Pedagogik: Jurnal Pendidikan

Journal Information
ISSN / EISSN : 16937856 / 23553537
Current Publisher: Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (10.33084)
Total articles ≅ 9
Filter:

Articles in this journal

Ningrum Sudianto
Pedagogik: Jurnal Pendidikan, Volume 12, pp 43-50; doi:10.33084/pedagogik.v12i1.416

Abstract:Upaya untuk memotivasi belajar peserta didik diarahkan kepada proses belajar mengajar, dalam hal ini penggunaan model pembelajaran yang baik dan benar dalam rangka pencapaian tujuan yang optimal disesuaikan dengan kegiatan belajar mengajar yang berlangsung. Karena adanya penataan dan perencanaan yang baik dan optimal terutama dalam penggunaan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dalam proses pembelajaran maka dapat menghasilkan peserta didik yang mempunyai potensi serta memiliki kemampuan intelektual sehingga dapat meningkatkan motivasi belajarnya. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, banyak hal yang menuntut peserta didik untuk dapat menulis dengan benar dengan kosa kata yang baik,tepat dan benar. Di sisi lain guru berusaha menjelaskan dan memberikan kesan yang bermakna kepada peserta didik untuk memahami materi yang dipelajarinya. Belajar akan lebih bermakna jika peserta didik mengalami sendiri apa yang dipelajarinya.
Wawan Wiraatmaja
Pedagogik: Jurnal Pendidikan, Volume 12, pp 34-42; doi:10.33084/pedagogik.v12i1.415

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui aktivitas belajar peserta didik kelas V SDN-3 Pahandut Palangkaraya tahun pelajaran 2015/2016 dalam menanggapi suatu persoalan atau peristiwa dengan menggunakan media animasi, (2) untuk mengetahui ada atau tidaknya peningkatan hasil belajar peserta didik dalam menanggapi suatu persoalan atau peristiwa dengan menggunakan media animasi kelas V pada SDN-3 Pahandut Palangkaraya tahun pelajaran 2015/2016. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian berjumlah 19 orang peserta didik. teknik pengmpulan data berdasarkan pada hasil siklus pada saat proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) aktivitas peserta didik kelas V SDN-3 Pahandut Palangkaraya tahun pelajaran 2015/2016 dalam kemampuan menanggapi suatu persoalan atau peristiwa dengan menggunakan media animasi lebih aktif dengan skor rata-rata siklus I 2,4 dengan kriteria cukup dan siklus II 3,5 dengan kriteria baik. (2) Peningkatan hasil belajar peserta didik kelas V pada SDN-3 Pahandut Palangkaraya tahun pelajaran 2015/2016 dalam menanggapi suatu persoalan atau peristiwa dengan menggunakan media animasi lebih meningkat, dibuktikan dengan hasil Siklus I 67,63 dengan ketuntasan klasikal 52,63% Dan Siklus II 80,52 dengan ketuntasan klasikal 100%. Dari hasil yang diperoleh tersebut ada peningkatan antara hasil siklus I dan siklus II.
Agung Pribadi
Pedagogik: Jurnal Pendidikan, Volume 12, pp 27-33; doi:10.33084/pedagogik.v12i1.414

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui aktivitas peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan strategi Learning Start With A Question, (2) mengetahui peningkatan hasil belajar IPA pada peserta didik kelas Iva SDS Muhammadiyah Selat Kuala Kapuas setelah menggunakan strategi Learning Start With A Question. Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian Tindakan kelas (PTK) yang berusaha memecahkan permasalahan yang dihadapi pada situasi sekarang. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 27 orang peserta didik, 16 orang laki-laki dan 11 orang perempuan. Teknik analisis data didasarkan pada hasil siklus dari tiap proses pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa : (1) Aktivitas peserta didik menggunakan strategi Learning Start With A Question lebih baik dan mengalami peningkatan disetiap siklus. Pada siklus I peserta didik memperoleh nilai dengan rata � rata 3,08 dengan kategori baik, dan siklus II peserta didik memperoleh nilai dengan rata � rata 3,75 dengan kategori baik (2) ada peningkatan hasil belajar IPA melalui penggunaan strategi Learning Start With A Question yang menunjukan dari hasil belajar pada pra tindakan diperoleh rata � rata 37,59 , pada siklus I diperoleh rata � rata 58,33 dan pada siklus II diperoleh rata � rata 81,11 dengan ketuntasan klasikal yaitu 100 %.
Muhammad Hamdani
Pedagogik: Jurnal Pendidikan, Volume 12, pp 9-26; doi:10.33084/pedagogik.v12i1.413

