BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual

Journal Information
ISSN / EISSN : 26554666 / 26554682
Current Publisher: STAKN Toraja (10.34307)
Total articles ≅ 30
Filter:

Latest articles in this journal

BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual; doi:10.34307/bia

Deflit Dujerslaim Lilo
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 121-138; doi:10.34307/b.v2i1.86

Abstract:Freedom of speech is the human rights of every human being. This freedom must be implemented responsibly with based on the right of thinking, good intentions and goals, and attention to the rules of thinking. This article examines how Jesus underlies and builds His paradigm and the method that He used to tell His arguments to others. By using a descriptive analysis method and hermeneutic approach to the narratives in the Gospels, it can be concluded that Jesus told his argument by using a logical and comprehensive paradigm and method so that it could be used as a guideline for the academics. Abstrak: Kebebasan berpendapat merupakan hak asasi setiap manusia. Kebebasan ini harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan berlandaskan pemikiran yang sehat, maksud dan tujuan yang baik, serta memperhatikan aturan-aturan penalaran. Artikel ini meneliti bagaimana Yesus mendasari dan membangun paradigma berpikir-Nya serta cara yang digunakan-Nya untuk menyampaikan pendapat kepada orang lain. Menggunakan metode analisis deskriptif serta pendekatan yang hermenutis pada narasi-narasi di kitab-kitab Injil, dapat ditarik kesimpulan bahwa Yesus menyampaikan pendapat dengan menggunakan paradigma dan metode yang logis dan komprehensif, sehingga dapat dijadikan sebagai suatu contoh bagi para akademisi.
Lyly Grace Mantiri
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 108-120; doi:10.34307/b.v2i1.75

Abstract:This article will discuss a theological correlation between communication and biblical interpretation. After having established that coherence, it will show that the Reader-Response Criticism, one of the most attractive approach in Biblical interpretation among the postmodern scholars, is not only irrational but also dangerous to some degree even inapplicable and without spiritual value. Abstrak: Artikel ini membahas hubungan teologis antara komunikasi dan penafsiran Alkitab. Setelah menemukan hubungan antara kedua hal tesebut, artikel ini akan menelaah secara khusus mengenai Kritik Respons-pembaca, salah satu pendekatan paling menarik dalam penafsiran Alkitab di antara para sarjana postmodern, Artikel ini akan memperlihatkan bahwa metode ini tidak hanya irasional tetapi juga berbahaya sampai taraf tertentu, bahkan tidak dapat diterap-kan dan tanpa nilai spiritual.
I Putu Ayub Darmawan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 55-71; doi:10.34307/b.v2i1.82

Abstract:Conflict is a problem that is being faced in Indonesia. A peaceful way is needed to bring peace to a multicultural nation. From the analysis of various biblical literature and texts there are several peace values, including education for peace must guide students to accept themselves, peace education provides guidance to avoid bad prejudice, needs to be built understanding and attitudes that respect ethnic diversity, religious differences, different types sex, social status such as poor wealth, and group differences, in an effort to build a path for peace, students need to understand diversity, understand conflict, build an attitude of resisting violence, willingness to start admitting mistakes, and willingness to forgive.Abstrak: Konflik merupakan masalah yang sedang dihadapi di Indonesia. Perlu dilakukan cara damai untuk menghadirkan perdamaian di bangsa yang multi-kultural. Dari analisis berbagai literatur dan teks Alkitab ada beberapa nilai-nilai per-damaian, antara lain pendidikan untuk perdamaian harus membimbing murid menerima dirinya sendiri, pendidikan perdamaian memberikan bimbingan untuk mengindari prasangka buruk, perlu dibangun pengertian dan sikap yang meng-hargai keragaman etnis, perbedaan agama, perbedaan jenis kelamin, status sosial seperti kaya miskin, dan perbedaan kelompok, dalam upaya membangun jalan menunju perdamaian maka murid perlu memahami adanya keragaman, memahami konflik, membangun sikap menolak kekerasan, adanya kerelaan untuk memulai mengakui kesalahan, dan kerelaan untuk memberi maaf.
Desti Samarenna, Harls Evan R. Siahaan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 1-13; doi:10.34307/b.v2i1.60

