Jurnal Ilmiah PLATAX

Journal Information
ISSN / EISSN : 2302-3589 / 2302-3589
Published by: Universitas Sam Ratulangi (10.35800)
Total articles ≅ 269
Filter:

Latest articles in this journal

Jeszy Novianti Andakke, Ayi Tarya
Jurnal Ilmiah PLATAX, Volume 10, pp 1-15; https://doi.org/10.35800/jip.v10i2.40841

Abstract:
Nowadays, Indonesia is facing an increasing crisis of debris pollution. Through rivers, city drainage, marine activities, and tourists, garbage can enter the sea. The existence of this debris is a new threat that has a terrible impact on the marine ecosystem and the socio-economic sustainability of the community. Based on this, the Government of Indonesia has issued a regulation in Presidential Regulation no. 83 of 2018 concerning Marine Debris Management. One of the achievement points is the compilation of baseline data and publication of marine debris in all coastal areas of Indonesia every year. This study aimed to identify the types of marine debris found in macro and meso sizes and to analyze the composition and density of marine debris on the coast of Manado Bay and its environs during ebb and flood tide. Sampling was carried out on five beaches in Manado Bay and its environs using the Marine Debris Monitoring Guidelines by the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) 2020. Based on the data collection, it was found that nine types of marine waste materials and types of plastic waste were the most dominant types of waste found (about 70-86%). Of the five research sites, Sindulang Beach is the location with the highest solid waste density of 8.28 items/m2 (during flood tide) and 15.31 items/m2 (during ebb tide). Overall, the amount of marine debris found during ebb tide conditions was more than during flood tide conditions, and the amount of macro-sized trash was more than meso-size. White and transparent colors were the dominant color. Keywords: Composition; Density; Macro and Meso-Marine debris; Manado Bay; Color of debrisAbstrak Saat ini Indonesia sedang menghadapi krisis pencemaran sampah yang kian meningkat Sampah dapat masuk ke laut melalui aliran sungai, drainase kota, aktivitas laut maupun dari para wisatawan Keberadaan sampah tersebut menjadi ancaman baru yang sangat berdampak buruk terhadap ekosistem laut dan keberlangsungan sosial ekonomi masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan suatu regulasi dalam Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. Salah satu poin capaiannya yaitu tersusunnya baseline data dan publikasi sampah laut di seluruh wilayah pesisir Indonesia setiap tahunnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi jenis sampah laut ukuran makro dan ukuran meso yang ditemukan dan menganalisis komposisi serta kepadatan sampah laut di pesisir Teluk Manado dan sekitarnya saat kondisi pasang dan surut. Pengambilang sampel dilakukan pada 5 pantai di Teluk Manado dan Sekitarnya dengan menggunakan Pedoman Pemantauan Sampah Laut oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Tahun 2020. Berdasarkan hasil pendataan, didapatkan 9 jenis bahan sampah laut dan jenis sampah plastik merupakan jenis sampah yang paling dominan ditemukan (sekitar 70-86%). Dari kelima lokasi penelitian, Pantai Sindulang merupakan lokasi dengan kepadatan sampah tertinggi yaitu sebesar 8,28 item/m2 (saat kondisi pasang) dan 15,31 item/m2 (saat kondisi surut). Secara keseluruhan, jumlah sampah laut yang ditemukan saat kondisi surut lebih banyak dibanding saat kondisi pasang dan jumlah sampah ukuran makro lebih banyak dibandingkan sampah ukuran meso. Warna putih dan bening merupakan warna sampah yang dominan. Kata kunci: Kepadatan; Komposisi; Sampah laut makro dan meso; Teluk Manado; Warna sampah.
