Journal Information
ISSN / EISSN : 2085-9554 / 2621-2005
Total articles ≅ 233
Filter:

Latest articles in this journal

Rusmin Nurjadin
MABASAN, Volume 15, pp 331—350-331—350; https://doi.org/10.26499/mab.v15i2.472

Abstract:
Cerita rakyat Tanjung Menangis adalah cerita rakyat yang berasal dari Sumbawa. Cerita ini berkisah tentang seorang putri yang disembuhkan oleh pangeran dari Ujung Pandang yang menyamar menjadi seorang sandro. Fitnah tersebar mengenai sang sandro dan cinta sang putri pun tidak direstuioleh Raja. Sang sandro memutuskan pulang ke kampung halaman sementara sang putri mengejarnya ke ujung tanjung. Ia menangis karena tak mampu bersatu dengan sang sandro hingga akhirnya ditemukan meninggal di ujung tanjung. Tempat tersebut kini dikenal dengan sebutan Tanjung Menangis.Penelitian resepsi sastra pada cerita rakyat Tanjung Menangis dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana penilaian masyarakat terhadap cerita rakyat tersebut. Resepsi sinkronis dilakukan dengan pendekatan struktural, sosiologis dan psikologis. Penelitian menggunakan kuesioner pada 15 responden yang dipilih melalui metodepurposive sampling dengan memberikan naskah cerita rakyat yang ditulis oleh budayawan Sumbawa, Aries Zulkarnain. Dataditabulasikan dalam tabel dan diagram serta dianalisis dengan metode kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pembaca menyimpulkan cerita rakyat bertema legenda setempat (60%), memiliki alur maju (73,33%), dan mudah dipahami (73,33%). Resepsi pembaca terhadap kondisi sosial masyarakat Sumbawa di dalam cerita adalah memiliki budaya mursyawarah (66,67%). Pembaca menilai cerita kental akan nilai religius (46,67%) dan nilai moral (40%). Pembaca juga mendapatkan manfaat dari cerita (100%), yakni berupa manfaat inspirasi nilai-nilai luhur (53,33%) serta wawasan sejarah dan budaya (46,67%). Perasaan pembaca setelah membaca cerita adalah bersemangat untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya (93,33%). Cerita rakyat Tanjung Menangis dapat direkomendasikan sebagai pengajaran karena kandungan nilai-nilai baik yang terdapat di dalamnya. Penelitian ini juga memperkaya pengetahuan akan nilai dari cerita rakyat Sumbawa sebagai bagian dari kekayaan kebudaayan bangsa Indonesia.
Kasman
MABASAN, Volume 15, pp 351—364-351—364; https://doi.org/10.26499/mab.v15i2.473

Abstract:
Bahasa Samawa sendiri memiliki empat dialek, yakni Dialek Sumbawa Besar, Taliwang, Jereweh, dan Tongo. Di antara keempat dialek tersebut, Bahasa Samawa Dialek Sumbawa Besar merupakan dialek standar. Penelitian ini menjadikan Bahasa Samawa Dialek Sumbawa Besar sebagai sasaran karena masih banyak sisi-sisi kebahasaan dari dialek standar ini yang perlu dikaji sebelum diajdikan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis dan kaidah modalitas Bahasa Samawa DialekSumbawa Besar. Untuk kepentingan pengumpulan data penelitian, peneliti menerapkan atau menggunakan metode simak libat cakap, metode simak tak libat cakap, dan metode introspeksi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode padan intralingual. Hasil analisis data menunjukkan bahwa modalitas bahasa Samawa terdiri atas modalitas intensional yang dicirikan dengan kehadiran leksikon sate ‘ingin,’ rôa ‘mau,’ maksut ‘maksud,’ dan lain-lain. Modalitas epistemik dicirikan dengan kehadiran leksikon mungken ‘mungkin,’ bau bae ‘bisa jadi,’ bau ‘bisa.’ Modalitas deontik yang dicirikan dengan kehadiran leksikon isen ‘izin,’ beang isen ‘memberi izin,’ beang ôlaq ‘beri kesempatan.’ Modalitas dinamik yang dicirikan dengan kehadiran leksikon bauq ‘bisa,’ sanggup ‘sanggup,’ dan mampu ‘mampu.’ Modalitas aletis yang dicirikan dengan kehadiran leksikon perlu ‘perlu’ dan no rôa no ‘mau tidak mau.’
Nuriadi
MABASAN, Volume 15, pp 221-240; https://doi.org/10.26499/mab.v15i2.444

Abstract:
Artikel ini membahas cerminan karakter orang Sasak di dalam naskah Indarjaya Sasak. Penyajiannya dilakukan melalui metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan teori strukturalisme dinamik sebagai pendekatan teoretisnya. Ditemukan enam karakter orang Sasak di dalam naskah Indarjaya, yaitu a. suka mengembara (ngambar); b. tekun (pacu/genem) mencari ilmu agama (sufisme); c. bersikap takzim dan berbahasa santun (tindih); d. kesatria atau pemberani(wanen/merang) demi harga diri; e. rendah hati; serta f. ramah dan terbuka (gerasaq). Semua karakter yang ditemukan ini merupakan karakter baik yang selalu dijunjung tinggi dan dikedepankan oleh masyarakat Sasak. Karakter-karakter ini menjadi identitas dan kebanggaan orang Sasak yang dipandang sebagai pembeda atau sebuah kekhasan dibandingkan dengan suku-suku lain di Indonesia.
Ayu Nurmalayani, Burhanuddin, Johan Mahyudi
MABASAN, Volume 15, pp 201-220; https://doi.org/10.26499/mab.v15i2.424

