Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam

Journal Information
ISSN / EISSN : 2355-1917 / 2528-5882
Published by: IAIN Syekh Nurjati Cirebon (10.24235)
Total articles ≅ 77
Filter:

Latest articles in this journal

Aulia Novemy Dhita, Sesilia Dwi Putri
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Volume 9; https://doi.org/10.24235/tamaddun.v9i1.8174

Abstract:
The existence of Arab descent in Palembang has a long historical path. This study aims to describe the history of the arrival of the Arabs to their present life. To answer this problem, this study uses historical methods (heuristics, interpretation, source criticism and historiography). The results showed that the Arabs in Palembang were dominated by Hadramaut. During the Sultanate of Palembang they had a special position at the Palace as religious advisors to the Sultan and were allowed to establish settlements on land. In the trade sector they control the trade in the micro sector and can carry out economic interactions with the community in the Uluan area. This situation changed after the abolition of the Palembang Sultanate. The Dutch colonial government restricted the economic movements of the Arabs. However, some Arab descendants have good relations with the Dutch so that they are able to survive. Currently they live side by side with ‘wong’ Palembang and other ethnicities. They occupy an area called Kampung Arab. In general, he works as a trader, especially in Pasar 16 Ilir and scholars.Keywords: Arrived, Arab Descent, Kampung Arab, Palembang Abstrak: Keberadaan Keturunan Arab di Palembang memiliki jalan historis yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan sejarah kedatangan orang-orang Arab hingga kehidupannya saat ini. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode historis (heuristik, interpretasi, kritik sumber dan historiografi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang-orang Arab di Palembang didominasi dari Hadramaut. Pada masa Kesultanan Palembang mereka memiliki kedudukan istimewa di Istana sebagai penasehat agama Sultan dan diizinkan mendirikan pemukiman di darat. Dalam bidang perdagangan mereka menguasai perdagangan sektor mikro dan dapat melakukan interaksi ekonomi dengan masyarakat di wilayah uluan. Keadaan ini berubah pasca dihapuskannya Kesultanan Palembang. Pemerintah kolonial Belanda membatasi gerak ekonomi orang-orang Arab. Namun demikian beberapa keturunan Arab memiliki hubungan baik dengan Belanda sehingga mampu tetap bertahan. Saat ini mereka hidup berdampingan dengan wong Palembang dan masyarakat dari etnis lain. Mereka menempati wilayah yang disebut Kampung Arab. Secara umum berprofesi sebagai pedagang terutama di Pasar 16 Ilir dan ulama.Kata Kunci: Kedatangan, Keturunan Arab, Kampung Arab, Palembang
Syahrul Kirom
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Volume 9; https://doi.org/10.24235/tamaddun.v9i1.8028

Abstract:
The moral crisis hit the mental and character of the Indonesian nation with widespread cases of corruption, lies and dishonesty in all human activities. In fact, Indonesian culture has very good customs and traditions if we want to explore the ethical values of archipelago culture such as the Samin culture in Central Java. This paper was done using qualitative research. The formal object of this research is ethics, while the material object is the local wisdom value of the Samin community. The method used is the historical continuity method and heuristic method. This step was carried out with the aim of drawing into the history of Samin's culture and to be related to the current situation, related to the values of local wisdom of Samin culture. The results of this study conclude, that it turns out that the negative stigma against Samin culture is not good, who is ignorant and disobedient to taxes, does not want formal schooling with the aim of fighting colonialism. 1), the ethical value of honesty in the culture of samin with the slogan biasakno, kuliknano, pangucapmu, in karo karepe atimu means that it must be accustomed to between verbal and heart, that is, the values of honesty in heart and verbally must be the same, and should not lie. 2). In the words of the Samin people, dhuwekmu yo dhuwekku, mulo iku is sincere, it means that what you have is mine, then be sincere, the purpose of this expression is actually to build an act of mutual giving and receiving ours together with the intention of salig please help and be full of sincerity later who repays God. Key Words: Samin, Ethics, Culture, Local wisdom
Siswoyo Aris Munandar
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Volume 9; https://doi.org/10.24235/tamaddun.v9i1.7010

