Gorontalo Journal of Forestry Research

Journal Information
ISSN / EISSN : 2614-2058 / 2614-204X
Current Publisher: Universitas Gorontalo (10.32662)
Total articles ≅ 21
Filter:

Latest articles in this journal

Erni Mukti Rahayu
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 3, pp 79-89; doi:10.32662/gjfr.v3i2.993

Abstract:
Pulau Menjanganmerupakan kawasan dalam Taman Nasional Bali Barat (TNBB) yang tergolong kawasan pelestarian alam yang memiliki vegetasi yang beragam, khususnya ekosistem darat dan ekosistem laut. Ekosistem darat terdiri hutan dataran rendah, savana, dan hutan pantai. Keberadaan vegetasi di Pulau Menjangansangat penting guna mendukung fungsi kawasan dalam pelestarian alam. Namun, data tentang vegetasi pada kawasan Pulau Menjanganmasih sangat terbatas. Oleh sebab itu perlu adanya penelitian tentang analisis vegetasi dimana nantinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber data atau informasi pada kawasan Pulau MenjanganTNBB. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Jenis tumbuhan dan Indeks Nilai Penting, Indeks Keragaman jenis, Indeks Kekayaan Jenis, dan Indeks Kemerataan vegetasi hutan yang berada di kawasan Pulau MenjanganTaman Nasional Bali Barat. Metode pengambilan data menggunakan metode transek dengan IS 1%, petak ukur yang digunakan adala 2x2 meter untuk semai, 5x5 meter untuk pancang, 10x10 meter untuk tiang, dan 20x20 meter untuk pohon. Hasil Analisis Vegetasi Indeks Nilai Penting tingkat pohon didominasi oleh Acacia leucophloea (Roxb) Willd pada habitat hutan pantai yaitu sebesar 107.63%, habitat savana sebesar 172,33%, dan hutan dataran rendah sebesar 48,78%. Vegetasi tingkat tiang pada habitat hutan pantai Pemphis acidula Forst sebesar 94.85% sedangkan untuk savana Azadirachta indica A. Juss sebesar 106,49% dan hutan dataran rendah dengan INP sebesar 68,34% yaitu Schoutenia ovata Korth. Vegetasi tingkat pancang pada habitat hutan pantai yaitu Ceriops tagal (Pers) CBRob dengan INP sebesar 86.09%, sedangkan untuk savana INP tertinggi sebesar 105.75% pada Azadirachta indica A. Juss, dan hutan dataran rendah yaitu Rauvolfia serpentina (L) Benth dengan INP 35.95%. Vegetasi tingkat semai pada hutan pantai yaitu Caesalpinia bonduc (L) Roxb dengan INP yang didapat 30.04% dan savana terdapat pada Cleoma viscosa Linnaeus dengan INP 67.77%, sedangkan untuk hutan dataran rendah yaitu Rauvolfia serpentina (L) Benth 60.42%. INP tersebut menunjukkan bahwa keadaan vegetasi yang baik dan terdapat beberapa jenis pohon yang mendominasi hal ini karena keadaan hutan merupakan hutan alam sehingga pertumbuhannya ada yang bersifat dominan dan tertekan. Indeks keanekaragaman tumbuhan di Kawasan Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat tergolong dalam kategori sedang pada hutan dataran rendah dimana didapat hasil sebesar 2.65. Indeks kekayaan jenis didapat hasil 5,24 yang menandai bahwa kekayaan jenis tergolong tinggi pada hutan pantai. Indeks kemerataan jenis diperoleh hasil dalam kategori merata karena nilai indeks kemerataan spesies berada pada nilai 1.61.
Rizki Parliansyah, Melya Riniarti, Duryat Duryat
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 120-129; doi:10.32662/gjfr.v2i2.721

