Jurnal Gradasi Teknik Sipil

Journal Information
ISSN / EISSN : 2598-9758 / 2598-8581
Published by: P3M Politeknik Negeri Banjarmasin (10.31961)
Total articles ≅ 53
Filter:

Latest articles in this journal

Ardi Wiyogo, Andi Syaiful Amal, Alik Ansyori Alamsyah
Jurnal Gradasi Teknik Sipil, Volume 5, pp 45-52; https://doi.org/10.31961/gradasi.v5i1.1052

Abstract:
Salah satu cara meningkatkan mutu campuran beraspal adalah dengan menambah bahan aditif ke dalam aspal. Bahan aditif yang dipilih adalah plastik jenis LDPE. Pemilihan plastik ini karena kemudahan mendapatkan dan sebagai salah satu solusi mengurangi kerusakan lingkungan karena plastik. Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu upaya untuk pengelolaan plastik dan menjadi acuan dalam mengamati karakteristik aspal yang diganti sebagian dengan LDPE. Analisa dilakukan dengan cara mencari terlebih dahulu KAO dari campuran aspal pen 60/70 HRS-WC. Dari hasil KAO (kadar aspal optimum) yang didapatkan, dilakukan substitusi kadar aspal dengan plastik LDPE. Kadar LDPE yang digunakan yaitu 0%, 2%, 4%, 6% dan 8%. Hasil dari 2%, 4%, 6%, dan 8% kadar LDPE dibandingkan dengan kadar LDPE 0%. Dari hasil Analisa yang dilakukan, semakin banyaknya kadar plastik LDPE yang dipakai maka akan semakin mengurangi nilai stabilitas, MQ, dan VFA. Nilai VIM dan VMA semakin meningkat seiring semakin banyaknya kadar LDPE yang dipakai. Pada nilai stabilitas, stabilitas sisa dan MQ mengalami peningkatan pada kadar 2% tetapi mengalami penurunan kembali di kadar 4%, 6% dan 8%.
Adi Maryanto, Ruspiansyah
Jurnal Gradasi Teknik Sipil, Volume 5, pp 28-38; https://doi.org/10.31961/gradasi.v5i1.980

Abstract:
Metode Precast dan metode Cast in Situ merupakan metode pekerjaan drainase dengan kelebihan dan kekurangan tersendiri. Pelaksanaan Metode Precast dan Cast in Situ pada pekerjaan drainase belum bisa dikatakan tepat, sehingga perlu dilakukan analisa perbandingan mengenai biaya dan waktu pekerjaan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar efisiennya kedua metode tersebut. Metode penelitian yang digunakan ialah dengan perbandingan hasil antara metode Precast dan metode Cast in Situ. Data yang diolah berupa data sekunder yang didapat dari kontraktor pelaksana. Untuk penyusunan penelitian ini meliputi studi pustaka atau literatur, pengumpulan data, perhitungan volume, metode pelaksanaan dan analisa harga satuan dan biaya. Lokasi studi berada di PLTU Suralaya Banten. Berdasarkan perhitungan volume, analisa harga satuan pekerjaan, rencana anggaran biaya, analisa produktifitas pekerjaan diperoleh hasil untuk biaya metode Cast in Situ sebesar Rp 5.543.804.100,00 dan biaya metode Precast sebesar Rp 3.994.718.900,00. Waktu pekerjaan menggunakan metode Cast in Situ memerlukan waktu 116 hari sedangkan untuk waktu pekerjaan metode Precast selama 29 hari. Jumlah pekerja metode Cast in Situ sebanyak 64 pekerja dan metode Precast sebanyak 17 orang. Berdasarkan hasil analisa dapat disimpulkan metode Precast ialah metode yang paling efisien digunakan.
Khamidi Ilhami, Hadi Gunawan
Jurnal Gradasi Teknik Sipil, Volume 5, pp 22-27; https://doi.org/10.31961/gradasi.v5i1.816

