Journal of Nutrition College

Journal Information
ISSN / EISSN : 2337-6236 / 2622-884X
Published by: Diponegoro University (10.14710)
Total articles ≅ 570
Filter:

Latest articles in this journal

, Cristin Wiyani, Sumarni Sumarni, Elizabeth Deta Lustiyati
Published: 29 July 2022
Journal of Nutrition College, Volume 11, pp 228-235; https://doi.org/10.14710/jnc.v11i3.31688

Abstract:
ABSTRAKLatar belakang: Prestasi belajar sebagai alat ukur perilaku, keterampilan, dan pengetahuan siswa. Kekurangan zat gizi akan menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar. Selain itu, seseorang yang tidak memiliki satu atau lebih unsur kecerdasan emosional akan menghasilkan kinerja yang buruk. Tujuan: Mengetahui hubungan usia dan jenis kelamin dengan status gizi, kecerdasan emosional, dan prestasi belajar. Tujuan selanjutnya adalah untuk mengetahui hubungan status gizi dan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar Metode: Jenis penelitian Ini adalah desain kuantitatif korelasional dengan cross sectional. Penelitian dilakukan di Yogyakarta, Indonesia. Teknik pengambilan sampel menggunakan probability proportional to size dengan simple random sampling sebanyak 117 orang. Instrumen penelitian berupa angket, timbangan digital, dan microtoise. Analisis bivariat menggunakan Kendal Tau. Hasil: Sebagian besar responden adalah laki-laki (52,1%) dan 20 tahun (55,4%). Sebagian besar berstatus gizi normal (71,8%), kecerdasan emosional baik (82,1%), dan prestasi belajar baik (47,9%). Uji bivariat umur dan jenis kelamin dengan status gizi diperoleh p=0,336 dan p=0,008. Analisis bivariat umur dan jenis kelamin dengan kecerdasan emosional diperoleh p=0,742 dan p=0,021. Analisis bivariat umur, jenis kelamin, status gizi, dan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar diperoleh p=0,215, p=0,031, p= 0,012, dan p<0,001. Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan status gizi, kecerdasan emosional, dan prestasi belajar. Status gizi dan kecerdasan emosional memiliki hubungan dengan prestasi belajar. Usia tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi, kecerdasan emosional, dan prestasi belajar siswa.  
Intan Yusuf Habibie, Arifatur Rafiqa, Diana Maghfiroh
Published: 29 July 2022
Journal of Nutrition College, Volume 11, pp 220-227; https://doi.org/10.14710/jnc.v11i3.33128

Abstract:
ABSTRAKLatar belakang: Obesitas remaja merupakan satu masalah gizi yang meningkat pesat dan telah menjadi masalah kesehatan utama. Prevalensi obesitas remaja di Indonesia pada usia 13-15 tahun sebesar 16,0% dan pada usia 16-18 tahun sebesar 13,5%. Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas dan mengevaluasi efek maupun perubahan yang didapat dari edukasi gizi berbasis sekolah pada remaja dalam pencegahan dan manajemen obesitas di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan literature review dengan metode naratif dengan mengkaji 3 artikel berdasarkan tujuan, metode dan hasil yang disajikan pada artikel. Pencarian artikel dilakukan dengan menggunakan artikel nasional dan internasional yang ditelusuri dengan database Google Scholar, ScienceDirect, SAGE Journals, dan ProQuest. Hasil: Hasil kajian menyatakan bahwa edukasi gizi dapat meningkatkan pengetahuan terkait gizi, latihan fisik dan pengaturan makan. Selain itu edukasi gizi berbasis sekolah juga dapat meningkatkan kesadaran, sikap, self-efficacy, dan norma subjektif. Simpulan: Hal ini menunjukkan bahwa program edukasi gizi berbasis sekolah dapat efektif untuk dilaksanakan. Perlu dilakukan intervensi edukasi gizi berbasis sekolah dengan periode waktu yang lebih lama dan evaluasi tindak untuk mengamati pengaruh pada perubahan perilaku.
Nur Widyaning Rochmawati, Titis Sari Kusuma, Fiki Husna
Published: 29 July 2022
Journal of Nutrition College, Volume 11, pp 211-219; https://doi.org/10.14710/jnc.v11i3.32780

