CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Journal Information
ISSN / EISSN : 2338-9680 / 2614-509X
Published by: Universitas Muhammadiyah Mataram (10.31764)
Total articles ≅ 121
Filter:

Latest articles in this journal

Saryati Saryati, Abdul Sakban
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Volume 8, pp 139-147; doi:10.31764/civicus.v8i2.2980

Abstract:
Abstrak: Kepala sekolah memiliki dua fungsi pokok yaitu sebagai controlling dan evaluasi terhadap kinerja guru, siswa dan mutu sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi controlling dan evaluasi kepala sekolah terhadap kinerja Guru di SMPN 1 Lembar Lombok Barat. Penelitian merupakan penelitian kualitatif. Subjek penelitiannya adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan Guru kelas SMPN I Lembar Lombok Barat. Metode pengumpulan data yang digunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan disajikan kembali atau direduksi data kemudian ditarik kesimpulannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi controlling kepala sekolah yaitu melakukan pengawasan terhadap kedisplinan waktu, mengawasi guru yang sering absen sekolah, mengecek perangkat pemebelajaran, melihat cara guru membangun komunikasi dalam lingkungan sekolah, baik itu sesama guru maupun dengan siswa sarana dan prasarana sekolah. Karena dengan adanya sarana yang memadai mampu menunjang keberhasilan dalam melakukan pembelajaran. Untuk mengevaluasi kinerja guru, peran kepala sekolah mengacu pada prinsip evaluasi yaitu menilai kemampuan guru dalam menerapkan semua kompetensi dan keterampilan yang diperlukan pada proses pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Jadi kepala sekolah memiliki tugas untuk menilai kinerja baik buruknya bawahannya dan memiliki peran penting untuk meningkatkan mutu sekolah dengan mengevaluasi secara berkala. The principal has two main functions, namely controlling and evaluating the performance of teachers, students and school quality. The purpose of this study was to determine the controlling and evaluation functions of school principals on teacher performance in SMPN 1 Lembar West Lombok. This research is a qualitative research. The research subjects were the principal, vice principal, and class teachers of SMPN I Lembar West Lombok Data collection methods used observation, interviews, and documentation. The data obtained is then analyzed and restated or the data is reduced and conclusions are drawn. The results of this study indicate that the controlling function of the principal is to supervise time discipline, supervise teachers who are often absent from school, check learning devices, see how teachers build communication in the school environment, both with fellow teachers and with students of school facilities and infrastructure. Because with adequate facilities capable of supporting success in learning. To evaluate teacher performance, the role of the principal refers to the principle of evaluation, which is to assess the ability of teachers to apply all competencies and skills required in the learning process, mentoring, or the implementation of additional tasks relevant to the school / madrasah function. So the principal has a duty to assess the good and bad performance of his subordinates and has an important role in improving the quality of the school by evaluating it regularly.
Windi Baskoro Prihandoyo, Raden Sudarwo, Nining Suryani
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Volume 8, pp 68-74; doi:10.31764/civicus.v8i2.2867

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pola penggunaan media sosial WhatsApp dalam pemenuhan informasi mahasiswa Universitas Terbuka Mataram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei korelasional deskriptif. Hasil penelitian ini adalah: 1. Frekuensi dan waktu yang digunakan oleh responden dalam mencari informasi di komunitas WhatsApp tergolong tinggi. Jenis informasi yang paling banyak dicari oleh responden adalah tutorial dan nilai. Faktor kepemilikan TIK dan motif mencari informasi memiliki hubungan yang sangat nyata dengan pola penggunaan komunitas WhatsApp, sedangkan faktor jenis kelamin, umur, pekerjaan dan informasi yang paling banyak dicari tidak memiliki hubungan yang nyata. 2. Tingkat pemenuhan kebutuhan informasi mahasiswa melalui komunitas WhatsApp tergolong tinggi. Faktor pola penggunaan komunitas WhatsApp seperti jumlah hari kunjungan, jumlah kunjungan, dan jumlah waktu kuncungan memiliki hubungan yang sangat nyata dengan tingkat pemenuhan informasi mahasiswa.This study aims to identify and analyze pattern of the use of WhatsApp social media in fulfilling information of students of Mataram Open University. The method used in this research is a descriptive correlational survey. The results in this study: 1. The frequency and time spent by respondents in finding information in the WhatsApp community is high. The types of information most sought by respondents were tutorials and grades. ICT ownership factors and information seeking motives have a very real relationship with WhatsApp community usage patterns, while the sexes, age, occupations and information that are most sought after do not have a real relationship. 2. The level of fulfillment of student information needs through the WhatsApp community is high. Factor patterns of use of the WhatsApp community such as the number of visit days, the number of visits, and the amount of time the kuncungan has a very real relationship with the level of student information fulfillment.
Andhika Djalu Sembada, Danang Prasetyo
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Volume 8, pp 1-11; doi:10.31764/civicus.v8i2.2410

