BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual

Journal Information
ISSN / EISSN : 2655-4666 / 2655-4682
Current Publisher: Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja (10.34307)
Total articles ≅ 60
Filter:

Latest articles in this journal

Adi Putra
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 262-281; doi:10.34307/b.v3i2.134

Abstract:
This research is a study of the text of Acts 2: 41-47 in order to understand the lifestyle of the early church to discover the nature of church growth. Because of the research that has been conducted by the Bilangan Research Center Foundation with the conclusion that the growth that occurs in the church is due to movement factors and very small presentations are due to evangelism. That is what applies to using qualitative methods, especially the literature review of the text of Acts 2: 41-47, and some conclusions are drawn. First, the pattern of life of the early congregation that can be used as a model for the congregation or churches today that can experience growth, namely: they persevere in building up the Apostles, they persevere in fellowship, they persevere in breaking bread, they persevere in prayer, even they too. love god. So that they were liked by many people and God increased their numbers. Second, the essence of church growth, namely: the Word of God / sermons on Jesus Christ, the work of the Holy Spirit, and church fellowship and unity. Third, church growth must start from growth in quality then to quantity.Keywords: Destructive, Church, Qualitative, Quantitative. Abstraksi: Penelitian ini merupakan kajian terhadap teks Kisah Para Rasul 2:41-47 guna memahami seperti pola hidup jemaat mula-mula untuk menemukan hakikat pertumbuhan gereja. Oleh karena seperti kesimpulan penelitian yang telah dilakukan oleh Yayasan Bilangan Research Center dengan sebuah kesimpulan bahwa pertumbuhan yang terjadi dalam gereja mayoritas disebabkan faktor perpindahan jemaat dan sangat kecil presentase disebabkan penginjilan. Itulah sebabnya dengan menggunakan metode kualitatif khususnya kajian literature terhadap teks Kisah Para Rasul 2:41-47 maka diperoleh beberapa kesimpulan. Pertama, pola kehidupan jemaat mula-mula yang dapat dijadikan contoh model bagi jemaat atau gereja masa kini supaya dapat mengalami pertumbuhan, yakni: mereka bertekun dalam pengajaran Rasul, mereka bertekun dalam persekutuan, mereka bertekun memecahkan roti, mereka bertekun dalam doa, bahkan mereka juga suka memuji Tuhan. Sehingga mereka disenangi banyak orang dan Tuhan pun menambahkan jumlah mereka. Kedua, hakikat pertumbuhan gereja yakni: Firman Tuhan/ khotbah tentang Yesus Kristus, Pekerjaan Roh Kudus, dan persekutuan serta kesatuan gereja. Ketiga, pertumbuhan gereja harus dimulai dari pertumbuhan kualitas barulah kepada kuantitas.Kata Kunci: Pertumbuhan, Gereja, Kualitatif, Kuantitatif.
Yuangga Kurnia Yahya
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 246-261; doi:10.34307/b.v3i2.155

Abstract:
This article discuss the religious realities that revealed in Trilogy of the film God 's Not Dead (2014), God' s Not Dead 2 (2016), and God 's Not Dead: A Light in Darkness (2018). This article is the result of a qualitative study using the Van Dijk’s discourse analysis approach. Discourse in movie is not enough to rely on the text simply because it consists of various structures and levels. The structure is macro structure, super structure, and micro structure.In the results of the study it was found that the preparation of discourse was quite structured, ranging from thematic structures, schematic structures, semantic structures, syntactic structures, stilistic structures, and rhetorical structures. Macro structure includes thematic structures, super structures include schematic structures, while the rest are included in the microstructure. The two elements of the structure show that this film does convey a real message that God still has a place in human life even though it lives in a very rational environment and does not involve God in their lives.Keywords: Theism, Christian Faith, Secularism, Film, Discourse Analysis. Abstrak: Artikel ini membahas tentang realitas keagamaan yang tampak dalam Trilogi film God’s Not Dead (2014), God’s Not Dead 2 (2016), dan God’s Not Dead: A Light in Darkness (2018). Artikel ini merupakan hasil dari studi kualitatif menggunakan pendekatan analisis wacana model Teun A Van Dijk. Wacana dalam film tidak cukup disandarkan pada teks semata karena ia terdiri dari berbagai struktur dan tingkatan. Struktur tersebut adalah struktur makro, super struktur, dan struktur mikro. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penyusunan wacana cukup terstruktur, mulai dari struktur Tematik, Struktur Skematik, Struktur Semantik, Struktur Sintaksis, Struktur Stilistik, dan struktur retorisnya. Struktur Makro meliputi struktur tematik, super struktur meliputi struktur skematik, adapun sisanya termasuk dalam struktur mikro. Kedua unsur dari struktur tersebut menunjukkan bahwa film ini memang menyampaikan pesan nyata bahwa Tuhan tetap memiliki tempat di kehidupan manusia meskipun hidup di lingkungan yang sangat rasional dan tidak melibatkan Tuhan dalam kehidupan mereka.Kata Kunci: Teisme, Iman Kristen, Film, Analisis Wacana.
Rannu Sanderan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 306-327; doi:10.34307/b.v3i2.213

