Jurnal e-Biomedik

Journal Information
EISSN : 2337-330X
Published by: Universitas Sam Ratulangi (10.35790)
Total articles ≅ 827
Filter:

Latest articles in this journal

Sensea R. Rambitan, Aaltje Manampiring, Fatimawali, Billy J. Kepel, Fona Budiarso, Widdhi Bodhi
Published: 8 April 2021
Jurnal e-Biomedik, Volume 9; https://doi.org/10.35790/ebm.v9i2.31825

Abstract:
Currently, there is no specific treatment for all the COVID-19 patients the procedures that can be done are just a symptomatic and oxygen therapy, Therefore all the people around the world have try to avoid this infection by consuming the potensial plants that can boost our body immunity like Binahong. This study was an in silico experimental. The finale result is the binding affinity score from each compound, for vitexin’s binding affinity score is – 8.0 kcal/mol, ursolic acid – 7.6 kcal/mol and flavonol – 7.8 kcal/mol. The finale result of this procedure also obtained all the amino acid residues that works on the active site of receptor 6LU7 as a main protase of COVID-19, namely THR24, LEU27, HIS41, THR45, SER46, MET49, PHE140, LEU141, ASN142, GLY143, SER144, CYS145, HIS163, MET165, GLU166 and HIS172. In conclusion, the binding affinity of vitexin, ursolic acid and flavonol are higher than remdesivir. Vitexin, ursolic acid and flavonol have a several similar bonds, particularly the van der waals bond and hydrogen bond.Keywords: Molecular docking, COVID-19, binahong, flavonoid Abstrak: Saat ini belum tersedia rekomendasi tatalaksana khusus bagi pasien COVID-19, termasuk antivirus atau vaksin dan tata laksana yang dapat dilakukan adalah terapi simtomatik dan karena itulah, masyarakat dunia mencoba banyak cara agar menghindari infeksi virus ini dengan mengolah dan mengonsumsi tumbuhan yang dinilai berpotensi dalam meningkatkan imunitas tubuh seperti tumbuhan Binahong. Penelitian ini menggunakan metode penelitian in silico. Pada hasil akhir penelitian diperoleh nilai binding affinity dari ketiga senyawa yaitu senyawa vitexin - 8.0 kcal/mol, Ursolic Acid -7.6 kcal/mol dan Flavonol -7.8 kcal/mol. Diperoleh data mengenai residu asam amino yang bekerja pada sisi aktif reseptor 6LU7 sebagai main protase COVID-19 yaitu THR24, LEU27, HIS41, THR45, SER46, MET49, PHE140, LEU141, ASN142, GLY143, SER144, CYS145, HIS163, MET165, GLU166, dan HIS172. Sebagai simpulan, binding affinity dari senyawa vitexin, ursolic acid dari flavonol lebih tinggi dari nilai binding affinity remdesivir. Senyawa vitexin, ursolic acid dan flavonol memiliki beberapa jenis ikatan yang sama termasuk ikatan van der Waals dan ikatan hydrogen.Kata Kunci: Molecular docking, COVID-19, binahong, flavonoid
Alpacino J. Wowor, Lydia E. N. Tendean, Janette M. Rumbajan
Published: 8 April 2021
Jurnal e-Biomedik, Volume 9; https://doi.org/10.35790/ebm.v9i2.31783

