Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak

Journal Information
ISSN / EISSN : 2581-2076 / 2581-0472
Published by: Martabat : Jurnal Perempuan dan Anak (10.21274)
Total articles ≅ 88
Filter:

Latest articles in this journal

Dian Meiningtias
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 5; https://doi.org/10.21274/martabat.2021.5.2.459-487

Abstract:
Postgenderism is a social movement about understanding the balance between men, women and nature. The development of the times and technological advances has brought people to various conditions with various attitudes to life, including a new way of looking at humans regarding gender status. This is intended as a space for human potential by eliminating gender status biologically and psychologically because it is considered an arbitrary limitation space. Postgenderism faces the limitations of social constructionist views on gender and sexuality, as well as the possibility of gender transcendence through social and political means that can be resolved by means of technology. Maqashid Syariah is here to provide a bridge of thought in viewing discourses and phenomena that move with the times. This is as a role in providing a legal footing that is oriented to the benefit of the people. In order to provide a sharp analysis, this study uses a qualitative library research with the theory of Maqashid Syariah. The method used in this research is descriptive analytical by describing a problem, and qualitative analysis with reference to the literature and applicable legal provisions. So that through the research method used, the use of Sex Reassigment Surgery technology as a re-determination of gender status can be studied using the Maqashid Syariah theory which legally has benefits or brings new problems in its implementation in social life. Keywords: Maqashid Syariah Postgender, Sex Reassigment Surgery, Technology Abstrak: Postgenderisme adalah gerakan sosial tentang memahami keseimbangan antara laki-laki, perempuan dan alam. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi telah membawa manusia pada berbagai kondisi dengan berbagai sikap hidup, termasuk cara baru dalam memandang manusia mengenai status gender. Hal ini dimaksudkan sebagai ruang bagi potensi manusia dengan menghilangkan status gender secara biologis dan psikologis karena dianggap sebagai ruang pembatasan yang sewenang-wenang. Postgenderisme menghadapi batasan pandangan konstruksionis sosial tentang gender dan seksualitas, serta kemungkinan transendensi gender melalui sarana sosial dan politik yang dapat diselesaikan dengan sarana teknologi. Maqashid Syariah hadir untuk memberikan jembatan pemikiran dalam melihat wacana dan fenomena yang bergerak mengikuti perkembangan zaman. Hal ini sebagai perannya dalam memberikan pijakan hukum yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Guna memberikan analisis yang tajam, penelitian ini menggunakan penelitian library research bersifat kualitatif dengan teori Maqashid Syariah. Metode yang dipakai di dalam penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan memaparkan mengenai suatu permasalahan, dan analisa kualitatif dengan acuan literatur dan ketentuan hukum yang berlaku. Sehingga melalui metode penelitian yang digunakan tersebut, penggunaan teknologi Sex Reassigment Surgery sebagai penentuan ulang status gender dapat dikaji menggunakan teori Maqashid Syariah yang secara muatan hukum memiliki kebermanfaat ataupun membawa permasalahan baru dalam implementasinya di kehidupan sosial. Kata kunci: Maqashid Syariah Postgender, Sex Reassigment Surgery, Teknologi
Azka Al Azkiya, Iliana Patricia Vega, M. Iqbal, Zahra Nurul Fatimah, Utami Dyah Syafitri
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 5; https://doi.org/10.21274/martabat.2021.5.2.434-458

