AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian

Journal Information
ISSN / EISSN : 2615-2207 / 2579-843X
Current Publisher: Bangka Belitung University (10.33019)
Total articles ≅ 54
Filter:

Latest articles in this journal

Neni Marlina, Gusmiatun Gusmiatun
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 129-136; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.133

Abstract:
Kedelai kaya akan protein dan sangat disukai masyarakat Indonesia. Namun produktivitas kedelai menurun, peningkatannya melalui perluasan areal tanam seperti lahan rawa lebak dangkal dan penggunaan pupuk hayati yang mengandung mikroorganisme seperti bakteri pelarut fosfat (BPF), Azospirillum, mikoriza dan pupuk organik hayati (POH). Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pupuk hayati ini mampu meningkatkan produktivitas padi di lahan lebak maupun pasang surut. Selanjutnya diharapkan pupuk hayati tersebut dapat membantu penyediaan serapan N dan P serta meningkatkan produktivitas kedelai di lahan lebak. Penelitian lapangan di lahan lebak dangkal di Kabupaten Ogan Ilir Propinsi Sumatera Selatan. Rancangan Acak Kelompok disusun 5 perlakuan dengan 5 kali pengulangan. Perlakuannya meliputi tanpa pupuk hayati, BPF, mikoriza, Azospirillum dan POH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BPF, mikoriza, Azospirillum dan POH mampu meningkatkan penyerapan hara N berturut-turut 201,33%, 182,67%, 170,67%, 161,33%, hara P 357,89%, 273,68%, 173,68%, 142,11% produksi kedelai berturut-turut 228,00%, 208,00%, 201,33% dan 194,67% dibandingkan tanpa pupuk hayati
Gribaldi Gribaldi, Nurlaili Nurlaili, Iqbal Effendy
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 121-128; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.131

Abstract:
Budidaya tanaman padi dengan sistem ratun merupakan salah satu upaya peningkatan produksi padi di Lahan pasang surut. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu panen dan pemupukan Nitrogen tanaman utama terhadap pertumbuhan dan hasil ratun padi di Lahan pasang surut. Penelitian dilaksanakan pada bulan April – Agustus 2019 di Lahan Percobaan Dinas Pertanian Kabupaten Banyuasin di Desa Seri Menanti Kecamatan Tanjung Lago, yang terletak pada -203’45, 972”S 104045’36,054”E. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) yang diulang sebanyak tiga kali. Adapun Petak Utama: Pemupukan N (N) terdiri dari N1; ½ dosis saat tanam + ½ dosis fase primordia, N2;1/3 dosis saat tanam + 1/3 dosis fase primordia + 1/3 dosis saat panen, dan N3; 1/3 dosis saat tanam + 1/3 dosis fase primordia + 1/6 dosis saat panen + 1/6 dosis pada 21 hari setelah panen. Anak Petak : Waktu panen (W) terdiri dari W1; tanaman utama dipanen 5 hari sebelum 100% masak, W2; tanaman utama dipanen saat 100% masak dan W3; tanaman utama dipanen 5 hari setelah 100% masak. Hasil penelitian menunjukan, waktu panen dan pemupukan N tanaman utama berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil ratun padi di Lahan pasang surut. Perlakuan waktu panen 5 hari sebelum 100% masak dan pemupukan N yang diberikan 1/3 dosis saat tanam + 1/3 dosis fase primordia + 1/3 dosis saat panen (W1N2), cenderung menunjukkan hasil ratun padi lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya, yaitu sebesar 2.06 ton ha-1 atau 54.2 persen dibanding hasil tanaman utama.
Abdul Mukhlis Ritonga, Furqon Furqon, Razifah Nur Ifadah
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 112-120; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.121

