JURNAL GEOCELEBES

Journal Information
ISSN / EISSN : 2579-5821 / 2579-5546
Published by: Hasanuddin University, Faculty of Law (10.20956)
Total articles ≅ 68
Filter:

Latest articles in this journal

Izaina Nurfitriana, Adhi Wibowo, Rudianto Rudianto
JURNAL GEOCELEBES pp 91-101; https://doi.org/10.20956/geocelebes.v5i1.13328

Abstract:
Pesawaran, Lampung telah diguncang rentetan gempa bumi magnitudo rendah pada bulan Januari 2021. Gempa bumi tersebut tidak disertai dengan gempa utama dengan magnitudo besar sehingga dapat disebut dengan gempa swarm. Relokasi hiposenter telah dilakukan dengan mengunakan data dari jaringan stasiun BMKG untuk mengetahui sumber dari gempa swarm tersebut. Metode double-difference digunakan dan didapatkan hasil relokasi 19 dari 22 gempa swarm yang terjadi. Distribusi kedalaman hiposenter berkisar pada kedalaman 1,5-4,5 km sehingga dapat disebut dengan gempa kerak dangkal. Berdasarkan sayatan melintang terhadap kedalaman teramati bahwa sebaran gempa memiliki kemiringan ke arah Timur Laut. Lokasi gempa yang presisi juga menunjukan bahwa adanya deliniasi dan tepat berada di atas terduga Sesar Menanga. Berdasarkan analisis hasil relokasi hiposenter dapat disimpulkan bahwa gempa swarm Pesawaran disebabkan oleh aktivitas Sesar Menanga.
Bambang Harimei, Muhammad Altin Massinai, Samsu Arif
Abstract:
Penelitian ini mengenai karakteristik tanah pada areal perencanaan pengolahan sampah. Metode yang digunakan adalah SPT, CPT dan uji laboratorium. Hasilnya adalah sebagai berikut: ke-empat titik CPT mempunyai nilai Cone Resistance Conus dari kedalaman 1 meter antara 19,78 -23,73 kg/cm2 dan pada kedalaman 4 meter bernilai 201,75 – 205,68 kg/cm2. Sedangkan nilai SPT pada kedalaman 1 meter antara 2 – 18 Blows/feet dan pada kedalaman 4 meter nilai N antara 29 – 45 Blows/feet. Uji laboratorium menunjukkan sifat tanah lunak tanah tersebut berwarna, dan batas Atterberg (LL dan PL) makin membesar.
Muhammad Dahlan Balfas, Retno Anjarwati, Koeshadi Sasmito
Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tonase batubara berdasarkan tingkat kepercayaan geologi ke dalam kategori sumberdaya tereka, tertunjuk, dan terukur menggunakan metode Circular 891 USGS. Penelitian ini juga dilakukan melalui pemetaan geologi detail daerah penelitian yaitu di Desa Tanah Merah, Kota Samarinda, kemudian dilakukan korelasi antar singkapan batubara guna mengetahui sebaran batubara tersebut. Setelah mengetahui sebaran batubara dapat dilakukan perhitungan sumberdaya tereka, tertunjuk dan terukur. Data yang diperoleh dari penelitian ini yaitu data singkapan batubara yang ditemukan di daerah penelitian. Data hasil pengamatan lapangan yang telah didapatkan kemudian diolah menggunakan rumus perhitungan volume dan tonase batubara, untuk sumberdaya tereka diperoleh hasil 945.468,74 m3, tertunjuk diperoleh hasil 700.020,23 m3, sedangkan untuk sumberdaya terukur diperoleh hasil 349.335,77 m3, kemudian dikalikan dengan densitas batubara yaitu 1,3 ton/m3. Estimasi sumberdaya tereka dengan radius 750 m diperoleh tonase sebesar 1.229.109,36 ton, sumberdaya tertunjuk dengan radius 500 m diperoleh tonase sebesar 910.026,30 ton. Sedangkan sumberdaya terukur dengan radius 250 m diperoleh tonase sebesar 454.136,50 ton.
Resty Intan Putri, Diana Rahmawati, Puspa Indah Rindawati
Abstract:
Daerah penelitian terletak di Desa Perjiwa, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanengara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi meliputi kondisi geomorfologi, struktur geologi, stratigrafi dan mekanisme struktur geologi dari daerah penelitian. Metode pengambilan data difokuskan pada pengambilan data – data geologi permukaan, yang terdiri atas studi literatur, akuisisi data, analisa data. Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi 2 (dua) bentuk asal yakni, bentuk asal struktural, dan bentuk asal fluvial. Bentuk asal struktural dengan bentuk lahan perbukitan tersayat, dan bentuk asal fluvial bentuk lahan dataran alluvial. Di daerah penelitian terdapat 3 satuan batuan yaitu satuan batuan batulempung Perjiwa, satuan batuan batupasir Bukit Raya dan endapan alluvial. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian adalah antiklin Perjiwa, sinklin Perjiwa, antiklin Separi, sinklin Bukit Raya, sesar naik Bukit Raya, sesar naik Tanjung Batu, sesar mendatar Tanjung, sesar naik KM 5. Mekanisme struktur geologi pertama adalah terbentuknya lipatan pada daerah penelitian. Semakin lama gaya yang bekerja semakin kuat sehingga batuan melewati batas elastisitasnya sehingga terbentuk sesar naik pada daerah penelitian, gaya semakin meningkat sehingga terbentuk sesar mendatar.
