Journal of Aquaculture and Fish Health

Journal Information
ISSN / EISSN : 23017309 / 25280864
Current Publisher: universitas airlangga (10.20473)
Total articles ≅ 69
Filter:

Latest articles in this journal

Sampari Suruan, Frankly Lahumeten, Roni Bawole, Ridwan Sala
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 8; doi:10.20473/jafh.v8i2.13379

Abstract:Ikan layang (Decapterus spp) merupakan komponen utama dari sumberdaya ikan pelagis kecil yang sering tertangkap oleh nelayan bagan perahu di perairan Teluk Doreri, namun belum diketahui secara pasti jenis-jenis ikan layang (Decapterus spp) yang tertangkap oleh nelayan bagan perahu di perairan ini, sehingga dapat berakibat terhadap jenis-jenis ikan layang (Decapterus spp) secara spesies, jika tidak dapat dikelola secara berkelanjutan, sedangkan informasi ini sangat perlu diketahui untuk menunjang pengelolaan jenis-jenis ikan layang (Decapterus spp) perairan laut Teluk Doreri Kabupaten Manokwari dalam rangka pengelolaan perikanan tangkap secara berkelanjutan dan terpadu. Untuk itu, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis-jenis ikan layang yang tertangkap oleh nelayan bagan di Teluk Doreri, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Penelitian ini dilakukan selama 7 hari di bulan April 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi langsung. Survei dilakukan pada 6 bagan nelayan yang melakukan operasi penangkapan di perairan Teluk Doreri. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif. Berdasarkan hasil yang didapatkan, nelayan biasanya melakukan operasi peangkapan pada 2 lokasi penangkapan, yaitu belakang Pulau Mansinam dan sekitar perairan Anday, dimana ke 2 lokasi ini merupakan target Fishing ground nelayan bagan. Hasil identifikasi jenis-jenis ikan layang menunjukan bahwa, dari 6 bagan nelayan yang melakukan penangkapan ikan layang, ditemukan 3 jenis ikan layang (Decapterus spp) yang sering tertangkap oleh bagan nelayan di sekitar perairan Teluk Doreri, yaitu jenis Decapterus macarellus, Decapterus akaadsi dan Decapterus macrosoma. Diperlukan kajian lebih lanjut dalam menunjang prospek perikanan ikan layang di Teluk Doreri, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, Indonesia.
Azis Hamzah
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 8; doi:10.20473/jafh.v8i2.11984

Abstract:Penelitian ini mengenai bioaktifitas ekstrak daun sisik naga (Drymoglossum pilosellaoides) terhadap pertumbuhan bakteri Vibrio harveyi dan Vibrio parahaemolyticus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bioaktifitas dan efektifitas antibakteri ekstrak daun sisik naga terhadap pertumbuhan bakteri V. harveyi dan V. parahaemolyticus. Pengujian daya hambat dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan 5 variasi konsentrasi 100%, 50%, 25%, 12,5% dan 6,25% b/v pada media TSA (Tryptone Soya Agar) dan TCBS (Thiosulfate Citrate Bile Salts Sucrose) yang diinkubasi selama 2x24 jam. Digunakan pula antibiotik berupa chloramphenicol 10-1 (= 30 µg) sebagai kontrol positif, dan sebagai kontrol negatif digunakan akuades. Ekstrak daun sisik naga. mengandung flavonoid, saponin dan tanin yang bersifat antibakteri dan memiliki kemampuan mematikan bakteri uji, dengan efektifitas diameter hambatan V. harveyi 14,8 mm pada konsentrasi 100% b/v, sedangkan bakteri V. parahaemolyticus 11,8 mm pada konsentrasi 50% b/v. Efektifitas daya hambat tertinggi pada konsentrasi 50% terhadap bakteri V. parahaemolitycus yaitu sebesar 45,5%, Sedangkan pada konsentrasi 100% memiliki efektifitas daya hambat sebesar 56,3% terhadap bakteri V. harveyi.
Daruti Dinda Nindarwi
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 8; doi:10.20473/jafh.v8i2.12428