Abstract:
ABSTRAK Latar belakang: Persepsi pasien tentang pelayanan makanan dapat dilihat dari beberapa faktor yaitu kualitas makanan, ketepatan waktu, profesionalitas layanan, suhu, sikap staf yang menyajikan.Tingkat kecukupan zat gizi baik makro ataupun mikro berkaitan dengan penilaian kualitas makanan yang disajikan. Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat kepuasan makan pasien non communicable diseses dengan kecukupan gizi di rumah sakit bersertifikasi halal. Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan Cross-sectional. Data diolah menggunakan uji statistik Chi Square. Penelitian dilakukan dengan metode wawancara menggunakan panduan kuesioner kepuasan pelayanan makanan yang meliputi ketepatan waktu, variasi menu, tampilan menu, cita rasa, kebersihan dan penampilan petugas.Hasil: Tidak ada hubungan antara tingkat kepuasan pasien dengan kecukupan gizi pasien non communicable diseases di Rumah Sakit bersertifikasi halal dengan p>0,05.Hal ini dipengaruhi oleh adanya penurunan nafsu makan pada pasien. Simpulan: Tigkat kepuasan tidak berhubungan dangan kecukupan gizi pasien (Energi, Protein, Lemak dan Karbohidrat) karena nafsu makan pasien dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi klinis pasien.
Yayang Herlambang, Dewi Marfu'Ah Kurniawati, Mohammad Arif Ali
Published: 29 July 2022
Journal of Nutrition College, Volume 11, pp 182-187; https://doi.org/10.14710/jnc.v11i3.33136

Abstract:
ABSTRAKLatar Belakang: Olahraga lari jarak jauh 10 km memerlukan daya tahan tubuh dan dapat mempengaruhi sistem kardiovaskular antara lain denyut nadi dan tekanan darah, serta membutuhkan asupan cairan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jus nanas madu terhadap denyut nadi dan tekanan darah pasca lari jarak jauh 10 km. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimental design. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data pre-test dan post-test pasca melakukan lari jarak jauh 10 km pada 30 siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) dan dibagi menjadi 2 yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol di Belik Pemalang. Teknik analisis data menggunakan uji independent t test dan diolah menggunakan aplikasi spss versi 23. Hasil: Rata-rata denyut nadi pret-test pada kelompok kontrol adalah 79,93 ± 11,88 bpm dan pada kelompok nanas 81,67 ± 10,21 bpm. Rata-rata tekanan darah sistolik pre-test kelompok kontrol 129,47 ± 09,98 mm/Hg dan kelompok nanas 129,20 ± 11,36 mm/Hg. Rata-rata tekanan darah diastolik pre-test pada kelompok kontrol 79,13 ± 09,24 mm/Hg dan kelompok nanas 76,87 ± 08,94 mm/Hg. Tidak terdapat perbedaan rerata denyut nadi dan tekanan darah (diastolik dan sistolik) pretest antara kelompok kontrol dan kelompok nanas. Kemudian rata-rata denyut nadi post-test pada kelompok kontrol adalah 110,67 ± 12,69 bpm dan pada kelompok nanas 106,13 ± 10,96 bpm. Rata-rata tekanan darah sistolik post-test pada kelompok kontrol 118,80 ± 08,55 mm/Hg dan kelompok nanas 115,93 ± 07,53 mm/Hg. Rata-rata tekanan darah diastolik post-test pada kelompok kontrol 70,40 ± 06,57 mm/Hg dan kelompok nanas 69,87 ± 06,96 mm/Hg. Tidak ada perbedaan rerata denyut nadi dan tekanan darah (diastolik dan sistolik) post-test antara kelompok kontrol dan kelompok nanas Simpulan: Jus nanas madu tidak berpengaruh terhadap denyut nadi dan tekanan darah pada siswa Sekolah Sepak Bola pasca lari jarak jauh 10 Km.
Jauhar Firdaus, Zahrah Febianti, Muhammad Rijal Fahrudin Hidayat, Elly Nurus Sakinah
Published: 29 July 2022
Journal of Nutrition College, Volume 11, pp 258-263; https://doi.org/10.14710/jnc.v11i3.33384

