Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat

Journal Information
ISSN / EISSN : 2407-0556 / 2599-3267
Total articles ≅ 111
Filter:

Latest articles in this journal

Yohanes Hasiholan Tampubolon, Dreitsohn Franklyn Purba
Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat, Volume 9, pp 83-104; https://doi.org/10.33550/sd.v9i1.265

Abstract:
Di tengah konteks kerusakan lingkungan, perdebatan mengenai definisi dan konsep etika lingkungan seakan tidak menemui jalan akhir. Tulisan ini bertujuan untuk menilai dampak etika lingkungan terhadap kerusakan lingkungan. Melalui metode library research dengan pendekatan narrative review, penulis menemukan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berasal dari etika buruk seseorang, namun juga berasal dari faktor lain, yakni kapitalisme global. Kapitalisme, sebagai cara produksi dan konsumsi, adalah aktor utama kerusakan lingkungan. Hal ini tidak berarti perilaku merusak yang dilakukan manusia tidak perlu dikutuk secara moral, namun yang perlu dihindari adalah kecenderungan moralisme, yakni menganggap persoalan lingkungan hanya dapat diselesaikan dengan menghasilkan gagasan etika lingkungan yang bersahabat dengan seluruh alam.
Muhamad Ali
Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat, Volume 9; https://doi.org/10.33550/sd.v9i1.313

Abstract:
Agama, dalam arti luas, sebagai sumber etika dan spiritualitas, tidak lagi dipandang sebelah mata oleh kaum terpelajar dan pengambil kebijakan publik. Hal ini diperlihatkan dengan adanya “desekularisasi” sebagai proses menghidupkan kembali nilai-nilai sakral di dunia yang dianggap sekuler. Selain aliran kebatinan atau kepercayaan seperti di Indonesia, di mana ada pengaruh kuat negara dan masyarakat penganut agama-agama dunia, sebagian besar penduduk bumi terus mencari spiritualitas meskipun tanpa agama formal.
Samuel Vincenzo Jonathan, Albertus Harsawibawa
Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat, Volume 9, pp 5-28; https://doi.org/10.33550/sd.v9i1.289

Abstract:
Sekularisme adalah suatu kondisi zaman yang kita hidupi saat ini. Ia memberikan kesadaran kepada masyarakat global bahwa pada kenyataannya yang ada di dunia ini hanyalah yang imanen—tidak ada Tuhan dan semacamnya. Lantas, teisme dianggap hanyalah sebagai salah satu opsi yang ada dari berbagai opsi lainnya: ateisme bahkan menjadi lebih menarik untuk direngkuh. Umumnya, seorang teis akan merespons dengan menunjukkan kemasukakalan dari teisme melalui argumentasi positif bagi keberadaan Tuhan. Penulis menolaknya dan menawarkan pendekatan dari epistemologi Reformed bagi masalah tersebut. Epistemologi Reformed adalah satu tesis soal bagaimana seseorang mengetahui Tuhan dan melaluinya penulis memandang sekularisme merupa sebagai apa yang ia anggap sebagai lingkungan kognitif. Sebagai suatu lingkungan kognitif yang mencegah “subjek penahu” untuk mengetahui Tuhan, penulis menunjukkan bahwa respons yang tepat terhadap sekularisme adalah mengikutsertakan “subjek penahu” ke dalam liturgi. Dengan demikian, liturgi dapat dipahami juga sebagai suatu tindak yang memiliki dimensi epistemik yang memampukan seseorang untuk dapat mengetahui Tuhan.
Andreas Maurenis Putra
Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat, Volume 9, pp 105-125; https://doi.org/10.33550/sd.v9i1.292

