JURNAL GEOCELEBES

Journal Information
ISSN / EISSN : 2579-5821 / 2579-5546
Current Publisher: Hasanuddin University, Faculty of Law (10.20956)
Total articles ≅ 47
Filter:

Latest articles in this journal

JURNAL GEOCELEBES, Volume 4, pp 61-69; doi:10.20956/geocelebes.v4i1.9599

Abstract:
The estimation of soil thermal resistivity is essential for many types of big engineering projects because of the required knowledge about subsurface transmission of either heated fluids or high power currents. Thermal conductivity measurements were carried out at 12 locations, eight measurement point locations in South Kalimantan, the Sapu Angin hill region, sub-district Penyipatan and four points in the area of Kampung Baru, sub-district Pelaihari made at 2-3 variations in depth of 50 to 100 cm, which adjusted to the ability of the soil drilling support equipment to make holes in the soil. Samples were also collected from the locations for physical parameters description that influences thermal resistivity, subjected to grain size distribution and compaction analysis. The calculation of thermal conductivity is done by using CT-Lab software ver. 1.0.2 with a sensor resistance value of 82.69 ohms / m, heater voltage 4.0 V, and heater power 4.3857 W/m. The results show that the thermal conductivity values range from 0.593 to 3.239 W/mK. For the Sapu Angin hill region, sub-district Penyipatan, soil layers are generally in the form of sandy-clay (λ> 1.2 W/mK), but at some points, the value of thermal conductivity in these layers have decreased (λ
Muhammad Yusran, Muhammad Altin Massinai, Muhammad Hamzah Syahruddin
JURNAL GEOCELEBES, Volume 4, pp 53-60; doi:10.20956/geocelebes.v4i1.9233

Abstract:
Kabupaten Bulukumba merupakan daerah yang berpotensi mengalami bencana gempa bumi karena adanya aktivitas sesar walanae di dataran Bulukumba. Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) gambaran struktur geologi pada daerah penelitian dan (2) keberadaan zona sesar dan gambaran struktur bawah permukaan berdasarkan metode geolistrik pada daerah penelitian. Identifikasi awal kenampakan sesar di daerah penelitian dimulai dengan analisis citra dari Google Earth, pengamatan lapangan terhadap pencirian sesar, kemudian dilakukan pengukuran menggunakan metode geolistrik resistivitas konfigurasi Wenner-Schlumberger untuk mendapatkan nilai tahanan jenis untuk setiap perlapisan batuan di bawah permukaan. Pengukuran dilakukan pada dua lintasan yang berbeda dengan panjang lintasan masing-masing 300 m dan jarak antar elektroda sebesar 5 m. Data-data yang diperoleh kemudian diolah dan diinterpretasikan untuk menarik kesimpulan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat aktivitas sesar di daerah penelitian yang ditandai dengan terbentuknya lembah Sungai Bijawang, penurunan bidang daratan yang membentuk bidang horst dan graben serta adanya pembelokan yang cukup tajam pada alur sungai dan gawir sesar yang terdapat di sepanjang lembah pada jalur sungai tersebut. Selain itu, berdasarkan hasil pengolahan data geolistrik resistivitas disimpulan bahwa terdapat zona sesar di daerah penelitian berdasarkan interpretasi penampang 2D dari data hasil inversi nilai resistivitas, dimana struktur perlapisan batuan antara lintasan 1 dan lintasan 2 memiliki karakteristik yang identik sehingga mengindikasikan keterdapatan aktivitas sesar mendatar yang telah memisahkan kedua bidang tersebut. Struktur perlapisan tanah di daerah penelitian di dominasi oleh lapisan lempung berpasir dengan nilai tahanan jenis berkisar antara 100 - 400 Ωm dan 10 – 200 Ωm.Kata Kunci: zona sesar; geolistrik; struktur geologi.
Ajimas Pascaning Setiahadiwibowo, Ocky Bayu Nugroho, Yudha Agung Pratama
JURNAL GEOCELEBES, Volume 4, pp 46-52; doi:10.20956/geocelebes.v4i1.9343

