Gorontalo Journal of Forestry Research

Journal Information
ISSN / EISSN : 2614-2058 / 2614-204X
Current Publisher: Universitas Gorontalo (10.32662)
Total articles ≅ 26
Filter:

Latest articles in this journal

Muhammad Alfatikha, Susni Herwanti, Indra Gumay Febryano, Slamet Budi Yuwono
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 3; doi:10.32662/gjfr.v3i2.1097

Abstract:
Agroforestri berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan masyarakat khususnya di pulau-pulau kecil. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi jenis tanaman agroforestri yang mendukung ketahanan pangan rumah tangga di Pulau Pahawang. Analisis penelitian menggunakan deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data berupa wawancara, observasi lapang dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis tanaman yang ditemukan pada lahan agroforestri terdiri dari 6 jenis sayur-sayuran, 8 jenis buah-buahan, 5 jenis umbi-umbian dan 2 jenis biji-bijian yang termasuk kedalam 18 famili, dimana keberadaannya cukup mampu membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangannya, sehingga apabila sewaktu-waktu masyarakat tidak mampu membeli kebutuhan diluar karena adanya permasalahan seperti bencana alam, maka keberadaan agroforestri mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Erni Mukti Rahayu
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 3, pp 79-89; doi:10.32662/gjfr.v3i2.993

Abstract:
Pulau Menjanganmerupakan kawasan dalam Taman Nasional Bali Barat (TNBB) yang tergolong kawasan pelestarian alam yang memiliki vegetasi yang beragam, khususnya ekosistem darat dan ekosistem laut. Ekosistem darat terdiri hutan dataran rendah, savana, dan hutan pantai. Keberadaan vegetasi di Pulau Menjangansangat penting guna mendukung fungsi kawasan dalam pelestarian alam. Namun, data tentang vegetasi pada kawasan Pulau Menjanganmasih sangat terbatas. Oleh sebab itu perlu adanya penelitian tentang analisis vegetasi dimana nantinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber data atau informasi pada kawasan Pulau MenjanganTNBB. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Jenis tumbuhan dan Indeks Nilai Penting, Indeks Keragaman jenis, Indeks Kekayaan Jenis, dan Indeks Kemerataan vegetasi hutan yang berada di kawasan Pulau MenjanganTaman Nasional Bali Barat. Metode pengambilan data menggunakan metode transek dengan IS 1%, petak ukur yang digunakan adala 2x2 meter untuk semai, 5x5 meter untuk pancang, 10x10 meter untuk tiang, dan 20x20 meter untuk pohon. Hasil Analisis Vegetasi Indeks Nilai Penting tingkat pohon didominasi oleh Acacia leucophloea (Roxb) Willd pada habitat hutan pantai yaitu sebesar 107.63%, habitat savana sebesar 172,33%, dan hutan dataran rendah sebesar 48,78%. Vegetasi tingkat tiang pada habitat hutan pantai Pemphis acidula Forst sebesar 94.85% sedangkan untuk savana Azadirachta indica A. Juss sebesar 106,49% dan hutan dataran rendah dengan INP sebesar 68,34% yaitu Schoutenia ovata Korth. Vegetasi tingkat pancang pada habitat hutan pantai yaitu Ceriops tagal (Pers) CBRob dengan INP sebesar 86.09%, sedangkan untuk savana INP tertinggi sebesar 105.75% pada Azadirachta indica A. Juss, dan hutan dataran rendah yaitu Rauvolfia serpentina (L) Benth dengan INP 35.95%. Vegetasi tingkat semai pada hutan pantai yaitu Caesalpinia bonduc (L) Roxb dengan INP yang didapat 30.04% dan savana terdapat pada Cleoma viscosa Linnaeus dengan INP 67.77%, sedangkan untuk hutan dataran rendah yaitu Rauvolfia serpentina (L) Benth 60.42%. INP tersebut menunjukkan bahwa keadaan vegetasi yang baik dan terdapat beberapa jenis pohon yang mendominasi hal ini karena keadaan hutan merupakan hutan alam sehingga pertumbuhannya ada yang bersifat dominan dan tertekan. Indeks keanekaragaman tumbuhan di Kawasan Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat tergolong dalam kategori sedang pada hutan dataran rendah dimana didapat hasil sebesar 2.65. Indeks kekayaan jenis didapat hasil 5,24 yang menandai bahwa kekayaan jenis tergolong tinggi pada hutan pantai. Indeks kemerataan jenis diperoleh hasil dalam kategori merata karena nilai indeks kemerataan spesies berada pada nilai 1.61.
Hadijah Azis Karim, Nardy Noerman Nadjib, Dedi Darman, Aditya Alam
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 3, pp 99-113; doi:10.32662/gjfr.v3i2.1191

