Journal of Nutrition College

Journal Information
ISSN / EISSN : 23376236 / 2622884X
Current Publisher: Diponegoro University (10.14710)
Total articles ≅ 132
Filter:

Latest articles in this journal

Ocka Febrian Mumpuni, Reza Achmad Maulana, Fitriyono Ayustaningwarno, Binar Panunggal, Gemala Anjani
Journal of Nutrition College, Volume 9, pp 147-153; doi:10.14710/jnc.v9i2.27514

Abstract:
Latar belakang: Kefir menjadi media fortifikasi zat gizi yang tepat karena memiliki zat enkapsulasi alami yaitu kefiran. Penambahan vitamin B12 dan vitamin D3 untuk mencegah kekurangan vitamin B12 dan D3 pada keadaan resistensi insulin serta meningkatkan mutu gizi kefir susu kambing.Tujuan: Mengetahui adanya pengaruh waktu fortifikasi vitamin B12, vitamin D3 pada mutu gizi kefir susu kambing.Metode: Penelitian ini menggunakan fortifikan vitamin B12 dan D3 dengan penambahan fortifikan pada jam ke-0, ke-6, ke-12, ke-18 dan ke-24.Hasil:Fortifikasi vitamin B12 dan D3 pada kefir susu kambing antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan signifikan beda nyata pada kadar vitamin D3 (p=0,000) kadar protein (p=0,030), dan kadar serat (p=0,000), diikuti hasil konsentrasi pH (p=0,008), diikuti oleh kadar konsentrasi vitamin B12 (p=0,165), viskositas (p=0,646) dan lemak (p=0,265)Simpulan: Fortifikasi vitamin B12 dan D3 pada kefir susu kambing mendapatkan tingkat kadar optimum terjadi pada fortifikasi vitamin B12 dan D3 pada kelompok perlakuan jam ke-12.
Elvera Juwita, Susilowati Susilowati, Novie E Mauliku, Dyan K Nugrahaeni
Journal of Nutrition College, Volume 9, pp 87-93; doi:10.14710/jnc.v9i2.26119

Abstract:
Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolik yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi penyakit seperti kardiovaskular, retinopatik, gangren, kerusakan ginjal dan neuropati. Dari 34 Provinsi di Indonesia, Jawa Barat menduduki peringkat tertinggi mencapai 186.809 orang penderita DM. Dilihat dari segi ekonomi pembiayaan kesehatan akibat diabetes, beban biaya langsung medis penderita rawat jalan yang yang ditanggung setiap tahunnya kurang lebih telah mencapai 1.349.126 ribu rupiah. Hal ini akan membebani indonesia, penderita, dan keluarga. DM tidak dapat disembuhkan tetapi kadar gula darah dapat dikendalikan melalui aktivitas fisik, diet, dan obat-obatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kadar gula darah pada pasien DM tipe 2 di PROLANIS Kecamatan Cimahi Tengah.Metode: Desain penelitian menggunakan studi potong lintang dengan 52 sampel. Teknik pengumpulan data menggunakan total sampling. Analisis data yang digunakan adalah univariat untuk melihat distribusi frekuensi, bivariat dengan menggunakan uji Kolerasi Spearman, dan multivariat untuk melihat faktor dominan yang berpengaruh menggunakan uji Regresi Logistik Ganda.Hasil: Hasil analisis terdapat hubungan antara aktivitas fisik (p=0,019, r=-0,323), asupan karbohidrat (p=0,001, r=0,627), kepatuhan minum obat (0,009, r=-0,798) dengan kadar gula darah dan tidak terdapat hubungan antara indeks masa tubuh (p=0,778, r=0,040) dan tidak terdapat hubungan antara lingkar pinggang (p=0,187, r=0,186) dengan kadar gula darah. Simpulan: Kepatuhan minum obat merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kadar gula darah (p=0,017, OR=24,956).
Intan Permata Hati, Bhakti Etza Setiani, Valentinus Priyo Bintoro
Journal of Nutrition College, Volume 9, pp 100-105; doi:10.14710/jnc.v9i2.27023