Abstract:Environmental quality cultivation of considerable influence against the survival and growth of living beings in the water. Improvements to the environmental conditions of cultivation in order to remain stable and optimal for aquatic organisms, including fish as aquaculture animals become very necessary one, namely the granting of Ca(OH)2 (calcium hydroxide) and NaHCO3 (sodium bicarbonate). The application of Ca(OH)2 and NaHCO3 in fish farming serves as the buffer pH of pond water. In addition, the application of both these materials also function as degradation organic matter chemically, control the ratio N/P and the abundance of plankton in the water. This research aims to know the dynamics of the pH value, COD, N/P ratio and abundance of plankton by administering calcium hydroxide (Ca(OH)2) and sodium bicarbonate (NaHCO3) in the water. Methodology this research uses descriptive survey method or a method of research that aimed to describe existing phenomena, which takes place at the moment or the past. The results of the measurement of the pH value before the grant of Ca(OH)2 and NaHCO3 that is of 6.6-6.8 whereas after the grant of Ca(OH)2 and NaHCO3, there is increased and decreased range between 6.8-7.4. The results of the measurement of the value of COD prior to the grant of Ca(OH)2 and NaHCO3 that is ranged between 72.5-32.5 mg/l while the after grant of Ca(OH)2 and NaHCO3, there is increased and decreased ranged between 26-55 mg/l, results of measurement of the value of the ratio N/P before the grant of Ca(OH)2 and NaHCO3 on all points of observation that is ranged between 3.15 – 3.68 while following the grant of Ca(OH)2 and NaHCO3, there is a decrease and an increase in the value of the ratio N/P a row ranges between 1.67 – 1.8 and 13.8 – 15.18. Observations a total density of plankton showed before the grant of Ca(OH)2 and NaHCO3 that is in the range 206.250-1.103.125 x104 ind/l whereas after the grant of Ca(OH)2 and there is a decrease in the density of NaHCO3 total plankton reach 9.375x104 ind/l. Research has been done gives the conclusion that the grant of Ca(OH)2 and NaHCO3 pH value can increase and may decrease the value of the COD. the ratio N/P and a density of total plankton. Suggestions for research is expected to do further research about the grant of Ca(OH)2 and NaHCO3 pH Dynamics against, COD, N/P ratio and abundance of plankton in summer.
Seto Sugianto Prabowo Rahardjo
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 8; doi:10.20473/jafh.v8i2.11825

Abstract:ABSTRAKIkan bawal bintang (Trachinotus blochii) merupakan komoditas laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Bawal bintang (T. blochii) merupakan spesies budidaya perikanan laut yang terbilang masih baru di Indonesia. Permintaan terhadap ikan ini terus meningkat terutama dari pasar internasional seperti Singapura, Taiwan, Hong Kong, dan China.Agar populasi tetap seimbang untuk itu dilakukan kegiatan budidaya agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok merupakan balai budidaya yang menerapkan pemberian pakan rotifera untuk pembenihan ikan bawal bintang (T. blochii),Dengan diberikannya rotifera diharapkan pada benih bawal bintang dapat tumbuh dengan cepat dan terpenuhinya nutrisi larva,sehingga didapatkan pertumbuhan yang cepat.Kata kunci : bawal bintang,pembenihan,rotifera
Ismi Habib Pahlawi
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 8; doi:10.20473/jafh.v8i2.13380

Abstract:Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kematian udang vaname yang diinfeksi bakteri Pseudomonas sp. Bakteri Pseudomonas sp. diisolasi dari sedimen tambak udang. Uji patogenitas menggunakan udang vaname (7-9 gram) yang diinfeksi bakteri Pseudomonas sp. dengan kepadatan 102, 104, 106, 108 sel/ml secara intramuscular sebanyak 0,1 ml/ekor. Perlakuan kontrol diinfeksi menggunakan NaCl fishiologis sebanyak 0,1 ml/ekor. Tingkat mortalitas dan gejala klinis diamati setap 6 jam pada 24 jam pertama dan selanjutnya selama 24 jam hingga 10 hari. Hasil yang diperoleh dari uji patogenitas bakteri Pseudomonas sp. pada udang vaname menunjukkan tingkat kematian sebesar 0% pasca infeksi. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri Pseudomonas sp. tidak menyebabkan kematian pada udang vaname. Gambaran gejala klinis yang ditunjukkan berupa hepatopankreas berwarna hijau kehitaman dengan tekstur yang padat dan menunjukkan kenampakan yang sama dengan perlakuan kontrol. Warna tubuh udang vaname setelah diinfeksi bakteri Pseudomonas sp. menunjukkan gambaran yang sama dengan kontrol yaitu berwarna putih transparan. Karapas dan ekor udang vaname setelah diinfeksi menunjukkan tidak adanya kerusakan yang disebabkan oleh infeksi bakteri Pseudomonas sp., gambaran tersebut menunjukkan kenampakan yang sama dengan perlakuan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri Pseudomonas sp. tidak patogen terhadap udang vaname dan infeksi bakteri Pseudomonas sp. tidak berpengaruh terhadap perubahan morfologi makroskopis dan tingkah laku.
Suprianto Suprianto
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 8; doi:10.20473/jafh.v8i2.13156