Abstract:
ABSTRAKLatar belakang: Indonesia sebagai negara agraris 33,48 juta penduduknya bekerja di sektor pertanian dengan kasus keracunan pestisida tercatat 771 kasus pada tahun 2016. Diazinon menjadi salah satu pestisida golongan organofosfat yang cukup banyak digunakan di Indonesia yang memiliki efek neurotoksik dan berpotensi menyebabkan stres oksidatif pada hepar. Neem gum (Azadirachta indica) memiliki kandungan polisakarida dan antioksidan yang dapat mengikat radikal bebas untuk mencegah kerusakan pada hepar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek neem gum terhadap kadar SGOT SGPT tikus wistar yang diinduksi diazinon. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental melalui pendekatan post test only dengan subjek tikus putih Rattus norvegicus strain wistar jantan sebanyak 25 ekor yang terbagi dalam 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan dosis larutan neem gum sebesar 3,75 gram/kgBB/hari, 7,5 gram/kgBB/hari, 15 gram/kgBB/hari, dan 30 gram/kgBB/hari. Hasil: Kadar SGOT dan SGPT tertinggi terdapat pada kelompok K dan kadar yang lebih rendah pada kelompok P1, P2, P3, dan P4 seiring penambahan dosis larutan neem gum yang diberikan. Hasil uji Anova kadar SGOT didapatkan signifikansi sebesar 0,013 dan uji Post Hoc terlihat perbedaan signifikan kadar SGOT kelompok P4 terhadap kelompok K sebesar 0,015. Sedangkan hasil uji Anova kadar SGPT didapatkan signifikansi sebesar 0,014 dan uji Post Hoc terlihat perbedaan signifikan kadar SGPT kelompok P2, P3, dan P4 terhadap kelompok K berturut-turut sebesar 0,044, 0,034, dan 0,033. Simpulan: Larutan neem gum (Azadirachta indica) memiliki efek mencegah peningkatan kadar SGOT dan SGPT pada tikus yang diinduksi Diazinon. Dosis yang dibutuhkan neem gum untuk mencegah peningkatan kadar SGOT sebanyak 30 gram/kgBB/hari dan dosis yang dibutuhkan untuk mencegah peningkatan kadar SGPT sebesar 7,5 gram/kgBB/hari, 15 gram/kgBB/hari, serta 30 gram/kgBB/hari dan tidak ada perbedaan efek yang signifikan diantara ketiga dosis tersebut.
Riri Syabania, Pravita Ayu Yuniar, Ilmia Fahmi
Published: 29 July 2022
Journal of Nutrition College, Volume 11, pp 188-196; https://doi.org/10.14710/jnc.v11i3.32285

Abstract:
ABSTRAKLatar Belakang: Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang diukur dengan indikator TB/U. Anak usia 0-2 tahun termasuk stunting jika memiliki nilai z-score TB/U ≤ -3,0 SD. Pertumbuhan dan perkembangan anak stunting mengalami gangguan karena gizi buruk, infeksi, serta kondisi psikososial yang kurang memadai. Masa prenatal adalah faktor risiko stunting yang berada pada fase awal. Tujuan: Tujuan kajian literatur ini yaitu menganalisis faktor-faktor prenatal yang menyebabkan stunting Metode: Metode penulisan artikel ini menggunakan literature review. Sumber data yang digunakan merupakan penelitian yang berasal dari wilayah Asia Tenggara dengan subjek anak usia 0-2 tahun. Penelusuran artikel menggunakan database Google Scholar, Pubmed, dan Science Direct. Didapatkan 8 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil: Faktor prenatal yang menyebabkan stunting pada anak usia 0-2 tahun adalah tinggi badan ibu, Ibu dengan tinggi badan 145 cm. Anemia selama kehamilan meningkatkan risiko 3,23 kali lebih besar anak terkena stunting, keberagaman makanan saat prenatal yang merupakan komponen penting dalam menentukan status gizi anak, maternal depression melipatgandakan resiko memiliki anak stunting, kunjungan ke fasilitas kesehatan selama kehamilan juga menjadi faktor penyebab stunting. Fasilitas sanitasi di rumah yang tidak memadai memiliki risiko 40% lebih tinggi terhadap kejadian stunting. Simpulan: Faktor prenatal yang mempengaruhi stunting terdiri dari tinggi badan Ibu, anemia selama kehamilan, keberagamanan makanan saat masa kehamilan, maternal depression, kunjungan health care, dan fasilias sanitasi
Vina Dina Fitriana, Endo Dardjito, Widya Ayu Kurnia Putri
Published: 29 July 2022
Journal of Nutrition College, Volume 11, pp 204-210; https://doi.org/10.14710/jnc.v11i3.32235