Abstract:
Pala merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomi, ekologi, dan sosial yang baik, karenanya pala menjadi salah satu tanaman yang banyak diminati dalam pengembangan perhutanan sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis produktivitas serta potensi pala yang ada di Hkm Rangai Sejahtera. Penelitian ini di desain dengan sistem random sampling (SRS) untuk mendapatkan data jumlah petani yang areal produksinya akan dilakukan pengambilan sampling. Analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui kondisi vegetasi lahan. Wawancara langsung dilakukan untuk mendapatkan data produktivitas pala dan harga jual rata-rata. Analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui produksi pala/ha dan potensi produksi pala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lahan garapan Hkm Rangai Sejahtera hanya ditemukan 6 jenis tanaman yang terdiri dari 5 tanaman MPTs dan 1 tanaman perkebunan. Pala merupakan tanaman yang mendominasi dengan INP sebesar 104,67%, dengan kerapatan pala sebesar 80,6 tanaman/ha, frekuensi 100% serta dominansi 0,51 m2/ha. Produktivitas pala per pohon di HKm Rangai Sejahtera rata-rata 60kg/pohon/thn, dengan kerapatan tanaman pala 80,6 pohon/ha maka produktivitas per ha sebanyak 4.836 kg/ha. Dengan luasan 420 ha maka potensi pala sekitar 2.031.120 kg/thn.
Ary Muhammad, Muhammad Darmawan
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 105-119; doi:10.32662/gjfr.v2i2.718

Abstract:
Kawasan Bulu Dua menjadi salah satu wilayah yang termasuk dalam rencana induk pariwisata Kabupaten Soppeng yang dapat dikembangkan sebagai kawasan Ekowisata. Penelitian dilakukan di Kawasan Bulu Dua yang terletak di Desa Gattareng Toa, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Dalam penelitian ini digunakan metode survei dengan teknik observasi, kuesioner, wawancara, dan studi pustaka. Tahapan studi terdiri dari persiapan, pengumpulan data (inventarisasi), analisis dan sintesis, dan perumusan konsep pengembangan. mengacu pada pedoman penilaian potensi wisata alam yang di terbitkan oleh Direktorat Bina Kawasan Pelestarian Alam. Tujuan yang ingin dicapai yaitu: mengkaji dan menganalisis potensi dan daya tarik wisata alam di Kawasan Bulu Dua serta merumuskan strategi pengelolaan wisata alam berbasis masyarakat di Kawasan Bulu Dua Kabupaten Soppeng. Berasarkan hasil penilaian potensi wisata alam suatu kawasan layak ditunjuk dan dikembangkan apabila mempunyai nilai kisaran antara 478 – 820. Hasil penilaian potensi wisata alam yang telah dilakukan mendapatkan nilai 575. Berdasarkan fungsi dan penilaian potensi wisata di dalam tapak, dimana daya tarik (alam) menjadi fokus utama, diperkuat dengan kekhasan fauna endemik Macaca maura sebagai point of view serta penguatan oleh partisipasi masyarakat dan dukungan pemangku kebijakan. Penataan ruang direncanakan terbagi atas 5 zona yaitu zona welcome area, zona natural tourism, zona pelayanan dan wisata budaya, zona agrowisata, dan zona wisata tirta. Penataan vegetasi direncanakan memanfaatkan dan mempertahankan vegetasi asli tapak, tata hijau terdiri dari tata hijau produksi dan tata hijau konservasi.
Iqrimha Staddal
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 63-76; doi:10.32662/gjfr.v2i2.580

Abstract:
Kerusakan DAS Randangan ditandai dengan terjadinya berbagai bencana alam yang disebabkan oleh dinamika kondisi biofisik DAS. Dalam sudut pandang kelembagaan, hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kesalahan dalam pengelolaan DAS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik DAS Randangan dan menganalisa peran serta tupoksi stakeholder dalam pengelolaan DAS Randangan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kondisi fisik DAS Randangan yang ditunjukkan oleh erosi katagori berat sebesar 36.8% dan katagori sangat berat sebesar 34.5%, koefisien aliran permukaan sebesar 0.54 serta kekritisan lahan dengan katagori agak kritis sebesar 85.6%. Analisis pertumbuhan penduduk sebesar 1.45% selama tiga tahun terakhir dan tingkat kemiskinan sebesar 21.29%. Analisis kelembagaan menjadi tolak ukur dalam penelitian ini, hasil penelitian memperlihatkan bahwa kurangnya pemahaman tugas pokok dan fungsi pekerjaan menjadikan DAS Randangan semakin kritis .
Dewi Ira Rahmawati, Bainah Sari Dewi, Sugeng P Harianto, Nuning Nurcahyani
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 77-87; doi:10.32662/gjfr.v2i2.676

