BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual

Journal Information
ISSN / EISSN : 26554666 / 26554682
Current Publisher: STAKN Toraja (10.34307)
Total articles ≅ 50
Filter:

Latest articles in this journal

Febriani Febriani, Desi Ratna Sari, Anita Nengsi Tandi Bua'
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 128-144; doi:10.34307/b.v3i1.162

Abstract:
Longko’ values are part of the values that are lived by the Toraja people. This value needs to be investigated more deeply concerning fostering the character of Christian youth. However, the challenges of Christian youth also live in a reproducible era, which is the era of changing order very quickly due to the influence of technology, especially the industrial revolution 4.0. The church needs to consider the steps to accommodate cultural values, namely the value of longko’, and the challenges of the era of disruption. This study uses a qualitative approach to the types of social and theological research studies to be able to produce an appropriate character building model.This research concludes that the formation of Christian youth character in the perspective of longko’ values in the era of corruption resulted in three main study focuses, namely on the aspect of fostering Christian values for Christian youth by the Church in the perspective of longko’ values in the era of disruption. Second, fostering the lifestyle of Christian youth by the church in the perspective of longko’ values in the era of disruption. The third is the fostering of the habit of living full of the Holy Spirit for Christian youth as a result of the perspective of longko’ values in the era of disruption. AbstrakNilai longko’ merupakan bagian yang menjadi nilai-nilai yang dihidupi oleh orang Toraja. Nilai ini perlu diselidiki lebih dalam dalam kaitannya dengan pembinaan karakter pemuda kristiani. Namun demikian tantangan pemuda kristiani juga hidup di era yang diruptif yaitu era perubahan tatanan yang sangat cepat karena pengaruh teknologi terkhusus revolusi industri 4.0. Gereja perlu mempertimbangakan langkah akomodasi nilai budayawi yaitu nilai longko’ dan tantangan era disrupsi. Tujuan peneli-tian ini merumuskan pembinaan karakter pemuda Kristiani dalam perspektif budaya longko’ di era disrupsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi penelitian sosial dan teologis untuk dapat menghasilkan suatu model pembinaan karakter yang tepat. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa Pembinaan karakter pemuda kristiani terhadap dalam perspektif nilai longko’ di era dirupsi menghasilkan tiga fokus kajian utama yaitu pada aspek pembinaan nilai-nilai Kristiani bagi pemuda Kristiani oleh gereja dalam perspektif nilai longko’ di Era disrupsi. Kedua, pembinaan gaya hidup pemuda Kristiani oleh gereja dalam perspektif nilai longko’ di Era disrupsi. Ketiga pembinaan kebiasaan hidup penuh Roh Kudus bagi pemuda Kristiani akibat dalam perspektif nilai longko’ di Era disrupsi.
Yudha Nugraha Manguju
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 114-127; doi:10.34307/b.v3i1.169

