Jurnal PROMKES

Journal Information
ISSN / EISSN : 20853475 / 25409972
Current Publisher: universitas airlangga (10.20473)
Total articles ≅ 70
Filter:

Latest articles in this journal

Putri Mindianata
Published: 12 December 2018
Jurnal PROMKES, Volume 6, pp 213-226; doi:10.20473/jpk.v6.i2.2018.213-226

Abstract:Kesehatan merupakan suatu keadaan yang seimbang dan dinamis antara tubuh seseorang dengan fungsi dan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Sehingga kesehatan menjadi suatu indikator tinggi atau rendahnya kualitas hidup seseorang. Lanjut usia sehat berkualitas mengacu pada konsep active ageing WHO yaitu proses penuaan yang tetap sehat secara fisik, sosial dan mental sehingga dapat tetap sejahtera sepanjang hidup dan tetap berpartisipasi dalam rangka meningkatkan kualitas hidup sebagai anggota masyarakat. Sebagai upaya Pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan usia lanjut, salah satunya ialah dengan membentuk Posyandu Lansia. Tujuan diadakannya Posyandu Lansia yaitu untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku positif, serta meningkatkan mutu dan derajat kesehatan lansia. Puskesmas Bulak Banteng merupakan Puskesmas yang membawahi 3 Posyandu Lansia dengan angka kepesertaan Posyandu Lansia terendah di Surabaya yaitu berjumlah 215 peserta. Berdasarkan hasil perhitungan target cakupan pelaksanaan Posyandu Lansia di Puskesmas Bulak Banteng dihasilkan sebuah angka yaitu sebesar 3,79% yang artinya angka tersebut masih jauh dari target yang diharapkan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh Attitudes toward Behavior, Subjective Norm, dan Perceived Behavioral Control terhadap Niat aktif mengikuti Posyandu Lansia. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik observasional dengan pendekatan kuantitatif. Berdasarkan waktu pengambilan data, penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Sikap terhadap perilaku berpengaruh terhadap niat responden untuk aktif mengikuti Posyandu Lansia dengan nilai (sig. 0,008) dan (Exp(B) 11,25). Norma subyektif tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap niat responden untuk aktif mengikuti Posyandu Lansia. Sedangkan Kontrol Perilaku yang dirasakan berpengaruh terhadap niat responden untuk aktif mengikuti Posyandu Lansia dengan nilai (sig. 0,002) dan (Exp(B) 0,236). Maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan sikap lansia untuk aktif mengikuti Posyandu Lansia melalui peningkatan pengetahuan lansia tentang kesehatan dan Posyandu Lansia dan pengoptimalan penyuluhan kesehatan di Posyandu serta upaya untuk memudahkan akses waktu untuk menjangkau kegiatan Posyandu Lansia.Kata Kunci: keaktifan, lanjut usia, posyandu lansia
Teresina Ika Pertiwi
Published: 12 December 2018
Jurnal PROMKES, Volume 6, pp 142-154; doi:10.20473/jpk.v6.i2.2018.142-154

Abstract:Adolescence is an important period to develop their first decade of life. At this age, an adolescent girl begins to get their first menstrual period (menarche). After getting menstruation, adolescent girls need to know how to maintain their reproductive health. One effort that can be done to take care of the reproductive health has adopted the behavior of menstrual hygiene. This study aims to determine the level of knowledge of elementary school girls about reproductive health and menstrual hygiene behavior in the period of menarche. The population of this study was all students grades 5 and 6 at SDN 4 Pacarkembang Surabaya and already through menarche. This study has 30 samples and the method of data collection conducted by survey method using a questionnaire with closed questions. The variables are categorized into three categories: good knowledge level if the score range between 76-100%, the level of knowledge sufficient if the range between 56-75% and the level of knowledge is deficient when the score
Chyntiya Permata Dahyar
Published: 12 December 2018
Jurnal PROMKES, Volume 6, pp 178-187; doi:10.20473/jpk.v6.i2.2018.178-187

