Jurnal GEOSAPTA

Journal Information
ISSN / EISSN : 2460-3457 / 2527-5844
Total articles ≅ 84
Filter:

Latest articles in this journal

Muhammad Arfan Mangolo, Mohammad Salman Said, Arif Nurwaskito, Firman Nullah Yusuf, Alfian Nawir
Jurnal GEOSAPTA, Volume 7, pp 21-25; doi:10.20527/jg.v7i1.7463

Abstract:
Slag berpengaruh terhadap kualitas air dan tanah karena adanya zat-zat berbahaya seperti logam berat yang dapat terkonsentrasi sehingga akan menimbulkan permasalahan seperti gangguan kualitas air dan tanah. Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui kualitas air laut dan tanah. Data yang digunakan yaitu data pH (Power of Hydrogen), TSS (Total Suspended Solids), suhu, salinitas, DO (Dissolved Oxygen) dan data konsentrasi logam yang ada pada air dan tanah. Pengambilan data dilakukan dengan uji fisik dan uji kimia. Tahap pengolahan yang dilakukan yaitu menggunakan alat intelegent meter, XRF (X-Ray Fluorescence), dan AAS (Atomic Absorption Spektrophotometry). Hasil uji fisik yang dilakukan telah didapatkan nilai suhu tertinggi dari ke tiga sampel yaitu 30oC, nilai TSS yaitu 2,7mg/l, nilai pH yaitu 7,66, nilai DO yaitu 24,3mg/l, dan salinitas yaitu 24‰. Hasil uji Kimia telah didapatkan konsentrasi logam Cr+6 tertinggi yaitu 0,0012mg/l, Cd yaitu 0,0005mg/l, Cu yaitu 0,001mg/l, Pb yaitu 0,002mg/l, Zn 0,002mg/l, Ni yaitu 0,033mg/l. Sesuai dengan baku mutu air laut, tidak ada yang melewati dan status mutu air laut yang peroleh yaitu 0 bahwa kualitas air laut masuk dalam kelas A dengan kondisi baik sekali karena air laut sudah memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan. Kualitas tanah yang diteliti didapatkan konsentrasi logam tertinggi yaitu seperti unsur Ni dengan kadar 8.800ppm, Co dengan kadar 1.300ppm dan Fe dengan kadar 371.800ppm sedangkan unsur Al dengan kadar 114.700ppm yang ada pada tanah masih berada dalam nilai ambang batas sesuai dengan ketetapan baku mutu tanah. Kata kunci: baku mutu, kualitas air, kualitas tanah, uji fisik, uji kimia.
Sri Wahyuni, Nurliah Jafar, Habibie Anwar, Abd. Salam Munir
Jurnal GEOSAPTA, Volume 7, pp 1-6; doi:10.20527/jg.v7i1.7702

Abstract:
Disposal merupakan tempat pembuangan material yang berada di dalam tambang maupun di luar area penambangan atau biasa disebut IPD (in pit dump) dan OPD (out pit dump). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kestabilan lereng dari segi keamanan. Adanya perubahan dari geometri lereng ini dapat mengurangi masalah yang mungkin akan terjadi, yang dapat menyebabkan lereng mengalami pergerakan. Untuk menganalisis dan pengolahan data menggunakan software Rocscience slide dengan metode bishop. Berdasarkan analisis yang dilakukan pada disposal PQRT Pit West diperoleh empat sayatan, lereng aktual sayatan A sampai D mendapatkan hasil FK > 1,3. Selanjutnya untuk perencanaan penutupan lumpur pada area kaki disposal sayatan A sampai D didapatkan FK < 1,3 dimana geometri yang digunakan yaitu standar dari perusahaan dengan tinggi jenjang tunggal 10 meter, dengan slope 450 untuk single slope dan lebar jenjang tunggal 30 meter. Hasil ini, maka perlu dilakukan upaya penanggulangan untuk mencegah terjadinya gangguan kestabilan lereng disposal seperti merancang ulang geometri lereng, maka didapatkan geometri yang sesuai dimana FK > 1,3 lereng dinyatakan stabil atau aman, yaitu lebar jenjang 50 sampai 100 meter dengan tinggi lereng keseluruhan 44 meter, sudut keseluruhan lereng 70, sesuai dengan SOP (Standar Operasional Perusahaan) apabila faktor keamanan lereng timbunan dengan tinggi lereng < 100 meter, maka minimum FK yaitu 1,3. Kata kunci: disposal, kestabilan lereng, faktor keamanan, sayatan
Muhamad Hardin Wakila, Citra Auliani Chalik, Nur Asmiani, Abdul Salam Munir, Muhammad Idris Juradi, Annisa Annisa
Jurnal GEOSAPTA, Volume 7, pp 31-34; doi:10.20527/jg.v7i1.8623