Annisa Aulia Lukman, Ayi Tarya, Widodo Setiyo Pranowo
Jurnal Ilmiah PLATAX, Volume 10, pp 16-27; https://doi.org/10.35800/jip.v10i2.40879

Abstract:
The Malacca strait is an essential seaway for international sea traffic and a provider of biological and non-biological resources. This strait has dynamic conditions resulting from the interaction between the Indian Ocean in the north and the Pacific Ocean in the south. The characteristic of the thermal front is the strait dynamics that have not been studied comprehensively. This research aims to map and identify the spatial and temporal pattern of the thermal front in Malacca Strait. The data used are sea surface temperature of AquaMODIS level 3 satellite images and bathymetry data of Malacca Strait, Ocean Nino Index (ONI), and Dipole Mode Index (DMI). The sea surface temperature data were processed from 2010 to 2020 using the Single Edge Image Detection (SIED) method. This research denotes the thermal front phenomenon found with several variations in each season. The highest (lowest) number of thermal fronts was discovered in the east season (first transitional season). The total number of thermal fronts each year happened to be maximum in 2015 and minimum in 2019. Annual variability (ENSO and IOD) impacts the number of thermal front events, but the observation period has to be explicitly adjusted in the analysis needed. Persistent thermal fronts in the Malacca Strait occurred in 1-5 repetitions at the exact location. Thermal fronts are commonly found in the northern region of the strait and areas with significant depth changes. Keywords: Malacca Strait; sea surface temperature; thermal front. Abstrak Selat Malaka terkenal sebagai perairan penting dalam lalu lintas laut internasional serta penyedia sumber daya hayati dan non hayati. Perairan ini juga memiliki kondisi yang dinamis sebagai hasil interaksi antara Samudera Hindia di bagian utara serta Samudera Pasifik di bagian selatan selat. Dinamika perairan yang belum dikaji secara komprehensif di perairan ini adalah karakteristik thermal front. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah memetakan secara spasial dan temporal kejadian thermal front di perairan Selat Malaka serta menganalisis karakteristik dari thermal front yang dipetakan tersebut. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data suhu permukaan laut citra satelit AquaMODIS level 3, data batimetri Selat Malaka, serta data Ocean Nino Index (ONI) dan Dipole Mode Index (DMI). Metode Single Edge Image Detection (SIED) digunakan untuk mengolah data suhu permukaan laut pada periode pengamatan tahun 2010 hingga 2020. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di perairan Selat Malaka dapat ditemukan thermal front dengan jumlah variatif setiap musim. Jumlah thermal front tertinggi ditemukan pada musim timur dan terendah pada musim peralihan 1. Jumlah total thermal front setiap tahun ditemukan maksimum pada tahun 2015 dan minimum pada tahun 2019. Variabilitas annual (ENSO dan IOD) memberikan dampak terhadap jumlah kejadian thermal front, namun untuk kebutuhan analisis perlu disesuaikan terhadap periode pengamatan dari variabilitas tersebut. Thermal front persisten di Selat Malaka dapat terjadi pada rentang 1-5 kali pengulangan pada lokasi yang sama. Lokasi thermal front persisten lebih sering terjadi di wilayah utara selat dan/atau pada wilayah dengan perubahan kedalaman yang signifikan. Kata kunci: Selat Malaka, suhu permukaan laut, thermal front.
