AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian

Journal Information
ISSN / EISSN : 26152207 / 2579843X
Current Publisher: Bangka Belitung University (10.33019)
Total articles ≅ 42
Filter:

Latest articles in this journal

Prinsip Trisna Mulyani, Budi Waluyo
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 41-48; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.86

Abstract:
Watermelon [Citrullus lanatus (Thunberg) Matsum & Nakai] is a plant that is widely cultivated and contains important nutritional compounds such as citrulline, arginine, and glutathione. In the last few years, the consumption of vegetables and fruits in Indonesia has tended to increase but cannot be fulfilled by domestic production. Yields are influenced by the character of yield components. This research aims to study the relationship between the character of the yield components on the yield in the watermelon. The study was arranged in augmented design and planting material are 75 watermelons genotypes and 3 checks varieties. The results showed that there are some characters of yield components that correlated with yields. The characters of yield components that have positive genetic correlation and positive phenotype correlation with fruit weight are stem length, number of branches, fruit stalk length, fruit length, fruit diameter, thickness of pericarp, number of seeds per plant, and weight of seeds per plant. The yield components characters that have a negative genetic correlation with fruit weight are day to flowering. The characters of yield components that have positive genetic and phenotype correlation with seed weight per plant are fruit weight, stem length, fruit length, fruit diameter, number of seeds per plant, seed length, and seed width. The Characters of yield components that have a negative genetic correlation with seed weight are day to flowering and the first female flower emerges. The characters of yield components that correlate with the yield are used as selection markers for indirect selection.
Rahmansyah Dermawan, Ifayanti Ridwan Saleh, Katriani Mantja, Hari Iswoyo, St Salmiati
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 35-40; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.56

Abstract:
Penelitian bertujuan mendapatkan data dan informasi morfofisiologi kejadian gugur bunga dan buah (fruit-drop) pada tanaman cabai terhadap pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) auksin (IAA dan IBA) dan GA3. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Petak Terpisah dalam rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Petak utama adalah 3 jenis ZPT yaitu IAA, IBA, dan GA3. Anak petak yaitu konsentrasi perlakuan yang terdiri dari 5 taraf (ppm) yaitu 0, 25, 50, 75, dan 100 ppm. Data yang diperoleh dianalis menggunakan software STAR dan jika terdapat beda nyata diuji lanjut dengan Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan IAA, IBA, dan GA3 serta konsentrasi perlakuannya tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga tinggal maupun bunga gugur pada tanaman cabai besar. Namun, hasil penelitian menemukan bahwa perlakuan ZPT menghasilkan jumlah bunga tinggal yang lebih banyak dibandingkan bunga gugur. Pemberian IAA 25 ppm menghasilkan jumlah buah tinggal tertinggi dibandingkan konsentrasi IAA lainnya. Peningkatan konsentrasi GA3 cenderung meningkatkan jumlah buah tinggal dan tertinggi pada konsentrasi GA3 100 ppm. Interaksi antara jenis ZPT dan konsentrasi pemberiannya berpengaruh nyata terhadap bobot per buah. Perlakuan GA3 100 ppm menghasilkan bobot per buah tertinggi. Peningkatan konsentrasi auksin cenderung menurunkan bobot per buah. Pemberian IBA 100 ppm menurunkan panjang buah cabai besar.
Zulfa Afifah, Nono Carsono, Santika Sari, Anas Anas
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 28-34; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.96

Abstract:
Karakter daya hasil tinggi adalah salah satu target utama dalam pemuliaan padi. Pengujian daya hasil merupakan salah satu tahapan uji dalam proses seleksi varietas baru. Seleksi pada karakter daya hasil merupakan proses yang kompleks karena berkaitan dengan karakter kuantitaif. Pemilihan metode yang tepat akan meningkatkan tingkat keberhasilan proses seleksi, sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk menyeleksi genotip padi yang memiliki potensi hasil tertinggi tercapai. Percobaan dilaksanakan pada bulan Juli 2018 sampai Maret 2019 di Kebun Percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang Jawa Barat. Material genetik yang digunakan adalah lima famili padi generasi F4, lima famili generasi F6, dan empat varietas padi sebagai cek. Keseluruhan karakter agronomis dan komponen hasil dievaluasi menggunakan uji Least Significant Increase (LSI), dan indeks seleksi (indeks Mulamba dan Mock, dan indeks jarak genotipe-ideotipe). Berdasarkan hasil uji LSI, famili PP48-5 dan famili SP101-3-1-5 menunjukkan penampilan terbaik pada hampir keseluruhan karakter dibandingkan dengan rata-rata terendah varietas pembandingnya. Berdasarkan nilai indeks seleksi hanya famili SP101-3-1-5 yang memiliki nilai indeks seleksi daya hasil tertinggi. SP101-3-1-5 terpilih sebagai famili yang berpotensi sebagai padi berdaya hasil tinggi.
Septian Hary Kalqutny, Syahrir Pakki, Amran Muis
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 17-27; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.107