Abstract:
Along this article, some reflection shall be presented, the social and cultural education that shaped the traditional character of Torajan people. The aim of this study is going to show that education is not just a formal institution or merely an intellectual exercise but also requires a good deal with heuristic effort. Education is not worthy of the name if it is not supported by by character building. This research is the Torajan depiction of wisdom, which is pointed to show how they treat their quality of thinking and to keep growing their quality of life by using culture as a medium of heuristic. Keyword: education, heuristics, toraja, traditional, Abstrak: Kajian dalam tulisan ini hendak memaparkan beberapa refleksi sebagai hasil riset yang meneliti kearifan sosial dan pendidikan melalui budaya yang telah membentuk karakter masyarakat Toraja tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar institusi pendidikan belaka atau tidak hanya sekedar latihan intelektual saja tetapi juga membutuhkan upaya heuristik yang baik. Pendidikan belum pantas disebut pendidikan apabila mengabaikan pembentukan karakter. Penelitian ini adalah penggambaran kebijaksanaan orang Toraja tradisional, yang menunjukkan bagaimana mereka merawat kualitas berpikir serta pertumbuhan kualitas hidup mereka dengan mendayagunakan kultur sebagai medium heuristika. Kata kunci: heuristika, pendidikan, toraja, tradisional,
, Ezra Tari
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 183-197; doi:10.34307/b.v3i2.151

Abstract:
Keterlibatan remaja Kristen dalam praktik minum minuman keras semakin tinggi menuntut pola atau model pendidikan kristen dalam meminimalisir femonena tersebut. Dalam pemikiran tersebut, maka Amsal 31: 1-2, 4-7 diteliti dan dikaji untuk mendapat model edukasi yang tepat dalam mendidik remaja Kristen saat ini. Metode yang digunakan yang digunakan dalam menganalisis teks Amsal 31:1-2, 4-7 adalah analisis teks yang dipaparkan secara deskriptif . Hasil penelitian Amsal 31:1-2. 4-7 menunjukkan bahwa Lemuel menggunakan model internalisasi sikap dalam menimimalisir praktik minuman keras di lingkungan istana. Sikap tentang praktik minuman keras yang dinilai sebagai budaya yang baik dalam pikiran mereka ditransformasi sebagai budaya yang tidak pantas bagi seorang pegawai, pejabat pembesar istana yang dituntut harus prima, sehat fisik dan psikis dalam melayani publik. Transformasi sikap tersebut dilandasi dengan teladan dari Lemuel sebagai sebagai pengajar. Transinternalisasi sikap terhadap minuman keras dengan menempatkan penggunaan minuman keras sebagai obat penghilang rasa duka kematian dan rasa sakit menahun, atau rasa nyeri pada tubuh karena kerja berat setelah selesai bekerja. Model internalisasi sikap tersebut dapat dilakukan dalam upaya mendidik remaja kristen. Metode visualisasi dan affirmasi dilakukan untuk memaksimalkan internalisasi sikap terhadap bahaya miras.
Christar Arstilo Rumbay
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 167-181; doi:10.34307/b.v3i2.150

