Journal Information
EISSN : 2337-5949
Published by: Universitas Sam Ratulangi (10.35790)
Total articles ≅ 946
Filter:

Latest articles in this journal

Matthew A Kumaat, Harsali Lampus, Nathaniel Pali
Published: 18 April 2022
e-CliniC, Volume 10, pp 167-172; https://doi.org/10.35790/ecl.v10i2.37617

Abstract:
: Inguinal hernia in infant is a condition of protrusion of the intestinal organs due to the patency of processus vaginalis. The ratio of incidence between male and female infants is approximately 8:1. The incidence of inguinal hernia ranges from 1-5% in children and full-term infants, whereas in premature infants there is a significant increase in the number, which is around 30%. Clinical manifestations that can occur in infants with inguinal hernias are the appearance of a lump when straining, crying, coughing, or sneezing, patient could look restless because of the pain and discomfort. The diagnosis of inguinal hernia can be made by history taking, physical examination, and supporting examination. Management of inguinal hernia is by surgery, can be an open herniotomy or laparoscopy. Keywords: inguinal hernia; infant Abstrak: Hernia inguinalis pada bayi merupakan kondisi penonjolan organ intestinal akibat adanya patensi prosesus vaginalis. Perbandingan rasio kejadian antara anak laki-laki dan perempuan kurang lebih sekitar 8:1. Insidensi hernia inguinalis berkisar 1-5% pada anak dan bayi cukup bulan, sedangkan pada bayi prematur terdapat kenaikan angka yang bermakna yaitu sekitar 30%. Manifestasi klinis yang dapat terjadi pada anak dengan hernia inguinalis adalah timbulnya benjolan pada saat mengedan, menangis, batuk, atau bersin, anak terlihat gelisah karena nyeri dan rasa tidak nyaman. Penegakan diagnosis hernia inguinalis dapat dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Tatalaksana hernia inguinalis ialah dengan herniotomi terbuka atau laparoskopi. Kata kunci: hernia inguinalis; bayi
Rinaldy T. Setiawan, Eko Prasetyo, Maximillian Ch. Oley, Fredrik G. Langi
Published: 18 April 2022
e-CliniC, Volume 10, pp 160-166; https://doi.org/10.35790/ecl.v10i2.39165

Abstract:
: Traumatic brain injuries (TBI) are determined by the severity of the primary and secondary brain damage. Fibronectin and FOUR score are suggested to be diagnostic and prognostic predictors in patients with traumatic brain injuries (TBI). This study aimed to evaluate the relationship between serum fibronectin level and FOUR score in TBI patients. This was an observational study with a prospective cohort method design, conducted on TBI patients admitted to the emergency room at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. Serum fibronectin examination and assessment of the level of consciousness determined by the FOUR score were performed when the patient entered the emergency room 7 ng/ml would increase mortality 33 times and the incidence of mortality increased 23 times. A FOUR score of 8 or less had mortality 34 times and a relative risk of 28 times. In conclusion, there is a significant relationship between serum fibronectin level and FOUR score in terms of stratification of TBI patients. Elevated serum fibronectin level can be used as a diagnostic biomarker and prognostic evaluation of mortality in TBI patients. Keywords: fibronectin; FOUR score; traumatic brain injury  Abstrak: Fibronektin dan Skor FOUR disarankan sebagai prediktor diagnostik dan prognositk pada pasien COT. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara kadar fibronektin serum dan skor FOUR pada pasien COT. