Sosio Konsepsia

Journal Information
ISSN / EISSN : 2089-0338 / 2502-7921
Published by: Puslitbangkesos Kementerian Sosial RI (10.33007)
Total articles ≅ 140
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Hotlif Arkilaus Nope, Prodi Sosiologi Fisip Universitas Nusa Cendana Kupang, Chrisistomus S Oiladang, Samsuriady Samsuriady
Sosio Konsepsia, Volume 10; https://doi.org/10.33007/ska.v10i3.2412

Abstract:
Tingkat perceraian pasangan suami istri di Indonesia terus merangkak naik, bahkan per Agustus 2020 jumlahnya sudah mencapai 306.688 kasus sehingga berdampak langsung terhadap anak-anak dari keluarga yang bercerai, khususnya pada anak dari Suku Rote Thie di Desa Tanah Merah Kabupaten Kupang. Pada tahun 2019 angka perceraian di Kabupaten Kupang masih tinggi dengan jumlah 92 kasus. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, validitas data diuji mengggunakan teknik triangulasi dan teknik analisis data model interaktif dari Miles dan Huberman (1992). Hasil temuan diketahui bahwa bahwa dampak perceraian orangtua dari keluarga suku Rote Thie terhadap anak di Desa Tanah Merah Kabupaten Kupang dari sisi hukum terkait dengan status hubungan suami-istri, dampak sosiologis menyangkut interaksi sosial dengan orangtua dan penerimaan keluarga besar dari kedua belah pihak terhadap mereka, serta jarak sosial dalam interkasi sosial dengan masyarakat dan komunitas sosial, dampak ekonomi dimana kebutuhannya relatif tidak terpenuhi dan dampak psikologis dimana anak-anak korban perceraian keluarga Suku Rote Thie di Desa Tanah Merah cenderung mengalami perasaan tidak menentu karena anak-anak ini hidup dalam pergunjingan masyarakat sekitar. Kata kunci: Perceraian; Anak; Dampak
Khamim Khamim, Politeknik Negeri Pontianak Jurusan Akuntansi, M.Najmul Afad, Agus Widodo, Perdhiansyah Perdhiansyah, Muhammad Lutfi Hakim, Institut Agama Islam Negeri Pontianak Fakultas Syariah
Sosio Konsepsia, Volume 10; https://doi.org/10.33007/ska.v10i3.2435

Abstract:
Dunia sekarang lagi dilanda Pandemi Covid-19. Ada 34 provinsi di Indonesia yang tergolong zona merah terdampak Covid-19, termasuk Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Penyebaran virus ini sangat cepat dan berdampak terhadap berbagai lapisan masyarakat, terutama ekonomi para karyawan dan masyarakat miskin di Provinsi Kalbar. Untuk menanggulangi dampak tersebut, perlu adanya peran dan partisipasi dari suluruh kalangan, termasuk Baznas Provinsi Kalbar sebagaimana amanat dari Undang-Undang Nomor 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Tulisan ini fokus pada inovasi dalam fundraising filantropi Islam, pemanfaatannya dan kendala-kendala yang dialami Baznas dalam menanggulangi masyarakat miskin terdampak Covid-19 di Provinsi Kalimantan Barat. Dengan menggunakan jenis penelitian lapangan dan didukung dengan hasil wawancara dan dokumentasi, tulisan ini menemukan dua strategi yang digunakan oleh Baznas Provinsi Kalbar dalam fundraising ZIS yang mengalami kenaikan sebesar 2,92 kali dibandingkan tahun 2019, yaitu sosialisasi Fatwa MUI terkait pemanfaatan ZIS dan optimalisasi peran UPZ. Dalam hal pemanfaatannya pada masa pandemi Covid-19, Baznas Provinsi Kalbar mendistribusikan 91% dana ZIS pada bidang darurat kesehatan berupa program kesehatan dan kuratif, sedangkan sisanya (9%) dimanfaatkan untuk bidang darurat sosial-ekonomi berupa paket logistik keluarga, zakat fitrah dan fidyah, serta BTM. Terbatasnya waktu dan ruang gerak pada masa pandemi merupakan kendala yang dirasakan Baznas Provinsi Kalbar. Kata kunci: Filantropi Islam, Covid-19, Masyarakat Miskin, Baznas Provinsi Kalimantan Bara
Sri Yuni Murtiwidayanti, Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Yogyakarta, Ikawati Ikawati
Sosio Konsepsia, Volume 10; https://doi.org/10.33007/ska.v10i3.2353