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) manakah yang lebih baik prestasi belajar matematika siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD atau kooperatif tipe Jigsaw, (2) manakah di antara kategori aktivitas belajar siswa yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik,aktivitas tinggi, aktivitas sedang atau aktivitas rendah (3) pada masing-masing model pembelajaran kooperatif tipe (STAD dan Jigsaw) manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, pada masing-masing tingkat aktivitas belajar dan masing-masing tingkat aktivitas manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model pembelajaran kooperatif tipe STAD atau tipe Jigsaw. Teknik analisis data adalah analisis varian dua jalan dengan sel tak sama. Dengan menggunakan taraf signifikansi a = 0,05 menunjukkan (1) terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika pada materi statistika (Fa = 16,9876 > 3,844 = Ftabel), (2) terdapat pengaruh aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika pada materi statistika (Fb = 76,1492 > 3,00 = Ftabel), (3) terdapat interaksi antara model pembelajaran dan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika pada materi statistika (Fab = 4,94101 ? 3,00 = Ftabel).
Ady Ferdian Noor
Pedagogik: Jurnal Pendidikan, Volume 11, pp 1-8; doi:10.33084/pedagogik.v11i2.417

Abstract:The reality, Student of Study Program PGSD FKIP UM Palangkaraya less cognitive develop an attitude which is less highly motivated to do something, lacking want to engage in activities that add competence, less vibrant, less organized, less accomplished, less empathy for social activities and less creative. These problems need to be addressed by the State Defense Program. In the current conditions of defending the country should be interpreted more real acts. The State Defense Program is not only identified with the lift arms but must be interpreted more broadly, that is to defend the country in many ways adapted to the professional ability of each. Come with the name of the nation through achievements in various fields are also included defending the country. Chaidir Basrie suggested that civil defense is an attitude, determination, and citizen action that regular, comprehensive, integrated and continues based on the love of the homeland, the consciousness of nation and state of Indonesia, beliefs and magic Pancasila as the state ideology , In Indonesia, efforts to defend the state as expressly provided in the Constitution of 1945 article 27 paragraph 3 which states that "every citizen has the right and duty to participate in the defense efforts of the state". Thus every citizen is expected to take an active part in defending the country. State Defense Program which is a non-physical activity or non-militarism is an integrated part in all courses/subjects so that these programs should receive priority attention to developing conative nature that ultimately can improve the students love for the homeland and the nation. Students have not been able to show fully the nature cognitive that can encourage a love of the homeland and the nation because they are less energetic, less creative, and less highly motivated indeveloping competency activities.
Tri Waluyo
Pedagogik: Jurnal Pendidikan, Volume 11, pp 25-57; doi:10.33084/pedagogik.v11i2.420

Abstract:Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa kemampuan membaca reading for reference siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya berada dikisaran nilai 0-40 dengan rerata 7 pada rentang 0-100 dan tanpa satupun siswa yag mencapai KKM. Olehkarena itu diupayakan agar kemampuan reading for reference siswa tersebut meningkat dengan menggunakan teknik inference. Dalam penelitian ini inference disebut juga dengan istilah inferensi. Sedangkan prosesnya disebut inferring. Inference atau Inferensi atau inferring dapat berarti sebagai proses yang dilakukan pembaca untuk memahami makna yang tidak diungkapkan secara tersurat. Setelah dilaksanakan selama 2 (dua) siklus, hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukan bahwa teknik inference dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca reading for reference dengan sangat baik. Peningkatan rerata secara individu dan klasikal menunjukan bahwa peningkatan rerata terendah secara individu terjadi sebesar 1,5 kali dari kemampuan awal dan tertinggi sebesar 8,5 kali lipat. Peningkatan rerata kemampuan secara klasikal juga terjadi. Hasil penelitian menunjukan rerata peningkatan kemampuan siswa setelah dua siklus menjcapai rerata 5 kali lipat. Peningkatan juga terjadi pada jumlah siswa yang mencapai atau melampaui KKM. Data menunjukan bahwa pada kemampuan awal tidak ada satupun siswa yang mencapai KKM atau 0 %. Pada siklus 1 meningkat menjadi 9,5 % (Sembilan koma lima persen) dan pada akhir siklus 2 jumlah siswa yang mencapai atau melampaui KKM sebanyak 60,9 %.(enam puluh koma sembilan persen). Ini menunjukan bahwa teknik inference cukup berhasil meningkatkan jumlah siwa dalam mencapai KKM
Sogi Hermanto
Pedagogik: Jurnal Pendidikan, Volume 11, pp 9-24; doi:10.33084/pedagogik.v11i2.419

