AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian

Journal Information
ISSN / EISSN : 26152207 / 2579843X
Current Publisher: Bangka Belitung University (10.33019)
Total articles ≅ 51
Filter:

Latest articles in this journal

Merynda Indriyani Syafutri, Friska Syaiful, Eka Lidiasari, Dela Pusvita
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 103-111; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.120

Abstract:
Beras merah diketahui memiliki kelebihan, yaitu mengandung serat dan antosianin yang bersifat fungsional. Potensi beras merah perlu digali lebih intensif melalui berbagai penelitian. Salah satu upaya pengembangan beras merah sebagai bahan pangan adalah dengan cara mengolahnya menjadi tepung. Terdapat beberapa tahapan yang harus diperhatikan untuk mendapatkan tepung dengan sifat fisikokimia yang baik, seperti pengeringan dan penggilingan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh lama dan suhu pengeringan terhadap karakteristik fisikokimia tepung beras merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial. Faktor penelitian yaitu lama pengeringan (A) dan suhu pengeringan (B). Faktor A terdiri dari tiga taraf yaitu 1 jam, 2 jam, dan 3 jam, dan faktor B juga terdiri dari tiga taraf yaitu 50°C, 55°C, dan 60°C. Parameter yang diamati adalah rendemen, densitas kamba, kapasitas penyerapan air, swelling power, kelarutan, kadar air, dan kadar amilosa tepung beras merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama dan suhu pengeringan secara signifikan menurunkan rendemen, densitas kamba, dan kadar air, tetapi secara signifikan meningkatkan kapasitas penyerapan air, swelling power, kelarutan, dan kadar amilosa tepung beras merah. Kadar air tepung beras merah yang dihasilkan telah sesuai dengan standar SNI (3549; 2009).
Cecep Hidayat, Asep Supriadin, Fantyana Huwaida’A, Yati Setiati Rachmawati
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 95-102; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.124

Abstract:
Tanah galian C yang memiliki sifat fisik, kimia dan biologi tanah kurang baik dilirik untuk digunakan sebagai alternatif budidaya tanaman sayuran, namun perlu mendapat masukan teknologi berupa penambahan bahan organik dan pemanfaatan FMA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian bokashi eceng gondok dan FMA dalam perbaikan sifat fisik tanah hasil tanaman cabai rawit Varietas Dewata. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 faktor. Faktor petama pemberian bokashi eceng gondok dengan 4 taraf; tanpa pemberian, 15 t ha-1, 20 t ha-1 dan 25 t ha-1. Faktor kedua pemberian FMA campuran sebanyak 3 taraf ; tanpa pemberian, 5 g polybag-1 dan 10 g polybag-1. Parameter yang diamati adalah bobot isi, porositas tanah, permeabilitas tanah, derajat infeksi, indeks panen, dan bobot basah buah. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi bokashi dan FMA memperbaiki sifat fisik tanah (bobot isi, porositas tanah dan permeabilitas tanah), indeks panen, dan bobot basah buah. Pengaruh mandiri aplikasi bokashi terjadi pada jumlah klorofil, adapun terhadap derajat infeksi yang berpengaruh inokulasi FMA. Aplikasi bokashi eceng gondok 15 t ha-1 dan FMA 5 g dapat digunakan pada budidaya tanaman cabai pada tanah galian C.
Ratna Santi, Gusmaini Gusmaini, Mamik Sarwendah
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 85-94; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.122

Abstract:
Rendahnya kesuburan tanah di Bangka menjadi permasalahan utama dalam pola budidaya lada secara menetap. Pemanfaatan mikro dan mesofauna berperan dalam dekomposisi bahan organik, memperbaiki struktur tanah, daur ulang hara dan mengurangi kehilangan hara. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi mesofauna isolasi dibawah tegakan lada dalam memacu pertumbuhan bibit lada. Tahapan awal kegiatan yaitu identifikasi dan analisis kelimpahan mesofauna contoh tanah yang diambil dari Bangka induk dan Bangka Selatan sebagai sentra produksi tanaman lada. Uji potensi toleransi kemasaman mesofauna dengan menumbuhkan bibit lada secara pot sistem pada tingkat kemasaman media yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan mesofauna yang diperoleh jenis Acari dan Collembola dari famili Neanuridae, Isotomidae, Hypogastruridae, Entomobrydae, Sminthuridae, Mesotigmata, Cyphoderidae. Berdasarkan toleransi terhadap pH mesofauna yang teridentifikasi adalah golongan indifferen yang hidup pada kondisi asam dan basa. Mesofauna mampu memperbaiki kesuburan tanah ditunjukkan dengan meningkatnya kandungan C-organik, hara makro P, K, pH tanah dan aerasi tanah. Perbaikan kimia tanah dan porositas tanah akan memacu perkembangan akar dan pertumbuhan bibit lada.
Selmitri Selmitri, Erlinda Yurisinthae, Radian Radian
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 79-84; doi:10.33019/agrosainstek.v4i2.115

