AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian

Journal Information
ISSN / EISSN : 2615-2207 / 2579-843X
Total articles ≅ 72
Filter:

Latest articles in this journal

Tri Lestari, Suharyanto Suharyanto, Suyipto Eko Pratomo
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 100-108; https://doi.org/10.33019/agrosainstek.v5i2.162

Abstract:
Lahan pasca tambang timah termasuk dalam karakteristik lahan marjinal karena memiliki tingkat kandungan hara yang rendah. Upaya pemanfaatan lahan pasca tambang timah pada pertanian yaitu budidaya tanaman seperti sorgum dengan pemberian berbagai dosis pupuk kotoran ayam dan N,P,K. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui respon pertumbuhan dan produksi sorgum di lahan pasca tambang timah dengan pemberian berbagai dosis pupuk kotoran ayam dan N,P,K. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF). Faktor pertama adalah dosis pupuk kotoran ayam yang terdiri dari 100 %, 50 % dan 25 % dosis acuan. Faktor kedua adalah dosis pupuk N,P,K yang terdiri dari 100 % dan 50 % dosis acuan. Hasil penelitian menunjukkan pupuk kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun. Pupuk N,P,K berpengaruh sangat nyata terhadap parameter tinggi tanaman, diameter batang, bobot berangkasan basah, panjang akar, hasil biji per tanaman dan produktivitas. Pupuk N,P,K berpengaruh nyata terhadap parameter total padatan terlarut. Pengurangan dosis pupuk kotoran ayam dari 100 % ke 50 % menunjukkan hasil berbeda tidak nyata terhadap jumlah daun. Pengurangan dosis pupuk N,P,K menunjukkan hasil berbeda nyata terhadap semua parameter. Perlakuan A1K1 (pupuk kotoran ayam 100 % + pupuk N,P,K 100 %) merupakan kombinasi perlakuan terbaik untuk pertumbuhan dan produksi sorgum di lahan pasca tambang timah.
Kunto Wibisono, Syarifah Iis Aisyah, Waras Nurcholis, Sri Suhesti
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 89-99; https://doi.org/10.33019/agrosainstek.v5i2.247

Abstract:
Genetic enhancement in vegetatively propagated crops can be done through mutation induction. Colchicine-induced mutation is one of the methods that can be employed to increase plant genetic diversity. This study aimed to determine the effect of colchicine on the performance and genetic parameters of MV3 generation of Plectranthus amboinicus (L.). This study was conducted at the Laboratory of Agricultural Seed Management, Plantation Research and Development Center, from June 2018 to June 2019. Nodes and shoots were used as explants. Mutation induction was performed using colchicine at concentrations of 0%, 0.02%, 0.04%, and 0.06%. Explant regeneration and subculture were done on MS0 medium. The number of plantlets yielded were 59 (0% concentration of colchicine), 60 (0.02%), 81 (0.04%), and 80 plantlets (0.06%), respectively. Results indicated that colchicine-induced mutation in an in vitro culture was able to generate high genetic diversity in both quantitative and qualitative characters of the plantlets. At the concentration of 0.04%, colchicine produced the highest frequency of putative mutants (28.4%). Genetic parameters in MV3 generation of P. amboinicus plantlets showed that five quantitative characters, i.e. plantlet height, number of leaves, number of shoots, leaf length, and number of roots had high heritability values at a concentration around the LC50 value (0.0275%).
Liberty Chaidir, Dina Nur Mardiana, Ahmad Taofik, Yati Setiati Rachmawati
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 109-113; https://doi.org/10.33019/agrosainstek.v5i2.196

