Gondang: Jurnal Seni dan Budaya

Journal Information
ISSN / EISSN : 2599-0594 / 2599-0543
Published by: State University of Medan (10.24114)
Total articles ≅ 104
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Fajar Nugroho Sakti, Djuli Djatiprambudi, I Nyoman Lodra
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Volume 6, pp 88-105; https://doi.org/10.24114/gondang.v6i1.33078

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan (a) konsep pendidikan Sanggar Teras Warna Kampung Kaliasin Surabaya, (b) metode pendidikan seni Sanggar Teras Warna, (c) dampak pendidikan seni Sanggar Teras Warna Kampung Kaliasin Surabaya. Dalam penelitian, peneliti menggunakan pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara, wawancara semistruktural, dan dokumentasi. Adapun informan yang dibutuhkan peneliti meliputi pengurus Sanggar Teras Warna, owner atau pendiri, pengurus Sanggar, anak-anak Kampung Kaliasin dan warga Kelurahan Tegalsari. Hasil penelitian ini menemukan konsep pendidikan di Sanggar Teras Warna bertujuan mengembangkan potensi anak-anak Kampung Kaliasin melalui kegiatan-kegiatan yang telah di programkan. Sasaran dari kegiatan tersebut adalah anak-anak Kampung Kaliasin sendiri dimana anak-anak Kampung Kaliasin sendiri merupakan generasi penerus yang akan merubah kondisi kampung. Metode yang digunakan pada dasarnya adalah kegiatan pembelajaran berbasis aktivitas yang kemudian menghasilkan produk berupa aktivitas event­ dari implementasi peserta belajar. Dampak yang terlihat dari proses kegiatan di Sanggar Teras Warna nantinya dapat mengurangi aktivitas-aktivitas yang bersifat negatif dari pengaruh luar Kampung Kaliasin
Apris Yulianto Saefatu, Zulkarnaen Mistortoify, Aris Setiawan
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Volume 6, pp 118-128; https://doi.org/10.24114/gondang.v6i1.32085

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan simbolis makna Gong Rote yang terkandung dalam tarian foti. Tarian Foti merupakan tarian tradisional yang berasal dari pulau Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Tarian ini ditampilkan oleh seorang penari pria dengan menampilkan gerakan yang atraktif dan 'energik'. Tarian foti sering ditampilkan baik dalam budaya maupun acara ceremonialdalam masyarakat pulau Rote Ndao. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, dimana proses pengumpulan data dilakukan secara deskriptif dengan desain penelitian fenomenologi. Data penelitian dikumpulan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, serta aktivitas, dan transkripsi. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa, bentuk musik ritmik dari Gong Rote terdiri dari beberapa elemen irama yaitu ketukan, aksen, dan pola. Makna simbolis dari bentuk musik ritmik Gong Rote dalam tarian foti adalah sebagai simbol semangat, ketangkasan, dan keperkasaan sserta identitas masyarakat. Gong Rotedimaknai masyarakat sebagai simbol yang menarik semangat keluarga, yang kemudian memberikan perjuangan menjalani kehidupan dalam keluarga maupun sesama.
Desmawardi Desmawardi, Sriyanto Sriyanto, Azzura Yenli Nazrita, Mesy Andriana
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Volume 6; https://doi.org/10.24114/gondang.v6i1.31636

