AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian

Journal Information
ISSN / EISSN : 2615-2207 / 2579-843X
Published by: Universitas Bangka Belitung (10.33019)
Total articles ≅ 66
Filter:

Latest articles in this journal

Sri Nurmayanti, M Tahir, Gusti Ayu Putu Dianti
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 81-88; doi:10.33019/agrosainstek.v5i1.265

Abstract:
Tanaman nilam merupakan tanaman penghasil minyak atsiri dengan nilai ekonomi tertinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak atsiri lainnya. Keragaman genetik tanaman nilam tergolong rendah, karena di Indonesia baru terdapat lima klon unggul, dan keterbatasan ini menyebabkan pilihan varietas untuk budidaya juga terbatas. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk menghasilkan klon unggul baru yang memenuhi standar nasional. Penelitian ini menguji sembilan genotipe unggul nilam hasil mutasi pada dataran rendah. Tujuan utama penelitian untuk mendapatkan kestabilan hasil, variabilitas yang luas, mengetahui korelasi tiap parameter, dan kedekatan kelas sepuluh genotipe nilam. Penelitian menggunakan bahan tanam sembilan klon tanaman nilam hasil koleksi dan satu varietas nilam yang telah rilis di Indonesia sebagai pembanding, yaitu Lhoksemauwe. Perlakuan disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna dengan tiga ulangan. Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat perbedaan signifikan pada hampir seluruh parameter pengamatan kecuali pada parameter diameter batang. Genotipe yang digunakan sudah menunjukkan kestabilan hasil pada lokasi Rajabasa Lampung Selatan. Variabilitas pada hampir seluruh parameter menunjukkan kriteria luas kecuali pada parameter turgiditas sel dan rendemen minyak. Korelasi positif yang signifikan terjadi antara beberapa parameter pengamatan. Kelas yang terbentuk sebanyak empat kelas dan yang memiliki kedekatan lebih dari 90% ada tiga kelas.
Suriani Suriani, Amran Muis, Septian Hary Kalqutny
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 1-7; doi:10.33019/agrosainstek.v5i1.207

Abstract:
Foxtail millet has the potential to be developed as a healthier food alternative because of its high nutritional value. Disease such as leaf blight caused by Bipolaris setariae is one of the limiting factors in Foxtail millet productivity. One of the efforts to control the pathogen is by utilizing resistant varieties. In this study, two candidate varieties and two germplasm accessions were tested to determine the level of resistance to Bipolaris setariae leaf blight. The study was arranged based on a complete randomized design with six replications. Each test material was inoculated with the spore suspension at 4 WAP. Disease intensity was observed based on the disease scoring at 7, 9, and 11 WAP. AUDPC value is calculated based on the intensity of the attack at a particular observation time. Grain weight was recorded and statistically analyzed. The two candidate varieties of foxtail millet Pagamogo and Tedamude from Nagekeo Regency showed a moderately resistant response to leaf blight and had the lowest AUDPC values of 907.69 and 912.31. The highest increase in AUDPC values was observed in the initial observation period at 0-49 DAP.
Hishar Mirsam, Masluki Masluki, Mutmainnah Mutmainnah
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 34-43; doi:10.33019/agrosainstek.v5i1.227

Abstract:
Cendawan rhizosfer dan endofit merupakan jenis mikroba fungsional yang mampu memproduksi metabolit sekunder yang dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman baik secara langsung atau tidak langsung. Penelitian ini bertujuan mengisolasi dan menguji kemampuan cendawan rhizosfer dan endofit asal tanaman kelor terhadap viabilitas dan vigor kecambah benih padi. Eksplorasi cendawan dilakukan terhadap sampel tanah di bagian rhizosfer serta jaringan batang dan daun tanaman kelor sehat. Isolasi cendawan dari tanah bagian rhizosfer dilakukan dengan teknik pengenceran 10-2 dan 10-3, sedangkan cendawan endofit dilakukan pada jaringan daun dan batang tanamn kelor, kemudian dibiakkan pada media medium potato dextrose agar (PDA). Uji patogenisitas cendawan dan pengaruhnya terhadap perkecambahan benih padi secara in-vitro dengan metode blotter test, yaitu dengan cara menumbuhkan benih padi sebanyak 25 butir pada isolat cendawan berumur 7 hari. Sebanyak sembilan belas isolat cendawan berhasil diisolasi dan dikoleksi dari berbagai bagian tanaman kelor. Pengamatan patogenisitas menunjukkan terdapat lima isolat cendawan yang berpotensi sebagai patogen, yaitu isolat RF2, RF5, RF6, RF8, dan EDF6. Sebanyak empat isolat cendawan yang telah diuji konsisten memberikan pengaruh positif terhadap viabilitas dan vigor benih benih dengan nilai ≥90% yaitu isolate RF4, EDF1, EDF2, dan EDFbt3
Ismed Inonu, Rion Apriyadi, Dera Utari
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 27-33; doi:10.33019/agrosainstek.v5i1.209

