Jurnal Konservasi Cagar Budaya

Journal Information
ISSN : 19788584
Current Publisher: Balai Konservasi Boorobudur (10.33374)
Total articles ≅ 30
Filter:

Latest articles in this journal

Ambo Asse Ajis
Jurnal Konservasi Cagar Budaya, Volume 13, pp 45-65; doi:10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i2.204

Abstract:Bandar Aceh Darussalam adalah ibukota Kerajaan Aceh Darussalam sejak intitusi pemerintahan Islam ini didirikan oleh Sultan Ali Mugahayat Syah tahun 1496 Masehi. Ketika penjajah Belanda berhasil menguasainya di Tahun 1874, ibukota ini diganti dengan nama Kutaraja. Ketika Aceh menjadi bagian Indonesia, Kutaraja berganti nama menjadi Banda Aceh pada tahun 1962. Sebagai bekas ibukota kerajaan, seluruh tanah di Bandar Aceh Darussalam tentu menyimpan deposit jejak budaya yang memiliki nilai penting bagi identitas Aceh secara khusus dan Indonesia secara umum. Meskipun demikian, karena berada dalam areal inti perkotaan Kota Banda Aceh dan sekaligus Ibukota Provinsi Aceh, potensi warisan budaya budaya tersebut sedang menghadapai ancaman yang tinggi karena terganggu akibat konflik kepentingan, baik itu atas nama kepentingan penduduk maupun kepentingan pembangunan pemerintah Kota Banda Aceh, Provinsi hingga pembangunan Nasional. Terkait dengan hal itu, tulisan ini dibuat dengan tujuan mengajukan pemikiran penangan potensi konflik dengan pendekatan cultural resource management (CRM) yang dapat diterapkan para stakeholder terkait rencana pelestarian kawasan kuno Bandar Aceh Darussalam.
Fransiska Dian Ekarini, Joni Setiyawan, Winda Diah Puspita Rini, Pramudianto Dwi Hanggoro, Ahmad Mudzakkir
Jurnal Konservasi Cagar Budaya, Volume 13, pp 80-109; doi:10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i2.227

Abstract:Kajian Stabilitas Struktur Candi Mendut ini sangat penting guna mengevaluasi kondisi stabilitas struktur bangunan Candi Mendut sehingga kelestariannya akan terjaga. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka kajian ini meliputi analisis data monitoring pengukuran kemiringan dinding candi dan kerenggangan nat batu candi, eksakavasi/penggalian arkeologi dalam rangka melihat struktur pondasi bangunan candi, melakukan pengukuran penggelembungan dinding candi, analisis daya dukung tanah halaman, dan penelusuran foto-foto lama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, pengumpulan data primer dan sekunder, focus group discussion dan analisis data. Hasil kajian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis data monitoring pengukuran kemiringan dinding didapatkan hasil bahwa terjadi pergerakan kemiringan pada titik-titik pengamatan paling besar 4 detik. Sedangkan selama periode dua tahun ini terjadi penambahan kerenggangan nat batu candi berdasarkan data crackmeter yang dipasang pada nat batu. Berdasarkan ekskavasi ternyata struktur pondasi candi hanya terdiri dari satu lapis batu dan terdapat lapisan mortar sebagai penguat tanah pondasi. Perhitungan daya dukung tanah di halaman candi menunjukkan bahwa tanah di sekitar Candi Mendut masih baik untuk mendukung bangunan candi di atasnya. Besarnya penggembungan dinding candi sisi tenggara adalah maksimal 4 mm berdasarkan hasil pengukuran menggunakan 3D Laser Scanner. Sampai dengan saat ini belum ada pedoman tentang kemiringan dinding pada bangunan candi, sehingga perlu dibuat pedoman sehingga dapat menjadi perbandingan untuk pengukuran selanjutnya. Hasil penelusuran foto-foto lama Candi Mendut menunjukkan bahwa pemugaran pertama terdiri dari beberapa tahap, tidak ditemukan adanya foto pembongkaran total candi, dan ternyata di dalam struktur kaki candi terdapat struktur bata yang belum diketahui selama ini. Untuk menganalisis kondisi stabilitas struktur khususnya Candi Mendut, tentu saja kurang valid apabila hanya dilakukan dengan data selama tahun berjalan 2018, apalagi dengan keterbatasan data-data referensi tentang pemugaran sebelumnya. Data tahun 2018 ini akan menjadi baseline atau data dasar untuk kegiatan monitoring/pemantauan ke depan sehingga bisa didapatkan data periodik dan diketahui arah perkembangan stabilitas strukturnya.
Hari Setiawan, Bambang Kasatriyanto
Jurnal Konservasi Cagar Budaya, Volume 13, pp 3-31; doi:10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i2.214