Abstract:
Gender equality is one of the goals in the Sustainable Development Goals. However, until now Indonesia is still having difficulties in achieving this goal. According to the United Nations Development Program (UNDP) data, Indonesia's Gender Inequality Index (GII) is ranked 107 out of 189 countries. In addition, according to The Global Gender Gap Index 2021 data by the World Economic Forum (WEF), Indonesia is ranked 105th out of 153 countries. This shows that Indonesia is still lagging behind in terms of gender equality. Therefore, this study aims to analyze the sentiments of Indonesian twitter netizens regarding gender equality in 2018-2021 and its accuracy. Data was collected from primary data, scraping twitter data with the keywords #kesetaraan and #gender in Indonesian. The method used is Lexicon-based Sentiment Analysis with AFINN-111 dictionary translated into Indonesian. The results obtained are that the percentage of positive sentiments tends to decrease from year to year except for 2021. On the contrary, the negative sentiments of Twitter tend to increase. This is due to controversial articles in RKUHP, RUU Cipta Kerja, Covid-19 pandemic, and the online gender-based violence. This shows that the gender equality in Indonesia is still minimal and needs to be improved. Keywords: AFINN-111, gender equality, lexicon-based sentiment analysis, text mining, twitter Abstrak: Kesetaraan gender termasuk tujuan pada Sustainable Development Goals. Namun hingga saat ini Indonesia masih kesulitan dalam mencapai tujuan tersebut. Menurut data United Nations Development Programme (UNDP), nilai Gender Inequality Index (GII) Indonesia menempati peringkat 107 dari 189 negara. Selain itu, menurut data The Global Gender Gap Index 2021 dari World Economic Forum (WEF), Indonesia menempati posisi ke-105 dari total 153 negara. Hal ini membuktikan gender di Indonesia masih belum setara. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sentiment netizen twitter Indonesia mengenai kesetaraan gender pada 2018-202i dan akurasinya. Data dikumpulkan dari data primer yaitu scraping data twitter dengan keyword #kesetaraangender dan #gender dalam Bahasa Indonesia. Metode yang digunakan adalah Lexicon-based Sentiment Analysis dengan bantuan kamus AFINN-111 yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia pada software python. Hasil yang diperoleh adalah persentase sentimen positif netizen twitter cenderung menurun dari tahun ke tahun kecuali 2021, sebaliknya sentimen negatif netizen twitter cenderung meningkat setiap tahun. Hal ini dikarenakan adanya pasal yang mengandung kontroversi pada Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP), RUU Cipta Kerja, adanya pandemi Covid-19, dan maraknya kekerasan berbasis gender online. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesetaraan gender di Indonesia masih minim dan perlu untuk ditingkatkan kedepannya. Kata kunci: AFINN-111, kesetaraan gender, lexicon-based sentiment analysis, text mining, twitter
Shintya Giri Ramadhaniati, Shary Charlotte Henriette Pattipeilhy, Tri Cahya Utama
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 5; https://doi.org/10.21274/martabat.2021.5.2.400-433

Abstract:
Gender inequality is a problem faced throughout the world, including in Indonesia, where the patriarchal system causes women to often get injustice from various sectors, especially the work sector. In 2014, UN Women initiated the formation of HeForShe by making men as agents of change so that women can live equally without discrimination. This research then aims to see why the HeForShe organization involves men in efforts to address gender inequality in Indonesia. This research also uses qualitative methods with various data sources from the HeForShe organization, the Government of Indonesia and the Ministry of PPPA. The theory used is Liberal Feminists with the concept of men as privileged allies. The results of this study indicate that men as privileged allies in the struggle for the rights of women workers in Indonesia. The support provided by Indonesian men currently varies from learning about gender equality to building movements to support the elimination of violence against women. It is through this contribution that women's voices will be heard and gender equality actions will be better realized. Keywords: Indonesia, Gender Inequality, HeForShe, Privileged Allies, Equality, Rights of Women Workers Abstrak: Ketidaksetaraan gender merupakan permasalahan yang dihadapi di seluruh dunia termasuk di Indonesia dimana sistem patriarki menyebabkan wanita seringkali mendapatkan ketidakadilan dari berbagai sektor terutama sektor pekerjaan. Pada tahun 2014, UN Women menginisiasikan terbentuknya HeForShe dengan menjadikan pria sebagai agen perubahan agar wanita bisa hidup setara tanpa diskriminasi. Penelitian ini kemudian bertujuan untuk melihat mengapa organisasi HeForShe melibatkan pria dalam upaya penanganan ketidaksetaraan gender di Indonesia. Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif dengan berbagai sumber data dari organisasi HeForShe, Pemerintah Indonesia serta KemenPPPA. Teori yang digunakan adalah Feminis Liberal dengan konsep pria sebagai privileged allies. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pria berperan sebagai privileged allies dalam perjuangan hak pekerja wanita di Indonesia. Dukungan yang diberikan pria Indonesia saat ini sangat beragam mulai dari mempelajari mengenai kesetaraan gender sampai membangun gerakan untuk mendukung penghapusan kekerasan terhadap wanita. Melalui kontribusi inilah suara wanita akan lebih didengar dan kesetaraan gender akan terwujud dengan lebih baik. Kata Kunci: Indonesia, Ketidaksetaraan Gender, HeForShe, Privileged Allies, Kesetaraan, Hak Pekerja Wanita.
Hana Berliani Adiningsih, Zainal Abidin
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 5; https://doi.org/10.21274/martabat.2021.5.2.240-263