Abstract:
Saat ini industri semen tengah gencar dikembangkan di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur, sehingga eksplorasi batugamping sebagai bahan baku semen sedang intens dilakukan. Salah satu daerah yang prospek untuk eksplorasi batugamping adalah daerah Waangu-angu Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini dikarenakan kondisi geologi daerah penelitian yang didominasi oleh batuan sedimen, khususnya batugamping. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas batugamping di daerah penelitian untuk digunakan sebagai bahan baku semen dan menentukan sebaran batugamping di daerah penelitian. Metodologi penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan yang terdiri dari pengambilan data lapangan, analisa laborotorium, dan interprestasi peta. Berdasarkan hasil analisa XRF, dapat diketahui bahwa keseluruhan sampel pada 3 stasiun pengamatan menunjukkan kandungan CaO yang cukup tinggi yakni mencapai 55 %, sehingga batugamping pada daerah penelitian dapat dikategorikan ke dalam batugamping kualitas tinggi (high grade limestone) karena memiliki kandungan CaO > 48 %. Sedangkan dari hasil interpretasi peta dapat diketahui arah sebaran umum batugamping di daerah peneltian adalah relatif ke arah timur laut-barat daya. Jadi dapat disimpulkan batugamping pada daerah penelitian memiliki kualitas yang tinggi (high grade limestone) sehingga baik digunakan untuk bahan baku semen dan arah sebarannya relatif ke arah timur laut-barat daya. Kata-kata kunci: batugamping, semen, XRF, arah sebaran, CaO.
Eko Santoso, Sari Melati, Muhammad Fiqri Ramadhan
Jurnal GEOSAPTA, Volume 7, pp 55-59; doi:10.20527/jg.v7i1.9323

Abstract:
Getaran tanah merupakan bagian dari output operasi peledakan pada lingkungan. Ketika getaran tanah berada pada level yang tinggi, dapat menyebabkan gangguan pada manusia, ketidaknyamanan dan bahkan menyebabkan pada struktur bangunan di sekitarnya. Mengingat dekatnya jarak dari lokasi peledakan ke daerah pemukiman warga (zona crissis) yang berjarak sekitar ±1000 m. Berdasarkan kondisi lapangan yang terjadi pada bulan Agustus 2019 - Desember 2019 dimana tercatat ground vibration terbesar 3,06 mm/s. Kepmen LH No. 49 Tahun 1996 dan SNI 7571:2010 tentang Baku Tingkat Getaran Kejut menyebutkan batasan kecepatan getaran terhadap lingkungan sekitar yang berpengaruh terhadap keutuhan bangunan. Rekomendasi tersebut sebagai acuan penelitian untuk mengevaluasi nilai getaran tanah yang dihasilkan kegiatan peledakan tambang terbuka. Penulis melakukan evaluasi dari data hasil pengukuran ground vibration aktual berdasarkan pendekatan Teori Peak Particle Velocity yang dihubungkan dengan regresi power untuk memperoleh rumusan prediksi ground vibration, yang kedepannya bisa dijadikan acuan untuk menetukan jumlah isian bahan peledak agar ground vibration yang terjadi tidak melebihi batas aman. Hasil prediksi rumusan ground vibration pada jarak 900 m sampai 1500 m yang diperoleh nilai Peak Particle Velocity ≤ 1,5 mm/s menurut U.S Bureau Of Mines dengan isian bahan peledak maksimum 244,14 kg dimana nilai k = 698.54 dan β = -1.47, menurut Ambraseys-Hendorn dimana nilai k = 5787.19 dan β = -1.609 denagn isian bahan peledak maskimum 207,17 kg , sedangkan menurut Langefors Kihlstrom nilai k dan β yang dieproleh 101.46 dan 1.75 dengan isian bahan peledak maksimum 221.28 kg. Rumusan prediksi ini cukup baik dan dapat digunakan sebagai acuan prediksi getaran tanah agar dampak dari kegiatan peledakan terhadap lingkungan sekitar aman. Kata Kunci: Peledakan, Getaran Tanah, Peak Particle Velocity, Regresi Power
Yuga Maulana, Ganda Marihot Simangunsong, Tri Karian
Jurnal GEOSAPTA, Volume 7, pp 47-54; doi:10.20527/jg.v7i1.9353

