Journal Information
ISSN / EISSN : 2085-9554 / 2621-2005
Total articles ≅ 244
Filter:

Latest articles in this journal

Nining Nur Alaini
Published: 10 June 2022
Journal: Mabasan
Mabasan, Volume 16, pp 101-120; https://doi.org/10.26499/mab.v16i1.511

Abstract:
Hubungan antara manusia dan alam sekitarnya melahirkan banyak kebutuhan, yang salah satunya adalah kebutuhan untuk melestarikan lingkungan alam sekitarnya, sehingga alam tetap terjaga kelestariannya dan dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. Kajian terhadap cerita rakyat La Hila bertujuan untuk menjawab permasalahan tentang bagaimana sebuah karya sastra berkontribusi terhadap pelestarian dan keseimbangan lingkungan. Dari data yang berupa cerita rakyat La Hila diperoleh data yang berhubungan dengan masalah lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan pelestarian mata air. Melalui metode analisis deskriptif kualitatif berdasarkan teori semiotik dari sudut pandang ekokritik, yang dilakukan terhadap cerita rakyat La Hila, diperoleh hasil analisis yang menggambarkan hubungan manusia dengan mata air sebagai sumber kehidupan dan keperdulian terhadap usaha pelestarian lingkungan, khususnya lingkungan mata air. Dari hasil analisis yang dilakukan, juga bisa dilihat bahwa karya sastra memiliki fungsinya yang lain dalam kehidupan nyata, tidak hanya sebagai penghibur di kala senggang semata, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar kita.
Lirong Zhang
Published: 10 June 2022
Journal: Mabasan
Mabasan, Volume 16, pp 153-176; https://doi.org/10.26499/mab.v16i1.517

Abstract:
Sinonim merupakan salah satu bagian vital dalam pembentukan sistem kosa kata suatu bahasa. Perbedaan kata sinonim dalam metode pengajaran tradisional hanya sekadar makna leksikalnya, bukan penggunaannya sehingga pemelajar sering mengalami kesulitan dalam pemerolehan bahasa kedua. Munculnya linguistik korpus pada pokoknya telah menyediakan cara baru yang telah terbukti efektif dan praktik terhadap penelitian kosa kata. Dengan menggunakan Korpus Indonesian Web (IndonesiaWaC) dan pendeketan campuran kualitatif dan kuantitatif, penelitian ini bertujuan untuk melakukan perbandingan kolokasi dan prosodi semantik terhadap kata sinonim bahasa Indonesia “menyebabkan” dan “mengakibatkan” supaya dapat menemukan perselisihan penggunaan antara kedua katanya dalam teks tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “menyebabkan” dan “mengakibatkan” berbagi kolokasi yang mirip dan dua-duanya memiliki prosodi semantik negatif dalam sebagian besar konteks. Akan tetapi, “menyebabkan” sebagai kata kerja transitif biasanya disandingkan dengan kata benda yang berhubungan dengan kondisi sosial atau geografis, sedangkan kata-kata yang dikolokasikan “mengakibatkan” cenderung mempunyai kaitannya dengan keadaan badaniah orang. Hasil kajian ini pada dasarnya dapat menjadi referensi dalam pengajaran dan pemerolehan kosa kata bahasa Indonesia bagi pembelajar dan pemelajar bahasa Indonesia di Tiongkok agar meminimalkan keliruan gramatikal yang disebabkan oleh kesalahgunaan kosa kata dan transfer negatif bahasa Mandarin dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Hubbi Saufan Hilmi, Sri Wahyuni, Adriani, Darlisa Muhamad
Published: 10 June 2022
Journal: Mabasan
Mabasan, Volume 16, pp 177-198; https://doi.org/10.26499/mab.v16i1.519

Abstract:
Ketidakadilan gender merupakan produk dari adanya kuasa dan budaya patriarki dalam kehidupan bermasyarakat. Ketidakadilan gender ini juga tercermin dalam karya sastra, karya sastra merupakan dunia rekaan atas realitas yang ada. Karya sastra tersebut salah satunya ialah kumpulan cerita pendek Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan karya Riyana Rizki. Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan dan menjelaskan bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang terlahir oleh dan dalam kuasa dan budaya patriarki yang ada dalam semesta kumpulan cerpen Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan kritik sastra feminis yang membaca karya sastra dari perempuan sebagai pembaca (woman as reader), dan menjadikan kumpulan cerpen sebagai sumber datanya. Sementara yang menjadi data dalam penelitian ini ialah kutipan-kutipan dalam kumpulan cerpen yang mengindikasikan masalah dan tujuan penelitian. Teknik analisis data menggunakan analisis data model analisis interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan atau verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakadilan gender dalam kumpulan cerpen Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan karya Riyana Rizki termanifestasikan dalam sejumlah bentuk ketidakadilan gender, seperti marginalisasi, subordinasi, stereotip, dan juga dalam bentuk kekerasan terhadap kaum perempuan.
Moh. Zalhairi
Published: 10 June 2022
Journal: Mabasan
Mabasan, Volume 16, pp 139-152; https://doi.org/10.26499/mab.v16i1.514