Abstract:
Lahan bekas tambang timah sebagian besar berbentuk tailing pasir, dengan tekstur didominasi oleh fraksi pasir, sehingga daya pegang airnya rendah. Sistem irigasi growick dikembangkan pada budidaya tanaman di lahan pascatambang, dengan memanfaatkan sumbu kapiler Untuk mempertahankan kandungan air pada media tanam, maka perlu diameliorasi dengan sabut kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis sabut kelapa yang ditambahkan pada media tailing pasir terhadap pertumbuhan dan hasil pakcoy dengan sistem irigasi growick tailing. Penelitian di lahan Kebun Percobaan dan Penelitian Universitas Bangka Belitung, Desa Balunijuk Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka pada Januari sampai April 2020. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Tunggal dengan 3 ulangan. Perlakuan dosis sabut kelapa yang diteliti adalah 0; 200; 400; 600; 800, dan 1000 g per polybag. Data yang diperoleh akan dianalis statistika menggunakan Analysis of Variance dan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan produksi pakcoy dipengaruhi oleh dosis ameliorant sabut kelapa, dan pertumbuha dan produksi paling baik diperoleh pada dosis 600 g. Efisiensi penggunaan air oleh tanaman pada dosis 600 g paling efisien.
Maman Suryaman, Ida Hodiyah, Yeni Nuraeni
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 18-26; doi:10.33019/agrosainstek.v5i1.172

Abstract:
Fase perkecambahan merupakan fase yang peka terhadap cekaman abiotik, termasuk cekaman salintas. Invigorasi dapat mengurangi efek negatif cekaman salinitas dan mempercepat proses perkecambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perlakuan invigorasi dalam memitigasi cekaman salinitas pada fase perkecambahan. Penelitian dilaksanakan di rumah plastik Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan pola faktorial yang diulang 3 kali. Faktor 1 = cekaman salinitas air laut, terdiri dari 3 level (0% = DHL = 0,6 mS cm-1; 10% = 7,69 mS cm-1; dan 20% = 11,4 mS cm-1), Faktor 2 = invigorasi, terdiri dari 4 level (air sebagai kontrol, ekstrak kulit manggis, ekstrak kunyit, dan campuran ekstrak kulit manggis dan ekstrak kunyit). Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terjadi efek interaksi secara nyata antara cekaman salinitas dengan invigorasi terhadap semua parameter pengamatan, tetapi masing masing perlakuan secara mandiri memberikan pengaruh yang signifikan. Cekaman salinitas menimbulkan efek negatif pada fase perkecambahan. Invigorasi dengan menggunakan ekstrak kulit manggis atau ekstrak kunyit dapat mempertahankan vigor kedelai pada kondisi cekaman salinitas, sehingga dapat digunakan untuk memitigasi cekaman salinitas pada fase perkecambahan.
Eko Binnaryo Mei Adi, Sri Indrayani, Nana Burhana, Enung Sri Mulyaningsih
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 8-17; doi:10.33019/agrosainstek.v5i1.143

