AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian

Journal Information
ISSN / EISSN : 26152207 / 2579843X
Current Publisher: Bangka Belitung University (10.33019)
Total articles ≅ 37
Filter:

Latest articles in this journal

AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian; doi:10.33019/agrosainstek

Suharjo Suharjo
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 3, pp 98-102; doi:10.33019/agrosainstek.v3i2.87

Abstract:Pembibitan Durian dapat dilakukan dengan menggunakan sumber bahan generatif dan vegetatif. Kedua sumber propagasi ini memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing. Bibit berkualitas diperoleh melalui kombinasi dari dua sumber bahan perbanyakan yang memiliki masing-masing kelebihan yang dapat saling melengkapi. Proses penggabungannya bisa melalui mini grafting. Metode mini grafting di pembibitan durian dapat menggunakan cara grafting samping dan grafting pucuk. Penelitian ini ingin mengkaji hubungan kandungan karbohidrat, protein, dan lemak terhadap keberhasilan pertumbuhan hasil mini grafting pada tanaman durian. Penelitian dilaksanakan dengan menganalisis kandungan karbohidrat, protein dan lemak pada batang atas yang akan digunakan untuk grafting, serta mengamati dan mengukur proses pertumbuhan tanaman hasil mini grafting. Kandungan karbohidrat pada batang atas memberikan kontribusi positif tertinggi terhadap peningkatan jumlah tunas diikuti oleh jumlah daun, luas daun, perbandingan luas daun, perbandingan pupus akar, panjang tunas, dan diameter batang. Kandungan protein dan kandungan lemak tidak dapat berkontribusi pada pertumbuhan bibit okulasi bahkan memiliki kecenderungan untuk menghambat pertumbuhan.
Eko Binnaryo Mei Adi, Enung Sri Mulyaningsih
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 3, pp 91-97; doi:10.33019/agrosainstek.v3i2.49

Abstract:Java turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) is cultivated as a secondary crop, resulting in variable rhizome quality which can be increased by suitable cultivation methods. This study investigated the effect of different cultivation methods on the rhizome yield of Java turmeric. Different fertilizer treatments(none, organic, inorganic, and semi-organic fertilizer), three groups of rhizome seed size (small (50–80 g), medium (100–150 g), and large (200–250 g)) and three groups of harvesting age (eight, ten, and twelve months after planting) were evaluated in a split plot design experiment. Results show that large rhizome seed size together with organic fertilizer treatment increased secondary rhizome production, yielding the highest number, weight and diameter. As high levels of starch in the primary rhizome are crucial for growth of the plant, the use of large rhizomes for propagation is indicated in Java turmeric cultivation. The highest weight and number of primary rhizomes were yielded when plants were harvested twelve months after planting.
Suci Primilestari, Eva Salvia, Ambar Yuswi Perdani
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 3, pp 84-90; doi:10.33019/agrosainstek.v3i2.74

Abstract:Kemunduran benih merupakan suatu peristiwa yang pasti terjadi. Penanaman padi lokal oleh petani umumnya menggunakan benih yang berasal dari sisa hasil panen sebelumnya dan telah melewati tahap penyimpanan sebelum ditanam kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui materi invigorasi hydropriming yang optimal dalam meningkatkan mutu fisiologis beberapa varietas padi lokal Jambi. Perlakuan diterapkan pada rancangan acak lengkap faktorial dengan 3 ulangan. Faktor 1 adalah varietas padi: Padi karya, Kuning Betung, Kuning Kerinci dan Gadis Jambi. Faktor 2 adalah invigorasi yang terdiri atas: kontrol (aquadest), larutan bawang merah dan larutan air kelapa muda. Sebanyak 30 butir benih untuk setiap satuan percobaan direndam selama 24 jam. Benih ditanam pada media kertas saring lembab dengan metode uji di atas kertas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi nyata antara varietas dan invigorasi terhadap perkecambahan benih padi lokal yang diuji. Perlakuan invigorasi menggunakan air kelapa nyata berpengaruh pada panjang akar, panjang plumula, panjang kecambah normal dan indeks vigor padi lokal. Varietas Kuning Betung memberikan tanggapan terbaik terhadap invigorasi. Perlakuan invigorasi merupakan upaya untuk memperbaiki performa benih sehingga mengurangi resiko kegagalan di lapangan, diharapkan berimplikasi terhadap peningkatan produksi padi.
Raihan Fadhil Muhammad, Budi Waluyo
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 3, pp 73-83; doi:10.33019/agrosainstek.v3i2.72