Abstract:
Penelitian ini mengkaji gaya bahasa dan fungsinya yang digunakan dalam bercerita pada penutur bahasa Sasak di Kabupaten Dompu. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi. Dalam analisis data, peneliti menggunakan content analysis. Data penelitian berupa tuturan yang mengandung gaya bahasa dalam menceritakan suatu fenomena. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa penutur Bahasa Sasak di Kabupaten Dompu dalam bercerita lebih banyak menggunakan gaya bahasa dalam bentuk majas hiperbola. Gaya bahasa dalam bentuk majas hiperbola berfungsi untuk mendramatisasi sebuah peristiwa, menunjukkan rasa takjub, membangun humor, dan mencairkan suasana, serta menciptakan kengerian atas sebuah peristiwa yang dialami. Di samping itu, ditemukan juga gaya bahasa dalam bentuk majas litotes, personifikasi, dan simile dengan fungsi untuk menghargai orang lain, membangun keakraban dan hubungan baik, mendramatisasi sebuah peristiwa, serta mengolok-olok atau merendahkan kebiasaan orang lain.
Anggik Budi Prasetiyo
Published: 10 June 2022
Journal: Mabasan
Mabasan, Volume 16, pp 121-138; https://doi.org/10.26499/mab.v16i1.513

Abstract:
Berita adalah salah satu media untuk merepresentasikan atau mencitrakan seseorang yang sedang diperbincangkan guna membangun asumsi di kalangan para pembaca. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap citra Tri Rismaharini (TR) yang dibentuk oleh Kompas.com dalam pemberitaan tentang penunjukan Menteri Sosial (Mensos) dalam reshuffle kabinet Indonesia Maju tahun 2020. Data dalam penelitian ini adalah kata, frasa, dan kalimat yang mengandung citraan TR sebagai Mensos. Sumber data penelitian ini adalah lima berita tentang penunjukan TR sebagai Mensos di laman Kompas.com. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitiam kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis model Theo van Leeuwen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa TR dicitrakan positif dengan menggunakan dua strategi, yaitu strategi inklusi dan strategi eksklusi. Strategi inklusi yang ditemukan ialah strategi inklusi diferensiasi, strategi inklusi kategorisasi, strategi inklusi abstraksi, dan strategi inklusi identifikasi, dan strategi inklusi asimilasi. Strategi eksklusi yang ditemukan ialah strategi eksklusi pasivasi dan strategi eksklusi nominalisasi.
Agnes Erfina Belembele
Mabasan, Volume 16, pp 51-66; https://doi.org/10.26499/mab.v16i1.485

Abstract:
Variasi bahasa digunakan oleh manusia untuk bekerja sama dan berinteraksi. Penutur dan mitra tutur menjalin komunikasi dan menghasilkan variasi bahasa. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah (1) mendeskripsikan variasi bahasa yang terdapat pada pelayanan Customer Service di Bandar Udara Gusti Sjamsir Alam Kotabaru, (2) mendeskripsikan faktor-faktor variasi bahasa yang terdapat pada pelayanan Customer Service di Bandar Udara Gusti Sjamsir Alam Kotabaru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif dengan menggambarkan secara objektif dan aktual tuturan yang terjadi. Penelitian deskriptif kualitatif ini dilakukan dengan penganalisisan data melalui observasi ke lapangan dengan langkah-langkah pengumpulan, penganalisisan dan penyajian data dengan teknik observasi, teknik rekam dan teknik catat. Hasil dari penelitian ini, yaitu (1) jenis variasi bahasa yang ditemukan dalam pelayanan Customer Service di Bandar Udara Gusti Sjamsir Alam Kotabaru ialah a) variasi bahasa dari segi penutur yaitu penggunaan dialek daerah b) variasi bahasa dari segi pemakaian yaitu register, c) variasi bahasa dari segi sarana yaitu ragam lisan, dan 4) variasi bahasa dari segi keformalan yaitu ragam usaha santai (casual) dan ragam bahasa usaha (konsultativ). (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi variasi bahasa pada pelayanan Customer Service di Bandar Udara Gusti Sjamsir Alam Kotabaru adalah Faktor jenis kelamin yang dilihat dari intonasi nada berbahasa.
Agusman, Muhammad Azizurrohman, Mashar
Mabasan, Volume 16, pp 1-18; https://doi.org/10.26499/mab.v16i1.476