Abstract:
The spiking exposure of traumatic events faced by workers and volunteers in handling violence against women has the potential to lead to compassion fatigue. This research sought to describe the experience and protective factors of compassion fatigue in Complaint and Referral Unit volunteers who provide services to female victims of violence in Komnas Perempuan. A total of 3 respondents participated in this study through online interview. Thematic analysis is performed to analyze the data. The result suggested that the participants had compassion fatigue symptoms, which included burnout and secondary traumatic stress symptoms. The experience of burnout included physical and emotional exhaustion as well as guilt and helplessness. Whereas secondary traumatic stress was expressed in preoccupation of thoughts about victim’s violence case and projection in personal relationships. Nevertheless, these symptoms had been resolved due to protective factors such as personal characteristics (educational background and self-care) and social support (personal and professional support from the organization). This study added to our knowledge on how to create supportive system for volunters who provide services for victims of violence against women.
Dini Arfiani
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 5; https://doi.org/10.21274/martabat.2021.5.2.337-360

Abstract:
Documentary films are one of the most suitable media to be used as a reference in seeing reality. Like the reality of subordination and women's point of view in The Mahuzes. In general, this film tells the story of the conflict that occurred between the Malind clan Mahuze in Merauke and corporations that entered their territory through the Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) program, besides that there were horizontal conflicts between tribal members. This study aims to analyze the form of subordination and women's point of view seeing the problems of indigenous peoples dealing with corporations which are shown by the documentary film The Mahuzes in the perspective of Feminist Standpoint Theory. This study uses a qualitative approach and a critical paradigm by collecting data from various relevant sources. Events involving or relating to women were analyzed using three basic concepts of Feminist Standpoint Theory, namely standpoint, situated knowledge, and sexual division of labour. The results of the study indicate that women in The Mahuzes are a marginalized group, forced to take responsibility for the domestic space, and are limited to take part in the public sphere. Even so, they have a broad and comprehensive perspective in viewing horizontal conflicts between clan members and vertically between clans and corporations. Keywords: Subordinate; Feminist Standpoint; MIFEE; The Mahuze Abstrak: Film dokumenter menjadi salah satu media yang paling sesuai untuk dijadikan sebagai rujukan dalam melihat realitas. Seperti realitas subordinasi dan sudut pandang perempuan dalam The Mahuzes. Film ini, secara garis besar berkisah tentang konflik yang terjadi antara suku Malind marga Mahuze di Merauke dengan korporasi yang masuk ke wilayah mereka melalui program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE), selain itu terdapat konflik horizontal antar anggota suku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk subordinasi dan sudut pandang perempuan melihat permasalahan masyarakat adat berhadapan dengan korporasi yang ditampilkan oleh film dokumenter The Mahuzes dalam perspektif Feminist Standpoint Theory. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan paradigma kritis dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber yang relevan. Agedan-agedan yang melibatkan atau berkaitan dengan perempuan dianalisis dengan menggunakan tiga konsep dasar Feminist Standpoint Theory, yaitu standpoint, situated knowledge, dan sexual division of labour. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perempuan dalam The Mahuzes merupakan kelompok yang terpinggirkan, dipaksa untuk bertanggung jawab pada ruang domestik, dan terbatas untuk berkiprah di ruang publik. Meskipun begitu, mereka memiliki sudut pandang yang luas dan menyeluruh dalam melihat konflik horizontal antar anggota marga maupun vertikal antara marga dan korporasi. Kata kunci: Subordinasi; Feminist Standpoint; MIFEE; The Mahuze
Indira Sukmariana, Logan Gunadi Wirawan, Hanna Tsabitah, Freishya Manayra Arya
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 5; https://doi.org/10.21274/martabat.2021.5.2.361-376

