Journal of Empowerment

Journal Information
ISSN / EISSN : 2597-9809 / 2580-0620
Published by: Universitas Suryakancana (10.35194)
Total articles ≅ 48
Filter:

Latest articles in this journal

Achmad Rajes, Agung Kharisma Hidayah, Ari Yosa, Eni Sulastri, Niken Oktavia
Published: 14 June 2022
Journal of Empowerment, Volume 3, pp 56-64; https://doi.org/10.35194/je.v3i1.2077

Abstract:
ABSTRAK Keurangnya pengetahuan, skill, dan pelatihan merupakan salah satu faktor kurangnya efesiensi kerja pada pegawai. Tujuan pelatihan ini yaitu agar para karyawan dapat meningkatkan efesiensi kinerja. Metode kegiatan ini berupa workshop penggunaan web persuratan guna meningkatkan efesiensi kerja. Kegiatan ini di laksanakan di Perumda Tirta Hidayah Kota Bengkulu. Kegiatan ini diikuti oleh 10 orang karyawan yang ada di Perumda tersebut. Evaluasi dilakukan melalui Aplikasi Zoom yang melibatkan seluruh peserta karyawan dari Perumda. Pelatihan dan pendampingan penggunaan Web persuratan tidak hanya dilakukan melalui tatap muka, tim pengabdian juga menjelaskan kepada mitra untuk dapat berkonsultasi dengan menggunakan telpon dan aplikasi Whatsapp. Hasil dari kegiatan pengabdian agar karyawan dapat meningkatkan efesiensi kerja dengan menggunakan Web persuratan. ABSTRACTLack of knowledge, skills, and training is one factor in the lack of work efficiency for employees. The purpose of this training is so that employees can improve performance efficiency. The method of this activity is in the form of a workshop on the use of web correspondence to improve work efficiency. This activity was carried out at Perumda Tirta Hidayah, Bengkulu City. This activity was attended by 10 employees in the Perumda. The evaluation is carried out through the Zoom application which involves all employee participants from Perumda. Training and assistance on the use of Web correspondence is not only done face-to-face, the service team also explains to partners to be able to consult using the telephone and the Whatsapp application. The results of service activities are so that employees can improve work efficiency by using the web correspondence.
Siti Maryam, D. Nurfajrin Ningsih, Deni Sanusi, Dendy Cahya Wibawa, Husni Farid Fauzi, M. Nuari Ramdan
Published: 14 June 2022
Journal of Empowerment, Volume 3, pp 82-92; https://doi.org/10.35194/je.v3i1.2322

Abstract:
ABSTRAK    Istilah Modul Ajar yang digulirkan Sekolah Penggerak memunculkan permasalahan di sekolah. Perbedaan pengertian dan acuan Modul Ajar Baru (MAB) versi Sekolah Penggerak dengan makna Modul Ajar Lama (MAL) pada kurikulum sebelumnya, perlu diatasi. Tulisan ini bertujuan menyamakan persepsi melalui pelatihan di SMP dan SMK Al-Medina Cianjur. Kesamaan persepsi dianggap penting sebagai landasan bagi kegiatan berikutnya. Dengan metode kolaborasi antara dosen dengan mahasiswa serta guru, pelatihan dilakukan luring dan daring. Pemberian materi dan diskusi dilakukan secara tatap muka sedangkan kegiatan pembimbingan serta evaluasi kegiatan dilakukan secara daring. Hasil kegiatan ini berupa dua versi Modul Ajar, yakni (1) modul ajar transformasi (karya inovatif) yang mengacu Kurikulum 2013, dan (2) Modul Ajar yang adaptif mengacu Kurikulum Sekolah Penggerak. Selain itu, diperoleh tingkat keberterimaan kegiatan pelatihan yang dominan berada pada kategori “Baik” dan “Sangat Baik”. Para guru dan mahasiswa merasakan peningkatan soft skill-nya setelah mengikuti pelatihan. ABSTRACTThe term Teaching Module introduced by Sekolah Penggerak raises problems in schools. Differences in the meaning and reference of the Teaching Module version in the Sekolah Penggerak, which are different from the meaning in the previous curriculum, need to be addressed. This paper aims to equalize perceptions through training in SMP and SMK Al-Medina Cianjur. In the Collaborative method between lectures, students, and teachers, the training is carried out offline and online. The provision of material and discussion is carried out face-to-face, while the mentoring and evaluation activities are carried out online. The results of this activity are in the form of two versions of the Teaching Module, namely (1) the transformation teaching module (innovative work) which refers to the 2013 Curriculum, and (2) the adaptive Teaching Module refers to the Driving School Curriculum. In addition, the level of acceptance of training activities was obtained. More than half of the participants received Good and Very Good. Teachers and students improve their soft skills, they can arrange and differentiate the Teaching Module according to curriculum references.
Aldi Wijaya Kusuma, Hana Setyaningsih, Regi Refian Garis, Mega Rena Sari, Mira Meriyani, Nungki Sururi Puji Astuti, Maman Suryaman
Published: 14 June 2022
Journal of Empowerment, Volume 3, pp 1-15; https://doi.org/10.35194/je.v3i1.2266