Abstract:
Saluang Pauh adalah salah satu bentuk alat musik tiup Minangkabau di kota Padang. Secara tradisi Saluang Pauh akan tampil dikala ada kaba yang akan diiringi. Artinya penampilan Saluang Pauh berfungsi sebagai pengiring kaba atau saluang tidak akan tampil secara tunggal. Kaba merupakan salah satu seni tutur mengisahkan berbagai pola kehidupan masyarakat Minangkabau. Siginyang Saluang Pauh terinspitasi dari imbauan Saluang Pauh sebelum masuk kaba. Garitiak dari melodi yang dilahirkan peniup Saluang Pauh, seolah-olah menghimbau masyarakat Minangkabau agar menoleh ke belakang, sebelum melanjutkan perjalanan maksudnya sejauhmana anda berjalan jangan lupa kampung halaman, sesuai dengan falsafah Minangkabau “satinggi tinggi tabang bangau, jatuah ka kubangan juo”. Karakter yang ada pada kaba umumnya merupakan kerasnyahempasan kehidupan yang harus dilalui oleh masyarakat Pauh Padang. Deruh ombak serta kencangnya angin seolah-olah telah membentuk karakter masyarakat Pauah menjadi keras. Namun dibalik kerasnya watak mereka tersimpang jiwa seni yang lembut yang mereka lahirkan melalui dendang ratok dan melodi saluang Pauh. Interpretasi demikian merupakan antitesis dari interpretasi yang sudah dimiliki oleh orang secara umum. Konsep perbedaan interpretasi ini yang menjadi keinginan dari kelompok peneliti dari ISI Padangpanjang untuk menggali nilai-nilai seni yang terdapat dalam lukisan melodi Saluang Pauh. Saluang Pauahadalah berasal dari kecamatan Pauh, Padang, yang dulunya masuk ke kabupaten Padang Pariaman. Saluang Pauah juga disebut Saluang Pakok (tutup, Sumbat) karena sebagian besar naa melodi yang diahirkan berdasarkan Pakok seperti (Pakok 4, Pakok 5 dan, pakok 6) Secara umum seniman atau pemain Saluang Pauh sudah tergolong Lansia (usia lanjut), sedangkan generasi muda sudah sulit ditemukan yang mampu pemainkan, baik sebagai peniup Saluang maupun sebagai pendendang. Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai seni yang terdapat dalam pertunjuan Saluang Pauh. (1) mengkabarkan kepada anak negri sendiri agar dapat mencintai seni budaya sendiri agar jangan hilang ditelan masa. dan(2) sebuah komposisi musik baru yang diproses dari jalinan melodi Saluang Pauh.Proses penelitian dan penciptaan “Komposisi musik” dilakukan dengan tahapan penelitian untuk (1) pengumpulan data, (2) validasi data dengan instrumen (3) penulisan struktur pertunjukan serta membuat notasi dasar beberapa irama Saluang Pauh dan notasi pengembangan. Komposisi musik “Siginyang Saluang Pauh”. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan Deskriptif Analitif, dengan tahapan (1) Observasi dan studi pustaka, (2) Riset ke lokasi di mana Saluang Pauh tumbuh dan berkembang. (3)Interpretasi dan eksperimentasi yang menghasilkan pola interpretasi penelitian ini dilakukan selama lebih kurang satu bulan.
Elva Rizki Anggraeni, Setyo Yanuartuti, Anik Juwariyah, Yoyok Yermiandhoko, I Nyoman Lodra
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Volume 6, pp 1-11; https://doi.org/10.24114/gondang.v6i1.30685

Abstract:
Oklik merupakan salah satu kesenian musik tradisi khas Bojonegoro. Alat musik dari bambu ini tercipta berdasarkan latar belakang fenomena sejarah di masa lalu. Tujuan dari penelitian ini ialah mendeskripsikan hasil kajian terhadap musik oklik menggunakan teori etnomusikologi serta upaya pelestarian musik oklik di masa kini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari dua sumber yakni sumber primer dan sekunder. Sumber data primer didapatkan melalui penelitian lapangan. Data sekunder diperoleh melalui kajian pustaka yang berkaitan dengan judul penelitian. Pengumpulan data primer dilakukan melalui tiga teknik yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik oklik dapat memuat kajian etnomusikologi, mencakup unsur sejarah, tradisi ritual masyarakat, organologi dan musikalitas. upaya pelestarian oklik dilaksanakan oleh penggiat seni Bojonegoro dengan melakukan pengembangan unsur organologi, musikalitas, dan proses pementasannya. Upaya pelestarian lainnya ialah dukungan pemerintah daerah dan ketertarikan para akademisi mengenai penelitian dan kajian terhadap musik oklik Bojonegoro. Kata Kunci: Oklik, Etnomusikologi, Pelestarian Budaya
Belinda Astriddana, Nanik Sri Prihatini, Aris Setiawan
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Volume 6, pp 23-31; https://doi.org/10.24114/gondang.v6i1.32790