Abstract:
Masikka' culture is very important to know it’s meaning and its theological values so that the citizens of the Church can understand it in the context of Christianity. This research uses a qualitative method that is by observing and conducting interviews with the purpose of obtaining information about Masikka' which uses a combination of language between Bugis and Toraja to find the meaning of poetry and the theological values contained therein. On the essence of Masikka' is done because the people are considered to have merit, influential, useful, and have exemplified as a leader and also a hero for the people of Rante Balla. In the concept of Christianity, Masikka' is a lamentation poem that tells the process of traveling the dead to the creator by being sung by a group of people interchangeably. Masikka's culture if it is reviewed from the perspective of Christian faith also contains theological values, namely cosmology, reverence, social structure, hierarchy, togetherness, temporary life, and also the arts. Some of these values are also described in the Bible either directly or indirectly through the stories of Biblical figures. But in practice, the Masikka culture has not yet reflected the value of Christianity completely so that it needs to be transformed into Christianity. AbstrakBudaya Masikka’ sangat penting untuk diketahui makna dan nilai-nilai teolo-gisnya agar warga Gereja dapat memahaminya dalam konteks Kekristenan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu dengan mengamati dan melakukan wawancara dengan tujuan mendapatkan informasi tentang syair masikka’ yang menggunakan per-paduan bahasa antara Bugis dan Toraja agar menemukan makna syair dan nilai-nilai teo-logis yang terkandung di dalamnya. Pada hakekatnya masikka’ dilakukan oleh karena orang-orang tersebut dianggap telah berjasa, berpengaruh, berguna dan telah memberi teladan sebagai pemimpin dan juga pahlawan bagi masyarakat Rante Balla. Dalam konsep Kekristenan, masikka’ merupakan syair ratapan yang menceritakan proses per-jalanan orang yang telah meninggal menuju kepada Sang Penciptanya dengan cara dinyanyikan oleh sekelompok orang secara bergantian. Budaya masikka’ jika ditinjau dari perspektif iman Kristen juga mengandung nilai-nilai teologis, yaitu kosmologi, penghormatan, struktur sosial, hirarki, kebersamaan, kehidupan yang sementara, dan juga kesenian. Beberapa nilai ini juga dijelaskan di dalam Alkitab baik secara langsung maupun tidak langsung melalui cerita tokoh-tokoh Alkitab. Namun dalam prakteknya, budaya masikka’ belum mencerminkan nilai Kekristenan secara utuh sehingga perlu ditransformasikan ke dalam Kekristenan.
Asigor Parongna Sitanggang
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 91-101; doi:10.34307/b.v3i1.140

Abstract:
Understanding the eschatology of each group or ecclesiastical school is quite diverse because this subject is indeed a difficult thing. This paper, Pengaruh Kosmologi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab (The Influence of Flat Earth Cosmology in Bible Eschatology), aims to re-explore biblical texts relating to eschatology or the end of time. Of all the biblical texts available, it is found that the end times do not talk about the destruction of the earth and/or the universe and replace it with something completely or absolutely new, but only include natural disasters without destroying the absolute earth and/or the universe, so it is the renewal of the earth/universe that exists, now, inhabited by humans. This paper is the result of library research using the historical-critical hermeneutic method of the biblical texts used, including the two-source theory for the synoptic gospels. What is intended in this paper is that many eschatological texts or the texts discuss about the end times in the Bible, both Old Testament as also the New Testament, are strongly influenced by the understanding of flat-earth cosmology, so that reading of these biblical texts should not be carried out using the understanding of modern round-earth cosmology round. AbstrakPemahaman eskatologi masing-masing kelompok atau aliran gerejawi cukup beragam karena memang pokok ini adalah hal yang sulit. Makalah ini, Pengaruh Kosmo-logi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab, bertujuan untuk menggali ulang teks-teks biblis yang berkaitan dengan eskatologi atau akhir zaman. Dari semua teks biblis yang ada, maka ditemukan bahwa akhir zaman tidak berbicara mengenai penghancuran bumi dan/atau alam semesta dan menggantikannya dengan sesuatu yang sepenuhnya atau mutlak baru, melainkan hanya menyertakan bencana-bencana alam tanpa menghancur-kan mutlak bumi dan/atau alam semesta, sehingga itu merupakan pembaruan bu-mi/alam semesta yang ada, yang sekarang, yang didiami manusia. Makalah ini merupa-kan hasil penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode hermeneutik historis-kritis atas teks-teks biblis yang digunakan, termasuk teori dua sumber bagi Injil-injil sinoptik. Yang hendak dibuktikan dalam makalah ini adalah terdapat banyak teks eskato-logis atau tentang akhir zaman dalam Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang sangat dipengaruhi oleh pemahaman kosmologi bumi datar (flat-earth cosmology), sehingga pembacaan teks-teks biblis tersebut tidak boleh dilakukan dengan menggunakan pemahaman kosmologi bumi bulat (round-earth cosmology).
Sonny Eli Zaluchu
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 102-113; doi:10.34307/b.v3i1.154