Abstract:
Jambu biji merupakan salah satu produk hortikultura yang dapat hidup di daerah tropis dan memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Buah pada daerah tropis cepat mengalami kerusakan terutama disebabkan oleh kondisi suhu dan kelembaban. Diperlukan penanganan pascapanen yang dapat memperpanjang umur simpan produk dan dapat mempertahankan mutu produk seperti alat pendingin evaporatif sebagai tempat penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1). Menghitung laju penurunan mutu buah jambu biji merah selama masa penyimpanan pada pendingin evaporatif dan suhu ruang. 2). Menganalisis perubahan sifat fisik buah jambu biji merah selama penyimpanan pada pendingin evaporatif dan suhu ruang. Variabel yang diukur meliputi efektifitas pendingin, suhu, kelembaban relatif, kadar air, susut bobot, kekerasan, kadar brix dan warna. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimental dengan objek penelitian yaitu jambu biji merah dengan ukuran diameter horizontal 7-8 cm dan panjang vertikal 6-8 cm. Jambu biji merah yang digunakan diperoleh dari perkebunan jambu di Kampung Penyisihan, Desa Ketenger. Analisis data pada penelitian ini menggunakan persamaan kinetika reaksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan penyimpanan pendingin evaporatif dapat mempertahankan mutu susut bobot, warna (Lab) dan kekerasan jambu biji merah. Sedangkan perlakuan suhu ruang dapat mempertahankan mutu kadar brix jambu biji selama penyimpanan.
Merynda Indriyani Syafutri, Friska Syaiful, Eka Lidiasari, Dela Pusvita
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 103-111; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.120

Abstract:
Beras merah diketahui memiliki kelebihan, yaitu mengandung serat dan antosianin yang bersifat fungsional. Potensi beras merah perlu digali lebih intensif melalui berbagai penelitian. Salah satu upaya pengembangan beras merah sebagai bahan pangan adalah dengan cara mengolahnya menjadi tepung. Terdapat beberapa tahapan yang harus diperhatikan untuk mendapatkan tepung dengan sifat fisikokimia yang baik, seperti pengeringan dan penggilingan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh lama dan suhu pengeringan terhadap karakteristik fisikokimia tepung beras merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial. Faktor penelitian yaitu lama pengeringan (A) dan suhu pengeringan (B). Faktor A terdiri dari tiga taraf yaitu 1 jam, 2 jam, dan 3 jam, dan faktor B juga terdiri dari tiga taraf yaitu 50°C, 55°C, dan 60°C. Parameter yang diamati adalah rendemen, densitas kamba, kapasitas penyerapan air, swelling power, kelarutan, kadar air, dan kadar amilosa tepung beras merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama dan suhu pengeringan secara signifikan menurunkan rendemen, densitas kamba, dan kadar air, tetapi secara signifikan meningkatkan kapasitas penyerapan air, swelling power, kelarutan, dan kadar amilosa tepung beras merah. Kadar air tepung beras merah yang dihasilkan telah sesuai dengan standar SNI (3549; 2009).
Cecep Hidayat, Asep Supriadin, Fantyana Huwaida’A, Yati Setiati Rachmawati
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 95-102; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.124

Abstract:
Tanah galian C yang memiliki sifat fisik, kimia dan biologi tanah kurang baik dilirik untuk digunakan sebagai alternatif budidaya tanaman sayuran, namun perlu mendapat masukan teknologi berupa penambahan bahan organik dan pemanfaatan FMA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian bokashi eceng gondok dan FMA dalam perbaikan sifat fisik tanah hasil tanaman cabai rawit Varietas Dewata. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 faktor. Faktor petama pemberian bokashi eceng gondok dengan 4 taraf; tanpa pemberian, 15 t ha-1, 20 t ha-1 dan 25 t ha-1. Faktor kedua pemberian FMA campuran sebanyak 3 taraf ; tanpa pemberian, 5 g polybag-1 dan 10 g polybag-1. Parameter yang diamati adalah bobot isi, porositas tanah, permeabilitas tanah, derajat infeksi, indeks panen, dan bobot basah buah. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi bokashi dan FMA memperbaiki sifat fisik tanah (bobot isi, porositas tanah dan permeabilitas tanah), indeks panen, dan bobot basah buah. Pengaruh mandiri aplikasi bokashi terjadi pada jumlah klorofil, adapun terhadap derajat infeksi yang berpengaruh inokulasi FMA. Aplikasi bokashi eceng gondok 15 t ha-1 dan FMA 5 g dapat digunakan pada budidaya tanaman cabai pada tanah galian C.
Ratna Santi, Gusmaini Gusmaini, Mamik Sarwendah
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 85-94; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.122

