Majalah Farmasi dan Farmakologi

Journal Information
ISSN : 1410-7031
Current Publisher: Hasanuddin University, Faculty of Law (10.20956)
Total articles ≅ 35
Filter:

Latest articles in this journal

Munawarah Munawarah, Muhammad Natsir Djide, Arif Santoso, Elly Wahyudin, Sartini Sartini, Yulia Yusrini Djabir
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 23, pp 32-34; doi:10.20956/mff.v23i1.6469

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian terapi Fixed Dose Combinaton (FDC) dibandingkan dengan tablet lepas Obat Anti Tuberkulosis (OAT) terhadap resiko terjadinya Drug Induced Hepatotoxicity (DIH) yang ditandai dengan peningkatan nilai SGPT dan SGOT pada penderita Tuberkulosis. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional non eksperimen dengan rancangan deskriptif-analitik. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non-probability sampling dengan cara consecutive sampling. Jumlah sampel 30 pasien, terdiri dari kelompok FDC dan kelompok tablet lepas jumlah masing-masing 17 dan 13 sampel. Dianalisis dengan uji statistik metode Mann-Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selisih nilai SGPT dan SGOT antara kelompok FDC dan kelompok tablet lepas menunjukkan perbedaan yang signifikan (p>0,05).
Restuyani Paranoan, Marianti A Manggau, Hasyim Kasim, M Natsir Djide, Subehan Lallo, Yulia Yusrini Djabir
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 23, pp 13-15; doi:10.20956/mff.v23i1.6460

Abstract:
Sebagian besar pasien penyakit ginjal stadium akhir (ESRD) yang menyebabkan hemodialisis, dapat mengalami hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas dan efek samping penggunaan antihipertensi amlodipin tunggal dan kombinasi amlodipin dengan telmisartan, dan kombinasi amlodipin dengan Valsartan pada pasien gagal ginjal kronik selama rawat inap di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Penelitian ini dilaksanakan di ruangan rekam medik RSUP Wahidin Sudirohusodo selama periode September sampai oktober 2018. penelitian ini merupakan penelitian observasional noneksperimental. pengambilan data dilakukan secara retrospektif. pengambilan data berdasarkan rekam medik pasien gagal ginjal kronik (ESRD) yang mendapat terapi obat antihipertensi amlodipin tunggal, amlodipin kombinasi telmisartan, amlodipin kombinasi valsartan periode Januari sampai Agustus 2018. Dari hasil penelitian dengan melihat persen penurunan dan waktu penurunan tekanan darah pasien dan efek samping maka dapat disimpulkan bahwa Kombinasi amlodipin dan telmisartan paling efektif di antara amlodipin tunggal dan amlodipin kombinasi valsartan dalam menurunkan hipertensi pada pasien gagal ginjal kronik . Efek samping yang ditimbulkan dari kelompok amlodipin dalah adalah udem sebanyak 7,14%, efek samping yang ditimbulkan dari kelompok amlodipin kombinasi Telmisartan adalah hiperkalemia sebanyak 14,28 %, dan efek samping yang ditimbulkan oleh kelompok amlodipin kombinasi valsartan adalah pusing sebanyak 14, 28 %
Andi Nurpati Panaungi, Subehan Lallo, Herlina Rante, Gemini Alam, Sartini Sartini, Yulia Yusrini Djabir
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 23, pp 10-12; doi:10.20956/mff.v23i1.6459

Abstract:
Tanaman sereh Cymbopogon citrus (DC.) Stapf merupakan salah satu tanaman sereh penghasil minyak atsiri yang digunakan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat tumbuh dan aktivitas antibakteri. Masing-masing sampel dari ketinggian 935 m dol, 260 m dpl, dan 10 m dpl didestilasi dengan metode destilasi uap air kemudian dilanjutkan pengujian antibakteri, analisis kualitatif menggunakan GCMS. Aktivitas antibakteri menggunakan metode Disc Diffusion Kirby-Bauer menggunakan medium MHA dengan waktu inkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C terhadap bakteri Streptococcus mutans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri dari sereh yang paling baik aktivitas antibakteri terdapat pada ketinggian 935 m dpl yang memiliki adaya hambat terhadap Streptococcus mutans sebesar 11,5 mm.
Anshar Saud
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 23, pp 38-47; doi:10.20956/mff.v23i1.6471