Abstract:
Diabetes Mellitus (DM) is a non-communicable disease that can be found at all ages, especially in adults and the elderly. Erectile Dysfunction (ED) is the inability to maintain an erection. Like DM, DE is still a problem facing the world, including Indonesia. Blood vessels can be damaged by various factors, one of which is uncontrolled blood sugar levels that can lead to Erectile Dysfunction. The International Index of Erectile Function (IIEF-5) or Sexual Health Inventory for Men (SHIM) is a tool for diagnosing ED. The purpose of this study was to determine the effect of Diabetes Mellitus on the incidence of Erectile Dysfunction. This study took the form of a literature review with data searches using three databases, namely Pubmed, ScienceDirect and Google Scholar. The keywords used were Diabetes Mellitus "AND" Erectile Dysfunction. 10 literature was obtained after being selected based on inclusion and exclusion criteria. According to the ten literature selected in this study, all found an effect of Diabetes Mellitus on the incidence of Erectile Dysfunction. In Conclusion, Diabetes Mellitus affects the occurrence of Erectile Dysfunction.Keywords: Diabetes Mellitus, Erectile Dysfunction. Abstrak: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang dijumpai pada segala usia terutama pada dewasa dan lansia. Disfungsi Ereksi (DE) merupakan ketidakmampuan dalam mempertahankan ereksi. Seperti halnya DM, DE juga masih menjadi masalah yang dihadapi dunia termasuk Indonesia. Pembuluh darah dapat mengalami kerusakan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kadar gula darah yang tidak terkontrol sehingga dapat memicu terjadinya Disfungsi Ereksi. International Index of Erectile Function (IIEF-5) atau Sexual Health Inventory for Men (SHIM) merupakan alat bantu dalam penegakan diagnosis DE. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Diabetes Mellitus terhadap kejadian Disfungsi Ereksi. Penelitian ini berbentuk literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database, yaitu Pubmed, ScienceDirect dan Google Cendekia. Kata kunci yang digunakan yaitu Diabetes Mellitus “DAN” Erectile Dysfunction. Didapatkan 10 literatur setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan dari sepuluh literatur yang dipilih dalam penelitian ini, seluruhnya mendapati adanya pengaruh Diabetes Mellitus terhadap kejadian Disfungsi Ereksi. Sebagai simpulan, Diabetes Mellitus berpengaruh terhadap terjadinya Disfungsi Ereksi.Kata kunci: Diabetes Mellitus, Disfungsi Ereksi.
Inggrid V. Gandu, Fona D. H. Budiarso, Billy J. Kepel, Fatimawali, Aaltje Manampiring, Widdhi Bodhi
Published: 8 April 2021
Jurnal e-Biomedik, Volume 9; https://doi.org/10.35790/ebm.v9i2.31846

Abstract:
Coronavirus Disease 2019 or COVID-19 is an infectious disease first identified in Wuhan, China in December 2019. Prevention of COVID-19 infection is an important thing to do in reducing the spread of this virus. Boosting the body's immune system can be done as a preventive measure, one of which is by consuming natural plants such as red guava. This study aims to determine the molecular docking of red guava (Psidium guajava L.) as a plant to prevent COVID-19. This was an in silico with computerized methods. The samples in this study were ascorbic acid and quercetin compounds in red guava plants obtained from the PubChem website. The results showed that the binding affinity of ascorbic acid is -5.4 and the binding affinity of quercetin is -7.6. Remdesivir which was used as a positive control had a binding affinity of -7.3. In conclusion, quercetin compounds have better results than ascorbic acid compounds and remdesivir.Keywords: COVID-19, red guava, molecular docking Abstrak: Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 merupakan suatu penyakit menular yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019. Pencegahan infeksi COVID-19 merupakan hal yang penting untuk dilakukan dalam mengurangi penyebaran dari virus ini. Meningkatkan sistem imun tubuh dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan salah satunya dengan mengonsumsi tumbuhan-tumbuhan alami seperti jambu biji merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui molecular docking jambu biji merah (Psidium guajava L.) sebagai tanaman pencegah COVID-19. Jenis penelitian ialah in silico dengan metode komputerisasi. Sampel penelitian yaitu senyawa asam askorbat dan kuersetin pada tumbuhan jambu biji merah yang diperoleh dari website pubchem. Hasil penelitian mendapatkan binding affinity dari senyawa asam askorbat yaitu -5.4 dan binding affinity dari senyawa kuersetin yaitu -7.6. Remdesivir yang dijadikan sebagai kontrol positif mendapatkan hasil binding affinity yaitu -7.3. Simpulan penelitian ini ialah senyawa kuersetin memiliki hasil yang lebih baik daripada senyawa asam askorbat dan juga obat remdesivir.Kata kunci: COVID-19, jambu biji merah, molecular docking
Tiara C. Pradani, Fatimawali, Aaltje E. Manampiring, Billy J. Kepel, Fona D. Budiarso, Widdhi Bodhi
Published: 8 April 2021
Jurnal e-Biomedik, Volume 9; https://doi.org/10.35790/ebm.v9i2.31888