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain metode kohort prospektif, dilakukan pada pasien COT yang masuk ke IGD RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Pemeriksaan fibronektin serum dan penilaian tingkat kesadaran ditentukan dengan skor FOUR dilakukan saat pasien masuk ke IGD <24 jam. Model regresi proporsional digunakan untuk menilai hubungan antara kadar fibronektin serum dan skor FOUR. Hasil penelitian mendapatkan 65pasien COT. Median skor FOUR 13, 8 pasien (12%) COT risiko tinggi (FOUR 0-7), median kadar serum fibronektin 4 ng/ml, 7 pasien (11%) meninggal. Fibronektin sebagai faktor prognostik, khususnya mortalitas, tidak berbeda dengan skor FOUR, regresi logistik mengestimasi bahwa kadar serum fibronektin >7 ng/ml mening-katkan OR mortalitas 33 kali dan insidens mortalitas 23 kali. skor FOUR 8 memiliki odds mortalitas 34 kali dan resiko relatif 28 kali. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara kadar serum fibronektin dan Skor FOUR dalam hal stratifikasi pasien COT. Peningkatan kadar serum fibronektin dapat dijadikan sebagai biomarker diagnostik dan evaluasi prognostik mortalitas pasien COT. Kata kunci: fibronektin; skor FOUR; cedera otak traumatik
Deviestha A. Grace, John J. E. Wantania, Frank M. M. Wagey
Published: 18 April 2022
e-CliniC, Volume 10, pp 242-249; https://doi.org/10.35790/ecl.v10i2.38124

Abstract:
Pregnancy with previous cesarean section (CS) is risky due to the presence of stiff uterine scar tissue which may rupture during pregnancy or delivery. However, the restrictions on health services during the Covid-19 pandemic coupled with the unequal distribution of vaccinations for pregnant women become a great concern and challenge. This study aimed to obtain the profile of pregnant women with previous SC during Covid-19 pandemic. This was a descriptive and observa-tional survey study with a cross sectional design. Samples were all pregnant women with previous SC who came for antenatal care at Puskesmas Makale and RSUD Lakipadada Tana Toraja from October to December 2021. The results showed that of 48 pregnant women with previous SC the highest percentages were, as follows: ages of 25-35 years (81.3%); had one previous SC (81.3%); had planned the pregnancy (72.9%); admitted that had known the risk of pregnancy (79.2%); had more frequent antenatal care (43.8%); had known the estimated delivery (89.6%); and preferred VBAC (52.1%) at a health facility (93.8%). In conclusion, most of the pregnant women admitted that they had planned their pregnancies and known the risks of pregnancy with previous SC during the Covid-19 pandemic, therefore, they had more frequent antenatal care. They also knew their esti-mated delivery and tended to choose a VBAC at a health facility.Keywords: risky pregnancy; previous cesarean section; Covid-19 pandemic Abstrak: Kehamilan dengan bekas seksio sesarea(SC) merupakan salah satu kehamilan berisiko, dikaitkan dengan adanya jaringan kaku parut uterus yang mungkin dapat ruptur selama kehamilan atau persalinan. Dalam masa pandemi pembatasan yang dilakukan di layanan kesehatan ditambah belum meratanya vaksinasi bagi ibu hamil menjadi kekhawatiran dan tantangan tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil ibu hamil dengan bekas SC, pada masa pandemi Covid-19. Jenis penelitian ialah observasional deskriptif survei dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah ibu hamil dengan bekas SCyang datang untuk pemeriksaan antenatal di Puskesmas Kecamatan Makale dan RSUD Lakipadada Tana Toraja pada bulan Oktober-Desember 2021. Hasil penelitian mendapatkan 48 ibu hamil bekas SC dengan distribusi terbanyak yaitu usia 25-35 tahun (81,3%); riwayat SCsatu kali (81,3%); telah merencanakan kehamilannya (72,9%); mengaku sudah mengetahui risiko kehamilan dengan bekas SC (79,2%); lebih sering melakukan pemeriksaan antenatal (43,8%); dan telah mengetahui taksiran persalinannya (89,6%) dengan preferensi metode persalinan VBAC (52,1%) di fasilitas kesehatan (93,8%). Simpulan penelitian ini sebagian besar ibu memang telah merencanakan kehamilannya dan mengaku sudah mengetahui risiko kehamilan dengan bekas SC pada masa pandemi Covid-19, sehingga mayoritas melakukan pemeriksaan antenatal lebih sering. Mayoritas ibu hamil telah mengetahui taksiran persalinannya dan jika dapat memilih mereka cenderung memilih metode persalinan VBAC di fasilitas kesehatan. Kata kunci: kehamilan berisiko; bekas seksio sesarea;pandemiCovid-19
