Jurnal Poli-Teknologi

Journal Information
ISSN / EISSN : 1412-2782 / 2407-9103
Published by: Politeknik Negeri Jakarta (10.32722)
Total articles ≅ 150
Filter:

Latest articles in this journal

Ida - Zuraida
Jurnal Poli-Teknologi, Volume 20, pp 65-73; https://doi.org/10.32722/pt.v20i1.3505

Abstract:
Air bersih merupakan kebutuhan pokok harus memenuhi kreteria jernih, tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa. Dalam pemenuhan air bersih biasanya dipenuhi oleh pemerintah setempat. Tetapi dalam pemenuhan tersebut memiliki keterbatasan sehingga tidak semua dapat terlayani. Lingkup kegiatan penelitian ini meliputi membuat sumur air baku sampai membuat system gorong-gorong filter air. Ouput dari system filter berupa air yang diuji tingkat kejemihan dan tingkat kekeruhannya di Laboratorium. Dalam penelitian ini ada beberapa tahapan yang akan dilakukan antara lain pembuatan sumur air baku, pembuatan system intake, system distribusi ke filter, pembuatan system filter dengan tiga model, ujicoba fungsionalitas dan evaluasi system, pengambilan sampel air dan pengujian kualitas air. Hasil penelitian berupa karya cipta filter dan kualitas air. Kualitas air pada periode awal dengan parameter Kejernihan antara 46,8 – 55,5 mg/l dengan prosentase penurunan sebesar 7% sedangkan dengan parameter Kekeruhan antara 157 – 227 NTU dengan prosentase penurunan sebesar 12%. Kualitas air pada periode pertengahan dengan parameter Kejernihan antara 52,4 – 65 mg/l dengan prosentase penurunan 0% sedangkan dengan parameter Kekeruhan antara 32,5 – 151 NTU dengan prosentase penurunan sebesar antara 0 – 79%. Kualitas pada periode akhir dengan parameter Kejernihan 4,3 mg/l dengan prosentase penurunan sebesar 5% sedangkan dengan parameter Kekeruhan antara 88,7 – 109 NTU dengan prosentase penurunan sebesar antara 20 – 35%. Harapan awal gorong-gorong dapat ditembus oleh air tetapi kenyataan dilapangan tidak tercapai. Harapan kedua untuk mengarahkan aliran air dari bawah keatas melalui media pasir juga tidak tercapai. Harapan satu-satunya yaitu melalui bagian dasar gorong-gorong yang masih bisa ditembus oleh air dan agak sedikit bisa menyaring air tetapi ini juga tidak efektif karena pada saat open per model menimbulkan piping. Penelitian ini masih belum sempurna, masih perlu dilakukan pengembangan agar bisa diterapkan secara langsung oleh masyarakat.
Sonatha Christianto
Jurnal Poli-Teknologi, Volume 20, pp 27-35; https://doi.org/10.32722/pt.v20i1.2922

Abstract:
Penggunaan sambungan pelat-ujung diinisiasi akibat banyaknya kegagalan tidak terduga sambungan las seluruhnya. Perkembangan metode elemen hingga memungkinkan pengujian sambungan dilakukan dengan analisis elemen hingga. Analisis elemen hingga mampu menghemat waktu dan biaya dibandingkan uji eksperiment. Analisis elemen hingga yang dilakukan perlu menggunakan model terkalibrasi, agar analisis mampu menggambarkan fenomena sesungguhnya. Kalibrasi dilakukan dengan mengacu kepada uji eksperiment oleh Shi Gang (2006). Kalibrasi yang dilakukan adalah dengan merubah bentuk actuator dan juga pemodelan kontak mur dengan pelat. Geometri actuator perlu dirubah, karena actuator uji ekperiment tidak bersifat seperti sendi murni. Kontak mur dengan pelat dirubah dari frictional menjadi bonded untuk menghilangkan masalah konvergensi dan mengurangi biaya komputasi. Model elemen hingga dengan parameter kalibrasi tersebut, memiliki kekakuan peak-to-peak siklus yang hampir sama (<1%) dengan model uji eksperimen. Sehingga, kalibrasi dapat dinyatakan selesai. Kata kunci : sambungan pelat-ujung, metode elemen hingga, & kalibrasi.
Yunika Yunika
Jurnal Poli-Teknologi, Volume 20, pp 53-63; https://doi.org/10.32722/pt.v20i1.2811