Abstract:
ABSTRAK Di era modern dengan banyaknya pengguna internet merupakan suatu peluang tersendiri bagi pemerintah dalam meningkatkan pelayanan yang efektif dan efisien. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan, didapatkan permasalahan yaitu belum adanya operator khusus sehingga informasi yang ditampilkan di website kurang update selain itu masyarakat juga belum banyak yang mengetahui aplikasi Sistem Informasi Desa Melek IT (SIDEMIT). Metode yang digunakan meliputi survey atau observasi, Focus Group Discussion (FGD), ceramah dan pendampingan. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu desa dalam pendigitalisasian pelayanan publik . Hasil dari kegiatan ini yaitu terbentuknya operator untuk website desa yang berasal dari karang taruna yang sebelumnya telah mendapat pelatihan, sehingga dari hal tersebut informasi yang ditampilkan di website desa dapat terupdate, selain itu adanya video tutorial pelayanan pada aplikasi SIDEMIT, dan sosialisasi juga dilakukan kepada kepada masyarakat Desa Mangkubumi sehingga perwakilan dari beberapa elemen masyarakat yang hadir dapat mengetahui dan menyebarluaskan informasi terkait dengan website dan aplikasi SIDEMIT. ABSTRACTIn the modern era with the large number of internet users, it is an opportunity for the government to improve services that are effective and efficient. Based on the results of initial observations made, it was found that the problem was that there was no special operator so that the information displayed on the website was not updated. In addition, not many people knew about the IT Literacy Village Information System (SIDEMIT) application. The methods used include surveys or observations, Focus Group Discussions (FGD), lectures and mentoring. This activity aims to assist villages in digitizing public services. The result of this activity is the formation of operators for village websites who come from youth organizations who have previously received training, so that from this the information displayed on the village website can be updated, besides that there are video tutorials on services on the SIDEMIT application, and socialization is also carried out to Mangkubumi Village community so that representatives from several elements of the community present can find out and disseminate information related to the SIDEMIT website and application.
Elis Homsini Maolida, Vina Aini Salsabila, Terry Aprillia
Published: 14 June 2022
Journal of Empowerment, Volume 3, pp 124-132; https://doi.org/10.35194/je.v3i1.2411

