Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak

Journal Information
ISSN / EISSN : 2581-2076 / 2581-0472
Current Publisher: IAIN Tulungagung (10.21274)
Total articles ≅ 53
Filter:

Latest articles in this journal

Noer Aziza
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 4; doi:10.21274/martabat.2020.4.2.251-266

Abstract:
The role of mothers in the family environment plays a quite dominant role in terms of children's education that makes a mother hold high responsibility in the progress of a nation. Therefore, a mother is required to have high self-quality to be able to educate future generations. But in reality in Indonesia there are still many quality mothers who still do not meet the needs and eligibility as a teacher in a household. For this reason, this study wants to find the level of quality of children's education from the role of a mother by conducting a study of the data obtained and found solutions to improve the quality of the mother. The results of this study indicate that with some actions will provide a positive thing for the quality and role of mothers in realizing the future of the nation through the future of a child as the successor generation of his nation.
Miranti Dian Laksmono
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 4; doi:10.21274/martabat.2020.4.2.239-250

Abstract:
This paper discusses various factors behind the ethnic Tamil women who decided to join the terrorist militia group, Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE), in the northern and southeastern parts of Sri Lanka. In this discussion it is known that there are three factors that affect the decision of Tamil women ​​to join the LTTE, namely: first, the existence of the Tamil community as an ethnic minority. Second, the occurrence of mass sexual violence and abuse among Tamil women, perpetuated by the Sri Lanka’s majority ethnic group. Finally, the decision of Tamil women to join LTTE is due to the pressure that structurally and culturally appears in communities in conflictual areas. Through these three factors, Tamil women ​​then chose to leave their comfort zone and reconstructed their identity by joining the LTTE terrorist militia group. In this case, the involvement of female LTTE combatants in Sri Lanka is not only an attempt to eradicate negative views regarding femininity through military activities, but also a symbol of successful self-liberalization from the practice of gender oppression in conflict situations
Chusnul Chotimah
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 4; doi:10.21274/martabat.2020.4.2.195-218

Abstract:
Asumsi secara umum menyatakan bahwa manajemen jika diterapkan dengan kebijakan segregasi gender maka akan menjadi bias atau mengalami ketimpangan. Apalagi jika diterapkan di lembaga pendidikan. Hal ini dikhawatirkan terjadi diskriminasi gender dalam dunia pendidikan yang bertentangan dengan UU No. 7 tahun 1984 terkait penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW), UU No. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) peningkatan kualitas perempuan, dan juga bertentangan dengan konsep Islam itu sendiri yang tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan kecuali tingkat ketaqwaan. Namun faktanya asumsi negative tersebut tidaklah sepenuhnya terbukti. Faktanya, MA Darul Hikmah sebagai lembaga pendidikan Islam berbasis pondok pesantren yang menerapkan segregasi gender tetap menjadi rujukan masysarakat. Argumentasi apa yang menjadi alasan para orang tua? Bagaimana pelaksanaan manajemen segregasi gender tersebut, dan bagaimana implikasinya?, itulah yang menjadi kajian artikel ini. Berbekal dengan penggalian data di lapangan melalui wawancara dengan kiai, pengasuh, ustadz, peserta didik (santri), dan orang tua, didukung dokumentasi dan observasi yang telah dianalisis dengan teori Milles and Hubberman, didapatkan hasil sebagai berikut: 1) Alasan penerapan manajemen peserta didik berbasis segregasi gender adalah menjaga tradisi pewarisan pesantren, penegakkan doktrin agama, dan optimalisasi peran dan prestasi peserta didik; 2) Pelaksanaan segregasi gender bukanlah dalam kerangka diskriminasi pendidikan antara laki-laki dan perempuan, bukan menjadi penghambat pelaksanaan pembelajaran, tetapi justru dapat memunculkan kreatifitas manakala secara substansi peserta didik diberi hak, akses, peran, dan partisipasi yang sama (ballancing management). Kebijakan ballancing gender menjadi pendorong manajemen responsif gender; 3) Dengan segregasi gender justru mampu memberikan value kepada peserta didik dalam hal pembentukan karaktek dan mencegah pergaulan bebas sebagai implikasi positif. Sementara implikasi negatif mengarah pada interaksi canggung dengan lawan jenis dan menurunnya motivasi dalam belajar.
Yuliana Jetia Moon
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 4; doi:10.21274/martabat.2020.4.2.301-324