Abstract:
Aktualisasi Pancasila sebagai pandangan hidup dalam segala aspek kehidupan perlu untuk diwujudkan. Salah satu upaya mengaktualisasikan nilai nilai Pancasila dapat melalui bidang olah raga, dalam hal ini khususnya adalah sepak bola Indonesia. Tujuan yang penelitian ini ingin mengulas tentang aktualisasi Pancasila melalui olah raga sepak bola. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penentuan subjek penelitian mengunakan teknik sampel bertujuan (purposive sampling) yakni pelatih dan pemain. Sebagai pelengkap hasil penelitian, sumber data yang digunakan berasal dari hasil penelitian yang relevan dan berita di media massa. Hasil penelitian ini menunjukan adanya aktualisasi Pancasila melalui aktivitas sepak bola di lapangan saat pertandingan maupun di luar lapangan. Aktivitas yang dilakukan oleh pelatih, pemain, dan perangkat pertandingan telah menunjukan pengalaman nyata nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila. Melalui aktualisasi yang terdapat pada masing-masing sila Pancasila dapat memberikan sebuah pemahaman kembali mengenai arti pentingnya nilai-nilai pancasila itu sendiri. Sehingga sepak bola dapat dijadikan metode untuk pengembangan, pemahaman, dan pengamalan nilai-nilai Pancasila. The actualization of Pancasila as a view of life in all aspects of life needs to be realized. One of the efforts to actualize the values of Pancasila can be through the field of sports, in this particular case is Indonesian football. The purpose of this study is to review the actualization of Pancasila through soccer. This type of research is a descriptive study using a qualitative approach. Determination of research subjects using purposive sampling technique, namely coaches and players. As a complement to research results, the data sources used come from relevant research results and news in the mass media. The results of this study indicate the actualization of Pancasila through football activities on the field during matches and outside the field. Activities carried out by coaches, players, and match equipment have shown real experience of the values contained in the principles of Pancasila. Through the actualization contained in each Pancasila principle, it can provide a re-understanding of the importance of the values of Pancasila itself. So that football can be used as a method for developing, understanding and practicing the values of Pancasila.
Juri Saputra, Septha Suseka
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Volume 8, pp 24-31; doi:10.31764/civicus.v8i2.2766

Abstract:
Penelitian ini bertolak dari fenomena bahwa mulai lunturnya pelaksanaan pernikahan adat mata malam subsuku Dayak Sawe. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan peran tokoh adat dalam melestarikan pernikahan adat mata malam pada subsuku Dayak Sawe. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) makna yang terkandung dalam pernikahan adat mata malam, yaitu kerukunan, ketaatan, keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan,alam dan sesama. (2) kendala yang dihadapi tokoh adat, yaitu teknologi komunikasi, masuknya budaya luar, generasi muda lebih tertarik pada budaya modern, masuknya agama Kristen yang menekankan tentang iman daripada tradisi (3) upaya yang dilakukan, antara lain tokoh adat melibatkan anak usia muda dalam setiap kegiatan adat, memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa menikah secara adat sangat penting sebagai upaya menjaga kelestarian adat dan cinta akan adat.This research departs from the phenomenon that the start of the fading of the traditional marriage mata malam of the subsuku Dayak Sawe. The purpose of this study was to describe the role of traditional leaders in preserving the traditional marriage mata malam of the subsuku Dayak Sawe.This research uses a descriptive qualitative approach to the type of ethnographic study. Data collection techniques are done by observation, interview and documentation. Data analysis technique is done by data reduction, data presentation and conclusion drawing. The results showed that (1) the meaning contained in the traditional wedding of the night eye, namely harmony, obedience, the balance of human relations with God, nature and others, (2) the obstacles faced by traditional leaders, namely communication technology, the entry of foreign cultures, the younger generation being more interested in modern culture, the inclusion of Christianity which emphasizes faith rather than tradition (3) efforts are made, including traditional leaders involving young children in every customary activity, provides an understanding to the community that marrying in a customary manner is very important as an effort to preserve custom and love for adat.
Kamaluddin Ahmad, Aenul Hidayat
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Volume 8, pp 75-83; doi:10.31764/civicus.v8i2.2873