Abstract:
Latar Belakang: Cookies banyak disukai berbagai kalangan karena rasanya yang manis dan praktis, namun cookies yang beredar di pasaran mengandung serat dan protein rendah. Maka dari itu, dibutuhkan bahan lokal untuk meningkatkan serat dan protein cookies. Bekatul dan kacang merah merupakan bahan lokal yang dapat dijadikan alternatif sebagai bahan baku cookies, namun bahan lokal tersebut memiliki masa simpan pendek, sehingga perlu dijadikan bahan setengah jadi, yaitu tepung. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung komposit terigu, bekatul, dan kacang merah pada kualitas kimia cookies. Kualitas kimia pada cookies yang diamati adalah serat kasar, protein, abu, dan aktivitas antioksidan. Metode: Rancangan percobaan menggunakan 4 perlakuan Terigu : Tepung BKM (Bekatul Kacang Merah), yaitu perlakuan 1 (T1) 90%:10% (b/b), perlakuan 2 (T2) 85%:15% (b/b), perlakuan 3 (T3) 80%:20% (b/b), dan perlakuan 4 (T4) 75%:25% (b/b). masing-masing perlakuan dilakukan 5 kali ulangan. Data serat kasar, protein, dan abu dianalisis dengan ANOVA (p
Asweros Umbu Zogara, Maria Goreti Pantaleon, Meirina Sulastri Loaloka, Juni Gressilda Louisa Sine
Journal of Nutrition College, Volume 9, pp 114-120; doi:10.14710/jnc.v9i2.27384

Abstract:
Latar Belakang: Stunting menggambarkan kegagalan pertumbuhan dan sering ditemui pada anak sekolah. Stunting dapat menurunkan kualitas generasi di masa mendatang. Anak stunting perlu diberikan sarapan agar dapat fokus pada pelajaran dan beraktivitas optimal di sekolah. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis beda asupan zat gizi makro dan mikro saat sarapan pada siswa sekolah dasar stunting dan tidak stunting di Kota Kupang. Metode: Desain case control diterapkan dalam studi ini. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2019 di SD Inpres Maulafa dan SD Negeri Kelapa Lima, Kota Kupang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah asupan zat gizi, meliputi karbohidrat, protein, lemak, zat besi, seng, vitamin A, dan kalsium, sedangkan variabel terikat, yaitu stunting. Asupan zat gizi dikumpulkan menggunakan form food recall 1x24 jam dan status stunting ditentukan dengan melakukan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise kemudian dihitung menggunakan indikator TB/U. Sampel penelitian adalah siswa kelas 5 dengan jumlah 58 siswa stunting dan 58 siswa tidak stunting yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling dan diuji dengan independent t-test. Hasil: Lebih banyak responden berjenis kelamin perempuan yang stunting (58,6%). Ada perbedaan asupan karbohidrat (p=0,022), protein (p=0,044), lemak (p=0,046), zat besi (p=0,035) dan seng (p=0,043) saat sarapan pada siswa stunting dan tidak stunting. Simpulan: Ada perbedaan asupan zat gizi makro dan mikro saat sarapan pada siswa sekolah dasar stunting dan tidak stunting di Kota Kupang.
Adriyan Pramono, Deny Yudi Fitranti, Eka Rina Rahmawati, Fitriyono Ayustaningwarno
Journal of Nutrition College, Volume 9, pp 94-99; doi:10.14710/jnc.v9i2.26970