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari variabilitas genetik, heritabilitas, dan menyeleksi penampilan genotipe karakter agronomi unggul pada 57 galur sawi untuk digunakan dalam bahan baku konsumsi dan industri. Penelitian ini dilaksanakan di Seed Bank and Nursery, Agrotechno Park Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang pada bulan Desember 2018 – April 2019. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah rancangan acak kelompok diperluas (augmented design). Perlakuan yang diberikan adalah 60 genotipe sawi yang terdiri dari 57 genotipe yang diuji dan 3 varietas sebagai cek. Genotipe yang diuji akan disebar kedalam 5 blok, sedangkan tiga varietas cek akan ditanam pada setiap blok, sehingga terdapat 72 satuan percobaan. Variabel pengamatan karakter agronomi terdiri dari 15 karakter kualitatif dan 24 karakter kuantitatif. Variabilitas yang luas terdapat pada karakter biji per polong, jumlah polong per tanaman, dan berat segar. Heritabilitas tinggi terdapat pada karakter panjang kotiledon, jumlah daun konsumsi, berat segar, umur panen benih, jumlah polong per tanaman, panjang polong, lebar polong, dan jumlah biji per polong. Terdapat galur-galur sawi yang mempunyai karakter unggul untuk bahan baku konsumsi dan industri.
Niken Ayu Setyaputri, Theresa Dwi Kurnia
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 3, pp 65-72; doi:10.33019/agrosainstek.v3i2.76

Abstract:Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh konsentrasi kitosan sebagai bahan pelapis alami yang dikombinasikan dengan perlakuan pengemasan pada brokoli. Tujuan lainnya adalah untuk memperpanjang umur simpan dan kualitas brokoli selama penyimpanan pada suhu rendah, dengan menentukan konsentrasi kitosan yang tepat selama penyimpanan pada suhu rendah. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap faktorial. Faktor perlakuan untuk konsentrasi kitosan adalah kontrol (0%), 0,5%, 1% dan 2% yang dikombinasikan dengan perlakuan pengemasan plastik wrapping dan tanpa perlakuan pengemasan yang disimpan pada suhu rendah (5° C). Kombinasi perlakuan yaitu: (1) tidak dilapisi kitosan (0%) tanpa perlakuan pengemasan, (2) konsentrasi kitosan 0,5% tanpa perlakuan pengemasan, (3) konsentrasi kitosan 1% tanpa perlakuan pengemasan, (4) konsentrasi kitosan 2% tanpa perlakuan pengemasan, (5) tidak dilapisi kitosan (0%) dikemas dengan plastik wrapping, (6) konsentrasi kitosan 0,5% dikemas dengan plastik wrapping, (7) konsentrasi kitosan 1% dikemas dengan plastik wrapping, (8) konsentrasi kitosan 2% dikemas dengan plastic wrapping. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pelapisan konsentrasi kitosan 0,5% dan 1% yang dikombinasikan dengan perlakuan pengemasan platik wrapping yang disimpan pada suhu rendah, mampu memberikan hasil yang paling baik untuk memperpanjang umur simpan brokoli.
Ema Komalasari, Fitri Widiantini, Santika Sari, N Carsono
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 3, pp 59-64; doi:10.33019/agrosainstek.v3i2.67

Abstract:Penyakit pada padi, salah satunya tungro masih menjadi pembatas utama produksi padi di Indonesia. Pengendalian efektif dapat dilakukan melalui penggunaan dan pergiliran varietas tahan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui fisiologi genotipe-genotipe yang mengalami recovery setelah serangan tungro dibandingkan dengan genotipe-genotipe tahan. Penelitian dilakukan pada dua populasi generasi kedua persilangan Ketonggo x Utri Merah dan Ketonggo x ARC12596 masing-masing 230 genotipe di rumah kaca BB Padi dan Kebun percobaan Universitas Padjadjaran. Inokulasi virus pada tanaman dilakukan dengan menggunakan forced-tube inoculation dan skoring gejala berdasarkan sistem evaluasi standar untuk padi. Pengamatan kandungan klorofil, jumlah konduktansi stomata, dan kuantum efisiensi fotosintesis dilakukan dengan membandingkan antara grup genotipe recovery dengan grup genotipe tahan dan grup genotipe rentan, serta varietas cek tahan, dan varietas cek rentan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum genotipe-genotipe recovery dari persilangan Ketonggo x Utri Merah tidak memperlihatkan perbedaan yang signifikan dengan genotipe tahan maupun cek tahan pada pengamatan kandungan klorofil, konduktansi stomata, dan kuantum efisiensi fotosintesis. Hasil yang sama juga diperoleh untuk persilangan Ketonggo x ARC12596. Genotipe-genotipe yang mengalami recovery dari kedua persilangan memiliki morfologi dan fisiologi yang sama baiknya dengan genotipe tahan dan cek tahan sehingga dapat digunakan untuk menekan penyebaran penyakit tungro.
Alfi Rianti, Riwan Kusmiadi, Rion Apriyadi
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 3, pp 52-58; doi:10.33019/agrosainstek.v3i2.51