Abstract:
Penelitian ini dibangun dengan pertanyaan mendasar, “Apakah benar masyarakat patrilineal di NTT zaman dahulu telah membangun mindset bahwa perempuan ditakdirkan harus berkarakter feminim di dalam dirinya?” Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbandingan karakter maskulin dan karakter feminim pada tokoh perempuan di dalam dongeng-dongeng daerah NTT. Teknik penyediaan data ditempuh peneliti melalui studi pustaka. Analisis data meliputi tahap membaca, mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menginterpretasi, dan menyajikan hasil analisis data. Sumber data penelitian ini adalah dongeng-dongeng daerah NTT yang secara dominan menempatkan tokoh perempuan di dalam cerita. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengelompokan karakter maskulin dan feminim yang ditampilkan di dalam dongeng sangat bias. Garis identifikasi karakter yang harus ada pada laki-laki dan karakter yang harus ada pada perempuan bersifat luas atau tidak ketat. Data-data dalam dongeng yang menujukkan karakter maskulin pada tokoh perempuan sebanyak 69%, sedangkan data yang menunjukkan karakter feminim sebanyak 31%. Berdasarkan pada hasil analisis dapat disimpulkan bahwa perempuan, di dalam dongeng-dongeng NTT, digambarkan memiliki sisi maskulinitas. Dalam banyak hal, tokoh perempuan digambarkan memiliki kesamaan ciri dengan laki-laki, seperti berprestasi, memiliki relasi, independen, memiliki keberanian, dan menolak penindasan.
Sitti Muthia Maghfirah Massinai
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 4; doi:10.21274/martabat.2020.4.2.267-282

Abstract:
Remaja memiliki tugas perkembangan yaitu bergaul dengan teman sebaya, mencari identitas diri, dan eksplorasi lingkungan. Meskipun demikian, masih banyak remaja yang memutuskan untuk menikah di usia yang masih belia. Sementara, menjalin hubungan intimasi dengan lawan jenis merupakan tugas perkembangan masa dewasa awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna pernikahan bagi wanita yang menikah di usia < 19 tahun. Partisipan penelitian adalah tiga wanita yang menikah di usia < 19 tahun, telah memiliki anak, dan berdomisili di Kota Makassar bersama suaminya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data penelitian diperoleh menggunakan interview semi-terstruktur dan diolah menggunakan analisis data Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan: a) Perasaan saling suka merupakan hal mendasar yang melatarbelakangi remaja menikah dini; b) Kesiapan pernikahan ditandai dengan durasi pacaran yang lama dan belief akan proses lamaran; c) Perubahan yang terjadi sebelum dan setelah menikah menimbulkan berbagai jenis emosi. Terlebih pada perubahan pada pergaulan dengan teman sebaya memunculkan emosi negatif; d) Coping strategy yang kurang tepat membuat masalah yang terjadi dalam kehidupan pernikahan tidak terselesaikan dengan baik; serta e) Aspek spritual memainkan peranan besar dalam membentuk komitmen pernikahan.
Uswatun Hasanah, Annas Ribab Sibilana, Nurhidayati Nurhidayati
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 4; doi:10.21274/martabat.2020.4.2.283-300

Abstract:
The curriculum is the most important element in the educational process. The curriculum is constantly changing in order to find the perfect formula to improve the quality of education. The change is not only caused by the development of science and technology, but social aspects or even a disaster can also be the factors for changing curriculum. Such as non-natural disasters, which have attacked Indonesia since March 2020, namely the COVID-19 Pandemic. The pandemic demands that education managers in each institution to innovate in compiling a curriculum that can be implemented effectively and efficiently. Such as the child-friendly curriculum implemented in MI Barokah At-Tahdzib. The study aims to explain the implementation of the child-friendly curriculum at MI Barokah At-Tahdzib during the Covid 19 Pandemic. The method used is a qualitative method with interactive model data analysis techniques. The results of this study indicate that the child-friendly curriculum is implemented by 1) implementing offline learning while still paying attention to health protocols 2) Creating study groups consisting of a maximum of 12 children to reduce social and physical distance with a learning duration of 1.5-2 hours 3) Assessment Learning cognitive and psychomotor aspects carried out in a network via Whatsapp and google form, the cost of sending affective aspects is carried out by observation techniques when face-to-face group learning
Ahmad Zulfiyan
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 4; doi:10.21274/martabat.2020.4.2.175-195

Abstract:
The social-relational lives of girls and boys often experience various problems of gender injustice, which are manifested in the form of gender stereotyping. This paper aims to analyze aspects of gender stereotyping and their implications for social resilience in children in the context of relations between girls and boys and their environment. The data collection relies on the literature study and interviews with one expert who is an lecturer as well as a child rights activist. This paper explains that gender stereotype has been done since childhood, even before the child is born. The stereotype is perpetuated through various socializations: through families, schools, and the general public environment. Gender stereotype has an impact on children's social resilience, particularly how children react in society. The difference of perceptions in children with society expectations makes them feel confused and uncomfortable with themself.
Yubaedi Siron
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 4; doi:10.21274/martabat.2020.4.2.325-346