Abstract:
At the end of 2019 the world was shocked by the emergence of a new virus, namely the corona virus (SARS-CoV 2) which is called Corona Virus Disease 2019 or COVID-19. The origin of the emergence of this virus is known to have originated in the city of Wuhan, Hubei Province, China in December 2019.1 Research shows a close relationship with the corona virus that causes Severe Acute Respitatory Syndrome (SARS) which broke out in Hong Kong in 2003, until WHO named it the novel corona virus ( nCoV19). Turmeric (Curcuma longa L.) is a tropical plant that has many benefits and is found in many parts of Indonesia. Turmeric is widely used by the community as a traditional medicine to treat several diseases, such as: anti-inflammatory, antioxidant, hepatoprotective, and others. This study aims to determine the content in several compounds in the turmeric plant that have the potential to inhibit COVID-19 by using the molecular docking method. Using the In Silico method, namely molecular docking with the compounds taken were curcumin and ar-turmerone and the main protease COVID-19 (6LU7). This study obtained the binding affinity of curcumin compounds, namely -7.2 and Ar-turmerone -5.8 compounds against Mpro COVID-19. Remdesivir, which was used as a positive control, had a binding affinity of -7.7. In conclusion, remdesivir got better results compared to curcumin and Ar-turmerone compounds.Keywords: Molecular Docking, Turmeric, COVID-19. Abstrak: Pada akhir tahun 2019 dunia digemparkan dengan munculnya virus baru yaitu corona virus (SARS-CoV 2) yang disebut dengan Corona Virus Disease 2019 atau COVID-19. Awal mula munculnya virus ini diketahui berasal dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China pada Desember 2019.1 Penelitian menunjukkan hubungan yang dekat dengan virus corona penyebab Severe Acute Respitatory Syndrome (SARS) yang mewabah di Hongkong pada tahun 2003, hingga WHO menamakannya sebagai novel corona virus (nCoV19). Kunyit (Curcuma longa L.) merupakan salah satu jenis tanaman tropis yang banyak memiliki manfaat dan banyak ditemukan di wilayah Indonesia. Kunyit banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengobati beberapa penyakit seperti: antiinflamasi, antioksidan, hepatoprotektor, dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan dalam beberapa senyawa pada tumbuhan kunyit yang berpotensi menghambat COVID-19 dengan metode molecular docking. Menggunakan metode In Silico yaitu molecular docking dengan senyawa yang diambil adalah kurkumin dan ar-Turmerone dan main protease COVID-19 (6LU7). Penelitian ini didapatkan hasil binding affinity senyawa kurkumin yaitu -7.2 dan senyawa ar-turmeron -5.8 terhadap Mpro COVID-19. Remdesivir yang digunakan sebagai control positif mendapatkan hasil binding affinity yaitu -7.7. Sebagai simpulan, remdesivir mendapat hasil yang lebih baik dibandingkan dengan senyawa kurkumin dan ar-turmeron.Kata Kunci: Molecular Docking, Kunyit, COVID-19.
Geriko Y. Watupongoh, Fredine E. S. Rares, John P. Porotu'O, Sylvia R. Marunduh
Published: 8 April 2021
Jurnal e-Biomedik, Volume 9; https://doi.org/10.35790/ebm.v9i2.31905