Aris Putra Oli, Kakaskasen A Roeroe, Carolus P Paruntu, Janny D Kusen, Indri S Manembu, Stephanus V Mandagi
Published: 15 January 2022
JURNAL ILMIAH PLATAX, Volume 10, pp 61-69; https://doi.org/10.35800/jip.v10i1.37489

Abstract:
Coral recruitment is the entry of new coral individuals into coral reef populations due to reproduction or migration. Juvenile coral is the result of metamorphosis and growth of coral planula measuring 5 cm and attached to certain substrates. There are two types of substrates in the waters, stable substrates and unstable substrates such as rubble. The purpose of this study was to study hard coral recruitment, both in terms of density, the composition of juvenile coral colony types, size, and the type of substrate occupied by juvenile corals. This research was conducted in August 2021 in the waters of Molas, Bunaken District, Manado City. The method used for site selection is the purposive sampling method and data collection using a sampling method with quadrant transects. The results showed that the density of coral recruitment at the study site was 8,43 colonies/m2. The percentage of juvenile coral attachment on stable substrates is 90% and 10% on unstable substrates. The average size of juvenile corals at the study site was 2.4cm. The composition of the juvenile coral genus found at the research site were corals of the genus Acropora, Anacropora, Coeloseris, Cycloseris, Cyphastrea, Echinopora, Favites, Fungia, Galaxea, Goniastrea, Isopora, Leptastrea, Leptoseris, Lobophyllia, Merulina, Montastrea, Montipora, Oulophyllia, Pachyseris, Pavona, Platygyra, Plasiastrea, Pocillopora, Porites, Psammocora, Scolymia, Seriatopora, Symphyllia, and Trachyphyllia. Of the entire genus, corals of the genus Porites were dominated by the number of juveniles as many as 36 colonies. Keywords: Molas, coral, recruitment, Scleractinia Abstrak Rekrutmen karang adalah masuknya individu karang baru pada populasi terumbu karang dikarenakan reproduksi ataupun migrasi. Juvenil karang merupakan bentuk hasil metamorphosis dan pertumbuhan planula karang yang berukuran ≤ 5 cm dan menempel pada substrat tertentu. Terdapat dua tipe substrat di perairan, substrat yang stabil dan substrat yang tidak stabil seperti pecahan karang (rubble). Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari tentang rekruitmen karang keras, baik dari densitas, komposisi jenis koloni juvenil karang, ukuran, hingga tipe substrat yang ditempati oleh juvenil karang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2021 di perairan Molas Kecamatan Bunaken Kota Manado. Metode yang digunakan untuk pemilihan lokasi adalah metode purposive sampling dan pengumpulan data menggunakan metode sampling dengan transek kuadran. Hasil penelitian menunjukan bahwa densitas rekruitmen karang pada lokasi penelitian sebesar 8,43 koloni/m2. Persentase penempelan juvenil karang pada substrat stabil sebesar 90% dan pada substrat yang tidak stabil sebesar 10%. Ukuran rata-rata dari juvenil karang pada lokasi penelitian adalah 2,4cm. Komposisi genus juvenil karang yang ditemukan pada lokasi penelitian adalah karang genus Acropora, Anacropora, Coeloseris, Cycloseris, Cyphastrea, Echinopora, Favites, Fungia, Galaxea, Goniastrea, Isopora, Leptastrea, Leptoseris, Lobophyllia, Merulina, Montastrea, Montipora, Oulophyllia, Pachyseris, Pavona, Platygyra, Plasiastrea, Pocillopora, Porites, Psammocora, Scolymia, Seriatopora, Symphyllia, dan Trachyphyllia. Dari keseluruhan genus, didominasi oleh karang genus Porites dengan jumlah juvenil sebanyak 36 koloni. Kata kunci: Molas, karang, rekrutmen, scleractinia
Thania Theresia Podung, Kakaskasen A. Roeroe, Carolus P. Paruntu, Medy Ompi, , Ari B. Rondonuwu
Published: 15 January 2022
JURNAL ILMIAH PLATAX, Volume 10, pp 70-76; https://doi.org/10.35800/jip.v10i1.37239

Abstract:
Coral reefs are coastal ecosystems with the highest level of diversity with about one million species worldwide and are habitats for assemblages of millions of polyps that produce limestone to form their skeletons and develop into vast expanses of colonies. Corals are invertebrates belonging to the phylum Coelenterata (hollow animals) or Cnidaria. In order to preserve the coral reef ecosystem in the future in the Bahowo area, quantitative data is needed that can explain/describe the condition of coral reefs. The purpose of this study was to determine the condition of coral reefs, in this case, data on coral cover and associated biota in Bahowo waters. The data collection of this research used the UPT (Underwater Photo Transect) method. Analysis of the data in the form of research images using the CPCe (Coral Point Count with Excel extensions) application. The results of the analysis of the condition of coral reefs in Bahowo waters are in the damaged/bad category with live coral cover percentage data of 16.33%. Keywords: Live coral cover; Underwater photo transect (UPT); Coral reef condition; Bahowo waters Abstrak Terumbu karang merupakan ekosistem pesisir dengan tingkat keanekaragaman tertinggi dengan jumlah sekitar satu juta spesies di seluruh dunia dan merupakan habitat bagi kumpulan dari berjuta-juta hewan polip yang menghasilkan zat kapur membentuk skeletonnya dan berkembang menjadi hamparan koloni yang luas. Karang adalah hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Coelenterata (hewan berongga) atau Cnidaria. Dalam rangka pelestarian ekosistem terumbu karang ke depan di daerah Bahowo, maka dibutuhkan data kuantitatif yang dapat menjelaskan/menggambarkan tentang kondisi terumbu karang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi terumbu karang, dalam hal ini data tutupan karang dan biota asosiasi di perairan Bahowo. Pengambilan data penelitian ini menggunakan metode UPT (Underwater Photo Transect). Analisis data berupa gambar penelitian menggunakan aplikasi CPCe (Coral Point Count with Excel extensions). Hasil analisa kondisi terumbu karang di perairan Bahowo masuk dalam kategori rusak/buruk dengan data presentase tutupan karang hidup sebesar 16,33%. Kata kunci: Tutupan karang hidup; Underwater photo transect (UPT); Kondisi terumbu karang; Perairan Bahowo
Abigail Emylia Febricristiani Lang, Patrice N. I. Kalangi, , K. W. A. Masengi, Revols D. Ch. Pamikiran, Frangky E. Kaparang
Published: 15 January 2022
JURNAL ILMIAH PLATAX, Volume 10, pp 77-84; https://doi.org/10.35800/jip.v10i1.36887

Abstract:
Tumumpa Coastal Fishing Port is located at 1°31'21"-1°31'35" N, 124°50'28"-124°51'24" E Tides are one of the phenomena that can be utilized as a reference in determining natural resource management policies and as a supplement to data used to forecast future marine conditions. Using the Least Squares Method and the Admiralty Method with 15 days of observation data, the analysis was undertaken with the goal of finding the phase and amplitude of tidal components, type of tides, and the elevation of sea level at Tumumpa Coastal Fishing Port. The tidal type at the port is mixed semidiurnal tides, the formzahl value for the least square method is 0.48, while for the Admiralty method is 0.39 Keywords: Tides; Formzahl; RMSE; PPP Tumumpa.Abstrak Pasang surut air laut merupakan salah satu fenomena yang bisa dijadikan referensi dalam penentuan kebijakan untuk pengelolaan sumber daya alam dan sebagai data pelengkap untuk menggambarkan kondisi laut pada masa mendatang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis komponen-komponen pasang surut dan tipe pasang surut yang diukur di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tumumpa. Analisis dengan menggunakan metode kuadrat terkecil dan metode Admiralty berdasarkan data 15 hari pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe pasang surut di PPP Tumumpa bertipe campuran condong harian ganda. Didapatkan dominasi komponen harmonik pasang surut pada PPP Tumumpa, bertipe campuran condong harian ganda. Komponen harmonik pasang surut dominan di PPP Tumumpa, yaitu komponen semidiurnal untuk metode kuadrat terkecil M2 = 0.21 dan S2= 1.47 sedangkan untuk metode Admiralty M2 = 52.08 dan S2= 34.59. Kata kunci: Pasang surut; Nilai Formzahl; RMSE; PPP Tumump