Abstract:
Jalan merupakan prasarana darat yang berpengaruh besar terhadap perkembangan suatu wilayah. Jalan Ray III berada di Kabupaten Pulang Pisau lokasi dalam kota, ibu kota Kabupaten. Jalan tersebut merupakan jalan alternatif dari Provinsi Kalimantan Tengah menuju Provinsi Kalimantan Selatan juga sebaliknya. Peningkatan jalan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas jalan dalam rangka mengakomodasi pertumbuhan arus lalu lintas. Kondisi tanah dasar pada ruas Jalan Ray III adalah tanah lunak, sehingga dalam desain tanah dasar dengan dilakukan pengurukan timbunan. Metode perencanaan perkerasan yang digunakan adalah Analisa Komponen SKBI 2.3.26.1987. Objek studi yaitu Jalan Ray III terletak di Kabupaten Pulang Pisau pada STA 0 + 000 s/d STA 0 + 200. Hasil dari Evaluasi Desain Perkerasan Jalan dengan umur rencana 5 tahun diperoleh LER adalah 26,3 Laston (MS. 590) adalah 7,5 cm (tebal minimal 7,5 cm karena merupakan jalan kabupaten), Batu pecah kelas A (CBR 100) adalah 10 cm dan Batu pecah kelas B (CBR 80) adalah 10 cm (Syarat tebal minimum LPB). Untuk umur rencanaa 10 tahun diperoleh LER adalah 76,9 Laston (MS.590) adalah 7,5 cm (tebal minimal 7,5 cm karena merupakan jalan kabupaten). Batu pecah kelas A (CBR 100) adalah 10 cm, Batu pecah kelas B (CBR 80) adalah 14,4 cm
Rinova Firman Cahyani, Aunur Rafik, Sahlan Hadi
Jurnal Gradasi Teknik Sipil, Volume 5, pp 1-12; https://doi.org/10.31961/gradasi.v5i1.981

Abstract:
Penggunaan kayu/plywood untuk bekisting pada proses pengecoran pelat lantai konvensional dalam sudut pandang konstruksi dianggap memiliki beberapa kelemahan serta berdampak pada kerusakan ekosistem. Sehingga perlu dicari alternatif dan inovasi material lain yang memiliki keunggulan dan dapat mengurangi bahkan menggantikan penggunaan kayu pada pembangunan konstruksi. Produk material yang dimaksud adalah bondek yaitu jenis baja ringan berlapis galvanis dengan tekstur bergelombang yang rapi dan kokoh. Pada penelitian ini dibahas perbandingan biaya(RAB) pembangunan pelat lantai konvensional menggunakan bekisting kayu dengan biaya(RAB) pembangunan pelat lantai komposit menggunakan bekisting bondek pada pembangunan Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah(BPSDMD) Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru. Berdasarkan shop drawing, data spesifikasi bahan, harga satuan bahan dan upah, serta referensi lainnya dibuat analisa harga satuan pekerjaan dengan mengacu pada standar Analisa Harga Satuan Pekerjaan SNI Tahun 2016 dan Harga Satuan Bahan dan Upah Banjarbaru Tahun 2019 oleh Kementerian PUPR kemudian dilakukan perhitungan biaya(RAB) pembangunan pelat lantai. Menggunakan metode komparatif biaya(RAB) pembangunan biaya pelat lantai konvensional dibandingkan dengan biaya pembangunan pelat lantai komposit(bondek). Dari hasil perhitungan diperoleh biaya pembangunan pelat lantai konvensional sebesar Rp. 2.850.731.000,- dan biaya pembangunan pelat lantai komposit(bondek) sebesar Rp. 2.138. 501.000,- dengan selisih Rp. 230.230.000,- atau 24.98% lebih murah pelat lantai komposit(bondek).
Muhammad Fahr Udin, Fakhrurrazi
Jurnal Gradasi Teknik Sipil, Volume 5, pp 39-44; https://doi.org/10.31961/gradasi.v5i1.990

Abstract:
Polder Liang yang berletakak ada di sebelah barat kota Martapura di desa tambak baru Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Luas polder lebih dari 900 Ha dikelilingi jalan sebagai tanggul polder liang berada di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Matapura, Karang Intan, Astambul. Polder liang memiliki beberapa pintu air yaitu 6 pintu air utama dan 29 pintu air kecil. Sistem pintu air yang ada di sekitaran polder masih bersifat manual. Perhitungan ini menggunakan metode Nreca untuk perhitungan debit andalan dan debit nreca dan metode panmen dan standar KP-01 untuk perhi tungan kebutuhan air pada BAB IV dan menghitung pengembangan lahan pertanian berdasarkan neraca air.Hasil Perhitungan kebutuhan air yang ada di desa tambak baru kecamatan martapura kabupaten banjar kebutuhan air tertinggi pada bulan juni II berjumlah dengan rata-rata 0,442 m3/detik ketersedian air dihitung dengan debit andalan 80% didapat rata-rata ketersedian air 31,095 dengan awal pola tanam digunakan juni II perhitungan neraca air yang ada di petak sawah pada bulan juni II 5,384 m3/detik.perhitungan perkembangan lahan yang awalny tercatat 638 Ha bisa di kembangkan menjadi 845 Ha.
Reza Adhi Fajar, Aris Rinaldi, Dasniari Pohan, Idham Riyando Moe
Jurnal Gradasi Teknik Sipil, Volume 5, pp 13-21; https://doi.org/10.31961/gradasi.v5i1.729