Abstract:
The life of all people in the world has been affected since the COVID-19 hit the world at the end of 2019. In 2020 the whole world is faced with a very difficult year because the positive number of COVID-19 continues to grow. Even in Indonesia, COVID-19 is still a problem that affects various aspects of people’s lives. Without being checked, someone who looks healthy can become one of the people without symptoms and continue to cause COVID-19 to spread in the community. The aim of this study was to determine the response of immunoglobulin M & immunoglobulin G to SARS-CoV-2 in adults. The results of the literature review study on Immunoglobulin M & Immunoglobulin G increased when there was exposure to SARS-CoV-2 , although other immunoglobulins also increased, the most visible and significant results in the diagnostic screening of COVID-19 were Immunoglobulin M & Immunoglobulin G. In conclusion, Immunoglobulin M & Immunoglobulin G has an increase in SARS-CoV-2 positive adults. Immunoglobulin M will appear early in symptom onset, and then two weeks after symptom onset Immunoglobulin G increases.Keywords: Immunoglobulin M, Immunoglobulin G, SARS-CoV-2, adults. Abstrak: Kehidupan masyarakat luas dipengaruhi sejak adanya COVID-19 yang melanda dunia pada akhir tahun 2019. Tahun 2020 seluruh dunia diperhadapkan dengan tahun yang begitu berat karena angka positif COVID-19 yang terus bertambah. Bahkan di Indonesia sendiri COVID-19 masih menjadi masalah yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tanpa dilakukan pemeriksaan seseorang yang terlihat sehat dapat menjadi salah satu orang tanpa gejala dan terus menyebabkan COVID-19 tersebar di masyarakat. Tujuan penelitian untuk mengetahui Respon Imunoglobulin M & Imunoglobulin G terhadap SARS-CoV-2 pada orang dewasa. Hasil penelitian literature review Imunoglobulin M & Imunoglobulin G meningkat saat ada paparan SARS-CoV-2, meskipun imunoglobulin lain juga ikut meningkat namun hasil pemeriksaan yang paling terlihat meningkat dan bermakna dalam screening diagnostik COVID-19 merupakan Imunoglobulin M & Imunoglobulin G. Sebagai simpulan, Imunoglobulin M & Imunoglobulin G mengalami peningkatan terhadap dewasa yang positif SARS-CoV-2. Imunoglobulin M akan muncul diawal gejala onset, dan kemudian dua minggu setelah gejala onset Imunoglobulin G meningkat.Kata Kunci: Immunoglobulin M, Immunoglobulin G, SARS-CoV-2, orang dewasa.
Frenky D. Awuy, Diana S. Purwanto, Yanti M. Mewo
Published: 8 April 2021
Jurnal e-Biomedik, Volume 9; https://doi.org/10.35790/ebm.v9i2.33451