Abstract:Indonesia merupakan Negara berkembang yang memiliki banyak kekayaan alam sehingga kekayaan alam tersebut dapat dimanfaatkan dalam mengembangkan sektor-sektor yang ada di Indonesia salah satunya adalah sektor industri. Perkembangan sektor industri membuat adanya peralihan alat-alat yang bersifat manual menjadi mesin/peralatan yang lebih canggih yang dapat menimbulkan hal negatif seperti kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja dapat terjadi disebabkan oleh unsafe conditions dan unsafe acts. Peningkatan sektor industri berbanding dengan peningkatan tenaga kerja sehingga harus berbanding lurus dengan perlindungan yang diberikan kepada tenaga kerja berupa Kesehatan dan Keselamatan Kerja pekerja. Perlindungan tersebut dapat dengan pengendalian kecelakaan kerja yang mana pengendalian kecelakaan kerja diperlukan untuk mengurangi dan mencegah terjadinya kecelakaan kerja yaitu dengan 5 hierarkhi pengendalian kecelakaan kerja yaitu eliminasi, substitusi, perancangan, administratif, dan alat pelindung diri. Perusahaan relatif menggunakan alat pelindung diri sebagai upaya terakhir dalam pengendalian kecelakaan kerja jika pengendalian lain sudah dilakukan namun masih terdapat potensi-potensi bahaya. Kecelakaan kerja juga disebabkan oleh unsafe behavior sehingga diperlukan perilaku pekerja dalam menggunakan alat pelindung diri. PT. X merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang industri galangan kapal, yang kegiatan utamanya adalah memproduksi kapal dan perbaikan serta pemeliharaan kapal. PT.X memiliki program berbasis safety behavior seperti safety talk, induction, meeting, patrol, hingga sidak yang mengkaji terkait isu-isu kesehatan dan keselamatan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku penggunaan alat pelindung diri (APD). Metode dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif dan menggunakan desain cross sectional. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan alat pelindung diri adalah sikap. Sikap terbentuk dari persepsi manfaat, dan persepi kemudahan yang saling berhubungan signifikan terhadap sikap. Kata Kunci: perilaku, persepsi, manfaat, kemudahan, alat pelindung diri (APD), kecelakaan kerja.
Nashrur Razzaq
Published: 12 December 2018
Jurnal PROMKES, Volume 6, pp 167-177; doi:10.20473/jpk.v6.i2.2018.167-177

Abstract:Malicious snack behavior has been still often done by children. Lack of information about healthy snacks to be one of the causes of it. For that need the promotion of health with the aim of increasing the knowledge of children. The media used to determine the success of delivering information on students SDN Banjarwati Lamongan. This research was conducted with a research and development (R & D) design that aims to develop film media for health promotion. This study uses questionnaires given to 50 students. And interviews that aim to explore the characteristics of the target. In addition, expert reviews are also conducted to get suggestions on prototype and animation media that have been developed. Students of SDN Banjarwati require the addition of information about the content of dye and hygiene presentation of healthy snacks. Animation made tailored to the characteristics of students who love animation with the genre of adventure and use the Indonesian language. Movie media duration of 3 minutes with meticulous messages before consumption, using a rational approach with the aim of target groups who watch animation will gain new knowledge
Arif Yulinda
Published: 12 December 2018
Jurnal PROMKES, Volume 6, pp 116-128; doi:10.20473/jpk.v6.i2.2018.116-128

Abstract:Kanker payudara merupakan kanker penyebab kematian tertinggi nomor 2 setelah kanker leher rahim. Saat ini, kanker payudara sudah mulai menyerang remaja. Namun remaja masih memiliki pengetahuan yang rendah mengenai kanker payudara dan deteksi dini kanker payudara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan kesehatan pada remaja putri di SMKN Negeri 5 Surabaya. Penelitian ini bersifat observational dengan desain cross-sectional dan analitik. Populasi penelitian adalah sebesar 100 orang. Besar sampel ditentukan dengan metode simple random sampling dan diperoleh 80 orang. Data didapatkan melalui penilaian pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan kesehatan. Hasil penilaian menunjukkan terdapat peningkatan tingkat pengetahuan. Remaja putri dengan tingkat pengetahuan baik meningkat dari 64 orang (80%) menjadi 75 orang (83,75%). Dan tingkat pengetahuan cukup dari 16 orang (20%) menjadi 5 orang (6,25%). Hasil uji statistika dengan menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan bahwa nilai p value (0,000) > α (0,05). Artinya bahwa terdapat perbedaan antara pengetahuanvsebelum dan sesudah penyuluhan kesehatan. Disarankan kepada remaja putri untuk melakukan SADARI secara rutin dan sekolah melakukan penyuluhan kesehatan siswanya. Kata kunci: kanker payudara, SADARI, pengetahuan, penyuluhan
Luthfiana Nur
Published: 12 December 2018
Jurnal PROMKES, Volume 6, pp 188-200; doi:10.20473/jpk.v6.i2.2018.188-200

