At-Tafkir

Journal Information
ISSN / EISSN : 19799357 / 26205858
Current Publisher: IAIN Langsa (10.32505)
Total articles ≅ 29
Filter:

Latest articles in this journal

Zulhamdi Adnan
Published: 30 June 2020
At-Tafkir, Volume 13; doi:10.32505/at.v13i1.1571

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Published: 28 June 2020
At-Tafkir, Volume 13; doi:10.32505/at.v13i1.1719

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Zainuddin Zia
Published: 12 June 2020
At-Tafkir, Volume 13; doi:10.32505/at.v13i1.1653

Abstract:
Al-Quran is the highest guidance and direction for humans in carrying out life in the world and preparing for the afterlife. There are three basic teachings in the Qur'an, namely I 'iqqadiyah (related to faith), Khuluqiyah (virtue of character) and amaliyah (this relates to what comes from words and deeds). On the other hand, Islam was revealed in the Arabian Peninsula which was bound by mental aridity, spiritual misery, intellectual disturbances, polytheistic worship (watsaniyah) and human castration. Religious teachings before Islam were ignored, but gradually the Kuffar Quraysh finally accepted this new religion (Islam) with full awareness and confidence in a relatively short time. That means that they shouted and made the Qur'an as their guide in their lives. They are the most prominent guardians and spreaders in preserving and expanding Islam.
Mulyadi Ibrahim
Published: 7 June 2020
At-Tafkir, Volume 13; doi:10.32505/at.v13i1.1570

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Faisal Al Faerah
Published: 4 June 2020
At-Tafkir, Volume 13; doi:10.32505/at.v13i1.1544

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Hasbi Wahidi
Published: 9 May 2020
At-Tafkir, Volume 13, pp 18-26; doi:10.32505/at.v13i1.1463

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Prosmala Hadisaputra
Published: 9 May 2020
At-Tafkir, Volume 13, pp 1-17; doi:10.32505/at.v13i1.1441

Abstract:
This article discusses the characteristics of teacher who teaches Islamic sciences in the perspective of the Nahdlatul Wathan educational tradition, comprehensively. On the other hand, this article is one form of response to the moral degradation of teachers that have recently been rife, especially in Indonesia. This article is the result of qualitative research with a literature approach. Primary data are the books of Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Sheikh), which include Wasiat Renungan Masa (Book), Batu Ngompal (Book), the struggle song of Nahdlatul Wathan, and the recording of Sheikh's speech during his lifetime. Secondary data consists of scientific journals and relevant research results, as well as Islamic education books, Sufism, tafsīr and hadīth. Data was collected offline and online, then analyzed by using the NVivo 12 Plus software. This study shows that nine characteristics must be possessed by religious teachers who teach in the Nahdlatul Wathan madrasas/pesantrean (Islamic boarding school), namely: murshīd, sincere, obedient, mandate, behave as the teacher's morals, have a clear pedigree (silsilah/sanad), wise and polite in speaking, competent, and straight (istiqamah). This study concludes that the characteristics of the teacher mentioned in the will of the Sheikh are based on the results of contemplation (tafakkur), empirical experience (tajrībah), and extensive knowledge.
Basri Ibrahim
Published: 4 December 2019
At-Tafkir, Volume 12, pp 118-130; doi:10.32505/at.v12i2.1353

Abstract:
Artikel ini fokus pada menelaah penyelenggaraan dayah dalam kebijakan pemerintah di Aceh Tahun 1966-1998. Beranjak dari sebuah kondisi politik dan keberpihakan pemerintah terhadap dayah yang terkesan dilematis. Artikel ini tertarik untuk menemukan kebijakan pemerintah terhadap dayah. Oleh karena kajian ini mengangkat data-data masa lalu, maka penelitian ini menggunakan pendekatan historis dengan penggunaan data dokumen dan wawancara pelaku sejarah. Dari kajian yang dilakukan ditemukan bahwa kebijakan pemerintah terhadap penyelenggaraan pendidikan di dayah mencakup pada aspek kurikulum dalam bentuk perubahan dan integrasi kurikulum dan aspek kelembagaan dengan berkembangnya pesantren tradisional dan modern.
Maisyaroh Maisyaroh
Published: 4 December 2019
At-Tafkir, Volume 12, pp 141-151; doi:10.32505/at.v12i2.1243

Abstract:
Islam merupakan agama yang memiliki dimensi internal yang disebut dengan al-ihsan. Sebagai dimensi internal Islam, para ahli memberikan respons berbeda terhadap ajaran para sufi. Sebagian ahli menerima tasawuf sebagai dimensi batin dari ajaran Islam, dan sebagian ahli mengkritik bahkan menolak ajaran tasawuf tertentu karena mereka menilai bahwa ajaran tasawuf bukan berasal dari Islam. Artikel ini mengkaji tasawuf sebagai dimensi batin ajaran Islam. Studi ini merupakan hasil kajian kepustakaan dimana data diperoleh dari kegiatan studi dokumen. Studi ini mengajukan temuan bahwa tasawuf merupakan dimensi ajaran Islam. Tasawuf merupakan disiplin ilmu yang lahir dari peradaban Islam, dan sumber ajarannya berasal dari Alquran dan hadis. Memang para orientalis cenderung menyebutkan bahwa ajaran Kristen atau agama lain menjadi pendorong kelahiran tasawuf di dunia Islam, tetapi para ahli dari kalangan Islam menolak pendapat mereka.
Mulyadi Mulyadi
Published: 4 December 2019
At-Tafkir, Volume 12, pp 131-140; doi:10.32505/at.v12i2.1341

Abstract:
Artikel ini ingin membahas tentang pedebatan empat filsuf Islam terkemuka mengenai qadimnya alam yang sampai hari ini masih terus menjadi topik yang terus menjadi perbincangan hangat oleh kalangan pengkaji filsafat dan para teolog. Dalam filsafat Islam hal ini tidaklah merupakan hal yang aneh untuk diperbincangkan. Para failasuf seperti al-Kindi, Ibn Rusyd, al-Farabi, dan al-Ghazali memiliki argumentasi tersendiri terhadap permasalahan qadim dan barunya alam. Seperti Ibnu Rusyd misalnya, dengan berbagai argimentasi yang terpengaruh oleh Aristoteles mengakatan bahwa alam ini qadim. Hal ini mendapat sanggahan keras dari al-Gazali yang ia tuangkan dalam bukunya Thahafuz al-Falasifah. Namun seperti yang kita ketahui bahwa al-Ghazali mengungkapkan kerancuan para failasuf ketika ia telah menjadi seorang sufi. Demikian pula dengan al-Kindi dan al-Farabi, mereka tetap bertahan dengan pendapatnya yang begitu kontroversial. Menganai hal qadim dan baharunya alam kita akan sedikit melihat beberapa argumen dari al-Kindi, Ibnu Rusyd, dan al-Farabi.
Back to Top Top