Abstract:
ABSTRAK Kewirausahaan menjadi salah satu cara untuk memajukan perekonomian masyarakat. Agar berkembang dengan baik, kewirausahaan perlu dikenalkan sejak dini agar terbentuk jiwa yang siap berkarya, percaya diri, mau terus mencoba dan kreatif. Alasan itulah yang mendorong pengabdian pada masyarakat berupa pengenalan kewirausahaan sejak dini. Dalam pengenalan kewirausahaan tersebut, 55 siswa kelas 6 dari satu sekolah dasar di Cianjur menjadi peserta. Kegiatan ini menerapkan Teknik ceramah/presentasi, kolaborasi melalui kerja kelompok, simulasi dengan bermain peran dan unjuk kebolehan. Kegiatan pengenalan kewirausahaan sejak dini terbagi dalam 6 sesi yaitu sesi pertama mengenalkan pengertian wirausaha dan kewirausahaan, sesi kedua berisi motivasi dengan mengenalkan pengusaha pengusaha cilik yang sukses di usia sangat muda, sesi tiga sharing wirausaha dari salah satu mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sukses berwirausaha, sesi empat berisi tentang penggalian kreativitas anak, sesi lima belajar menjadi percaya diri untuk memasarkan produk, sesi enam diisi dengan unjuk kebolehan anak anak dalam kelompok untuk menggali ide kreatif dalam mengembangkan produk dan memasarkan produk. Hasil unjuk kebolehan memperlihatkan bahwa pengenalan kewirausahaan membantu anak anak untuk mengasah kreativitas dan mendorong rasa percaya diri. Selain itu, observasi dan wawancara juga memperlihatkan bahwa anak-anak memberi respon yang positif terhadap kegiatan pengenalan kewirausahaan dan sebagian besar menyampaikan ketertarikan dan keinginan untuk berwirausaha. ABSTRACTEntrepreneurship is one of strategies to improve our economy. In supporting this, entrepreneurship should be introduced earlier to create characters of entrepreneur, confidence, persistence and creative.  This leads us to community service by introducing entrepreneurship to young learners. In this activity, 55 students of 6th graders from an elementary school in Cianjur were involved. This community service implemented lecturing/presentation technique, collaboration through group work, simulation through roleplaying and participants’ performance. Six sessions were conducted including introducing young learners to the terms ‘entrepreneur’ and ‘entrepreneurship’, motivating young learners by introducing several successful young entrepreneurs, sharing from two Kuliah Kerja Nyata (KKN) participants with successful entrepreneur experience, developing young learners’ creativity, developing confidence in marketing products, and group work of performing young learners’ ability in developing and marketing product. The result shows that introducing entrepreneurship facilitates young learners in developing creativity and confidence. In addition, observation and interview also reveal that young learners gave positive responses toward this activity and most of them expressed their interest and willingness to be entrepreneurs. 
Sastya Hendri Wibowo, Rozali Toyib, Yulia Darnita, Muntahanah Muntahanah, Harry Witriyono, M. Imanullah M. Imanullah, Yulia Darmi
Published: 14 June 2022
Journal of Empowerment, Volume 3, pp 31-45; https://doi.org/10.35194/je.v3i1.2035

Abstract:
Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Riset Terapan merupan salah satu agenda yang terdapat pada pendampingan SMK Pusat Keunggulan. Kegiatan berfokus pada peningkatan keterampilan sumber daya manusia terutama guru yang mengajar di SMK Pusat Keunggulan. Tujuan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) adalah memberikan pelatihan bagai para guru dengan materi tentang hasil riset para instruktur yang juga dosen di Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Bengkulu yang dapat kolaborasikan di SMK Pusat Keunggulan, seperti animasi dengan open source, dan natural language processing. Pelatihan ini berlangsung selama 5 hari dengan metode sinkron dan asinkron. Asinkron adalah penyampaian materi secara langsung antara instruktur kepada peserta (luring), sedangkan asinkron adalah penyampaian materi secara tidak langsung atau dalam bentuk tugas mandiri yang telah diberikan oleh instruktur sebelumnya.
Selvi Riwayati, Teri Lestari, Nyayu Masyita Ariani, Masri Masri, Kashardi Kashardi, Winda Ramadianti, Mardiah Syofiana
Published: 14 June 2022
Journal of Empowerment, Volume 3, pp 46-55; https://doi.org/10.35194/je.v3i1.2095

Abstract:
ABSTRAK Stunting menjadi masalah dunia karena implikasinya menentukan masa depan bangsa. Indonesia sebagai negara berkembang memiliki tingat prevalensi stunting tinggi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 angka prevalensi stunting tercatat 8,7 juta (30,7%) bayi berumur bawah lima tahun (balita) stunting. Angka ini masih jauh dari angka target yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), seharusnya angka stunting tidak lebih dari 20%. Kendala pelaksanaan pencapaian target penurunan stunting antara lain belum tersedianya strategi komprehensif untuk dijabarkan dalam pelaksanaan program intervensi mendukung pencegahan stunting, mulai perbaikan gizi dan kesehatan ibu dan anak balita pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK). Metoda ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik Ceramah Penyuluhan, Analytical Hierarchy Process (AHP) dan SWOT penentuan alternatif program intervensi dan strategi yang efektif untuk percepatan penurunan stunting. Hasil menunjukkan program intervensi sasaran utama peningkatan pola asuh anak balita/bawah dua tahun (baduta) melalui program intervensi peningkatan status gizi. ABSTRACTStunting is a global problem because of its implications for determining the nation's future. Indonesia as a developing country has a high prevalence of stunting. According to Basic Health Research (Riskesdas) data in 2018, the prevalence of stunting was recorded at 8.7 million (30.7%) infants under five years of age (toddlers) experiencing stunting. This figure is still far from the target figure set by the WHO, the stunting rate should not be more than 20%. Obstacles in achieving the stunting reduction target include the unavailability of a comprehensive strategy to be described in the implementation of intervention programs to support stunting prevention, starting with improving nutrition and health of mothers and children under five in the first 1,000 days of life (1,000 HPK). This method uses a descriptive qualitative approach with the technique of Counseling Lectures, Analytical Hierarchy Process (AHP) and SWOT to determine alternative intervention programs and effective strategies to accelerate stunting reduction. The results show that the main target of the intervention program is to improve the parenting pattern of children under two years old (baduta) through an intervention program to improve nutritional status.
Dani Hari Tunggal Prasetiyo, Tri Prihatiningsih, Mas Ahmad Baihaqi, Mustakim Mustakim
Published: 14 June 2022
Journal of Empowerment, Volume 3, pp 16-30; https://doi.org/10.35194/je.v3i1.2195