Abstract:Leadership is mostly required in church management. There are many leadership characteristics in the Bible that can be used as leadership patterns in the church. This article is a literature study with a qualitative approach to the text of 1 Timothy 4:12 concerning the leadership of a young person, which aims to encourage students to understand and apply the pattern of leadership referred to in the text of 1 Timothy 4:12. The method used is descriptive analysis in the text of 1 Timothy 4:12, to provide a clear picture and understanding of the principles of the leadership of young people. In addition, descriptive methods are also used to determine students' understanding of the principles of leadership according to the text, as well as the level of application in life and service. In conclusion, students understand the principle of leadership in 1 Timothy 4:12, which is about giving an example, but not all students are ready and able to do it.AbstrakKepemimpinan merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam manajemen gereja. Ada banyak karakteristik kepemimpinan dalam Alkitab yang dapat dijadikan pola kepemimpinan dalam gereja. Artikel ini merupakan kajian literatur dengan pendekatan kualitatif terhadap teks 1 Timotius 4:12 tentang kepemimpinan seorang muda, yang bertujuan untuk mendorong mahasiswa memahami dan menerapkan pola kepemimpianan yang disebut dalam teks 1 Timotius 4:12 tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif analasis pada teks 1 Timotius 4:12, untuk memberikan gambaran dan pemahaman yang jelas tentang prinsip kepemimpinan orang muda. Selain itu, metode deskriptif juga digunakan untuk mengetahui pemahaman mahasiswa tentang prinsip kepemimpinan menurut teks tersebut, serta tingkat penerapannya dalam kehidupan dan pelayanannya. Kesimpulannya, mahasiswa memahami prinsip kepemimpinan dalam 1 Timotius 4:12, yaitu tentang memberikan teladan, namun tidak semua mahasiswa siap dan mampu melakukannya.
Fajar Gumelar, Hengki Wijaya
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 14-26; doi:10.34307/b.v2i1.69

Abstract:The background of Latin American society in the past who were familiar with the hegemony of power of the bourgeoisie caused concern in the hearts of Christian theologians at the time. This concern finally gave birth to a theological model known as Liberation Theology. Liberation Theology is a praxis-oriented theological model, namely real action for the liberation of marginalized, poor and oppressed people. But the thought of Marxism influenced the concept of Liberation Theology so that the theological model was more like a destructive ideology. Bringing the concept of Liberation Theology to the light of the word of God is the right action for the church today in responding to the Liberation Theology. The aim is to analyze the contents of Liberation Theology, and how should the role of the church address the Liberation Theology, and apply liberation theology in everyday life. The method used is an explanatory qualitative approach to the role of the church in response to Liberation Theology.Abstrak: Latar belakang masyarakat Amerika Latin di masa lampau yang akrab dengan hegemoni kekuasaan kaum borjuis menyebabkan timbulnya keprihatinan dalam hati para teolog Kristen kala itu. Keprihatinan ini akhirnya melahirkan suatu model teologi yang dikenal dengan nama Teologi Pembebasan. Teologi Pembebasan adalah model teologi yang berorientasi pada praksis, yaitu tindakan nyata untuk pembebasan kaum termarginalkan, miskin dan tertindas. Akan tetapi pemikiran Marxisme turut memengaruhi konsep Teologi Pembebasan sehingga model teologi ini lebih mirip ideologi yang destruktif. Membawa konsep Teologi Pembebasan kepada terang firman Tuhan adalah tindakan yang tepat bagi gereja masa kini dalam menyikapi Teologi Pembebasan. Tujuan tulisan ini adalah menganalisis isi Teologi Pembebasan, dan bagaimana seharusnya peran gereja menyikapi Teologi Pembebasan tersebut, dan menerapkan teologi pembebasan dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang bersifat eksplanatori tentang peran gereja menyikapi Teologi Pembebasan.
John C. Simon, Stella Y.E. Pattipeilohy
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 94-107; doi:10.34307/b.v2i1.66