Abstract:
Uji resistivitas unconsolidated sand pada low moisture content menggunakan peralatan dengan resolusi mikroampermeter. Nilai resistivitas pada penelitian ini dipengaruhi oleh banyaknya air yang terdapat pada endapan pasir. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil 3 conto yang tersebar pada endapan Sungai Krasak, Kabupaten Sleman. Nilai resistivitas pada penelitian ini diperoleh dari conto yang dikeringkan kemudian ditambahkan air secara bertahap (3 ml). Berdasarkan hasil penelitian ini maka nilai resistivitas endapan pasir lepas di Sungai Krasak berkisar antara 23,31 Ωm – 1086,302 Ωm, semakin jauh dari batuan sumber maka sebaran variasi nilai resistivitas lebih bervariasi dan semakin tinggi moisture content maka nilai resistivitas semakin rendah.
Emi Prasetyawati Umar, Habibie Anwar, Jamal Rauf Husain, Sitti Muharni, Jamaluddin Jamaluddin, Muhammad Altin Massinai
JURNAL GEOCELEBES, Volume 4, pp 41-45; doi:10.20956/geocelebes.v4i1.9542

Abstract:
Kondisi dan struktur geologi suatu daerah merupakan aspek penting karena data geologi dapat memberikan informasi tentang karakteristik lapisan batuan yang berguna di dalam ilmu panas bumi. Olehnya itu, dilakukan penelitian untuk mengeksplorasi lebih detail mengenai analisis struktur geologi mata air panas dan pengaruh kemunculan mata air panas tersebut, sebagai penunjang data eksplorasi yang belum pernah diteliti sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis struktur geologi mata air panas dan mengetahui pengaruh geologi terhadap munculnya mata air panas di Daerah Sulili. Metode yang digunakan adalah metode sampling dan analisis data kekar. Struktur geologi yang terjadi pada Daerah Sulili adalah struktur kekar yang terdapat pada litologi batuan tufa. Kemunculan mata air panas diakibatkan adanya pengaruh struktur geologi berupa kekar dan sesar geser yang berkembang pada daerah tersebut.
Nur Ayu Anas, Syamsuddin Syamsuddin, Bambang Harimei, Muhammad Nasri
JURNAL GEOCELEBES, Volume 4, pp 23-32; doi:10.20956/geocelebes.v4i1.8916

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan berupa rekahan pada daerah sekitar manifestasi mata air panas Reatoa di Dusun Realolo, Kabupaten Maros. Beberapa penelitian mengenai panasbumi di Sulawesi Selatan menggunakan geolistrik resistivitas pernah dilakukan untuk mencari zona aquifer hidrothermal di sekitar sumber air panas Panggo di Desa Kaloling, Kabupaten Sinjai. Penelitian ini juga pernah dilakukan dalam eksplorasi mata air panas menggunakan metode geolistrik resisitivitas di daerah Kabupaten Pinrang. Dalam penelitian ini menggunakan metode geolistrik resistivitas konfigurasi Wenner – Schlumberger sebanyak 4 lintasan. Panjang masing – masing lintasan adalah 300 m dan jarak antar elektroda 5 m. Hasil yang diperoleh merupakan kondisi geologi bawah permukaan daerah penelitian dengan nilai resistivitas kurang dari 8,35 Ωm diduga sebagai zona aquifer dan batuan yang berasosiasi dengan fluida. Nilai resistivitas 8,35 Ωm – 16,7 Ωm diperkirakan sebagai satuan batu pasir yang berselingan dengan batulempung dan nilai resistivitas lebih dari 23,6 Ωm diduga sebagai batuan breksi gunungapi dari batuan gunungapi Formasi Camba. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya rekahan pada titik 110 – 130 m pada lintasan 1 dan titik 210 – 215 m pada lintasan 2 yang memiliki arah sejajar dengan mata air panas Reatoa, sehingga rekahan ini diduga menjadi penyebab fluida panas yang berada pada aquifer memiliki celah ke permukaan dan membentuk manifestasi berupa mata air panas.
Indah Kurniawati, Aldilla Damayanti Purnama Ratri, Tomy Gunawan
JURNAL GEOCELEBES, Volume 4, pp 33-40; doi:10.20956/geocelebes.v4i1.8919