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan refleksi sejarah PKI dalam Novel Tentang Kamu karya Tere Lie. Fokus pendeskripsiannya adalah subjek kolektif dalam novel yang mencerminkan sejarah PKI. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif menggunakan teori strukturalisme genetik. Data penelitian dikumpulkan dengan metode telaah dokumen. Data dianalisis dengan menggunakan metode struktural genetik. Berdasarkan paparan hasil dan pembahasan penelitian diketahui bahwa subjek kolektif novel Tentang Kamu karya Tere Liye yang mencerminkan peristiwa pemberontakan PKI, ada yang tergambar melalui unsur instrinsik, latar belakang pengarang, dan latar belakang sosial budaya tempat karya itu lahir. Disimpulkan bahwa (1) Subjek kolektif unsur instrinsik tampak pada penggunaan latar waktu, tempat, dan suasana/sosial. Latar waktu berupa pembrontakan PKI tahun 1948 dan 1965, latar tempat berupa lokasi pembantaian oleh PKI di Pabrik-pabrik tebu atau Loji-loji Kebun Tebu, dan latar suasana/sosial berupa hiruk pikuk dan pesta pora PKI saat pembantaian tokoh-tokoh agama; (2) Subjek kolektif latar belakang pengarang sebagai akuntan tergambar pada perjalanan tokoh Sri Ningsih dalam pengelola perusahaan dan penyusunan wasiatnya; dan (3) Subjek kolektif latar belakang sosial budaya tempat sastra itu lahir berupa penggunaan seni drama tradisional Ketoprak (dari Surakarta) dan Ludruk (dari Surabaya) sebagai media mempengaruhi masa.
Fitria Mariyah, Purwanti, Fitria Nur Agustin
MABASAN, Volume 15, pp 259—272-259—272; https://doi.org/10.26499/mab.v15i2.460

Abstract:
Informasi lowongan pekerjaan yang tersebar di kalangan masyarakat luas ternyata terdapat kesalahan berbahasa. Segala informasi yang diunggah ke media sosial tidak memperhatikan kaidah kebahasaan. Hal ini tidak berlaku pada informasi lowongan kerja yang notabene menggunakan ragam bahasa tulis resmi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui susunan kesalahan fonologi pada informasi lowongan kerja di instagram serta mengetahui faktor penyebabnya. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan motode simak bebas libat cakap, data berbentuk ungkapan kata informasi yang diobservasi oleh peneliti sehingga mendapatkan hasil yang sesuai. Hasil penelitian ini dari 10 sumber data ditemukan 59 data yang terdapat kesalahan berbahasa bidang fonologi berupa (1) perubahan bunyi 23 data; (2) penghilangan bunyi 12 data; dan (3) penambahan bunyi 24 data. Kesalahan tersebut berupa perubahan bunyi seperti [a] menjadi [e], perubahan bunyi [a] menjadi [o], perubahan bunyi [e] menjadi [a] dst. penghilangan bunyi [n], [e], [o], [r] dan penambahan bunyi [h], [l], [h], [t], [n], [a], [o], [u], [i], [d]. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya pengaruh bahasa asing atau penyerapan unsur serapan, kurangnya kompetensi berbahasa Indonesia atau ketidaktahuan seorang penutur, dan pembiasaan di lingkungan.
Siti Jamzaroh
MABASAN, Volume 15, pp 381—394-381—394; https://doi.org/10.26499/mab.v15i2.475

Abstract:
Bahasa Maanyan merupakan bahasa yang memiliki penutur cukup luas. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan tujuan 1) mendeskripsikan persentase kognat bahasa Maanyaan pada empat titik pengamatan, yaitu Desa Batapah (MB), Desa Malungai (MM), Desa Ipu Mea (MIM), dan Desa Warukin (MW); 2) mendeskripsikan korespondensi bunyi yang ada di antara empat titik pengamatan bahasa Maanyan tersebut; dan 3) mendeskripsikan perubahan bunyi sporadis. Pengumpulan data melalui studi pustaka, teknik simak dan catat, pengolahan data dengan metode leksikostatistik. Hasil yang ditemukan adalah ditemukan 1) persentase kata kerabat keempat titik pengamatan MW-MB-82%, MW-MM 78%, MW-MIM 80,5%, MB-MM: 79%, MB-MIM 83%, MM-MIM 77,5%; 2) korespondensi bunyi antartitik pengamatan bahasa Maanyan adalah a) arah korespondensi bunyi [ Φ-b- Φ-b], dan korespondensi bunyi [b-b- Φ –b]; b) variasi bunyi glottal (?), c) korespondensi bunyi [kŋ]-[ŋ], dan d) perubahan bunyi sporadis sinkop dan metatesis.
Suhila Mahamu, Dian Indira, Ypsi Soeria Soemantri, Riza Lupi Ardiati
MABASAN, Volume 15, pp 315—330-315—330; https://doi.org/10.26499/mab.v15i2.468

