Majalah Farmasi dan Farmakologi

Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-7031 / 2655-6715
Published by: Hasanuddin University, Faculty of Law (10.20956)
Total articles ≅ 71
Filter:

Latest articles in this journal

Septiani Martha, Berna Elya, Muhammad Hanafi
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 24, pp 37-41; https://doi.org/10.20956/mff.v24i2.10074

Abstract:
Garcinia kydia Roxburgh merupakan salah satu spesies dari genus garcinia, yang secara khusus belum banyak diketahui aktivitas senyawa bioaktif, namun pada penelitian sebelumnya terbukti berpotensi sebagai agen penghambat α-glukosidase. Pada penelitian ini, akan dilakukan investigasi aktivitas antioksidan terhadap berbagai fraksi yang diperoleh dari daun G. kydia Roxb. Metode penelitian dilakukan dengan menentukan aktivitas antioksidan melalui analisis in-vitro menggunakan microplete reader dengan metode radical scavenging (Metode DPPH) dan ferric reducing antioxidant power (Metode FRAP). Hasil menunjukkan bahwa fraksi yang paling aktif dari ekstrak etil asetat adalah FEA8 (DPPH) dan FEA7 (FRAP), sedangkan fraksi paling aktif dari ekstrak metanol adalah FMT4 (DPPH) dan FMT6 (FRAP). Aktivitas antioksidan tertinggi di antara empat fraksi adalah FEA7 dan FEA8. Aktivitas fraksi FEA7 dan FEA8 ditentukan oleh nilai EC50, sehingga diperoleh masing-masing 9,73 dan 9,26 μg/mL (DPPH); 10,28 dan 13,94 μg/mL (FRAP). Garcinia kydia Roxb. berpotensi sebagai agen antioksidan dengan mekanisme yang berbeda. Sehingga hasil penelitian terkait terdapatnya potensi antioksidan tersebut dapat memberikan alternatif terapi diabetes yang disertai komplikasi stres oksidatif.
Yulia Yusrini Djabir
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 24, pp 33-36; https://doi.org/10.20956/mff.v24i2.9303

Abstract:
Jahe merah merupakan jenis rimpang yang banyak digunakan sebagai bahan obat tradisional di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek proteksi ekstrak rimpang jahe merah (Zingiber officinale Rosc var rubrum) terhadap gangguan fungsi hati dan ginjal yang disebabkan oleh toksisitas parasetamol berdasarkan parameter SGPT, SGOT, urea dan kreatinin serum pada tikus putih. Jahe merah diekstraksi menggunakan etanol 70%. Hewan uji dibagi ke dalam 5 kelompok (n=5). Kelompok I sebagai kontrol sehat diberikan suspensi NaCMC 1%, kelompok II diberikan NaCMC 1% dan induksi parasetamol, kelompok III dan kelompok IV masing-masing diberi perlakuan ekstrak jahe merah 150 mg/kgBB dan 300 mg/kgBB dan induksi parasetamol, dan kelompok V diberikan sediaan ekstrak curcuma xanthorriza (60 mg/kgBB) dan induksi parasetamol. Perlakuan dilakukan selama 10 hari sedangkan induksi parasetamol hanya diberikan pada hari ke-4 (500 mg/kg) dan ke-5 (300 mg/kg). Sampel darah diambil pada hari ke- 6 (post induksi) dan ke-11 (post perlakuan) untuk pengukuran kadar SGOT, SGPT, kreatinin dan urea serum menggunakan alat humalyzer. Hasil penelitian menunjukkan pemberian parasetamol dosis 500mg/kg diikuti 300 mg/kgBB dapat meningkatkan nilai SGOT dan SGPT secara signifikan 24 jam setelah post induksi, namun kadar urea dan kreatinin hanya berbeda signifikan setelah hari ke-11 (post perlakuan). Pada kelompok III dan IV, pemberian ekstrak jahe merah setelah induksi parasetamol mampu menurunkan kadar SGOT, SGPT, urea dan kreatinin serum secara signifikan dibanding kelompok II (p
Fazrul Permadi
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 24, pp 54-58; https://doi.org/10.20956/mff.v24i2.10517