Abstract:
ABSTRAKLatar Belakang: Mahasiswi tingkat akhir memiliki tingkat stres yang paling tinggi dibandingkan dengan kelompok lainnya. Stres dapat mempengaruhi nafsu makan serta rasa kenyang dan lapar yang kemudian dapat mempengaruhi status gizi mahasiswi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan asupan zat gizi makro dan pola konsumsi makanan tinggi gula dan makanan tinggi lemak pada mahasiswi tingkat akhir Fikes Unsoed;Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah responden penelitian sebanyak 57 responden dengan kriteria inklusi mahasiswi tingkat akhir Fikes Unsoed, berusia 19-29 tahun, dan bersedia berpartisipasi hingga akhir. Data tingkat stres diambil menggunakan kuesioner PSS, sedangkan data asupan zat gizi makro dan pola konsumsi makanan tinggi gula dan tinggi lemak diambil menggunakan SQ-FFQ. Data kemudian dianalisis menggunakan Uji Rank Spearman; Hasil Penelitian: Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan asupan karbohidrat, protein dan lemak pada mahasiswi tingkat akhir Fikes Unsoed (p=0,278; 0,742;0,771). Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan pola konsumsi makanan tinggi gula dan makanan tinggi lemak pada mahasiswi tingkat akhir Fikes Unsoed (p=0,931;0,281); Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan asupan karbohidrat, protein, lemak, pola konsumsi makanan tinggi gula, dan pola konsumsi makanan tinggi lemak pada mahasiswi tingkat akhir Fikes Unsoed;
Ibnu Zaki, Ankeu Nur Arofah S, Guntur Wisesa Kumara Adji, Dhea Nita Priandini, Febbi Nuzula Rosmasita, Arneta Arezaini
Published: 29 July 2022
Journal of Nutrition College, Volume 11, pp 248-257; https://doi.org/10.14710/jnc.v11i3.33115

Abstract:
ABSTRAKLatar Belakang: Usia 0-2 tahun merupakan kelompok rentan terinfeksi COVID-19 dengan kasus kematian mencapai 0,5% dari total angka kematian. Hal ini disebabkan oleh sistem imunitas pada usia 0-2 tahun belum berkembang maksimal. Situasi tersebut diperparah dengan belum tersedianya vaksin Sars-Cov-2 bagi anak 0-2 tahun. Usia 0-2 tahun dalam era pandemi Covid-19 dituntut untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh. Oleh karena itu diperlukan imun Booster yang aman bagi usia 0-2 tahun. Salah satu makanan usia 0-2 tahun adalah ASI. Berbagai studi menyatakan bahwa ASI merupakan imun Booster aman karena tidak memiliki efek samping. Tujuan: Literature review ini bertujuan untuk menganalisis potensi ASI sebagai Imun Booster dalam upaya pencegahan Sars Cov 2 pada usia 0-2 tahun. Metode: Desain yang digunakan adalah Literature review. Penelusuran artikel mengacu pada kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Kriteria inklusi meliputi artikel ilmiah diterbitkan dalam dua tahun terakhir (2020-2021). Artikel menggunakan desain studi Cross sectional, Cohort, dan Case-control dengan pembahasan tentang Ibu menyusui dengan pengukuran kandungan IgG dan IgA pada sampel ASI, pengaruh konsumsi ASI terhadap anak usia 0-2 tahun. Database artikel ilmiah yang digunakan adalah PubMed, Science Direct, Semantic Scholar, dan Cochrane. Kata kunci yang digunakan dalam penelusuran artikel yaitu ASI, imunitas, COVID-19, human milk, breastfeeding, immunity, SARS-CoV-2. Dari hasil penelusuran ditemukan 12 artikel ilmiah sesuai dengan kriteria inklusi dan di analisis dalam literatre review Hasil: Terdapat peningkatan respon antibodi spesifik SARS-CoV-2 terutama sIgG dan sIGA dalam ASI baik yang pernah terkonfirmasi positif maupun ibu yang mendapat vaksinasi COVID-19. Bayi yang dilahirkan dan disusui dari Ibu terkonfirmasi Positif Covid 19 tidak ditemukan adanya perkembangan infeksi SARS CoV-2. Simpulan: ASI bermanfaat sebagai imun booster terhadap COVID-19 pada anak usia 0-2 tahun karena kandungan IgA dan IgG yang terdapat dalam ASI mampu melawan virus SARS-CoV-2 dan dapat menjadi antibodi bagi anak.
Ita Fitrotuzzaqiyah, Sri Rahayu
Published: 29 July 2022
Journal of Nutrition College, Volume 11, pp 236-247; https://doi.org/10.14710/jnc.v11i3.32165