Abstract:
Permasalahan banjir Kota Manado merupakan permasalahan utama yang wajib ditangani secara komprehensif. Perubahan tata guna lahan, intensitas curah hujan yang sering dan lama, kapasitas tampung sungai yang mengecil, sedimentasi dan sampah, dan perubahan iklim menjadi penyebab terjadinya banjir di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan model dua dimensi dengan simulasi efek perubahan tata guna lahan dan efek hujan kala ulang serta observasi banjir guna mencari solusi terhadap permasalahan banjir yang sering terjadi di Kota Manado. Hasil dari penelitian ini adalah terjadi perubahan tata guna lahan dan peningkatan luas area terdampak banjir yang menggenangi Kota Manado, di lain hal kapasitas sungai yang kecil, sehingga pemerintah Kota Manado perlu memperbaiki daerah sempadan sungai yang dipadati dan dihuni oleh masyarakat guna meningkatkan kapasitas aliran air di sungai saat musim hujan dengan intensitas lama dan besar
Ruspiansyah Ruspiansyah, Muhammad Humaidi, Khairil Yanuar
Jurnal Gradasi Teknik Sipil, Volume 4, pp 26-33; https://doi.org/10.31961/gradasi.v4i2.851

Abstract:
Jembatan tipe slab on pile umumnya terdiri dari dua bentang atau lebih. Sampai saat ini belum ada ketentuan atau pedoman terkait dengan panjang bentang terkecil dan terbesar. Dengan demikian penentuan panjang bentang jembatan slab on pile lebih kepada engineering judgment desainer dan/atau pemilik jembatan. Penelitian ini mencoba menentukan panjang bentang optimal yang dapat menghasilkan biaya konstruksi bangunan atas yang minimal dalam satuan rupiah per satuan luas jembatan slab on pile di daerah tanah lunak. Adapun lokasi penelitian berada di Jembatan Ray 2 Kabupaten Barito Kuala. Dalam penelitian ini, jembatan dibagi kedalam tiga tipe, yaitu Tipe I dengan bentang segmental 4 m dengan banyak bentang lima bentang dan panjang bentang total 20 m, Tipe II dengan bentang segmental 5 m dengan banyak bentang empat bentang dan panjang bentang total 20 m, dan Tipe III dengan bentang segmental 7 m dengan banyak bentang tiga bentang dan panjang bentang total 21 m. Berdasarkan hasil desain, biaya konstruksi bangunan atas per satuan luas untuk untuk jembatan slab on pile tipe I sebesar Rp5,795,673.4, jembatan slab on pile tipe II sebesar Rp5,313,707.8, dan jembatan slab on pile tipe III sebesar Rp4,925,033.0. Perbedaan biaya konstruksi ini dipengaruhi oleh jumlah pier head yang dimiliki jembatan, dimana tipe III memiliki jumlah pier head terkecil Abstract Slab on pile bridges consist of two spans or more. Until now, there are not codes state cleary about shortest and largest span of slab on pile bridge. Therefore, decision about length of span tends to engineering judgement of designer and/or owner of the bridge. This research tries to propose about optimal span that obtain a minimal construction cost of superstructure of slab on pile bridge on soft soil area in rupiah per square area. This research is located at Ray 2 Bridge in Barito Kuala District. In this research, bridge classifies in three types: type I (4 m segmental length, 5 spans, and 20 m total span length), type II (5 m segmental length, 4 spans, and 20 m total span length), and type III (7 m segmental length, 3 spans, and 21 m total span length). According to design results in this research, construction cost of superstructure for type I, II, and III are Rp5,795,673.4, Rp5,313,707.8, and Rp4,925,033.0. construction cos differs among types because the numbers of pier head, wherein type III has smallest number of pier head
Al-Qadar - Al-Qadar, Fakhrurrazi Fakhrurrazi
Jurnal Gradasi Teknik Sipil, Volume 4, pp 1-6; https://doi.org/10.31961/gradasi.v4i2.771

