Gorontalo Agriculture Technology Journal

Journal Information
ISSN / EISSN : 26141140 / 26142848
Current Publisher: Universitas Gorontalo (10.32662)
Total articles ≅ 25
Filter:

Latest articles in this journal

Retty Ikawati, Isana Arum Primsari
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 79-87; doi:10.32662/gatj.v2i2.726

Abstract:Keberadaan hutan mangrove di pesisir selatan kota Yogyakarta, kawasan hutan Baros, Bantul turut serta meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Pengembangan kawasan tujuan wisata semakin digalakkan dengan menggerakkan sarana dan prasarana pendukung, seperti usaha perjalanan, hotel dan rumah makan serta industri-industri kerajinan, makanan khas dan tradisional. Sementara itu, hutan mangrove menghasilkan berbagai macam buah mangrove, salah satunya adalah buah siapi-api (Avicenna marina). Buah ini memiliki potensi untuk diolah sebagai bahan pangan seperti yang telah dilakukan oleh beberapa kawasan hutan mangrove lainnya di Indonesia. Menjawab tantangan tersebut maka dikembangkanlah produk yang memanfaatkan buah mangrove sebagai bahan brownies siapi-api sebagai produk oleh-oleh dari Baros, Bantul. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial pendirian industri kecil brownies siapi-api. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan obyek Kelompok Pemuda Pemudi Baros (KP2B), melalui observasi, survey dan wawancara serta metode kuantitatif melalui perhitungan untuk mengetahui kelayakan finansial. Analisis data finansial yang digunakan menggunakan rumus Revenue Cost (R/C), Benefit Cost (B/C), dan Return On Investment (ROI). Hasilnya, analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa R/C sebesar 1,43 yang artinya R/C>1 layak usaha, aspek B/C sebesar 0,43 yang artinya usaha ini layak dijalankan (B/C>0). Aspek yang terakhir yaitu ROI diperoleh sebesar 43%. Dengan demikian, usaha ini layak untuk dilanjutkan.
Mariani Haji Mansyur
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 99-107; doi:10.32662/gatj.v2i2.725

Abstract:Tahu susu dibuat dengan cara memanaskan susu segar dengan menambahkan getah pepaya. Untuk mendapatkan cita rasa yang berbeda dari tahu susu konvensional dilakukan modifikasi pada proses pembuatan tahu susu dengan cara fermentasi dan disubtitusi tahu kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan fermentasi tahu susu yang disubtitusi sebagian dengan tahu kedelai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan perlakuan tahu susu sapi 85% : tahu kedelai 15%, tahu susu sapi 80% : tahu kedelai 20%, tahu susu sapi 75% : tahu kedelai 25% dan difermentasi dengan penambahan Lactobacillus lactis sebanyak 2% dan disimpan selama 3 minggu dan setiap minggunya dilakukan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahu kedelai dan proses fermentasi berpengaruh terhadap kekenyalan dan uji organeleptik tahu susu sapi yang dihasilkan.
Dimas Bayu Pinandoyo, Asriadi Masnar
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 51-68; doi:10.32662/gatj.v2i2.722

Abstract:Keripik Semat Desa Tenjo merupakan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang telah memiliki PIRT dengan nomor 2153201010561-22. Meski demikian UKM ini masih memerlukan prosedur-prosedur untuk memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas pangan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis masalah keterbatasan UKM dalam memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas pangan yang baik. Dalam penelitian ini permasalahan dianalisis dengan metode observasi, FGD, dan wawancara secara mendalam. Acuan GMP yang dirujuk merupakan standar yang dipakai oleh Food Safety Center of Manitoba (2018). Penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) di UKM Keripik Tenjo telah memenuhi syarat-syarat CPPB-IRT pada level 4 (PIRT). Namun diperlukan kontrol yang lebih baik pada peralatan, peningkatan nilai praktek personal, penerapan prosedur penjagaan kebersihan bahan, kontrol lingkungan, pengontrolan penggorengan, pengemasan, dan storage.
Tuti Rostianti Maulani, Retno Utami K, Anah Mulyanah
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 69-78; doi:10.32662/gatj.v2i2.723