Nia Dopa Manurung, Khristin Kondoy, Ari B. Rondonuwu, Adnan Wantasen, , Hermanto Manengkey
Published: 15 January 2022
Jurnal Ilmiah PLATAX, Volume 10, pp 98-107; https://doi.org/10.35800/jip.v10i1.37826

Abstract:
Seagrass is a flowering plant (Angiospermae) that grows and breeds on the bottom of shallow sea waters, from tidal areas (intertidal zone) to sublittoral areas. The role of seagrass in shallow marine waters is as a primary producer, as a habitat for biota, catching sediments, and a nutrient recycler. The existence of seagrass is influenced by several factors, namely: temperature, salinity, depth, brightness, nutrients, and salinity. The purpose of this study was to determine the Relative Density, Relative Abundance, Relative Dominance, Frequency, Relative Frequency, Important Value Index, Diversity Index, and Dominance Index, to determine the types of seagrass and to determine the condition of the aquatic environment. This research uses the quadratic methods and line transect. This research was conducted on May 28, 2021, at Meras Beach, Bunaken District, Manado City, North Sulawesi. The number of stands of seagrass species in the study area ranged from 23-320 individuals, species density (8.36-116.36 individuals/m2), relative density (3.62-50.47%), frequency of presence (0.037- 0.50 ), relative frequency (3.62- 50.47%), dominance index (0.072-1.009), the diversity index (1.236), index of the importance of seagrass in Meras Coastal Waters showed that Cymodocea rotundata had the highest important value index among the 5 seagrass species, namely 151.41%. There are 5 species of seagrass found in Meras Coastal Waters, namely, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii. The environmental conditions in Meras Beach are temperature 29°C, salinity 35‰, the brightness is quite clear and has a substrate of sand, muddy, sand mixed with mud, muddy mixed with sand, and coral fragments. Keywords: Meras Beach; Seagrass; Community Structure. Abstrak Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang tumbuh dan berkembang biak pada dasar perairan laut dangkal, mulai daerah pasang surut (zona intertidal) sampai dengan daerah sublitoral. Peranan lamun di lingkungan perairan laut dangkal sebagai produsen primer, sebagai habitat biota, penangkapan sedimen dan sebagai pendaur zat hara. Keberadaan lamun dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: suhu, salinitas, kedalaman, kecerahan, nutrient dan salinitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Kepadatan Relatif, Kelimpahan Relatif, Dominasi Relatif, frekuensi, Frekuensi Relatif, Indeks Nilai Penting, Indeks Keanekaragaman, dan Indeks Dominasi, untuk mengetahui jenis-jenis lamun dan untuk mengetahui bagaimana kondisi lingkungan perairan. Adapun penelitian ini menggunakan metode kuadrat dan line transek. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2021, dilakukan di Pantai Meras, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara. Jumlah tegakan spesies lamun di lokasi penelitian berkisar dari 23-320 individu, kepadatan spesies (8,36-116,36 individu/m2), kepadatan relatif (3,62- 50,47%), frekuensi kehadiran (0,037- 0,50) , frekuensi relatif (3,62- 50,47%), indeks dominasi (0,072-1,009), indeks keanekaragaman (1,236), indeks nilai penting lamun di Perairan Pantai Meras menunjukkan bahwa Cymodocea rotundata memiliki indeks nilai penting paling tinggi diantara ke 5 spesies lamun yakni 151, 41 %). Spesies lamun yang ditemukan di Perairan Pantai Meras berjumlah 5 yaitu, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii. Kondisi lingkungan di Perairan Pantai Meras yakni suhu 29°C, salinitas 35‰, kecerahan cukup jernih dan memiliki substrat pasir, berlumpur, pasir bercampur lumpur, berlumpur campur pasir dan pecahan karang. Kata kunci: Pantai Meras; Lamun; Struktur Komunitas.