Abstract:Remaja merupakan masa peralihan, dimana anak akan mengalami banyak sekali perubahan dalam dirinya baik secara fisik, psikologi dan perubahan lainnya. Perubahan tersebut akan menimbulkan berbagai permasalahan dalam hidupnya. Remaja dengan karakteristiknya, beberapa diantaranya adalah rasa ingin tau yang tinggi, rasa penasaran yang berlebihan, suka mencoba berbagai hal. Semua karakteristik tersebut memiliki tujuan, yaitu pencarian jati diri. Jaman semakin berkembang dibarengi dengan berkembangnya teknologi yang dapat membantu kehidpun manusia, termasuk remaja. Internet salah satunya, internet merupakan salah satu jaringan yang dapat membantu kita untuk mendapatkan segala infomasi. Adanya internet dapat bermanfaat bagi remaja, namun juga dapat menimbulkan dampak negatif yang besar bagi kehidupan mereka. Internet memberikan limpahan manfaat bagi remaja, termasuk untuk meningkatkan derajat kesehatan mereka. Namun anyak berita hoaKanzul Ulum tersebar di internet, hal inilah yang mengancam remaja terhadap informasi yang tidak benar. Maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pemakaian internet terhadap pencarian informasi kesehatan di SMP KANZUL ULUM. Pengambilan sampel dalam penelitain ini adalah total sampling. Hasil penelitian ini adalah Guru memperoleh presentase 27,0% atau 17 responden sebagai informan pertama mengenai internet. Tidak semua responden memiliki media untuk berinternet, hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian dengan angka 28 (44,4) responden yang tidak memiliki media untuk berinternet. smartphone merupakan media utaman yang responden pilih untuk berinternet dengan angka 28 (36,5). Kebanyakan dari mereka memilih mencari informasi sebagai tujuan utama berinternet dengan angka 23 responden atau sama dengan 36,5%. materi informasi yang sering dicari oleh responden adalah informasi pendidikan dengan angka 27 (42,9%). Terdapat 43 responden yang mengaku pernah memanfaatkan internet untuk mencari informasi kesehatan. Banyak responden menganggap bahwa informasi kesehatan di internet tidak dapat membantu mereka, pilihan jawaban ini memiliki angka 33 (52,4%). Respon yang sering responde lakukan setelah mendapatkan informasi kesehatan dari inetrnet adalah membagikan informasi tersebut kepada teman dengan angka 19 (30,2). Pada penelitian ini dapat disimulkan bahwa remaja dengan kemudahan aksesnya mencari informasi, khususnya perihal kesehatan tentu harus di awasi oleh orang yang lebi mengerti dan lebih bisa menyaring informasi. Sehingga remaja tidak cenderung mengambil informasi hoaKanzul Ulum yang tersebar di internet, dan tidak menyebarkan informasi tersebut kepada teman.
Faihatul Mukhbitin
Published: 12 December 2018
Jurnal PROMKES, Volume 6, pp 155-166; doi:10.20473/jpk.v6.i2.2018.155-166