Abstract:
Christology has been a subject of wide discussion due the very heart of Christianity lays on this doctrine. Further, it relates directly to some core identity of believers such as soteriology, trinity and atonement. The intention of this treatise is to delve and offer alternative perspectives that may contribute to the discourse. However, the natures of Christ are one of the high attentions given. The divinity and humanity attributes participate consistently in dialogues. Herman Bavinck, a Dutch reformed background, and Ellen White with American Adventist tradition share insights to the topic. This essay goes to compare their thought in order to see the contribution that could be offered. Keywords: divinity-humanity, Christology, Herman Bavinck, Ellen White Abstrak: Kristologi menjadi topik pembahasan luas karena menjadi dasar doktrin kekristenan. Lebih jauh, Kristologi memiliki korelasi langsung dengan inti keyakinan seperti soteriology, trinitas dan penebusan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menggali dan menawarkan perspektif alternative yang dapat berkontribusi pada diskursus ini. Kodrat dari Kristus adalah atensi utama dalam pembahasan ini. Karakter ketuhanan dan kemanusiaan diulas secara konsisten. Herman Bavinck, latar belakang tradisi reformasi Belanda, dan Ellen White dengan tradisi Adventist di Amerika merefleksikan pengetahuan mengenai topik ini. Artikel ini mencoba memberikan perbandingan dengan tujuan untuk melihat kontribusi yang dapat ditawarkan.
Giofany Junetri, Yesaya Adhi Widjaya
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 198-213; doi:10.34307/b.v3i2.149

Abstract:
The life in contemporary era is full of challenges that have a big impact to almost all aspects in society, including for the growth and development of students in school. Christian teachers should be a role model who keeps on equiping their competencies and grow spiritually in order to be able to lead students. Student in turn is expected to response properly with a true morality when facing all the challenges. Teaches leadership is prominent to be a model for the student to obtain a true morality. This paper will demonstrate the relationship or Christian teacher’s leadership to the growth of student from the ethical perspectives. This paper will examine the essence or nature of Christian teacher, factors affecting, obstacles to Christian teacher leadership, and strategies that can be applied by Christian teacher. The true leadership model is Jesus who provides the meaning and example of leadership with humility within the purpose of God’s Kingdom. By recognizing the true leadership of Jesus Christ, Christian teacher can help students to living out this life through the Christian ethics. This paper will also provide suggestions for further research which will included other aspects in education field. Key Words: Christian teacher, students, leadership, perspective, ethic. Abstrak-Konteks kehidupan zaman ini dipenuhi dengan berbagai tantangan yang memiliki pengaruh yang besar hampir kepada semua aspek kehidupan masyarakat, khususnya bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa-siswi di sekolah. Seorang guru Kristen sudah seharusnya menjadi seorang teladan yang secara konsisten menjaga kompetensi dan pertumbuhan spiritual sehingga mampu untuk memimpin siswanya. Siswa diharapkan akan menjadi seorang yang mampu menghadapi realitas hidup ini dengan respon dari moralitas yang benar. Guru adalah teladan pertama yang seharusnya memimpin murid untuk menyadari tentang moralitas yang benar. Makalah ini akan memaparkan kepemimpinan guru Kristen dalam hubungannya dengan pertumbuhan siswa yang ditinjau dari etika Kristen. Makalah ini berisi penjelasan tentang esensi dari natur sebagai seorang guru Kristen, faktor yang mempengaruhi, hambatan atau tantangan menjadi seorang guru Kristen, serta strategi yang bisa di aplikasikan oleh guru Kristen. Model kepemimpinan yang sejati adalah Yesus, yang menyediakan arti dan contoh kepemimpinan dengan kerendahatian dengan kerajaan Allah sebagai tujuannya. Mengakui Yesus sebagai pemimpin yang sejati, seharusnya membuat setiap guru Kriten menyadari untuk kemudian menolong siswanya untuk menghidupi hidup ini berdasarkan etika Kristen. Makalah ini juga menyediakan saran untuk penelitiaan lebih jauh termasuk setiap aspek lingkungan Pendidikan. Kata Kunci: Guru Kristen, peserta didik, kepemimpinan, perspektif, etika
Soleman Kawangmani
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 145-166; doi:10.34307/b.v3i2.171