Abstract:
It is a fact that the West is now economically more advanced than the East. This matter is considered unanimously by most Easterners to be entirely oriented to him. The West exports an ideology that all countries in the world seem unable to reject, then developing countries agree with it, then struggle with the number one puritan discipline and cunning attitude to be able to advance economically and technologically. It seems that it is a necessity for a comprehensive human development. Various criticisms have been raised, but nothing has been able to stop the power of this understanding. In fact, it made him modify an even more accurate strategy. The question that arises then is, why did the homeland liberation movement succeed in escaping from military occupation but failed to defend economic, political, cultural and civilizational independence? Why are the majority of independent countries, after gaining their independence increasingly following the West in the fields of food, weaponry and modernization of society? This paper is a study with the type of research library that intends to discuss Hassan Hanafi's ideas regarding accidentalism which is a form of Islamic response to the progress of Western civilization. The conclusion obtained from this study is that incidentalism is an act of resistance from the East to study the West in more depth. According to Hassan Hanafi, in seizing the glory of the East, it requires the attitude of three renewal tradition projects, namely, first, our attitude towards old traditions, our attitude towards Western traditions, and our attitude towards reality. Even with a harsh and critical tone, Hanafi's occidentalism does not intend to do a complete reversal in the sense of replacing the position that had been played by orientalism. If earlier orientlism was not in a neutral position and was mainly dominated by European consciousness structures formed by modern civilization, Hanafi designed orientalism as a neutral scientific discourse. Keywords: Orientalism, Occidentalism, West, East, Hassan Hanafi
Anwar Nuris
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Volume 8; https://doi.org/10.24235/tamaddun.v8i2.7321

Abstract:
AbstrakSyekh Nurjati dianggap sebagai salah satu peletak awal proses Islamisasi di Cirebon. Kemampuannya dalam mensosialisasikan ajaran Islam dengan cara sinergisitas eksoterik dan esoterik agama Islam membuat Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rara Santang memeluk agama Islam. Dalam tradisi keilmuan Islam, sinergisitas eksoterik dan esoterik agama merupakan aktifitas ilmiah antara syariah dan sufisme sebagaimana yang dilakukan oleh Imam al-Qusyairi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali. Kemampuan Syeikh Nurjati ini menginspirasi penamaan lembaga pendidikan tinggi Islam di Cirebon melalui penisbatan nama menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon. Penisbatan nama Syekh Nurjati ini diharapkan mengambil inspirasi pola dan metode ilmiah yang digunakan oleh Syekh Nurjati dalam proses Islamisasi di Cirebon. Pada perkembangannya, IAIN Syekh Nurjati Cirebon sedang bermetamorfosa menjadi UIN Syekh Nurjati Cirebon. Dengan mengambil pola yang sama pada akarnya, UIN Syekh Nurjati Cirebon diharapkan mampu menjalankan Based Research System sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Syekh Dzat al-Khafi atau Datuk Kafi atau Syekh Idhofi Mahdi atau Syekh Nurjati.
Fika Hidayani
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Volume 8; https://doi.org/10.24235/tamaddun.v8i2.7241

Abstract:
Pegon script is a cultural heritage which is important to learn because in the past, this script was used as a medium to conquer colonialism and a collection of information between Mufti. Moreover, this script was considered a sacred script by the society. This is a method of preachers in spreading Islam more easily that would be accepted by the society. Paleography helps researchers trace the historical record of the development of Islam in Java, because we can know the written evidence on the stone, metal or other materials. By studying Paleography of Pegon Script, the researchers can track the historical record of the development of Islam based on the origin of the development of the writing.
Yana Maulana Firdaus, Dedeh Nur Hamidah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Volume 8; https://doi.org/10.24235/tamaddun.v8i2.7238

Abstract:
ABSTRAKPemerintah Hindia Belanda pada tahun 1870 mengeluarkan kebijakan perdagangan liberal, dimana modal-modal swasta mulai masuk ke Hindia Belanda. Hasil dari kebijakan tersebut adalah masuknya investasi di sektor industri perkebunan, salah satunya tebu. Sejalan dengan itu, dibangunlah transportasi darat kereta api yang pada mulanya untuk memfasilitasi distribusi produk industri tebu. Di wilayah Cirebon sendiri pembangunan jalur kereta dimulai pada tahun 1897, yakni dengan dibangunnya jalur Cirebon-Semarang, kemudian tahun 1901 dibangun jalur Cirebon-Kadipaten, serta tahun 1912 dibangun jalur Cirebon-Cikampek. Peran dari jalur-jalur baru di Cirebon Barat dalam sektor perekonomian antara lain adalah memberikan kelancaran proses produksi pabrik gula di wilayah Cirebon Barat. Selain itu, dalam peran sosial dari adanya jalur kereta di Cirebon Barat ini adalah memberikan akses mobilitas barang antar wilayah yang semakin lancar.
Musahwi Musahwi
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Volume 8; https://doi.org/10.24235/tamaddun.v8i2.7266