Abstract:
Rendahnya kesuburan tanah di Bangka menjadi permasalahan utama dalam pola budidaya lada secara menetap. Pemanfaatan mikro dan mesofauna berperan dalam dekomposisi bahan organik, memperbaiki struktur tanah, daur ulang hara dan mengurangi kehilangan hara. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi mesofauna isolasi dibawah tegakan lada dalam memacu pertumbuhan bibit lada. Tahapan awal kegiatan yaitu identifikasi dan analisis kelimpahan mesofauna contoh tanah yang diambil dari Bangka induk dan Bangka Selatan sebagai sentra produksi tanaman lada. Uji potensi toleransi kemasaman mesofauna dengan menumbuhkan bibit lada secara pot sistem pada tingkat kemasaman media yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan mesofauna yang diperoleh jenis Acari dan Collembola dari famili Neanuridae, Isotomidae, Hypogastruridae, Entomobrydae, Sminthuridae, Mesotigmata, Cyphoderidae. Berdasarkan toleransi terhadap pH mesofauna yang teridentifikasi adalah golongan indifferen yang hidup pada kondisi asam dan basa. Mesofauna mampu memperbaiki kesuburan tanah ditunjukkan dengan meningkatnya kandungan C-organik, hara makro P, K, pH tanah dan aerasi tanah. Perbaikan kimia tanah dan porositas tanah akan memacu perkembangan akar dan pertumbuhan bibit lada.
Selmitri Selmitri, Erlinda Yurisinthae, Radian Radian
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 79-84; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.115

Abstract:
The study aims to analyze the differences in the development of corn cultivation in peat soils between no-burning and traditional methods or with burning in Rasau Jaya District, Kubu Raya District. The fact that currently clearing forests is still using burning on agricultural land in general and especially on peat soil that is feared to experience underground burning is difficult to overcome and cause many losses. The development of corn on land without burning on peat soil is a solution for the community in maintaining ecosystem sustainability. The explanatory research is directed at testing hypotheses and following research objectives. Data collection by interview and questionnaire to 60 respondents were corn farmers on peat soil. The average difference test is used in explaining the difference in yield between the two methods of planting on peat soil. The results found that there were significant differences in the application of corn cultivation on peat soil without burning compared to the traditional method on the variables fertilizer, pesticide, business costs, and yields. In contrast, the planting area variable had no significant difference.
Sosiawan Nusifera, Yulia Alia, Ardiyaningsih Puji Lestari, Muhammad Maulana
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 61-69; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.130

Abstract:
Padi payo merupakan salah satu varietas padi lokal dari Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi yang cukup populer disebabkan tekstur dan citarasa yang enak. Eksistensi padi payo semakin lama semakin terancam akibat pembangunan infrastruktur dan beralihnya pilihan petani ke varietas unggul modern. Penelitian ini bertujuan mengetahui diversitas genetik populasi padi payo di Kabupaten Kerinci berdasarkan marka morfologi. Penelitian bersifat non eksperimen, data diperoleh dari hasil survai atau karakterisasi langsung secara in situ. Penentuan sampel dilakukan secara Proportionate Stratified Random Sampling. Karakter yang diobservasi merupakan karakter morfologi yang diukur secara kualitatif dan kuantitatif dengan mengacu pada panduan yang dikeluarkan oleh Bioversity International, IRRI, dan WARDA, dengan sedikit modifikasi. Data yang diukur secara kuantitatif dianalisis dengan menggunakan parameter koefisien keragaman sedangkan data yang diukur secara kualitatif dianalisis dengan parameter indeks diversitas relatif (J). Diversitas genetik antar individu dalam populasi dianalisis dengan menggunakan analisis klaster yang ditampilkan dalam bentuk dendrogram. Hasil menunjukkan bahwa beberapa karakter morfologi yaitu jumlah anakan produktif, sudut daun bendera, kerontokan, jumlah gabah hampa, warna telinga daun, warna leher daun, permukaan daun, dan warna gabah, memperlihatkan variabilitas yang luas hingga sangat luas, sedangkan karakter lainnya sempit dan sangat sempit. Terdapat diversitas genetik yang luas dalam populasi padi payo di Kabupaten Kerinci. Tidak kurang dari 21 genotipe berbeda terdapat dalam populasi padi payo saat ini.
Wiwik Sumanti, Riwan Kusmiadi, Rion Apriyadi
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 70-78; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.35

