Journal of Aquaculture and Fish Health

Journal Information
ISSN / EISSN : 23017309 / 25280864
Current Publisher: universitas airlangga (10.20473)
Total articles ≅ 115
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Januar Hadi Prasetyo, Agustono Agustono, Widya Paramitha Lokapirnasari
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 9, pp 232-237; doi:10.20473/jafh.v9i3.18038

Abstract:
Omega-3 fatty acids (Alpha-linolenic acid) and omega-6 fatty acids (Linoleic acid) are a group of essential fatty acids. Essential fatty acids are fatty acids that cannot be synthesized by the body so that must be supplied from the diet. One of the sources of essential fatty acids is derived from fish oil. This study aims to determine the effect of Crude Fish Oil (CFO) in the feed to EPA and DHA content in penaeid shrimp meat. The research method used was a completely randomized design. The treatments used are the varying content of Crude Fish Oil (CFO), which are P0 (0%), P1 (2%), P2 (4%), P3 (6%), and P4 (8%). The results of the study showed significant differences (p
Fenny Amelia, Beni Halalludin, Sidrotun Naim, Rega Permana
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 9, pp 238-251; doi:10.20473/jafh.v9i3.18855

Abstract:
Udang merupakan salah satu komoditas unggulan nasional dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Produksi udang budidaya di Indonesia tahun 2012-2017 mengalami kenaikan secara signifikan. Meski mengalami kenaikan, masih terdapat masalah yang harus diatasi, salah satunya adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP). Infeksi EHP mengganggu sel tubulus hepatopankreas. Lesi yang disebabkan oleh EHP dapat menjadi tempat pertumbuhan koloni Vibrio sehingga meningkatkan kemungkinan munculnya penyakit lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman Vibrio pada udang terinfeksi EHP yang dianalisis dengan Enterobacterial Repetitive Intergenic Consensus Polymerase Chain Reaction (ERIC PCR). ERIC PCR dapat membedakan strain bakteri yang berkerabat dekat, prosedur kerja yang sederhana, cepat dan murah. Bakteri Vibrio diisolasi dari hepatopankreas, feses dan air udang terinfeksi EHP dan udang sehat (kontrol), dilanjutkan dengan ekstraksi DNA, ERIC PCR, elektroforesis dan konstruksi pohon filogenetik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bakteri Vibrio pada hepatopankreas, air dan feses udang terinfeksi EHP lebih tinggi dibandingkan dengan udang sehat. Udang terinfeksi EHP memiliki keanekaragaman Vibrio yang lebih rendah dari pada udang sehat. Hal ini menunjukkan adanya spesies Vibrio spesifik yang mendominasi pada udang terinfeksi EHP.
Damian Luis Castellini, Aldo Nahuel Zanazzi, Angelina Gorosito, Enzo Damián Tranier, María Fernández-Subiela, Juan Carlos Mallo
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 9, pp 266-273; doi:10.20473/jafh.v9i3.19979

Abstract:
In the present work, the feasibility of fattening Oreochromis niloticus specimens on a pilot scale in a geothermal water resource located in the Southeast of the province of Buenos Aires was analyzed. Before placing the culture units, physical and chemical characteristics of hot spring were studied to evaluate its suitability for tilapia farming. In the experimental stage, two hundred specimens with an average weight of 14.5 ± 1.8g were placed in two floating cages (1.30x1x1m) (100 individuals per cage) and they were harvested at 140 days. The specimens were fed 3 times a day with a commercial pelleted feed with a content of 35% of proteins. Monthly samplings were carried out to evaluate growth (weight and total length), survival, and water samples were collected to measure their physical-chemical characteristics. The results of the water analysis showed a high quality in the hot springs (Simplified Water Quality Index=88). The fattening results showed an average final weight of 423-435.9 g, a survival of 87-91%, a SGR 1.47- 1.49% / day and the FCR was estimated at 1.05-1.07 for each cage respectively. We can conclude that this hot spring has the necessary water conditions to obtain excellent weight gains during the fattening period for the O. niloticus specimens. The present study represents the first Nile tilapia culture in the southernmost thermal waters, setting a precedent for future ventures in the area.
Mohamad Amin, Ferdinand Hukama Taqwa, Yulisman Yulisman, Retno Cahya Mukti, Madyasta Anggana Rarassari, Rizky Marli Antika
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 9, pp 222-231; doi:10.20473/jafh.v9i3.17969