Daniel D. Setiono, Frans E. N. Wantania, Efata B. I. Polii
Published: 18 April 2022
e-CliniC, Volume 10, pp 234-241; https://doi.org/10.35790/ecl.v10i2.37814

Abstract:
The concern of NAFLD is its complications which can progress to cirrhosis and liver failure. Therefore, it is necessary to understand the risk factors for NAFLD which could facilitate any efforts to reduce its prevalence. This study aimed to determine the risk factors for NAFLD, especially in adulthood. This was a literature review study using three databases, namely Clinical Key, Pubmed, and ScienceDirect. The keywords used were Risk Factors of NAFLD in adult. The results obtained 13 articles to be reviewed. Many risk factors for NAFLD in adulthood inter alia: increased score HOMA-IR, PNPLA3 GG gene, presence of serum antibodies, villagers with a family history of metabolism disorder, serum selenium level ≥130 g/L, sleep duration of more than 8 hours, high pre-pregnancy maternal body mass index, various types of gene including PNPLA3, GKCR, TM6SF2, HSD17B13, MBOAT7, PPP1R3B, IRGM and LPIN1, consumption of sugar-rich drinks, increased SUA levels, obesity, pre-diabetes, and excessive food intake during lactation. In conclusion, there is a wide variety of risk factors for NAFLD in adults. Keywords: non-alcoholic fatty liver disease; risk factors; adulthoodAbstrak: Hal yang dikhawatirkan dari NAFLD ialah bila terjadi komplikasi yang dapat berlanjut menjadi sirosis dan kegagalan fungsi hati. Pemahaman terhadap faktor-faktor risiko NAFLD akan memudahkan usaha menurunkan prevalensi penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai faktor risiko NAFLD, khususnya pada usia dewasa. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu ClinicalKey, Pubmed, dan ScienceDirect. Kata kunci yang digunakan ialah Risk Factors of NAFLD in adult. Hasil penelitian mendapatkan 13 artikel untuk di review setelah dilakukan penyesuaian berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.Faktor-faktor risiko dari NAFLD pada usia dewasa, yaitu peningkatan skor HOMA-IR, gen PNPLA3 GG, adanya serum antibodies, penduduk desa dengan riwayat keluarga gangguan metabolik, kadar serum selenium ≥130 μg/L, tidur dengan durasi lebih dari 8 jam, BMI ibu pra-kehamilan yang tinggi, berbagai macam gen seperti PNPLA3, GKCR, TM6SF2, HSD17B13, MBOAT7, PPP1R3B, IRGM dan LPIN1, mengonsumsi minuman kaya gula, peningkatan kadar SUA, obesitas, pre-diabetes dan pemberian asupan makanan yang berlebihan selama masa menyusui. Simpulan penelitian ini ialah terdapat berbagai faktor risiko NAFLD yang sangat bervariasi pada usia dewasa. Kata kunci:non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD); faktor risiko; usia dewasa
Virgyano L. Dompas, Hermie M. M. Tendean, Erna Suparman
Published: 18 April 2022
e-CliniC, Volume 10, pp 271-277; https://doi.org/10.35790/ecl.v10i2.38132

Abstract:
: Failure to prioritize maternal health during the COVID-19 pandemic will affect maternal mortality ratio (MMR). This study aimed to obtain the evaluation of labor during the COVID-19 pandemic. This was a descriptive and retrospective study with a cross-sectional design using the medical record data of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital in Manado. The results obtained 858 cases of labor. Based on maternal characteristics, most labors were carried out in the age group of 20-34 years (69.23%), household work (72.14%), senior high school education (51.52%), and parity of 1-4 times (60.72%). The highest percentage of labor was cesarean section (62.35%). Most of the antenatal care was carried out 4-6 times(34.62%) by obstetrician-gynecologists (40.09%). The most common labor complication was fetal distress (27.29%). Maternal deaths were 20 cases, most were caused by respiratory failure (50%). Perinatal mortality was 82 cases with the most common cause of death was intra uterine