Abstract:
Various drastic and sudden changes caused by the COVID-19 pandemic have an impact on economic and social implications that affect various aspects of life, including life in the family. Increased social tensions arise in line with economic imbalances and self-isolation as a result of the pandemic, so that it has the potential to create ideal conditions involving Domestic Violence (KDRT) against children by parents. This study sought to monitor this potential by using a survey-based study to determine the relationship between parental experience (n=150) with increased social tension and risky behavior patterns towards children. The results obtained will be analyzed contextually with existing research, namely regarding the factors of Domestic Violence (KDRT) against children. The results obtained indicate a relationship between social tension and risky behavior of parents towards their children. Keywords: Pandemic, domestic violence, social tension Berbagai perubahan drastis dan mendadak yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 berdampak pada implikasi ekonomi dan sosial yang mempengaruhi beragam aspek kehidupan, termasuk kehidupan dalam keluarga. Peningkatan ketegangan sosial muncul sejalan dengan adanya ketidakseimbangan ekonomi dan isolasi diri yang merupakan dampak dari pandemi, sehingga berpotensi untuk menciptakan kondisi ideal yang melibatkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap anak oleh orang tua. Penelitian ini berusaha mengawasi potensi terjadinya hal tersebut dengan menggunakan studi berbasis survei untuk menentukan hubungan antara pengalaman orang tua (n=150) dengan peningkatan ketegangan sosial dan pola perilaku beresiko terhadap anak. Hasil yang didapatkan akan dianalisis secara kontekstual dengan penelitian yang telah ada, yaitu mengenai faktor-faktor Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap anak. Hasil temuan yang didapatkan menunjukkan adanya hubungan antara ketegangan sosial dan perilaku berisiko orang tua terhadap anak. Kata Kunci: Pandemi, KDRT, ketegangan sosial
Elly Malihah, Siti Komariah, Wilodati Wilodati, Rengga Akbar Munggaran, Lingga Utami, Arindini Rizkia, Yazied Taqiyuddin Ahmad
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 5; https://doi.org/10.21274/martabat.2021.5.2.310-336

Abstract:
The increasing issue of gender responsiveness to women's burdens as a result of COVID-19 has become the background for the implementation of women-based community empowerment under the name "Patali Gumbira". The implementation of women's empowerment "Patali Gumbira" has become one of the issues to prepare women in adapting to the new habits of COVID-19. To build women's resilience based on social capital, their knowledge, experience, and aspirations in responding to the impact of COVID-19. In this study, the Feminist Participatory Action Research (FPAR) approach was used, which made women the center for critical, independent, and creative thinking. The findings in this study indicate that the empowerment of "Patali Gumbira" is a form of means of women's social resilience through a structured framework of education, advocacy, and economic systems utilizing social networks, one of which is strengthening the organization of PKK women in the village public sphere. This strengthening effort is driven by the inclusion of various training including 1) strengthening women's motivation in facing adaptation to new habits due to COVID-19; 2) strengthening women's leadership in an effort to build their potential capabilities; 3) advocacy in the prevention and handling of cases of violence against women, and 4) hairdressing soft skills training as an opportunity for women's business services on an ongoing basis. Efforts to overcome social impacts during the COVID-19 pandemic are strengthening women's resilience and becoming confident in building a sense of belonging. Keywords: Covid 19, Social Capital, Social Resilience, Women Empowerment Abstrak: Meningkatnya isu responsif gender terhadap beban perempuan sebagai dampak COVID-19, menjadi latar belakang terselenggaranya pemberdayaan masyarakat berbasis perempuan dengan nama “Patali Gumbira”. Pelaksanaan pemberdayaan perempuan “Patali Gumbira” ini menjadi salah satu isu mempersiapkan perempuan dalam adaptasi kebiasaan baru COVID-19. Dalam upaya membangun resiliensi perempuan tersebut berdasarkan modal sosial pengetahuan, pengalaman, dan aspirasi mereka dalam menyikapi dampak COVID-19. Pada penelitian ini digunakan pendekatan Feminist Participatory Action Research (FPAR), yang menjadikan perempuan sebagai sentral untuk befikir kritis, mandiri serta kreatif. Temuan dalam kajian ini menunjukkan bahwa, pemberdayaan “Patali Gumbira” menjadi bentuk sarana resiliensi sosial Perempuan melalui kerangka sistem edukasi, advokasi dan ekonomi yang terstruktur memanfaatkan jejaring sosial salah satuanya penguatan organisasi Ibu-ibu PKK di ranah publik desa. Upaya penguatan ini didorong dengan termuatnya berbagai pelatihan diantaranya: 1) penguatan motivasi perempuan dalam menghadapi adaptasi kebiasaan baru akibat COVID-19; 2) penguatan kepemimpinan perempuan dalam upaya membangun kemampuan potensinya; 3) advokasi dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan, dan 4) pelatihan softskill tata rambut sebagai peluang jasa usaha perempuan secara berkelanjutan. Upaya mengatasi dampak sosial di masa pandemi COVID-19 menjadi penguatan resiliensi para perempuan dan menjadi keyakinan dalam membangun rasa memiliki. Kata kunci: Covid 19, Modal Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Resiliensi sosial
Agung Pangeran Bungsu
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 5; https://doi.org/10.21274/martabat.2021.5.2.264-288