Abstract:
The millennial generation is a generation that is familiar with the development of social media activities. This ease of access makes it to channel their hobby, one of which is accessing the horoscope (Zodiac). Christian faith must be able to provide proper clarification in the form of apologetics. The context of this problem is similar to the pattern of Paul's apologetics to the Colossians regarding the issue of Gnosticism. Based on this, the purpose of this research is: to find a pattern of apostle Paul's apology application to the contents of Gnosticism in the Colossians in the context of The millennial generation exposed by the Zodiac online. This paper uses a qualitative approach with descriptive theological and social research types. Data collection uses literature studies and interviews with millennials and God's servants who deal with zodiac addiction problems. This paper produces an apologetic pattern for millennials exposed to the Zodiac. These findings are described in 7 elements of dialogical-clarification apologetic patterns. Keywords: Millennial Generation, Zodiac, Gnosticism, Apologetics Abstrak: Generasi milenial merupakan generasi yang akrab dengan perkembangan akses media sosial. Kemudahan akses ini menjadikan untuk menyalurkan kegemaran mereka, salah satunya adalah mengakses mengenai ramalan bintang (zodiak). Iman Kristen harus dapat memberikan klarifikasi yang tepat dalam bentuk apologetika. Konteks permasalahan ini memiliki kemiripan dengan pola apologetika Paulus pada jemaat Kolose berkaitan dengan isu gnostisisme. Berdasarkan hal tersebut tujuan dari penelitian ini adalah: menemukan suatu pola penerapan apologetika rasul Paulus terhadap isi Gnostisisme di jemaat Kolose dalam konteks generasi milenial yang terpapar Zodiak online. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian teologis dan sosial secara deskriptif. Pengumpulan data menggunakan kajian literature dan wawancara pada generasi milenial dan hamba Tuhan yang menangani permasalahan kecanduan zodiak. Tulisan ini menghasilkan pola apologetika bagi generasi milenial yang terpapar zodiak. Temuan tersebut dideskripsikan pada 7 elemen pola apologetika dialogis-klarifikatif. Kata Kunci: Generasi Milenial, Zodiak, Gnostisisme, Apologetika
Iswanto Iswanto, Marsi Bombongan Rantesalu
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 282-305; doi:10.34307/b.v3i2.126

Abstract:
Tolerance as a value is manifested in the life behavior of a group of people. The aim of this study is to analyze and describe tolerance studies based on the folklore of the people of Rote in East Nusa Tenggara. As research conducted by Rantesalu and Iswanto (2018), defines tolerance values based on the stories of the people of the Toraja community, namely the value of acceptability and understanding combined with togetherness and complementary. Another empirical paradigm was obtained from Hofner (2018) which explains the tolerance is influenced by social and political contexts. This research is focused on the specificity of the perception of tolerance that is formed from values based on folklore data. The method used is descriptive qualitative method and enriched with Ricour hermeneutic method in text analysis. The data obtained in the form of a folklore titled Landu, which tells the history of the formation of the Landu community on the island of Rote. The Landu Kingdom is one of the 19 kingdoms on Rote Island in the 14th century. Based on the data obtained the results of research on tolerance values contained in CRMR Landu are (1) This acceptability and understanding as a base the basis of tolerance is explained by the verb diadik loke // hule 'beri // kasih' and (2) the value of brotherhood based on the form of diadik dalek // teik 'rasa // inner', inak // touk 'father // mother '.Keywords: Tolerance, Text, Value Abstrak: Toleransi sebagai sebuah nilai diwujudkan dalam perilaku kehidupan suatu kelompok masyarakat. Tujuan penelitian ini ialah meganalisa dan mendeskripsikan kajian toleransi berdasarkan cerita rakyat masyarakat Rote di Nusa Tenggara Timur. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Rantesalu dan Iswanto (2018), mendefinisikan nilai toleransi berdasarkan ceritera rakyat masyarakat Toraja yang di dalamnya terdapat internalisasi nilai keberterimaan dan kesepahaman (acceptability and understanding). Selanjutnya, nilai-nilai tersebut disejajarkan dengan kebersamaan (togetherness) dan saling melengkapi (complementary). Paradigma empiris lainnya diperoleh dari Hofner (2018) yang menjelaskan toleransi yang ditimbulkan dari konteks politik di Indonesia. Penelitian ini lebih difukuskan pada kekhasan persepsi toleransi yang terbentuk dari nilai berdasarkan data cerita rakyat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang diperkaya dengan metode hermeneutik Ricour dalam analisa teks. Data yang diperoleh berupa cerita rakyat berjudul Landu, yang menceritakan sejarah terbentuknya masyarakat Landu di pulau Rote. Kerajaan Landu adalah salah satu kerajaan dari 19 kerajaan di Pulau Rote pada abad ke-14. Berdasarkan data diperoleh hasil penelitian nilai toleransi yang terdapat dalam CRMR Landu adalah (1) Nilai keberterimaan dan kesepahaman (acceptability and understanding) ini sebagai alas dasar toleransi dijelaskan berdasarkan verba diadik loke//hule ‘beri//kasih’ dan (2) nilai persaudaraan (brotherhood) yang berdasarkan pada bentuk diadik dalek//teik ‘rasa//batin’, inak//touk ‘ayah//ibu’. Kata Kunci: Toleransi, Teks, Landu
Syani Bombongan Rantesalu
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 214-229; doi:10.34307/b.v3i2.152