Abstract:
Recognizing the importance of occupational safety and health (K3) in order to provide a sense of security and prevent work accidents so as to increase morale or performance of other workers. The study discusses the effect of the application of occupational safety and health (K3) on the performance of construction project workers. Companies are requested to immediately apply the new Occupational Safety and Health (K3) standards as stated in the Minister of Manpower Regulation (Permenaker) No.5 of 2018 concerning K3. Employers and Management who do not meet the provisions in this Ministerial Regulation are subject to sanctions in accordance with the Law Number 1 of 1970 concerning Work Safety and Law Number 13 of 2003 concerning Employment. On this occasion the researchers used quantitative methods and the research was conducted at the Cijago Depok toll road during working hours. The average weighting value is 84%, so it can be said that the application of the safety management system and occupational health (SMK3) on the Cijago toll road section 2 B project has been running quite well and effectively. However, in this study, several variables have the lowest score and can affect project performance. Therefore, these variables will be given preventive variables including is variable which has a weight of <76%, namely: X13 which is a variable with the statement "The company presents the results of measurements of noise, vibration, temperature, dust to ensure the implementation of K3 is going well and correctly" therefore according to expert opinion there is a need for preventive measures. The variable that can affect project performance is the variable that has the highest weighting, X17 regarding "OHS regulations and procedures needed" with a weighting of 89% means that project performance is influenced by project workers who feel safe if there are OHS regulations and procedures required that are clearly described and as evidenced by the increase in the S curve
Verdy Ananda Upa, Rahmat Setyadi, Abi Maulana Hakim
Jurnal Poli-Teknologi, Volume 20, pp 75-84; https://doi.org/10.32722/pt.v20i1.3540

Abstract:
Tanah lempung lunak adalah jenis tanah lempung yang memiliki nilai CBR rendah dan swelling yang besar, selain itu bahan organik dalam tanah lempung tersebut harus menjadi bahan pertimbangan, karena jika melewati batas maksimum akan mereduksi kekuatan dan stabilitas dari proses stabilisasinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan abu vulkanik dan semen Portland terhadap kekuatan dan stabilitas tanah lempung organik artifisial serta tebal perkerasan rencana yang digunakan. Tahap perlakuan awal, tanah lempung lunak dicampur dengan 3 variasi kadar abu vulkanik, kemudian diperam selama 3 hari. Tahap perlakuan akhir, tanah hasil campuran ditambahkan 5% semen Portland, lalu kembali diperam selama 3 hari. Pengujian sifat fisis meliputi specific gravity, batas cair, batas plastis. Specific gravity meningkat dari 2,58 menjadi 2,65, batas cair menurun dari 71,48% menjadi 43,45%, batas plastis meningkat dari 28,96% menjadi 34,08%, indeks plastisitas menurun dari 42,52% menjadi 9,37%. Pengujian sifat mekanis meliputi pemadatan, CBR, dan pengujian swelling. OMC mengalami penurunan dari 33,696% menjadi 29,586%, MDD mengalami peningkatan dari 1,319% menjadi 1,351%, CBR mengalami peningkatan dari 2,87% menjadi 9,77%, dan swelling mengalami penurunan dari 2,36% menjadi 0,45%, serta tebal perkerasan rencana berkurang dari 15 cm menjadi 8 cm untuk campuran tanah lempung organik dengan 15% abu vulkanik dan 5% semen.
Andrias Rudi Hermawan
Jurnal Poli-Teknologi, Volume 20, pp 45-52; https://doi.org/10.32722/pt.v20i1.2998