Abstract:
The blasting method is one of the best hard rock excavation methods in mining activities. This method has negative impacts, one of which is the vibrations generated by the residual energy of the explosion. This impact will affect the environment around the blasting area, both slope stability, tunnels, infrastructure, and human settlements if it is close to the blasting site. Therefore, it needs initial planning and prediction to anticipate the blasting vibration that occurs. In general, the blast vibration can be predicted using the scale distance method which uses two parameters, namely the maximum amount of explosive material per time delay and the distance of measurement from the location of the explosion. This method has been widely researched to produce several empirical equations from each explosion location studied. However, as technology develops, several studies have tried to use artificial intelligence technology, one of which is the artificial neural network algorithm as a new approach for predicting detonation vibrations. In this method, the development of the parameters used in predicting the weighting of the most influential parameters from the formation of detonation vibrations can be carried out. This study will review several studies related to the use of artificial neural networks in predicting blasting vibrations in the studies that have been carried out and also compare with prediction methods using several empirical equations.
Yuniar Siska Novianti, Muhammad Reza, Evi Fatmawati, Rully Ramanda
Jurnal GEOSAPTA, Volume 7, pp 43-46; doi:10.20527/jg.v7i1.10115

Abstract:
Karakterisasi batuan penutup/overburden diperlukan untuk mengetahui penggolongan batuan berpotensi membentuk asam atau tidak sehingga dapat memperediksi potensi pembentukan air asam tambang pada kegiatan penaambangan. Salah satu bentuk karakterisasi batuan tersebut adalah dengan melakukan uji kinetik ynag berupa free draining column leach test (FDCL), tujuan pengujian FDCL ini adalah untuk mengetahui reaktivitas mineral sulfida, oksidasi dan kualitas air lindian. Dalam pengujian FDCL ini sampel diberikan berdasarkan persentasi material PAF dan NAF yaitu, kombinasi pertama adalah 40:60, kombinasi pertama adalah 50:50 dan kombinasi ketiga adalah 60:40. Pengujian ini mengguanakan siklus basah-kering dan dilakukan selama 22 hari dalam siklus harian, dan melakukan pengujian air hasil lindian dengan parameter pH, TDS dan EC. Dari hasil pengujian didapatkan bahwa ketiga kombinasi untuk nilai TDS dan EC sudah menunjukkan korelasi yang positif karena berada didalam range nilai kualitas air normal sebesar 0.5, pH awal hasil uji statik untuk batuan PAF pada pengujian ini sebesar 2.31 dan pH untruk batuan NAFnya sebesar 6.49 sehingga untuk hasil lindian pada parameter pH hari pertama berada pada kisaran 3 - 3.5 kondisi ini pada ketiga kombinasi mengalami perubahan nilai pH menuju pH netral setiap waktunya, namun pada hari ke 22 kombinasi pertama dan ketiga mengalami penurunan hal ini besar kemungkinan reaktivitas mineral sulfida masih berlangsung dan laju pelapukan batuan juga masih berproses. Sehingga harapannya jika siklus penyiraman dilanjutkan untuk siklus mingguan dan bulanan proses reaktivitas minerl sulfida dan oksidasi dapat menunjukkan nilai yang konstan. Dan untuk kombinasi yang memiliki peningkatan nilai pH yang baik ditunjukkan pada kombinasi 2 dengan pH hari pertama air lindian sebesar 3.5 dan menjadi 4.7 pada hari keduapuluh dua pengujian. Keywords: PAF; NAF; Free draining column leach test
Agus Triantoro, Adip Mustofa, Aggraini Wahyu Saputri
Jurnal GEOSAPTA, Volume 7, pp 65-70; doi:10.20527/jg.v7i1.10235