Abstract:
Refleksi teologis ini hendak memberi pesan bagi orang Kristen dengan menelaah korupsi berdasarkan Injil Matius 6: 11 di tengah menjamurnya korupsi di Indonesia. Melalui metode kepustakaan, artikel ini menemukan bahwa Matius 6: 11 menentang korupsi sebab korupsi merupakan bentuk ketidakpedulian merawat iman sosial yang diwariskan Yesus, yaitu sikap sadar dan peduli pada kebutuhan sesama sebagaimana tercermin dalam seruan “makanan kami” dan “secukupnya”. Berdasarkan temuan tersebut, artikel ini sampai pada alternatif solusi, yaitu menggalang pendidikan antikorupsi secara informal dan formal. Secara informal, orang tua diajak untuk membangun teladan hidup jujur sebagai habitus keluarga dan menjadikan rumah sebagai sekolah iman. Secara formal, perlu dilakukan integrasi nilai-nilai antikorupsi ke dalam sejumlah mata pelajaran atau mata kuliah (pendekatan inklusif) dan menjadikan pendidikan antikorupsi sebagai mata pelajaran muatan lokal atau mata kuliah tersendiri (pendekatan eksklusif).
Yusuf Ratu Agung, Mohammad Mahpur, Moh Zawawi
Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat, Volume 9, pp 29-53; https://doi.org/10.33550/sd.v9i1.296

Abstract:
Pluralisme sebagai suatu praktik menjadi pengalaman yang unik, khususnya dalam perjumpaan lintas-agama. Di antara pengalaman itu, pelaku kebatinan (mysticism) sudah memiliki praktik yang langsung mengapresiasi perbedaan dalam setiap momen tanpa menimbulkan sensitivitas perbedaan keimanan. Tulisan ini bertujuan menyajikan praktik pluralisme yang baik di luar agama resmi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif-fenomenologis. Partisipan penelitian terdiri dari tujuh orang perwakilan penganut Paguyuban Sumarah di Malang Raya, Jawa Timur. Teknik penggalian data dilakukan dengan cara wawancara, diskusi kelompok terfokus, dan observasi. Analisis data menggunakan teknik kategorisasi tematik fenomenologis. Terdapat dua temuan utama dalam penelitian ini. Pertama, narasi pluralisme pelaku Sumarah menekankan pada kesadaran ketuhanan melampaui ekspresi simbol, dogma, dan syariat agama sebagai hak prerogatif masing-masing agama. Kedua, Sumarah menerima secara terbuka kesadaran ketuhanan sebagai kesadaran utuh dan cerminan mental pluralisme. Implikasinya, hubungan agama-agama yang saling mengapresiasi menjadi lebih bermakna ketika seseorang bertransformasi ke dalam kesadaran pencerahan.
Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat, Volume 9, pp 55-81; https://doi.org/10.33550/sd.v9i1.301

Abstract:
Dalam melihat hubungan antara perang dan agama, setidaknya terdapat tiga posisi etis yang populer, yaitu perang suci, pasifisme, dan perang yang adil. Ketiga posisi etis ini sama-sama memiliki perwujudannya, baik dalam Kitab Suci dan sejarah gereja, bersandar pada logika tersendiri, serta menghasilkan ketidakcukupan pada dirinya sendiri. Artikel ini berusaha mengupas ketiga posisi etis tersebut untuk memberi wawasan bagi orang Kristen mengenai pemikiran kristiani terhadap perang. Dengan menggunakan pendekatan etika normatif, artikel ini menyimpulkan bahwa posisi pasifisme dan perang yang adil merupakan opsi yang dapat diambil. Lebih jauh lagi, kedua posisi tersebut tidak saling menegasi satu dengan yang lain, melainkan secara komplementer mengisi ketidakcukupan atas pertanyaan etis mengenai perang pada kedua posisi etis tersebut.
Carmia Margaret, David Alinurdin
Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat, Volume 8, pp 229-245; https://doi.org/10.33550/sd.v8i2.251

Abstract:
Beberapa diskusi kekinian tentang realitas ruang virtual menunjukkan bahwa ruang virtual dapat memediasi kehadiran antarsubjek dan menciptakan relasi yang bermakna. Artikel ini hendak menguji realisasi gagasan ini pada sebuah ruang komunikasi virtual bernama Clubhouse yang sempat marak menjadi perbincangan. Clubhouse merupakan aplikasi media sosial yang memungkinkan pengguna untuk terkoneksi secara langsung hanya melalui medium suara serta tanpa teks, gambar, foto, atau video. Awalnya, Clubhouse dibuka hanya untuk pengguna yang memiliki akses undangan dari pengguna sebelumnya. Akan tetapi, belakangan aplikasi ini dapat diakses secara bebas oleh seluruh pengguna internet tanpa undangan. Jika aplikasi Clubhouse dibaca sebagai sebuah “teks kultural,” akan ditemukan nilai-nilai yang bersinggungan dengan nilai-nilai Injil, yaitu tentang eksklusivitas dan inklusivitas, serta unsur memberi diri dalam sebuah relasi. Melaluipembacaan ini, Clubhouse dinilai dapat dijadikan salah satu alternatif ruang menjalin relasi, jika penggunaannya diimbangi dengan penciptaan konteks atau kondisi yang memastikan pengguna menyadari dan mengupayakan kesengajaan akan keberadaan dirinya; serta mengoptimalkan pemenuhan gambaran mental melalui ragam jejak kehadiran.
Tony Wiyaret Fangidae
Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat, Volume 8, pp 141-157; https://doi.org/10.33550/sd.v8i2.244