Abstract:
Padi merupakan salah satu sumber karbohidrat utama bagi masyarakat Indonesia. Upaya pengembangan varietas baru sangat bergantung pada ketersediaan plasma nutfah sebagai sumber material genetik. Salah satu cara dalam pengembangan varietas baru melalui persilangan buatan untuk menciptakan keragaman dengan menggunakan kultivar lokal dan varietas/galur unggul. Tujuan penelitian ialah untuk mengeksplorasi korelasi, heterosis, aksi gen, dan heritabilitas arti luas pada delapan karakter padi, yang dapat digunakan dalam melakukan seleksi. Kegiatan persilangan buatan telah dilakukan dengan menggunakan satu galur unggul dan empat kultivar padi lokal yang memiliki karakter beragam. Empat populasi hasil persilangan (F1) ditanam menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat ulangan, serta lima tetua (galur unggul dan padi lokal) sebagai pembanding. Hasil perhitungan korelasi menemukan bahwa terdapat satu variabel yang menunjukan korelasi pada hampir semua karakter yaitu bobot malai. Heritabilitas tinggi terdapat pada karakter umur panen, panjang malai, jumlah gabah permalai, bobot 1000 biji dan tinggi tanaman. Persilangan yang menunjukan fenomena heterosis negatif ialah pada B14081H-296 x Salak dan Dampak x Carogol sehingga memiliki umur panen yang lebih pendek dari rata-rata kedua tetua dengan aksi gen dominan sebagian dan aditif.
Rion Apriyadi, Tri Lestari
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 64-71; doi:10.33019/agrosainstek.v5i1.241

Abstract:
Pengendalian penggerek batang lada Lophobaris piperis Marsh (Coleoptera: Curculionidae) dan penghisap buah lada Dasynus piperis China (Hemiptera: Coreidae) dapat dilakukan dengan menggunakan teknik aplikasi insektisida dan pengendalian secara kultur teknis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik frekuensi aplikasi insektisida kimia dan teknik pengendalian gulma terhadap kelimpahan dan intensitas kerusakan yang diakibatkan oleh hama Lophobaris piperis Marsh and Dasynus piperis China pada tanaman lada. Penelitian dilaksanakan di kebun petani lokal dengan kriteria kebun yang dipilih berupa kombinasi antara teknik pengendalian gulma dengan metode penyiangan, herbisida dan tanaman penutup Arachis pintoi Krap. & Greg. serta frekuensi aplikasi insektisida sebanyak 2 kali dan 4 kali setahun. Hasil penelitian mendapatkan bahwa kelimpahan hama tertinggi terdapat pada kebun lada yang menerapkan teknik pengendalian gulma menggunakan penyiangan dan aplikasi herbisida yang dikombinasikan dengan aplikasi insektisida sebanyak 4 kali setahun. Intensitas kerusakan mutlak dan intensitas kerusakan relatif tertinggi ditemukan pada kebun lada dengan aplikasi insektisida sebanyak 2 kali setahun. Intensitas kerusakan cenderung menurun pada kebun lada yang menerapkan teknik pengendalian gulma menggunakan tanaman A. pintoi.
Slamet Bambang Priyanto, Noladhi Wicaksana, Meddy Rachmadi
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 44-53; doi:10.33019/agrosainstek.v5i1.203

Abstract:
Perakitan varietas jagung toleran Nitrogen rendah dihadapkan pada interaksi genotipe x lingkungan. Interaksi genotipe x lingkungan mengakibatkan suatu genotipe tidak mampu mempertahankan penampilannya pada kondisi suboptimal. Hal tersebut menyulitkan pemulia dalam memilih tanaman yang stabil pada kondisi optimal dan suboptimal Penggunaan beberapa metode analisis stabilitas secara simultan bisa memberikan informasi stabilitas yang lebih akurat. Penelitian ini bertujuan 1) mengetahui stabilitas hasil calon varietas jagung hibrida toleran N rendah, 2) Memperoleh varietas dengan stabilitas dan hasil tinggi pada kondisi lingkungan optimal dan suboptimal. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun percobaan Bajeng Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan,. Penelitian disusun dalam rancangan petak terbagi dengan dua kali ulangan. Tiga taraf pupuk N (N0=0 kg N ha-1, N1=100 kg N ha-1dan N2 =200 kg N ha-1) sebagai petak utama dan 39 genotipe jagung (36 hibrida hasil persilangan galur toleran N rendah dan 3 varietas pembanding Nasa 29, Bisi 18 dan Jakorin 1) sebagai anak petak. Variabel yang diamati adalah hasil biji pada kadar air 15%. Analisis stabilitas yang digunakan adalah metode Francis and Kannenberg, Finlay and Wilkinson, Eberhart and Russel, dan GGE Biplot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada genotipe yang stabil secara keseluruhan di keempat analisa yang digunakan, tetapi tiga genotipe stabil pada dua metode analisa stabilitas. Genotipe H5, H6 dan H15 merupakan genotipe dengan hasil dan stabilitas tinggi. Ketiga genotipe tersebut berpeluang untuk dilepas menjadi varietas jagung toleran N rendah.
Maisya Zahra Al Banna, Widiastini Arifuddin
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 72-80; doi:10.33019/agrosainstek.v5i1.233