Abstract:
Penyakit bulai merupakan salah satu penyakit utama yang menyerang tanaman jagung yang dapat menurunkan produksi jagung di Indonesia. Penyakit bulai pada jagung disebabkan oleh Peronosclerospora spp. yang bersifat parasit obligat sehingga tidak dapat ditumbuhkan di media kutur sintetik. Upaya pengendalian penyakit dengan penggunaan varietas jagung yang tahan penyakit bulai dan penggunaan fungisida seringkali tidak memberikan hasil yang diharapkan, karena patogen penyebab penyakit bulai yang beragam jenisnya sehingga memberikan respon yang berbeda pula. Identifikasi dan pemahaman tentang biodiversitas patogen penyebab penyakit bulai sangat penting dalam upaya pengendalian penyakit bulai. Identifikasi spesies secara morfologis terkadang sulit dilakukan karena karakter pembeda yang terbatas dan mirip. Metode biologi molekuler saat ini mulai secara luas digunakan, karena dapat memberikan informasi keragaman dari suatu organisme secara genetik secara cepat dan akurat. Oleh karena itu metode biologi molekuler dapat digunakan untuk mendukung hasil pengamatan secara morfologis. Penggunaan marka molekuler seperti RAPD, RFLP, AFLP dan SSR serta sekuensing region DNA tertentu (rDNA, region ITS rDNA dan mtDNA) secara langsung dapat menggambarkan keanekaragaman patogen penyakit bulai. Di Indonesia terdapat tiga spesies utama penyebab bulai yaitu P. philippinensis, P. maydis dan P. sorghi. Kedepan penggunaan teknik-teknik biologi molekuler baru dapat memberikan informasi yang lebih banyak, cepat, dan akurat akan dapat membuka lebih banyak kemungkinan bagi upaya pengendalian penyakit ini.
Syarifah Iis Aisyah, Henny Rusmiyati, Dewi Sukma, Rizal Damanik, Waras Nurcholis
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 10-16; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.109

Abstract:
Torbangun (Plectranthus amboinicus) merupakan tanaman obat dari keluarga Lamiaceae. Pada masyarakat Batak, daun torbangun digunakan untuk meningkatkan produksi air susu. Keragaman kandungan fitokimia dapat ditingkatkan salah satunya dengan teknik iradiasi sinar gamma untuk program pemuliaan tanaman. Pada penelitian ini, metode metabolomik yang tidak tertarget digunakan untuk mengevaluasi profil senyawa pada bagian daun tanaman mutan dari iradiasi sinar gamma dan kontrol. Kandungan senyawa planlet mutan dan kontrol dianalisis dengan GC-MS. Data GC-MS dianalisis dengan kemometrik dengan menggunakan hierarchical cluster analysis (HCA). Keragaman kandungan kimia ditunjukkan oleh planlet mutan dan kontrol daun torbangun. Hasil analisa planlet kontrol torbangun menunjukkan terdapat lima senyawa utama diantaranya hydroxymethylfurfurole (35,15%), brevifolin (7,69%), 3-Dihydro-3,5-Dihydroxy-6-Methyl-4H-Pyran-4-one (DDMP) (13,13%), stigmasterol (6,51%) dan ferruginol (8.63%). Hasil analisa mutan torbangun memiliki kandungan senyawa DDMP (19,57%), neophytadiene (8,47%), linolenic acid (9,10%), ferruginol (7,61%), stigmasterol (14,14%) dan gamma.-sitosterol (7,08%). HCA menunjukkan tiga komponen senyawa yang berbeda antara planlet kontrol dan mutan yaitu kenaikan kandungan senyawa DDMP dan stigmasterol, serta penurunan kandungan hydroxymethylfurfurole pada mutan torbangun.
Eries Dyah Mustikarini, Gigih Ibnu Prayoga, Bama Aprilian
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 1-9; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.105

