Riset Arsitektur (RISA)

Journal Information
ISSN / EISSN : 2548-8074 / 2548-8074
Published by: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (10.26593)
Total articles ≅ 145
Filter:

Latest articles in this journal

Beatrix Evita Sekarsari, Rumiati Rosaline Tobing
Riset Arsitektur (RISA), Volume 6, pp 128-150; https://doi.org/10.26593/risa.v6i02.5733.128-150

Abstract:
Abstrak - Perguruan tinggi adalah tempat bagi kebanyakan siswa untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi. Banyak mahasiswa yang berasal dari luar kota atau daerah mencari sekolah dan perguruan tinggi di kota yang bukan daerah asalnya. Sehingga mereka harus mencari tempat tinggal untuk beristirahat dalam kesehariannya. Pemerintah membantu kebutuhan hunian bagi para mahasiswa dengan membangun rumah susun mahasiswa atau yang lebih dikenal dengan asrama di lokasi yang berada dekat dengan sekolah atau perguruan tinggi berada. Dalam pemanfaatan, penggunaan dan pengelolaan asrama sering terjadi beberapa perubahan ruangan akibat dari kebutuhan sarana dan prasarana. Perubahan fungsi ruangan dapat membuat nilai keandalan berkurang jika dilakukan tanpa memperhitungkan beberapa aspek. Penilaian mengenai keandalan bangunan merupakan faktor yang penting dalam memeriksa kondisi suatu bangunan. Tujuan penelitian ini adalah kajian mengenai analisa keandalan bangunan dalam bidang arsitektur terhadap rumah susun mahasiswa St. Teresa Avila, Semarang setelah 5 (lima) tahun penghunian. Apakah masih memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku atau nilai-nilai keandalan sudah tidak berlaku lagi.. Metode penelitian yang dipergunakan secara deskriptif dan secara kualitatif berdasarkan kondisi fisik pada saat penelitian berlangsung. Dan kemudian kondisi fisik bangunan tersebut ditinjau berdasarkan peraturan yang berlaku dan teori-teori yang ada. Didapat kesimpulan terdapat beberapa ruangan yang sudah tidak memenuhi persyaratan keandalan bangunan, namun pada sebagian besar masih sangat layak dan sesuai dengan kebutuhan. Diberikan juga saran yang dapat dilakukan untuk memperbaiki agar kondisi dan nilai keandalan dapat dipertahankan. Kata-kata Kunci: rusun mahasiswa, keandalan bangunan, analisa keandalan
Beatrix Evita Sekarsari, Rumiati Rosaline Tobing
Riset Arsitektur (RISA), Volume 6; https://doi.org/10.26593/risa.v6i02.5726.128-150

Abstract:
Abstrak - Perguruan tinggi adalah tempat bagi kebanyakan siswa untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi. Banyak mahasiswa yang berasal dari luar kota atau daerah mencari sekolah dan perguruan tinggi di kota yang bukan daerah asalnya. Sehingga mereka harus mencari tempat tinggal untuk beristirahat dalam kesehariannya. Pemerintah membantu kebutuhan hunian bagi para mahasiswa dengan membangun rumah susun mahasiswa atau yang lebih dikenal dengan asrama di lokasi yang berada dekat dengan sekolah atau perguruan tinggi berada. Dalam pemanfaatan, penggunaan dan pengelolaan asrama sering terjadi beberapa perubahan ruangan akibat dari kebutuhan sarana dan prasarana. Perubahan fungsi ruangan dapat membuat nilai keandalan berkurang jika dilakukan tanpa memperhitungkan beberapa aspek. Penilaian mengenai keandalan bangunan merupakan faktor yang penting dalam memeriksa kondisi suatu bangunan. Tujuan penelitian ini adalah kajian mengenai analisa keandalan bangunan dalam bidang arsitektur terhadap rumah susun mahasiswa St. Teresa Avila, Semarang setelah 5 (lima) tahun penghunian. Apakah masih memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku atau nilai-nilai keandalan sudah tidak berlaku lagi.. Metode penelitian yang dipergunakan secara deskriptif dan secara kualitatif berdasarkan kondisi fisik pada saat penelitian berlangsung. Dan kemudian kondisi fisik bangunan tersebut ditinjau berdasarkan peraturan yang berlaku dan teori-teori yang ada. Didapat kesimpulan terdapat beberapa ruangan yang sudah tidak memenuhi persyaratan keandalan bangunan, namun pada sebagian besar masih sangat layak dan sesuai dengan kebutuhan. Diberikan juga saran yang dapat dilakukan untuk memperbaiki agar kondisi dan nilai keandalan dapat dipertahankan. Kata-kata Kunci: rusun mahasiswa, keandalan bangunan, analisa keandalan
Yulia B. Harahap, Alwin Saryono, Yuswadi Saliya
Riset Arsitektur (RISA), Volume 6, pp 223-239; https://doi.org/10.26593/risa.v6i02.5732.223-239