Abstract:
The study aims to analyze the differences in the development of corn cultivation in peat soils between no-burning and traditional methods or with burning in Rasau Jaya District, Kubu Raya District. The fact that currently clearing forests is still using burning on agricultural land in general and especially on peat soil that is feared to experience underground burning is difficult to overcome and cause many losses. The development of corn on land without burning on peat soil is a solution for the community in maintaining ecosystem sustainability. The explanatory research is directed at testing hypotheses and following research objectives. Data collection by interview and questionnaire to 60 respondents were corn farmers on peat soil. The average difference test is used in explaining the difference in yield between the two methods of planting on peat soil. The results found that there were significant differences in the application of corn cultivation on peat soil without burning compared to the traditional method on the variables fertilizer, pesticide, business costs, and yields. In contrast, the planting area variable had no significant difference.
Sosiawan Nusifera, Yulia Alia, Ardiyaningsih Puji Lestari, Muhammad Maulana
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 61-69; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.130

Abstract:
Padi payo merupakan salah satu varietas padi lokal dari Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi yang cukup populer disebabkan tekstur dan citarasa yang enak. Eksistensi padi payo semakin lama semakin terancam akibat pembangunan infrastruktur dan beralihnya pilihan petani ke varietas unggul modern. Penelitian ini bertujuan mengetahui diversitas genetik populasi padi payo di Kabupaten Kerinci berdasarkan marka morfologi. Penelitian bersifat non eksperimen, data diperoleh dari hasil survai atau karakterisasi langsung secara in situ. Penentuan sampel dilakukan secara Proportionate Stratified Random Sampling. Karakter yang diobservasi merupakan karakter morfologi yang diukur secara kualitatif dan kuantitatif dengan mengacu pada panduan yang dikeluarkan oleh Bioversity International, IRRI, dan WARDA, dengan sedikit modifikasi. Data yang diukur secara kuantitatif dianalisis dengan menggunakan parameter koefisien keragaman sedangkan data yang diukur secara kualitatif dianalisis dengan parameter indeks diversitas relatif (J). Diversitas genetik antar individu dalam populasi dianalisis dengan menggunakan analisis klaster yang ditampilkan dalam bentuk dendrogram. Hasil menunjukkan bahwa beberapa karakter morfologi yaitu jumlah anakan produktif, sudut daun bendera, kerontokan, jumlah gabah hampa, warna telinga daun, warna leher daun, permukaan daun, dan warna gabah, memperlihatkan variabilitas yang luas hingga sangat luas, sedangkan karakter lainnya sempit dan sangat sempit. Terdapat diversitas genetik yang luas dalam populasi padi payo di Kabupaten Kerinci. Tidak kurang dari 21 genotipe berbeda terdapat dalam populasi padi payo saat ini.
Wiwik Sumanti, Riwan Kusmiadi, Rion Apriyadi
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 70-78; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.35

Abstract:
Jambu air cincalo memiliki aktivitas respirasi non-klimakterik dengan kadar air yang tinggi, sehingga penanganan pascapanen yang tidak tepat akan memicu pertumbuhan cendawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edible coating dari oleoresin daun kemangi dan menentukan konsentrasi yang tepat untuk memperpanjang umur simpan buah jambu air cincalo. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal, terdapat 4 perlakuan yang merupakan jenis konsentrasi oleoresin daun kemangi yang terdiri dari K0 (tanpa penambahan oleoresin), K1 (0,3% oleoresin), K2 (0,6% oleoresin) dan K3 (0,9% oleoresin) dengan 3 ulangan. Peubah yang diamati adalah susut bobot, total padatan terlarut, total asam buah, kandungan vitamin C dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi oleoresin daun kemangi berpengaruh tidak nyata terhadap peubah yang diamati, meliputi susut bobot, total padatan terlarut, total asam buah, dan kandungan vitamin C. Semua perlakuan dengan penambahan oleoresin maupun tanpa penambahan oleoresin daun kemangi cenderung memberikan hasil yang sama terhadap buah jambu cincalo.
Vera Oktavia Subardja, Muharam Muharam, Wagyono Wagyono
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 54-60; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.44

Abstract:
Efisiensi pemupukan merupakan salah satu upaya dalam memutus mata rantai penggunaan pupuk anorganik yang semakin tidak terkontrol. Penggunaan pupuk organik sangat disarankan dalam penggunaan teknologi ini, meski demikian waktu pengomposan dan kandungan kimia kompos kerap menjadi kendala penerapannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan waktu pengomposan pupuk organik diperkaya yang paling tepat untuk mendapatkan hasil tanaman yang paling optimal dalam rangka efisiensi pupuk anorganik N dan P. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian UNSIKA dan laboratorium Rumah Kaca PT. Pupuk Kujang Cikampek, dilaksanakan selama musim kemarau tahun 2017. Penelitian dirancang menggunakan RAK faktorial. Faktor pertama adalah waktu inkubasi pupuk organik diperkaya yang terdiri dari 3 taraf yaitu W1 = 21 hari waktu inkubasi, W2 = 35 hari waktu inkubasi dan W3 = 49 hari waktu inkubasi. Faktor kedua adalah kombinasi dosis pemupukan yang terdiri dari 4 taraf, yaitu P1 = 20 ton pupuk organik diperkaya ha-1 + 100% dosis rekomendasi pupuk anorganik NP, P2 = 20 ton pupuk organik diperkaya ha-1 + 75% dosis rekomendasi pupuk anorganik NP, P3 = 20 ton pupuk organik diperkaya ha-1 + 50% dosis rekomendasi pupuk anorganik NP dan P4 = 20 ton pupuk organik diperkaya ha-1 + 25% dosis rekomendasi pupuk anorganik NP. Hasil percobaan yang dilakukan menunjukan bahwa kombinasi perlakuan waktu inkubasi pupuk organik 21 HSI + 25% dosis rekomendasi pupuk anorganik N dan P yang memberikan hasil terbaik pada populasi total mikrob fungsional, pertumbuhan dan komonen hasil yang diamati.
Erna Dewi, Rachmat Haryanto, Rija Sudirja
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 49-53; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.37