Abstract:
Bambu dikenal sebagai memiliki kemampuan adaptif yang tinggi dalam mentoleransi perubahan ataupun cekaman lingkungan. Mikroorganisme lokal pada beberapa bagian tanaman bambu telah banyak dilaporkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan biokompos, namun potensi bakteri asal tanaman bambu sebagai penghasil IAA belum banyak dilaporkan. Dalam penelitian ini dilakukan isolasi bakteri rizosfer dan endofit yang berasal dari enam jenis bambu berbeda. Sampel bambu diperoleh dari kawasan hutan bambu Stasiun Mengkendek Tana Toraja. Isolat bakteri rizosfer diperoleh dari daerah sekitar perakaran tanaman bambu, sedangkan isolat bakteri endofit diperoleh dari jaringan segar akar dan rebung bambu. Dalam penelitian ini diperoleh 6 isolat bakteri rizosfer dan 12 isolat bakteri endofit. Seluruh isolat diidentifikasi bentuk sel, tipe Gram, uji biokimia, serta diukur kemampuannya dalam memproduksi IAA. Dari 18 isolat, diperoleh 12 isolat penghasil IAA. Isolat bakteri endofit mendominasi perolehan isolat penghasil IAA. Dari hasil identifikasi 16S diketahui isolat K12 memiliki kemiripan dengan Bacillus cereus dan mampu menghasilkan IAA sebesar 1.301 mg L-1, sedangkan isolat K14 memiliki kemiripan dengan Stenotrophomonas maltophilia dengan kemampuan menghasilkan IAA sebesar 2.737 mg L-1. Hasil rekonstruksi pohon filogeni menunjukkan isolat K12 memiliki kemiripan pasangan basa dengan Bacillus weidmannii, dan isolat K14 memiliki kekerabatan dengan kelompok Stenotrophomonas sp.
Atma Elfahdi - Elfahdi
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 5, pp 54-63; doi:10.33019/agrosainstek.v5i1.236

Abstract:
Microwave treatment on white pepper was conducted to damage cell tissue to facilitate the distillation and increase the yield of essential oils. The research objective was to determine the effect of pepper varieties and microwave treatment on the profiles of volatile compounds and the characteristics of white pepper essential oils. The research was conducted with 50 grams of white pepper placed into a 15 cm diameter petri dish and put in a microwave oven at the power of 600 watts for 90 seconds then white pepper milled by hammer mill. Essential oils were obtained using the water distillation method then were tested for their characteristics and compounds using Gas chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). White pepper was analyzed using the water content, piperine content, and its cell tissue microstructure was analyzed using Scanning Electron Microscope (SEM). The results showed that different pepper as accession produced different profiles of volatile compounds, characteristics, and antioxidant activity (p<0.05). The number of volatile compounds of white pepper essential oils identified by GC-MS was 42, where the largest compound was β-caryophyllene (50.51%). Microwave treatment damaged the cell wall of white pepper, lowered water content (17.43%), increased piperine content (10.57%) and essential oil yield (25%), and changed the profiles of volatile compounds of essential oils of Lampung daun lebar accession. Color became bluer (b*value rises by 201.99%), increased specific gravity (1.27%) and antioxidant activity (7.4%), decreased solubility in 95% ethanol (17.95%) and acid number (20.8%) while the refractive index was not affected by pepper accessions and microwave treatment.
Back to Top Top