Abstract:
Cigarettes can cause oxidative stress that may cause various health problems such as the decrease of spermatozoa quality. The disturbed state of spermatozoa results in a decrease quality of the spermatozoa which may effect fertility. Vitamin C is an antioxidant which is believed to affect improving the quality of spermatozoa. This study aimed to determine the effect of vitamin C on the quality of spermatoza exposed to cigarette smoke. This research was conducted by literature review using three databases, namely Google Scholar, Pubmed, and ClinicalKey. After being selected based on inclusion and exclusion criteria, there were 10 articles research for assessment. The results show that the decrease in spermatozoa concentration is due to the nicotine contained in cigarette smoke. By giving vitamin C, it can reduce oxidative stress which can cause lipid peroxidation, and then reduce the decrease in spermatozoa concentration. There is also an improvement in spermatozoa motility and morphology after vitamin C administration. Vitamin C as an antioxidant plays a role in fighting free radicals, so that the spermatozoa cell membrane remains protected. In conclusion, consumption of vitamin C shows an effect to improve the quality of spermatozoa exposed to cigarette smoke, including increasing/improving the concentration, morphology, and motility of spermatozoa.Keywords: vitamin C, spermatozoa, smoker Abstrak: Rokok menyebabkan terjadinya stres oksidatif yang dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan seperti penurunan kualitas spermatozoa. Keadaan spermatozoa yang terganggu mengakibatkan penurunan kualitas spermatozoa sehingga akan memengaruhi kesuburan. Vitamin C merupakan antioksidan yang dipercaya dapat memengaruhi peningkatan kualitas spermatozoa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian vitamin C terhadap kualitas spermatoza yang terpapar asap rokok. Penelitian ini berbentuk literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Google Scholar, Pubmed, dan ClinicalKey. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, didapatkan 10 artikel untuk dilakukan penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan konsentrasi spermatozoa disebabkan oleh kandungan nikotin dalam asap rokok. Pemberian vitamin C dapat menurunkan stres oksidatif yang dapat menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid, kemudian menekan penurunan konsentrasi spermatozoa. Terdapat juga perbaikan motilitas dan morfologi spermatozoa setelah pemberian vitamin C. Vitamin C sebagai antioksidan berfungsi untuk menanggulangi radikal bebas, sehingga membran sel spermatozoa akan tetap terlindungi. Sebagai simpulan, pemberian vitamin C menunjukkan adanya pengaruh untuk meningkatkan kualitas spermatozoa yang terpapar asap rokok, meliputi peningkatan/perbaikan konsentrasi, morfologi, dan motilitas spermatozoa.Kata kunci: vitamin C, spermatozoa, asap rokok
Ruth O. Hutasuhut, Fransiska Lintong, Jimmy F. Rumampuk
Published: 8 April 2021
Jurnal e-Biomedik, Volume 9; https://doi.org/10.35790/ebm.v9i2.31808

Abstract:
Low back pain is a musculoskeletal disorder that is often found in society. Low Back Pain can cause quality of life to deteriorate and inhibits certain activities. Certain influential factors such as age, gender, Body Mass Index, stress, length of sitting, and posture when doing work. Low Back Pain is a risk to medical students. Purpose of this study was to determine the relationship between sitting time and complaints of low back pain in students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. The research method used is an observational analytic method with a cross-sectional design. Data were collected using a questionnaire and then analyzed using the Pearson Chi-square test. The results showed a p value (p <0.001) between the length of sitting and complaints of low back pain, with a sitting time of 5- 8 hours. In conclusion, there is a significant relationship between sitting time and complaints of low back pain in students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University.Keywords: Low Back Pain, prolonged sitting, medical students Abstrak: Nyeri Punggung Bawah (NPB) merupakan gangguan muskuloskeletal yang sering ditemukan dalam masyarakat. NPB dapat menyebabkan kualitas hidup memburuk dan menghambat aktivitas tertentu. Beberapa faktor tertentu yang berpengaruh seperti umur, jenis kelamin, Indeks Massa Tubuh, stres, lama duduk, dan sikap tubuh ketika melakukan pekerjaan. NPB berisiko terjadi pada mahasiswa kedokteran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lama duduk terhadap keluhan nyeri punggung bawah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analitik observasional dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan menggunakan kuisioner kemudian di analisis menggunakan uji statistik Pearson Chi-square. Hasil penelitian menunjukan p value (p < 0,001) antara lama duduk dan keluhan nyeri punggung bawah, dengan lama duduk 5- 8 jam. Sebagai simpulan, terdapat hubungan bermakna antara lama duduk terhadap keluhan nyeri punggung bawah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.Kata Kunci : Nyeri Punggung Bawah, lama duduk, mahasiswa kedokteran
Angelyn Tjong, Youla A. Assa, Diana S. Purwanto
Published: 8 April 2021
Jurnal e-Biomedik, Volume 9; https://doi.org/10.35790/ebm.v9i2.33452