Abstract:
Abstrak - Perkembangan kota Bandung sangat pesat dengan munculnya bangunan-bangunan modern di hampir diseluruh kota Bandung, keadaan ini disebabkan oleh kebutuhan kota yang semakin beragam dan bangunan cagar budaya ikut terkena dampak, karena diubah fungsinya sesuai dengan kebutuhan. Banyak bangunan cagar budaya yang fungsinya berubah namun tidak memperhatikan keaslian bangunannya sehingga kondisinya jadi memprihatinkan. Dari sekian banyak bangunan cagar budaya di Bandung hanya sedikit yang masih terlihat keasliannya walaupun sudah berubah fungsinya. Studi ini akan mengangkat isu pengaruh perubahan fungsi pada keaslian bangunan cagar budaya dengan fokus pada fungsi dan bentuk, dengan kasus studi Gedung Tigawarna. Penelitian ini mengedepankan cara baca baru yang menggabungkan teori Fungsi-Bentuk-Konstruksi dan teori Pelestarian. Gedung Tigawarna, tampak dari luar masih terlihat keasliannya, namun pada pengolahan interior banyak yang sudah berbeda dari aslinya, karena perubahan fungsi dari bangunan rumah tinggal dan kantor menjadi bangunan bank BTPN. Namun bentuk diupayakan dipertahankan keasliannya, antara lain dengan menggunakan material yang sama atau mirip dengan aslinya, baik eksterior maupun interiornya. Manfaat dari penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi pengetahuan arsitektur bagi masyarakat, masukan bagi para akademisi dan mahasiswa Arsitektur, juga dapat menjadi masukan bagi pemegang kebijakan dalam menyusun strategi pelestarian bangunan cagar budaya.  Kata-kata kunci : Perubahan fungsi, keaslian, bangunan cagar budaya, Gedung Tigawarna.
Pilar Saga Ichsan, Purnama Salura, Bachtiar Fauzy
Riset Arsitektur (RISA), Volume 6, pp 167-183; https://doi.org/10.26593/risa.v6i02.5730.167-183

Abstract:
Abstrak - Bangunan pemerintahan sebaiknya memiliki nilai simbolik yang merepresentasikan daerahnya. Perkembangan arsitektur di suatu daerah mempengaruhi perkembangan budaya daerah terkait, dengan mulai ditinggalkannya unsur lokalitas arsitektur maka seiring waktu unsur lokalitas tersebut akan punah. Berangkat dari permasalahan dan fenomena tersebut, menghasilkan isu yang cukup penting khususnya akulturasi bangunan pemerintahan yang dapat mencirikan lokalitas dari sebuah tempat. Sehingga penelitian yang dilakukan ini menjadi sangat penting untuk menjawab bagaimana untuk menghasilkan konsep lokal dan modern yang tepat terhadap perencanaan gedung Pendopo Bupati Serang yang mencirikan konteks lokal sosial-budaya dari masyarakat Banten. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pedoman perancangan dan simulasi desain dalam mewujudkan identitas akulturasi arsitektur lokal (Banten) dan non – lokal (modern) pada perancangan gedung Pendopo Bupati Serang Teori yang diterapkan pada kajian ini merujuk (1) teori mengenai ordering principle dalam arsitektur, dan (2) teori mengenai archetypes dalam arsitektur. Disamping itu metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, kualitatif, dan interpretatif yang dapat digunakan dalam melakukan telaah dan penelusuran mendalam terhadap objek studi preseden yaitu gedung pemerintahan Walikota Pontianak dan gedung pemerintahan Bupati Solok. Hasil dari analisa objek studi preseden terhadap teori dengan metode yang telah dijabarkan ini untuk mendapatkan pedoman desain yang spesifik pada gedung Pendopo Bupati Serang. Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat akan pentingnya lokalitas dalam membangun dan melestarikan budaya dan arsitektur lokal serta dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan arsitektur yang telah ada baik bagi akademik maupun praktisi dan memberi kontribusi yang positif bagi pemerintah daerah setempat dalam menyusun peraturan daerah. Kata – kata kunci: Identitas, Akulturasi, Arsitektur, Lokal, Non – Lokal, Banten.
Rieka Aprilia Tanuy, Herman Wilianto
Riset Arsitektur (RISA), Volume 6, pp 184-204; https://doi.org/10.26593/risa.v6i02.5729.184-204