Abstract:
Abstrak PDAM BNA Amuntai adalah unit penyedian air bersih di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang melayani penyediaan air bersih untuk keperluan masyarakat tiga kecamatan yaitu Amuntai Utara, Selatan dan Tengah. Laju angka pertumbuhan di tiga kecamatan ini membuat kebutuhan air bersih semakin bertambah setiap tahunnya. Pengadaan air bersih untuk masyarakat bertujuan agar lapisan masyarakat menjalani pola hidup sehat.Untuk mengetahui jumlah kebutuhan air bersih pada tahun tertentu, menggunakan analisis proyeksi penduduk dengan standar kebutuhan air bersih berdasarkan panduan Kementrian PU. Menghitung ketersedian air disungai Balangan (debit andalan) menggunakan analisis data klimatologi dan data bangkitan hujan menggunakan metode mock. Hasil analisis jumlah penduduk di tiga kecamatan layanan PDAM BNA Amuntai pada tahun 2049 berdasarkan hasil proyeksi penduduk sebanyak 154.972,2 jiwa. Dengan layanan 90% kebutuhan masyarakat terhadap air bersih layanan PDAM BNA Amuntai pada tahun 2049 sebanyak 771.843,38 m³/bulan. Hasil analisis debit andalan ketersedian air baku sebanyak 12.933.464,72 m³/bulan. Sehingga persentase kebutuhan air bersih sebesar 5,97%. terhadap ketersedian air baku di sungai. Abstract PDAM BNA Amuntai is a clean water supply unit in the North Hulu Sungai Regency that serves clean water for the needs of the community of three sub-districts, namely North, South and Central Amuntai. The rate of growth in these three sub-districts makes the need for clean water growing every year. The provision of clean water aims to ensure that the layers of society live a healthy lifestyle. Analysis of population projections with clean water requirements based on the Ministry of Public Works guidelines to calculate clean water needs. Calculating the availability of water in the Balangan river (mainstay discharge) using climatological data analysis and rainfall generation data using the mock method. The results of the analysis of the population in the three sub-districts of PDAM BNA Amuntai service in 2049 based on the projection of the population of 154,972.2 people. With 90% service, the community's need for clean water services at PDAM BNA Amuntai in 2049 is 771,843.38 m³/month. The results of the main discharge analysis of the availability of raw water were 12,933,464.72 m³/month. So the percentage of clean water needs is 5.97%. towards the availability of raw water in the river
Gusti Arya Kusuma, Rezky Anisari
Jurnal Gradasi Teknik Sipil, Volume 4, pp 7-13; https://doi.org/10.31961/gradasi.v4i2.784

Abstract:
Abstrak Dalam proyek konstruksi biasanya pihak pengerja dalam hal ini dapat disebut kontraktor lapangan terkadang mengalami beberapa kendala dalam mengerjakan proyek yang tidak mempunyai akses jalan yang baik, permasalahan tersebut adalah sulitnya untuk mobilisasi alat berat.Akan tetapi terkadang pelaksanaan secara manual pun sulit dilaksanakan dikarenakan terbatasnya waktu pengerjaan dan perekrutan pekerja untuk proyek tersebut. Lokasi penelitian untuk ini mencakup daerah Desa tatah alayung kecamatan mandastana kabupaten barito kuala. Metode penelitian data untuk Tugas Akhir ini ialah dengan observasi, yaitu melakukan pengamatan di lapangan berkaitan dengan materi yang dibahas. Observasi dilakukan Daerah Irigasi Rawa (DIR) tanipah Desa Tatah Alayung Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala. Berdasarkan analisis perhitungan didapat Volume pekerjaan galiannya sebesar 216,476.80 m3. Biaya excavator long-arm sebesar 1,928,609,738 rupiah, Biaya excavator long-arm + Ponton sebesar 2,571,479,650 rupiah, dan Biaya excavator standard sebesar 714,480,000 rupiah. Jika pekerjaan dilakukan dengan menggunakan alat-alat manual dan dikerjakan oleh pekerja galian didapatkan hasil sebesar 22,580,000,000 rupiah. Rasio perbandingan biaya antara alat berat dengan pekerjaan manual adalah 2,571,479,650 : 22,580,000,000 atau sama dengan 1 : 8,78 (Bila diambil dari biaya alat berat yang terbesar). Kata kunci : Excavator, Biaya, Pekerja Abstract In construction projects, usually the workman in this case can be called a field contractor, sometimes experiencing some obstacles in working on projects that do not have good road access, the problem is the difficulty of mobilizing heavy equipment. However, sometimes even manual implementation is difficult to carry out due to limited working time and recruitment of workers for the project. The research location for this area includes tatah alayung village, mandastana sub-district, barito kuala district. This data research method is by observation, which is conducting observations in the field relating to the material discussed. Observations were carried out in the Swamp Irrigation Area (DIR) Tanipah, Tatah Alayung Village, Mandastana District, Barito Kuala Regency. Based on the analysis of calculations, the volume of excavation works is 216,476.80 m3. The cost of long-arm excavators is 1,928,609,738 rupiahs, the cost of long-arm excavators + Pontoons is 2,571,479,650 rupiahs, and the cost of standard excavators is 714,480,000 rupiahs. If the work is carried out using manual tools and is carried out by excavated workers, the result is 22,580,000,000 rupiah. The ratio of the cost ratio between heavy equipment with manual work is 2,571,479,650: 22,580,000,000 or equal to 1: 8,78 (If taken from the largest cost of heavy equipment). Keywords : Failure, Settlement, Eccentricity
Atur P. N. Siregar, Anwar Dolu, M Z H Ragalutu
Jurnal Gradasi Teknik Sipil, Volume 4, pp 14-25; https://doi.org/10.31961/gradasi.v4i2.753