Abstract:Wick system merupakan salah satu jenis hidroponik yang menggunakan sumbu sebagai media penyerap nutrisi. Teh kompos bulu ayam dapat dimanfaatkan sebagai pengganti nutrisi konvensional dalam budidaya tanaman pakcoy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teh kompos bulu ayam dan menentukan nilai ppm terbaik pada nutrisi teh kompos bulu ayam terhadap pertumbuhan pakcoy. serta mengetahui penggunaan teh kompos bulu ayam untuk dapat mengantikan larutan hara konvensional pada sistem hidroponik.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal. terdapat 6 taraf perlakuan yang merupakan konsentrasi nutrisi teh kompos bulu ayam yang terdiri dari E0 (1000 ppm Ab-mix). E1 (900 ppm teh kompos). E2 (800 ppm teh kompos). E3 (700 ppm teh kompos). E4 (600 ppm teh kompos). E5 (500 ppm teh kompos) dengan 3 ulangan. Peubah yang diamati yaitu adalah tinggi tanaman. jumlah daun. warna daun. berat basah dan berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan nutrisi teh kompos bulu ayam berpengaruh sangat nyata jika dibandingkan dengan Ab-mix yang menunjukan Ab-mix lebih superior terhadap peubah yang diamati. meliputi tinggi tanaman. jumlah daun. warna daun. berat basah dan berat kering tanaman. Namun pada minggu pertama dan kedua pertumbuhan pakcoy masih relatif sama antar perlakuan. Semua perlakuan dengan menggunakan nutrisi teh kompos bulu ayam belum mampu menggantikan nutrisi konvensional.
Waras Nurcholis, Hartanti Hartanti, Suryani Suryani, Bambang Pontjo Priosoeryanto
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 3, pp 42-51; doi:10.33019/agrosainstek.v3i2.58

Abstract:The present study aimed to evaluate different agro-morphological traits among twenty genotypes of Curcuma aeruginosa Roxb. and three varieties of Curcuma zanthorrhiza Roxb. Agro-morphological data traits were investigated based on qualitative and quantitative parameters from PPVFRA descriptors with modification. All the recorded data was analyzed through SPSS 16.0 and R 3.4.2 for ANOVA and similarity analysis, respectively. Significant differences (P
Herry Marta Saputra, Sarinah Sarinah, Mardian Hasanah
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 3, pp 36-41; doi:10.33019/agrosainstek.v3i1.38

Abstract:Lalat buah Bactrocera spp. merupakan salah satu hama penting pada tanaman cabai. Tingkat kerusakan akibat serangan lalat buah pada buah cabai berkisar 60-80%. Kelimpahan dan dominansi spesies lalat buah di pertanaman cabai masih terbatas informasinya, khususnya di Pulau Bangka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan dominansi spesies lalat buah yang terdapat di area pertanaman cabai di Desa Paya Benua, Bangka. Penelitian ini dilakukan di tiga kebun cabai yang berlokasi di Desa Paya Benua, Bangka. Koleksi lalat buah dilakukan dengan menggunakan perangkap steiner yang diberi metil eugenol dan pada tiap lokasi dipasang empat buah perangkap. Perangkap dipasang pada pagi (06.00-10.00 WIB), siang (10.00-14.00 WIB), dan sore (14.00-18.00 WIB). Adapun, jumlah lalat buah yang diperoleh selama penelitian sebanyak 899 spesimen. Spesies lalat buah yang terperangkap pada perangkap metil eugenol pada pertanaman cabai di Desa Paya Benua, Bangka adalah Bactrocera carambolae, Bactrocera dorsalis, dan Bactrocera umbrosa. Jumlah lalat buah Bactrocera carambolae, B. dorsalis, dan B. umbrosa berturut-turut yaitu 251, 546, dan 102 individu. Lalat buah Bactrocera dorsalis adalah spesies dominan di pertanaman cabai di Desa Paya Benua, Bangka.