Abstract:
Studi ini mengulas fenomena kebencian dari wacana ke struktur sosial dengan fokus pada wacana bela Islam 2016-2017. Kekuatan wacana bela Islam 2016-2017 tidak saja mendorong Basuki Tjahaja Purnama/Ahok ke penjara, tetapi juga mengeskalasikan kebencian melalui berbagai kekerasan yang meluas menggunakan simbol-simbol Islam. Agensi di sekitar wacana bela Islam memiliki peran penting, karena melibatkan figur/pemimpin yang menduduki kelas sosial elit dalam struktur keagamaan dan politik. Agensi wacana bela Islam meciptakan ketegangan, bersifat devaluatif, dan dimediasi oleh kebencian antar-kelompok. Untuk menghasilkan kajian yang mendalam, studi ini menggunakan metode kualitatif melalui critical discourse analysis (CDA) dengan berpijak pada perspektif teori dialektika agen dan struktur. Fenomena kebencian ditunjukkan dengan jelas melalui teks dan interaksi sosial di balik wacana bela Islam. Teks yang tersebar di media sosial mengandung kekerasan simbolik terhadap kelompok yang berbeda ideologi agama dan politik. Sementara dalam interaksi sosial, ditunjukkan oleh berbagai kekerasan langsung melalui aksi persekusi terhadap orang/kelompok yang dianggap menghina ulama/pimpinan mereka di sosial media. Fakta ini menunjukkan kebencian pada level yang akut membuncah menjadi kekerasan yang massif dan mewariskan mindset kebencial kolektif satu sama lain.
Frial Ramadhan Supratman
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Volume 8; https://doi.org/10.24235/tamaddun.v8i2.7081

Abstract:
Kopi merupakan minuman yang sangat disukai pada hari ini. Namun, sedikit sekali para peneliti yang memfokuskan penelitian mengenai kopi, khususnya di negara-negara Muslim, seperti Negara Usmani. Setelah kopi pertama kali datang di Istanbul pada abad ke-16, kontroversi mengenai produk kopi itu sendiri dimulai. Abad ke-16 dan 17 menunjukan bahwa para sultan Usmani tidak selalu dapat menerima kopi sebagai produk yang halal. Makalah ini menunjukan dinamika konsumsi kopi di Negara Usmani pada periode modern awal. Penulis ingin mengetahui bagaimana konsumsi dan persepsi terhadap kopi di Negara Usmani. Untuk itu penulis menguraikan sejarah kemunculan kopi di Istanbul, relasi kedai kopi dengan penguasa Usmani hingga bisnis kedai kopi yang dikuasai oleh tentara Janisari. Dalam makalah ini penulis berargumen bahwa kopi mengalami perkembangan yang dinamis dari waktu ke waktu. Semakin lama kopi semakin disukai karena keberadaan kedai kopi telah menyediakan sarana komunikasi yang efektif bagi masyarakat Usmani pada periode modern awal.
Varidlo Fuad
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Volume 8; https://doi.org/10.24235/tamaddun.v8i2.7234

Abstract:
Dewasa ini tingkat kepercayaan generasi millenial terhadap pemerintah semakin menurun. Hal tersebut mungkin terjadi karena belum adanya figur pemimpin dan tokoh bangsa saat ini yang dapat meneladani beberapa tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia, seperti halnya Soekarno yang saat itu masih aktif sebagai Presiden pertama Republik Indonesia terkendala masalah ekonomi hingga akhirnya membuatnya untuk melelang salah satu peci kepunyaanya, seperti halnya Mohammad Hatta yang pantang tergoda dengan uang dan kekuasaan karena selalu memikirkan citranya sebagai seorang pemimpin dan tokoh publik, seperti halnya Mohammad Natsir yang terkenal sebagai pemimpin dan tokoh bangsa yang sedari awal selalu memilih untuk hidup sederhana karena berupaya untuk dapat memberikan suri tauladan yang baik bagi rakyatnya.
Aah Syafaah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Volume 8; https://doi.org/10.24235/tamaddun.v8i2.7322

Abstract:
AbstrakPenjajahan Belanda yang terjadi selama bertahun-tahun di atas tanah Cirebon mengakibatkan eksploitasi sumber daya alam dan manusia yang berimbas pada penderitaan yang berkepanjangan. Tentu menyisakan penderitaan yang berkepanjangan bagi rakyat. Melihat hal ini, para ulama Cirebon kemudian memassifkan gerakan sosial yang dibangunnya sebagai bentuk reaksi rasional rakyat untuk merebut kemerdekaan dan memperjuangkan hak-haknya atas dominasi dan penjajahan bangsa lain di atas tanah airnya sendiri. Selain tentu saja, hal ini juga dilakukan karena masyarakat sudah terlebih dahulu menyadari bahwa mereka tidak dilengkapi persenjataan yang lengkap dan canggih. Para ulama dalam hal ini memainkan peran sebagai tokoh sentral yang mampu menggerakkan kekuatan rakyat dan melakukan berbagai perlawanan terutama untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat di bidang keagamaan, politik, sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Meski melibatkan elemen massa yang beragam mulai dari petani, pejabat keraton, dan para dalang wayang kulit, dengan bekal jihad yang terus didengungkan mendapatkan aksi balasan yang kemudian membuatnya dipenjara, diasingkan bahkan sampai dibunuh. Sementara pesantren-pesantren yang dibangun oleh para ulama ini juga mendapatkan bombardir dari pihak kolonial tersebut.
Back to Top Top