Abstract:
Burung Maleo (Macrocephalon maleo) merupakan satwa endemik dan dilindungi karena keberadaannya yang terancam punah, sehingga dikategorikan endangered oleh IUCN dan termasuk appendix I CITES. Tujuan utama penelitian ini adalah mengetahui dugaan populasi dan perilaku bertelur burung maleo. Metode yang digunakan adalah consentration count dilakukan pada 2 lokasi stasiun pengamatan yaitu sarang bertelur dan sarang tidur yang meliputi data perjumpaan langsung (visual) seperti waktu, lokasi, jumlah individu, nisba kelamin dan aktifitas satwa dan data non visual meliputi jumlah sarang dan produksi telur, sedangkan untuk pengamatan perilaku bertelur menggunakan metode Focal Animal Sampling. Pengamatan di habitat sarang peneluran diperoleh dugaan populasi burung maleo sebesar 2 individu/pengamatan dengan kepadatan populasi 8,57 individu/ha. Sedangkan Non visual dihabitat sarang peneluran ditemukan 1 telur burung maleo. Pada pengamatan perilaku bertelur, teramati 5 perilaku burung maleo yang teramati selama berada dilokasi bertelur yaitu observasi, menggali, bertelur, menutup lubang, dan membuat lubang tipuan. Durasi bertelur burung maleo selama berada dilokasi bertelur berlangsung selama 1-3 jam.
Rr. Retno Sugiharti, Kartika Sari
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 3, pp 64-78; doi:10.32662/gjfr.v3i2.1040

Abstract:
Strategi untuk memanfaatkan sumberdaya lokal secara optimal salah satunya dengan upaya pengembangan pariwisata khususnya dengan tema Ekowisata. Wilayah Lembah Merapi-Merbabu adalah kawasan ekowisata unggulan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Oleh karena itu, penelitianN ini Bbertujuan: (1) mengidentifikasikan potensi wisata pada kawasan ekowisata Sub 1 A (2) menyusun strategi pengembangan ekowisata di Kawasan Strategis Parwisata Sub 1 A. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan analisis deskriptif dan SWOT, yang nantinya akan dihasilkan beberapa strategi dengan prioritas strategi diversifikasi dalam mengimplementasikan strategi tersebut. Penelitian menunjukkan hasil bahwa daya tarik wisata yang terdapat pada Kawasan Strategis Parwisata B sub 1 a sangat beragam.
Andi Nurul Mukhlisa
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 3, pp 90-98; doi:10.32662/gjfr.v3i2.1182

Abstract:
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi sebaran getah pinus di kabupaten Bone. Selain produktivitas dan aliran pemasaran yang dapat dilakukan juga menjadi focus penelitian ini. Metode yang digunakan menggunakan metode sosial data kuesioner dengan melibatkan responden. Hasil penelitian menunjukkan terdapatnya luasan izin pemungutan getah pinus seluas 7980 ha dengan produktivitas sebesar 2977 ha. Kerjasama yang dilakukan dengan memanfaatkan mitra pengumpul getah pinus, aliran pemasaran dapat menjangkau pasar internasional. Saat ini hasil getah pinus disebar pada pasar local, pasar nasional dan pasar internasional.Kata kunci: getah pinus, aliran pemasaran, potensi pinusABSTRACTThis study aims to analyze the potential distribution of pine sap in Bone district. In addition to productivity and marketing flows that can be done are also the focus of this research. The method used is a social data questionnaire method involving respondents. The results showed that there was a pine sap harvesting permit area of 7980 ha with a productivity of 2977 ha. The cooperation is carried out by utilizing pine sap collection partners, the marketing flow can reach the international market. Currently the pine sap is distributed to local markets, national markets and international markets.Keywords: pine sap, marketing flow, potency of pine
, Melya Riniarti, Duryat Duryat
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 120-129; doi:10.32662/gjfr.v2i2.721