Abstract:
Pada penelitian sambungan balok precast sederhana dengan sistm double lapsplices middle wet joint pada balok precast ini telah dihasilkan suatu perbandingan kekuatan lentur antara balok precast yang disambung di tengah bentang (middle wet joint) dengan balok konvensional. Dari hasil yang ada terlihat bahwa performa balok precast yang disambung di tengah bentang dengan sistim middle wet joint dibandingkan dengan balok konvensional adalah lebih baik, hal itu dibuktikan pada kurva hubungan lendutan-beban antara benda uji konvensional 1 dan benda uji konvensional 2 dengan benda uji precast 1 dan benda uji precast 2. Dari kurva yang ada diketahui bahwa benda uji balok precast 1 mempunyai lendutan 10 mm pada beban 151,8 KN dan benda uji precast 2 mempunyai lendutan 16 mm pada beban 169,2 KN sedangkan pada benda uji konvensional 1 mempunyai lendutan 47 mm pada beban 145,5 KN dan benda uji 2 mempunyai lendutan 40 mm pada beban 144,7.KN. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa balok precast mempunyai performa yang lebih baik dibandingkan balok konvensional
Siti Irmawati
Jurnal Poli-Teknologi, Volume 20, pp 15-26; https://doi.org/10.32722/pt.v20i1.2933

Abstract:
Kontrak lump sum memiiki kelebihan dan kekurangan yang perlu dijadikan bahan pertimbangan oleh kontraktor untuk menentukan tindakan dalam mengatasi risiko. Tujuan dari enelitian ini adalah melakukan analisa tingkat risiko yang mungkin akan dialami oleh kontraktor dalam sebuah proyek dengan sistem kontrak yang sudah berjalan dan melakukan manajemen risiko. Data dikumpulkan dengan cara wawancara, brainstorming, dan menggunakan kuesioner berdasarkan penelitian sebelumnya. Berdasarkan hasil pengujian validitas dan reabilitas, resiko yang valid kemudian dianalisis menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process method), menghitung nilai FR berdasarkan metode SNI, dan menggunakan metode Decision Tree Analysis untuk menjelaskan faktor risiko yang mempengaruhinya. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa risiko yang memiliki nilai faktor terbesar dari tiap tahapan proyek adalah: 1) Perencanaan: Perijinan proyek = 0,594 ; 2) Proses lelang & kontrak kerja : Sistem kontrak yang digunakan = 0,560 ; 3) Pelaksanaan konstruksi : Kecelakaan kerja = 0,601 ; 4) Penyimpangan dalam pelaksanaan dan operasional terhadap perencanaan : Sumber pembiayaan = 0,573. Kemudian mitigasi risiko dapat dilakukan.
Tossin Alamsyah
Jurnal Poli-Teknologi, Volume 20, pp 37-44; https://doi.org/10.32722/pt.v20i1.2893

Abstract:
Pasir silika adalah material dari kristal silika (SiO2) dan senyawa lainnya yang mengandung material lain selama proses deposisi, memiliki komposisi gabungan dari SiO2, Fe2O3, Al2O3, CaO, MgO, dan K2O. Sensitivitas atau responsivitas suatu sensor gas dapat dipengaruhi oleh porositas pada permukaan substrat, umumnya substrat material dari sensor gas digunakan alumina (Al2O3) atau dioxside silikon (SiO2).Pada artikel ini membahas tentang hasil proses sintering pada pasir silika yang bertujuan untuk mendapatkan struktur SiO2 yang baik, khusunya dalam parameter konduktivitas termal. Proses sintering dilakukan pada pasir silika dengan campuran almunium sulfat (AlSo4) pada 1600o untuk hasil kemudian tumbuk menjadi tiga (3) buah sampel yaitu sampel A ukuran mesh 300, Sampel B ukuran mesh 500 mesh dan sampel C ukuran mesh 1000 mesh.Hasil pengamatan, jika tiga sampel dipanaskan (T) sampai 1000 , sampel C memiliki responsivitas tinggi untuk dibandingkan dengan sampel a dan b dengan rasio 5,7; 5,4 dan 4,8. Disimpulkan bahwa bahan substrat dengan ukuran mesh kecil (sampel C, 1000) memiliki resistivitas termal yang tinggi dibandingkan dengan ukuran bahan mesh rendah , sampel A (mesh 300) dan dan B(mesh 500).Akhirnya ketika diimplementasikan dalam model sensor Gas CO, dihasilkan bahwa sample C dengan mesh 1000 memiliki thermal sensitivitas yang lebih besar dibandingkan dengan sampel B dan A
Abdul Halim, Mangkona Mangkona, Muh. Taufik, Andi Saputra
Jurnal Poli-Teknologi, Volume 20, pp 85-93; https://doi.org/10.32722/pt.v20i1.3496