Abstract:
Sisa hasil pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar pada PLTU menghasilkan limbah fly ash dan bottom ash dalam jumlah yang cukup banyak dan belum ada pemanfaatan dari limbah PLTU, jadi dikawatirkan dapat menimbulkan dampak yang berbahaya bagi lingkungan sekitar. Limbah yang banyak dimanfaatkan saat ini adalah fly ash, sedangkan untuk bottom ash masih minim pemanfaatannya. Biobriket campuran bottom ash batubara dan arang tempurung kelapa bisa menjadi alternatif bahan bakar baik digunakan untuk rumah tangga maupun industry kecil. Keunggulan yang dimiliki biobriket ini adalah murah dan ekonomis karena dapat untuk memproduksinya dapat dilakukan dengan sederhana dan mudah, panas yang dihasilkan nantinya juga cukup tinggi, serta bottom ash batubara yang tersedia cukup melimpah yang berasal dari beberapa PLTU yang ada di Kalimantan Selatan. Arang tempurung kelapa berasal dari hasil dari pengolahan tempurung kelapa yang di proses menjadi arang dan potensi tempurung kelapa di Kalimantan Selatan cukup banyak. Serbuk kayu merupakan sisa olahan dari kayu yang dibuat bahan bangunan atau mebel. Beberapa hal yang menjadi permasalahan dalam pemanfaatan biobriket bottom ash adalah adanya bau yang kurang enak saat pembakaran, proses penyalaan yang lama serta ketahanan briket yang masih kurang sehingga mudah pecah. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil kualitas biobriket terbaik yang berasal dari bottom ash yang dicampur bersama serbuk kayu dan arang tempurung kelapa, yang didasarkan pada ukuran partikel serta komposisi biobriket. Metode yang digunakan yaitu dengan melakukan uji analisa yang dilakukan di laboratorium. Parameter kualitas uji yang digunakan yaitu kandungan moisture, kandungan volatile matter, kandungan ash, calorific value, uji pembakaran dengan yang dilihat dari komposisi biobriket dan variasi ukuran partikel. Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan biobriket terbaik terdapat pada ukuran partikel 80 mesh dengan kandungan bottom ash 40%, arang tempurung kelapa 20%, serbuk kayu 20% perekat 15% serta persentase kapur 5% dengan hasil analisa parameter kualitas untuk kandungan inherent moisturenya adalah 5,77%, kandungan Ash 10,74%, Volatile Matter 42,77%, Kalori 6.624,56 Kkal/kg serta waktu pembakaran yang dibutuhkan adalah 247 detik Kata kunci : Bottom ash, Biobriket, arang, Serbuk kayu
Haslan Haslan, Djamaluddin Djamaluddin, Habibie Anwar, Abd. Salam Munir
Jurnal GEOSAPTA, Volume 7, pp 35-41; doi:10.20527/jg.v7i1.7802

