JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan

Journal Information
ISSN / EISSN : 2407-7208 / 2528-5890
Published by: IAIN Syekh Nurjati Cirebon (10.24235)
Total articles ≅ 102
Filter:

Latest articles in this journal

Winarto Winarto, Nopinka Putri Herdiyana, Ibnu Farhan
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 8, pp 117-137; https://doi.org/10.24235/jy.v8i1.9731

Abstract:
Kemajuan teknologi di era modern tak bisa dielakkan. Berbagai kegiatan beralih dari manual ke digital. Kaum milenial, yakni para remaja memiliki kecenderungan tertarik pada kemudahan dan kecepatan dalam mengakses berbagai macam informasi yang tersedia di dunia maya. Fenomena ini satu sisi membuka peluang untuk memperoleh informasi pengetahuan sebanyak-banyaknya. Namun, disisi lain mereka mendapat tantangan rentan terpapar radikalisme karena informasi begitu beragam, termasuk narasi- narasi paham intoleransi yang dibangun kelompok tertentu. Penelitian ini meneliti bagaimana para remaja mampu menangkal paham tersebut dengan pendekatan konsep Tauhid Amali. Obyek penelitian ini adalah Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (RISMA JT). Penelitian ini memotret paham tauhid melalui kegiatan keagamaan yang dilakukan mereka. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan peran RISMA JT dalam mencegah paham intoleransi dan radikalisme bagi kalangan remaja. Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode analisis-deskriptif. Selanjutnya, data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan pendekatan teologis dan fenomenologis. Hasil dari penelitian ini secara umum ada tiga kegiatan yang dilakukan oleh RISMA JT untuk meningkatkan ketauhidan para anggotannya, yaitu penanaman awal sejak tahap rekrutmen, kajian Tauhid dasar dari kitab Aqidatul Awam dan melalui kegiatan Kajian Remaja Mingguan (KARIM). Berdasarkan kajian paham keagamaan tersebut, RISMA JT sudah memiliki pandangan Tauhid yang moderat, walaupun belum bisa dikatakan ideal. Adapun langkah-langkah kongkrit yang dilakukan RISMA JT dalam mengoptimalkan pemahaman Tauhid dalam upaya mencegah paham intoleransi dan radikalisme adalah: Pertama, berperan serta dalam gerakan anti paham intoleran dan radikalisme. Kedua, partisipasi aktif dalam penguatan nasionalisme remaja. Ketiga, mengintegrasikan konsep Tauhid dengan teknologi.
Surawardi Surawardi, Ahmad Riyadh Maulidi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 8, pp 36-50; https://doi.org/10.24235/jy.v8i1.9771

Abstract:
Filsafat merupakan usaha seseorang untuk mengetahui segala sesuatu yang berawal dari rasa ingin tahu dan sikap ragu. Rasa ingin tahu dan sikap ragu inilah yang kemudian memunculkan teori-teori ilmiah yang pada akhirnya akan berkembang menjadi sebuah ilmu pengetahuan. Seiring dengan perkembangan pemikiran manusia, sampailah pada pemikiran bahwa satu-satunya sumber ilmu pengetahuan adalah alam yang realistis. Pengetahuan harus bersumber dari hal-hal faktual yang bersifat empiris. Aliran ini disebut dengan aliran filsafat positivisme. Hal-hal faktual yang mendapat kedudukan besar oleh aliran ini menarik bagi peneliti untuk mengkaji lebih lanjut bagaimana peran aliran filsafat positivisme dalam perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus kontribusinya terhadap pendidikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat positivisme memiliki peran yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu di zaman modern. Peran tersebut juga dirasakan oleh dunia pendidikan, misalnya perannya dalam perkembangan kurikulum pendidikan, metode pembelajaran dan lahirnya studi keislaman dengan pendekatan ilmiah.
MaD Sa'I, Muliatul Maghfiroh
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 8, pp 68-84; https://doi.org/10.24235/jy.v8i1.9134

Abstract:
Manusia merupakan makhluk yang paling unik, sehingga sangat menarik untuk dikaji. Disadari ataupun tidak kita seringkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar seperti “apakah tujuan hidup kita?.”Pertanyaan ini biasanya disebut dengan pertanyaan eksistensial. Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa cara yang dapat ditempuh baik melalui dogma-dogma agama yang tertuang dalam teks-teks suci keagamaan maupun melalui metode ilmiah atau sains atau kita melakukan penalaran filsafatis. Bila kita mencari jawabannya melalui dogma-dogma agama maka jalan ini tidak akan membawa pada kepuasan intelektual karena Religions way of knowledge yang seringkali tidak menggunakan argumentasi yang kritis di samping dominannya klaim kebenaran (truth claim) apalagi bila kita dihadapkan dengan pluralitas paham keagamaan, maka hal ini akan membawa kita kepada kebingungan. Sedangkan jika kita melalui jalan sains maka jawaban yang diperoleh adalah jawaban yang positivistik, alih-alih mengungkapkan sisi kemanusiaan kita yang dinamis malah yang terjadi adalah gambaran manusia yang operasionalistik-mekanistik dan ini akan mereduksi kompleksitas dimensi keberadaan manusia. Untuk mengantisipasi kedua hal di atas maka kita dapat menggunakan penalaran filsafatis, karena filsafat dapat mengatasi cara berpikir dogmatik dari agama dan cara berpikir positivistik dari sains, dengan tidak menafikan fungsi dari agama dan sains.
Usan Usan, Betty Mauli Rosa Bustam
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 8, pp 102-116; https://doi.org/10.24235/jy.v8i1.9413