Abstract:
The increasing violence against women makes the issue of gender will continue to be interesting to study. The forms of violence committed against women are also increasingly diverse, one of which is non-physical violence through the news media. Women are often treated unfairly and even harassed their dignity in news discourse. This paper will describe the styles of two media that are quite popular in Indonesia, namely Detik.com and Media Indonesia in constructing news about the hot video of artist Gisella Anastasia. Then the discourse construction will be analyzed using Sara Mills' critical discourse analysis. Sara Mills' critical discourse analysis will analyze the discourse building holistically which includes the position of the subject-object and also the position of the writer-reader in the news. The results of the study reveal that the position of the subject and the author is dominated by men to convince the public that women are the cause of the hot video case. The tendentious narratives aimed at women by the two media in constructing discourse further exacerbate the framing inherent in women. Keywords: Gisella Anastasia, Sara Mills Critical Discourse Analysis, Sara Mills Critical Discourse Analysis Abstrak: Meningkatknya kekerasan pada perempuan membuat isu tentang gender akan terus menarik untuk dikaji. Bentuk kekerasan yang dilakukan pada perempuan juga semakin beragam, salah satunya kekerasan non fisik lewat media pemberitaan. Perempuan kerap diperlakukan tidak adil bahkan dilecehkan martabatnya dalam pewacanaan berita. Tulisan ini akan menguraikan gaya dua media yang cukup populer di Indonesia yaitu Detik.com dan Media Indonesia dalam mengkonstruksikan berita tentang video panas artis Gisella Anastasia. Kemudian konstruksi wacana akan dianalisa dengan menggunakan analisis wacana kritis Sara Mills. Analisis wacana kritis Sara Mills akan menganalisa bangunan wacana secara holistik yang meliputi posisi subjek-objek dan juga posisi penulis-pembaca dalam pemberitaan. Hasil penelitian mengungkapkan posisi subjek maupun penulis dikuasai oleh laki-laki untuk meyakinkan publik bahwa perempuan sebagai penyebab terjadinya kasus video panas. Narasi tendensius yang ditujukan bagi perempuan oleh kedua media dalam mengkonstruksikan wacana semakin memperburuk framing yang melekat pada perempuan. Kata Kunci: Gisella Anastasia, Analisis Wacana Kritis Sara Mills, Critical Discourse Analysis Sara Mills
Safiruddin Al Baqi
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 5; https://doi.org/10.21274/martabat.2021.5.2.289-309

