AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian

Journal Information
ISSN / EISSN : 2615-2207 / 2579-843X
Current Publisher: Universitas Bangka Belitung (10.33019)
Total articles ≅ 57
Filter:

Latest articles in this journal

Abdul Mukhlis Ritonga, Furqon Furqon, Razifah Nur Ifadah
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 112-120; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.121

Abstract:
Jambu biji merupakan salah satu produk hortikultura yang dapat hidup di daerah tropis dan memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Buah pada daerah tropis cepat mengalami kerusakan terutama disebabkan oleh kondisi suhu dan kelembaban. Diperlukan penanganan pascapanen yang dapat memperpanjang umur simpan produk dan dapat mempertahankan mutu produk seperti alat pendingin evaporatif sebagai tempat penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1). Menghitung laju penurunan mutu buah jambu biji merah selama masa penyimpanan pada pendingin evaporatif dan suhu ruang. 2). Menganalisis perubahan sifat fisik buah jambu biji merah selama penyimpanan pada pendingin evaporatif dan suhu ruang. Variabel yang diukur meliputi efektifitas pendingin, suhu, kelembaban relatif, kadar air, susut bobot, kekerasan, kadar brix dan warna. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimental dengan objek penelitian yaitu jambu biji merah dengan ukuran diameter horizontal 7-8 cm dan panjang vertikal 6-8 cm. Jambu biji merah yang digunakan diperoleh dari perkebunan jambu di Kampung Penyisihan, Desa Ketenger. Analisis data pada penelitian ini menggunakan persamaan kinetika reaksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan penyimpanan pendingin evaporatif dapat mempertahankan mutu susut bobot, warna (Lab) dan kekerasan jambu biji merah. Sedangkan perlakuan suhu ruang dapat mempertahankan mutu kadar brix jambu biji selama penyimpanan.
Selmitri Selmitri, Erlinda Yurisinthae, Radian Radian
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 79-84; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.115

Abstract:
The study aims to analyze the differences in the development of corn cultivation in peat soils between no-burning and traditional methods or with burning in Rasau Jaya District, Kubu Raya District. The fact that currently clearing forests is still using burning on agricultural land in general and especially on peat soil that is feared to experience underground burning is difficult to overcome and cause many losses. The development of corn on land without burning on peat soil is a solution for the community in maintaining ecosystem sustainability. The explanatory research is directed at testing hypotheses and following research objectives. Data collection by interview and questionnaire to 60 respondents were corn farmers on peat soil. The average difference test is used in explaining the difference in yield between the two methods of planting on peat soil. The results found that there were significant differences in the application of corn cultivation on peat soil without burning compared to the traditional method on the variables fertilizer, pesticide, business costs, and yields. In contrast, the planting area variable had no significant difference.
Neni Marlina, Gusmiatun Gusmiatun
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 129-136; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.133

Abstract:
Kedelai kaya akan protein dan sangat disukai masyarakat Indonesia. Namun produktivitas kedelai menurun, peningkatannya melalui perluasan areal tanam seperti lahan rawa lebak dangkal dan penggunaan pupuk hayati yang mengandung mikroorganisme seperti bakteri pelarut fosfat (BPF), Azospirillum, mikoriza dan pupuk organik hayati (POH). Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pupuk hayati ini mampu meningkatkan produktivitas padi di lahan lebak maupun pasang surut. Selanjutnya diharapkan pupuk hayati tersebut dapat membantu penyediaan serapan N dan P serta meningkatkan produktivitas kedelai di lahan lebak. Penelitian lapangan di lahan lebak dangkal di Kabupaten Ogan Ilir Propinsi Sumatera Selatan. Rancangan Acak Kelompok disusun 5 perlakuan dengan 5 kali pengulangan. Perlakuannya meliputi tanpa pupuk hayati, BPF, mikoriza, Azospirillum dan POH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BPF, mikoriza, Azospirillum dan POH mampu meningkatkan penyerapan hara N berturut-turut 201,33%, 182,67%, 170,67%, 161,33%, hara P 357,89%, 273,68%, 173,68%, 142,11% produksi kedelai berturut-turut 228,00%, 208,00%, 201,33% dan 194,67% dibandingkan tanpa pupuk hayati
Cecep Hidayat, Asep Supriadin, Fantyana Huwaida’A, Yati Setiati Rachmawati
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 95-102; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.124