Abstract:
Father involvement in parenting is an important factor in the process of child development. However, the involvement of fathers in childcare is very low. The objective of this study is to explore and find out how fathers are involved in parenting of children with separation anxiety disorder. This research uses a qualitative approach. Collecting data in this study using structured interviews. Participants were selected using purposive sampling. Participants in this study were 3 fathers who have children with Separation Anxiety Disorder (ASD). The results showed that the involvement of fathers in childcare plays an important role in the development of children with ASD. Fathers have done a good role in parenting for ASD children, as well as a good relationship between father and children with ASD. Fathers have varied activities to stimulate their ASD children, as well as positive communication by fathers to their children. Fathers give good understanding to their children and provide follow-up on their parenting involvement.
Ika Siti Rukmana
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 4; doi:10.21274/martabat.2020.4.2.219-238

Abstract:
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dismilaritas anak lelaki dan anak perempuan pada kognitif dan sosial emosionalnya. Metodenya menggunakan library research. pengumpulan data dari jurnal, buku, dll. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dismilaritas gender pada kognitif anak usia dini adalah anak lelaki lebih unggul dalam matematika dan visualspasial. Sedangkan. dismilaritas gender pada sosial-emosional anak usia dini, yakni anak perempuan lebih dalam membaca dan writing, anak lelaki kurang mengikuti nuraninya, anak lelaki lebih agresif fisiknya, anak perempuan lebih bisa mempengaruhi dalam bergosip, anak perempuan lebih bisa kontrol diri, anak lelaki lebih sering mendapat masalah dari eksternalnya, dan anak perempuan lebih memperhatikan guru di kelas. Terdapat strategi mendidik anak lelaki, yaitu ajaklah anak lelaki agar lebih sensitif, mengurangi keagresifan fisiknya, dan tingkatkanlah prestasi di sekolah. Adapun strategi dalam mendidik anak perempuan, yaitu apresiasilah dan dukunglah anak perempuan dalam kepekaannya dan pengasuhan, serta ajaklah anak perempuan agar lebih aktif dalam mengungkapkan aspirasinya. Kata kunci: Dismilaritas, gender, kognitif, sosial-emosional, anak T The aim of this study is to identify boys and girls in cognitive and social emotional. The method uses library research. data from journals, books, etc. The results showed that gender dysmillarity in early childhood cognitive was that boys were superior in mathematics and visual spatial. While. gender dysmillarity in the socio-emotional early childhood, namely girls who read and write more, boys follow their conscience less, boys are more physically aggressive, girls are more able to influence gossip, girls are more self-controlling, boys more often get into trouble from externals, and girls pay more attention to teachers in class. There is a strategy to educate boys, namely to invite boys to be more sensitive, reduce physical aggressiveness, and increase achievement in school. As for the strategy in educating girls, namely appreciating and supporting girls in their sensitivity and nurture, and encourage girls to be more active in expressing their aspirations Keywords: Dysmilarity, gender, cognitive, social-emotional, child.
Naila Sa'adah, Ashif Az Zafi
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak, Volume 4; doi:10.21274/martabat.2020.4.1.155-174

Abstract:
Abstrak: Membahas mengenai hukum darah perempuan yaitu haid, istihadhah, dan nifas adalah materi yang sangat perlu dibahas karena pembahasan ini sangat bermanfaat dan sering ditanyakan oleh kaum hawa. Pembahasan tentang darah perempuan ini pun, ada yang menganggap bahwa pembahasan yang paling sulit dalam hal fiqih. Haid, istihadhah, dan nifas adalah kodrat yang dianugerahkan kepada kaum hawa sehingga pembahasan ini sangat bermanfaat bagi kaum hawa, bahwa setiap perempuan tidak boleh bodoh dalam masalah ini. Perkara ini berpengaruh kepada sah tidaknya sebuah ibadah karena berhubungan dengan suci dari hadats dan najis. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keilmuan yang lebih luas kepada pembaca mengenai haid, istihadhah, dan nifas. Dalam penulisan artikel ini, penulis memaparkan dan menejelaskan hal-hal yang berhubungan dengan haid, istihadhah, dan nifas, secara sistematis yang akan memudahkan pembaca dalam memahaminya. Sehingga dapat mengimplementasikanya dalam kehidupan sehari-hari. Metode penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Sehingga data yang digunakan yaitu sumber data primer yang didapat dari buku dan sumber data sekunder sebagai pelengkap dan penunjang. Adapun teknik pengumpulan datanya yaitu dengan kajian literatur mengenai haid, istihadhah, dan nifas.
Back to Top Top