Paisa Paisa, Muh Said L, Ayusari Wahyuni
Abstract:
Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk pembuatan peta zona rawan longsor di Kabupaten Enrekang. Daerah yang dianggap rawan terhadap longsor dapat dianalisis dan diinterpretasi dengan menggunakan data raster berupa citra pengindraan jauh satelit dan SIG (Sistem Informasi Geografis). Penelitian ini menggunakan beberapa data seperti curah hujan, geologi, jenis tanah, penggunan lahan, geomorfologi vegetasi serta kemiringan lereng. Hasil yang diperoleh dari analisis data tersebut berupa peta rawan longsor di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan yang diklasifikasikan menjadi tiga kelas yaitu kelas tidak rawan, kelas rawan dan kelas sangat rawan. Tingkat tertinggi adalah rawan sebesar 56,19% atau sekitar 101.364,81 Ha yang meliputi Kecamatan Butu Batu, Maiwa, Kulo, Pancariajang, Pituriawa, Bungi, Baraka, Aggaraja, Alla, Masselle, Curio, dan sebagian kecil daerah di Kecamatan Enrekang serta Candana.
Muhammad Amin Syam, Heriyanto Heriyanto, Hamzah Umar
Abstract:
PT Belayan Internasional Coal is an open-pit system mining company, one of its geotechnical activities is the construction of the slopes. Slope stability analysis used the Bishop Simplified method to obtain the value of the dynamic safety factor (≥ 1,1). Currently, the value of the Safety Factor (FK) is an indicator in determining whether the slope is stable or not. The parameters used in the slope stability analysis are the physical and mechanical properties of the rock, namely weight (ɣ), cohesion value (c), and internal shear angle (∅). From the results of dynamic overall slope calculations, the recommended overall slope is constructed with an individual slope angle of 55°, a bench width of 5 meters, a height of 10 meters, and the number of individual slopes of 8 slopes. This design will produce dimensions of the overall slope with 41° slope angle, 80 meters high, and has a dynamic safety factor value of 1,102 with the water-saturated condition. Thus, the slopes are in stable condition.
Ira Puspita Dewi, Nursalam Nursalam, Dimas Widyanata
Abstract:
Ekosistem mangrove di pesisir Desa Pagatan Besar telah berkembang menjadi kawasan ekowisata mangrove yang membentang sepanjang 1 km di Pesisir Barat Desa Pagatan Besar. Desa Pagatan Besar dengan berbagai dinamika biofisiknya mempunyai potensi terjadinya perubahan bentang alam, yang umumnya dipengaruhi oleh gelombang dari Laut Jawa. Penelitian ini secara umum bertujuan (1) menganalisis riwayat gelombang maksimum 21 tahun, (2) menganalisis arus rata-rata selama 4 tahun terakhir, (3) mengamati pengaruh dinamika oseanografi terhadap perubahan garis pantai dan tutupan mangrove. Metode penelitian meliputi penelusuran literatur, pengumpulan data, pengolahan dan analisis data. Data gelombang diperoleh dari peramalan gelombang menggunakan data angin dari situs ECMWF dianalisis dengan plot series dan wave rose. Data arus diolah dengan metode least square pada software WTWC MATLAB untuk mengetahui pola distribusi arus total, pasang surut, dan residu setiap komponen arus. Analisis terhadap perubahan garis pantai dan tutupan mangrove menggunakan tumpang susun citra satelit Landsat tahun 1999, 2009 dan 2019. Hasil penelitian ini adalah (1) gelombang maksimum selama 21 tahun dominan terjadi pada Musim Barat (Desember – Februari) dengan ketinggian rata-rata 1,515 meter. Gelombang maksimum tertinggi terjadi pada tahun 2001 yaitu 2,03 meter, (2) Rata-rata kecepatan arus total pada Musim Barat mencapai 14,91 cm/s, arus pasut sebesar 13,88 cm/s dan arus residu sebesar 6,17 cm/s, dengan pola dominan ke arah timur laut dan tenggara, (3) Terjadi perubahan garis pantai (sedimentasi dan abrasi) serta penurunan luasan mangrove sebesar 4,68 Ha selama periode 1999 – 2009.