Abstract:The evolutionary worldview confirms its position since the discovery of various ancient human sites, and continues to develop with various genetic engineerings and protein discoveries as well as advances in the field of artificial intelligence (AI) technology. Initially the religious community was the party who felt most attacked by the theory of evolution because it stripped the Bible of the truth about the creation of the world and humans. Later some Catholic Church appreciative statements about the theory of evolution and the big bang theory, including Pierre Teilhard de Chardin's attempt to explain the evolution of human consciousness towards the cosmic Christ, showed a change in religion towards acceptance of the diversity of world views: religion, culture and science. This evolutionary world development raises ethical questions about what is religion’s contribution. One of them is the awareness about shadow. The awareness is derived from religion which teaches that men are created by God that even though unique, but mortal and finite creations. Shadow is liberation so that men are not shackled to matter. He is a fragile human who longs to evolve to be a Christ as the perfect human image.Abstraksi:Pandangan dunia evolusioner meneguhkan kedudukannya sejak penemuan berbagai situs manusia purba, dan terus berkembang dengan berbagai penemuan rekayasa genetik dan protein dan kemajuan di bidang teknologi artificial intelligence (AI). Semula kalangan agama menjadi pihak yang merasa paling diserang dengan teori evolusi karena melucuti kebenaran Alkitab tentang penciptaan dunia dan manusia. Belakangan beberapa pernyataan apresiatif Gereja Katolik terhadap teori evolusi dan teori big bang, termasuk usaha Pierre Teilhard de Chardin menjelaskan tentang evolusi kesadaran manusia menuju Kristus kosmis, memperlihatkan perubahan agama menuju penerimaan akan keragaman pandangan dunia: agama, budaya dan ilmu pengetahuan. Perkembangan dunia evolusioner ini memperhadapkan berbagai pertanyaan etis tentang apa sumbangan agama. Salah satunya adalah kesadaran tentang bayangan. Kesadaran akan bayangan diperoleh dari agama yang mengajarkan bahwa manusia yang diciptakan Tuhan, sekalipun unik, adalah ciptaan yang fana dan terbatas. Bayangan adalah pembebasan agar manusia tidak tertambat pada materi. Ia adalah manusia yang rapuh yang merindukan berevolusi menuju Kristus sebagai gambaran manusia yang sempurna.
David Eko Setiawan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 83-93; doi:10.34307/b.v2i1.78

Abstract:The presence of the Gospel in the midst of human life is very interesting subject to study. Humans with all the complexity of their needs turn out to need something that can provide absolute answers. Abraham H. Marslow showed that in addition to material needs, humans also have social and spiritual needs. Through the gospel the needs are answered. Even the gospel can have a very significant impact on everyone who accepts it. The purpose of this research is to explain the impact of the gospel on spiritual and social transformation. The method used in this research is the literature study methode. The conclusion of this research is that the gospel was able to transform the humans' spiritual and social lives.Abstraksi: Kehadiran Injil ditengah-tengah kehidupan manusia sangatlah menarik untuk ditelaah. Manusia dengan segala kompleksitas kebutuhannya ternyata membutuhkan sesuatu yang dapat memberikan jawaban secara utuh. Abraham H.Maslow menunjukkan bahwa selain kebutuhan yang bersifat materi, manusia juga memiliki kebutuhan yang bersifat sosial dan spiritual. Melalui Injil yang diberitakan kebutuhan-kebutuhan tersebut terjawab. Bahkan injil mampu memberikan dampak yang sangat signifikan bagi setiap orang yang mau menerimanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dampak Injil bagi transformasi spiritual dan sosial Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi literatur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa injil mampu untuk mentransformasi kehidupan spiritual dan sosial manusia.
Admadi Balloara Dase
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 40-54; doi:10.34307/b.v2i1.88