Abstract:
Studi HKSA dilakukan pada turunan kojyl thioether sebagai inhibitor tirosinase. Perhitungan prediktotr dilakukan menggunakan aplikasi hyperchem 8.0 dengan metode optimasi geometri semi-empirik PM3. Analisis regresi multilinier menggunakan SPSS 25.0 untuk mencari hubungan antara prediktor dan aktivitas senyawa turunan kojyl thioether sebagai inhibitor tirosinase. Model persamaan HKSA terbaik adalah :pIC50 = -922.517 + 15.872*ELUMO – 436.654*qC4 – 209.509*qC5 + 1.0008*Eintn = 14; m = 4; r = 0.949; R2 = 0.901; PRESS = 3.0469; q2 = 0.8246Berdasarkan persamaan HKSA diatas didapatkan 4 senyawa baru turunun kojyl thioether yang bisa dijadikan sebagai analog inhibitor tirosinase yang baru. Parameter pemilihan senyawa tersebut karena memiliki aktivitas yang lebih baik sebagai inhibitor tirosinase dibandingkan senyawa penuntun, tidak hepatotoksik, tidak menimbulkan AMES Toxicity, tidak menimbulkan skin sensititasion dan LD50 pada tikus masuk kategori relative tidak membahayakan. Untuk melihat interaksi antara senyawa turunun kojyl thioether dengan enzim tirosinase dilakukan docking menggunakan Autodock vina yang visualisasinya menggunakan discovery studio 2020 client. Hasil docking menunjukkan bahwa semua senyawa setidaknya memiliki satu interaksi pada residu asam amino yang sama dengan native ligan. yaitu Val283.
Sandra Aulia Mardikasari, Nurilliyyin Akib, Suryani Suryani
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 24, pp 49-53; https://doi.org/10.20956/mff.v24i2.10390

Abstract:
Asam kojat diketahui memiliki efektivitas untuk mencerahkan kulit. Tetapi asam kojat bersifat hidrofilik, sehingga sulit berpenetrasi ke dalam kulit oleh karena itu diperlukan sistem penghantaran etosom untuk meningkatkan penetrasi asam kojat dalam bentuk sediaan krim untuk memudahkan pengaplikasiannya di kulit. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formula krim etosom asam kojat menggunakan kombinasi emulgator tween 80 dan span 80 dalam berbagai konsentrasi, serta menguji kestabilan fisik sediaan krim. Uji stabilitas krim dilakukan menggunakan metode cycling test dan centrifugal test. Metode cycling test meliputi pengamatan organoleptik, tipe krim, pH, viskositas, ukuran globul, daya sebar dan homogenitas krim, sedangkan metode centrifugal test dilakukan menggunakan alat sentrifugasi untuk melihat terjadinya pemisahan fase pada krim. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nilai organoleptik, pH, viskositas, ukuran globul dan daya sebar namun tidak terjadi pemisahan fase setelah uji centrifugal test. Sehingga diperoleh krim yang paling stabil yaitu pada formula krim dengan konsentrasi emulgator 3%, memiliki nilai organoleptik yang baik, tipe krim m/a, pH 5,24, viskositas 22.200 cPs, ukuran globul berkisar 0,1-0,3 µm, daya sebar 4,1 cm2, krim yang homogen, dan tidak terjadi pemisahan fase setelah uji sentrifugasi. Hasil penelitian ini menunjukkan etosom asam kojat dapat diformulasi menjadi sediaan krim yang stabil
Pande Made Desy Ratnasari, Putu Dian Marani Kurnianta, Anak Agung Ngurah Putra Riana Prasetya
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 24, pp 42-48; https://doi.org/10.20956/mff.v24i2.10384

Abstract:
Resistensi insulin pada pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi kardiovaskuler yang selanjutnya dapat berkontribusi sebagai penyebab utama kematian. Resistensi insulin meningkatkan kerentanan pasien mengalami aterosklerosis dan menimbulkan gangguan pada fungsi platelet di pembuluh darah yang dapat berdampak pada peningkatan risiko komplikasi kardiovaskuler. Sebagai salah satu upaya untuk mencegah dan mengurangi risiko tersebut, Canadian Cardiovascular Society Guidelines tahun 2011 dan American Diabetes Association tahun 2019 merekomendasikan penggunaan golongan statin dan antiplatelet sebagai upaya pencegahan sekunder komplikasi kardiovaskuler pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan statin dan antiplatelet sebagai pencegahan sekunder pada pasien DM tipe 2 dengan komplikasi kardiovaskuler. Penelitian ini bersifat observasional dengan desain cross sectional yang dilakukan pada 110 pasien di RSU Puri Raharja Denpasar Bali periode November 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 110 pasien yang memenuhi kriteria penggunaan statin, hanya 42 pasien (38,1%) yang menggunakan statin (simvastatin 20 mg; 95,2%). Selain itu, dari total 96 pasien yang memenuhi kriteria penggunaan antiplatelet, hanya 52 pasien (47,3%) yang menggunakan antiplatelet (aspirin 80 mg; 82,7%). Penelitian ini merefleksikan penggunaan statin yang masih rendah dalam upaya pencegahan sekunder komplikasi kardiovaskuler pada pasien DM tipe 2. Meskipun terdapat kecenderungan tingkat penggunaan antiplatelet aspirin yang lebih tinggi daripada statin dalam penelitian ini, pemberian aspirin selanjutnya masih perlu ditingkatkan lagi bersama-sama dengan peningkatan pemberian statin.
Rezaldi Mahaputra Perdana, Muhammad Nur Amir, Sukamto Mamada
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 24, pp 63-66; https://doi.org/10.20956/mff.v24i2.10683