Abstract:
Pandemi Covid-19 dikhawatirkan berdampak pada psikologis seseorang bahkan masyarakat luas, banyaknya pemberitaan mengenai Covid-19 dapat berdampak pada timbulnya perasaan khawatir, tertekan, stress dan kecemasan di kalangan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengetahui kecemasan masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19. Lokasi penelitian ditetapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sasaran penelitian ditentukan secara incendental sampling yaitu masyarakat yang berada di wilayah DIY, antara tanggal 29 April – 1 Mei 2020 (tiga hari), telah mengisi instrumen on line (38 responden). Teknik pengumpulan data menggunakan angket modifikasi dari The Social Anxiousness Scale yang dibuat oleh Leary (1982). Ditemukan: (1) ada kecemasan masyarakat dalam menghadapi Covid-19 ditinjau dari psikologis dalam situasi sosial timbal balik; (2) ada kecemasan masyarakat menghadapi pandemi Covid-19 ditinjau dari psikologis dalam situasi sosial searah; (3) ada kecemasan masyarakat menghadapi pandemi Covid-19 ditinjau dari fisiologis dalam situasi sosial timbal balik; dan ( 4) ada kecemasan masyarakat menghadapi pandemi Covid-19 ditinjau dari fisiologis dalam situasi sosial searah. Rekomendasi agar masyarakat dapat menghindari kecemasan dengan cara mengelola atau mengendalikan kecemasan melalui: (1) Membatasi informasi/paparan yang membuat semakin merasa tertekan ataupun cemas; (2) Seleksi dalam mendapatkan informasi tentang Covid-19 yaitu informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannnya (berkompeten); (3) Tetap melakukan kegiatan sehari-hari yang bermanfaat dan produktif serta berpikir positif dalam menghadapi Covid-19; (4) Melakukan hobi yang menyenangkan, berolahraga, serta tetap memenuhi gizi seimbang; (5) Selalu memenuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah; (6) Tetap menjalin hubungan dengan keluarga dan teman melalui telepon atau handphone. Kata kunci: kecemasan; masyarakat; menghadapi Covid-19
Syamsuddin Syamsuddin, Kementerian Sosial Ri Loka Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Minaula Kendari, Agung Setiyawan
Sosio Konsepsia, Volume 10; https://doi.org/10.33007/ska.v10i3.2188

Abstract:
Pendamping Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKS-LU) memiliki peran yang sangat penting dalam melindungi dan mencegah lansia terpapar virus corona. Peran tersebut adalah seperti sebagai pembimbing, pemberi semangat, fasilitator, mediator, dan peran penjangkauan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pendamping LKS-LU dalam memberikan perlindungan dan pencegahan kepada lansia dari wabah virus covid 19. Kajian deskriptif kuantitatif ini dilaksanakan dengan mengambil sampel pendamping LKS LU dari delapan Provinsi (Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat) yang merupakan wilayah jangkauan kerja Loka Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (LRSLU Minaula Kendari). Jumlah responden terlibat sebanyak 175, yang diminta untuk menjawab daftar pertanyaan yang dikirim melalui googledoc. Data kemudian ditabulasi dan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa peran yang dimainkan oleh pendamping cukup signifikan dalam melindungi lansia dari virus corona. Lansia perlu dijangkau agar mendapatkan informasi dan edukasi tentang virus covid dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami. Pendamping telah hadir memenuhi kebutuhan tersebut, dengan berperan sebagai pembimbing. Pendamping melakukan kegiatan pemberian edukasi kepada lansia dan keluarganya, serta upaya preventif lainnya guna melindung lansia dari paparan corona melalui kegiatan kunjungan rumah. Kata kunci: Lansia, Pendamping, LKS LU, Wabah Corona.
Ilona Gok Dame, Theresia Indira Shanti, Reneta Kristiani
Sosio Konsepsia, Volume 10; https://doi.org/10.33007/ska.v10i3.2064