Abstract:Ikan nila merupakan komoditas ikan bernilai ekonomi yang sangat penting. Intensifikasi budidaya ikan nila berdampak kurang baik terhadap lingkungan. Tingginya penggunaan pakan buatan menyebabkan pencemaran perairan. Salah satu cara mengurangi penggunaan pakan buatan adalah dengan sistem bioflok. Penelitian ini bertujuan menganalisis dosis optimal probiotik terhadap laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila pada sistem bioflok. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Penambahan dosis probiotik P1 (0,007 ml/l), P2 (0,008 ml/l), P3 (0,009 ml/l), dan Kontrol (0 ml/l) sebagai perlakuan. Bobot mutlak, panjang mutlak, dan kelangsungan hidup ikan nila sebagai variabel utama. Analisis polynomial orthogonal digunakan untuk menentukan dosis optimal probiotik. Dosis optimal probiotik berdasarkan bobot mutlak adalah 0,0036 ml/l dengan hasil bobot mutlak 26,00 g. Dosis optimal probiotik berdasarkan panjang mutlak adalah 0,0028 ml/l dengan hasil panjang mutlak 33,40 cm. Kelangsungan hidup ikan nila tertinggi adalah 77% pada dosis probiotik 0,007 ml/l.
Prayogo Prayogo
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 8; doi:10.20473/jafh.v8i2.13626

Abstract:In intensive aquaculture farming activities will generate solid waste and liquid waste that comes from feces and leftover fish feed. The waste accumulation can lead to deterioration of water quality that affects the physiological processes, behavior, growth, and mortality of fish. Technological innovation is needed for the management of water quality and increase productivity as a result of shrinkage of cultivated land. One of the technological innovations that can be applied, namely the incorporation of fish farming with crops through Aquaponics system. This study aims to determine the effects of water spinach optimum density to absorb waste ammonia (NH3), nitrate (NO3) and nitrite (NO2) optimally to increase the survival rate and growth rate of african catfish (Clarias sp.) intensive As well as to see its effect on conversion rates and feed efficiency with aquaponics system. The method used is the experimental method. The experimental research is used to determine the effect of certain variable towards a group under controlled conditions. The results of measurements of ammonia levels during P0 showed that the treatment significantly different (p 0.05). The measurement results also showed that the nitrate content whole of observation results showed that all treatments there were no significant differences (p> 0.05). The best feed conversion ratio was found in P3 treatment of 1.08. The best feed efficiency was found in P3 treatment 92,25%. The highest survival rate was found in P3 treatment (88.69%) in maintenance medium and lowest survival rate was in P0 treatment (26,71%) without water spinach (control). The highest specific growth rate was found in P3 treatment (1.15%), while the lowest specific growth rate was in treatment P0 (0.79%).Results of water quality measurement supporting all treatments decreased and increased. The supporting water quality are temperature, pH, and dissolved oxygen. The decrease and increase in support water quality is caused by environmental factors such as weather. Other parameters were observed in addition to supporting the water quality is water spinach plant growth. Value growth water spinach is best found in treatment P3. In the treatment P3 water spinach growth rose 5.14 cm with an initial size of 10.92 into 16.06.
Novi Mayang Runa
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 8, pp 54-61; doi:10.20473/jafh.v8i1.12011