Abstract:
Kayu secang merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan untuk terapi pengobatan, sehingga perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui keamanan dari tanaman tersebut. Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.) secara subkronik terhadap bobot jantung dan paru tikus putih jantan (Rattus norvegicus). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek toksisitas ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.) berdasarkan parameter bobot jantung dan paru-paru tikus putih jantan (Rattus norvegicus) setelah pemaparan subkronik selama 90 hari. Dua puluh ekor tikus putih dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan yaitu kelompok 1 kontrol sehat, kelompok 2 NaCMC 1%, kelompok 3 ekstrak etanol kayu secang 400 mg/kg BB, dan kelompok 4 ekstrak etanol kayu secang 1000 mg/kg BB. Perlakuan dilakukan selama 90 hari dengan aturan pemberian 1 kali sehari. Efek toksisitas ditentukan melalui pengukuran bobot jantung dan paru-paru. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol kayu secang secara subkronik selama 90 hari tidak menyebabkan toksisitas berdasarkan data bobot jantung dan paru-paru tikus putih jantan yang diperoleh.
Puji Kurniawati Rahman
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 24, pp 29-32; https://doi.org/10.20956/mff.v24i2.9247

Abstract:
Biaya untuk mengobati hipertensi secara efektif sangat besar. Maka dari itu kajian farmakoekonomi penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan efektivitas biaya antara penggunaan amlodipin, micardis dan kombinasi amlodipin micardis pada pasien hipertensi di instalasi rawat jalan RSUP dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar periode tanggal 1 April sampai dengan 31 Mei 2019. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan kohort retrospektif yang pengambilan sampelnya dilakukan dengan teknik purposive sampling. Dari hasil penelitian diperoleh 30 sampel yaitu 10 yang menggunakan amlodipin, 9 menggunakan micardis dan 11 menggunakan kombinasi amlodipin micardis. Penggunaan kombinasi amlodipin micardis memiliki efektivitas biaya lebih baik dibandingkan penggunaan amlodipin dan micardis dalam menurunkan tekanan darah sistolik sedangkan dalam menurunkan tekanan darah diastolik penggunaan amlodipin memiliki efektivitas biaya lebih baik dibandingkan penggunaan micardis dan kombinasi amlodipin micardis. Efek samping paling dominan muncul pada penggunaan amlodipin secara monoterapi, yaitu edema. Maka disimpulkan bahwa penggunaan kombinasi terapi antara amlodipin dan micardis memiliki efektivitas biaya lebih baik dibandingkan penggunaan secara monoterapi dalam menurunkan tekanan darah dan mengurangi terjadinya efek samping.
YuS Risal
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 24, pp 59-62; https://doi.org/10.20956/mff.v24i2.10610

Abstract:
Tujuan dari percobaan adalah untuk mengetahui dan menganalisis kesamaan serta karakteristik yang khas dari senyawa inhibitor tirosinase seperti arbutin, asam kojik dari beberapa ekstrak seperti ekstrak (Curcuma xanthorrhiza) temu lawak, ekstrak (Curcuma zedoaria) kunyit putih, ekstrak (Lavandula afficianalis) lavender, ekstrak (Ocimum basilicum) selasih, ekstrak (Piper cubeba) kemukus, ekstrak (Piper retrofractum) cabai jawa dan ekstrak (Zingiber zerumbet) lempuyang yang dianalisis menggunakan spektrofotometer infra merah (FTIR) dan selanjutnya dilanjutkan analisis dengan menggunakan metode kemometrik yang terdiri dari PCA (Principal Component Analysis) dan CA (Cluster Analysis). Dari hasil penelitian, analisis PCA yang dicapai komponen utama dengan eigenvalue sekitar 99,8 % dari total varian, hasil analisis kemometrik PCA didapatkan senyawa inhibitor tirosinase berupa senyawa asam kojik, ekstrak (Zingiber zerumbet) lempuyang, ekstrak (Ocimum basilicum) selasih dan ekstrak (Lavandula afficianalis) lavender berada dalam satu kuadran. Untuk analisis CA menunjukkan asam kojik ada kemiripan karakteristik dengan (Zingiber zerumbet) lempuyang tingkat kesamaan adalah 75,85; jarak Euclidean 0,202.
Taufik Muhammad Fakih, Mentari Luthfika Dewi
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 24, pp 17-21; https://doi.org/10.20956/mff.v24i1.9647