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk membangkitkan kembali ketertarikan generasi muda sebagai warisan budaya lokal. Pengenalan budaya keraton kepada masyarakat adalah sebuah gebrakan dalam menggalakkan pariwisata sekaligus sebagai penjaga cagar budaya. Suatu pengorbanan dalam kesenian yang dilakukan Sultan ke-20, Sultan H. Adji Muhammad Salehuddin II untuk mendapatkan pengakuan keberadaan mahligai Kutai Kartanegara. Dengan memperbolehkan tarian klasik tari Topeng Kemindu untuk dibawakan oleh masyarakat di luar lingkungan keraton. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian pengembangan yang tidak hanya membuat sesuatu yang baru, tetapi juga dapat memperbaiki seni tari yang hampir hilang sehingga memperoleh sintesis pengetahuan baru. Dengan melihat permasalahan mengenai kepentingan dan peran Tari Topeng Kemindu, penelitian ini menggunakan perspektif fungsionalisme. Perbedaan peran yang dimiliki Tari Topeng Kemindu dari masa ke masa mempunyai tujuan untuk mempertahankan budaya yang dimiliki Kedaton Kutai Kartanegara. Jejak akulturasi ini sudah bertahan selama kurang lebih 8 abad semenjak peninggalan hubungan diplomasi antara Kerajaan Kutai Kartanegara dengan Kerajaan Majapahit. Tidak heran jika banyak kemiripan motif gerak, musik, dan kostum yang digunakan dalam kesenian tersebut. Hasilnya, Tari Topeng Kemindu selalu ada dalam perhelatan masyarakat di dalam maupun luar keraton yang digelar oleh Sultan seperti Festival Erau, penobatan sultan, perayaan kelahiran di kalangan keluarga bangsawan dan dikenal sebagai pewaris budaya kerajaan Kutai Kartanegara.
Riska Dinda Permata, Muhammad Iqbal Birsyada
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Volume 6, pp 12-22; https://doi.org/10.24114/gondang.v6i1.27199

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Sejarah upacara adat Ngasa di Dusun Jalawastu: (2) Prosesi upacara adat Ngasa di Dusun Jalawastu: (3) Konstruksi sosial masyarakat dalam tradisi upacara adat Ngasa di Dusun Jalawastu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Ada dua jenis data yang digunakan yaitu data primer yang diperoleh melalui wawancara informan kunci serta data sekunder berupa kajian pustaka. Alat pengumpulan data berupa observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan berupa pengumpulan data sampai dengan penarikan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teori. Jumlah informan penelitian ini sebanyak tujuh orang yang terdiri dari perwakilan pemangku adat, juru kunci, sesepuh, jagabaya dan ketua RT setempat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Upacara adat Ngasa di Jalawastu dilakukan sebagai bentuk perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa: (2) Prosesi tradisi Ngasa di Jalawastu meliputi beberapa beberapa tahap yaitu mempersiapkan gunungan dari hasil panen sampai Ngasa di Pasarean Gedong: (3) Konstruksi sosial masyarakat terhadap tradisi Ngasa adalah sebagai wujud syukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa serta menjaga nafsu, menjaga ketertiban, menjaga ketertiban leluhur, gotong royong, saling menerima, dan mengikuti perintah leluhur.
Osberth Sinaga
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Volume 6, pp 129-135; https://doi.org/10.24114/gondang.v6i1.34516

Abstract:
Studi tentang manajemen pendidikan Rupa dilakukan untuk memperoleh model manajemen pendidikan seni yang efektif. Sejak lama telah terjadi fenomena kegelisahan di dunia pendidikan tentang efektifitas proses pendidikan seni yang terkesan masih belum produktif dan efisien . Hal ini dapat dilihat pada proses-proses pendidikan di banyak sekolah, misalnya tentang penataan kurikulum, penyusunan perangkat pembelajaran, kesediaan tenaga guru yang masih banyak bukan dari lulusan yang sesui bidang setudi, materi dan peralatan yang belum memadai, serta sistem menejemen yang masih kurang efektif. Pendidikan seni yang efektif dibutuhkan inovasi manajemen yang baik pula. Untuk menciptakan sebuah manajemen pendidikan seni yang efektif dan baik sangat penting dalam melibatkan pakar atau ahli dibidangnya. Hal tersebut tentu niscaya akan mampu membawa hasil produk manajemen seni yang memiliki karakteristik dan berdampak pada implementasi yang sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran yang efektif. Manajemen dalam sebuah pendidikan seni merupakan kebutuhan untuk memudahkan pencapaian tujuan pendidikannya, serta dibutuhkan dalam mengelola segela sumber daya yang ada, misalnya seperti sarana prasarana, waktu, SDM, dan metode yang inovatif, efektif dan efisien. Berdasarkan hal-hal tersebut sangat penting melibatkan banyak pihak kususnya para ahli dibidang manajemen pendidikan seni yang akan dapat menghasilkan formulasi manajemen yang efektif dalam menjalankan kurikulum, sarana prasarana, dan tenaga pengajar yang sesuai dengan ciri khas pendidikan seni yang terprogram dalam fungsi manajemen pendidikan seperti : 1) perencanaan, 2) pengorganisasian, 3) pelaksanaan dan 4) evaluasi.
Mahda Reni Lubis, Kumalo Tarigan, Panji Suroso
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Volume 6, pp 188-195; https://doi.org/10.24114/gondang.v6i1.34960