Abstract:
Barangan banana (Musa acuminata L.) is a plant that has the biggest contribution to national fruit production. The increasing demand for the banana requires the availability of seedlings, while conventional cultivation is unable to produce healthy, disease-free seedlings in a short time and large amount. In vitro culture is considered to be able to handle the constraints of the conventional seed supply. The purpose of this study was to determine the effect of foliar fertilizers on in vitro multiplication of barangan bananas. The method used was a single factor of Completely Randomized Design (CRD), the addition of leaf fertilizer consisting of five levels of media treatment, media MS (control), and 0.50 ml L-1 (p1); 0.75 ml L-1 (p2); 1.00 ml L-1 (p3); 1.25 ml L-1 (p4); 1.50 ml L-1 (p5) of leaf fertilizer media repeated five times. The data were analyzed with Analysis Variance then followed by Duncan Multiple Ranged Test of 5%. The results showed MS media still gave the best results compared to other leaf fertilizer media. Meanwhile, the leaf fertilizer media used in this study still gave good results on the initial time of buds appearance (p3 treatment), the number of shoots and the number of leaves in the p5 treatment, as well as the height of the plant in the p4 and p5 treatments. Therefore, the leaf fertilizer can be used to substitute MS media
Herry Marta Saputra, Budi Afriyansyah
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 124-132; https://doi.org/10.33019/agrosainstek.v5i2.211

Abstract:
Central Bangka Regency is one of central orange production in Bangka Belitung Islands Province. One of the important pests of sweet orange plants is fruit flies (Diptera: Tephritidae). This research aimed to study the diversity of fruit flies (Diptera: Tephritidae) on sweet orange plantations in Central Bangka Regency, Bangka Belitung Islands Province. The fruit flies were collected using Lynfield traps which installed in three villages producing sweet oranges in Central Bangka Regency. The types of attractants used to trap male fruit flies are methyl eugenol and cue lure. The fruit flies collected during the study were 4795 individuals, 3 genera, and 14 species. Fruit flies collected from the methyl eugenol were different compared to those collected using lure attractant trap. Most species (13 species) of fruit fly were found in Terentang village, and the rest was same (9 species). Bactrocera carambolae and B. dorsalis were the dominant fruit fly species in the three research locations.
Fitri Electrika Dewi Surawan, Eni Harmayani, Nurliyani Nurliyani, Djagal Wiseso Marseno
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 114-123; https://doi.org/10.33019/agrosainstek.v5i2.238

Abstract:
Several research on foxtail millet  starch have been studied, but there is no recommended method for isolation of foxtail millet starch.  In this study, isolation of Bencoolen foxtail millet  starch, using sodium hidroxyde with 1x, 2x and 3x cycles, hexane-Sodium hydroxide treatment, and destilled water were done. The purpose of this study were to determine  isolation method of Bencoolen foxtail millet starch which  minimum impurities, pasting and morphological properties. This research was conducted with a randomized complete design with isolation method as a factor. The result of this study shown that method of starch isolation with NaOH 0.3% three cycle, produces the highest  of starch and amylose content  were 83.15%  and 19.40%. The  moisture, ash, protein,  fat and crude fiber content of foxtail millet starch  were  8.48%, 0.47%, 4.45%, 0.09%, and 0.21% respectively. The gelatinization temperature, peak time, viscosity, and break down viscosity value  of this starch  were 78 oC, 7.6 minutes,  4228 cp, and  2738 cp,  respectively. It has the highest brightness (L*),  and polygonal shape of starch granule.
Sri Nurmayanti, M Tahir, Gusti Ayu Putu Dianti
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 81-88; https://doi.org/10.33019/agrosainstek.v5i1.265