fetal death/IUFD (41.46%).The maternal mortality rate was 2442 cases per 100,000 live births meanwhile the perinatal mortality rate was 100.12 per 1000 live births. In conclusion, the most common labor was section caesarea. Respiratory failure was the most common cause of maternal mortality and IUFD was the most common cause of perinatal mortality. Keywords:  labor, COVID-19, characteristics, maternal mortality, perinatal death Abstrak: Kegagalan dalam mengutamakan kesehatan ibu selama pandemi COVID-19 akan memengaruhi angka kematian ibu (AKI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi persalinan di masa pandemi COVID-19.Jenis penelitian ialah retrospektif deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan data rekam medik Januari s/d Agustus 2021 di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado.Hasil penelitian mendapatkan 858 kasus persalinan. Berdasarkan karakteristik, persalinan paling banyak dilakukan pada kelompok usia 20-34 tahun (69,23%), pekerjaan ibu rumah tangga (IRT) (72,14%), pendidikan SLTA (51,52%), serta paritas 1-4 kali (60,72%). Jenis persalinan tertinggi yaitu persalinan seksio sesarea (62,35%). Pelayanan antenatal paling banyak dilakukan oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi (40,09%). Frekuensi pelayanan antenatal tertinggi yaitu sebanyak 4-6 kali (34,62%). Komplikasi persalinan tertinggi yaitu gawat janin (27,29%). Kematian maternal sebanyak 20 kasus dengan penyebab kematian tertinggi gagal napas (50%). Kematian perinatal sebanyak 82 kasus dengan penyebab kematian tertinggi IUFD (41,46%).Angka kematian maternal yaitu 2442 kasus per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian perinatal yaitu 100,12 per 1000 kelahiran hidup. Simpulan penelitian ini ialah jenis persalinan tertinggi seksio sesarea dengan gagal napas sebagai penyebab utama kematian maternal dan intrauterine fetal death (IUFD) sebagai penyebab utama kematian perinatal. Kata kunci: persalinan; kematian maternal; kematian perinatal; COVID-19
Alviolita P. Rondonuwu, Johnny L. Rompis, David S. Waworuntu
Published: 18 April 2022
e-CliniC, Volume 10, pp 190-200; https://doi.org/10.35790/ecl.v10i2.37701

Abstract:
Patent ductus arteriosus (PDA) is a congenital heart disease caused by failure of the ductus arteriosus to close immediately after birth. PDA can cause hemodynamic disturbances in premature infants as well as increased morbidity and mortality. Therefore, it needs to be closed immediately. Closuring of the PDA can use ibuprofen as a cyclooxygenase (COX) inhibitor, however, there are potential side effects. Paracetamol can be used as an alternative that acts as a peroxidase (POX) inhibitor with few side effects. This study aimed to compare the efficacy of paracetamol and ibuprofen on PDA closure in premature infants. This was a literature review, using four databases, such as Pubmed, ClinicalKey, Cochrane and ScienceDirect. The keywords used were paracetamol AND ibuprofen AND patent ductus arteriosus AND preterm AND newborn. Selection with inclusion and exclusion criteria obtained 13 articles. Paracetamol was as effective as ibuprofen for PDA closure therapy in premature infants. Paracetamol was safer than ibuprofen due to ibuprofen’s side effects. In conclusion, paracetamol is as effective as ibuprofen and is safer to be used in PDA closure therapy in premature babies. Keywords: paracetamol; ibuprofen; patent ductus arteriosus; preterm; newborn Abstrak: Patent ductus arteriosus (PDA) adalah penyakit jantung kongenital akibat gagalnya ductus arteriosus untuk menutup segera setelah lahir. PDA dapat menyebabkan gangguan hemodinamika pada bayi prematur, serta meningkatkan morbiditas dan mortalitas sehingga perlu segera ditutup. Penutupan PDA dapat menggunakan ibuprofen sebagai penghambat cyclo oxygenase (COX), namun terdapat efek samping potensial yang ditimbulkan. Parasetamol dapat digunakan sebagai alternatif yang bekerja menghambat peroksidase (POX) dengan