Abstract:
Abstrak - Gaya hidup sehat menjadi marak dalam beberapa tahun ke belakang. Lebih banyak orang yang sadar dan mulai peduli pada kesehatannya. Pola makan yang teratur, asupan gizi yang seimbang, serta beragam jenis olahraga mewarnai gaya hidup masyarakat. Dewasa ini, masyarakat mulai mencari tempat untuk beristirahat sejenak, menjauh dari kesibukan, salah satunya adalah ekowisata. Kembali ke alam dipercaya mampu mengembalikan energi dan semangat yang menurun. Meluasnya kebutuhan akan ruang terbuka yang mendukung pola hidup sehat di masyarakat mendorong berbagai pelaku usaha untuk memenuhinya. Taman di hotel tidak lagi berfungsi sebagai area hijau belaka. Beberapa hotel yang telah mengembangkan konsep desain berdasarkan gaya hidup sehat mulai menata tamannya. Namun penataan taman di hotel-hotel tersebut umumnya masih belum memadai sebagai penunjang gaya hidup sehat bagi pengunjungnya. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji konsep taman sehat pada lanskap hotel butik berbasis gaya hidup sehat. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode deskriptif eksploratoris pada kedua preseden yang dipilih yaitu Klub Bunga Butik Resort dan Park Royal on Pickering berdasarkan isu terkait. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pedoman umum untuk merancang taman sehat di hotel butik, meskipun tetap perlu adanya pertimbangan terhadap konteks setempat. Kata-kata kunci: gaya hidup sehat, taman sehat, butik hotel
Willyam J Ompusunggu, Yohannes B. Dwisusanto
Riset Arsitektur (RISA), Volume 6, pp 205-222; https://doi.org/10.26593/risa.v6i02.5731.205-222

Abstract:
Abstrak - Signage merupakan salah satu unsur pembentuk wajah dari kawasan, dan media informasi dalam tingkat mikro dan makro. Tanda merupakan item yang penting sebagai penyampai informasi bagi pengamat, peletakan tanda dengan tepat akan berpengaruh sangat baik sebai sumber informasi. Perlunya suatu sistem/signage untuk menyampakan informasi berupa tanda yang menunjukan arah semakin baik dan berkembang, untuk kerumunan orang atau masa yang memerlukan sebuah informasi petunjuk arah. Informasi yang diberiakan merupakan pengalam, keterpaparan atau exposure, dan pengetahuan akan kawasan. Permukiman yang berkembang secara organic banyak tersebar di berbagai provinsi terpadat di Indonesi. Pemukiman Braga terletak dipusat ekonomi kota Bandung, kawasan permukiman organic sedikit memiliki informasi tentang kawasan masih tersebar secara sporadic (terdapat hanya di pintu masuk yang berbentuk gapura), tidak terkoneksi satu dengan yang lain didalam kawasan dan tidak adanya fasilitas signage. Kawasan yang tidak memiliki Informasi jalan dapat berubah menjadi suasana yang tidak menyenangkan dan kesuitan mengetahui jalan untuk individu pertamakali mengakses jalan, tapi masyarakat dan orang yang terbiasa mengakses jalan permukiman Braga tidak mengalami kesulitan dalam mencari jalan dengan adanya tanda identifikasi objek dan elemen yang dapat dipahami dan dianggap sebagai signage. Tujuan menggunakan jalan didalam kawasan pemukiman menjadi akses alternative menuju sisi lain dari kota. Penelitian ini bersifat eksploratif dan mengunakan metode kualitatif, kajian studi pustaka, dan ajuan konseptual.Jalan didalam kawasan bisa menjadi jalan alternative untuk menuju tempat yang berbeda, jalan didalam kawasan memiliki akses masuk dan keluar yang berbeda-beda, banyaknya percabangan gang dan bangunan bertuingkat didalam kawasan membuat bingung dan sulitnya berorientasi.  Kata-kata kunci: signage, jalan,visual,permukiman,Braga Bandung
Citra Eka Putri, Yohanes Karyadi Kusliansjah, Harastoeti Dibyo Hartono
Riset Arsitektur (RISA), Volume 6, pp 111-127; https://doi.org/10.26593/risa.v6i02.5724.111-127