Abstract:
Tanah galian C yang memiliki sifat fisik, kimia dan biologi tanah kurang baik dilirik untuk digunakan sebagai alternatif budidaya tanaman sayuran, namun perlu mendapat masukan teknologi berupa penambahan bahan organik dan pemanfaatan FMA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian bokashi eceng gondok dan FMA dalam perbaikan sifat fisik tanah hasil tanaman cabai rawit Varietas Dewata. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 faktor. Faktor petama pemberian bokashi eceng gondok dengan 4 taraf; tanpa pemberian, 15 t ha-1, 20 t ha-1 dan 25 t ha-1. Faktor kedua pemberian FMA campuran sebanyak 3 taraf ; tanpa pemberian, 5 g polybag-1 dan 10 g polybag-1. Parameter yang diamati adalah bobot isi, porositas tanah, permeabilitas tanah, derajat infeksi, indeks panen, dan bobot basah buah. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi bokashi dan FMA memperbaiki sifat fisik tanah (bobot isi, porositas tanah dan permeabilitas tanah), indeks panen, dan bobot basah buah. Pengaruh mandiri aplikasi bokashi terjadi pada jumlah klorofil, adapun terhadap derajat infeksi yang berpengaruh inokulasi FMA. Aplikasi bokashi eceng gondok 15 t ha-1 dan FMA 5 g dapat digunakan pada budidaya tanaman cabai pada tanah galian C.
Merynda Indriyani Syafutri, Friska Syaiful, Eka Lidiasari, Dela Pusvita
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 103-111; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.120

Abstract:
Beras merah diketahui memiliki kelebihan, yaitu mengandung serat dan antosianin yang bersifat fungsional. Potensi beras merah perlu digali lebih intensif melalui berbagai penelitian. Salah satu upaya pengembangan beras merah sebagai bahan pangan adalah dengan cara mengolahnya menjadi tepung. Terdapat beberapa tahapan yang harus diperhatikan untuk mendapatkan tepung dengan sifat fisikokimia yang baik, seperti pengeringan dan penggilingan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh lama dan suhu pengeringan terhadap karakteristik fisikokimia tepung beras merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial. Faktor penelitian yaitu lama pengeringan (A) dan suhu pengeringan (B). Faktor A terdiri dari tiga taraf yaitu 1 jam, 2 jam, dan 3 jam, dan faktor B juga terdiri dari tiga taraf yaitu 50°C, 55°C, dan 60°C. Parameter yang diamati adalah rendemen, densitas kamba, kapasitas penyerapan air, swelling power, kelarutan, kadar air, dan kadar amilosa tepung beras merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama dan suhu pengeringan secara signifikan menurunkan rendemen, densitas kamba, dan kadar air, tetapi secara signifikan meningkatkan kapasitas penyerapan air, swelling power, kelarutan, dan kadar amilosa tepung beras merah. Kadar air tepung beras merah yang dihasilkan telah sesuai dengan standar SNI (3549; 2009).
Ratna Santi, Gusmaini Gusmaini, Mamik Sarwendah
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 85-94; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.122

Abstract:
Rendahnya kesuburan tanah di Bangka menjadi permasalahan utama dalam pola budidaya lada secara menetap. Pemanfaatan mikro dan mesofauna berperan dalam dekomposisi bahan organik, memperbaiki struktur tanah, daur ulang hara dan mengurangi kehilangan hara. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi mesofauna isolasi dibawah tegakan lada dalam memacu pertumbuhan bibit lada. Tahapan awal kegiatan yaitu identifikasi dan analisis kelimpahan mesofauna contoh tanah yang diambil dari Bangka induk dan Bangka Selatan sebagai sentra produksi tanaman lada. Uji potensi toleransi kemasaman mesofauna dengan menumbuhkan bibit lada secara pot sistem pada tingkat kemasaman media yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan mesofauna yang diperoleh jenis Acari dan Collembola dari famili Neanuridae, Isotomidae, Hypogastruridae, Entomobrydae, Sminthuridae, Mesotigmata, Cyphoderidae. Berdasarkan toleransi terhadap pH mesofauna yang teridentifikasi adalah golongan indifferen yang hidup pada kondisi asam dan basa. Mesofauna mampu memperbaiki kesuburan tanah ditunjukkan dengan meningkatnya kandungan C-organik, hara makro P, K, pH tanah dan aerasi tanah. Perbaikan kimia tanah dan porositas tanah akan memacu perkembangan akar dan pertumbuhan bibit lada.
Gribaldi Gribaldi, Nurlaili Nurlaili, Iqbal Effendy
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 121-128; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.131

Abstract:
Budidaya tanaman padi dengan sistem ratun merupakan salah satu upaya peningkatan produksi padi di Lahan pasang surut. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu panen dan pemupukan Nitrogen tanaman utama terhadap pertumbuhan dan hasil ratun padi di Lahan pasang surut. Penelitian dilaksanakan pada bulan April – Agustus 2019 di Lahan Percobaan Dinas Pertanian Kabupaten Banyuasin di Desa Seri Menanti Kecamatan Tanjung Lago, yang terletak pada -203’45, 972”S 104045’36,054”E. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) yang diulang sebanyak tiga kali. Adapun Petak Utama: Pemupukan N (N) terdiri dari N1; ½ dosis saat tanam + ½ dosis fase primordia, N2;1/3 dosis saat tanam + 1/3 dosis fase primordia + 1/3 dosis saat panen, dan N3; 1/3 dosis saat tanam + 1/3 dosis fase primordia + 1/6 dosis saat panen + 1/6 dosis pada 21 hari setelah panen. Anak Petak : Waktu panen (W) terdiri dari W1; tanaman utama dipanen 5 hari sebelum 100% masak, W2; tanaman utama dipanen saat 100% masak dan W3; tanaman utama dipanen 5 hari setelah 100% masak. Hasil penelitian menunjukan, waktu panen dan pemupukan N tanaman utama berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil ratun padi di Lahan pasang surut. Perlakuan waktu panen 5 hari sebelum 100% masak dan pemupukan N yang diberikan 1/3 dosis saat tanam + 1/3 dosis fase primordia + 1/3 dosis saat panen (W1N2), cenderung menunjukkan hasil ratun padi lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya, yaitu sebesar 2.06 ton ha-1 atau 54.2 persen dibanding hasil tanaman utama.
Kiki Kusyaeri Hamdani, Heru Susanto
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 146-154; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.127