Abstract:
Inhibitor alami Angiotensin-I Converting Enzyme (ACE) berbasis peptida bioaktif saat ini menjadi fokus penelitian karena sifatnya yang unik dan memilki berbagai peran biologis penting diantaranya adalah sebagai kandidat pengobatan hipertensi. Terdapat beberapa peptida bioaktif yang dihasilkan oleh organisme laut dan telah terbukti mampu menghambat enzim ACE, antara lain peptida bioaktif yang berasal dari udang (SV, IF, dan WP) serta peptida bioaktif yang berasal dari ikan hiu (CF, EY, MF, dan FE). Pada penelitian ini dilakukan identifikasi, evaluasi, dan eksplorasi terhadap interaksi yang terjadi antara molekul peptida bioaktif dengan makromolekul ACE secara in silico menggunakan motode penambatan molekuler berbasis protein-peptida. Sekuensing peptida bioaktif dimodelkan menjadi konformasi 3D terlebih dahulu menggunakan software PEP-FOLD. Konformasi terbaik dipilih untuk kemudian dilakukan studi interaksi molekuler terhadap makromolekul ACE menggunakan software PatchDock. Interaksi molekuler yang terjadi diamati lebih lanjut menggunakan software BIOVIA Discovery Studio 2020. Berdasarkan hasil dari penambatan molekuler berbasis protein-peptida, peptida bioaktif CF dan IF yang berasal dari udang dan peptida bioaktif MF yang berasal dari ikan hiu memiliki afinitas yang baik, yaitu dengan ACE score masing-masing adalah −380,62 kJ/mol, −436,43 kJ/mol, dan −349,91 kJ/mol. Dengan demikian, peptida bioaktif laut tersebut diprediksi dapat dipilih sebagai kandidat inhibitor alami enzim ACE berbasis peptida sebagai alternatif antihipertensi.
Yuri Pratiwi Utami
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 24, pp 6-10; https://doi.org/10.20956/mff.v24i1.9831

Abstract:
ABSTRAKDaun Patikala (Etlingera elatior (Jack) RM. Smith) diketahui memiliki banyak efek farmakologis sebagai obat tradisional. Bahan baku obat tradisional perlu standarisasi. Standarisasi simplisia dan ekstrak etanol daun patikala dilakukan untuk mengendalikan mutu dan keamanannya sebagai bahan baku obat tradisional. Penetapan standar mutu simplisia dan ekstrak meliputi parameter spesifik dan parameter non spesifik. Pengamatan makroskopik pada simplisia menunjukkan serbuk daun patikala berwarna kehijauan, pertulangan daun menyirip, Daunnya tunggal, lanset, ujung dan pangkal runcing tetapi rata, panjang daun sekitar 20-30 cm dan lebar 5-15 cm. Organoleptik dari ekstrak etanol daun patikala yaitu kental, berwarna hitam kehijauan, berbau khas dan berasa pahit. Fragmen pengenal simplisia daun patikala berupaepidermis bawah, serabut ,epidermis atas dengan stomata tipe anomositik, serabut berkas pembuluh. Ekstrak daun patikala mengandung senyawa alkaloid, steroid, flavonoid dan tanin.Kadar senyawa terlarut dalam air pada simplisia sebesar 12,392% dan pada ekstrak sebesar 23,555%, sedangkan kadar senyawa terlarut dalam etanol pada simplisia sebesar 7,078% dan pada ekstrak sebesar 22,260%. Kadar air dalam simplisia dan ekstrak masing-masing ≤ 10%. Kadar abu total dalam simplisia sebesar 14,12% dan dalam ekstrak sebesar 9,06%, kadar abu tidak larut asam dalam simplisia sebesar 7,44% dan dalam ekstrak sebesar 1%. Susut pengeringan pada simplisia sebesar 11,461% dan pada ekstrak sebesar 57,564%. Bobot jenis ekstrak sebesar 1,0087 g/ml. Total cemaran bakteri dan kapang pada ekstrak memenuhi syarat dengan nilai masing-masing sebesar 120koloni/g dan 890 koloni/g..Kata Kunci : Daun Patikala (Etlingera elatior (Jack) R.M. Sm), Pengukuran Parameter spesifik dan non spesifik, Simplisia, Ekstrak.
Back to Top Top