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui kualitas batuan daerah penelitian berdasarkan klasifikasi Rock Mass Rating dari data yang ada di lapangan dan hasil pengujian laboratorium; (2) Menentukan jenis dan arah longsoran pada lereng berdasarkan proyeksi stereografis dari data scanline yang dilakukan di lokasi penelitian; (3) Menganalisis kondisi lereng berdasarkan klasifikasi Slope Mass Rating dari data Rock Mass Rating serta arah dan jenis longsoran; (4) Menentukan stabilitas lereng batupasir. Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu dapat memberikan pengetahuan tambahan kepada pembaca tentang kualitas batuan berdasarkan klasifikasi Rock Mass Rating, penentuan arah dan jenis longsoran berdasarkan proyeksi stereografis, analisis Slope Mass Rating, serta serta penetuan stabilitas lereng batupasir. Penelitian ini pula dapat memberikan kontribusi referensi dalam bidang geoteknik serta hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan pertimbangan bagi penelitian sejenis untuk selanjutnya. Metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah profiling yaitu mengukur geometri lereng; scan-line yaitu mengukur orientasi bidang diskontinuitas pada permukaan yang dianggap mewakili orientasi bidang bidang diskontinu secara keseluruhan; dan preparasi sampel batuan yang didapatkan dari lapangan akan dipotong sesuai dengan ukuran pengujian. Menentukan pembobotan Slope Mass Rating dibutuhkan klasifikasi batuan dengan menggunakan Rock Mass Rating, penentuan stabilitas lereng menggunakan software slide V6.0. Hasil penelitian menujukkan bahwa bobot total massa batuan pasir yang didapatkan menggunakaan pembobotan Rock Mass Rating adalah 46, berada pada kelas III dengan deskripsi batuan sedang. Terdapat dua potensi tipe longsoran berdasarkan hasil analisis proyeksi stereografis yaitu potensi longsoran baji dengan arah longsoran yaitu N30oE dan longsoran guling dengan arah longsoran N48oE. Bobot total massa yang didapatkan menggunakan pembobotan Slope Mass Rating untuk potensi longsoran baji yaitu 37 yang berada pada kelas II dan pada potensi longsoran guling yaitu 56,8 yang berada pada kelas III. Untuk stabilitas lereng memiliki nilai faktor keamanan 0,647 yang menunjukkan bahwa lereng tersebut tidak stabil. Kata kunci: kestabilan lereng, klasifikasi massa batuan, RQD, RMR, SMR
Ramses Yohannes Hutahaean, Marthina Mini, Rolling Swempry Gaspersz
Jurnal GEOSAPTA, Volume 7, pp 27-30; doi:10.20527/jg.v7i1.8844

Abstract:
Transfer Chute is one of the important components in the transportation of ore originating from open pit to the stock pile. Damage or leakage in the transfer chute when there is no over haul will result in down time so that it can cause production losses for 10 hours . Damage that often occurs in chute transfers occurs after production increases which causes the conveyor speed to change from 2 m / s to 4 m / s so that the initial design of the transfer chute is not suitable for conveyor speeds to 4 m / s, ore originating from conveyor 63 is not form a rock box on the transfer chute 63/72 but directly hit the liner on the transfer chute. In this paper presents two material discharge trajectory methods and expain the differences between them, and then we choose a method that approaches the actual condition. From the results of the trajectory analysis, we can determine new dimensions of transfer chute. Based on the modification of the chute transfer, the life time of the liner increased from 4 weeks to 6 months and there was never a "down time" due to an increase in the transfer chute 63/72.
Annisa Annisa, Karina Shella Putri, Wilda Putri Oktavianti
Jurnal GEOSAPTA, Volume 7, pp 61-63; doi:10.20527/jg.v7i1.10111

Abstract:
Maseral merupakan bahan organik penyusun batubara yang terbagi atas tiga grup, yaitu grup maseral vitrinit, liptinit dan inertinit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi maseral dan nilai reflektansi vitrinit pada batubara. Pengamatan mikroskopis yang dilakukan pada sampel batubara menggunakan metode analisis petrografi. Conto batubara diambil dari lapisan batubara O dan lapisan batubara P pada Formasi Warukin Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan. Sampling dilakukan pada seam batubara expose atau seam yang sudah dilakukan proses penambangan (coal getting), sampel dipreparasi untuk pembuatan sayatan poles. Berdasarkan hasil analisis petrografi jumlah komposisi grup maseral batubara untuk vitrinit pada lapisan batubara O bagian Roof 72,2%, bagian Body 68,8% dan bagian Floor 60,0%; liptinit bagian Roof 1,6 %, Body 2,2% dan Floor 0,6% sedangkan group maseral inertinit bagian Roof 21,2 %, Body 25,0% dan Floor 36,4%. Komposisi grup maseral batubara untuk vitrinit pada lapisan batubara P bagian Roof 72,8%, bagian Body 72,2% dan bagian Floor 66,2%; liptinit bagian Roof 1,4 %, Body 1,6% dan Floor 2,2% sedangkan group maseral inertinit bagian Roof 23,2 %, Body 21,0% dan Floor 30,4%. Hasil pengamatan ini memberikan informasi variasi maseral batubara seperti pada umumnya batubara Indonesia yang didominasi oleh grup maseral vitrinit. Hasil analisis terhadap reflektansi batubara menunjukkan hasil Rank Batubara Formasi Warukin Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan adalah Sub-Bituminus. Kata-kata kunci: maseral, vitrinit, liptinit, inertinit, reflektansi
Back to Top Top