Abstract:
The success of an organization lies in the hands of its leaders. The deciding factor is the extent to which a leader correctly understands the definition and functions of leadership. This research conducted by the description method in which data obtained through an online questionnaire to photograph the extent of respondents' understanding, namely shepherds involved in the Church Study Institute (LKG) organization in East Java, regarding leadership. The results found that the LKG participants had the right leadership paradigm and carried out the leadership principles in service. The study also found that shepherds support leadership as successive, meaning that it is not life-long and can be replaced. It was also found that an understanding of leadership is in accordance with the theory of leadership that a leader is not born but is formed.AbstrakKesuksesan organisasi terletak ditangan pemimpinnya. Faktor yang menentukan adalah sejauh mana seorang pemimpin memahami dengan benar definisi dan fungsi-fungsi kepemimpinan. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskripsi yang datanya diperoleh melalui kuesioner online, untuk memotret sejauh mana pemahaman responden yaitu gembala-gembala yang terlibat di dalam organisasi Lembaga Kajian Gereja (LKG) di Jawa Timur, mengenai kepemimpinan. Hasil penelitian menemukan bahwa peserta LKG tersebut memiliki paradigma kepemimpinan yang benar dan menjalankan prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut di dalam pelayanan. Penelitian juga menemukan bahwa para gembala mendukung kepemimpinan bersifat suksesif, artinya tidak seumur hidup dan dapat tergantikan. Juga ditemukan bahwa pemahaman tentang kepemimpinan sesuai dengan teori kepemimpinan bahwa seorang pemimpin tidak dilahirkan tetapi dibentuk.
Junaity Soften Sine, Jeni Isak Lele, Novreadi Ari Mangngi
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 61-75; doi:10.34307/b.v3i1.137

Abstract:
Higher Education Transformation has become a trend among colleges under the Ministry of Religious Affairs. The organizational readiness for change in status and function is not merely about an individual readiness, but the readiness of all of the organization. This research aimed at finding how high the readiness level in the transformation of STAKN Kupang to IAKN Kupang was. A quantitative approach was used by using a survey method. The questionnaire used was the Organizational Readiness for Implementing Change (ORIC) by Weiner which measures two dimensions of readiness named change efficacy and change commitment to face an organizational change. A sample of 50 people was taken out of the population of 200. The result of One Sample T-test shows tcount= 5,738, which compared to the value of ttable=0,67964. Since the t-count > t-table, H0 is accepted which means the readiness level in the institution transformation becoming IAKN Kupang is greater than or equals to 75% as expected (H0:m ≥ 75 %). Even though, STAKN Kupang is categorized into a high readiness level group, there are five factors to be considered in the future for the sake of its continuity and sustainability: organizational climate and culture, interpersonal relationship, leadership, past habit and mindset, and techonolgy implementation. AbstrakTransformasi pendidikan tinggi di Indonesia telah menjadi tren di lingkup per-guruan tinggi di bawah Kementerian Agama. Kesiapan organisasi untuk beralih status dan fungsi tidak semata-mata berbicara mengenai kesiapan individu dalam organisasi melainkan kesiapan organisasi secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan seberapa tinggi tingkat kesiapan dalam transformasi pendidikan tinggi dari STAKN Kupang menjadi IAKN Kupang. Pendekatan penelitian kuantitatif dengan metode survey digunakan dalam penelitian ini. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner Organizational Readiness for Implementing Change (ORIC) oleh Weiner yang mengukur dua dimensi kesiapan yakni keyakinan dan komitmen untuk berubah. Sampel penelitian yang digunakan adalah 50 orang dari total populasi 200 orang. Dari hasil uji One Sample t-test ditemukan harga t= 5,738, harga t tersebut selanjutnya dibandingkan dengan har-ga t-tabel =0,67964. Karena t-hitung lebih besar dari t-table atau jatuh pada penerimaan H0 (5,734>0,67964) maka H0 diterima sebagaimana dikatakan bahwa tingkat kesiapan transformasi Pendidikan Tinggi menuju IAKN Kupang adalah lebih besar atau sama dengan 75 % dari yang diharapkan (H0:m ≥ 75 %). Meskipun STAKN Kupang masuk dalam kategori siap bahkan sangat siap, namun terdapat lima faktor yang perlu diperhatikan untuk menjamin keberhasilan dan keberlangsungan transformasi di masa yang akan datang: iklim dan budaya organisasi, dinamika hubungan interpersonal dalam organisasi, kepemimpinan, kebiasaan dan pola pikir lama, dan penguasaan teknologi. Kata kunci: kesiapan; organizational readiness for implementing change; transformasi
Christanto Sema Rappan Paledung
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 44-60; doi:10.34307/b.v3i1.118