Abstract:
Desa Sakatiga terletak di Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, memiliki potensi pengembangan perikanan budidaya. Permasalahan yang sering dialami oleh pembudidaya ikan lele di desa Sakatiga diantaranya tingginya harga pakan dan minimnya pengetahuan masyarakat tentang bahan lokal yang dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan membuat pakan secara mandiri. Tujuan dari kegiatan ini adalah mengetahui efektivitas pemanfaatan bahan baku lokal sebagai pakan ikan terhadap peningkatan produktivitas budidaya ikan lele (Clarias sp.) di desa Sakatiga, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Metode yang digunakan yaitu dengan penyuluhan dan diskusi, pelatihan pembuatan pakan serta demplot pemanfaatan bahan lokal sebagai bahan baku pakan ikan serta pendampingan teknis oleh tim dan dibantu mahasiswa yang melaksanakan praktik lapang di lokasi mitra. Berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang bahan lokal yang dapat digunakan sebagai pakan ikan serta motivasi masyarakat untuk membuat pakan dengan menggunakan bahan baku lokal. Pemanfaatan bahan baku lokal sebagai pakan ikan lele menghasilkan pertumbuhan bobot dan panjang mutlak masing-masing sebesar 9,94 g dan 3,83 cm, laju pertumbuhan harian 2,21%/hari, efisiensi pakan 103,24% dan kelangsungan hidup 97%.
Fani Fariedah, Maheno Sri Widodo
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 9, pp 182-188; doi:10.20473/jafh.v9i3.16015

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi larutan ekstender kurma dan ringer laktat terhadap kualitas spermatozoa beberapa ikan air tawar dalam proses pengawetan spermatozoa. Proses pengawetan sperma tergantung pada nutrisi yang disediakan oleh bahan ekstender. Ringer laktat telah digunakan sebagai ekstender dalam proses pengawetan sperma yang berguna sebagai penyedia energi. Energi lain dapat diperoleh dari bahan yang mengandung fruktosa atau glukosa. Sari kurma merupakan salah satu bahan yang memiliki kandungan fruktosa dan glukosa yang diharapkan dapat membantu memberikan energi bagi sperma selama proses pengawetan sperma. Penelitian ini melakukan percobaan pengawetan sperma dari beberapa ikan air tawar ikan mas (Carrasius auratus), ikan lele siam (Pangasius hypopthalmus), dan Koi (Cyprinus carpio) menggunakan extender yang dibuat dalam kombinasi dari ringer laktat dan larutan sari kurma. Penelitian ini menggunakan berbagai konsentrasi ekstrak kurma yaitu 0,5%, 1%, 2,5%, 2% menggunakan desain rancangan acak kelompok dengan ikan sebagai kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata motilitas ikan patin mencapai nilai tertinggi (52,00%) sedangkan rata-rata laju fertilisasi tertinggi terjadi pada spermatozoa ikan mas dengan nilai 97,068%. Larutan sari kurma mampu memberikan nutrisi pada spermatozoa selama proses pengawetan karena kurma mengandung fruktosa dan glukosa sehingga spermatozoa yang diawetkan tetap dapat membuahi secara normal.
Akhmad Taufiq Mukti, Septuresty Hartri Eka, Woro Hastuti Satyantini, Ahmad Shofy Mubarak
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 9, pp 214-221; doi:10.20473/jafh.v9i3.16562

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh krioprotektan yang berbeda dalam kriopreservasi embrio terhadap persentase kerusakan dan penetasan embrio ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Embrio ikan lele pada fase gastrula diberi perlakuan larutan dimethyl sulfoxide (DMSO), propylene glycol (PG), madu, dan kombinasinya dengan konsentrasi 5% untuk masing-masing perlakuan. Embrio disimpan pada suhu 4 dan 0ºC, masing-masing selama 30 menit, 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 jam. Thawing embrio dilakukan pada suhu 28ºC. Selanjutnya, embrio diinkubasi dalam akuarium pada suhu 28ºC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan krioprotektan dalam kriopreservasi embrio fase gastrula memberikan perbedaan kerusakan dan penetasan embrio ikan lele pada lama waktu penyimpanan yang berbeda. Persentase kerusakan embrio meningkat seiring dengan lama waktu penyimpanan dan suhu penyimpanan yang berbeda. Kombinasi larutan krioprotektan DMSO dan madu serta PG dan madu menunjukkan persentase kerusakan embrio yang lebih rendah dan persentase penetasan embrio yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan krioprotektan lainnya (p
Nurlia Subryana, Wardiyanto Wardiyanto, Oktora Susanti
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 9, pp 194-203; doi:10.20473/jafh.v9i3.16321