Abstract:
Latar Belakang: Susu kedelai-jahe dapat mengandung antioksidan yang bermanfaat untuk mengendalikan kadar glukosa darah puasa. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis aktivitas antioksian dari susu kedelai-jahe dan untuk menganalisis pengaruh susu kedelai-jahe terhadap kadar glukosa darah puasa (GDP) wanita non-menopause prediabetes di kota Semarang, Indonesia. Metode: Penelitian ini diawali dengan pengembangan produk susu kedelai jahe sebagai intervensi. Aktivitas antioksidan dari susu kedelai jahe dianalisis menggunakan metode DPPH. Desain penelitian ini adalah randomized control trial (RCT) yang melibatkan 22 wanita non-menopause prediabetes (usia 42 ± 7, kadar GDP > 100 mg/dl). Subjek dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok yang diberi minuman susu kedelai (T1), susu kedelai-jahe (T2) dan kontrol (C) selama 14 hari. Hasil: Tidak terdapat perbedaan rerata kadar glukosa darah puasa (GDP) sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok kontrol, kelompok T1 dan T2 (p=0.589). Setelah intervensi, kadar GDP berbeda signifikan antar kelompok kontrol, T1 dan T2 (p=0.026). Analisis selanjutnya menunjukkan, kadar GDP kelompok T2 (bukan T1) berbeda signifikan terhadap kontrol (p=0.047) setelah dikendalikan factor kadar GDP sebelum intervensi, usia, dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Simpulan: Penambahan jahe pada minuman susu kedelai memiliki potensi dalam mengendalikan kadar GDP wanita non-menopouse yang prediabetes.
Merita Merita, Nurainun Hamzah, Djayusmantoko Djayusmantoko
Journal of Nutrition College, Volume 9, pp 81-86; doi:10.14710/jnc.v9i2.24603

Abstract:
Latar belakang: Masalah gizi yang paling sering terjadi pada remaja adalah gizi kurus dan gemuk yang disebabkan oleh persepsi body image dan kecenderungan gangguan makanTujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan persepsi citra tubuh dan kecenderungan gangguan makan dengan status gizi pada remaja putri di SMA Kota Jambi Tahun 2019.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study yang dilaksanakan di 10 SMA Kota Jambi pada bulan Maret - Mei Tahun 2019. Sampel yang digunakan sebanyak 384 remaja putri dengan tehnik cluster random sampling. Pengumpulan data mengunakan alat bantu yaitu Kuesioner BSQ-16 untuk persepsi citra tubuh, Eat-26 untuk kecenderungan gangguan makan, timbangan berat badan dan microtoice untuk pengukuran status gizi indikator IMT/U. Analisis dilakukan dengan analisis univariat dan analisis bivariat (spearman correlation test)Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden memiliki status gizi normal (83,1%), body image positif (64,6%), dan sebanyak (82,8%) remaja putri tidak memiliki gejala gangguan makan. Analisis korelasi menunjukkan ada hubungan persepsi citra tubuh dengan status gizi indikator IMT/U (p=0,000; r=0,443), namun tidak ada hubungan kecenderungan ganguan makan dengan status gizi indikator IMT/U (p-value 0,657).Simpulan: Dapat disimpulkan sebagian besar remaja putri memiliki body image positif dan tidak memiliki kecenderungan gangguan makan serta status gizi tergolong normal. Oleh karena itu remaja putri harus percaya diri pada kondisi tubuh sekarang agar tidak berujung gangguan makan dan menyebabkan masalah gizi
Ria Ambarwati
Journal of Nutrition College, Volume 9, pp 121-128; doi:10.14710/jnc.v9i2.27033