Vellysa Friendly Salawati, Desy Maria Helena Mantiri, Farnis Bineada Boneka, , Veibe Warouw, Ockstan Kalesaran
Published: 15 January 2022
Jurnal Ilmiah PLATAX, Volume 10, pp 92-97; https://doi.org/10.35800/jip.v10i1.38559

Abstract:
The purpose of this study was to identify sea slugs L. pallescens taken from two different mangroves, namely Rhizophora mucronata and Avicennia marina in Tongkaina waters, Bunaken District, Manado City based on morphology and anatomy as well as shell color. Identification of mangroves and sea slugs refers to the identification book. The results obtained were L. pallescens species with elongated and tapered morphology at the end of the shell measuring 0.3-2.7 cm. The operculum is purple. The color of the shell obtained was 66.85% consisting of dark colors (black, black, orange, brown and gray spots), occupying the stems and roots of the mangrove, while the light colors (yellow, yellow, dark spots and red) were found to be 33.15%, occupying the leaves and stems of mangroves. The high survival rate of L. pallescens was found in the mangrove roots. This species was found in R. mucronata by 65.26% while in A. marina only 34.74%, this could be caused by differences in the shape of the mangrove roots. Keywords: L. pallescens; Mangrove; Shell color; Morphology Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mengindentifikasi siput laut L. pallescens yang diambil dari dua mangrove berbeda yaitu Rhizopora mucronata dan Avicennia marina di perairan Tongkaina, Kecamatan Bunaken, Kota Manado berdasarkan morfologi dan anatomi serta warna cangkang. Identifikasi mangrove dan siput laut merujuk pada buku identifikasi. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu spesies L. pallescens dengan bentuk morfologi memanjang dan meruncing, pada bagian ujung cangkang berukuran 0,3-2,7 cm. Operculum berwarna ungu. Warna cangkang yang diperoleh 66,85% yang terdiri dari warna gelap (hitam, hitam bercak orange, coklat dan abu-abu), menempati bagian batang dan akar mangrove sedangkan warna terang (kuning, kuning bercak gelap dan merah) didapat 33,15%, menempati bagian daun dan batang mangrove. Tingginya kelangsungan hidup L. pallescens berada pada bagian akar mangrove. Spesies ini ditemukan pada R. mucronata sebesar 65,26% sedangkan pada A. marina hanya 34,74%, hal ini dapat disebabkan oleh karena perbedaan bentuk akar mangrove. Kata Kunci: L. Pallescens; Mangrove; Warna cangkang; Morfologi
Roberto Patar Pasaribu, Roni Sewiko, Arifin Arifin
Published: 15 January 2022
Jurnal Ilmiah PLATAX, Volume 10, pp 146-160; https://doi.org/10.35800/jip.v10i1.39719

Abstract:
Tides are the rise and fall of sea level caused by the attraction of objects in the sky, especially the moon and sun, to the mass of seawater on earth. Tidal research is useful for providing information about the components and types of tides and predicting tides and for mitigating natural disasters. Tidal measurements were carried out in the Nasik Strait, Bangka Belitung using the Valeport 106 tool. Tidal data was processed using the Admiralty Method. The Admiralty method is a method used to calculate tidal harmonic constants from observations of water levels. With this method, it is possible to know the amplitude and phase difference of the tides, the value of the Formzahl number, and the type of tide. From the results of data processing and analysis, the value of the Formzahl number in the waters of the Nasik Strait is 11,454 and the tidal type is a single daily tidal type that only occurs at one high tide and one low tide in one day. Keywords: tides; tidal types; admiralty method; formzahl number Abstrak Pasang surut adalah naik turunnya muka air laut yang disebabkan oleh gaya tarik benda-benda di langit, terutama bulan dan matahari terhadap massa air laut yang ada di bumi. Penelitian pasang surut bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai komponen dan tipe pasang surut serta memprediksi pasang surut serta untuk mitigasi bencana alam. Pengukuran pasang surut dilakukan di