Abstract:
Pemahaman yang dianut oleh masyarakat Indonesia berbeda-beda, perbedaan itu cenderung menimbulkan problematik antar kelompok beragama, apalagi jika kelompok itu menganggap kebenaran dan keselamatan hanya pada kelompok mereka. Upaya yang bisa dilakukan membendung masalah itu adalah dengan belajar Islam secara mendalam (filsafat Islam), karena belajar filsafat Islam membuat yang bersangkutan lebih bijak dalam menilai sesuatu. Implikasi lain dari belajar filsafat adalah terwujudnya perilaku moderat. Moderat merupakan manifestasi dari ajaran Islam sebagai ajaran rahmatan lil alamin. Islam datang dengan dasar-dasar spiritual yang menjamin stabilitas, kedamaian dan persaudaraan bagi penduduk bumi. Orang yang dangkal dalam memahami agama, cenderung berperilaku radikal, mengaggap dirinya paling benar dan yang lain salah. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan library research. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa belajar filsafat Islam berimplikasi pada perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak mudah menyalahkan orang lain, karena semakin mendalam pengetahuan agama (Islam) nya, semakin bijak ia menilai perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat.
Yohanes Hasiholan Tampubolon
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 8, pp 18-35; https://doi.org/10.24235/jy.v8i1.9309

Abstract:
Kerusakan Lingkungan adalah isu yang seakan tidak pernah usai. Para ahli terus mencoba merumuskan etika lingkungan yang bersahabat dengan lingkungan. Namun, perdebatan mengenai definisi dan konsep etika lingkungan seakan tidak menemui jalan akhir. Tulisan ini ingin menjelaskan bahwa kecenderungan moralisme para ahli etika lingkungan justru tidak akan berdampak besar pada kenyataan kerusakan lingkungan saat ini. melalui metode kajian kepustakaan, penulis menemukan bahwa kerusakan lingkungan tidak berasal dari etika buruk seseorang, namun ada faktor lain juga yang turut memengaruhi kerusakan lingkungan, yakni kapitalisme. Hal ini tidak berarti perilaku merusak yang dilakukan manusia tidak perlu dikutuk secara moral, namun yang perlu dihindari adalah kecenderungan moralisme, yakni menganggap persoalan lingkungan dapat diselesaikan dengan menghasilkan gagasan etika lingkungan yang bersahabat dengan seluruh alam.
Sumanta Sumanta
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 8, pp 162-181; https://doi.org/10.24235/jy.v8i1.11020

Abstract:
The subject of the relationship between religion and the state in society appears to be inexhaustible in modern Islamic studies discourse. The legal-formalistic understanding of Islam, which requires Islam to be manifested in the form of legalism and symbolism in the form of an Islamic state, has become something that appears to be discussed in various parts of the world, including Indonesia, especially since the Prophet Muhammad's death. In this context, it's worth considering the views of one of Indonesia's Islamic leaders, Nurcholis Madjid, on inclusivity in studying the relationship between religion and the state, where he proposes a democratic approach. In the elements of his thinking and speech, this research paper will further analyze the relationship between religion and the state.
Lathif Hanafir Rifqi, Ana Zahrotun Nihayah
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 8, pp 138-148; https://doi.org/10.24235/jy.v8i1.10100

Abstract:
Istilah rasionalisme popular ketika dikonstruksi oleh Rene Descartes (pemikir filsafat zaman modern 1500-1800 M) dan menjadi sebuah madzhab yang diikuti oleh banyak masyarakat Eropa pada saat itu. Meskipun begitu, rasionalisme telah menjadi ciri khas bagi sebagian besar tokoh filsafat yang memiliki cara pemikiran rasional. Pemikiran rasional ini juga diterapkan oleh tokoh filsafat klasik (600 SM- 400M) yang popular yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles. Studi ini menggunakan metode kepustakaan dengan fokus pada analisis konsep rasionalisme oleh pemikir filsafat klasik yang diimplementasikan dalam konteks perekonomian. Socrates mendesign metode kebidanan (maieutika) dalam kerangka pemikiran filsafatnya. Idea menjadi metode pemikiran filsafat yang dikembangkan oleh Plato. Sementara, Aristoteles dianggap sebagai bapak logika karena memproduksi teori saintifik logis yang memiliki manfaat diberbagai bidang. Pemikiran rasionalis ketiga tokoh filsafat klasik juga dapat diimplementasikan dalam bidang ekonomi di antaranya metode kebidanan (maieutika) Socrates yang seringkali digunakan untuk melakukan studi kelayakan dalam sebuah bisnis. Dalam studi kelayakan, dibutuhkan informasi komprehensif yang didapatkan secara terstruktur untuk mendapatkan keputusan bisnis yang tepat dan rasional. Implementasi dari konsep idea Plato sering digunakan oleh pelaku bisnis dalam menerapkan spiritual company di perusahaan yang sedang dikelola. Sementara, pemikiran Aristoteles tentang ekonomi adalah mengenai konsep pertukaran barang dan jasa. Ekonomi berjalan karena adanya pertukaran barang dan jasa dalam tiga kegiatan utama ekonomi yaitu konsumsi, produksi, dan distribusi.
Sheva Alana Brilianty, Imam Yuadi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 8, pp 1-17; https://doi.org/10.24235/jy.v8i1.9791