Abstract:
Aktifitas seismik Sesar Matano sangat tinggi di mana gempabumi sering dirasakan masyarakat dan mengakibatkan kerusakan di area sekitarnya. Identifikasi aktifitas gempabumi dengan mengetahui besarnya energi yang dilepaskan di 6 segmen pada Sesar Matano diperlukan untuk perencanaan mitigasi gempabumi. Dilakukan juga estimasi periode ulang gempabumi yang akan terjadi disertai kemungkinan energi yang akan dilepaskan oleh gempabumi di masa yang akan datang. Data yang digunakan adalah katalog gempabumi EHB dan BMKG tahun 1961-2019. Energi gempabumi dihitung dengan mengkonversikan nilai momen seismik ke dalam energi fisis gempabumi. Sedangkan nilai momen seismik didapatkan dari konversi magnitudo gempabumi. Nilai periode ulang didapatkan dengan membagi nilai slip rata-rata terhadap sliprate. Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan di 6 segmen berbeda, yaitu Segmen Kuleana, Pewusai, Matano, Pamsoa, Ballawai, dan Garessa masing-masing memiliki nilai potensi magnitudo maksimum yang sedikit berbeda dengan magnitudo maksimum yang dikeluarkan PUSGEN. Semakin besar potensi magnitudo maksimumnya, maka semakin lama pula potensi gempa tersebut akan kembali berulang.
Ahmad Zaenudin, Ilham Dani, Niar Amalia
JURNAL GEOCELEBES, Volume 4, pp 14-22; doi:10.20956/geocelebes.v4i1.7976

Abstract:
Delineasi Sub-Cekungan Sorong ini diinterpretasi melalui pola anomali gayaberat, pola patahan, bukaan (rifting), tinggian dari anomali residual, dengan analisis Second Vertical Derivative (SVD), pemodelan 2D dan structural noses. Metode pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini ialah melakukan koreksi gaya berat hingga didapatkan Anomali Bouguer Lengkap, melakukan analisis spektrum untuk mendapatkan estimasi kedalaman regional dan residual serta lebar jendela penapisan, melakukan pemisahan anomali regional dan residual dengan metode moving average, melakukan analisis SVD, melakukan interpretasi kualitatif dan kuantitatif. Hasil pengolahan menunjukkan bahwa pola Anomali Bouguer Lengkap daerah penelitian pada bagian Selatan didominasi oleh anomali rendah dengan nilai 58 hingga 76 mGal. Sedangkan anomali tinggi mendominasi bagian Utara dengan nilai 88 hingga 106 mGal. Kedalaman residual sekitar 2,7 km di bawah permukaan sedangkan kedalaman regional sekitar 10 km di bawah permukaan. Anomali residual daerah penelitian memiliki nilai anomali -9 hingga 10 mGal. Anomali regional daerah penelitian memiliki nilai anomali 60 hingga 100 mGal. Berdasarkan interpretasi kualitatif dan kuantitatif menunjukkan bahwa terdapat satu sub-cekungan pada daerah penelitian yang terletak pada Arar nose. Arah migrasi hidrokarbon berasal dari arah Barat ke Timur mengikuti struktur patahan. Berdasarkan penelitian ini, diasumsikan bahwa sesar utama Sorong tidak hanya berupa jenis sesar geser namun juga merupakan jenis sesar normal.
Jamaluddin Jamaluddin, Nuruddin Kafy El-Ridlo, Hamriani Ryka, Maria Maria
JURNAL GEOCELEBES, Volume 4, pp 1-6; doi:10.20956/geocelebes.v4i1.7439