Abstract:
Latar Belakang: Perlu pengembangan modifikasi makanan tambahan dengan komposisi bahan berbasis F100.Tujuan: Mengetahui perbedaan kadar energi, protein dan lemak serta uji daya terima cookies berbasis F100 dengan substitusi tepung labu kuning dan tepung pisang.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen rancangan acak lengkap 1 faktorial. Konsentrasi substitusi tepung labu kuning dan tepung pisang 10%, 20%, 30% dan 0% sebagai kontrol dengan 3 kali ulangan. Kadar energi dengan menggunakan DKBM, kadar protein diuji dengan metode micro Kjeldahl dan kadar lemak dengan metode soxlet. Uji daya terima pada 25 panelis agak terlatih dan 20 balita usia 2-5 tahun. Perbedaan kadar protein dan lemak diuji dengan ANOVA dan uji lanjut LSD, Tukey HSD. Uji daya terima panelis agak terlatih diuji dengan Friedman. Perbedaan kadar energi dan uji daya terima pada balita dianalisis secara deskriptif.. Hasil: Kadar energi paling tinggi pada cookies dengan subtitusi tepung labu kuning konsentrasi 10% (100,73 kkal/100 gram) dan tepung pisang konsentrasi 10% (101,23/100 gram). Ada perbedaan kadar protein dan lemak cookies dengan substitusi tepung labu kuning (p=0,000) dan substitusi tepung pisang (p=0,000). Ada perbedaan daya terima panelis terhadap rasa (p=0,046), warna (p=0,000), tekstur (p=0,007) dan tidak ada perbedaan aroma (p=0,126) cookies substitusi tepung labu kuning. Tidak perbedaan terhadap rasa (p=0,984), warna (p=0,352), tekstur (p=0,758), aroma (p=0,680) cookies substitusi tepung pisang. Lebih dari 50% balita menghabiskan cookies substitusi tepung labu kuning konsentrasi 10%, 20% dan tepung pisang konsentrasi 30%.Kesimpulan: Konsentrasi substitusi tepung labu kuning 10%, 20% dan substitusi tepung pisang 30% dapat direkomendasikan sebagai alternatif makanan tambahan.1. Nency Y, Arifin MT. Gizi Buruk, ancaman generasi yang hilang. Inovasi, 2005;5(XVII):1-4.2. Kemenkes RI.Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Kemenkes RI; 2013.3. Dinas Kesehatan Kota Semarang. Laporan Program Penanganan Komprehensif Gizi Buruk di Kota Semarang Tahun 2015. Semarang: Dinas Kesehatan Kota Semarang ;2015.4. Departemen Kesehatan RI. Pedoman pelayanan gizi buruk. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2011. 5. Departemen Kesehatan RI. Pedoman penatalaksanaan gizi buruk secara rawat jalan untuk Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan RI: 2003. 6. Dinas Kesehatan Kota Semarang. Laporan Program Penanganan Komprehensif Gizi Buruk di Kota Semarang. Semarang: Dinas Kesehatan Kota Semarang; 2016.7. Jannah EW, Sulaeman A, Fitria M, Gumilar M, Salsabila ST. Cookies tepung ubi jalar oranye, tepung kedelai, dan puree pisang sebagai pmt balita gizi kurang. Jurnal Riset Kesehatan, 2019;11(1):105–12. 8. Faridah A, Pada KS, Yulastri A, Yusuf L. PatiseriJilid 1. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan; 2008.p 496–515.9. Sutomo BD. Sukses Wirausaha Kue Kering. Cetakan V. Jakarta: Kriya Pustaka; 2012. p.18. 10. Hendrasty, Krissetiana H. Tepung Labu Kuning Pembuatan dan Pemanfaatannya. Yogyakarta: Kanisius; 2003. p. 9. 11. Azhariati R. Pengaruh metode pengeringan terhadap kerusakan betakaroten mi ubi kayu yang diperkaya tepung labu kuning. Agritech. 2008;22(4):153–7. 12. Masli R. Studi pembuatan tepung pisang kepok (musa paradisiaca forma typical) sebagai bahan substitusi pembuatan roti tawar (kajian tingkat kematangan pisang kepok dan suhu pengeringan). Departemen Agroindustri Universitas Muhammadiyah Malang. Skripsi. 2010; 13. Karlin R, Rahayuni A. Potensi Yogurt Tanpa Lemak Dengan Penambahan Tepung Pisang Dan Tepung Gembili Sebagai Alternatif Menurunkan Kolesterol. Journal of Nutrition College. 2014;3(2):293–302. 14. Soekarto ST. Penelitian Organoleptik untuk Industri Pangan dan Hasil Pertanian. Jakarta: Bhatara Karya Aksara; 1985. p. 1–121.15. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Jakarta. Persatuan Ahli GiziIndonesia; 2005. 16. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputindo; 2009. 17. Riganakos KA, Kontominas MG. Effect of heat treatment on moisture sorption behavior of wheat flours using a hygrometric tehnique. Developments in Food Science. 1995;37:995–1005. 18. See EF, Wan Nadiah WA, Noor Aziah AA. Physico-chemical and sensory evaluation of breads supplemented with pumpkin flour. ASEAN Food Journal. 2007;14(2):123–30. 19. Asmaraningtyas D. Kekerasan, warna dan daya terima biskuit yang disubstitusi tepung labu kuning. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Skripsi. 2014.20. Winarno F. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2004. p 41–43.21. Utomo LIVA, Nurali E, Ludong M. Pengaruh Penambahan maizena pada Pembuatan Biskuit Gluten Free casein Berbahan Baku Tepung Pisang Goroho (Musa Acuminate). Cocos, 2017;1(2).22. Subandoro RH, Basito, Atmaka W. Pemanfaatan tepung millet kuning dan tepung ubi jalar kuning sebagai subtitusitepung terigu dalam pembuatan cookies terhadap karakteristik organoleptik dan fisikokimia. Jurnal Teknosains Pangan. 2013;2(4):68–74. 23. Yasinta UNA, Dwiloka B. Nurwantoro N. Pengaruh subtitusi tepung terigu dengan tepung pisang terhadap sifat fisikokima dan organoleptik cookies. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan. 2017;6(3):119–21. 24. Sitohang KAK, Lubis Z, Lubis LM. Pengaruh perbandingan jumlah tepung terigu dan tepung sukun dengan jenis penstabil terhadap mutu cookies sukun. Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian. 2015;3(3):308–15. 25. Lolodatu ES. Purwijatingngsih LME, Pranata F. Kualitas non flaky crackers coklat dengan variasi substitusi tepung pisang kepok kuning (musa paradisiaca forma typica). Jurnal Teknobiologi. Jurnal Teknobiologi. 2015;1–14. 26. Setyadi DA, Cahyadi W, Surahman DN. Pengaruh jenis Tepung pisang (Musa paradisiaca) dan waktu pemanggangan terhadap karakteristik banana flakes. Universitas Pasundan. Skripsi. 2017.27. Mennella JA, Bobowski NK. The sweetness and bitterness of childhood: Insights from basic research...
Etika Ratna Noer, Luthfia Dewi, Kusmiyati Dk Tjahjono, Mohammad Sulchan, Martha Ardiaria
Journal of Nutrition College, Volume 9, pp 129-133; doi:10.14710/jnc.v9i2.27487