Abstract:
Rendahnya hasil belajar dipengaruhi oleh factor interen dan eksteren yang ada pada diri siswa, sisi lain pembelajaran PKn yang dinamis membutuhkan metode pembelajaran yang efektif yang bisa merubah tingkah laku dan prestasi belajar siswa. Tujuan dalam artikel ini untuk mengtahui upaya meningkatkan hasil belajar pendidikan PKn melalui pembelajaran learning community pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian research action class room. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapakan pembelajaran learning community dapat meningkatkan hasil belajar siswa sekolah dasar, dengan hasil tindakan pada siklus I ketuntasan belajar 56,76 % dan nilai rata-rata 69,83, dan pada siklus II mengalami peningkatan tetapi belum memenuhi indikator keberhasilan yaitu ketuntasan belajar 70,27% dengan nilai rata-rata 84,08. Siklus III mengalami peningkatan yang sangat siknifikat yaitu 89,20% dengan nilai rata-rata 84,08. Dengan demikian setiap sikus mengalami peningkatan yang signifikat dan memenuhi indikator keberhasilan (nilai klasikal) dari siklus sebelumnya. Low learning outcomes are influenced by internal and external factors that exist in students, on the other hand, dynamic Civics learning requires effective learning methods that can change student behavior and learning achievement. The purpose of this article is to determine the efforts to improve the learning outcomes of Civics education through learning community learning for elementary school students. This research is a research action class room. Based on the results of the research shows that by applying learning community learning can improve learning outcomes of elementary school students, with the results of action in cycle I learning completeness 56.76% and an average value of 69.83, and in cycle II has increased but has not met the indicators of success. namely mastery learning 70.27% with an average value of 84.08. Cycle III experienced a very significant increase, namely 89.20% with an average value of 84.08. Thus, each cycle experienced a significant increase and fulfilled the success indicator (classical value) from the previous cycle.
Florentina Juita, Mas`ad Mas`ad, Arif Arif
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Volume 8, pp 100-107; doi:10.31764/civicus.v8i2.2916