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan deskripsi tentang Penanaman Sikap Wirausaha Siswa Program Tata Boga Di Sekolah Menengah Kejuruan negeri 3 Palangka Raya, yang dijabarkan menjadi 4 (empat) sub fokus sebagai berikut: (1) untuk mengetahui penanaman sikap wirausaha siswa, (2) untuk mengetahui kondisi wirausaha siswa, (3) untuk mengetahui cara guru dalam menanamkan sikap wirausaha, dan (4) untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor kendala yang dihadapi dalam penanaman sikap wirausaha siswa Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman sikap wirausaha Siswa Program Tata Boga Di SMK Negeri 3 Palangka Raya: (1) deskripsi penanaman sikap wirausaha sudah dilakukan sejak berdirinya sekolah SMKN 3 dengan terus mengacu pada visi dan misi, tujuan, serta motto SMKN 3 sikap wira usaha itu selalu ditanamkan. (2) deskripsi kondisi wirausaha siswa sangat bagus karena terbukti di program ini sudah ada 3 wirausaha yang berjalan dengan baik (a) wirausaha Kantin Sehat, (b) Kafetaria kantin, dan (c) Penyewaan alat Perlengkapan Tata Boga. (3) deskripsi cara guru dalam menanamkan sikap wirausaha siswa dengan menerapkan metode pembelajaran, melakukan praktek, mengoptimalkan pemanfaatan sarana prasarana, mengikutsertakan siswa dalam wirausaha, memotivasi siswa. (4) deskripsi factor pendukung dan factor kendala yang dihadapi dalampenanaman sikap wirausaha siswa: (a) factor pendukung yaitu dari guru-guru, orang tua siswa, sarana prasarana, motivasi dan dukungan. (b). factor kendala yaitu siswa kurang berminat, factor biaya, dan latar belakang siswa.
Mamik Ponco Andriyani
Pedagogik: Jurnal Pendidikan, Volume 11, pp 58-87; doi:10.33084/pedagogik.v11i2.421

Abstract:Penelitian ini dilaksanakan di kelas VI-c MIN Pahandut Palangka Raya Jl Ramin II Palangka Raya Kelurahan Panarung kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah semester II tahun pelajaran 2015-2016. Penelitian ini dlaksanakan pada bulan April- Mei tahun pelajaran 2015-2016 . Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar MIN Pahandut Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah dalam menemukan Ide Pokok Hasil penelitian selama 2 (dua) siklus memperlihatkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menetukan makna tersirat suatu teks khususnya menemukan pokok pikiran. Rerata nilai individu meningkat dari 51,61 pada pre tes menjadi 69,03 pada siklus 1 dan meningkat menjadi 85,16 pada siklus 2. Hasil penelitian juga memperlihatkan peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM. (mencapai nilai 70 ) dari 3 (tiga) siswa pada saat pra penelitian, menjadi 15 (lima belas ) siswa pada siklus 1 dan menjadi 25 (dua puluh lima) siswa pada siklus 2. Secara persentase, pada pra penelitian hanya terdapat 10 %,, kemudia pada siklus 1 meningkat menjadi 48,4 % dan siklus 2 meningkat menjadi 80,6 %. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa ternyata tidak seluruh siswa cocok dengan STAD. Hal ini tampak dari masih terdapat siswa yang tidak mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 atau di bawah KKM.