Abstract:
Kelimpahan dan kelimpahan relatif dung beetle berperan penting sebagai bioindikator kerusakan hutan dan habitat. Tujuan penelitian untuk menganalisis kelimpahan spesies dan kelimpahan relatif spesies dung beetle di Hutan Pendidikan Konservasi Terpadu Universitas Lampung Blok Lindung, Tahura Wan Abdul Rachman pada Desember 2018-Februari 2019. Metode yang digunakan adalah metode trap, kemudian data yang terkumpul dianalisis dengan indeks kelimpahan dan indeks kelimpahan relatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan spesies dung beetle termasuk sedang dengan nilai 3,53 yang menggambarkan keadaan Hutan Pendidikan Tahura Wan Abdul Rachman masih tergolong baik. Ada empat jenis dung beetle yang ditemukan yaitu Catharsius molossus, Onthophagus sp, Aphodius marginellus dan Oryctes rinocheros. Kelimpahan relatif seluruhnya termasuk tinggi dengan nilai di atas 20% hal ini karena jumlah setiap jenis dung beetle yang ditemukan hampir sama. Pengelola sebaiknya menjaga kelestarian hutan dengan mencegah terjadinya penebangan liar.
Husnah Latifah, Hasanuddin Molo, Jamiatullsna Apriani
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 88-104; doi:10.32662/gjfr.v2i2.696

Abstract:
Perahu tradisional merupakan salah satu alat transportasi air yang terbuat dari kayu, dibuat dengan tenaga-tenaga terampil yang tidak memiliki pendidikan atau pelatihan khusus dibidang pembuatan perahu dengan menggunakan peralatan yang sederhana tanpa menggunakan desain gambar. Dengan adanya penelitian ini maka akan tersedia informasi tentang jenis kayu yang bisa dimanfaatkan pada bagian-bagian perahu serta volume kayu yang dibutuhkan dalam pembuatan perahu tradisional Bego, sehingga dapat dijadikan sebagai acuan bagi masyarakat guna melestarikan dan membudidayakan jenis kayu yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan perahu tradisonal oleh masyarakat. Penelitian ini bertujauan untuk mengetahui jenis kayu yang dimanfaatkan, kegunaan kayu dan volume kayu yang digunakan dalam pembuatan perahu Bego. Hasil penelitian menunjukkan pengrajin perahu Bego Desa Labuhan Jambu menggunakan 8 jenis kayu sebagai bahan baku pembuatan perahu Bego yaitu kayu Kesambi (Schleichera oleosa), Bungur (Lagerstroemia speciosa per), Sappang (Biancaea sappan), Beropa/bakau (Sonneratia alba),Bidara (Ziziphus mauritiana), Laban (Vitex pubescen), Prek Mayung/Kruing (Dipterocarpus retusus), dan kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri).Penggunaan kayu pada setiap bagian perahu Bego yaitu kayu Kesambi (Schleichera oleosa) digunakan pada bagian solor/gading, linggi haluan, linggi buritan, pondasi mesin, lunas dan kalang. Kayu Bungur (Lagerstroemia speciosa per) digunakan pada bagian badan perahu, sebeng perahu, dek, les, lepe, sekat dan kamar mesin. Sappang (Biancaea sappan) digunakan sebagai paku kayu. Beropa/Bakau (Sonneratia alba) digunakan pada bagian solor/gading. Laban (Vitex pubescen) digunakan pada bagian kalang, linggi haluan, tiang bendera dan kaso. Prek Mayung/Kruing (Dipterocarpus retusus) digunakan pada bagian les dan lepe perahu. Bidara (Ziziphus mauritiana) digunakan pada bagian solor/gading. Kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) digunakan pada bagian lunas. Volume rata-rata kayu yang digunakan pada pembuatan perahu Bego adalah sebanyak 2.61 m3.
Muhammad Ichwan Kadir, Anwar Umar, Supratman Supratman
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 19-28; doi:10.32662/gjfr.v2i1.519

Abstract:
Keberadaan Kebun Raya Jompie Pare-Pare memiliki manfaat bagi masyarakat sekitarnya dan masyarakat Kota Pare-Pare, baik secara ekonomi maupun ekologi. Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) berapa nilai manfaat kayu Kebun Raya Jompie Parepare, dan (2) berapa besar Nilai Ekonomi kayu Kebun Raya Jompie . Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Soreang Kota Parepare Provinsi Sulawesi Selatan. Pengumpulan data lapangan, pengolahan dan analisis data serta penyusunan tesisi berlangsung pada bulan Maret s.d September 2015. Data dianalisis melalui pendekatan pasar proksi dengan Teknik Barang Proksi (proxy good technique). Hasil penelitian menunjukkan tingakat ketergantungan masyarakat pada areal Kebun Raya Jompie Parepare (KRJP) sangat tinggi baik secara langsung maupun tidak langsung. Nilai manfaat kayu yang di peroleh adalah 47,28 m³/ha/tahun dengan nilai ekonomi kayu Rp. 218,112,927 m³/tahun
Muliana Djafar, Muh Faisal Mappiasse
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 1-10; doi:10.32662/gjfr.v2i1.498