Abstract:
One of the biggest risk factors for cardiovascular disease is hypercholesterolemia. Cholesterol is an important fat, however if it is excessive in the blood it can cause various diseases, one of which is cardiovascular disease. One of the traditional medicines used to reduce blood cholesterol levels is Moringa Oleifera leaves, which contain flavonoids and play an important role in lowering blood cholesterol levels. This study aimed to determine the antioxidant content of Moringa Oleifera leaves, the benefits of lowering blood cholesterol levels, and the dosage of administration. This study was conducted by using three databases, namely PubMed, ClinicalKey and Google Scholar to find articles which met the inclusion and exclusion criteria, then the assessment was carried out. There was a significant reduction in blood cholesterol levels when given Moringa leaves, as well as the dose given. In conclusion, antioxidants in Moringa leaves can reduce cholesterol levels in the blood.Keywords: antioxidants, moringa leaves, cholesterol, cardiovascular Abstrak: Salah satu faktor risiko terbesar penyakit kardiovaskular adalah hiperkolesterolemia. Kolesterol merupakan lemak yang penting, namun jika berlebihan dalam darah dapat menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya kardiovaskular. Salah satu obat tradisional yang digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol darah adalah daun kelor (Moringa Oleifera), yang mengandung flavonoid dan berperan penting dalam menurunkan kadar kolesterol darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan antioksidan daun kelor, manfaat sebagai penurun kadar kolesterol darah, dan dosis pemberian. Pencarian artikel menggunakan tiga database yaitu PubMed, ClinicalKey, dan Google Scholar untuk menemukan artikel sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dilakukan penilaian. Terdapat penurunan kadar kolesterol darah yang signifikan ketika diberikan daun kelor dalam menurunkan kadar kolesterol darah, serta dosis yang diberikan. Sebagi simpulan, antioksidan pada daun kelor dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Kata Kunci: antioksidan, daun kelor, kolesterol, kardiovaskular
Wilda K. M. Bassean, Ivonny Sapulete, Sylvia Marunduh
Published: 8 April 2021
Jurnal e-Biomedik, Volume 9; https://doi.org/10.35790/ebm.v9i2.31831

Abstract:
Cigarettes smoking has many negatiue impacts to human body. Accumulation content of cigarette smoke in the body can actually provide many physiological changes in the human body. This situation will get worse coupled with living conditions, especially in the highlands, which can pose a risk of chronic disease even though a person has experienced acclimatization. This study aims to look at changes in the body towards chronic smoking in the highlands. This research is a literature review. This research will review all the topics that related to the physiological changes in chronic smoking at high altitudes from previous studies. Literature reviewin this study were 10 and consisting of 6 cross-sectional studies, 3 cohort studies, and 1 repeated measures design. The results of this literature review study indicate that chronic smokers who are in the highlands or climbers who have a history of active smoking can experience several physiological changes in their bodies. Smoking at high altitudes can increase heart rate (HR) and blood pressure. Oxygen saturation (SpO2) levels decreased and the levels were lower than nonsmokers at high or low altitudes. The VO2 max value decreases. The hemoglobin (Hb) concentration of smokers in the highlands increases due to decreased oxygen saturation levels. High altitude smokers have a significant association with the likelihood of developing Acute Mountain Sickness (AMS). Proteinuria is also found in 80% of climbers who have a history of smoking and have AMS.Keywords: smoking, high altitude. Abstrak: Rokok memiliki dampak buruk bagi kesehatan manusia. Akumulasi kandungan asap rokok dalam tubuh ternyata dapat memberikan banyak perubahan fisiologi pada tubuh manusia. Keadaan tersebut akan semakin parah apabila ditambah dengan kondisi tempat tinggal khususnya di dataran tinggi yang dapat menimbulkan risiko terkena penyakit kronis meskipun seseorang telah mengalami aklimatisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan faal tubuh terhadap perokok kronis di dataran tinggi. Penelitian ini merupakan penelitan yang sifatnya literature review. Penelitian ini juga mempelajari topik-topik terkait perubahan fisiologis terhadap perokok kronis di dataran tinggi dari penelitian-penelitian sebelumnya. Literatur yang diulas dan dipelajari dalam penelitian ini sebanyak 10 literatur yang terdiri dari 6 cross-sectional study, 3 cohort study, dan 1 repeated measures design. Hasil penelitian literature review menunjukkan bahwa perokok kronis yang berada di dataran tinggi ataupun pendaki yang memiliki riwayat merokok aktif dapat mengalami beberapa perubahaan fisiologis pada tubuhnya. Merokok di dataran tinggi dapat meningkatkan heart rate (HR) dan tekanan darah. Kadar saturasi oksigen (SpO2) menurun dan kadarnya lebih rendah dibanding bukan perokok di tinggi ataupun perokok di dataran rendah. Nilai VO2 max menurun. Konsentrasi hemoglobin (Hb) perokok di dataran tinggi meningkat akibat menurunnya kadar saturasi oksigen. Perokok di dataran tinggi memiliki hubungan yang signifikan terkait risiko terkena penyakit Acute Mountain Sickness (AMS). Proteinuria juga ditemukan pada 80% pendaki yang memiliki riwayat merokok dan terkena penyakit AMS. Kata kunci: merokok, dataran tinggi
Audy K. Bella, Hedison Polii, Herlina I. S. Wungow
Published: 8 April 2021
Jurnal e-Biomedik, Volume 9; https://doi.org/10.35790/ebm.v9i2.31799