Abstract:
This paper discusses the history of the Catholic Church in Toraja. This historical research aims to discuss the contextual theology in Toraja by drawing inspiration from the history of the acceptance of the Catholic Church in Toraja. The thesis statement of the paper is a historical study of the process of acceptance of the Catholic Church in Toraja showing a theological process that emphasizes fairness towards oppressed groups in society and generous dialogue towards Toraja culture. This paper consists of four parts. The first part discusses the history of the presence of the Catholic Church, which started from Makassar to Toraja. The second part explains the beginning of his acceptance in a house underneath. The third part is the subsequent acceptance of its relationship with Toraja culture. The fourth part is a conversation about the relations of the Dutch Zending in Toraja and the Catholic missionaries in Toraja. AbstrakMakalah ini membahas sejarah Gereja Katolik di Toraja. Penelurusan sejarah ini bertujuan untuk mendiskusikan teologi kontekstual di Toraja dengan menimba inspirasi dari sejarah keberterimaan Gereja Katolik di Toraja. Dengan demikian, pernyataan tesis saya di dalam makalah ini adalah studi sejarah terhadap proses keberterimaan Gereja Katolik di Toraja menunjukkan proses berteologi yang menegaskan keberpihakan terhadap kelompok masyarakat yang tertindas dan dialog yang murah hati terhadap kearifan lokal Toraja. Makalah ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama membahas sejarah kehadiran Gereja Katolik yang bermula dari Makassar hingga ke Toraja. Bagian kedua membeberkan awal keberterimaannya di sebuah kolong rumah. Bagian ketiga adalah keberterimaan selanjutnya dalam relasinya dengan budaya Toraja. Bagian keempat adalah percakapan tentang relasi kelompok Zending Belanda di Toraja dan para misionari Katolik di Toraja. Kata-kata kunci: keberterimaan, sejarah Gereja Katolik, teologi kontekstual, hikmah historis
Naomi Sampe
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 26-43; doi:10.34307/b.v3i1.158