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan penelitian yang berkaitan dengan “digital philosophy”. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan penelusuran pada Scopus. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan analisis bibliometric yang dijelaskan tahapannya dengan flowchart. Perangkat lunak VOSviewer digunakan sebagai alat untuk membantu penelitian. Hasil penelusuran yang didapatkan sebanyak 123 dokumen yang kemudian di export dalam bentuk RIS dan diolah menggunakan software VOSviewer. Dari hasil penelusuran diketahui terdapat 3 cluster, terdapat 6 pengarang yang memiliki hubungan kolaborasi dalam penulisan karya ilmiah mengenai “digital philosophy”. Selain itu, didapatkan hasil bahwasanya penelitian mengenai “digital philosophy” mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Minds and machine adalah sumber jurnal yang memiliki banyak karya ilmiah mengenai “digital philosophy”, William Paterson University adalah afiliasi yang memiliki paling banyak terbitan, dan united states adalah negara yang paling banyak memiliki terbitan. Tipe artikel yang paling banyak ditemukan mengenai “digital philosophy” adalah artikel.
Tri Padila Rahmasari
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 8, pp 51-67; https://doi.org/10.24235/jy.v8i1.9341

Abstract:
Hedonisme mengalami pergeseran makna seiring dengan perkembangan zaman. Dewasa ini, paham hedonisme sudah jauh berbeda dari paham etika hedonisme Epicurus. Hedonisme masa kini disandingkan dengan makna kemewahan, gaya hidup berlebihan dan cenderung kepada perilaku konsumtif. Prinsip hedonisme tidak hanya mewabah untuk anak muda namun juga golongan dewasa dan orang tua, terutama kaum sosialita selalu direpresentasikan sebagai makna pola hidup hedonis. Sejatinya, Epicurus menyatakan bahwa hedonisme adalah hidup yang mengutamakan level kenikmatan dengan mempertimbangkan ketenangan. Level kebahagiaan dan ketenangan yang baik berada pada pola sederhana dan secukupnya. Artikel ini disusun berdasarkan hasil studi literatur terhadap 23 jurnal yang membahas mengenai hedonisme.  Studi literature bertujuan untuk melihat pergeseran makna hedonisme dan memberikan penjabaran paham etika hedonisme Epicurus. Representasi hedonisme dilihat dari gaya hidup mahasiswa, gaya hidup sosialita, dan review film kemudian dibandingkan dengan konsep awal yang dikemukakan oleh Epicurus. Pergeseran makna antara paham Epicurus dan paham hedonisme masa kini mengharuskan kita menyadari bagaimana cara menyikapi sikap hedonisme yang benar. Sikap yang diambil bertujuan menghindari dampak tidak baik dari perilaku hedonisme yang mengarah pada kebiasaan konsumtif dan pemuasan diri. Untuk menghindari kesalahan penafsiran hedonisme, hedonisme harus dipahami secara seimbang antara jasmani, rohani, individu dalam kehidupan sosial dan sebagai makhluk Tuhan.
Rahman Malik, Achmad Hidir, Kurnia Rukmini, Ghufronudin Ghufronudin
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 8, pp 149-161; https://doi.org/10.24235/jy.v8i1.9116

Abstract:
Keberadaan masjid dengan ruang terbuka hijau telah menjadi hal yang lazim terdapat di berbagai kota di Indonesia. Dikarenakan dua objek vital tersebut memiliki keuntungan tersendiri yang didapatkan. Dengan adanya masjid, para pengunjung taman kota (RTH) mudah untuk melakukan ibadah, disisi lain dengan adanya taman kota, memberikan dampak terhadap penambahan jemaah masjid dan kegiatan sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami kajian aksiologi Max Scheler dalam pemaknaan nilai jemaah Masjid Al Fallah Darul Muttaqin terhadap keberadaan RTH Putri Kaca Mayang di Kota Pekanbaru. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Kesimpulan dari penelitian adalah terdapat tiga klasifikasi nilai dalam kajian aksiologi Max Scheler dapat dilihat dari tiga nilai tergambarkan dan satu nilai tidak tergambarkan. Tiga nilai tersebut adalah nilai kesenangan, nilai vital, dan nilai rohani.
Back to Top Top