Abstract:
The occurrence of problems regarding operating procedures that are not suitable for heavy equipment in the field is one of the causes of component life which is not maximally achieved. Therefore it is necessary to have an innovation to make it easier to monitor and operate heavy equipment, especially when there is a shift in work shift for heavy equipment operators. Operator experience in several mining activities, many operators shut down the engine suddenly so that the impact on the engine can cause over heating which results in excessive wear and will have an impact on engine performance. And therefore the purpose of design a microcontroller-based cooling down safety device is a tool that functions to turn off the engine when the engine is low idle with time settings according to the standard operating procedure of each machine. For machines that have been operated under load, the engine must be low idle / cooling down for a while, so that the heat on the engine surface is cool enough, so that hot components can be properly lubricated. By design a cooling down engine safety device, it is hoped that it can assist in the monitoring and operation of heavy equipment. From the results of field testing, the relay that controls the unit's electricity functions properly and the cooling down safety device has a precise timing.
Alvianti Alvianti
Jurnal Poli-Teknologi, Volume 20, pp 1-13; https://doi.org/10.32722/pt.v20i1.3000

Abstract:
Balok kayu glulam digunakan untuk mendapatkan dimensi penampang yang dibutuhkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari kapasitas lentur yang optimal berdasarkan bentuk penampang glulam dari 4 buah papan. Tujuan lainnya adalah membandingkan perilaku lentur balok glulam Albasia dan kombinasi jenis kayu Albasia-Meranti. Papan kayu disusun menjadi penampang persegi panjang, I, dan boks menggunakan perekat ‘epoxy’. Dasar perencanaan bentuk penampang I dan boks adalah memiliki shear flow terkecil pada pertemuan web dan flens. Balok glulam kombinasi jenis kayu menggunakan kayu Meranti pada bagian flens penampang I dan boks. Pengujian lentur balok menggunakan metode ‘third point loading’. Kapasitas lentur dan daktilitas balok glulam Albasia seluruhnya dengan penampang I adalah yang paling besar dibandingkan balok penampang persegi panjang dan boks glulam Albasia seluruhnya. Penggunaan kayu Meranti pada flens meningkatkan kapasitas lentur penampang I dan boks hingga 44.41% dan 57.56% dibandingkan balok glulam Albasia seluruhnya. Namun kombinasi tersebut menurunkan daktilitas penampang I dan boks hingga -26.27% dan -17.11% dibandingkan glulam Albasia seluruhnya. Moda kegagalan dominan pada penampang persegi panjang adalah kegagalan lentur. Moda kegagalan dominan pada penampang I dan boks Albasia adalah kombinasi kegagalan lentur dan geser. Moda kegagalan dominan pada penampang I dan boks glulam kombinasi Albasia-Meranti adalah kombinasi kegagalan lentur dan geser.
Budhi Martana, Sigit Pradana, Muhammad Arifudin Lukmana
Published: 20 January 2021
Jurnal Poli-Teknologi, Volume 19, pp 289-294; https://doi.org/10.32722/pt.v19i3.3005

Abstract:
Extrusion technology is one way that can be done to produce a product. The extruder machine is a tool that is quite simple but has its own uniqueness, the way this tool works is to insert raw materials which will be processed and then pushed out through a die in accordance with the desired shape. The purpose of this research is to design an extruder in order to produce a cylindrical product (filament), and to recycle waste into a product that has added value and economic value, so that it can be applied to society as an effort to reduce plastic waste. The research method used is development research with the determination of several variables, namely: control variables in the form of plastic material with the type of PET and HDPE, the independent variables are temperature and engine speed (rpm), and the dependent variable is the time needed to produce a product. The results obtained for the PET type plastic have the characteristics of fast liquid and runny, the results are discontinuous (discontinuous), brittle (brittle), for HDPE it has the characteristics of liquid and hard, continuous yield, the resulting surface looks rough with flexible plastic properties, strong and elastic, while for the mixture of PET and white HDPE, the characteristics are liquid, and continuous. This mixture of PET and HDPE has a long drying time of up to 1350 seconds.
Back to Top Top