Abstract:
Latar belakang: Penanda aterogenik dan resistensi insulin pada subjek obesitas sentral yang akurat dan aplikatif dapat menggunakan rasio TG/HDL. Penelitian sebelumnya telah banyak diteliti tentang pemeriksaan HOMA-IR pada subjek dengan resistensi insulin. Rasio LP/TB diketahui lebih unggul dalam memprediksi risiko penyakit jantung koroner dibandingkan LP saja karena rasio ini merupakan indeks yang stabil pada ras, umur, dan jenis kelamin berbeda. Saat ini penelitian tentang hubungan rasio LP/TB dengan rasio TG/HDL pada subjek remaja obes masih terbatas.Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan rasio LP/TB dengan rasio TG/HDL pada remajadengan obesitas sentral.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di Universitas Diponegoro, Semarang. Kriteria inklusi meliputi, remaja perempuan atau laki-laki, berusia 19-20 tahun,memiliki IMT > 25kg/m2 dan lingkar pingang >80cm untuk perempuan dan >90 cm untuk laki-laki. Berat badan menggunakan alat bio impedance analyzer. LP diukur menggunakan pita metlin statis. Pengambilan sampel darah untuk TG dan HDL melalui vena, setelah puasa semalam (10 jam) kemudian diuji menggunakan autoanalyzer. Data dianalisis menggunakan uji Pearson dan Spearman rank test.Hasil: Kami menganalisis pada 56 remaja dengan obesitas sentral. Rerata LP (88,9 ± 8,67cm), kadar TG (105 ± 56,62mg/dL), HDL-c (45,3 ± 12,61mg/dL), rasio LP/TB (0,55 ± 0,04), rasio TG/HDL 2,3 ± 1,42). Ada hubungan signifikan antara rasio LP/TB dengan TG/HGL (r=0,386; p=0,003)Simpulan: Rasio LP/TB tinggi berkorelasi dengan peningkatan rasio TG/HDL-C pada remaja dengan obesitas sentral dan dapat digunakan sebagai penanda awal resiko metabolik
Ariana Endrinikapoulos, Aryu Candra, Hartanti Sandi Wijayanti, Etika Ratna Noer
Journal of Nutrition College, Volume 9, pp 134-146; doi:10.14710/jnc.v9i2.27501