Abstract:Pembuatan pasta makaroni dari tepung talas beneng sebagai pengisi pengganti tepung terigu dengan penambahan daun kelor merupakan salah satu alternatif produk pangan yang dapat menjadi produk biodisversifikasi pangan lokal Kabupaten Pandeglang. Menggunakan berbagai formulasi bahan dan pengaturan penggunaan daun kelor pada makaroni untuk melihat kualitas yang paling baik. Hasil uji proksimat produk makaroni tepung talas beneng dengan penambahan daun kelor adalah kadar air 10,95%, kadar abu 1,82%, lemak 1,27%, protein 23,55% dan karbohidrat 62,41%. Secara organoleptik hasil makaroni yang dihasilkan semakin banyak penggunaan daun kelor akan mempengaruhi warna dan rasa pada makaroni. Talas beneng dapat dijadikan berbagai macam produk olahan sebagai alternatif pangan.
Wanti Dewayani, Riswita Riswita, Harti Harti, Nur Fitriani Usdyana Atahmid, Mursida Mursida
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 88-98; doi:10.32662/gatj.v2i2.756

Abstract:Tahu merupakan makanan favorit masyarakat sehari-hari. Namun tahu hanya bertahan satu hari saja, sehingga dibutuhkan pengawet untuk memperpanjang masa simpan. Salah satu pengawet alami yang potensial adalah daun jambu biji. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perendaman daun jambu biji kering terhadap kadar protein, vitamin A dan sensori tahu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2019, di Laboratorium pasca panen BPTP Sulawesi Selatan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan lama perendaman selama 0 hari, 2 hari, 4 hari, 6 hari, 8 hari dan 10 hari dan masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman tahu ke dalam ekstrak daun jambu biji (Psidium guava L) tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan protein tahu. Perendaman tahu ke dalam ekstrak daun jambu biji berpengaruh nyata terhadap kandungan vitamin A dan sensori tahu. Perlakuan terbaik adalah tahu yang direndam dalam ekstrak daun jambu biji selama 4 hari dengan kadar protein 10.31 %, vitamin A 168 %, warna 2,67 (agak suka), aroma 3.4 (agak suka), rasa 3.07 (agak suka) dan tekstur 2.93 (agak suka).
A.Khairun Mutia
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 30-37; doi:10.32662/gatj.v2i1.538

Abstract:Bawang merah merupakan salah satu jenis komoditas penting bagi masyarakat yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga perlu diimbangi dengan ketersediaan di pasaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun bawang merah sangat mudah mengalami perubahan mutu seperti susut bobot, dan penurunan tingkat kekerasan karena memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga umur simpan bawang merah menjadi pendek. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan faktor yaitu kadar air awal penyimpanan. Kadar Air awal yang digunakan adalah 76%, 80% dan 85% dan disimpan dengan suhu 5ºC selama 12 minggu. Parameter yang diamati adalah susut bobot dan tingkat kekerasan. Hasil Penelitian menunjukkan bawah kadar air memberikan pengaruh yang nyata terhadap susut bobot dan tingkat kekerasan dari bawang merah selama penyimpanan. Kadar air awal yang mampu mempertahankan mutu bawang merah selama penyimpanan adalah 80%.
Wanti Dewayani, Riswita Syamsuri, Erina Septianti
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 38-50; doi:10.32662/gatj.v2i1.483

Abstract:Bawang merah merupakan salah satu tanaman hortikutlra yang tidak tahan disimpan lama dan menjadi kempes seiring dengan lamanya penyimpanan. Salah satu olahan bawang merah yang baru adalah bubuk bawang merah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh varietas, jenis pengering dan bahan pengisi terhadap kualitas bubuk bawang merah. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Pascapanen BPTP Sulawesi Selatan dari bulan Nopember sampai Desember 2016. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial, terdiri dari 3 faktor dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah varietas bawang merah : Bima Brebes dan Maja Cipanas, faktor kedua jenis pengering adalah sinar matahari, oven manual dengan suhu 60oC, oven listrik suhu 60oC dan oven listrik suhu 100oC serta faktor ketiga adalah jenis bahan pengisi : tanpa bahan pengisi, tepung tapioka dan pati jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi nyata antara varietas, jenis pengering dan bahan pengisi terhadap rendemen, kadar air, kadar abu, lemak, protein, warna, aroma dan penilaian secara umum bubuk bawang merah. Bubuk bawang merah yang terbaik adalah varietas Bima brebes yang dikeringkan dengan oven manual suhu 60 oC suhu 60 oC dengan bahan pengisi tapioka degan rendemen 23%, kadar air 7,82%, kadar abu 2,21 %, kadar lemak 3,56%, protein 4,88% dengan warna, aroma, rasa, tekstur dan penilaian secara umum yang disukai
Fatmawati Fatmawati, Zulham Zulham
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 19-29; doi:10.32662/gatj.v2i1.488