Abstract:
Delphi technique has been knowned in variety research of studies and countries for almost eight decades as one of reliable decision making method. Its success and relation in pharmacy field has been examined but not yet catalogue recently in a comprehensive manner. The objective of this study was to review existing literature studies on the topic of Delphi technique and its relation on current pharmaceutical issues to provide an analysis of its success and impact in pharmacy and health sector. A search of 6 electronic databases i.e: Google Scholar, MEDLINE, PubMed, ScienceDirect, Web of Science and Proquest was conducted during November 2018. A scientific review of literature (2008-2018) was performed to identify and collate information from relevant, peer reviewed original study articles investigating Delphi technique employed in pharmaceutical issues. A thematic analysis was undertaken to categorize categories of pharmacy, pharmaceutical, pharmaceutical care and pharmacist. Thirty two original study articles were included in this review. All articles were based in the U.S., Europe, Australia and Asia. After reviewing all the articles, 5 themes with 13 categories were generated. These themes included essential role of pharmacist in healthcare, pharmacy professionalism, medication management protocol, pharmacy education, and drug policy. It concluded that overall, through this review it is evident that there are a number of themes on pharmacy issues that employed by Delphi techniques. This review indicated that although Delphi technique are successful and to be satisfactory applied in pharmacy field, the usage of technique in pharmacy issues need to be further enhanced.
Suryanita Suryanita, Aliyah Aliyah, Yulia Yusrini Djabir, Elly Wahyudin, Latifah Rahman, Risfah Yulianty
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 23, pp 16-20; doi:10.20956/mff.v23i1.6461

Abstract:
Penyakit degenerative disebabkan karena antioksidan yang ada didalam tubuh tidak mampu menetralisir peningkatan konsentrasi radikal bebas, sehingga perlu adanya antioksidan dari luar untuk menghancurkan radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan sel. Kulit buah jeruk Bali merupakan salah satu tanaman yang diketahui memiliki kandungan senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa kimia dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit buah jeruk Bali. Identifikasi kandungan senyawa kimia dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif, sedangkan uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode penangkapan radikal 2,2- difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) dengan asam askorbat sebagai pembanding. Hasil penelitian memperlihatkan esktrak etanol kulit buah jeruk Bali mengandung Flavanoid, Saponin, Alkaloid, Triterpenoid/Steroid, dan Tanin, sedangkan hasil uji kuantitatif fenolik total dan flavonoid total masing-masing diperoleh hasil 4,96% dan 0,34%. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah jeruk Bali dan asam askorbat masing-masing menunjukkan nilai IC50 574,02 bpj dan 4,63 bpj. Hasil ini memperlihatkan bahwa ekstrak kulit buah jeruk Bali memiliki aktivitas antioksidan yang lemah jika dibandingkan asam askorbat.
Andi Nur Zam Zam, Latifah Rahman, Sartini Sartini, Subehan Lallo, Asnah Marzuki
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 23, pp 1-4; doi:10.20956/mff.v23i1.6457

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan konsentrasi antara soya lesitin dan etanol agar menghasilkan etosom ekstrak etanol biji kopi hijau dengan efisiensi penjerapan terbaik serta mengetahui perbedaan permeasi antara gel etosom ekstrak etanol biji kopi hijau dan gel ekstrak etanol biji kopi. Ekstraksi biji kopi hijau dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Selanjutnya ekstrak diformulasikan dalam bentuk etosom menggunakan soya lesitin dengan konsentrasi yang divariasikan. Selanjutnya etosom diformulasikan dalam bentuk gel kemudian diuji laju permeasinya dan dibandingkan dengan gel ekstrak etanol biji kopi. Lipid yang digunakan adalah soya lesitin dan alkohol yang digunakan adalah etanol 95%. Perbandingannya dipilih berdasarkan formula yang paling banyak menjerap ekstrak etanol biji kopi hijau. Optimasi penjerapan dilakukan dengan menaikkan konsentrasi soya lesitin dan etanol hingga diperoleh penjerapan optimum. Pengujian permeasi dilakukan dengan sediaan gel etosom berbasis karbopol dan menggunakan kulit manusia secara in vitro. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh etosom ekstrak etanol biji kopi hijau dengan bentuk Large Unilamellar Vesicles (LUV) dengan ukuran 0,63–12,08 µm. Formula dengan perbandingan b/b soya lesitin : etanol (1:10) dapat menjerap ekstrak etanol biji kopi (EEBK). Uji permeasi menunjukkan bahwa total polifenol EEBK dalam sediaan gel etosom adalah 2,03 mg dalam waktu 240 menit dengan kecepatan lintas membran 1,37 mg/menit cm2. Sedangkan permeasi EEBK dalam sedian gel ekstrak adalah 3,12 mg dalam waktu 240 menit dengan kecepatan lintas membran 1,23 mg/menit cm2.
Mirnawati Salampe, Zulfaidah Rahma, Syamsu Nur, Sukamto S Mamada
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 23, pp 29-31; doi:10.20956/mff.v23i1.6464