Abstract:
Kerebahan menyebabkan penurunan produksi tanaman padi. Tanaman padi tahan rebah dapat dihasilkan dari kegiatan pemuliaan tanaman. Tujuan penelitian adalah seleksi galur F4 tahan rebah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2018 hingga Mei 2019 di lahan ultisol, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penanaman galur dilakukan secara single plant. Metode seleksi yang digunakan adalah seleksi pedigree. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik galur F4 padi terseleksi memiliki tinggi tanaman kurang dari 90 cm. Terdapat 70 galur F4 terseleksi memiliki ketahanan rebah berdasarkan karakter tinggi tanaman dan didukung oleh karakter diameter batang, panjang malai, kekuatan batang, dan berat biji bernas per rumpun.
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian; doi:10.33019/agrosainstek

Suharjo Suharjo
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 3, pp 98-102; doi:10.33019/agrosainstek.v3i2.87

Abstract:
Pembibitan Durian dapat dilakukan dengan menggunakan sumber bahan generatif dan vegetatif. Kedua sumber propagasi ini memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing. Bibit berkualitas diperoleh melalui kombinasi dari dua sumber bahan perbanyakan yang memiliki masing-masing kelebihan yang dapat saling melengkapi. Proses penggabungannya bisa melalui mini grafting. Metode mini grafting di pembibitan durian dapat menggunakan cara grafting samping dan grafting pucuk. Penelitian ini ingin mengkaji hubungan kandungan karbohidrat, protein, dan lemak terhadap keberhasilan pertumbuhan hasil mini grafting pada tanaman durian. Penelitian dilaksanakan dengan menganalisis kandungan karbohidrat, protein dan lemak pada batang atas yang akan digunakan untuk grafting, serta mengamati dan mengukur proses pertumbuhan tanaman hasil mini grafting. Kandungan karbohidrat pada batang atas memberikan kontribusi positif tertinggi terhadap peningkatan jumlah tunas diikuti oleh jumlah daun, luas daun, perbandingan luas daun, perbandingan pupus akar, panjang tunas, dan diameter batang. Kandungan protein dan kandungan lemak tidak dapat berkontribusi pada pertumbuhan bibit okulasi bahkan memiliki kecenderungan untuk menghambat pertumbuhan.
Eko Binnaryo Mei Adi, Enung Sri Mulyaningsih
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 3, pp 91-97; doi:10.33019/agrosainstek.v3i2.49

Abstract:
Java turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) is cultivated as a secondary crop, resulting in variable rhizome quality which can be increased by suitable cultivation methods. This study investigated the effect of different cultivation methods on the rhizome yield of Java turmeric. Different fertilizer treatments(none, organic, inorganic, and semi-organic fertilizer), three groups of rhizome seed size (small (50–80 g), medium (100–150 g), and large (200–250 g)) and three groups of harvesting age (eight, ten, and twelve months after planting) were evaluated in a split plot design experiment. Results show that large rhizome seed size together with organic fertilizer treatment increased secondary rhizome production, yielding the highest number, weight and diameter. As high levels of starch in the primary rhizome are crucial for growth of the plant, the use of large rhizomes for propagation is indicated in Java turmeric cultivation. The highest weight and number of primary rhizomes were yielded when plants were harvested twelve months after planting.
Suci Primilestari, Eva Salvia, Ambar Yuswi Perdani
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 3, pp 84-90; doi:10.33019/agrosainstek.v3i2.74

Abstract:
Kemunduran benih merupakan suatu peristiwa yang pasti terjadi. Penanaman padi lokal oleh petani umumnya menggunakan benih yang berasal dari sisa hasil panen sebelumnya dan telah melewati tahap penyimpanan sebelum ditanam kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui materi invigorasi hydropriming yang optimal dalam meningkatkan mutu fisiologis beberapa varietas padi lokal Jambi. Perlakuan diterapkan pada rancangan acak lengkap faktorial dengan 3 ulangan. Faktor 1 adalah varietas padi: Padi karya, Kuning Betung, Kuning Kerinci dan Gadis Jambi. Faktor 2 adalah invigorasi yang terdiri atas: kontrol (aquadest), larutan bawang merah dan larutan air kelapa muda. Sebanyak 30 butir benih untuk setiap satuan percobaan direndam selama 24 jam. Benih ditanam pada media kertas saring lembab dengan metode uji di atas kertas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi nyata antara varietas dan invigorasi terhadap perkecambahan benih padi lokal yang diuji. Perlakuan invigorasi menggunakan air kelapa nyata berpengaruh pada panjang akar, panjang plumula, panjang kecambah normal dan indeks vigor padi lokal. Varietas Kuning Betung memberikan tanggapan terbaik terhadap invigorasi. Perlakuan invigorasi merupakan upaya untuk memperbaiki performa benih sehingga mengurangi resiko kegagalan di lapangan, diharapkan berimplikasi terhadap peningkatan produksi padi.
Back to Top Top