Abstract:Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui margin pemasaran jagung di Desa Suka Makmur Kecamatan Patilanggio Kabupaten Pohuwato, serta (2) untuk mengetahui efisiensi saluran pemasaran jagung di Desa Suka Makmur Kecamatan Patilanggio Kabupaten Pohuwato. Penelitian ini menggunakan pendekatan kombinasi kualitatif dan kuantitatif (mixed-method) dengan tipe sequential (kombinasi berurutan) kualitatif-kuantitatif dimana bobot kuantitatif lebih besar dibanding kualitatif (qual-QUAN). Penelitian dilaksanakan di Desa Suka Makmur, Kecamatan Patilanggio, Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo. Analisis yang digunakan adalah Analisis Miles dan Huberman, analisis biaya dan keuntungan, analisis margin pemasaran, serta analisis efisiensi saluran pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Margin pemasaran jagung sebesar Rp 370 antara pedagang pengumpul dan pedagang besar. Pedagang pengumpul membeli hasil produksi jagung petani dengan harga Rp 2.330/kg kemudian dijual pada pedagang besar dengan harga Rp 2.700/kg. (2) Efisiensi saluran pemasaran jagung yaitu 13,43%. Hal ini berarti saluran pemasaran jagung sudah efisien.
Muh Arsyad
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 10-18; doi:10.32662/gatj.v2i1.480

Abstract:Panen yang dilakukan sebelum atau setelah masak fisiologis akan berpengaruh terhadap kualitas fisik dan kimia biji jagung. Salah satu aspek penanganan pasca panen yaitu pemanenan pada waktu yang tepat dan dimaksudkan agar jagung yang dipanen dapat bertahan lama, tidak mengalami kerusakan serta kandungan gizi yang terdapat pada bahan pangan tidak banyak mengalami perubahan. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh umur pemanenan terhadap sifat fisikokimia jagung hibrida dari segi kadar air, berat biji jagung dan kandungan kadar abu dan mengetahui umur pemanenan yang optimal terhadap fisikokimia jagung hibrida. Penelitian dilakukan dengan mengukur kadar air, kadar abu dan berat biji jagung dengan umur panan yang berbeda yaitu 100 HST, 110 HST, dan 120 HST dan dilakukan pengolahan data dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan apabila berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji lanjut BNJ. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sifat fisikokimia jagung hibrida saat pemanenan berpengaruh sangat nyata baik terhadap kadar air dan berat jagung maupun pada kadar abu jagung hibrida. Jagung yang dipanen pada waktu lama secara umum mengalami penurunan kadar air, kadar abu dan berat biji jagung. Pemanenan 100 HST memiliki kadar abu dan berat biji yang optimum sedangkan untuk kadar air pada umur pemanenan 120 HST.
Sitti Nadirah
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2; doi:10.32662/gatj.v2i1.546

Abstract:Makanan khas daerah merupakan jenis makanan yang biasa dinikmati di berbagai daerah. Ilabulo merupakan salah satu makanan tradisional di provinsi Gorontalo. Ilabulo sendiri dalam bahasa Gorontalo berarti sagu ati ampela, dimana bahan dasar pembuatan ilabulo adalah tepung sagu yang pada umumnya ditambahkan hati dan ampela ayam, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan gizi produk ilabulo dengan penambahan hati dan ampela ayam serta untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis terhadap ilabulo dengan penambahan hati dan ampela ayam. Penelitian meliputi 4 perlakuan yaitu penambahan hati 0 g + ampela 0 g, penambahan hati 15 g + ampela 15 g, penambahan hati 25 g + ampela 25 gr, penambahan hati 50 gr + ampela 50 gr. Parameter yang diamati meliputi, kadar protein, kadar lemak dan uji organoleptik terhadap rasa, aroma, warna dan tekstur ilabulo. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar protein dan kadar lemak tertinggi terdapat pada perlakuan penambahan hati 50 g + ampela 50 g dengan nilai 8,99% pada kadar protein, dan 2,4% pada kadar lemak. Hasil uji organoleptik metode hedonik, menunjukkan tingkat penerimaan terbaik terdapat pada perlakuan penambahan hati 50 g dan ampela 50 g, dari kriteria rasa, aroma, warna, dan tekstur.