sedikit efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efikasi parasetamol dan ibuprofen untuk penutupan PDA pada bayi prematur. Penelitian ini berbentuk literature review, menggunakan empat database yaitu Pubmed, ClinicalKey, Cochrane dan ScienceDirect. Kata kunci yang digunakan yaitu paracetamol AND ibuprofen AND patent ductus arteriosus AND preterm AND newborn. Hasil seleksi dengan kriteria inklusi dan eksklusi mendapatkan 13 literatur. Hasil penelitian mendapatkan bahwa parasetamol sama efektif dengan ibuprofen untuk terapi penutupan PDA pada bayi prematur. Parasetamol lebih aman dibandingkan ibuprofen akibat efek samping yang ditimbulkan. Simpulan penelitian ini ialah parasetamol sama efektif dengan ibuprofen serta lebih aman untuk digunakan sebagai terapi penutupan PDA pada bayi prematur. Kata kunci: parasetamol; ibuprofen; patent ductus arteriosus; prematur; bayi
Andreas K. Suwito, Eko Prasetyo, Maximillian Ch. Oley, Fredrik G. Langi
Published: 18 April 2022
e-CliniC, Volume 10, pp 208-213; https://doi.org/10.35790/ecl.v10i2.39168

Abstract:
: Traumatic brain injury (TBI) occurs worldwide causing death and serious disability. Adequate initial assessment of the level of consciousness with GCS and early intervention are critical components of managing a patient with TBI. Levels of fibronectin, especially c-Fn in patients with severe TBI, increase significantly over time for several days after the trauma and are associated with poorer disease prognosis. This study aimed to analyze the relationship between serum fibronectin level and the Glasgow coma scale in patients with TBI and serum fibronectin level as a predictive parameter of trauma severity in TBI. Plasma fibronectin levels were measured blindly using ELISA according to the ELISA kit instructions for fibronectin. There were 65 COT patients as samples. The majority of patients had mild to moderate COT, and only 10 (15%) patients were in the severe COT category (GCS 3-8). The distribution of serum fibronectin level was moderately skewed to the right with a median of 4 ng/ml (IQR 2.7-6.4 ng/ml).In conclusion, there is a negative relationship between serum fibronectin and GCS which could be used for COT stratification. Serum fibronectin levels tend to be high in patients with low GCS or severe COT. Fibronectin is also high in patients that did not survive. Keywords: fibronectin; Glasgow coma scale; traumatic brain injury  Abstrak: Cedera otak traumatik (COT) banyak terjadi di seluruh dunia dan menyebabkan kematian dan disabilitas berat. Penilaian awal dengan Glasgow coma scale (GCS) dan intervensi yang dini merupakan komponen yang penting dalam menangani pasien. Kadar fibronektin khususnya c-Fn pada pasien dengan trauma kepala berat meningkat secara bermakna seiring waktu selama beberapa hari setelah trauma kepala dan berhubungan dengan prognosis penyakit yang lebih buruk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar serum fibronektin dengan GCS pada pasien COT dan kadar serum fibronektin sebagai parameter prediktif tingkat keparahan trauma. Kadar fibronektin plasma diukur secara blind menggunakan ELISA sesuai instruksi kit ELISA untuk fibronektin. Sampel penelitian berjumlah 65 orang pasien COT. Umumnya pasien mengalami COT ringan atau sedang, dan hanya 10 orang (15%) pasien berada pada kategori COT berat (GCS 3-8). Distribusi kadar serum fibronektin cukup miring ke kanan dengan median 4 ng/ml (IQR 2,7-6,4 ng/ml). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan negatif antara fibronektin serum dan GCS yang dapat digunakan untuk stratifikasi COT. Kadar serum fibronektin cenderung tinggi pada pasien dengan GCS rendah atau COT relatif berat. Fibronektin juga ditemukan tinggi pada pasien yang meninggal. Kata kunci: fibronektin; Glasgow coma scale; cedera otak akibat trauma
Ivan D. P. Sunardi, Ari Astram, Christof Toreh, Eko Arianto, Fredrik G. Langi
Published: 18 April 2022
e-CliniC, Volume 10, pp 221-227; https://doi.org/10.35790/ecl.v10i2.39811

