkan tanda nefropati diabetik. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu terdapat pengaruh yang signifikan pada kelompok eksperimen yang diberikan HDI Propoelix dengan dosis 2x 200 mg selama 90 hari dimana terdapat penurunan rasio albumin kreatinin urin yang tidak didapatkan pada kelompok kontrol yang tidak di berikan Propoelix. Kata kunci: nefropati diabetik; rasio albumin kreatinin urine; propolis ekstrak (propoelix)
Charles Mengga, Taufiq Pasiak, Josef Tuda
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 30-37; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.37283

Abstract:
Abstrak: Smoking behavior is still a health problem in Indonesia. Nicotine dependence which stimulates the release of dopamine in the brain is the reason it is difficult to quit smoking. The awareness factor plays an important role in behavior change. Consciousness is the result of the work of the ascending reticular activating system of the brain. Neuroplasticity is the brain's ability to change and repair brain structures and tissues. Cognitive Transcendence Strategies (CTS) is a strategy that focuses on cognitive and spiritual abilities to optimize willpower, resilience and self-control. Mindfulness meditation aims to eliminate self-ego so that a conscious lifestyle is obtained. This study aims to determine the effect of mindfulness meditation with the CTS approach method on smoking behavior. This study is a quantitative experimental Quasi Experimental Nonequivalent Control Design Group of two groups and calculates the difference in the mean values in each group. The number of research subjects was 40 respondents. The results of this study indicate that Mindfulness Meditation with the CTS approach has an effect on smoking behavior. Keywords: Mindfulness Meditation; CTS; Smoking Behavior Abstrak: Perilaku merokok masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Ketergantungan nikotin yang menstimulus pelepasan dopamin dalam otak menjadi alasan sulitnya berhenti merokok. Faktor kesadaran berperan penting dalam perubahan perilaku. Kesadaran merupakan hasil kerja bagian otak Ascending reticular activating system. Neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk mengubah dan memperbaiki struktur dan jaringan otak. Cognitive Transcendence Strategies (CTS) merupakan strategi yang berpusat pada kemampuan kognitif dan spiritual untuk mengoptimalkan willpower, resilience dan self control. Meditasi kesadaran bertujuan untuk menghilangkan ego diri sehingga didapatkan pola hidup yang penuh kesadaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh meditasi kesadaran dengan metode pendekatan CTS terhadap perilaku merokok. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimental Quasi Experimental Nonequivalent Control Desain Group dari dua kelompok dan menghitung perbedaan nilai mean pada masing-masing kelompok. Jumlah subjek penelitian 40 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Meditasi Kesadaran dengan metode pendekatan CTS berpengaruh terhadap perilaku merokok. Kata Kunci: Meditasi Kesadaran; CTS; Perilaku Merokok
Yullyftyani Gunawan, Bachtiar Murtala, Sri Asriyani
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 10-16; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.34083

Abstract:
Absract: This research aims to investigate the congruity between the Shear Wave Elastography, Fibroscan and changes in the portal vein flow velocity in non-alcoholic fatty liver disease patients.The research used was a cross-sectional study method. The research was conducted in the Radiology Section of Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar from July to December 2020. The research populations were all patients with the clinical non-alcoholic fatty liver and fulfilled the inclusive and exclusive criteria. On the research samples, the Shear Wave Elastography and hepatic hemodynamics were examined using transabdominal ultrasonography, continued by determining the fibrosis degree based on Transient Elastography. Data were analyzed statistically through the Spearman’s correlation test, it was stated congruent if the P value was <0.05.The research involved 32 people, with the gender of 19 males (59.4%) with the range of 46-55 years old (31.3%) of the non-alcoholic fatty liver patients. Based on bivariate analysis, the research result indicates that there is no correlation between mean portal vein velocity and degree of fibrosis with Fibroscan and Shear Wave Elastography. The fibrosis degree with Shear Wave Elastography has a strong correlation (p = 0.001, r = 0.672) with the fibrosis degree based on the Fibroscan. Key words: Non-alcoholic fatty liver; Shear Wave Elastography; Transient Elastography Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian antara Shear Wave Elastography, Fibroscan dan perubahan kecepatan aliran vena porta pada pasien non-alcoholic fatty liver disease. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian potong lintang. Penelitian dilaksanakan di Bagian Radiologi RS Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar pada Juli sampai dengan Desember 2020. Populasi penelitian ini adalah semua pasien dengan klinis non-alcoholic fatty liver dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Pada sampel penelitian ini dilakukan pemeriksaan Shear Wave Elastography dan hemodinamik hepar dengan ultrasonografi transabdominal, dilanjutkan dengan penentuan derajat fibrosis berdasarkan Transient Elastography. Data dianalisis secara statistik melalui uji korelasi Spearman dikatakan sesuai jika nilai P<0,05. Penelitian ini melibatkan sebanyak 32 orang, dengan jenis kelamin laki-laki 19 (59,4%) orang dengan rentang usia terbanyak 46-55 (31,3%) tahun pada pasien non-alcoholic fatty liver. Hasil penelitian menunjukkan tidak didapatkan korelasi antara mean kecepatan vena porta dengan derajat fibrosis dengan Fibroscan dan Shear Wave Elastography. Pada derajat fibrosis dengan Shear Wave Elastography mempunyai korelasi kuat (p=0,001, r=0,672) dengan derajat fibrosis berdasarkan Fibroscan. Kata kunci: Non-alcoholic fatty liver; Shear Wave Elastography; Transient Elastography
Hans Kristian, Olivia C. P. Pelealu, Steward Keneddy Mengko
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 46-54; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.37562

Abstract:
: Allergic rhinitis is a chronic inflammatory disease that affects about 10-20% of the world’s population. The therapy of this disease is based on its pathophysiology. Some research said that exercise can affect the cytokines involved in allergic rhinitis pathophysiology. This study aims to explain the effect of exercise on allergic rhinitis symptoms improvement. The design of this study is literature review and PICOS framework as the selection criteria. Exercise improves allergic rhinitis symptoms by modulating cytokines, such as IL-2, IL-4, IL-13, and TNF-a. Furthermore, exercise can increase lung function, modulate the autonomic nervous system, decrease airway resistance, and increase VO2max. However, these effects can only be obtained from moderate-intensity exercise, such as yoga, aquatic exercise, winter exercise, and treadmill. Exercise can improve allergic rhinitis symptoms in some way that fits its pathophysiology. Keywords: allergic rhinitis; symptom; exercise Abstrak: Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi kronis yang diperkirakan diderita oleh 10-20% populasi dunia. Terapi penyakit ini disesuaikan dengan patofisiologinya. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa olahraga dapat memengaruhi sitokin-sitokin yang berperan dalam patofisiologi rinitis alergi. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan efek olahraga terhadap perbaikan gejala rinitis alergi. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review dengan menggunakan kriteria seleksi PICOS framework. Olahraga memperbaiki gejala rinitis alergi dengan memodulasi sitokin-sitokin, seperti IL-2, IL-4, IL-13, dan TNF-a. Selain itu, olahraga dapat meningkatkan fungsi paru, memodulasi sistem saraf otonom, menurunkan resistensi jalan napas, dan meningkatkan VO2max. Akan tetapi, efek-efek ini hanya didapatkan dari olahraga-olahraga intensitas sedang, seperti yoga, olahraga akuatik, olahraga musim dingin, dan treadmill. Olahraga dapat memperbaiki gejala rinitis alergi melalui beberapa cara yang sesuai dengan patofisiologinya. Kata kunci: rinitis alergi; gejala; olahraga
Utami S. Lestari, Elyana Asnar, Suhartati Suhartati
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 17-22; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.35337

Abstract:
Overweight can cause various degenerative diseases that must be controlled by doing physical activity. Resistance exercise is a type of physical activity that can increase the calories burned during fat burning so that it can affect Body Mass Index (BMI). The aim of this study is to analyze the effect of intensity of elastic band resistance exercise on BMI. This study was pretest-posttest control group design with 40 adult women. The subjects were divided into four treatments - low intensity, moderate intensity, high intensity, and control. Resistance exercise consists of three types of exercise for upper extremities and three types of exercise for lower extremities, each set consisting of three sets, 12 repetitions, and one minute of rest interval between exercises given three times every week for four weeks BMI calculation is done by dividing body weight in kilograms and height in meters squared before and after the intervention. Low intensity resistance exercise showed an increase in BMI (p=0.62), moderate intensity resistance exercise showed a decrease in BMI (p=0.24) and high intensity resistance exercise showed a decrease in BMI (p=0.04). Medium intensity and high intensity elastic band resistance exercises are effective in improving BMI in adult women. Keywords: Body Mass Index; Exercise Intensity; Resistance Exercise Abstrak: Overweight dapat menyebabkan berbagai penyakit degeneratif sehingga harus dikontrol dengan melakukan aktivitas fisik. Latihan resistance adalah jenis aktivitas fisik yang dapat meningkatkan kalori yang dibakar saat pembakaran lemak berlangsung sehingga dapat berpengaruh terhadap Indeks Massa Tubuh (IMT). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek perbedaan intensitas latihan resistance elastic band terhadap IMT. Desain penelitian adalah pretest-posttest control group design dengan total 40 subjek wanita. Subjek dibagi ke dalam empat kelompok yaitu latihan resistance intensitas rendah, intensitas sedang, intensitas tinggi, dan kontrol. Latihan resistance terdiri dari tiga jenis latihan untuk ekstremitas atas dan tiga jenis latihan untuk ekstremitas bawah yang masing-masing terdiri dari tiga set, 12 repetisi dan satu menit interval istirahat yang diberikan sebanyak tiga kali setiap minggu selama empat minggu. Perhitungan IMT dilakukan dengan membagi berat badan dalam satuan kilogram dan tinggi badan dalam satuan meter kuadrat sebelum dan setelah intervensi. Latihan resistance intensitas rendah menunjukkan peningkatan IMT (p=0,62), latihan resistance intensitas sedang menunjukkan penurunan IMT (p=0,24) dan latihan resistance intensitas tinggi menunjukkan penurunan IMT (p=0,04). Latihan resistance elastic band intensitas sedang dan intensitas tinggi efektif memperbaiki IMT pada wanita. Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh; Intensitas Latihan; Latihan Daya Tahan
Dewi D. L. Matialu, Erwin G. Kristanto, Johannis F. Mallo
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 61-66; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.37343

Abstract:
DNA analysis is the gold standard in forensic identification, however there are some circumstances in which DNA has been degraded or uninformative that make proteomics has the potential to be an alternative method of forensic identification. This study used a literature review method using four databases (Pubmed, ScienceDirect, Proquest, and SpringerLink). The keywords used in the data search are Proteomics OR Analysis Proteome OR Protein-based Identification AND Forensic Identification. The data selection process using inclusion and exclusion criteria, resulted in 10 literatures (research article). There were 10 literatures that examine the implementation of proteomics as a method of identification in forensic cases using various samples such as hair, bone, muscle, blood plasma, body fluids, stomach content, organ fragments, vomit traces, nail scrapings, and fingerprints with significant research results. The development & implementation of proteomics as a method of forensic identification is currently undergoing several developments using spectrometry (MS) technology. With various significant research results, proteomics has great potential not only in identifying individuals, but in many other ways in forensic medicine. Keywords: Proteomics; Analysis Proteome; Protein-based Identification; Forensic Identification Abstrak: Analisis DNA merupakan gold standard dalam identifikasi forensik, tetapi ada beberapa keadaan dimana DNA sudah terdegradasi atau tidak informatif yang menjadikan proteomics berpotensi menjadi sebuah metode alternatif dalam identifikasi forensik. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pencarian data menggunakan empat database (Pubmed, ScienceDirect, Proquest, dan SpringerLink). Kata kunci yang digunakan dalam pencarian adalah Proteomics OR Analysis Proteome OR Protein-based Identification AND Forensic Identification. Proses seleksi data dengan menggunakan kriteria inklusi dan ekslusi mendapatkan 10 literature (research article). Terdapat 10 literature yang meneliti tentang implementasi proteomics dalam proses identifikasi pada kasus forensik dengan menggunakan berbagai sampel seperti rambut, tulang, otot, plasma darah, cairan tubuh, zat dalam perut, fragmen organ, jejak muntah, kerokan kuku, dan sidik jari dengan hasil penelitian yang signifikan. Perkembangan & implementasi proteomics sebagai metode identifikasi forensik saat ini sudah mengalami beberapa perkembangan dengan menggunakan teknologi mass spectrometry (MS). Dengan berbagai hasil penelitian yang signifikan, maka proteomics memiliki potensi yang besar tidak hanya dalam mengidentifikasi individu, tetapi dalam berbagai hal lain dalam ilmu kedokteran forensik. Kata Kunci: Proteomik; Analisis Proteom; Identifikasi Berbasis Protein; Identifikasi Forensik
Ernawati Ernawati, Bachtiar Murtala, Isdiana Kaelan, Sri Muliati
Published: 10 April 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 346-351; https://doi.org/10.35790/jbm.v13i3.33771

Abstract:
Abstrack: Thyroglossal duct cyst fistula or fistula ductus thyroglossal cyst is a fistula formed from congenital masses that are most commonly found in the midline of the neck. These cysts are formed as a result of failure of involution of the thyroglossal duct. We reported a case of a 19 year old patient with a history of abscess in the neck since the patient was 3 years old. The most common incidence of thyroglossal duct cysts is in children, with the highest age being between the ages of 0-20 years, namely 52%. The occurrence of a thyroglossal duct cyst then becomes infected if it is associated since the patient was 3 years old, where the repeated throat infection process will stimulate the epithelial cells of the tract resulting in cystic degeneration, it can also be caused by clogging of the thyroglossal duct which results in a buildup of secretes to form cysts. Furthermore, if the therapy is not received properly, the repeated infection process causes cysts to form and ends up becoming fistulas. The fistulogram examination results presence of the fistula estuary from the fistula that reaches the oral cavity. After the fistelectomy operation, a visible specimen was seen to be approximately +/- 2 digits long and +/- ½ little finger wide. Furthermore, the specimen was not subjected to histopathological examination on the grounds that the cystic lesions tended to be benign, supported by a physical examination without suspicion of malignancy. The patient is discharged in good health and fully recovered because until now there have been no complaints of recurrence in the form of infection and hematoma Keywords: thyroglossal duct fistula, thyroglossal cyst. Abstrak : Thyroglossal duct cyst fistula atau fistula kista ductus tiroglosus adalah fistel yang terbentuk dari massa kongenital yang tersering ditemukan pada midline leher. Kista ini terbentuk akibat kegagalan involusi dari duktus tiroglossus.Kami melaporkan kasus pasien berusia 19 tahun riwayat absses pada leher telah dikeluhkan sejak pasien berumur 3 tahun. Insiden kista duktus tiroglosus tersering pada anak-anak, umur terbanyak antara usia 0-20 tahun yaitu 52%. Terjadinya kista duktus tiroglosus kemudian menjadi infeksi jika dikaitkan sejak pasien berumur 3 tahun, dimana proses infeksi tenggorokan yang berulang akan merangsang sel epitel traktus sehingga mengakibatkan degenerasi kistik, dapat pula diakibatkan oleh sumbatan duktus tiroglosus yang mengakibatkan terjadinya penumpukan secret sehingga membentuk kista. Selanjutnya apabila tidak mendapat terapi dengan baik,proses infeksi yang berulang menyebabkan terbentuknya kista dan berakhir menjadi fistel. Pemeriksaan fistulogram memberikan hasil adanya muara fistel dari fistel yang mencapai rongga mulut. Setelah dilakukan operasi fistelektomi, nampak specimen yang terlihat kira-kira dengan panjang +/- 2 ruas jari dengan lebar +/- ½ jari kelingking. Selanjutnya specimen tersebut tidak dilakukan pemeriksaan histopatologi dengan alasan bahwa lesi kista cenderung mengarah ke jinak, ditunjang degan pemeriksaan fisis yang tidak ada kecurigaan pada keganasan. Pasien dipulangkan dengan keadaan sehat dan sembuh sempurna karena sampai saat ini tidak ada keluhan kekambuhan berupa infeksi dan hematom Kata kunci : fistula duktus tiroglosus, kista tiroglosus
Back to Top Top