Abstract:
Abstrak - Gedung Karesidenan Bogor merupakan salah satu bangunan peninggalan arsitektur kolonial yang berada di sekitar Istana dan Kebun Raya Bogor. Terdaftar menjadi salah satu bangunan cagar budaya dari 24 bangunan yang sudah ditetapkan oleh Wali Kota Bogor berdasarkan PERMENBUDPAR NO. PM.26/PW.007/MKP/2007. Bangunan ini berada di kawasan pemerintahan dan perdagangan jasa, menyebabkan banyaknya dibangun bangunan modern di sekitar Gedung Karesidenan Bogor seiring perkembangan Kota Bogor. Perubahan yang ada pada bangunan cagar budaya sebagai bentuk dari adaptasi terhadap perkembangan tersebut tidak dapat dihindari, terutama pada bangunan peninggalan kolonial yang ada. Belum terbentuknya penggolongan pada PERDA Kota Bogor maka untuk upaya menjaga keaslian bangunan cagar budaya akan sulit dimana penggolongan kelas sangat penting dalam rangka konservasi bangunan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah perubahan tersebut adalah dengan cara menentukan penggolongan pelestarian pada bangunan Gedung Karesidenan Bogor. Studi yang dilakukan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk karakter spasial dan visual arsitektural dengan melihat bentuk elemen-elemen yang ada pada bangunan untuk menentukan penggolongan pelestarian bangunan. Penelitian ini adalah bentuk penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis data berupa deskriptif, metode komparasi untuk menguji perbedaan bentuk elemen-elemen bangunan yang ada dan metode klasifikasi untuk menentukan penggolongan pelestarian bangunan. Dari hasil analisis deskriptif terhadap elemen spasial dan elemen visual bangunan, Gedung Karesidenan Bogor masuk ke dalam bangunan Golongan A, karena untuk penilaian keaslian bangunan lebih dominan dibanding penilaian elemen yang berubah. Penelitian ini hanya sampai sebatas dari nilai arsitektur yang menjadi data arsitektural, adapun untuk menentukan bangunan ini digolongkan sebagai bangunan cagar budaya diperlukan kajian akademik sejenis dari aspek yang lain terkait dari data struktural, mekanikal dan elektrikal dan tata lingkungan. Kata-kata kunci: pelestarian, penggolongan, cagar budaya, Gedung Karesidenan Bogor
Nindya Caesa Azuhra, Herman Wilianto
Riset Arsitektur (RISA), Volume 6, pp 151-166; https://doi.org/10.26593/risa.v6i02.5727.151-166