Abstract:AbstrakKaries gigi merupakan kebusukan yang terjadi pada gigi yang disebabkan oleh kuman dan bakteri. Penyebabnya adalah: kurang menjaga kebersihan mulut dan gigi, cara menggosok gigi dan penggunaan pasta gigi yang belum tepat, serta waktu menggosok gigi yang tidak tepat. Karies dapat dialami oleh anak ataupun orang dewasa tapi lebih sering dialami oleh anak, terutama saat anak berada di usia sekolah (6-12 tahun), karena pada usia tersebut gigi susu mulai tanggal dan gigi permanen pertama mulai tumbuh, sehingga dalam mulut terdapat gigi campuran. Gigi yang baru tumbuh tersebut belum matang sehingga rentan terhadap kerusakan padahal hanya tumbuh sekali seumur hidup, sehingga perlu perhatian dan perawatan khusus untuk mencegah karies.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin, kebiasaan gosok gigi malam sebelum tidur dengan kejadian karies pada anak kelas 3 MI. Al-Mutmainnah yang terletak di Kelurahan Kedung Cowek Kecamatan Bulak Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Besar sampel dalam penelitian ini berjumlah 28 murid, sampel tersebut dihitung dengan menggunakan metode Slovin. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari jenis kelamin dan kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur malam, sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian karies gigi. Data yang didapatkan dalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisis Chi-square dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar variabel. Dalam penelitian didapatkan hasil bahwa ada hubungan antara jenis kelamin, kebiasaan gosok gigi sebelum tidur malam dengan kejadian karies, hal ini di buktikan dengan nilai ρ 0,019 dan 0,003. Kata kunci: Jenis Kelamin, Gosok Gigi Sebelum Tidur Dan Karies
Riska Wahyuningtias Utami
Published: 12 December 2018
Jurnal PROMKES, Volume 6, pp 227-241; doi:10.20473/jpk.v6.i2.2018.227-241

Abstract:Abstrak: Angka kejadian penyakit demam berdarah di Indonesia masih belum dapat ditiadakan. Banyak usaha yang telah dilakukan untuk menurunkan angka kasus penyakit demam berdarah, salah satunya adalah program bumantik yang dilakukan di Kota Surabaya. Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan keberhasilan program tersebut diantaranya adalah perilaku individu. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku individu adalah faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor pendorong. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor predisposisi dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti. Terdapat dua jenis variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu variabel dependen dan independen. Variabel independen yang digunakan adalah jenis kelamin, umur, pendidikan, pendapatan, pengetahuan tentang DBD, sikap terhadap penggunaan bubuk abate, sikap terhadap tindakan pengurasan bak mandi dan sikap terhadap tindakan 3M sedangkan variabel indepen yang digunakan adalah keberadan jentik nyamuk Aedes aegypti. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan rancang bangun cross sectional kemudian akan dianalisis menggunakan uji chi-square. Penelitian ini dilakukan di RW VI, Kelurahan Rangkahm Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya. Besarnya sampel yang digunakan dalam penelitian ini sejumlah 211 orang dimana didapatkan melalui metode Simple Random Sampling. Data diperoleh berdasarkan hasil observasi, kuesioner dan wawancara mendalam. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa nilai p-value variabel < 0.05 sehingga menunjukkan bahwa variabel tersebut memiliki hubungan dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti. Berdasarkan hasil penelitian tersebut variabel yang terdapat hubungan adalah umur, pendapatan, pengetahuan tentang DBD, sikap terhadap penggunaan bubuk abate dan sikap terhadap pengurasan bak mandi.
Shofi Dieni Masruroh
Published: 12 December 2018
Jurnal PROMKES, Volume 6, pp 129-141; doi:10.20473/jpk.v6.i2.2018.129-141