Perairan Selat Nasik, Bangka Belitung dengan menggunakan alat Valeport 106. Data pasang surut diolah dengan menggunakan Metode Admiralty. Metoda Admiralty merupakan metode yang digunakan menghitung konstanta harmonik pasang surut dari pengamatan ketinggian air. Dengan metoda ini dapat diketahui amplitudo dan beda fase pasang surut, nilai bilangan Formzahl dan tipe pasang surutnya. Dari hasil pengolahan dan analisa data diperoleh nilai bilangan Formzahl di perairan Selat Nasik yaitu 11,454 dan tipe pasang surut adalah tipe pasang surut harian tunggal yang hanya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari. Kata Kunci: pasang surut; tipe pasang surut; metode admiralty; bilangan formzahl
Firmansyah Candra Windarto, Royke M. Rampengan, Agung B. Windarto, Rignolda Djamaluddin, Hermanto W.K. Manengkey, Gaspar D. Manu
Published: 15 January 2022
Jurnal Ilmiah PLATAX, Volume 10, pp 188-207; https://doi.org/10.35800/jip.v10i1.38817

Abstract:
The purpose of this study was (1) to describe macrozoobenthos and calculate and analyze bio-indexes including density, diversity, domination, and proprietary macrozoobenthos genus found on the beach of Malalayang. (2) inform the condition of habitat sediment granulometry and related to various macrozoobenthos bio-indexes found on the Malalayang Beach. The results of the identification of macrozoobenthos types obtained from the entire research station have obtained macrozoobenthos taxa covering 3 classes, namely: Gastropoda classes include 5 genera, namely Melanella, Margarites, Frigidoalvania, Oenopot, and Cylichna, Crustacean class (2 genera: Pagurus and Hemigrapsus) and Polychaeta classes ( 1 genus: nais). Macrozoobenthos density at Station 1 and Station 3. Overall, station 1 has the highest average density of 29.33 ind./m2; Furthermore, Station 3 has an average density of 23 indv. /m2; And finally Station 2 with a density of 17.67 Ind. /m2. Based on the results of the test, it was concluded that none of the values of the macrozoobenthos diversity index at the research site showed that the H1 acceptance or can be said that the results of the t-test stated that all the recatient research tests were not significantly different meaning the diversity of the entire station tested had the same diversity. The dominance index also obtains values that indicate the condition of the lack of dominance from certain macrozoobenthos genera at the research location. The volume index is obtained that the community is in a stable condition only found at Station 3, namely the rear graduation area in the Malalayang River estuary. Communities that are in depressed conditions are found in the graduation land of station 1 and station 3, as well as the rearstal land of station 2. Other areas obtained by the community are in unstable conditions The sediment composition that looks for files to stations at the research site displays diverse conditions. In general, through the graph of the sediment composition produced, at station 1 can be said to have decreased grain size towards land. Physical at Station 2, on the contrary, experienced an increase in a more rough (gravel) sediment on the middle and rear land, and at station 3, the center of the center looks composed of sediments that have a rough size. Keywords: intertidal; macrobenthos; sediment  Abstrak Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan makrozoobenthos serta menghitung dan menganalisis bioindeks meliputi kepadatan, keanekaragaman, dominasi, dan kemerataan genus makrozoobenthos yang terdapat di Pantai Malalayang. (2) Menginformasikan kondisi granulometri sedimen habitat dan kaitannya dengan berbagai bioindeks makrozoobenthos yang terdapat di pantai Malalayang. Hasil identifikasi jenis-jenis makrozoobenthos yang diperoleh dari keseluruhan stasiun penelitian telah diperoleh taksa makrozoobenthos meliputi 3 kelas yaitu: Kelas Gastropoda meliputi 5 Genera yakni Melanella, Margarites, Frigidoalvania, Oenopotadan Cylichna, Kelas Crustacea (2 Genus: Pagurus dan Hemigrapsus) dan Kelas