Abstract:
ABSTRAKLatar Belakang: Penanggulangan stunting dilakukan dengan pendekatan dua intervensi yaitu intervensi sensitif dan intervensi spesifik. Sektor kesehatan merupakan penanggung jawab penanggulangan intervensi spesifik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pelaksanaan intervensi spesifik dalam upaya pencegahan stunting balita di Desa Gambarsari Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif analitik dengan teknik pengambilan informan secara purposive sampling. Informan utama dalam penelitan ini berjumlah 18 orang yang terdiri dari Ibu balita kurang gizi (gizi kurang, gizi buruk dan stunting). Informan lain adalah dari unsur praktisi pelayanan intervensi spesifik di tingkat Desa Gambarsari dan Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang. Penelitian dilakukan pada bulan Maret - Juni 2021. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, telaah dokumen, pengolahan dan analisa data sekunder serta Diskusi Grup Terpimpin (FGD), baik secara langsung maupun daring. Hasil: Pelaksanaan intervensi spesifik di Desa Gambarsari meliputi pemberian layanan pada ibu hamil berupa ANC (72,22%), layanan nifas (5,56%), layanan bayi berupa IMD (11,11%), ASi Eskklusif (22,22 %), PMBA belum sesuai dalam jumlah porsi dan frekuensi pemberian makan. Berdasarkan pemantauan pertumbuhan tercatat status naik sebesar 16,7%, tidak tercatatnya pemantauan pertumbuhan (55,56%), tidak tercatatnya panjang badan lahir bayi (50%), rendahnya perilaku tidak merokok pada keluarga (22,22%).Simpulan: Tingginya angka persalinan di fasyankes oleh tenaga kesehatan tidak diiringi dengan tingginya pelayanan IMD dan ASI Eksklusif. Tingginga tingkat layanan ANC pada ibu hamil tidak diikuti dengan tingginya pelayanan pasca nifas. Pemantauan pertumbuhan pada balita belum dilaksanakan secara optimal.
Wani Asri Syawitri, Linda Riski Sefrina
Published: 29 July 2022
Journal of Nutrition College, Volume 11, pp 197-203; https://doi.org/10.14710/jnc.v11i3.32194

Abstract:
ABSTRAKLatar belakang: Kekurangan gizi di Indonesia sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat baik di tingkat daeha maupun nasional. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan status gizi seseorang, yaitu kualitas mutu gizi yang dikonsumsi sehari-hari. Kualitas mutu gizi dapat dipenuhi dengan adanya kesadaran individu dalam pemilihan makanan. Tujuan: Penulisan literature review ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh media, pendidikan, dan lingkungan sebagai penunjang kesadaran dalam pemilihan makanan. Metode: Penyusunan menggunakan metode review melalui beberapa artikel dalam jurnal internasional dan jurnal nasional. Penulis juga melibatkan beberapa referensi lainnya. Hasil: Media berpengaruh dalam meningkatkan kesadaran pemilihan makan melalui kegiatan audio dan visual sharing, serta pemutaran video terkait penyajian makanan. Sedangkan pendidikan berpengaruh pada pengetahuan gizi, terutama pengetahuan tentang kualitas mutu gizi yang dikonsumsi sehari-hari. Faktor selanjutnya, lingkungan yang memengaruhi kesadaran pemilihan makanan di antaranya adalah peran tradisi adat, peran keluarga, peran teman sebaya, dan suasana hati individu. Simpulan: Berdasarkan beberapa artikel dalam jurnal yang digunakan sebagai bahan acuan penulisan literature review ini, didapatkan kesimpulan yang menunjukkan bahwa adanya pengaruh dari media, pendidikan, dan lingkungan sebagai penunjang kesadaran dalam pemilihan makanan.
Back to Top Top