Abstract:
Tanaman nilam merupakan tanaman penghasil minyak atsiri dengan nilai ekonomi tertinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak atsiri lainnya. Keragaman genetik tanaman nilam tergolong rendah, karena di Indonesia baru terdapat lima klon unggul, dan keterbatasan ini menyebabkan pilihan varietas untuk budidaya juga terbatas. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk menghasilkan klon unggul baru yang memenuhi standar nasional. Penelitian ini menguji sembilan genotipe unggul nilam hasil mutasi pada dataran rendah. Tujuan utama penelitian untuk mendapatkan kestabilan hasil, variabilitas yang luas, mengetahui korelasi tiap parameter, dan kedekatan kelas sepuluh genotipe nilam. Penelitian menggunakan bahan tanam sembilan klon tanaman nilam hasil koleksi dan satu varietas nilam yang telah rilis di Indonesia sebagai pembanding, yaitu Lhoksemauwe. Perlakuan disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna dengan tiga ulangan. Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat perbedaan signifikan pada hampir seluruh parameter pengamatan kecuali pada parameter diameter batang. Genotipe yang digunakan sudah menunjukkan kestabilan hasil pada lokasi Rajabasa Lampung Selatan. Variabilitas pada hampir seluruh parameter menunjukkan kriteria luas kecuali pada parameter turgiditas sel dan rendemen minyak. Korelasi positif yang signifikan terjadi antara beberapa parameter pengamatan. Kelas yang terbentuk sebanyak empat kelas dan yang memiliki kedekatan lebih dari 90% ada tiga kelas.
Maisya Zahra Al Banna, Widiastini Arifuddin
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 72-80; https://doi.org/10.33019/agrosainstek.v5i1.233

Abstract:
Bambu dikenal sebagai memiliki kemampuan adaptif yang tinggi dalam mentoleransi perubahan ataupun cekaman lingkungan. Mikroorganisme lokal pada beberapa bagian tanaman bambu telah banyak dilaporkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan biokompos, namun potensi bakteri asal tanaman bambu sebagai penghasil IAA belum banyak dilaporkan. Dalam penelitian ini dilakukan isolasi bakteri rizosfer dan endofit yang berasal dari enam jenis bambu berbeda. Sampel bambu diperoleh dari kawasan hutan bambu Stasiun Mengkendek Tana Toraja. Isolat bakteri rizosfer diperoleh dari daerah sekitar perakaran tanaman bambu, sedangkan isolat bakteri endofit diperoleh dari jaringan segar akar dan rebung bambu. Dalam penelitian ini diperoleh 6 isolat bakteri rizosfer dan 12 isolat bakteri endofit. Seluruh isolat diidentifikasi bentuk sel, tipe Gram, uji biokimia, serta diukur kemampuannya dalam memproduksi IAA. Dari 18 isolat, diperoleh 12 isolat penghasil IAA. Isolat bakteri endofit mendominasi perolehan isolat penghasil IAA. Dari hasil identifikasi 16S diketahui isolat K12 memiliki kemiripan dengan Bacillus cereus dan mampu menghasilkan IAA sebesar 1.301 mg L-1, sedangkan isolat K14 memiliki kemiripan dengan Stenotrophomonas maltophilia dengan kemampuan menghasilkan IAA sebesar 2.737 mg L-1. Hasil rekonstruksi pohon filogeni menunjukkan isolat K12 memiliki kemiripan pasangan basa dengan Bacillus weidmannii, dan isolat K14 memiliki kekerabatan dengan kelompok Stenotrophomonas sp.
Slamet Bambang Priyanto, Noladhi Wicaksana, Meddy Rachmadi
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 44-53; https://doi.org/10.33019/agrosainstek.v5i1.203

Abstract:
Perakitan varietas jagung toleran Nitrogen rendah dihadapkan pada interaksi genotipe x lingkungan. Interaksi genotipe x lingkungan mengakibatkan suatu genotipe tidak mampu mempertahankan penampilannya pada kondisi suboptimal. Hal tersebut menyulitkan pemulia dalam memilih tanaman yang stabil pada kondisi optimal dan suboptimal Penggunaan beberapa metode analisis stabilitas secara simultan bisa memberikan informasi stabilitas yang lebih akurat. Penelitian ini bertujuan 1) mengetahui stabilitas hasil calon varietas jagung hibrida toleran N rendah, 2) Memperoleh varietas dengan stabilitas dan hasil tinggi pada kondisi lingkungan optimal dan suboptimal. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun percobaan Bajeng Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan,. Penelitian disusun dalam rancangan petak terbagi dengan dua kali ulangan. Tiga taraf pupuk N (N0=0 kg N ha-1, N1=100 kg N ha-1dan N2 =200 kg N ha-1) sebagai petak utama dan 39 genotipe jagung (36 hibrida hasil persilangan galur toleran N rendah dan 3 varietas pembanding Nasa 29, Bisi 18 dan Jakorin 1) sebagai anak petak. Variabel yang diamati adalah hasil biji pada kadar air 15%. Analisis stabilitas yang digunakan adalah metode Francis and Kannenberg, Finlay and Wilkinson, Eberhart and Russel, dan GGE Biplot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada genotipe yang stabil secara keseluruhan di keempat analisa yang digunakan, tetapi tiga genotipe stabil pada dua metode analisa stabilitas. Genotipe H5, H6 dan H15 merupakan genotipe dengan hasil dan stabilitas tinggi. Ketiga genotipe tersebut berpeluang untuk dilepas menjadi varietas jagung toleran N rendah.
Hishar Mirsam, Masluki Masluki, Mutmainnah Mutmainnah
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 34-43; https://doi.org/10.33019/agrosainstek.v5i1.227