Abstract:
Keberadaan naskah kuno dalam bentuk naskah lontar belum dijadikan sebagai bahan pengembangan pariwisata secara komprehensif. Hal tersebut tampak pada beberapa kegiatan pariwisata budaya yang masih kurang pemanfaatan naskah kuno khususnya naskah lontar. Dengan demikian, tulisan ini membahas tentang naskah lontar Lombok dari sisi rancang bangun sebagai seni pertunjukan untuk sastra pariwisata. Penelitian ini dilakukan di Lombok Tengah dengan dialek meriaq meriku, yaitu wilayah Pujut dan wilayah Bonjeruk (Jonggat) karena kedua daerah tersebut memiliki kebudayaan yang sama. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan etnografi dengan teknik wawancara yang ditujukan kepada tokoh adat dan budayawan. Data penelitian ini ialah deskrispsi naskah dan klasifikasi naskah berdasarkan tema yang profan dan sakral serta deskripsi mengenai rancang bangun naskah sebagai seni pertunjukan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 12 naskah (lontar) yang populer, yaitu Rengganis, Labang Kare, Madang Sekar, Bang Bari, Joharsah, Kayat Nabi, dan Junglengge yang diklasifikasikan sebagai naskah yang bersifat profan dan Indar Jaye, Jati Suare, Prudak Sine, Markum, dan Puspe Kerma sebagai naskah yang bersifat sakral. Naskah yang bersifat profan tersebut disusun dalam konsep rancang bangun seni pertunjukan dalam bentuk pertunjukan teater dengan mengambil cerita dari naskah lontar atau festival memaos naskah lontar. Konsep rancang bangun seni pertunjukan tersebut disusun menggunakan empat A, yaitu atraksi yang merujuk kepada atraksi atau kegiatan seni pertunjukan teaterdan memaos (membaca) naskah lontar, aksesibilitas yang merujuk kepada akomodasi dan cara operasional dari atraksi tersebut, amenitias yang merujuk kepada konsep pembentukan rasa kesenangan dan kenyamanan dalam konteks wisata dan layanan tambahan berupa kegiatan atau hal-hal kecil yang mendukung kegiatan atraksi sebagai komponen utama. Rancang bangun tersebut harus dilakukan dengan perencanaan dan penyusunan yang komprehensif agar SDA dan SDM bisa dimanfaatkan dengan baik menuju sastra untuk pariwisata budaya berkelanjutan.
Lukmanul Hakim
Mabasan, Volume 16, pp 67-86; https://doi.org/10.26499/mab.v16i1.506