Abstract:
Kecamatan Kinovaro secara geografis memiliki banyak sungai yang panjang dan lebar yang menjadi kendala dalam proses pemenuhan kebutuhan masyarakat dan perkembangan daerah tersebut. Maka perlu adanya fasilitas penunjang, salah satunya adalah jembatan. Jembatan merupakan konstruksi vital maka harus didesain sedemikian rupa agar mampu menerima beban dengan baik. Jembatan tipe portal lengkung dapat menjadi alternatif untuk jembatan bentang panjang, karena selain bentuknya yang memiliki nilai estetika, jembatan dengan tipe pelengkung juga dapat mereduksi momen lentur sehingga penampang yang diperoleh menjadi lebih efisien. Abstract Kinovaro is a subdistrict where has many long and wide rivers and being obstacles in the process of fulfilling community needs and the development of the area. So that it needs to have a facilitis, one of that is a bridge. Bridges is important constructions so it needs to be designed carepully in order to have a proper calculation. Curved bridge type can be an alternative for long span bridges, because it has a nice aesthetic value, can also reduce bending moments so that it can provide an optimum cross section. The purpose of this Final Project is to obtain bending moments and curved axial forces, dimensions and reinforcement. The method used for structural analysis is the finite element method through the SAP2000 program, while for reinforcement design using the strength method based on SNI 2847-2013. The results of structural analysis, the are critical bending moment is 21869.332 kN.m and the critical axial force is 15944.307 kN, both of which are in the arching position. From the design results is found out that the girder dimensions of 60 x 80 cm. Thickness of the top arch is 60 cm and nearby support is 140 cm. While the column thickness at the top of the arch is 40 cm and nearby support is 80 cm. From the results of reinforcement design, the girder reinforcement of 16D25 mm was obtained on the support, and of 10D25 mm was at the middle length of the beam. Reinforcement of columns was obtained of D25-100 mm nearby support area and D25-200 mm at the top area. Whereas for the arches obtained of D25-80 mm for the supporting area and D25-100 mm at the top of the arch area. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mendapatkan momen lentur dan gaya aksial pelengkung, dimensi dan tulangan struktur yang efisien. Metode yang digunakan untuk analisa struktur adalah metode elemen hingga menggunakan program SAP2000, sedangkan untuk perencanaan tulangan menggunakan metode kekuatan berdasarkan SNI 2847-2013. Dari hasil analisa struktur diperoleh momen lentur pelengkung terbesar adalah 21869,332 kN.m dan gaya aksial terbesar adalah 15944,307 kN, keduanya berada pada perletakan pelengkung. Dari hasil perencanaan diperoleh dimensi gelagar 60 x 80 cm, tebal pada puncak pelengkung adalah 60 cm dan pada perletakan adalah 140 cm, sedangkan untuk tebal kolom pada puncak pelengkung adalah 40 cm dan pada perletakan adalah 80 cm. Dari hasil perencanaan tulangan diperoleh tulangan gelagar pada tumpuan 17D25 mm dan lapangan 10D25 mm. Tulangan kolom diperoleh tulangan D25-100 mm untuk daerah perletakan pelengkung dan D25-200 mm pada daerah puncak. Sedangkan untuk pelengkung diperoleh D25-80 mm untuk daerah perletakan dan D25-100 mm pada daerah puncak pelengkung.
Back to Top Top