Abstract:
Pertahanan non-spesifik adalah pertahanan utama pada benih ikan. Salah satu bahan alami sebagai sumber imunostimulan adalah tanaman kelor. Daun kelor mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, terpenoid dan saponin sebagai agen imunostimulan. Imunostimulan adalah senyawa biologis yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun kelor dalam meningkatkan imunitas non-spesifik pada benih ikan nila (Oreochromis niloticus) yang terinfeksi Aeromonas hydrophila. Dalam pemberian ekstrak daun kelor diberikan injeksi intramuskular 0,1 mL/ikan dengan konsentrasi 50 mg, 75 mg dan 100 mg. Pada metode penelitian ini, digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yang setiap akuarium masing-masing berisi 12 ekor benih nila berukuran 8-10 cm. Pemberian pakan pada benih nila dilakukan setiap 3 kali sehari yaitu pagi, siang dan sore hari. Parameter yang diuji adalah leukosit, diferensial leukosit, eritrosit, aktivitas fagositosis dan indeks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun pada benih ikan nila dapat meningkatkan kekebalan non-spesifik, yaitu total leukosit, total eritrosit, leukosit diferensial, aktivitas dan indeks fagositosis.
Atiek Pietoyo, Kurniawan Wahyu Hidayat, Siti Nurazizah, Irvan Firmansyah Zainul Arifin, Dh Guntur Prabowo, Fajar Tri Widianto, Irpan Mustakim
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 9, pp 189-193; doi:10.20473/jafh.v9i3.16191

Abstract:
The ornamental fish business is now an economic driver. The ocellaris clownfish (Amphiprion ocellaris Cuvier, 1830) is one of the leading commodities of marine ornamental fish that is in great demand, especially in foreign markets. One obstacle faced by farmers in determining the appropriate density for the ocellaris clownfish rearing stage. This study aimed to evaluate the effect of stocking density on production factors, which included survival rate, and growth rate of ocellaris clownfish. Three hundred fish were used as experimental fish with an average length of 23.00 ± 2.36 mm and a weight of 0.27 ± 0.02 gather study was conducted using 4 treatment tanks with a volume of 120 L with densities of 0.17, 0.37, 0.67, and 0.80 fish/L. Observations showed that the density of 0.37 fish per L (K2) gave the best results with a survival rate of 98.18%. For the SGR parameter, the highest value was 1.14% per day in the K1 treatment. This indicated that the stocking density has a relationship with the factor of production in rearing ocellaris clownfish in the recirculation system.
Rifqah Pratiwi, Kurniawan Wahyu Hidayat, Sumitro Sumitro
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 9, pp 274-285; doi:10.20473/jafh.v9i3.16280

Abstract:
Biofloc technology (BFT) is one of the most developed aquaculture technologies, which aims to improve the efficiency of feed use by providing nutrients for flocs to be used by fish as a supplementary feed. Also, BFT serves to improve water quality through the breaking down of fish waste materials assisted by heterotrophic bacteria. Bacteria used in this study were Bacillus sp. as probiotics in BFT. This study aimed to examine the production performance of catfish maintained with a biofloc system on an industrial scale, without experimental design. The average weight of catfish when stocking was 5.9 ± 0.0 g/fish with a density of 7000 fish in 9 unit circular ponds. This studies showed after 78 days of culture, bodyweight gain about 28.6 g/fish to 41.7 g/fish, highest specific growth rate was K2 (2.4 ± 0.2% BW/day), the highest survival rate K2 (98.87 ± 6.64% BW/day), highest grow rate K1 (41.7 ± 5.8 g) and the best FCR K9 (0.95 ± 0.11).
Nwet Darli Kyaw Zaw, Putu Angga Wiradana, Sin War Naw, Aondohemba Samuel Nege, Mochammad Amin Alamsjah, Rizhar Eman Karunia Akbar, Fahror Rosi
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 9, pp 252-265; doi:10.20473/jafh.v9i3.19255

Abstract:
Caulerpa is one of the seaweed that grows naturally in Indonesian waters such as those in Mandangin Island. This study aimed to identify Caulerpa sp. based on molecular analysis using certain genetic markers. This research is expected to provide information on the identification of macroalgae from Indonesia waters, especially Mandangin Island, Madura with the use of molecular analysis based on 18SrRNA primers. The two green seaweed samples from the Caulerpa genus in this study were successfully analyzed using 18SrRNA primers. The BLAST results of samples 1and 2 are related to Caulerpa taxifolia 18SrRNA, but in the phylogenetic tree result, Sample 1 was more closely related to Caulerpa sertularioides f. longipes. 18SrRNA primers have been used for molecular identification of green seaweed from Mandangin for the first time and this shows that barcode markers can be used for molecular identification of seaweed, specifically Caulerpa in the waters of Mandangin Island, Indonesia.
Back to Top Top