Abstract:
Ekowisata merupakan suatu bentuk perjalanan wisata ke areal alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan serta kesejahteraan penduduk setempat. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi potensi wisata yang ada pada Dusun Rammang-Rammang(2) menyusun strategi pengembangan ekowisata karst di Dusun Rammang-Rammang.Pendekatan penelitian ini kualitatif dengan teknik analisis data yang digunakan deskriptif kualitatif dan SWOT. Pengumpulan data melalui observasi lapangan,wawancara dan studi literatur.Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman obyek wisata yang terdapat pada Dusun Rammang-Rammang sangat beragam, dimana dapat diketahui dengan teridentifikasinya potensi-potensi wisata yang terdapat pada kawasan tersebut, baik secara fisik, biologi maupun sosial budaya. Faktor pendukung yang terdiri dari kekuatan dan peluang, yaitu: merupakan tujuan wisata yang jarang ditemui karena keindahan karst yang eksotis, memiliki obyek wisata yang beragam,meningkatkan potensi sosial yang ada serta sumberdaya alam dapat terjaga dengan baik. Sedangkan faktor penghambat terdiri dari kelemahan dan ancaman, yaitu; obyek dan daya tarik wisata belum tertata dengan baik, pengelolaan obyek wisata yang kurang professional, kurangnya fasilitas pendukung, dan terbatasnya sumber dana bantuan dari pemerintah. Hasil perhitungan matrik IFAS dan EFAS menghasilkan nilai sumbu X sebesar 1.2 dan sumbu Y sebesar 0.8. Hal ini menunjukkan posisi strategis berada pada kuadran I, dengan rumusan strategi S-O, yaitu; mempertahankan keindahan serta keunikan sumberdaya alam agar tetap terjaga,melibatkan masyarakat luar dalam pengelolaan ekowisata, pembentukan lembaga potensi ekowisata dan menambah keragaman atraksi budayayang dikemas dalam satu paket wisata.
Ritabulan Ritabulan, Sambas Basuni, Nyoto Santoso, M. Bismark
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 29-39; doi:10.32662/gjfr.v2i1.515

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji substansi peraturan yang digunakan dalam pemanfaatan mangrove sebagai bahan baku arang oleh masyarakat di Batu Ampar, Kalimantan Barat. Analisis terhadap peraturan yang terkait dengan pemanfaatan mangrove sebagai bahan baku arang oleh masyarakat menggunakan pendekatan konsep rule in use Ostrom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing aturan pada rule in form dan rule in use tidak bersesuaian satu sama lain (incompatibility). Hal ini disebabkan oleh pemerintah daerah sebagai pihak pelaksana dinilai belum mampu merealisasikan program Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Desa (HD) atau Hutan Kemasyarakatan (HKm) pada kawasan hutan produksi yang telah disediakan serta rumitnya aturan dalam mengurus ijin pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (HHK) bagi masyarakat
Hadijah Azis Karim, Afandi Ahmad, Andi Rosdayanti
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 11-18; doi:10.32662/gjfr.v2i1.517

Abstract:
Carbon storage at mangrove ecosystem is one of the largest compared between any vegetated ecosystem. Palopo City is one of the cities bordering teh Gulf of Bone and still have secondary mangrove ecosystem. This ecosystem become a good vegetated area which can provide environmental services in the form of CO2 uptake around Palopo City. This study aimed to analyze carbon storage at mangrove ecosystem at Palopo City. Furthermore, the value of carbon storage converted to CO2-eq value which described uptake at mangrove ecosystem. Method of this research is non destructive sampling and used existing allometric equations. Data collection carried out by measuring tree diameter in sampling plot 25 × 25 m with space between plot is 100 m. Result of this study showed that average of above ground carbon is 82.34±16.92 ton/ha equal to 301.90±62.03 ton/ha CO2-eq. The sequestration of CO2 based on each mangrove species at study area is Avicenia marina 55.26 ton/ha, Rhizophora apiculata 497.13 ton/ha, Rhizophora mucronata 2259.49 ton/ha, Rhizophora spp. 1975.62 ton/ha, Sonneratia alba 4268.43 ton/ha, Xylocarpus granatum 1.19 ton/ha.
Back to Top Top