Abstract:Relief cerita pada Candi Borobudur dan Candi Mendut merupakan gambaran lingkungan Jawa Kuna abad VIII – X M. Komponen lingkungan yang digambarkan pada panil relief dan menarik untuk di kaji, salahsatunya adalah penggambaran tanaman pada relief. Tanaman merupakan salah satu elemen penting untuk menunjang kehidupan manusia pada masa lalu khususnya pada masa perkembangan Hindhu/ Buddha periode Jawa Tengah. Indentifikasi tanaman dapat dilakukan dengan pengamatan langsung. Setelah tanaman dapat diidentifikasi jenisnya maka konteks pengambaran tanaman berperan penting dalam menentukan kondisi lingkungan dimana tanaman tersebut tumbuh. Apabila di tarik pada masa kini, maka indentifikasi tanaman dan klasifikasi konteks penggambaran tanaman dapat bermanfaat dalam pelestarian lansekap budaya Kawasan Strategis Nasional Borobudur.
Pratomo Aji Krisnugrahanto
Jurnal Konservasi Cagar Budaya, Volume 13, pp 32-44; doi:10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i2.189

Abstract:Penelitian ini membahas model kepranataan Kota Pusaka dalam program P3KP di KotaSurakarta. Hal tersebut dikaji berdasarkan peran dan fungsi Kota Surakarta sebagai anggotadan promotor Kota Pusaka, serta adanya program penataan pelestarian kota pusaka (P3KP)dari Kementrian PUPR. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah belumdikembangkannya model kepranataan kota pusaka dalam pengelolaan Kawasan berbasispenataan dan pelestarian pusaka di Kota Surakarta. Hal ini dikarenakan hingga saat ini,pengelolaan masih sebatas pelestarian asset pusaka yang lebih menekankan padapengembangan aspek fisik(revitalisasi bangunan), sehingga dapat dikatakan pengelolaansecara keseluruhan belum terjadi secara optimal.
Linus Setyo Adhidhuto, Jati Kurniawan, Nur Amri Susilo, Puji Santoso, Ajar Priyanto
Jurnal Konservasi Cagar Budaya, Volume 13, pp 66-79; doi:10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i2.210

Abstract:Kegiatan konser musik atau acara lainnya yang menggunakan sound system besar sering dilaksanakan di Candi Borobudur, Candi Prambanan serta candi-candi lainnya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelestari cagar budaya akan dampak buruk suara keras yang dihasilkan oleh speaker terhadap cagar budaya. Pada kajian tahap pertama telah dilaksanakan pengukuran getaran yang timbul pada lantai dan dinding pemikul beban candi akibat terpapar suara keras ketika berlangsung konser dan acara lainnya. Pada kajian tahap kedua ini dilakukan pengukuran getaran pada komponen batu candi bagian paling atas yang tidak menerima beban di atasnya sehingga tidak ada redaman tambahan akibat beban batu lain. Selain itu juga dilakukan percobaan getaran akibat suara dengan variasi ukuran serta susunan batu untuk dapat membuktikan terjadinya fenomena resonansi getaran. Pengukuran kecepatan getaran akibat suara konser mencapai 0,0338 mm/s, masih jauh dari batas ambang getaran kejut oleh Kementerian Lingkungan Hidup sebesar 2 mm/s. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya konser musik yang berlangsung di Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Prambanan pada tahun 2017 dan 2018 tidak menimbulkan getaran yang berbahaya bagi struktur candi, baik itu getaran pada lantai, komponen pemikul beban dan batu teratas. Fenomena resonansi batu pada frekuensi naturalnya bisa terjadi dengan pertimbangan bahwa batu berukuran kecil dan ringan, memiliki frekuensi natural yang rendah dalam rentang audiosonik, serta diapit batu lain dengan frekuensi natural yang mirip. Dari hasil kajian ini juga ditetapkan batas intensitas suara di depan speaker pada titik-titik yang sering digunakan sebagai panggung. Penetapan batas ambang ini didasarkan pada kesehatan manusia yang berada di lingkungan candi, mengingat kecilnya dampak suara terhadap bangunan dan struktur cagar budaya berbahan batu.
Moh Habibi, Dimas Arif Primanda Aji, Rifqi Kurniadi Suryanto, Riyanto Prasetiya Lambang, Arif Gunawan
Jurnal Konservasi Cagar Budaya, Volume 13, pp 3-11; doi:10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i1.216