Khusnul Nur Rochmah, Sekar Fajar Lestari, Aussie Anindya Nari Pinandhita, Ferdian Yoga Aditama, Nadhil Abyan Hilmy, Widya Utama
Abstract:
Persamaan Gassmann merupakan hubungan yang digunakan untuk menghitung perubahan kecepatan seismik karena perbedaan saturasi fluida di reservoir. Persamaan Gassmann diterapkan untuk mengevaluasi perubahan kecepatan gelombang seismik (gelombang P dan S). Paper ini bertujuan untuk membahas aplikasi Persamaan Gassmann untuk menganalisis kecepatan seismik menggunakan well data dari wilayah Lapangan Tapti yang terletak di utara-barat laut (NNW) Mumbai dengan variabel perubahan saturasi CO2 dan brine dari 0% sampai 100%. Beberapa diskusi dibutuhkan mengenai asumsi yang terjadi selama substitusi fluida, yakni yakni modulus geser tetap konstan selama proses substitusi fluida, dan jenis fluida yang disubstitusi memengaruhi nilai modulus Bulk (Ksat). Analisis dilakukan menggunakan program MATLAB kemudian dilakukan visualisasi grafik menggunakan Microsoft Excel. Hasil menunjukkan bahwa kecepatan gelombang P (Vp) terhadap saturasi CO2 berkurang dari 0% sampai 30% kemudian bertambah sampai tersaturasi 100%, sementara terhadap saturasi brine berkurang dari 0% sampai 50% kemudian bertambah sampai tersaturasi 100%. Penurunan kecepatan gelombang P (Vp) dikarenakan penambahan saturasi fluida akan menyebabkan Modulus Bulk (Ksat) berkurang. Kecepatan gelombang S (Vs) bertambah seiring substitusi CO2 dan brine. Penambahan kecepatan Vs karena saturasi CO2 lebih signifikan daripada saturasi brine. Penurunan kecepatan gelombang S (Vs) dikarenakan nilai Bulk density berkurang seiring penambahan saturasi fluida, dan nilai modulus gesernya tetap konstan. Nilai densitas berkurang seiring substitusi CO2 dan brine, pengurangan nilai densitas karena saturasi CO2 lebih signifikan daripada saturasi brine. Nilai densitas berkurang dikarenakan volume terisi oleh fluida.
Syamsuddin Syamsuddin, Titien Haryani, Riyadi Riyadi, Marniati Ramli, Sabrianto Aswad
Abstract:
Lapisan tanah suatu daerah tergantung dari kondisi lapisan geoloogi dan iklim. Hal tersebut mengakibatkan kondisi struktur lapisan tanah di daerah reklamasi kota Makassar beraneka ragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi batuan dasar (bedrock) berdasarkan nilai resistivitas batuan di kawasan reklamasi Kota Makassar. Metode yang digunakan dalam akuisisi data adalah metode geolistrik resistivitas konfigurasi Wenner-Schlumberger sebanyak dua lintasan. Panjang lintasan yaitu 300 meter dengan jarak antar elektroda 5 meter. Data pengukuran yang menggunakan software RES2DINV sehingga menghasilkan penampang 2D data resistivitas batuan serta Pseudo 3D untuk menghasilkan penampang 3D. Hasil pengolahan data menunjukkan lapisan Bedrock berada pada kedalaman antara 35 m – 52,4 m dengan nilai resistivitas pada lintasan 1 sekitar (16,5 Ωm – 42,4 Ωm) dan nilai resistivitas pada lintasan 2 sekitar (35 Ωm – 110 Ωm). Dari hasil penampang resistivitas diduga terdapat tiga lapisan. Lapisan pertama berupa sedimen reklamasi pada kedalaman bervariasi 1,25-12,9 meter, lapisan kedua didominasi oleh pasir sampai silty sand (pasir berlanau) pada kedalaman bervariasi 20,5-32,6 meter, serta lapisan ketiga dengan kedalaman 32,6-52,4 meter diinterpretasikan sebagai lapisan Bedrock berupa batugamping koral dengan rentang nilai resistivitas (12,3 Ωm – 110 Ωm).
Sakka Sakka, Baharuddin Baharuddin
JURNAL GEOCELEBES pp 23-34; https://doi.org/10.20956/geocelebes.v5i1.9152

Abstract:
Wilayah Pantai Ujung Pandaran Kecamatan Teluk Sampit Kabupaten Kotawaringin Barat telah mengalami abrasi pantai sebesar 3,262 Ha selama tahun 2014 – 2017. Hal tersebut dapat diantisipasi dengan penanganan baik secara struktur lunak maupun keras. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui model penanganan abrasi Pantai Ujung Pandaran. Berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa penanganan pantai yang terabrasi dapat dilakukan dengan struktur keras melalui sabuk pantai dan revetment. Sabuk pantai dibangun berada pada kedalaman 0,9 – 1,5 meter MSL dengan lebar celah sejauh 10 – 20 meter, sedangkan revetment di bangun pada celah antara sabuk pantai. Bentuk bangunan tersebut dapat mengurangi abrasi pantai dan akan terbentuk cuspate di belakang bangunan pantai.
Back to Top Top