Abstract:
Artikel ini mendiskusikan teks-teks perang dalam Kitab Suci Ibrani yang digunakan untuk keabsahan perang dalam bentuk aktual. Keprihatinan ini dibahas secara khusus dengan merujuk kepada teks-teks yang menarasikan perang dalam Kitab Suci Ibrani (Keluaran 14: 13-14, 15: 3) yang dimanfaatkan demi kepentingan peperangan dan mengatasnamakan Allah. Penggunaan teks Kitab Suci dan keterlibatan Allah dalam perang menggeser paradigma perang, dari sekadar perang menjadi perang suci. Artikel ini berfokus pada diskursus perang dalam Kitab Suci Ibrani, lalu menarik sejumlah kesimpulan yang mampu membantu pembaca memahami polemik keterhubungan Kitab Suci Ibrani dan perang. Artikel ini ditutup dengan pernyataan bahwa teks perang dalam Kitab Suci Ibrani berkapasitas untuk mendekonstruksi paradigma perang sekaligus mampu mendorong pembaca untuk mengedepankan pembebasan dan kemerdekaan.
Jessica Novia Layantara, David Tobing
Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat, Volume 8, pp 203-228; https://doi.org/10.33550/sd.v8i2.259

Abstract:
Sebagai peristiwa traumatik, kekerasan seksual melumpuhkan identitas korban sehingga menjadikan korban kehilangan keberdayaan sebagai manusia. Namun, identitas korban-korban kekerasan seksual itu dapat dipulihkan. Pertanyaan yang ingin dijawab dalam artikel ini adalah apa yang memungkinkan, secara filosofis dan teologis, pemulihan atau perubahan identitas korban (victim) menjadi identitas penyintas tertebus (redeemed survivor). Artikel ini akan berupaya menjawab pertanyaan tersebut dari sudut pandang filsafat Paul Ricoeur mengenai identitas naratif sebagai kerangka (form) dan teologi Miroslav Volf mengenai ingatan kudus (sacred memory) dalam sejarah keselamatan sebagai isi (matter) dari identitas penyintas tertebus. Tesis dalam artikel ini adalah pemulihan atau perubahan identitas korban menjadi penyintas tertebus dimungkinkan melalui pemulihan identitas naratif korban yang berisi memori suci (sacred memory) dalam paradigma naratif sejarah keselamatan Kristen.
Semy Arayunedya
Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat, Volume 8, pp 135-139; https://doi.org/10.33550/sd.v8i2.272

Abstract:
Perubahan dalam paradigma keamanan tetap merupakan peluang bagi agama-agama untuk memberi dirinya berembuk urun gagasan pada urusan-urusan di bumi. Umat dan lembaga-lembaga keagamaan seyogianya terpanggil untuk ikut serta bersumbangsih pada bentang eksakta hingga humaniora maupun rentang kini hingga masa depan. Tentu tidak hanya berhenti pada menyingsingkan lengan bersama-sama ketika membantu korban bencana alam, mengatasi kemiskinan, menegakkan hak asasi manusia, atau memperjuangkan lingkungan hidup yang layak. Misi universal agama adalah juga menitikberatkan pada perkembangan diri manusia (human flourishing). Jalan ini hanya dapat dilalui dengan mengalihkan cinta akan kenikmatan (the love of pleasure), yang mana merupakan poros utama budaya saat ini, menjadi menikmati cinta (the pleasure of love).
Back to Top Top