Abstract:
Cendawan rhizosfer dan endofit merupakan jenis mikroba fungsional yang mampu memproduksi metabolit sekunder yang dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman baik secara langsung atau tidak langsung. Penelitian ini bertujuan mengisolasi dan menguji kemampuan cendawan rhizosfer dan endofit asal tanaman kelor terhadap viabilitas dan vigor kecambah benih padi. Eksplorasi cendawan dilakukan terhadap sampel tanah di bagian rhizosfer serta jaringan batang dan daun tanaman kelor sehat. Isolasi cendawan dari tanah bagian rhizosfer dilakukan dengan teknik pengenceran 10-2 dan 10-3, sedangkan cendawan endofit dilakukan pada jaringan daun dan batang tanamn kelor, kemudian dibiakkan pada media medium potato dextrose agar (PDA). Uji patogenisitas cendawan dan pengaruhnya terhadap perkecambahan benih padi secara in-vitro dengan metode blotter test, yaitu dengan cara menumbuhkan benih padi sebanyak 25 butir pada isolat cendawan berumur 7 hari. Sebanyak sembilan belas isolat cendawan berhasil diisolasi dan dikoleksi dari berbagai bagian tanaman kelor. Pengamatan patogenisitas menunjukkan terdapat lima isolat cendawan yang berpotensi sebagai patogen, yaitu isolat RF2, RF5, RF6, RF8, dan EDF6. Sebanyak empat isolat cendawan yang telah diuji konsisten memberikan pengaruh positif terhadap viabilitas dan vigor benih benih dengan nilai ≥90% yaitu isolate RF4, EDF1, EDF2, dan EDFbt3
Maman Suryaman, Ida Hodiyah, Yeni Nuraeni
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 18-26; https://doi.org/10.33019/agrosainstek.v5i1.172

Abstract:
Fase perkecambahan merupakan fase yang peka terhadap cekaman abiotik, termasuk cekaman salintas. Invigorasi dapat mengurangi efek negatif cekaman salinitas dan mempercepat proses perkecambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perlakuan invigorasi dalam memitigasi cekaman salinitas pada fase perkecambahan. Penelitian dilaksanakan di rumah plastik Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan pola faktorial yang diulang 3 kali. Faktor 1 = cekaman salinitas air laut, terdiri dari 3 level (0% = DHL = 0,6 mS cm-1; 10% = 7,69 mS cm-1; dan 20% = 11,4 mS cm-1), Faktor 2 = invigorasi, terdiri dari 4 level (air sebagai kontrol, ekstrak kulit manggis, ekstrak kunyit, dan campuran ekstrak kulit manggis dan ekstrak kunyit). Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terjadi efek interaksi secara nyata antara cekaman salinitas dengan invigorasi terhadap semua parameter pengamatan, tetapi masing masing perlakuan secara mandiri memberikan pengaruh yang signifikan. Cekaman salinitas menimbulkan efek negatif pada fase perkecambahan. Invigorasi dengan menggunakan ekstrak kulit manggis atau ekstrak kunyit dapat mempertahankan vigor kedelai pada kondisi cekaman salinitas, sehingga dapat digunakan untuk memitigasi cekaman salinitas pada fase perkecambahan.
Back to Top Top