Abstract:
Kehidupan manusia tidak terlepas dari aspek ekonomi dimana kebutuhan itu selalu bertambah dari waktu ke waktu sesuai dengan tuntutan hidup manusia termasuk Pada Masa Pandemi COVID-19 Menyikapi kondisi ekonomi yang semakin tinggi maka yang berperan untuk mencari nafkah rumah tangga bukan saja laki-laki tetapi juga perempuan. Peneliatian ini bertujuan: untuk mengetahui peran perempuan pedagang sayur keliling dalam menopang ekonomi keluarga Pada Masa PandemiCOVID-19di kelurahan Pagesangan Kecamatan Mataram Kota Mataram, apa saja kendala yang dihadapi perempuan pedagang sayur keliling dalam menopang ekonomi keluarga Pada Masa Pandemi COVID-19 di kelurahan Pagesangan Kecamatan Mataram Kota Mataram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penentuan informan adalah purposive sampling. informan dalam penelitian ini adalah informan kunci dan informan biasa. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Jenis data kualitatif. Sumber data yaitu data primer dan data sekunder. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri. Metode analisa data yaitu, data reduction (data reduksi), data display (Penyajian Data), dan conclusion drawing/verification. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; perempuan pedagang sayur keliling selain aktif dalam melakukan pekerjaannya menjual sayur keliling mereka juga tidak meninggalkan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, dengan itu perempuan-permpuan pedagang ini mampu membantu menopang ekonomi keluarganya pada masa pandemi Covid-19, walaupun penghasilan di antara perempuan pedagang sayur ini berbeda-beda. Adapun kendala yang dihadapi perempuan pedagang sayur keliling diantaranya: terbatasnya modal usaha, tingkat persaingan, transportasi, faktor pendidikan dan faktor alam. Human life is inseparable from the economic aspect where the need always increases from time to time in accordance with the demands of human life, including during the COVID-19 Pandemic. . This research aims: to determine the role of women mobile vegetable traders in supporting the family economy during the Pandemic Covid-19 in Pagesangan, Mataram, Mataram City, what are the obstacles faced by women vegetable traders in supporting the family economy during the COVID-19 Pandemic in Pagesangan sub-district, District Mataram Mataram City. The method used in this research is descriptive method with a qualitative approach. The method of determining informants is purposive sampling. The informants in this study were key informants and regular informants. The data collection method used was the observation method, interview method and documentation method. Types of qualitative data. Data sources are primary data and secondary data. The instrument in this study is the researcher himself. Data analysis methods are data reduction, data display, and conclusion drawing / verification. The results showed that; Besides being active in doing their work to sell mobile vegetables, women who sell mobile vegetables do not abandon their obligations as housewives, with that these women traders are able to help support their family's economy during the Covid-19 pandemic, even though the income among these women vegetable traders is different. -different. The obstacles faced by women who are mobile vegetable traders include: limited business capital, level of competition, transportation, educational factors and natural factors.
Lalu Syamsul Hakim
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Volume 8, pp 32-38; doi:10.31764/civicus.v8i2.2821

Abstract:
Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penerapan metode tutor teman sebaya dalam meningkatkan prestasi belajar PKn siswa kelas X SMK Negeri 1 Praya. Metode penelitian menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas, subjek siswa kelas 3, pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi, analisis data pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian: 1) Rata-rata nilai pada kegiatan pratindakan adalah 60,67 dengan nilai tertinggi yaitu 80 dan nilai terendah 60. Siswa yang sudah mencapai KKM 75 berjumlah 5 siswa dan siswa yang belum tuntas berjumlah 32 siswa. 2) Rata-rata nilai pada penelitian siklus I adalah 73,9 dengan nilai tertinggi yaitu 85 dan nilai terendah yaitu 65. Siswa yang sudah mencapai KKM berjumlah 16 siswa dan siswa yang belum tuntas berjumlah 21 siswa. 3) Rata-rata nilai pada penelitian siklus II adalah 83,93 dengan nilai tertinggi yaitu 90 dan nilai terendah yaitu 70. Siswa yang sudah mencapai KKM berjumlah 32 siswa dan yang belum tuntas berjumlah 5 siswa. This research was conducted to determine the application of the peer tutor method in improving the Civics learning achievement of class X students of SMK Negeri 1 Praya. The research method used a classroom action research approach, the subject of grade 3 students, data collection using observation and documentation, data analysis with qualitative and quantitative descriptive approaches. Results of the study: 1) The average value of the pre-action activity was 60.67 with the highest score of 80 and the lowest score of 60. Students who have reached KKM 75 are 5 students and students who have not completed are 32 students. 2) The average value in the first cycle research was 73.9 with the highest score of 85 and the lowest score of 65. There were 16 students who had reached the KKM and 21 students who had not completed it. 3) The average value in the second cycle of research is 83.93 with the highest score of 90 and the lowest score of 70. Students who have reached the KKM are 32 students and those who have not completed are 5 students.
Hastangka Hastangka, Lestanta Budiman
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Volume 8, pp 148-154; doi:10.31764/civicus.v8i2.3017