Abstract:
Pala merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomi, ekologi, dan sosial yang baik, karenanya pala menjadi salah satu tanaman yang banyak diminati dalam pengembangan perhutanan sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis produktivitas serta potensi pala yang ada di Hkm Rangai Sejahtera. Penelitian ini di desain dengan sistem random sampling (SRS) untuk mendapatkan data jumlah petani yang areal produksinya akan dilakukan pengambilan sampling. Analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui kondisi vegetasi lahan. Wawancara langsung dilakukan untuk mendapatkan data produktivitas pala dan harga jual rata-rata. Analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui produksi pala/ha dan potensi produksi pala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lahan garapan Hkm Rangai Sejahtera hanya ditemukan 6 jenis tanaman yang terdiri dari 5 tanaman MPTs dan 1 tanaman perkebunan. Pala merupakan tanaman yang mendominasi dengan INP sebesar 104,67%, dengan kerapatan pala sebesar 80,6 tanaman/ha, frekuensi 100% serta dominansi 0,51 m2/ha. Produktivitas pala per pohon di HKm Rangai Sejahtera rata-rata 60kg/pohon/thn, dengan kerapatan tanaman pala 80,6 pohon/ha maka produktivitas per ha sebanyak 4.836 kg/ha. Dengan luasan 420 ha maka potensi pala sekitar 2.031.120 kg/thn.
Ary Muhammad, Muhammad Darmawan
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 105-119; doi:10.32662/gjfr.v2i2.718

Abstract:
Kawasan Bulu Dua menjadi salah satu wilayah yang termasuk dalam rencana induk pariwisata Kabupaten Soppeng yang dapat dikembangkan sebagai kawasan Ekowisata. Penelitian dilakukan di Kawasan Bulu Dua yang terletak di Desa Gattareng Toa, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Dalam penelitian ini digunakan metode survei dengan teknik observasi, kuesioner, wawancara, dan studi pustaka. Tahapan studi terdiri dari persiapan, pengumpulan data (inventarisasi), analisis dan sintesis, dan perumusan konsep pengembangan. mengacu pada pedoman penilaian potensi wisata alam yang di terbitkan oleh Direktorat Bina Kawasan Pelestarian Alam. Tujuan yang ingin dicapai yaitu: mengkaji dan menganalisis potensi dan daya tarik wisata alam di Kawasan Bulu Dua serta merumuskan strategi pengelolaan wisata alam berbasis masyarakat di Kawasan Bulu Dua Kabupaten Soppeng. Berasarkan hasil penilaian potensi wisata alam suatu kawasan layak ditunjuk dan dikembangkan apabila mempunyai nilai kisaran antara 478 – 820. Hasil penilaian potensi wisata alam yang telah dilakukan mendapatkan nilai 575. Berdasarkan fungsi dan penilaian potensi wisata di dalam tapak, dimana daya tarik (alam) menjadi fokus utama, diperkuat dengan kekhasan fauna endemik Macaca maura sebagai point of view serta penguatan oleh partisipasi masyarakat dan dukungan pemangku kebijakan. Penataan ruang direncanakan terbagi atas 5 zona yaitu zona welcome area, zona natural tourism, zona pelayanan dan wisata budaya, zona agrowisata, dan zona wisata tirta. Penataan vegetasi direncanakan memanfaatkan dan mempertahankan vegetasi asli tapak, tata hijau terdiri dari tata hijau produksi dan tata hijau konservasi.
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 63-76; doi:10.32662/gjfr.v2i2.580

Abstract:
Kerusakan DAS Randangan ditandai dengan terjadinya berbagai bencana alam yang disebabkan oleh dinamika kondisi biofisik DAS. Dalam sudut pandang kelembagaan, hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kesalahan dalam pengelolaan DAS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik DAS Randangan dan menganalisa peran serta tupoksi stakeholder dalam pengelolaan DAS Randangan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kondisi fisik DAS Randangan yang ditunjukkan oleh erosi katagori berat sebesar 36.8% dan katagori sangat berat sebesar 34.5%, koefisien aliran permukaan sebesar 0.54 serta kekritisan lahan dengan katagori agak kritis sebesar 85.6%. Analisis pertumbuhan penduduk sebesar 1.45% selama tiga tahun terakhir dan tingkat kemiskinan sebesar 21.29%. Analisis kelembagaan menjadi tolak ukur dalam penelitian ini, hasil penelitian memperlihatkan bahwa kurangnya pemahaman tugas pokok dan fungsi pekerjaan menjadikan DAS Randangan semakin kritis .
, Bainah Sari Dewi, Sugeng P Harianto, Nuning Nurcahyani
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 77-87; doi:10.32662/gjfr.v2i2.676