Abstract:Biofloc technology is one of alternative method that used to control water quality on culture media using heterotrophic bacteria with addition of organic matter. This research was held to determine the effect of tapioca flour addition as source of biofloc carbon in culture media on water quality, survival rate and growth of catfish fry. The research held on February to March 2015 in Laboratorium Budidaya Perairan, Aquaculture Department, Agriculture Faculty of Sriwijaya University. Used completely randomized design with four treatments and three replications were addition of tapioca flour with C/N ration 5, 10, and 15 as carbon source. The result showed that addition of flour as carbon source with C/N ratio of 15 was the best treatment with 88% survival rate, absolute length 3,20 cm and absolute weight 2,26 g.
Mohammad Faizal Ulkhaq
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 8, pp 15-23; doi:10.20473/jafh.v8i1.11751

Abstract:Kematian ikan akibat serangan parasit Argulus dikarenakan ikan mengalami emasiasi sehingga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh ikan, selain itu munculnya luka pada kulit ikan akan dimanfaatkan sebagai port of entry bagi agen infeksi sekunder seperti jamur, bakteri dan virus. Pengendalian penyakit argulosis dengan bahan kimia yang tidak tepat dosis dapat mencemari lingkungan, sehingga perlu dicari alternatif bahan kimia yang aman terhadap lingkungan, yaitu abate. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas perendaman abate untuk menurunkan derajat infestasi dan merusak organ parasit Argulus yang menginfestasi ikan mas (Cyprinus carpio). Perlakuan yang diberikan terdiri dari lima perlakuan dengan empat kali ulangan yaitu pemberian abate dengan konsentrasi 0 ppm (kontrol), 25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, dan 100 ppm yang direndam selama 30 menit. Parameter yang diamati pada penelitian ini yaitu derajat infestasi Argulus yang menempel pada ikan mas, kerusakan organ Argulus dan nilai kualitas air pada awal dan akhir perendaman sebagai parameter pendukung. Data derajat infestasi Argulus pada ikan mas dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA 5% yang dilanjutkan dengan uji DMRT 5% sedangkan kerusakan organ Argulus dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk gambar dan tabel serta dihubungkan dengan parameter pendukung. Hasil penelitian menujukkan bahwa perendaman abate tidak efektif untuk menurunkan derajat infestasi menginfestasi ikan mas (C. carpio), akan tetapi dapat menimbulkan kerusakan organ Argulus pada perlakuan 100 ppm. Kerusakan organ Argulus yang ditimbulkan yaitu rontoknya kaki ke-3 dan 4, abdomen yang menyatu serta produksi telur prematur. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan meningkatkan dosis abate (lebih dari 100 ppm) serta waktu inkubasi yang lebih lama (lebih dari 30 menit). Selain itu perlu diamati perubahan fisiologis ikan selama dilakukan perendaman dalam abate.
Maulida Rosa Umainana, Ahmad Shofy Mubarak, Endang Dewi Masithah
Journal of Aquaculture and Fish Health, Volume 8, pp 1-7; doi:10.20473/jafh.v8i1.11219

Abstract:Chlorella sp. adalah salah satu pakan alami dalam pembenihan ikan laut karena kandungan protein yang tinggi dan mudah dicerna. Nutrien makro dan mikro dalam media kultur Chlorella sp. sangat penting untuk mendapatkan nilai produktivitas kultur yang tinggi sehingga dapat memenuhi kebutuhan nutrien dari Chlorella sp. Sesbania grandiflora merupakan kelompok tanaman legum memiliki kemampuan bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium leguminoserum yang mampu mengikat unsur nitrogen dari udara. Kandungan unsur kimia dalam S. grandiflora secara kualitatif dan kuantitatif dapat memenuhi kebutuhan unsur makro dan mikro yang sangat penting bagi pertumbuhan Chlorella sp. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk S. grandiflora terhadap populasi Chlorella sp. dan konsentrasi optimal pupuk S. grandiflora pada kultur Chlorella sp. Metode penelitian ini adalah eksperimental, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Parameter utama dalam penelitian ini yaitu kandungan populasi Chlorella sp., sedangkan parameter penunjang dalam penelitian ini terdiri dari: kualitas air medium. Hasil penelitian menunjukkan dosis pupuk Sesbania grandiflora yang menghasilkan populasi tertinggi adalah perlakuan K (10,5x105 sel/ml) yang terjadi pada pada hari kesepuluh diikuti oleh perlakuan B (10,4x105 sel/ml) dan perlakuan C (9,5x105 sel/ml) yang terjadi pada hari kesepuluh.