Abstract:
A value and character based curriculum is the core of the curriculum from time to time which is designed to answer the challenges of the times. In this paper, the author wants to examine the application of value-based and character-based curriculum in Christian Religious Education learning to the spiritual intelligence of public high school students in Tana Toraja. This is considered important because in the implementation of a value-based and character-based curriculum it has less impact on the spiritual intelligence of state high school students in Tana Toraja. The method used in this paper is qualitative research with descriptive analysis method. This study concludes that the curriculum developed in Christian religious education learning is still general in nature, which is designed in general in a universal context which is then developed according to a particular context. The curriculum in the context of Christianity in learning values and character in Christian education is only one source, namely from the Bible and applies to everyone in all places, as for the value in character building in relation to this spiritual intelligence, namely the value of love which is the main command of God, readiness to hear. and slow to speak, the value of holiness is not defiling oneself with various temptations and the values of the fruit of the Holy Spirit, namely love, joy, peace, patience, generosity, kindness, loyalty, gentleness and self-control.Keywords: values, character, spiritual intelligence Abstrak: Kurikulum berbasis nilai dan karakter adalah inti dari dari kurikulum dari masa ke masa yang di desain untuk menjawab tantangan jaman. Dalam tulisan ini, penulis ingin mengkaji pemberlakuan kurikulum berbasis nilai dan karakter dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen terhadap Kecerdasan spiritual siswa SMA Negeri di Tana Toraja. Hal ini dianggap penting oleh karena dalam pemberlakuan kurikulum berbasis nilai dan karakter kurang berdampak bagi kecerdasan spiritual siswa SMA Negeri di Tana Toraja. Dalam tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis dekriptif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, kurikulum yang dikembangkan dalam pembelajaran pendidikan Agama kristen masih bersifat umum, yakni dirancang secara umum dalam konteks universal yang kemudian dikembangkan sesuai konteks tertentu. Kurikulum dalam konteks kekristenan dalam pembelajaran nilai dan karakter pada pendidikan Kristen hanya satu sumber yakni dari Alkitab dan berlaku bagi setiap orang disegala tempat, adapun nilai dalam pembentukan karakter dalam kaitannya dengan kecerdasan spiritual ini yakni nilai kasih yang merupakan perintah utama Tuhan Allah, kesiapan untuk mendengar dan lambat untuk berkata-kata, nilai kekudusan yakni tidak menajiskan diri dengan berbagai godaan jasmani dan nilai-nilai dari buah Roh Kudus Kata Kunci: Nilai, karakter, kecerdasan spiritual
Bimo Setyo Utomo
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 230-245; doi:10.34307/b.v3i2.177

Abstract:
Kerusakan lingkungan telah menjadi masalah bersama umat manusia yang perlu mendapat perhatian serius, terutama dari orang percaya yang harusnya dapat menemukan dasar Alkitab mengenai apa yang harus dilakukan dalam upaya pelestarian lingkungan. Dalam status dan fungsinya diciptakan oleh Allah, manusia tidak hanya menjadi citra Allah, tetapi juga sebagai rekan sekerja Allah. Dalam Kejadian 2:15, Taman Eden sebagai representasi habitat manusia kala itu, disediakan oleh Allah untuk kepentingan manusia, yaitu dengan cara manusia mengusahakan dan memelihara Taman Eden tersebut. Oleh sebab itu, dalam upaya mencari dasar teologis mengenai peran orang percaya dalam mengupayakan kelestarian lingkungan, dalam penelitian ini akan dibahas mengenai makna kata mengusahakan dan memelihara Taman Eden melalui metode eksegesa. Penulis melakukan analisis terhadap kata kerja tesebut, kemudian melengkapinya dengan sebuah tafsiran yang didapat dari berbagai sumber yang bekaitan dengan nats Kejadian 2:15. Hasilnya adalah temuan teologis yang menghasilkan konsep tentang pelayanan dan tanggung jawab orang percaya terhadap lingkungan.
Back to Top Top