Abstract:
Ungkapan makian di setiap daerah memiliki keunikan dan kecirikhasan tersendiri. Ungkapan makian merupakan bentuk pelampiasan perasaan yang terpendam dalam hati karena situasi yang tidak menyenangkan. Bahasa Sasak dialek e-e juga memiliki ungkapan makian yang unik dan berciri khas tersendiri. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan bentuk dan referensi makian bahasa Sasak dialek e-e. Metode dalam penelitian ini ialah metode kualitatif deskriptif. Tahap penelitian meliputi (1) penyediaan data; (2) penganalisisan data, dan (3) penyajian hasil analisis data. Data diperoleh melalui teknik pustaka dan wawancara langsung dengan teknik libat cakap catat. Data diklasifikasikan berdasarkan permasalahan yang ada. Data diperoleh dari beberapa informan bahasa Sasak dialek e-e. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk makian bahasa Sasak dialek e-e adalah makian berbentuk kata dan frasa. Makian bahasa Sasak dialek e-e dalam bentuk kata adalah kapir ‘kapir’, jahanam ‘jahanam’, haram ‘haram’, telaknat ‘dilaknat’, jadah ‘jadah’, setan ‘setan’, iblis ‘iblis’, tele ‘nakal’, perot ‘penakut’, penipu ‘penipu’, melak ‘rakus’, noaq ‘durhaka’, ekik ‘pengotor’, bodo ‘bodoh’, belok ‘bodoh’, bungun ‘bodoh’, bongoh ‘bodoh’, jadik ‘durhaka’, gedok ‘tuli’, letaq ‘dekil’, benguq ‘bau’, belang ‘binal’, lekak ‘pembohong’, jogang ‘gila’, melut ‘agak gila’, tele ‘kemaluan perempuan’, dagun ‘besar kepala’, butak ‘botak’, bontet ‘besar perut’, buntet ‘pendek tubuh’, koyos ‘sangat kurus’, mokoh ‘gemuk’, tempang ‘pincang’, densrot ‘pincang’, bute ‘buta’, jeweh ‘besar bibir’, jungaq ‘mulut maju’, pengot ‘miring mulut’, bungkuk ‘bungkuk’, pesot ‘kempes paha’, borot ‘besar kemaluan’, basong ‘anjing’, bewi ‘babi’, godik ‘monyet’, sempi ‘sapi’, jaran ‘kuda’, ujat ‘serigala’, ulah ‘ular’, lentaq ‘lintah’, tekeq ‘tokek’, ngerodok ‘makan’, jeler ‘lihat’, maling ‘maling’, copet ‘copet’, sundel ‘sundal’, ubek ‘pelacur’, pekir ‘pengemis’, dan berong ‘penyakit kusta’. Makian bahasa Sasak dialek e-e dalam bentuk frasa adalah anak kapir ‘anak kafir’, anak jadah ‘anak haram’, maraq setan ‘seperti setan’, anak setan ‘anak setan’, maraq iblis ‘seperti iblis’, anak iblis ‘anak iblis’, teu selaq ‘leak’, tain tele ‘kotoran kemaluan perempuan’, loang tele ‘lubang kemaluan perempuan’, pesok mue ‘peot’, tunggak elak ‘pangkal lidah, beleq baduk ‘besar perut’, maraq basong ‘seperti anjing’, anak basong ‘anak anjing’, maraq bewi ‘seperti babi’, anak bewi ‘anak babi’, anak godik ‘anak monyet’, maraq sempi ‘seperti sapi’, maraq jaran ‘seperti kuda’, maraq ujat ‘seperti serigala’, maraq ulah ‘seperti ular’, maraq lentaq ‘seperti lintah’, tain basong ‘kotoran anjing’, tain jaran ‘kotoran kuda’, dan dengan gawah ‘orang hutan. Referensi makian yang ditemukan dalam Bahasa Sasak dialek e-e mengacu pada agama/kepercayaan, makhluk gaib, sifat/keadaan, anggota tubuh, binatang, aktivitas, profesi rendah, asal daerah terpencil, dan penyakit.
Syarifah Rahmah, Gigit Mujianto
Mabasan, Volume 16, pp 87-100; https://doi.org/10.26499/mab.v16i1.510

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami secara mendalam mengenai jenis-jenis tindak tutur ilokusi dan implikaturnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah 2 video kegiatan pembelajaran kelas VIII di MTs Maarif 19 Assalamah Lampung yang dapat dilihat melalui Youtube. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tindak tutur ilokusi dan implikaturnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Tindak tutur ilokusi yang ditemukan dalam video pertama dan kedua adalah pertama, tindak tutur asertif menyatakan; kedua, tindak tutur direktif memerintah; ketiga, tindak tutur komisif menawarkan sesuatu hal; keempat, tindak tutur ekspresif memuji; kelima, tindak tutur deklaratif menghukum. Sementara itu, berdasarkan jenis tindak tutur dan implikatur pengungkapannya dalam penelitian ini hanya ditemukan implikatur tindak tutur konvensionalnya saja.
Nur Fajar Septiana, Asep Yudha Wirajaya
Mabasan, Volume 16, pp 19-34; https://doi.org/10.26499/mab.v16i1.480

Abstract:
Karya sastra merupakan hasil pola pikir manusia yang dituangkan dalam bentuk tulisan, sehingga karya sastra dapat digunakan sebagai gambaran bagaimana kehidupan pada zaman karya sastra itu lahir. Dalam proses penghadiran karya sastra tidak lepas dari kebudayaan yang hidup dalam masyarakat, salah satunya adalah kebudayaan lisan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat sejak zaman niraksara hingga saat ini. Penelitian ini membahas mengenai aspek-aspek kelisanan yang terkandung dalam teks Hikayat Upu Daeng Menambun yang bertujuan untuk mengetahui kebudayaan lisan pada zaman naskah Hikayat Upu Daeng Menambun tersebut muncul. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam teks Hikayat Upu Daeng Menambun memiliki dua aspek kelisanan yang menonjol, yaitu aditif alih-alih subordinatif dan empatis-parsipatif alih-alih berjarak secara objektif.
Back to Top Top