Abstract:
Jambu air cincalo memiliki aktivitas respirasi non-klimakterik dengan kadar air yang tinggi, sehingga penanganan pascapanen yang tidak tepat akan memicu pertumbuhan cendawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edible coating dari oleoresin daun kemangi dan menentukan konsentrasi yang tepat untuk memperpanjang umur simpan buah jambu air cincalo. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal, terdapat 4 perlakuan yang merupakan jenis konsentrasi oleoresin daun kemangi yang terdiri dari K0 (tanpa penambahan oleoresin), K1 (0,3% oleoresin), K2 (0,6% oleoresin) dan K3 (0,9% oleoresin) dengan 3 ulangan. Peubah yang diamati adalah susut bobot, total padatan terlarut, total asam buah, kandungan vitamin C dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi oleoresin daun kemangi berpengaruh tidak nyata terhadap peubah yang diamati, meliputi susut bobot, total padatan terlarut, total asam buah, dan kandungan vitamin C. Semua perlakuan dengan penambahan oleoresin maupun tanpa penambahan oleoresin daun kemangi cenderung memberikan hasil yang sama terhadap buah jambu cincalo.
Vera Oktavia Subardja, Muharam Muharam, Wagyono Wagyono
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 54-60; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.44

Abstract:
Efisiensi pemupukan merupakan salah satu upaya dalam memutus mata rantai penggunaan pupuk anorganik yang semakin tidak terkontrol. Penggunaan pupuk organik sangat disarankan dalam penggunaan teknologi ini, meski demikian waktu pengomposan dan kandungan kimia kompos kerap menjadi kendala penerapannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan waktu pengomposan pupuk organik diperkaya yang paling tepat untuk mendapatkan hasil tanaman yang paling optimal dalam rangka efisiensi pupuk anorganik N dan P. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian UNSIKA dan laboratorium Rumah Kaca PT. Pupuk Kujang Cikampek, dilaksanakan selama musim kemarau tahun 2017. Penelitian dirancang menggunakan RAK faktorial. Faktor pertama adalah waktu inkubasi pupuk organik diperkaya yang terdiri dari 3 taraf yaitu W1 = 21 hari waktu inkubasi, W2 = 35 hari waktu inkubasi dan W3 = 49 hari waktu inkubasi. Faktor kedua adalah kombinasi dosis pemupukan yang terdiri dari 4 taraf, yaitu P1 = 20 ton pupuk organik diperkaya ha-1 + 100% dosis rekomendasi pupuk anorganik NP, P2 = 20 ton pupuk organik diperkaya ha-1 + 75% dosis rekomendasi pupuk anorganik NP, P3 = 20 ton pupuk organik diperkaya ha-1 + 50% dosis rekomendasi pupuk anorganik NP dan P4 = 20 ton pupuk organik diperkaya ha-1 + 25% dosis rekomendasi pupuk anorganik NP. Hasil percobaan yang dilakukan menunjukan bahwa kombinasi perlakuan waktu inkubasi pupuk organik 21 HSI + 25% dosis rekomendasi pupuk anorganik N dan P yang memberikan hasil terbaik pada populasi total mikrob fungsional, pertumbuhan dan komonen hasil yang diamati.
Back to Top Top