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan menthol sebagai bahan konsolidasi sementara cagar budaya pada temuan ekskavasi yang rapuh. Pengujian yang dilakukan meliputi karakteristik morfologi menthol, penetrasi kering dan basah menthol pada ketiga jenis sampel (Arang, Bata, Batu), durabilitas konsolidasi sementara menthol pada sampel, dan kuat tekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses solidifikasi menthol dimulai pada bagian tepi dan membentuk bentukan seperti jarum (whisker). Penetrasi menthol pada sampel sangat dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran partikel sampel serta kandungan air yang terdapat pada sampel. Untuk pengujian durabilitas, pengaruh suhu sangat besar terhadap durabilitas konsolidasi menthol. Semakin tinggi suhu lingkungan, maka semakin cepat pula proses sublimasi menthol. Hasil uji kuat tekan sangat dipengaruhi oleh ukuran partikel sampel, semakin kecil ukuran partikel sampel yang terkonsolidasi menthol, maka semakin tinggi pula nilai kuat tekan yang dihasilkan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa menthol dapat digunakan sebagai bahan konsolidan sementara cagar budaya arang. This study aims to determine the effectiveness of the use of menthol as temporary consolidant for fragile heritage findings on the excavation site. Test includes morphological characteristic of menthol, dray and wet penetration of menthol to three type of sample (charcoal, stone, and brick), durability, and compressive strength. The results show that the menthol solidification process starts at the edges and forms a shape like whiskers. Menthol penetration is strongly influenced by the shape and size of the sample and also water content in the samples. For durability testing, the effect of temperature is very significant on the durability of menthol consolidation. The higher the temperature, the faster the menthol sublimation process will be. Whereas for compressive strength is highly influenced by particle size of the consolidated sample, the smaller consolidated sample the higher compressive strength produced. From this study it can be concluded that menthol can be used as a temporary consolidant material for the fragile heritage findings.
Leliek Agung Haldoko, Wahyudi Wahyudi, Basuki Rachmat, Al Widyo Purwoko
Jurnal Konservasi Cagar Budaya, Volume 13, pp 25-40; doi:10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i1.203