Abstract:
Indonesia memiliki sumber daya flora yang melimpah. Salah satu sumber daya flora tersebut adalah tanaman sengon. Tanaman sengon memiliki potensi tumbuh dan berkembang di Indonesia, hal ini dikarenakan kontur tanah yang subur di setiap wilayah Indonesia. Karena memiliki banyak manfaat, sengon banyak dibudidayakan di Indonesia. Saat ini sengon dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman industri maupun hutan rakyat di Indonesia. Namun, untuk menghasilkan tanaman yang memiliki kualitas yang baik maka diperlukan pola perawatan yang berkualitas. Salah satu pola perawatan yang berkualitas adalah pemberian pupuk dengan takaran yang sesuai dan dilakukan dengan konsisten. Untuk melakukan proses tersebut maka diperlukan alat bantu. Saat ini, proses pemberian pupuk dilakuakn secara tradisional dengan cara menaburkan pupuk pada tanaman sehingga menyebabkan peningkatan biaya dan kurang efisien terhadap waktu. Berdasarkan permasalahan ini, maka diperlukan pelatihan pembuatan alat efficient fertilizer pump sebagai alat bantu pemupukan. Pelatihan diikuti oleh dua puluh peserta, sehingga mereka dapat menyebarkan ilmu yang telah diperoleh saat pelatihan ditempat tinggal masing-masing kepada petani sengon. Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi dan meningkatkan kesejahteraan petani sengon. Berdasarkan hasil pelatihan, peserta mampu membuat dan mengimplementasikan efficient fertilizer pump dengan baik dan benar untuk diaplikasikan pada tanaman sengon. Selain itu, peserta antusias saat mengikuti acara dan ingin terus berinovasi dengan mengimplementasikan teknologi tepat guna.
Henny Sri Mulyani, Ika Merdekawati Kusmayadi, Achmad Abdul Basith
Published: 14 June 2022
Journal of Empowerment, Volume 3, pp 103-114; https://doi.org/10.35194/je.v3i1.2389

Abstract:
ABSTRAK Volume sampah masker pakai di masa pandemi meningkat signifikan, maka perlu adanya literasi untuk mengelola sampah masker dengan baik. Pengabdian ini bertujuan untuk mengajak masyarakat terutama generasi z untuk melakukan upaya penanggulangan sampah masker sekali pakai. Kegiatan kampanye ini merupakan pengabdian masyarakat dosen dan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata Integratif yang dilaksanakan secara virtual. Sosialisasi melalui media TikTok dilaksanakan mulai bulan Juli 2021 selama satu bulan untuk memberikan edukasi dampak dari sampah masker terhadap kesehatan dan lingkungan serta memberikan informasi cara membuang sampai sekali pakai dengan benar, sehingga sampah tersebut dapat dimanfaatkan menjadi bentuk lain yang tidak mencemari lingkungan. Tiktok banyak digunakan generasi Z dalam pencarian informasi. Kampanye ini menghasilkan 4 produk video berisi pesan lingkungan, kesehatan dan inovasi diunggah pada beberapa akun TikTok pribadi, akun beritaradio.com milik PR FM dan anshoe.who. Nilai yang ada dalam kampanye ini diantaranya tutorial edukasi pengelolaan sampah masker sekali pakai dengan benar, inovasi sampah masker didaur ulang menjadi beberapa jenis benda yang bermanfaat oleh LIPI, dijadikan ecobrick dan dijadikan airfreshner. Nilai pesan kampanye ini mengajak generasi Z untuk lebih peduli lingkungan dan kesehatan. ABSTRACT The volume of disposable mask waste during the pandemic has increased significantly, so literacy is needed to manage mask waste properly. This community service aims to invite the community, especially Generation Z, to make efforts to overcome the waste of disposable masks. This campaign is a virtual community service for lecturers and students participating in the Integrative Community Service. Socialization through the TikTok media was carried out starting in July 2021 for one month to provide education on the impact of mask waste on health and the environment, as well as providing information on how to properly dispose of once-use so that the waste can be used into other forms that do not pollute the environment. Generation Z widely uses Tiktok in searching for information. This campaign resulted in 4 video products containing environmental, health, and innovation messages uploaded on several personal TikTok accounts, @beritaradio.com and @anshoe.who. The values in this campaign include educational tutorials on managing single-use mask waste properly, innovation of mask waste being recycled into several types of valuable objects by LIPI, used as eco-bricks, and used as air fresheners. The value of this campaign message invites Generation Z to be more concerned about the environment and health.
Asep Saepuloh, Vina Aini Salsabila
Published: 14 June 2022
Journal of Empowerment, Volume 3, pp 93-102; https://doi.org/10.35194/je.v3i1.2387