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur, fungsi dan kontiunitas pada kesenian Gordang Lima di Pakantan. Penelitian ini mengkaji struktur, dan melihat kontiunitas dan perubahan Gordang Lima. Teori yang dipakai untuk mengupas permasalahan dalam penelitian ini adalah teori struktur bentuk musik, fungsi musik, kontinuitas dan perubahan. Hasil dari penelitian ini adalah struktur bentuk musikpada Gordang Lima versi baru dan versi lama, sarune gordang lima versi baru penggunaan nada dasar yang digunakan adalah D = do mengikuti nada dasar mayor melodi sarune. Sedangkan nada dasar sarune versi lama ada pada As = do. Kedua, penggunaan gordang lima pada masyarakat Mandailing memiliki beberapa fungsi selain dari ritual memaggil roh, yaitu antara lain: Keduakontinuitas dan perubahan yang terjadi dalam ritual paturun sibaso pada masyarakat Mandailing dalam bentuk musik, instrumen, dan pertunjukkan akan berlangsung sampai masa yang tidak diketahui melihat sejauh mana masyarakat menilai bahwa ritual ini penting atau tidak pentingnya dilakukan. Hal-hal yang mengalami keberlanjutan sampai sakarang adalah alat musik yang dipakai dan bentuk ritem pada gordang jangat dan patolu.
Wahyu Tri Atmojo, Panji Suroso, Sitti Rahmah
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Volume 6, pp 182-187; https://doi.org/10.24114/gondang.v6i1.35852

Abstract:
Studi ini ingin mengkaji konsep pembelajaran seni budaya dengan menggunakan media Virtual Reality (VR) pada tingkat satuan SMA berbasis Lokal Wisdom Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan atau yang lebih dikenal dengan Research & Development (R&D). Penelitian pengembangan digunakan untuk mengembangkan dan menghasilkan produk dari penelitian ini berupa model pembelajaran seni budaya berbasis kearifan lokal Sumatera Utara dengan menggunakan media Virtual Reality (VR). Dalam penelitian ini dihasilkan konsep yaitu : 1) Pembelajaran dengan menggunakan media Virtual Reality (VR) merupakan suatu sistem pembelajaran dimana dalam proses belajar mengajarnya dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Istilah Information and Communication Technology (ICT) adalah segala bentuk teknologi (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses, menangkap, mentransmisikan, mengambil, memanipulasi, atau menampilkan data sebagaimana adanya dengan sangat jelas. Dalam hal ini dunia pendidikan dapat memanfaatkan dan menghadirkan komponen sumber belajar yang lebih nyata dan mengandung materi instruktional dilingkungan pembelajaran dalam berbentuk teknologi informasi dan komunikasi secara langsung di ruang belajar. 2) Kearifan lokal merupakan cara orang bersikap dan bertindak dalam menanggapi perubahan dalam lingkungan fisik dan budaya. Suatu gagasan konseptual yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terus menerus dalam kesadaran masyarakat dari yang sifatnya berkaitan dengan kehidupan yang sakral sampai dengan yang profan. Kearifan lokal atau local wisdom dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat lokal yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.
Rivaldi Indra Hapidzin, Tati Narawati, Trianti Nugraheni
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Volume 6, pp 214-221; https://doi.org/10.24114/gondang.v6i1.34996

Abstract:
Upacara adat bakti purnamasari dalam konteks kehidupan masyarakat Sunda tidak lepas dari ungkapan rasa syukur, begitu pula pertunjukan tari yang masih menjadi bagian ungkapan kebahagiaan. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis hasil penelitian mengenai bentuk pertunjukan tari serta nilai-nilai kerifan lokal yang terdapat pada pertunjukan tari dalam upacara adat bakti purnamasari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif analisis dengan paradigma kualitatif, partisipan penelitian yaitu tokoh budaya di Kota Sukabumi dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk pertunjukan tari dalam upacara adat ini termasuk kedalam fungsi hiburan dan termasuk kedalam rumpun tari tayub. Nilai kearifan lokal yang terdapat didalamnya terbagi kedalam dua bentuk yaitu nilai kearifan lokal yang mengangkat falsafah manusia Sunda dalam bermasyarakat yaitu silih asih, asah dan asuh serta nilai kearifan lokal yang terdapat dari musik pengiringnya yang terdapat nilai keharmonisan, nilai keselarasan, nilai ketenangan, nilai kedamaian dan nilai belajar.
Back to Top Top