Abstract:
Pembangunan suatu bangsa tidak lepas dari ideologi politik yang diletakkan. Ideologi politik ini dapat berpengaruh dalam mengarahkan dan membentuk paradigma pembangunan nasional. Di Indonesia, politik pembangunan nasional selalu dipengaruhi oleh ideologi dan politik penguasa. Penguasa pada setiap zaman atau periode pemerintahan memiliki dasar ideologis dan politik yang unik dan khas dalam menjalankan pemerintahannya. Studi tentang pembangunan selama ini memang tidak terlalu banyak membahas peran dan pengaruh ideologi dan politik di dalamnya. Studi pembangunan yang berkembang selama ini bergerak pada tiga arus utama yaitu ekonomi, lingkungan, dan tata ruang wilayah atau tata ruang kota. Pembahasan tentang paradigma pembangunan atau pengarusutamaan pembangunan merujuk pada dua posisi yaitu posisi global, dimana peran global mengarahkan paradigma pembangunan yang selama ini berkembang di bebagai negara negara di dunia. Kemajuan negara negara yang memiliki standar hidup dan ekonomi yang tinggi dapat mempengaruhi paradigma dan model pembangunan yang ada di seluruh kawasan atau benua. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menggali garis ideologi dan politik yang diletakkan oleh pemerintah dalam membangun gagasan pembangunan nasional yang berkeadilan sosial melalui konsepsi Nawacita dan Pancasila. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian menggunakan interpretasi, analisis kebijakan, dan korelasi. Data yang digunakan berupa buku teks, jurnal, laporan ilmiah, dan peraturan perundang undangan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperlihatkan relasi antara Nawacita, Pancasila dalam praktek ideologi politik pembangunan. The development of a nation is inseparable from the political ideology laid down. This political ideology can influence in directing and shaping the paradigm of national development. In Indonesia, the politics of national development has always been affected by the authorities' ideology and politics. The police in each era or period of government has a unique and unique ideological and political basis in carrying out their government. The study of development has not discussed too much the role and influence of ideology and politics in it. Development studies that have developed so far are engaged in three main currents: economy, environment, and regional or city spatial planning. The discussion of the development paradigm or the mainstreaming of development refers to two positions, namely the global situation, where the global role directs the development paradigm that has been developing in various countries in the world. Countries with high standards of living and economy can influence the development of paradigms and models that exist in all regions or continents. But a government that has not been fortunate or is still in the process of progressing towards the goals and objectives of the state tries to put its development paradigm on two legs. On the first foot, try to use the prescription of a global development paradigm. On the other hand, it uses the development paradigm, which is owned by the nation itself with the ideological and political lines laid by the authorities. In Indonesia, the idea of the ideology and politics of national development in the context of President Jokowi's administration spread an interesting ideological and political line, Nawacita. Nawacita is an ideal set forth in 9 agendas that are used as a reference and state ideological direction. This nawacita needs to be seen in the framework of national development. This study aims to describe and explore the government's ideological and political lines in building the idea of national development with social justice through the conception of Nawacita and Pancasila. The method used in this study uses a qualitative approach. Analysis of the data used in research uses interpretation, policy analysis, and correlation—the data used in the form of textbooks, journals, scientific reports, and legislation. This study's results are expected to show the relationship between Nawacita, Pancasila in the practice of political development ideology.
Siti Hasanah
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Volume 8, pp 119-126; doi:10.31764/civicus.v8i2.2933