Abstract:
Kekerasan seksual yang pernah dialami ibu pada masa kanak-kanak dapat berdampak negatif pada kehidupannya, terutama dalam menjalankan peran pengasuhan anak. Individu yang mengalami kekerasan seksual umumnya merasa kurang aman dan kurang mampu dalam mengendalikan lingkungannya. Pada ibu, dampak psikologis ini berkaitan dengan keyakinan bahwa ia dapat memberikan pengasuhan yang baik untuk anak-anaknya, yang disebut dengan parenting self-efficacy. Dukungan sosial dibutuhkan untuk mengurangi dampak negatif dari pengalaman masa lalu tersebut. Tujuan penelitian ini untuk meneliti hubungan antara parenting self-efficacy dan dukungan sosial pada para ibu yang mengalami kekerasan seksual saat masa kanak-kanak. Penelitian ini menggunakan 36 pertanyaan Self-Efficacy for Parenting Tasks Index dan 40 pertanyaan Interpersonal Support Evaluation List untuk menguji korelasi antarkedua hal tersebut. Hasil tes korelasi menunjukkan hubungan yang signifikan antara parenting self-efficacy dan dukungan sosial pada para ibu yang mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanak (r=0.709; p=0.000, L.o.S 0.01). Hasil menunjukkan bahwa para ibu yang mengalami kekerasan seksual masa kanak-kanak membutuhkan dukungan sosial berkelanjutan untuk dapat mengasuh anak-anaknya dengan parenting self-efficacy yang tinggi. Oleh karena itu, dukungan sosial bagi para ibu, penyintas kekerasan seksual, sangat penting karena berdampak pada masa depan penyintas tersebut dan juga individu lain yang dipengaruhi oleh penyintas tersebut. Kata kunci: ibu, parenting self-efficacy, kekerasan seksual masa kanak-kanak, dukungan sosial
Ferry Rhendra P. P. Sitorus, Indonesia Universitas Cendrawasih Papua
Sosio Konsepsia, Volume 10; https://doi.org/10.33007/ska.v10i3.2014

Abstract:
Penelitian ini membahas pengembangan kapasitas dan potensi anak yang berhadapan dengan hukum saat dibina di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Jayapura. Prospek pengembangan kapasitas dan potensi anak yang berhadapan dengan hukum tersebut juga dikaitkan dengan keberadaan sistem sumber yang ada di lembaga pembinaan tersebut. Lembaga pembinaan yang didirikan di tahun 2017 ini berlokasi di Distrik Abepura dengan menggunakan sebagian fasilitas dari Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Kelas II Abepura. Total informan pada penelitian ini adalah dua belas orang dengan enam orang informan diantaranya adalah anak yang berhadapan dengan hukum. Pengumpulan data dilakukan selama bulan Agustus hingga pertengahan September 2019. Dinyatakan bahwa hasil temuan pertama dalam penelitian ini adalah anak yang berhadapan dengan hukum yang menggunakan sumber kegiatan pembinaan di LPKA Kelas II Jayapura untuk pencapaian cita-citanya adalah melalui kegiatan PBB (Pasukan Baris Berbaris), keterampilan membuat gelang dan cincin, bermain bola dan bulutangkis, bingkai foto dari koran, ibadah, serta fasilitas Taman Bacaan. Hasil temuan kedua dalam penelitian ini menyatakan bahwa sistem sumber di dalam LPKA Kelas II Jayapura yang disediakan adalah melalui unsur kelembagaan LPKA dan juga kegiatan pembinaannya. Terdapat prospek yang besar untuk menggunakan sistem sumber secara kelembagaan di masa mendatang karena anak yang berhadapan dengan hukum di LPKA ini masih berfokus pada penggunaan sistem sumber kegiatan pembinaan. Kata kunci: Anak yang berhadapan dengan hukum, Kapasitas, LPKA Kelas II Jayapura, Pembinaan
Irmawan Irmawan, Lidia Nugrahaningsih, A. Nururrochman Hidayatulloh
Sosio Konsepsia, Volume 10; https://doi.org/10.33007/ska.v10i3.2558

Abstract:
Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS Rutilahu) adalah proses mengembalikan keberfungsian sosial fakir miskin melalui upaya memperbaiki kondisi rumah yang dilakukan secara gotong royong. Penelitian ini bertujuan mengetahui Efektivitas Program Rehabilitasi Sosial Rutilahu bagi Keluarga Penerima Manfaat. Jenis penelitian gabungan deskriptif kuantitatif dan kualitatif; Lokasi di Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo; Responden dipilih secara purposivesampling, yaitu Keluarga Penerima Manfaat Rutilahu sejumlah 50 responden dan 10 informan untuk stakeholder; Teknik pengumpulan data meliputi: Angket untuk 50 KPM; Wawancara untuk 10 stakeholder; Observasi melihat kondisi rumah; Telaah dokumen. Analisis deskriptif kuantitatif dari aspek fisik bangunan rumah, kesehatan, keamanan dan sosial. Analisis deskriptif kualitatif untuk kesejahteraan KPM. Hasil penelitian: Program RS Rutilahu bagi KPM dapat memperbaiki Rutilahu menjadi rumah yang layak huni sesuai dengan persyaratan keamanan, kesehatan dan sosial, penyaluran bantuan tepat sasaran, dan dapat memberdayakan KPM. Kesimpulan: Rehabilitasi Sosial Rumuh Tidak Layak Huni termasuk efektif dapat memperbaiki rumah menjadi layak huni. Rekomendasi kepada Kementerian Sosial RI cq Dirjen PFM bahwa Program RS Rutilahu termasuk efektif, sehingga program tersebut perlu dilanjutkan dan ditingkatkan, baik secara kuantitatif dengan menambah jumlah KPM maupun secara kualitatif dengan menambah besarnya bantuan dari 15 juta menjadi 25 juta/KPM agar kualitas bagunan rumah semakin baik. Kata kunci: Efektivitas, Rehabilitasi, Rutilahu, Keluarga
Lasarus Jehamat, Yosef Emanuel Jelahut, Christine Erika Meka
Sosio Konsepsia, Volume 10, pp 122-137; https://doi.org/10.33007/ska.v10i2.2360