Abstract:
Iklan berbahasa Thailand “Vizer CCTV: Homeless Blind Truth” sarat berisi pesan moral, yang disebut oleh tokoh semiotik Roland Barthes dengan mitos. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna denotasi, konotasi dan mitos yang terkandung dalam iklan“VizerCCTV: Homeless Blind Truth”. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Adapun metode penyediaan data yang digunakan peneliti adalah metode simak dengan mengakses data dari Youtub. Berdasarkan teori semiotik Barthes, dikaji makna denotasi, konotasi, kemudian mitos yang terkandung dalam iklan “VizerCCTV: Homeless Blind Truth”. Berdasarkan hasil penelitian,iklan “VizerCCTV: Homeless Blind Truth” terdapat 9 adegan yang terkandung makna denotasi dan konotasi yang berbentuk tertampil gambar dan audio. Mitos yang terkandung dalam iklan agar kita tidak mudah berprasangka buruk kepada orang lain.
Azanul Islam, Burhanuddin, Saharudin
MABASAN, Volume 15, pp 241—258-241—258; https://doi.org/10.26499/mab.v15i2.458

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis dan fungsi tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam Talkshow Indonesia Lawyers Club dengan tema “75 tahun Indonesia maju”. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan yang mengandung ilokusi yang diucapkan oleh pembawa acara dan narasumber pada acara Talkshow Indonesia Lawyers Club. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode simak bebas libat dan teknik catat, sedangkan metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode padan ekstralingual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: jenis tindak tutur ilokusi yang ditemukan yaitu asertif, direktif, komisif, dan ekspresif. Fungsi tindak tutur ilokusi yang ditemukan yaitu: (1) fungsi memberitahukan, (2) menyimpulkan, (3) mengemukakan pendapat, (4) mengklaim, (5) mengajak, (6) meminta, (7) memerintah, (8) melarang, (9) menyarankan, (10) mengharapkan, (11) mengucapkan terima kasih, (12) meminta maaf, (13) menyalahkan, (14) mengkritik, (15) mengucapkan selamat, (16) memuji, (17) menyindir, (18) menjanjikan, (19) mengancam, (20) menolak, (21) bersumpah. Jenis tindak tutur yang paling dominan adalah tindak tutur jenis ekspresif, dan fungsi tindak tutur yang paling dominan adalah fungsi mengucapkan terima kasih.
Alfi Khoiru An Nisa, Yunita Trisnawati, Arti Prihatini
MABASAN, Volume 15, pp 365—380-365—380; https://doi.org/10.26499/mab.v15i2.474

Abstract:
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan bentuk dari tindak tutur ekspresif yang ada pada kalimat atau tuturan yang ada pada setiap tokoh dalam novel Pulang-Pergi karya Tere Liye. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Sumber data yang digunakan adalah tuturan yang ada pada novel Pulang-Pergi. Data yang digunakan adalah tuturan atau kalimat dari tokoh yang relevan dengan teori tindak tutur ekspresif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik baca-catat, yaitu membaca dengan kritis novel Pulang-Pergi yang kemudian jika menemukan tuturan yang relevan dengan teori tindak tutur ekspresif akan dicatat, kemudian dilakukan pengelompokkan seusai dengan indikator yang telah disiapkan, yang kemudian data tersebut dianalisis dengan bentuk deksriptif. Hasil penelitian ditemukan bahwa tindak tutur ekspresif dalam novel Pulang-Pergi terdapat 9 bentuk yaitu ucapan terima kasih, ucapan maaf, ucapan selamat, ucapan pujian, ucapan menyalahkan, ucapan harapan, ucapan menyetujui, ucapan tidak menyetujui, dan ucapan terkejut.
Ullul Azmi
MABASAN, Volume 15, pp 305—314-305—314; https://doi.org/10.26499/mab.v15i2.466

Abstract:
Cerita rakyat merupakan warisan sastra yang diwariskan secara turun temurun. Cerita rakyat dapat digunakan sebagai media untuk mewujudkan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, demikian juga dengan cerita rakyat Kek Lesap yang mengandung nilai kearifan lokal di dalamnya. Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif menggunakan objek nilai kerarifan lokal cerita rakyat Kek Lesap. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara dengan sesepuh di tokoh masyarakat dan sesepuh di daerah asal cerita rakyat Kek Lesap. Analisis data berpedoman pada model analisis mengalir dari Sutopo, yakni (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) penarikan simpulan/verifikasi. Hasil analisis dalam penelitian ini, yakni nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat Kek Lesap yang terwujud dalam karakter tokoh Lesap yakni, pantang menyerah, menghargai lingkungan, rela berkorban, berjiwa patriotik, toleran, dan kemanusiaan.
Back to Top Top