Abstract:
Daun beroma (Cajanus cajan (L.) Milps) berpotensi sebagai antioksidan dikaitkan dengan kandungan senyawa kimia yaitu flavanoid dan fenolik. Aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol 70% daun Cajanus cajan (L.) Milps dilakukan menggunakan metode 1,1- diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) dan 2,2’-azino-bis- [3- ethylbenzothiazoline sulphonate] (ABTS). Nilai IC50 pada pengujian metode DPPH yaitu 86,34 mg/ml dan IC50 pada metode ABTS yaitu 20,53 mg/ml. Berdasarkan nilai IC50 tersebut, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun Cajanus cajan (L.) Milps mempunyai aktivitas antioksidan yang sangat kuat.
Fx Haryanto Susanto
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 23, pp 25-28; doi:10.20956/mff.v23i1.6463

Abstract:
Penduduk Nusa Tenggara Timur memanfaatkan kulit batang tumbuhan Faloak (Sterculia quadrifida R.Br.) sebagai tumbuhan obat untuk mengobati penyakit liver, gastroentritis, dan penambah stamina. Kulit batang Faloak mengandung senyawa fenol, flavonoid, dan terpenoid. Penelitian ini bertujuan menganalisis daya antibakteri dan antioksidan dari fraksi hasil pemisahan ekstrak etanol kulit Faloak. Fraksi 3 menunjukan aktivitas antibakteri yang tinggi (IC50) pada bakteri B. subtilis (90.51 µg/mL), E. coli (80.12 µg/mL), S.aureus (77,87 μg/mL), dan S.thypi (61.23 µg/mL). Uji aktivitas antioksidan menunjukan bahwa fraksi 2 mempunyai aktivitas antioksidan dan kandungan fenolik total yang paling tinggi (34,16 ± 0,76 mg GAE).
Rahmasia Rahmasia, Sartini Sartini, Asnah Marzuki
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 23, pp 21-24; doi:10.20956/mff.v23i1.6462

Abstract:
Teh hijau (Camellia sinensis) mengandung senyawa polifenol utamanya epigallocatechin-3-gallate (EGCG), epigallatocatechin (EGC), epicatechin-3-gallate (ECG), dan epicatechin (EC) yang dapat berfungsi sebagai antioksidan. Senyawa polifenol tidak stabil pada temperatur, pH dan oksigen, sehingga ditambahkan bahan enkapsulasi maltodextrin dan gom arab untuk mempertahankan kadar polifenol selama masa penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan bahan maltodextrin dan gom arab sebagai pengenkapsulasi dalam mempertahankan kadar polifenol dari ekstrak teh hijau selama masa penyimpanan. Ekstraksi dilakukan secara remaserasi menggunakan pelarut etanol 70 % dengan perbandingan 1:5. Enkapsulasi ekstrak teh hijau menggunakan maltodextrin dan gom arab, perbandingan ekstrak teh hijau dengan enkapsulasi yaitu 1:5, 1:1 dan 1:2. Pengujian kadar total polifenol menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan larutan standar asam galat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enkapsulasi ekstrak teh hijau dapat mempengaruhi kadar total polifenol.
Agus Sangka Pratama, M Natsir Djide, M Nasrum Massi
Majalah Farmasi dan Farmakologi, Volume 23, pp 5-9; doi:10.20956/mff.v23i1.6458

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui untuk mendaptkan gambaran tentang prevalensi kejadian Escherichia coli penghasil ESBL yang resisten terhadap cephalosporin generasi III pada pasien RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar dan prevalensi genotif CTX-M Escherichia coli penghasil ESBL yang resisten terhadap cephalosporin generasi III pada pasien RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Penelitian dilaksanakan diruang perawatab rawat inap, ruang ICU, ruang HCU, ruang PICU, ruang IGD anak, Infection Center, laboratorium patologi klinik RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan laboratorium mikrobiologi klinik RSP Universitas Hasanuddin Makassar periode Juni 2018 – Agustus 2018. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental laboratorium dengan teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling. Bakteri Escherichia coli diisolasi dari 50 pasien. Pengujian dilakukan meliputi uji sensitivitas antibiotika dengan mengunakan metode difusi agar Kirby-bauer dan vitek 2 compact, uji deteksi ESBL dengan metode Double Disc Synergy Test (DDST), Phenotypic Confirmatory Test dan Uji genotip CTX-M Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil penelitian menunjukkan uji sensitivitas antibiotika pada 50 sampel klinik (Urin, Sputum, Darah, Feses, Pus dan Jaringan) yang diuji terhadap antibiotika golongan sefalosporin generasi III yang telah mengalami resistensi sebesar 40 isolat (80%) baik pada Ceftriaxone, Cefotaxime dan Ceftazidine. Pada uji fenotip dengan metode DDST dan Vitek 2 compact ditemukan 40 sampel (80%) positif ESBL pada Antibiotika Cefotaxime+As.Klavulanat (30 ųg/10 ųg ) maupun Ceftazidine+As.Klavulanat (30 ųg/10 ųg ). Pada uji genotip CTX-M di temukan 41 sampel (82%) memiliki gen CTX-M penghasil ESBL
Back to Top Top