Abstract:
The aims of this study is determine the effect of land use and slope position on the organic C and some physical soil in the Jatinangor area, West Java. The study was conducted in April 2018 until October 2018. The study used a Randomized Block Design (RBD) factorial pattern. The first factor is land use (forest and moor) and the second factor is the position of the slope (upper, middle and lower). The sampling method uses survey, comparative and descriptive methods through a physiographic approach (physiography approach) freely, namely the survey method based on the physiographic appearance of the land and soil sampling is carried out by transect on the same slope without taking into account the distance between observation points. Observations made were C-organic, Texture, Content weight and Permeability. The results showed that land use (forest and moor) and slope position (middle and lower top) affected the organic c content and physical properties of the soil such as texture (sand, dust and clay), fill weight and permeability on Inceptisol Jatinangor soil. The use of upland land with lower slope position has the best influence on the c-organic content, texture, weight and soil permeability compared to land use and other slope positions.
Prinsip Trisna Mulyani, Budi Waluyo
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 41-48; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.86

Abstract:
Watermelon [Citrullus lanatus (Thunberg) Matsum & Nakai] is a plant that is widely cultivated and contains important nutritional compounds such as citrulline, arginine, and glutathione. In the last few years, the consumption of vegetables and fruits in Indonesia has tended to increase but cannot be fulfilled by domestic production. Yields are influenced by the character of yield components. This research aims to study the relationship between the character of the yield components on the yield in the watermelon. The study was arranged in augmented design and planting material are 75 watermelons genotypes and 3 checks varieties. The results showed that there are some characters of yield components that correlated with yields. The characters of yield components that have positive genetic correlation and positive phenotype correlation with fruit weight are stem length, number of branches, fruit stalk length, fruit length, fruit diameter, thickness of pericarp, number of seeds per plant, and weight of seeds per plant. The yield components characters that have a negative genetic correlation with fruit weight are day to flowering. The characters of yield components that have positive genetic and phenotype correlation with seed weight per plant are fruit weight, stem length, fruit length, fruit diameter, number of seeds per plant, seed length, and seed width. The Characters of yield components that have a negative genetic correlation with seed weight are day to flowering and the first female flower emerges. The characters of yield components that correlate with the yield are used as selection markers for indirect selection.
Rahmansyah Dermawan, Ifayanti Ridwan Saleh, Katriani Mantja, Hari Iswoyo, St Salmiati
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian, Volume 4, pp 35-40; doi:10.33019/agrosainstek.v4i1.56

Abstract:
Penelitian bertujuan mendapatkan data dan informasi morfofisiologi kejadian gugur bunga dan buah (fruit-drop) pada tanaman cabai terhadap pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) auksin (IAA dan IBA) dan GA3. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Petak Terpisah dalam rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Petak utama adalah 3 jenis ZPT yaitu IAA, IBA, dan GA3. Anak petak yaitu konsentrasi perlakuan yang terdiri dari 5 taraf (ppm) yaitu 0, 25, 50, 75, dan 100 ppm. Data yang diperoleh dianalis menggunakan software STAR dan jika terdapat beda nyata diuji lanjut dengan Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan IAA, IBA, dan GA3 serta konsentrasi perlakuannya tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga tinggal maupun bunga gugur pada tanaman cabai besar. Namun, hasil penelitian menemukan bahwa perlakuan ZPT menghasilkan jumlah bunga tinggal yang lebih banyak dibandingkan bunga gugur. Pemberian IAA 25 ppm menghasilkan jumlah buah tinggal tertinggi dibandingkan konsentrasi IAA lainnya. Peningkatan konsentrasi GA3 cenderung meningkatkan jumlah buah tinggal dan tertinggi pada konsentrasi GA3 100 ppm. Interaksi antara jenis ZPT dan konsentrasi pemberiannya berpengaruh nyata terhadap bobot per buah. Perlakuan GA3 100 ppm menghasilkan bobot per buah tertinggi. Peningkatan konsentrasi auksin cenderung menurunkan bobot per buah. Pemberian IBA 100 ppm menurunkan panjang buah cabai besar.
Back to Top Top