Abstract:
Kelimpahan dan kelimpahan relatif dung beetle berperan penting sebagai bioindikator kerusakan hutan dan habitat. Tujuan penelitian untuk menganalisis kelimpahan spesies dan kelimpahan relatif spesies dung beetle di Hutan Pendidikan Konservasi Terpadu Universitas Lampung Blok Lindung, Tahura Wan Abdul Rachman pada Desember 2018-Februari 2019. Metode yang digunakan adalah metode trap, kemudian data yang terkumpul dianalisis dengan indeks kelimpahan dan indeks kelimpahan relatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan spesies dung beetle termasuk sedang dengan nilai 3,53 yang menggambarkan keadaan Hutan Pendidikan Tahura Wan Abdul Rachman masih tergolong baik. Ada empat jenis dung beetle yang ditemukan yaitu Catharsius molossus, Onthophagus sp, Aphodius marginellus dan Oryctes rinocheros. Kelimpahan relatif seluruhnya termasuk tinggi dengan nilai di atas 20% hal ini karena jumlah setiap jenis dung beetle yang ditemukan hampir sama. Pengelola sebaiknya menjaga kelestarian hutan dengan mencegah terjadinya penebangan liar.
, , Jamiatullsna Apriani
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 2, pp 88-104; doi:10.32662/gjfr.v2i2.696

Abstract:
Perahu tradisional merupakan salah satu alat transportasi air yang terbuat dari kayu, dibuat dengan tenaga-tenaga terampil yang tidak memiliki pendidikan atau pelatihan khusus dibidang pembuatan perahu dengan menggunakan peralatan yang sederhana tanpa menggunakan desain gambar. Dengan adanya penelitian ini maka akan tersedia informasi tentang jenis kayu yang bisa dimanfaatkan pada bagian-bagian perahu serta volume kayu yang dibutuhkan dalam pembuatan perahu tradisional Bego, sehingga dapat dijadikan sebagai acuan bagi masyarakat guna melestarikan dan membudidayakan jenis kayu yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan perahu tradisonal oleh masyarakat. Penelitian ini bertujauan untuk mengetahui jenis kayu yang dimanfaatkan, kegunaan kayu dan volume kayu yang digunakan dalam pembuatan perahu Bego. Hasil penelitian menunjukkan pengrajin perahu Bego Desa Labuhan Jambu menggunakan 8 jenis kayu sebagai bahan baku pembuatan perahu Bego yaitu kayu Kesambi (Schleichera oleosa), Bungur (Lagerstroemia speciosa per), Sappang (Biancaea sappan), Beropa/bakau (Sonneratia alba),Bidara (Ziziphus mauritiana), Laban (Vitex pubescen), Prek Mayung/Kruing (Dipterocarpus retusus), dan kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri).Penggunaan kayu pada setiap bagian perahu Bego yaitu kayu Kesambi (Schleichera oleosa) digunakan pada bagian solor/gading, linggi haluan, linggi buritan, pondasi mesin, lunas dan kalang. Kayu Bungur (Lagerstroemia speciosa per) digunakan pada bagian badan perahu, sebeng perahu, dek, les, lepe, sekat dan kamar mesin. Sappang (Biancaea sappan) digunakan sebagai paku kayu. Beropa/Bakau (Sonneratia alba) digunakan pada bagian solor/gading. Laban (Vitex pubescen) digunakan pada bagian kalang, linggi haluan, tiang bendera dan kaso. Prek Mayung/Kruing (Dipterocarpus retusus) digunakan pada bagian les dan lepe perahu. Bidara (Ziziphus mauritiana) digunakan pada bagian solor/gading. Kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) digunakan pada bagian lunas. Volume rata-rata kayu yang digunakan pada pembuatan perahu Bego adalah sebanyak 2.61 m3.
Back to Top Top