Abstract:
: Resistance or resistance training has been recommended as a widely used treatment strategy for dealing with bone loss. Types of exercise that can be done include walking, running, weights bearing, and swimming. According to WHO in 2018, more than 80% of the adult population worldwide has less physical activity. Studies show that resistant exercise can increase bone density. This literature review aims to determine the effect of resistance training on bone density. This study was in the form of a literature review with data searches using four databases, which are ClinicalKey, Pubmed, MedLine, and Google Scholar. Resistance exercise can increase bone density. There are two types of exercise, named aerobic and anaerobic exercises. Research has shown that anaerobic exercise is more effective in increasing bone mass density compared to aerobic exercise because anaerobic exercise provides a bigger mechanical load to the bones, which triggers the bones to regenerate. The conclusion is that resistance exercise can increase bone density.Keywords : Resistance exercise, bone density. Abstrak : Latihan tahanan atau resisten telah direkomendasikan sebagai strategi pengobatan yang banyak digunakan untuk menghadapi hilangnya massa tulang. Jenis latihan yang bisa dilakukan antara lain jalan kaki, berlari, angkat beban, dan berenang. Menurut WHO pada tahun 2018, lebih dari 80% populasi orang dewasa di seluruh dunia memiliki aktivitas fisik yang kurang. Penelitian-penelitian membuktikan bahwa latihan resisten dapat meningkatkan kepadatan tulang. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan resisten terhadap kepadatan tulang. Penelitian ini berbentuk literature review dengan pencarian data menggunakan empat database yaitu ClinicalKey, Pubmed, MedLine, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu physical exercise ATAU resistance exercise ATAU resistance training ATAU effect of resistance exercise ATAU latihan tahanan ATAU latihan beban DAN bone mass ATAU bone mineral density. Latihan secara resisten dapat meningkatkan kepadatan tulang. Latihan dapat dilakukan dengan dua jenis, yaitu latihan aerobik dan anaerobik. Penelitian membuktikan bahwa latihan anaerobik lebih efektif dalam menungkatkan kepadatan massa tulang dibandingkan dengan latihan aerobik karena latihan anaerobik memberikan beban mekanik yang lebih besar untuk tulang sehingga memicu tulang untuk melakukan regenerasi. Kesimpulannya adalah latihan resisten dapat meningkatkan kepadatan tulang.Kata Kunci : Latihan resisten, kepadatan tulang
Back to Top Top