Abstract:
Cultural paradigm reconstruction in Economic practical of Rambu Solo’ in North Torajan Regency. The economic cultural transformation in the Torajan funeral ceremony is a kind of reconstruction of how to give or make charity to the grieving family, from pig, buffalo, or any other object and transform into money or capital. These changes are interested to be studied, especially on the impact that inflicted by this cultural reconstruction. This research is using the qualitative approach which runs in descriptive methods. Finally, all data will be exposed to real narratives and qualitative analytic. The results of this research are: 1.the economic cultural reconstruction in the funeral ceremony in North Toraja is leaving some pig or buffalo to resell, the value of the pig or buffalo is exchange into the money. 2.the impact of this economic reconstruction is that the grief burden especially in the economic aspect was lighter and easier. Either the people who come to bring their help (pig, buffalo), shall be more practical and simpler. AbstrakRekonstruksi Paradigma Budaya Ekonomis dalam Rambu Solo’ di Toraja Utara. Transformasi budaya ekonomis dalam upacara pemakaman orang Toraja merupakan suatu bentuk pergeseran jenis pemberian/bantuan pada keluarga yang sedang berduka, dari bentuk babi dan kerbau atau materi (benda) menjadi pemberian dalam bentuk uang atau modal. Hal ini menarik untuk diteliti guna mengetahui sejauhmana dampak ekonomis yang ditimbulkan oleh pergeseran budaya ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, perubahan ekonomis dalam upacara rambu solo’ di kabupaten Toraja Utara yaitu menyisakan sebagian babi dan kerbau untuk dijual kembali, menggantikan harga babi dan kerbau dengan nominal uang, mengganti pemberian barang dengan uang (amplop). Kedua, dampak perubahan kultur ekonomi dan upacara pemakaman orang Toraja adalah beban ekonomi orang yang melaksanakan upacara rambu solo’ menjadi lebih ringan. Demikian pula dengan keluarga yang datang membawa babi dan barang dapat memakai cara yang lebih praktis, mudah dan murah. Kata kunci:
Jeni Palette
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 76-89; doi:10.34307/b.v3i1.168

Abstract:
The journey of the people of Rante Balla to the Rantai Damai is different from general community movements. Their movement begins with a rebellion DI/TII that results in their home being destroyed and burned. The persecution, oppression, and suffering they experienced did not weaken their faith but rather that this was the basis of the authors ' research to see the growth of their faith when experiencing the event. Therefore, the author uses historical research methods with data collection techniques using interviews with eyewitnesses or historical actors and also conducting the collection of past documents as linked to what the authors have written. Based on the results of the research that has been done by the authors, the conclusion of this writing is for 14 years in the period of conflict DI/TII year 1952-1966, the Toraja Church of Situru ' continue to experience the growth of suffering, suppression, and persecution that they experienced. The growth of quantity, spiritual quality, and organization of Situru ' congregations continues to increase over time. This can be seen through the increasing quantity of congregational citizens each year starting from the evacuation process to become an independent congregation in the Peace chain. Likewise, the growth of the spiritual qualities of the people of the Church of Situru ' continues to experience the growth that can be reviewed from the increased resilience of the faith of the congregation from the sufferings they experience. AbstrakPerjalanan masyarakat Rante Balla menuju ke Rantai Damai berbeda dengan perpindahan masyarakat pada umumnya. Perpindahan mereka diawali dengan peristiwa pemberontakkan DI/TII yang mengakibatkan rumah mereka dirusak dan dibakar. Penganiayaan, penindasan dan penderitaan yang mereka alami justru tidak melemahkan iman mereka tetapi sebaliknya sehingga hal ini yang menjadi dasar penelitian penulis un-tuk melihat pertumbuhan iman mereka ketika mengalami peristiwa tersebut. Oleh karena itu, penulis menggunakan metode penelitian sejarah dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara kepada saksi mata atau pelaku sejarah dan juga melakukan pengumpulan dokumen-dokumen masa lampau sekaitan dengan apa yang ditulis oleh penulis. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis, maka menjadi kesimpulan dari penulisan ini yaitu selama 14 tahun pada masa konflik DI/TII tahun 1952-1966 berlangsung, Gereja Toraja Jemaat Situru’ terus mengalami per-tumbuhan akibat penderitaan, penindasan dan penganiayaan yang mereka alami. Pertumbuhan kuantitas, kualitas rohani dan organisasi jemaat Situru’ terus meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini dapat dilihat melalui meningkatnya kuantitas warga jemaat setiap tahunnya yang dimulai dari proses pengungsian hingga menjadi jemaat mandiri di Rantai Damai. Begitupun juga dengan pertumbuhan kualitas rohani warga jemaat Situru’ terus mengalami pertumbuhan yang dapat ditinjau dari meningkatnya ketahanan iman warga jemaat akibat penderitaan yang mereka alami.
Asnath N. Natar
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 14-25; doi:10.34307/b.v3i1.105