Abstract:
: Fournier’s gangrene is a form of necrotizing fasciitis that begins in the genital and perineal areas and can extend through the fascia to the groin, thigh, and even the abdominal wall. This disease is still associated with a high mortality rate even though with comprehensive therapy. Simple examination, such as a complete blood count, is widely used as a marker of inflammation and could be used as a prognostic factor for Fournier’s gangrene. This study aimed to compare Fournier Gangrene Severity Index (FGSI) and complete blood count as a prognostic factor in Fournier’s gangrene cases by using machine learning. This was an observational study with a longitudinal data collection design according to cohort method. The results obtained 30 patients with Fournier’s gangrene at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado. Mortality prediction analysis using algorithms of regularized generalized linear model (GLM) and support vector machine (SVM) showed that the AUCs were 98% and 97.5% for GLM and SVM respectively for the regularized GLM and SVM in the ROC curve analysis, with the superiority to the FGSI (p<0.001). In conclusion, the complete blood count could be used as a novel prognostic value of Fournier’s gangrene cases. Keywords: complete blood count; Fournier Gangrene Severity Index (FGSI); prognostic scoring system; Fournier’s gangrene  Abstrak: Gangren Fournier adalah bentuk fasiitis nekrotikans yang dimulai di daerah genital dan perineum dan dapat meluas melalui fasia ke selangkangan, paha, dan bahkan dinding perut. Penyakit ini masih dikaitkan dengan angka kematian yang tinggi meskipun dengan terapi komprehensif. Pemeriksaan sederhana seperti hitung darah lengkap, banyak digunakan sebagai penanda peradangan dan dapat digunakan sebagai faktor prognostik untuk gangren Fournier. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan Fournier Gangrene Severity Index (FGSI) dengan pemeriksaan parameter hitung darah lengkap sebagai faktor prognostik pada kasus dengan gangren Fournier menggunakan machine learning. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain pengumpulan data longitudinal menurut metode kohort. Hasil penelitian mendapatkan 30 pasien dengan gangren Fournier di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Analisis prediksi mortalitas menggunakan algoritma Regularized Generalized Linear Model (GLM) dan Support Vector Machine (SVM) menunjukkan bahwa AUC masing-masing sebesar 98% dan 97,5% untuk GLM dan SVM tereguler pada analisis kurva ROC, dengan keunggulan dibandingkan FGSI (p<0,001). Simpulan penelitian ini ialah pemeriksaan darah lengkap dapat dijadikan sebagai faktor prognostik baru untuk kasus gangren Fournier. Kata kunci: hitung darah lengkap; Fournier Gangrene Severity Index (FGSI); sistem skoring prognostik; gangren Fournier
Marelda I. C. Wilar, Marlyn G. Kapantow, Pieter L. Suling
Published: 18 April 2022
e-CliniC, Volume 10, pp 257-262; https://doi.org/10.35790/ecl.v10i2.38105

Abstract:
: Acne vulgaris is one of the skin problems characterized by chronic inflammation of pilosebaceous follicles which leads to the present of pleomorphic array of lesions, consisting of comedones, papules, pustules, nodules, cysts with varying extent and severity, which may associated by pain and itchiness. This study aimed to identify the effects of dietary intake on acne vulgaris. This was a literature review study using three databases namely Pubmed, Google Scholar, and British Journal of Dermatology. The results obtained 10 articles that met the inclusion and exclusion criteria. Foods with high glycemic load, high in fat, milk, cheese, yoghurt, candies, cakes, ice cream, and alcohol could exacerbate acne vulgaris. Consuming fish, fruits, and vegetables was protective against acne vulgaris. In conclusion, certain foods affect the development of acne vulgaris. Keywords: acne vulgaris; diet  Abstrak: Akne vulgaris merupakan salah satu masalah kulit yang ditandai dengan adanya peradangan kronis pada folikel pilosebasea sehingga muncul lesi polimorfik dengan tingkat dan keparahan bervariasi seperti komedo, papul, pustul, nodus, kista, yang dapat disertai nyeri dan gatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh makanan terhadap akne vulgaris. Penelitian ini berbentuk suatu literature review yang menggunakan databasePubmed, Google Scholar, dan British Journal of Dermatology. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Makanan dengan indeks glikemik tinggi, tinggi lemak, susu, keju, yogurt, permen, kue, es krim, cokelat, dan alkohol dapat memperburuk perkembangan akne vulgaris. Mengonsumsi ikan, buah, dan sayur merupakan faktor protektif dari akne vulgaris. Simpulan penelitian ini ialah makanan tertentu memengaruhi perkembangan akne vulgaris. Kata kunci: akne vulgaris; makanan
Felisca Carisa, Octavia D. Wahyuni
Published: 18 April 2022
e-CliniC, Volume 10, pp 250-256; https://doi.org/10.35790/ecl.v10i2.39185

Abstract:
: Developments in various fields at this time provide a lot of pressure that causes anxiety and tension. Anxiety and depression are inhibiting factors for student academic achievement and must be overcome. Each individual responds differently to stressors and requires a different management approach. Many therapies are used to control anxiety, one of them is progressive muscle relaxation. The tension or anxiety felt can be lost or reduced when the position of the tense muscle is known and progressive muscle relaxation therapy is carried out. This study aimed to determine the effect of progressive muscle relaxation on the anxiety level of students of the Faculty of Medicine, Universitas Tarumanagara. This was an analytical study with a pretest-posttest control group design. Subjects were 80 students obtained by using the non-probability sampling technique and divided into control and experimental groups. Anxiety levels were measured using the Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) questionnaire. The data obtained were analyzed using paired t-test. The results showed a significant change in the level of anxiety in the experimental group before being given progressive muscle relaxation with a mean of 34.43 (severe anxiety) then decreased to 15.55 (mild anxiety) right after being given progressive muscle relaxation (p<0.0001). In conclusion, progressive muscle relaxation can be applied to reduce anxiety levels. Keywords: progressive muscle relaxation; anxiety level; medical students Abstrak: Perkembangan di berbagai bidang masa kini memberikan banyak tekanan yang mengakibatkan kecemasan serta ketegangan. Kecemasan dan depresi menjadi salah satu faktor penghambat prestasi akademik mahasiswa yang harus segera diatasi. Setiap individu memberikan tanggapan berbeda terhadap stresor sehingga membutuhkan pendekatan tatalaksana yang berbeda pula. Telah banyak terapi yang digunakan untuk mengendalikan kecemasan, salah satunya relaksasi otot progresif. Ketegangan atau kecemasan yang dirasakan dapat hilang atau berkurang ketika posisi otot yang mengalami ketegangan diketahui dan dilakukan terapi relaksasi otot progresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain pretest-posttest control group. Subyek penelitian sebanyak 80 mahasiswa diambil menggunakan teknik non-probability sampling dan dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). Data perolehan dianalisis menggunakan t-test paired. Hasil penelitian menunjukkan perubahan bermakna tingkat kecemasan pada kelompok perlakuan sebelum diberikan relaksasi otot progresif dengan rerata 34,43 (kecemasan berat) kemudian menurun menjadi 15,55 (kecemasan ringan) tepat setelah diberikan relaksasi otot progresif (p<0,0001). Simpulan penelitian ini ialah relaksasi otot progresif dapat diaplikasikan untuk menurunkan tingkat kecemasan. Kata kunci: relaksasi otot progresif; tingkat kecemasan; mahasiswa kedokteran
Back to Top Top