Abstract:
Abstrak – Masjid Al-Imtizaj di Bandung memiliki desain bangunan berakulturasi Tionghoa-Islam. Dengan menggunakan bangunan lama dan dimodifikasi dapat merubah fungsi bangunan tersebut, demikianlah yang dilakukan oleh Masjid Al Imtizaj. Berubahnya fungsi bangunan maka terjadi perubahan unsur energi Qi yang menurut Feng Shui sangat penting demi kesejahteraan bagi bangunan maupun pengguna bangunan. Bagaimana modifikasi bangunan tersebut dapat menciptakan atau menghasilkan energi “Qi” yang sesuai untuk tempat ibadah berdasarkan Teori Feng Shui aliran bentuk dan aliran lima elemen? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian energi Qi yang dihasilkan dari modifikasi bangunan Al Imtizaj menurut Teori Feng shui untuk bangunan peribadatan. Serta memberikan manfaat agar bangunan masjid Al Imtizaj Bandung ini dapat dijadikan bangunan cagar budaya dengan pelestarian budaya. Metoda penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif dimana penelitian ini mendeskripsikan dan menilai objek yang didukung oleh data literatur yang ada. Kata-kata kunci: Fengshui, Energi Qi, Masjid, Arsitektur Islam, Masjid At Al Imtizaj Bandung
Nadira Anandisya, Caecilia S. Wijayaputri
Riset Arsitektur (RISA), Volume 6, pp 92-110; https://doi.org/10.26593/risa.v6i01.5429.92-110

Abstract:
- Cinema and Architecture are two art media that dependent on some human senses to give experience and define space compared of other art medium. These two media have been trying to show and convince film viewers or architecture users as a work of art. Both have quality value that will be higher if they can be as close to reality. However, architecture tend to use visual but lack of emotions. As a result, buildings left us as only a viewers without invite us to engaged. Therefore, from cinema to architecture, the thinking of thematic conditions of architecture can be brought together with conceptual, contextual, architectonic, and technical. Ave Maryam (2020) is a film that takes place in Semarang, and Kompleks Susteran St. Fransiskus is the main setting that interesting to studied. From each scene it can clearly describe space with a visual composition to convey a strong spatial experience. Departing from an approach to cinema that is parallel to architecture so that the audience can experience spaces outside the formal architectural experience. The purpose of this study is to identify cinematic themes that can be discussed and reconstruct the cinematic space as a search for understanding the potential and meaning of cinematic in Kompleks Kesusteran St. Fransiskus based on the film Ave Maryam (2020). By using a qualitative descriptive method, from data that achieved by literature studies and film observations. It can be concluded that the existing approaches to architecture and cinema from Ave Maryam (2020) can be interpreted to build a concept that achieves the beauty and experience experienced in architecture such as watching the film. Key Words: cinematic, architecture and film, cinematic approach, Ave Maryam, Komplek Kesusteran St. Fransiskus, Semarang.
Nadine Noor Adhitya Putri, Indri Astrina
Riset Arsitektur (RISA), Volume 6, pp 40-57; https://doi.org/10.26593/risa.v6i01.5425.40-57

Abstract:
- As a visual language, architectural expressions can be understood through arrangements of its elements with certain patterns or techniques. According to Rob Krier (1988), the assessment of geometric expressions cannot be separated from the composition of architectural forms, including proportion, rhythm, ornament, shape, material, color and texture. Along the way, Tulang Bawang Barat, which was later abbreviated as Tubaba, became a stopover for migrants from various regions. Regent Umar Ahmad pursued the construction of Tulang Bawang Barat by building a mosque and a convention hall to fill the empty fields in Tulang Bawang Barat. The architectural expression of Balai Adat Sesat Agung – with its modernity – considered as success in reproducing historical and cultural identity of Nusantaran architecture. In identifying the expressions of Nusantaran architecture, the analysis of Sesat Agung architecture is carried out in three areas: site, building, and structure. Through descriptive-analytical methods, this research begins by formulating the properties and compositions of Nusantaran architecture expressions forming through related theories, including Nusantaran architectural theory, concepts of properties and composition, and anatomy of architecture theory. Furthermore, the properties and composition of Sesat Agung are studied to identify the expressions of Nusantaran architecture which manifested in the architecture of the Balai Adat Sesat Agung. This study found that the architectural expression of the Sesat Agung has printed a new architectural identity in Tulang Bawang Regency. However, regardless of the form and the aesthetics it carries, one thing that is missing from Sesat Agung architecture is its spatial quality. Key Words: expression, Nusantaran architecture, Sesat Agung.
Back to Top Top