Abstract:Agrarian conflict is a very classic discussion in Indonesia. It affects humanity and environmental issues. As many discriminations happens toward marginalized society, it’s needed to be a concern. The author will dialogue this issue with text 1 Kings 21. This event is almost the same with the text 1 Kings 21, about the seizure of land between King Ahab and Naboth. To investigate and review the meaning of 1 Kings 21, the author uses critical history method. In conclusion, greed is the cause, so there was a land seizure between King Ahab and Nabot which resulted in the killing of Nabot as a weaker person. However, God declared justice for His people, and declared judgment on King Ahab. The event like this also often occurred in Indonesian society, due to economic interests and the legitimacy of national development. However, it is unfortunate that the prophetic voice from the church could not be heard. AbstrakKonflik agraria merupakan persoalan yang sangat klasik di Indonesia. Konflik tersebut berdampak pada kemanusiaan, bahkan pada masalah lingkungan. Dengan banyaknya terjadi diskriminasi terhadap orang-orang marginal (tak berdaya) tentunya ini perlu menjadi perhatian. Penulis akan mencoba melihat impikasi dari teks 1 raja-raja 21 terhadap konteks saat ini. Peristiwa diskriminasi tersebut tentunya hampir sama terjadi dalam teks 1 Raja-raja 2, tentang perebutan tanah antara raja Ahab dan Nabot. Dalam menyelidiki dan mengkaji makna dari 1 Raja-raja 21, penulis mengunakan metode penafsiran kritik sejarah (historis). Kesimpulannya, keserakahan yang menjadi penyebab, sehingga terjadi perebutan tanah antara Raja Ahab dan Nabot yang mengakibatkan terbunuhnya Nabot sebagai yang lemah. Namun, Tuhan tetap menyatakan keadilannya bagi umat-Nya, dan menyatakan penghakiman kepada raja Ahab. Peristiwa tersebut juga sering terjadi dalam masyarakat Indonesia, dikarenakan kepentingan ekonomi dan legitimasi pembangunan nasional. Namun, sangat disayangkan gaungan suara kenabian dari gereja tak begitu terdengar.
Naomi Sampe
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 72-82; doi:10.34307/b.v2i1.84

Abstract:This article is a study to show that in these days, we all are living in the time that named industry revolution 4.0, which’s all communication tool are connected and communicate each other to make smart decisions without human role. As we see now that our world is borderless. The communication is rapidly informed, and we could feel, hear, see clearly that such as sophisticated so as every event in “the edge of this earth” could be known to us almost in the same time while it happened. The result of this research has found that this revolution has totally changed our interpersonal communication way. This study also suggests that in delivery of their mission, christian and the church leader ought to recreate and transform their duty to serve. The most basicly community of the churc is family, thats why this research is put a special notice to the interpersonal communication. This is the strategic point to form christian generation to have their own identity and assist them in faith grow as the child of God. AbstrakTulisan ini merupakan studi yang hendak menyajikan bahwa kita semua sudah berada dalam budaya kehidupan yang disebut Era 4.0, di mana semua alat komunikasi sudah terjaring satu sama lain dan ternyata telah sanggup mencipta sendiri keputusan cerdas dan seringkali tanpa peran atau bantuan manusia lagi. Sekarang yang disaksikan adalah dunia yang tanpa batas. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa era sekarang telah mengubah cara kita berkomunikasi secara interpersonal. Tulisan ini juga hendak menggagas bahwa dalam rangka melayankan misinya, kekristenan dan para pemimpin gereja seharusnya mencipta ulang dan atau mentransformasi tugas pelayanan mereka. Dalam hal ini, komunitas basis dari gereja adalah keluarga, itu sebabnya penelitian ini memberi tekanan khusus pada komunikasi interpersonal; karena ini adalah pintu masuk yang strategis untuk membentuk generasi kristen agara mereka memliki identitas diri dan mendampingi mereka dalam bertumbuh secara iman sebagai anak Tuhan. Pada masa kini, kita semua sudah berada dalam budaya kehidupan yang disebut Era 4.0, yang mana komputer yang sudah terjaring satu sama lain ternyata telah sanggup mencipta sendiri keputusan cerdas dan seringkali tanpa peran atau bantuan manusia lagi. Perkembangan dalam abad ketiga sekarang ini telah diwarnai dengan digitalisasi segala sektor dan dicirikan dengan ketidakpastian. Sekarang yang disaksikan adalah dunia yang tanpa batas. Komunikasi tercipta makin cepat, dan setiap orang dapat merasa, mendengar dan melihat dengan jelas bahwa segala bentuk temuan teknologi yang canggih di setiap ujung dunia manapun, kini dapat kita ketahui langsung dan bersamaan ketika peristiwa itu terjadi. Secara menyeluruh, era ini telah mengubah cara kita berkomunikasi secara interpersonal. Dalam rangka melayankan misinya, maka kekristenan dan para pemimpin gereja seharusnya mencipta ulang dan atau mentransformasi tugas pelayanan mereka. Dalam hal ini, komunitas basis dari gereja...