Abstract:Candi Borobudur merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang juga telah diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia. Pada pemugaran kedua (1973-1983) telah dibuat sistem drainase untuk menyalurkan air melalui pipa-pipa yang berada dalam tubuh candi hingga ke bak kontrol dan berakhir pada sumur peresapan. Kondisi sistem drainase Candi Borobudur tentunya akan mengalami penurunan fungsi seiring berjalannya waktu. Hasil kajian menunjukkan saluran filter layer terdapat banyak endapan tanah/pasir yang menghambat aliran air keluarnya air dari dalam bukit Candi Borobudur. Akan tetapi endapan material pada saluran filter layer bukan berasal dari tanah bukit tetapi dari endapan pada saluran drainase bawah lantai yang terbawa masuk. Selain itu sebagian besar filter layer dalam kondisi rusak dan beberapa yang lain belum dapat diidentifikasi kondisinya. Meskipun filter layer dalam kondisi rusak tetapi fungsinya sebagai lapisan penyaring masih bekerja baik. Endapan tanah/pasir pada saluran drainase bawah lantai akan mengganggu kelancaran aliran air pada saluran ini yang dikarenakan posisi dasar saluran drainase menjadi lebih tinggi dan membuat dasar saluran menjadi rata/ kemiringannya berkurang. Pada saluran drainase halaman-lereng, tidak adanya aliran air yang terukur pada saluran drainase Selatan 2 (S2) dan Timur (T) mengindikasikan adanya permasalahan pada kedua saluran drainase tersebut yaitu terjadinya kebocoran saluran. Untuk mengoptimalkan monitoring geohidrologi dilakukan perubahan metode monitoring filter layer dari yang sebelumnya dengan mengukur debit dan kekeruhan air yang keluar dari bukit dan melewati filter layer, menjadi monitoring menggunakan videoscope untuk mengamati gambaran visual filter layer. Selain itu menghentikan monitoring muka air tanah melalui pipa inklinometer karena sebagian besar pipa inklinometer memiliki ujung bawah pipa tertutup sehingga data yang didapatkan tidak valid. Pada akhirnya dari data-data yang didapatkan, kecil kemungkinan airtanah bukit Candi Borobudur akan meluap dan menekan struktur Candi Borobudur. Borobudur Temple is one of Indonesia’s cultural heritage site that has been enlisted as World Heritage. In its second restoration (1973-1983), new drainage system was installed to flow water using concrete pipes inside the temple structure to control tank, to be directed to infiltration well. Over time, the efficiency of this system is decreasing. The study shows that filter layer channels contain much soil/sand sediments that clog the water running outside from the temple structure. The sediments come not from hill soil, but was carried to the channel from under the temple floor. Some filter layers are confirmed to be damaged, while others are still unidentified. However, the damaged filter layers still function well. The soil/sand sediments on drainage channel under the floor would disturb the flow of the water because the elevation for water to be able to run off would be compromised. In the...
Yohanes Khrisna Hadi Putra
Jurnal Konservasi Cagar Budaya, Volume 13, pp 41-54; doi:10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i1.196

Abstract:Bangunan G.P.I.B. Semarang yang lebih dikenal dengan Gereja Blenduk memiliki dua elemen penting pembentuk karakter bangunan, yakni atap kubah dan denah oktagonal. Atap dan denah adalah karakter penting pembentuk arsitektur bangunan. Perubahan bentuk dan bahan dua elemen tersebut pada Gereja Blenduk telah mengindikasikan adanya proses memahami lingkungan tropis pada era kolonial (abad ke-18 sampai ke-19), secara spesifik di Kota Lama Semarang. Melalui pendekatan arkeologi bangunan, penulis hendak mengungkap asal-usul bentuk dua elemen tersebut dan kontribusinya terhadap nilai penting Gereja Blenduk. The G.P.I.B. Semarang building, better known as the Blenduk Church, has two important elements that defining building character, a dome roof and octagonal plan. Roof and plan are important character shaped building architecture, The changes in shape and material of the two elements at Blenduk Church, have indicated the process of understanding tropical environment in the colonial era (18th -19th century), specifically on Semarang old town. Through the building archeology approach, the author wants to reveal the origin of the two elements form, and their contribution to the significant value of Blenduk Church.
Panggah Ardiyansyah
Jurnal Konservasi Cagar Budaya, Volume 13, pp 55-82; doi:10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i1.211