Abstract:
The modeling of reservoir injection pressure distribution is very important to perceive reservoir management, especially in estimating the pushing mechanism. The modeling of reservoir injection pressure distribution was carried out by applying the analytic equation of fluid flow to the porous media of Darcy's law and transformed to a finite difference numerical equation which then used Neumann boundary conditions. The parameters used in the modeling were: permeability, average layer thickness, porosity, acceleration of gravity, viscosity, and area’s width. Based on the results of modeling, the injection pressure distribution area decreased as injection pressure rate increased. This decrease occurred due to an imbalance between the volume of reservoir fluid produced by the volume of water from the aquifer that replaced the reservoir, caused emptying. From the results of the modeling the amount of oil production, obtained from the remaining oil reserves to the initial oil acquisition in the reservoir after the process of pressure maintenance, could be found.
Fahruddin Fahruddin, Nur Haedar, As’Adi Abdullah, Abdul Wahab, Rifaat Rifaat
JURNAL GEOCELEBES, Volume 4, pp 7-13; doi:10.20956/geocelebes.v4i1.7831

Abstract:
Perkembangan industri pertambangan di Indonesia semakin pesat, seperti pertambangan batu bara yang ada di Lamuru Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Tentu hal ini menimbulkan masalah pencemaran lingkungan oleh adanya limbah pertambangan, salah satunya adalah limbah air asam tambang (AAT). Tujuan penelitian adalah deteksi kandungan logam berat dan analisis mikrobiologi pada air asam tambang. Deteksi kandungan logam berat menggunakan X-ray Fluorescence (XRF), anlisis sulfat dengan metode spektrofotometer 430 nm, pH dengan pH meter dan analisis mikrobiologi menggunakan metode plate count. Hasilnya, terdeteksi adanya logam berat, yang paling dominan adalah Fe 56,29 %, diikuti Mn 1,36%, Ti 0,47%, dan Nb 0,50%. Kandungan sulfat 6,2 ppm dan pH 3.7. Pada pengamatan mikrobiologis diperoleh bakteri peredusi sulfat18,7 x 104/ml dan jumlah total mikroba adalah 67,5 x 104/ml.
Debby Rahayu, Agung Hasan, Nurita Dwi Puspitasari, Muhammad Fawzy Ismullah Massinai
JURNAL GEOCELEBES, Volume 3, pp 83-89; doi:10.20956/geocelebes.v3i2.7490

Abstract:
Penyelidikan mengenai bawah permukaan semakin digalakkan demi menjamin pembangunan yang berkelanjutan di permukaan tanah. Pembangunan intensif dilaksanakan di Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, yang merupakan salah satu daerah andalan pariwisata di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, studi identifikasi kondisi bawah permukaan semestinya sedini mungkin dilaksanakan. Penyelidikan ini bertujuan untuk menentukan jenis dan sebaran lapisan bawah permukaan menggunakan metode geolistrik resistivitas secara sederhana sebagai data awal penyelidikan berikutnya yang lebih terperinci. Metoda ini menggunakan prinsip aliran arus listrik yang mengalir di dalam tanah melalui batuan–batuan. Pada penelitian geolistrik resistivitas ini menggunakan konfigurasi Wenner - Schlumberger. Pada penelitian ini terdapat sebuah lintasan pengukuran resistivitas mapping dengan jumlah elektroda sebanyak 30 dan spasi tiap elektroda 5 m. Hasil yang didapatkan berupa penampang resistivitas yang memperlihatkan adanya 3 lapisan yaitu low resistivity (< 6,44 Ωm), medium resistivity (16,6 – 285 Ωm) dan high resistivity 285 – 1892 Ωm. Lapisan ini berturut turut diduga merupakan lapisan lempung-pasir yang memungkinkan mengandung air tanah/ Ground water, lapisan alluvium dan lapisan batugamping terumbu.
Back to Top Top