Polychaeta (1 Genus: Nais). Kepadatan makrozoobenthos pada Stasiun 1 dan Stasiun 3, Secara keseluruhan, Stasiun 1 memiliki rata-rata kepadatan tertinggi yaitu sebesar 29,33 ind./m2; selanjutnya Stasiun 3 memiliki kepadatan rata-rata 23 ind./m2; dan terakhir Stasiun 2 dengan kepadatan 17,67 ind./m2. Berdasarkan hasil uji_t diperoleh kesimpulan bahwa tidak ada satupun dari nilai indeks keanekaragaman makrozoobenthos pada lokasi penelitian menunjukkan terima H1 atau dapat dikatakan hasil uji-t menyatakan bawha semua satisun penelitian yang di uji tidak berbeda nyata artinya keanekaragaman seluruh stasiun yang diuji mempunyai keanekaragaman sama. Indeks Dominansi juga memperoleh nilai-nilai yang menunjukkan kondisi tidak adanya dominasi dari genus makrozoobenthos tertentu pada lokasi penelitian. Indeks kemerataan diperoleh bahwa komunitas berada dalam kondisi stabil hanya terdapat pada Stasiun 3, yaitu area lahan gisik bagian belakang di muara Sungai Malalayang. Komunitas yang berada dalam kondisi tertekan, terdapat pada lahan gisik bagian depan Stasiun 1 dan Stasiun 3, serta lahan gisik bagian belakang Stasiun 2. Area lainnya diperoleh komunitas berada dalam kondisi yang labil Komposisi sedimen yang menghampari gisik pada stasiun-stasiun di lokasi penelitian menampilkan kondisi yang beragam. Secara umum, melalui grafik komposisi sedimen yang dihasilkan, pada Stasiun 1 dapat dikatakan terjadi penurunan ukuran butir ke arah darat. Gisik pada Stasiun 2, sebaliknya mengalami peningkatan sedimen berukuran lebih kasar (kerikil) pada lahan bagian tengah dan belakang, dan pada Stasiun 3, gisik bagian tengah tampak tersusun oleh sedimen yang memiliki ukuran kasar. Kata Kunci: intertidal; makrobenthos; sedimen
Bryan Gabriel Lepa, Darus Saadah J Paransa, Desy M. H Mantiri, Farnis B Boneka, Frans Lumoindong, Ferdinand F. Tilaar
Published: 15 January 2022
JURNAL ILMIAH PLATAX, Volume 10, pp 85-91; https://doi.org/10.35800/jip.v10i1.38004

Abstract:
There are crab species that live in the forest and supratidal areas, on sandy, rocky, and muddy coastal areas. The aim of this research is to identify the morphology, of meristic crabs and the effect of the moon phase on species diversity. Sampling locations were on the coast of Pondang Village and Lopana Village, sampling using the roaming method and carried out at the two lowest low tide phases during the dead moon and full moon phases, during the lowest low tide crabs were generally found with walking legs. Based on the identification of the morphology of crabs found on the coast of Pondang Village and Lopana Village, East Amurang District, South Minahasa Regency, there are six species of them Ocypode ceratophthalmus (Stimpson, 1858), Grapsus albolineatus (Latreille in Milbert, 1892), Eriphia sebana (Shaw and Nodder, 1803), Atergatis floridus (Linnaeus, 1767), Pilumnus vespertilio (Fabricius, 1793), Episesarma mederi (Edwards, 1853). Keywords: Coastal; Habitat; Crabs; Morphology; meristic Abstrak Terdapat jenis kepiting yang hidup di daerah hutan dan supratidal, di daerah pesisir pantai berpasir, berbatu dan berlumpur. Tujuan penelitian mengidentifikasi secara morfologi, meristik kepiting dan pengaruh fase bulan terhadap keanekaragaman spesies. Lokasi pengambilan sampel di pesisir pantai Kelurahan Pondang dan Desa Lopana, pengambilan sampel menggunakan metode jelajah serta dilakukan pada dua fase surut terendah saat fase bulan mati dan purnama, saat surut terendah umumnya dijumpai kepiting yang memiliki kaki jalan. Berdasarkan identifikasi morfologi kepiting yang ditemukan di pesisir pantai Kelurahan Pondang dan Desa Lopana, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, terdapat enam spesies antaranya Ocypode ceratophthalmus (Stimpson, 1858), Grapsus albolineatus (Latreille dalam Milbert,1892), Eriphia sebana (Shaw dan Nodder, 1803), Atergatis floridus (Linnaeus, 1767), Pilumnus vespertilio (Fabricius, 1793), Episesarma mederi (Edwards, 1853). Kata Kunci : Pesisir; Habitat; Kepiting; Morfologi; Meristik
Back to Top Top