Abstract:
The study was entitled Good Practices for the Implementation of the Harapan Family Program (Case Study in Oesena Village and Nonbes Village, Amarasi District, Kupang Regency). This study is based on data on the amount of PKH funds that were not used properly in several regions, including NTT. However, the Beneficiary Groups (KPM) in Oesena and Nonbes Villages demonstrated good practice of PKH funds. This study aims to see and identify the efforts developed by the KPM PKH Program post-exit PKH Program and the business strategies of post-exit PKH fund recipients in improving welfare. This study uses qualitative techniques with 12 research subjects. Sampling is done by purposes sampling. Data collection was carried out by means of observation, FGD, and in-depth interviews. The results showed that the PKH funding program in Oesena and Nonbes villages was very good in developing PKH funds. Funds received by KPM are used to meet the needs of schools and pregnant women (30%), savings (20) and to develop household businesses (50%). KPM members have an innovative, creative, and productive spirit in PKH assistance funds. PKH Beneficiary Groups (KPM) in Oesena Village and Nonbes Village have a strategy to improve welfare, namely by making individual budget plans, starting small businesses, marketing products from capital and PKH.
Ratih Probosiwi, Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Yogyakarta Indonesia, Afrinia Lisditya Putri
Sosio Konsepsia, Volume 10, pp 177-192; https://doi.org/10.33007/ska.v10i2.2423

Abstract:
This paper examined the Jogo Tonggo policy issued by the Central Java Provincial Government in the face of the Covid-19 pandemic. Methodology: This research is a qualitative descriptive, data were collected by in-depth interviews with respondents who were selected by snowball sampling. The research was conducted in Purworejo Regency. Result: The Covid-19 pandemic changed the pattern of relations between communities through the local (village) self-contained quarantine that was enforced in villages. Several village-level social activities were canceled to avoid crowds. Jogo tonggo begins with the provision of PPE and disinfectant equipment. Community solidarity with neighbors is established as usual, even better, for example helping neighbors who must self-quarantine. The form of solidarity that is carried out is by taking turns providing foodstuffs for 14 days of quarantine with a varied menu managed by the PKK or Dasawisma group. The community also routinely works together in spraying disinfectants, guarding the entrance portal which is managed in rotation. Recommendation: This movement needs to be continuously advocated so that people who are getting fed up with pandemic conditions remain vigilant and do not ignore health protocols. It is also necessary to think about a stimulus for villages to assist with foodstuffs, medical devices and internet quota packages for school children.
Trio Saputra, Aguswan Aguswan, Syofian Syofian, Harapan Tua F.S
Sosio Konsepsia, Volume 10, pp 147-158; https://doi.org/10.33007/ska.v10i2.2063

Abstract:
The objectives of this research are: (1) Identification of groups of Sakai residents who want to obtain (2) The role of local government in cultural development and local wisdom, (3) The appropriate model for strengthening social capital for the Sakai tribe. This study uses a qualitative approach by expressing phenomenology, exploring and describing the current condition of the Sakai people. The research informants were the Head of the Bengkalis Regency Tourism and Culture Office, Tualang Mandau Sub-District Head, Mandau Sub-District Head, Village Head Bathin Salopan District and the Head of Bathin (tribal chief) in three Sakai areas, namely the Industrial Plantation Forest area, the Rokan Muandau River Area, and the Batin Salopan Traditional Area. This research was conducted in July 2018 to April 2019. The results of this study are (1) identification of finding groups of Sakai residents divided into four groups who are in different areas. (2) The role of the government is considered to have not been maximal in the development and empowerment of the Sakai people in the Bengkalis district (3) The social capital strengthening model in the Government, the private sector and the community must mutually strengthen and support the development and empowerment of the Sakai tribe
Back to Top Top