Abstract:
Latar belakang: Penurunan fungsi sel otak pada lansia berdampak pada terjadinya penurunan daya berpikir dan kehidupan psikis, sosial, dan aktivitas fisik. Kebutuhan zat besi yang tercukupi memiliki dampak positif pada fungsi kognitif lansia.Tujuan:Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh suplementasi zat besi terhadap fungsi kognitif lansia.Metode: Metode penelitian ini adalah quasi experimental dengan rancangan pre-post control group design. Subjek penelitian adalah 26 lansia usia 60-77 tahun yang dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Suplemen zat besi berupa NaFe EDTA diberikan pada kelompok perlakuan sebanyak 1 tablet (15 mg) selama 10 minggu, sedangkan kelompok kontrol diberikan plasebo. Penilaian fungsi kognitif dilakukan menggunakan instrumen kuesioner Mini-Mental State Examination (MMSE) yang dilakukan pada sebelum dan sesudah intervensi. Asupan makan subjek selama intervensi diperoleh dengan metode 24 jam food recall 1x/minggu selama intervensi. Pengukuran kadar hemoglobin dilakukan menggunakan alat Hb-meter. Penilaian aktivitas fisik dilakukan menggunakan kuesioner Physical Activity Scale for Elderly (PASE). Penilaian kualitas tidur dilakukan menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon, independent sample t-test, dan Mann Whitney.Hasil: Fungsi kognitif 1 (4%) orang subjek sebelum intervensi tergolong tidak normal. Sebanyak 7 (27%) subjek memiliki kadar hemoglobin normal sebelum intervensi. Terdapat peningkatan skor MMSE pada kelompok perlakuan (p
Dini Nugraheni, Nuryanto Nuryanto, Hartanti Sandi Wijayanti, Binar Panunggal, Ahmad Syauqy
Journal of Nutrition College, Volume 9, pp 106-113; doi:10.14710/jnc.v9i2.27126

Abstract:
Latar Belakang: Stunting merupakan gambaran dari status gizi yang kurang yang bersifat kronik. Banyak faktor yang mempengaruhi stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara riwayat inisiasi menyusu dini (IMD), riwayat ASI eksklusif, riwayat asupan energi, dan riwayat asupan protein dengan kejadian stunting pada usia 6 – 24 bulan di provinsi Jawa Tengah. Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan studi analitik observasional dengan pendekatan Cross-sectional. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder yang berasal dari survey Pemantauan Status Gizi (PSG) provinsi Jawa Tengah tahun 2017. Sejumlah 3.776 sampel yang memenuhi kriteria inklusi yaitu berusia 6-24 bulan yang terdaftar pada data PSG provinsi Jawa Tengah tahun 2017. Data PSG meliputi data berat badan, panjang lahir, status gizi, riwayat ASI eksklusif, riwayat IMD, dan riwayat asupan zat gizi pada usia 6-24 bulan. Analisis statistik dengan univariat berupa distribusi frekuensi. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antar variabel. Uji regresi logistik untuk mengetahui besar risiko pada variabel bebas dengan kejadian stunting.Hasil: Prevalensi stunting usia 6-24 bulan di Jawa Tengah sejumlah 18,5%. Faktor kejadian stunting di provinsi Jawa Tengah adalah Asupan Energi (p=0,001 OR 1,495 95%CI : 1,178 – 1,897), dan riwayat ASI Eksklusif (p=0,006 OR 1,282 95%CI : 1,076 – 1,527). Simpulan: Riwayat ASI eksklusif dan riwayat asupan energi merupakan fakor kejadian stunting pada usia 6 -24 bulan di provinsi Jawa Tengah.
Back to Top Top