Abstract:
The world is globalized increasingly. There are various tribes and religions due to technological developments and population movements. In such circumstances, there is no longer a boundary between one another. The encounter between people of different cultures and religions is unavoidable. People can no longer live in a closed space like in a capsule. Therefore, like it or not, people must accept differences in a heterogeneous society. But encounters with different people can lead to a conflict with one another in society. This challenges pastoral science to develop itself so that it can help people who experience problems due to the clash of cultures and religions by developing healing memory method in intercultural and interreligious pastoral care.AbstrakDunia semakin mengglobal dan terdapat beragam suku dan agama akibat perkembangan teknologi dan perpindahan penduduk. Dalam kondisi demikian tidak ada lagi batas antara satu dengan yang lain dan pertemuan antara orang-orang yang berbeda budaya dan agama tidak terhindarkan. Orang tidak bisa lagi berada dalam sebuah ruang tertutup seperti dalam sebuah kapsul, karena itu, mau atau tidak mau, orang harus menerima perbedaan yang ada dalam sebuah masyarakat yang heterogen. Namun perjumpaan dengan orang lain yang berbeda, tidak jarang menimbulkan konflik antara satu dengan yang lain. Kondisi ini menantang ilmu pastoral untuk mengembangkan diri sehingga bisa menolong orang-orang yang mengalami masalah akibat benturan budaya dan agama tersebut dengan mengembangkan pastoral interkultural dan interreligius.
Kalis Stevanus
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 3, pp 1-13; doi:10.34307/b.v3i1.99

Abstract:
Humans need other people. One of human nature is as a social creature or community creature. Establishing friendships and caring for them to remain lasting is a challenge. The occurrence of individual and social clashes in Indonesia is always related to differences in community backgrounds such as ethnicity, religion, culture, and other social conditions. Based on the analysis of the parable of the generous Samaritan in Luke 10: 25-37, Christians are called to be friends with the other, namely how to treat everyone as a friend and fellow creature of God without distinguishing people. Thus, social security and comfort will be created in interacting with others in differences. The purpose of this paper is to first provide an understanding (concept) "who is fellow human" so that it contributes to building constructive friendship relationships and freeing everyone, acting without discrimination in interacting with others in differences. Second, to provide awareness to the community will be important tolerant, respecting differences in ethnicity, religion, ethnic race and culture of the Indonesian people Third, to understand the meaning and purpose of friendship so that it can build a sincere friendship with the other Fourth, it can also be used as input for every party who feels called to overcome the conflict in the body of the Indonesian people.AbstrakManusia membutuhkan orang lain. Salah satu hakikat manusia adalah sebagai makhluk sosial atau makhluk masyarakat. Menjalin persahabatan dan memeliharanya agar tetap langgeng merupakan tantangan. Terjadinya perbenturan-perbenturan individual dan sosial di Indonesia masih selalu terkait dengan perbedaan latar belakang masyarakat seperti etnis, agama, budaya dan keadaan sosial lainnya. Berdasarkan analisis perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati dalam Lukas 10:25-37 ini orang Kristen dipanggil untuk mau bersahabat dengan sang liyan yaitu bagaimana memperlakukan setiap orang sebagai sahabat dan sesama ciptaan Tuhan tanpa membeda-bedakan orang. Dengan demikian, akan tercipta keamanan dan kenyamanan sosial dalam berinteraksi dengan orang lain dalam perbedaan. Tujuan tulisan ini adalah memberikan pemahaman (konsep) “siapakah sesama manusia" sehingga menjadi kontribusi untuk membangun hubungan persahabatan yang konstruktif dan membebaskan semua orang, bertindak tanpa diskriminasi dalam berinteraksi dengan orang lain dalam perbedaan.
Back to Top Top