Abstract:
Masalah sampah di Indonesia sangat kompleks, kondisi ini sebagai imbas prilaku masyarakat yang tidak sportif dalam membuang sampah. Insportifitas tersebut juga terjadi dalam lingkungan kampus, terbawa oleh civitas akademika sehingga lingkungan kampuspun tidak luput dari masalah sampah. Himbauan dan sosialisasi termasuk ketersediaan sarana dan prasarana penunjang yang belum terstandar, belum berhasil merubah prilaku civitas akademika untuk sportif membuang sampah dilingkungan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk memaksimalkan peran rektor dalam program zero waste yang dimplementasikan melalui pengadaan instrumen yuridis berupa peraturan rektor atau surat keputusan rektor, atau surat edaran rektor tentang sistem pengelolaan dan penanggulangan sampah di lingkungan kampus dalam rangka memutus mata rantai prilaku civitas akademika yang tidak sportif membuang sampah. Jenis penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan sosiologis hukum. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Hasil penelitian: 1) Peran rektor belum maksimal dalam program zero waste dilingkungan kampus di kota Mataram. 2) Tidak tersedianya instrumen yuridis sistem pengelolaan dan penanggulangan sampah di lingkungan kampus dan tidak tersedianya sarana dan prasarana penunjang yang sesuai standar Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang standar syarat kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.The problem of waste in Indonesia is very complex, this condition is the result of unsportsmanlike behavior of society in disposing of garbage. This encouragement also occurs in the campus environment, carried by the academic community so that the campus environment is not free from waste problems. Appeals and socialization, including the availability of supporting facilities and infrastructure that are not standardized, have not succeeded in changing the behavior of the academic community to be sporty in disposing of garbage in the campus environment. This study aims to maximize the role of the chancellor in the zero waste program which is implemented through the procurement of juridical instruments in the form of a rector's regulation or a rector's decree, or a rector's circular on waste management and management systems in the campus environment in order to break the chain of unsportsmanlike behavior of the academic community. trash. The type of research used is juridical empirical with a sociological legal approach. Methods of data collection using interviews, observation and documentation. Research results: 1) The role of the rector has not been maximal in the zero waste program in the campus environment in the city of Mataram. 2) Unavailability of juridical instruments for waste management and control systems in the campus environment and the unavailability of supporting facilities and infrastructure in accordance with the standards of the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 1405 / MENKES / SK / XI / 2002 concerning standard health requirements for Office and Industrial Work Environment.
Sri Rejeki, Hermawati Hermawati
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Volume 8, pp 91-99; doi:10.31764/civicus.v8i2.2900

Abstract:
Abstrak: Dalam adat istiadat masyarakat sasak terutama keturunan bangsawan khsususnya kaum perempuan, apabila ingin menikah dia harus mencari orang yang sebangsawannya, jika tidak maka harta warisan akan hangus, dan diberikan sanksi keluar dari golongan bangsawan. Sedangkan kalau laki-laki diperbolehkan menikah dengan masyarakat biasa ataupun masyarakat bangsawan. Tujuan dalam artikel ini menjelaskan prosesi adat merarik masyarakat bangsawan dengan masyarakat biasa di Desa Sengkerang Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini termasuk peneltian kualitatif. Subyek Penelitian yaitu Kepala Desa, Kepala Dusun, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda dan Masyarakat. Metode pengumpulan data yang dipakai yaitu teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan model interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prosesi merariq masyarakat bangsawan dan masyarakat biasa meliputi tiga tahapan yaitu: Pertama, adat sebelum akad berupa Midang, Midang merupakan kunjungan secara langsung dari pihak laki-laki ke pihak perempuan dalam rangka memperdalam hubungan sekaligus mengikat hubungan pertalian yang lebih mendalam dalam bentuk pernikahan. Kedua, adat dalam proses akad meliputi rangakaian kegiatan Merariq, Mesejati/sejati, Pemuput selabar/selabar, dan Nyongkol atau nyodol. Ketiga, adat setelah akad, setelah acara sorong doe atau nyongkol dan bales lampak nae (balas bekas kaki). In the customs of the Sasak people, especially the descendants of the aristocracy, especially women, if they want to get married they have to find someone who is an aristocrat, otherwise their inheritance will be forfeited and will be sanctioned to leave the aristocratic class. Meanwhile, men are allowed to marry into ordinary people or noble societies. The purpose of this article is to explain the traditional procession of drawing aristocratic communities with ordinary people in Sengkerang Village, Praya Timur District, Central Lombok Regency. This research includes qualitative research. Research subjects were village heads, hamlet heads, religious leaders, traditional leaders, youth and community leaders. The data collection methods used were observation, interview and documentation techniques. The data obtained will be analyzed with an interactive model. The results of this study indicate that the merariq procession of the aristocratic society and the common people includes three stages, namely: First, the custom before the contract in the form of Midang, Midang is a direct visit from the male side to the female side in order to deepen the relationship as well as to tie a deeper relationship. form of marriage. Second, customs in the contract process include a series of Merariq activities, true / true, Pemuput patience / patience, and Nyongkol or nyodol. Third, the customs after the contract, after the sorong doe or nagging and bales lampak nae (reply to the foot marks).
Back to Top Top