Abstract:
ABSTRAK Periode terbaik dalam mengajarkan bahasa asing adalah pada masa anak-anak karena periode tersebut merupakan periode emas dalam pembelajaran bahasa asing khususnya bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Oleh karenan itu, bahasa Inggris sangat penting peranannya baik dalam ruang lingkup personal, nasional maupun global. Hal ini menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa yang wajib dipelajari oleh berbagai kalangan dan tingkatan usia tak terkecuali anak-anak. Dalam memperlajari 4 keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, membaca, menulis, dan berbicara, terdapat salah satu elemen yang sangat vital peranannya yaitu penguasaan kosakata. Semakin banyak kosakata yang siswa miliki, maka semakin baik pula keterampilan berbahasa mereka. Oleh karena itu, urgensi pembelajaran bahasa Inggris pada usia dini adalah sesuatu yang tidak terelakan. Pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam bidang pengajaran melalui pelatihan dan praktek mengajar menggunakan virtual reality (VR) dalam pengajaran kosakata bahasa Inggris, yang bertempat di SD Negeri Cipanas 2. Setelah selesai rangkaian pengajaran, dapat disimpulkan bahwa penggunaan VR dalam pembelajaran kosakata bahasa Inggris di SD Negerti Cipanas 2 membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, efektif, dan menyenangkan. Hal tersebut terlihat dari antusiasme dan partisipasi aktif siswa ketika mengikuti pembelajaran. ABSTRACTThe best period for teaching foreign languages is during childhood because that period is a golden period in learning foreign languages, especially English as an international language. Therefore, English plays a very important role both in the personal, national, and global scope. This makes English a language that must be learned by various groups and age levels, including children. In learning the four language skills, namely listening, reading, writing, and speaking, there is one element that has a very vital role, namely vocabulary mastery. The more vocabulary students have, the better their language skills will be. Therefore, the urgency of learning English at an early age is something that is inevitable. This Community Service (PKM) aims to improve teacher competence in the field of teaching through training and teaching practice using Virtual Reality (VR) in teaching English vocabulary, which takes place at SD Negeri Cipanas 2. After completing the teaching series, it can be concluded that the use of VR in learning English vocabulary at SD Negeri Cipanas 2 makes learning more interesting, effective, and fun. This can be seen from the enthusiasm and active participation of students when participating in learning.
Reza Anggriyashati Adara, Rido Budiman, Tin Hartini
Published: 14 June 2022
Journal of Empowerment, Volume 3, pp 65-72; https://doi.org/10.35194/je.v3i1.2036

Abstract:
Kemampuan berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris sangat dibutuhkan karena akan membantu masyarakat untuk bertahan di era globalisasi. Itulah sebabnya pelatihan berbicara di depan umum dan TOEFL ITP dapat membantu orang-orang dengan memberikan mereka pengetahuan dan praktik yang dibutuhkan dan motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim dari FKSB (Fakultas Komunikasi Sastra dan Bahasa) Universitas Islam 45 Bekasi. Selain memaparkan program, penelitian kali ini menampilkan hasil program yang dilakukan di salah satu lembaga pendidikan di Bekasi, Pesantren Motivasi Indonesia. Acara terdiri dari pengenalan dan teknik public speaking dan TOEFL ITP. Selain itu, ada sesi latihan bagi para peserta. Program ini diharapkan menjadi tonggak untuk program serupa yang akan membantu peningkatan keterampilan berbicara di depan umum dan bahasa Inggris.
Back to Top Top