Abstract:Penetapan kawasan Borobudur sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 286/M/2014 tentang Satuan Ruang Geografis Borobudur sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional sayangnya masih belum didahului dengan kajian yang mendalam tentang situs-situs selain Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Pawon yang termasuk didalam zonasi yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya (KCB) Borobudur. Tujuan tulisan ini adalah untuk mendiskusikan nilai penting situs-situs di KCB dengan ruang lingkupnya adalah Lokasi Yoni Brongsongan, Lokasi Candi Dipan, Lokasi Candi Bowongan, Lokasi Candi Samberan, Lokasi Yoni di Plandi, dan Lokasi Makam Belanda (Kerkhoff) Bojong di Mendut. Metode pengkajian dilakukan melalui pengumpulan data historis dan arkeologis, penempatan data-data tersebut dalam konteksnya masing-masing, dan komparasi dengan situs serupa apabila diperlukan. Hasil analisis menunjukan kehadiran nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, agama dan kebudayaan. Keberadaan nilai penting ini memberikan keterkaitan antara nilai penting kawasan Borobudur dalam level internasioal, nasional dan lokal, sehingga pelestariannya perlu memperhatikan suara masyarakat lokal di kawasan Borobudur. The designation of Borobudur landscape as a National Cultural Area by the Decree of Minister of Education and Culture Number 286/M/2014 regarding Geographical Boundaries of Borobudur as National Cultural Area (hereafter KCB Borobudur) was not preceded by in-depth study on sites other than Borobudur Temple, Mendut Temple and Pawon Temple. The objective of this paper is to discuss and analyze the significance of each site within KCB Borobudur. The paper’s scope includes Yoni Brongsongan, Dipan Temple, Bowongan Temple, Samberan Temple, Yoni Plandi, and Dutch Cemeteries (Kerkhoff) Bojong in Mendut, which are included in KCB Borobudur. The methodology includes collecting data, giving contexts to each data set, and comparing to other similar sites if required. The analysis shows the significance of the sites for history, sciences, religions, and culture. These statements correlate the significance of Borobudur area in international, national, dan local levels, thus giving emphasis on the need to include local voices in the preservation of KCB Borobudur.
Isni Wahyuningsih, Sri Sularsih, Siti Yuanisa, Iwan Kurnianto, Yudhi Atmadja Hendra Purnama
Jurnal Konservasi Cagar Budaya, Volume 13, pp 12-24; doi:10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i1.215

Abstract:Naskah-naskah kuno masih banyak dijumpai di Nusantara, antara lain naskah Ka Ga Nga, yang tersebar di daerah Jambi, Lampung, Bengkulu, dan Palembang. Naskah-naskah kuno tersebut dimiliki oleh pemerintah maupun oleh masyarakat adat setempat. Pada beberapa naskah Ka Ga Nga tersebut ditengarai terdapat unsur yang mengandung informasi praktekpraktek konservasi. Kajian Konservasi Tradisional Berdasarkan Naskah Ka Ga Nga ini bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang praktek-praktek konservasi yang dimuat dalam naskah kuno yang hingga sekarang masih dilakukan masyarakat adat di daerah Sumatra. Langkah-langkah yang dilakukan dalam kajian ini adalah telaah kepustakaan dengan mengambil sampel naskah yang sudah diterjemahkan, mengkaji lembaran naskah yang kemungkinan mengandung muatan konservasi tradisional, wawancara dengan narasumber dan tokoh masyarakat serta mengamati kegiatan yang berhubungan dengan konservasi yang masih dilakukan masyarakat pada saat ini. Harapan dari kajian ini adalah mendapatkan apresiasi tentang kegiatan konservasi yang ditulis dalam naskah Ka Ga Nga, yang dapat menjadi bahan alternatif konservasi tradisional untuk pelestarian cagar budaya. Ancient manuscripts are still commonly found in Nusantara (Indonesian Archipelago), including Ka Ga Nga manuscript, which is spread in Jambi, Lampung, Bengkulu and Palembang. These ancient manuscripts are owned by the government as well as by the local indigenous people. In some of Ka Ga Nga texts, it is suspected that there are elements that contain information on conservation practices. Traditional Conservation Study Based on Ka Ga Nga Manuscripts aims to gain knowledge about conservation practices contained in the ancient manuscripts that are still carried out by indigenous people in Sumatra region. The steps taken in this study are literature review by taking a sample of the manuscript that has been translated, reviewing the manuscripts that might contain traditional conservation content, interviewing informants and community leaders and observing conservation related activities that are still being carried out by the community at this time. The hope of this study is to get about conservation activities written in Ka Ga Nga text, which can be used for alternative material of traditional conservation for preservation of cultural heritage.