Abstract:
Gender identity typically aware at the age of two and will strengthen until about five years old. It is important for parents and teacher of early childhood education to provide knowledge and strengthen children's gender identity so that their gender identity develops according to their gender. Teachers in schools play an important role in strengthening gender identity. Unfortunately, today's society is not much aware of the importance of it and teachers of early childhood education are still considered as women's professions. This article aims to explain the importance of the presence of male teachers on the strengthen of gender identity in early childhood students. This study used a literature review method with thematic analysis techniques. The results of the research analysis showed that society still gives a stigma that early childhood teachers must be women because they have more patience and so on. It creates a sense of prestige and shame for men to become early childhood teachers. On the other hand, male teachers are very much needed at the early childhood education level because male teachers have a role that cannot be replaced by female teachers, especially in the formation and strengthening of gender identity for male students, including providing challenging games for male students, giving examples of assertive behavior, and other attributes that show male gender roles in front of male students. Keywords: Early childhood education, gender identity, male student, male teacher. Abstrak: Identitas gender mulai terbentuk pada usia dua tahun dan akan menguat sampai sekitar usia lima tahun. Penting bagi orang tua dan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk memberikan pengetahuan dan penguatan tentang identitas gender anak agar identititas gendernya berkembang sesuai dengan jenis kelamin yang dimiliki. Guru di sekolah memberikan pengaruh penting bagi penguatan identitas gender. Namun sayangnya masyarakat saat ini belum banyak yang menyadari pentingnya hal itu dan guru PAUD masih di anggap sebagai profesi perempuan. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan pentingnya keberadaan guru laki-laki terhadap pembentukan identitas gender pada siswa PAUD. Penelitian ini menggunakan metode literature review atau studi pustaka dengan teknik analisis tematik. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa masyarakat masih memberikan stigma bahwa guru PAUD haruslah perempuan karena memiliki kesabaran lebih dan lain-lain. Hal ini memunculkan rasa gengsi dan malu bagi laki-laki untuk menjadi guru PAUD. Di sisi lain, guru laki-laki sangatlah diperlukan di tingkat pendidikan anak usia dini karena guru laki-laki memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh guru perempuan khususnya dalam pembentukan dan penguatan identitas gender bagi siswa laki-laki, diantaranya pemberian permainan yang menantang bagi anak laki-laki, pemberian contoh perilaku tegas, serta atribut lain yang menunjukkan peran gender laki-laki dihadapan siswa laki-laki. Kata kunci: Identitas gender, guru laki-laki, PAUD, siswa laki-laki.
Sukma Ari Ragil Putri, Ahmad Fahrudin
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 5; https://doi.org/10.21274/martabat.2021.5.2.377-399

Abstract:
Social distancing are a form of policy that made by the government in order to prevent the spread of the COVID-19 virus. This method, that was made by Indonesian government has implications for the method of working in the pandemic era, namely working from home. The application of social distancing then causes an increase in household activities that increase women's responsibilities in parenting and household work. Through the concept of symbolic violence, this article tries to explain the impact of social distancing restrictions on working women. This article finds that symbolic violence occurs through habitus that shapes women's mindsets so that they feel that caregiving and household work are women's responsibilities. This article also finds various gender inequalities that are increasingly visible with the social distancing restrictions that implemented by Indonesian governement. Keywords: Gender; pandemic; symbolic violence Abstrak: Pembatasan jarak sosial menjadi salah satu kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah persebaran COVID-19. Metode ini dijalankan di Indonesia yang berimplikasi pada metode bekerja era pandemi yaitu work from home atau bekerja dari rumah. Penerapan social distancing kemudian menyebabkan bertambahkan kegiatan rumah tangga yang memperbesar tanggung jawab perempuan dalam kerja pengasuhan dan kerja rumah tangga. Melalui konsep kekerasan simbolik artikel ini mencoba memaparkan dampak dari pembatasan jarak sosial pada perempuan bekerja. Artikel ini menemukan bahwa kekerasan simbolik terjadi melalui habitus yang menyusun pola pikir perempuan sehingga merasa kerja pengasuhan dan kerja rumah tangga merupakan tanggung jawab perempuan. Artikel ini juga menemukan berbagai ketimpangan gender yang semakin terlihat dengan adanya pembatasan jarak sosial yang dilakukan di Indonesia. Kata kunci: Gender; kekerasan simbolik; pandemi
Back to Top Top