Abstract:
Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) seperti hama, patogen, dan gulma menimbulkan masalah dalam budidaya tanaman sehingga perlu upaya penanganan yang tepat. Solarisasi tanah merupakan salah satu alternatif pengendalian OPT tersebut. Makalah ini membahas informasi tentang pengendalian organisme pengganggu tanaman dengan teknologi solarisasi. Beberapa komponen yang berperan dalam proses solarisasi yaitu radiasi matahari sebagai sumber energi, mulsa plastik sebagai pengubah sumber energi, serta lengas tanah sebagai penangkap dan penghantar panas yang dihasilkan plastik pada jeluk tanah yang lebih dalam. Solarisasi tanah bersifat ramah lingkungan dan dilakukan sebelum tanam dengan mengelola energi panas dari radiasi matahari. Solarisasi tanah terbaik yaitu dengan menggunakan lembaran plastik transparan karena bersifat tembus cahaya dimana sebagian besar cahaya ditransmisikan melalui lembaran plastik dan hanya sedikit yang diserap dan dipantulkan. Suhu tanah yang tinggi akibat solarisasi tanah dapat menekan patogen tanah, hama tanah, dan propagul gulma serta dapat meningkatkan kesuburan tanah, pertumbuhan dan hasil tanaman.
Nono Carsono, Riski Gusri Utami, Santika Sari, Noladhi Wicaksono
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 137-145; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.158

Abstract:
The brown planthopper (BPH)-resistant rice, early maturity, and aromatic are expected by both farmers and consumers. The traits have been combined through gene pyramiding and some promising rice genotypes obtained. However the genetic control of BPH resistance and maturity is quantitatively inherited, it is therefore both molecular and phenotypic assessments would be tremendously helpful in selecting promising genotypes. The study aimed to obtain genotypes with such valuable traits. Rice lines were analyzed using molecular markers i.e., RM586, RM589, RM8213 (BPH resistant gene markers); RM7610 and RM19414 (early maturity markers), and IFAP (Internal Fragrant Antisense Primer) for detecting aromatic, and INSP (Internal Non-fragrant Sense Primer) for non-aromatic rice. Phenotypic assessment was performed for brown planthopper resistant-related traits, such as chlorophyll content, stomatal conductance, and trichome density. Other evaluations were heading date and aroma (using 1.7% KOH solution). Results showed that molecular markers for evaluating BPH resistance genes (Bph3, Bph4, Qbph4, and Bph17), aroma (fgr gene), and heading date (Hd2 and Hd3 genes) could differentiate genotypes, and they serve as perfect markers, except for heading date markers. Seven genotypes i.e., #2, #3, #4, #5, #6, #10, and #11 were related to all traits expected based on molecular marker analysis. Meanwhile, genotypes #1, #2, #4, #6, and #11 were similar to their parents based on phenotypic analysis. Pyramiding program based on molecular and phenotypic markers enables us to combine three valuable traits into one rice genotype as presented in this study
Agus Saputera, Antar Sofyan, Riza Adrianoor Saputra, Noorkomala Sari
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 155-160; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.91

Abstract:
Oyster mushrooms have the conditions of growing at low temperatures and high relative humidity, so when you want to cultivate it is needed an appropriate environment for the growth and development of oyster mushroom. Banjarbaru City tends to have high temperatures with a relative humidity that tends to below. This is quite different from the requirements for growing oyster mushrooms which require low temperatures with relatively high humidity. One of the easiest and cheapest methods to maintain temperature and relative humidity to remain ideal and appropriate is to water the surrounding oyster mushrooms growing media, so knowledge of the most appropriate and ideal watering frequency for growth and development of oyster mushrooms is needed. The environmental design used was a Completely Randomized Design (CRD), a single factor with 4 treatments, 5 replications, so that 20 experimental units were obtained. The treatments are p1 = once watering per day, p2 = twice watering per day, p3 = three times watering per day, p4 = four times watering per day. The result showed that the watering frequency gave a real difference to the growth time of oyster mushroom shoots and the wet weight of oyster mushrooms. The best treatment in accelerating the time to grow oyster mushroom shoots and increasing the wet weight of oyster mushrooms is the treatment of watering frequency four times per day.
Back to Top Top