Abstract:Active alert village (kelurahan) is a phenomenon of community that is aware, willing and able to prevent and overcome various threats to public health such as malnutrition, infectious diseases and diseases occurring incidents of extraordinary occurrences diseases, the presence of disasters, accidents and others. The role of the community in mobilizing local potency, got to help and support each other, Active alert village (kelurahan) development covers efforts to bring the basic health service to the village (kelurahan) community closer, make the society ready to encounter any health problem, increasing society independence in developing behavior clean and healthy life. Active alert village (kelurahan) is very needed to mobilize community,observe health problems in village (kelurahan), conduct environmental health program, improving maternal, infant and toddlers health, and prepare the community to encounter disasters. The purpose of this study is to know the description of the role and motivation of cadres in the implementation of Active Alert Village Wonokromo. This research is a descriptive qualitative research with phenomenology approach. The research was conducted in Wonokromo Village(kelurahan), Wonokromo Sub-District, Surabaya City. Subjects were taken purposively as many as 5 people. The inclusion criteria of the subject are the cadres of the active alert village(kelurahan) Wonokromo and community who participated in the activities of UKBM in Wonokromo Village(kelurahan). Cadres have a role as companion, accelerator of change (enabler), mediator, educator, planner, advocate, technical implementer and motivator for society. The role of this cadre can be done well because of the motivation of the cadres. This motivation be affected by intrinsic factor due to the sense of responsibility, desire to achieve and the sense of want to be appreciated as cadre. For extrinsic factor, there are social support from family, friends, stakeholders, public helath service (puskesmas) and private sector.Keyword: The Role of Caders, Motivation, Active alert Village (Kelurahan), Wonokromo, Surabaya Abstrak: Desa/Kelurahan Siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat seperti kurang gizi, penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB), adanya bencana, kecelakaan dan lainnya. Adanya peran masyarakat dalam memanfaatkan potensi setempat, secara gotong royong, Pengembangan Desa/Kelurahan Siaga mencakup upaya untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat desa, mensiapsiagakan masyarakat menghadapi berbagai masalah kesehatan, meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat. Peran kader dalam pengembangan Desa/Kelurahan Siaga sangat dibutuhkan terutama dalam menggerakkan masyarakat, pengamatan terhadap berbagai masalah kesehatan didesa, peningkatan upaya kesehatan...
Ratih Indraswari
Published: 12 December 2018
Jurnal PROMKES, Volume 6, pp 201-212; doi:10.20473/jpk.v6.i2.2018.201-212

Abstract:Maternal Mortality Rate (MMR) is still a serious concern of the government. Various efforts have been made to reduce the number in all regions in Indonesia. Village health cadres have an important role in delivering health information and monitoring the health of pregnant women. Maternal health problems are often caused by maternal feeding behaviors that are incompatible with the Balanced Nutrition Guidelines. This study aimed to find out the knowledge of cadres about nutrition of pregnant women. The research method used cross-sectional with quantitative approach and total population sample technique. The sample in this research is 30 health cadres in Pucakwangi Village, Pati Regency, Central Java. The results showed that most cadres knew the definition of nutrition as a substance contained in food (80%). As many as 50% of respondents knew the nutritional function for growth, 10% of cadres did not know that exclusive breastfeeding is only for infants aged 0-6 months, 23.3% did not know about the provision of Fe tablets to pregnant women. Only 33.3% of cadres knew that carbohydrates and minerals are nutrients. In addition, only 80% of cadres knew that basic food needs to be consumed daily. Less than half of cadres who know that milk (26.7%) and nuts (30%) are a source of protein. Knowledge of health cadres on the nutrition of pregnant women still needs to be improved, especially regarding the source of nutrition in food and the provision of Fe tablets. Keywords: Knowledge, nutrition, pregnant women, cadre. Abstrak: Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi perhatian serius pemerintah. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan tingginya AKI di seluruh wilayah di Indonesia. Kader kesehatan di tingkat desa memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kesehatan dan memantau kesehatan ibu hamil. Masalah kesehatan ibu seringkali disebabkan oleh perilaku makan ibu yang tidak sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu gambaran pengetahuan kader mengenai gizi ibu hamil. Metode penelitian menggunakan metode cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan teknik sampel total populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah 30 kader kesehatan di Desa Pucakwangi Kabupaten Pati Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kader mengetahui pengertian gizi sebagai zat yang terkandung dalam makanan (80%). Sebanyak 50% responden mengetahui fungsi gizi untuk pertumbuhan, 10% kader tidak tahu bahwa ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja untuk bayi usia 0-6 bulan, 23,3% tidak tahu mengenai pemberian tablet Fe kepada ibu hamil. Hanya 33,3% kader yang mengetahui bahwa karbohidrat dan mineral merupakan zat gizi. Selain itu, hanya 80% kader yang mengetahui bahwa makanan pokok perlu dikonsumsi setiap hari. Kurang dari separuh kader yang mengetahui bahwa susu (26,7%) dan kacang-kacangan (30%) merupakan sumber protein. Pengetahuan kader kesehatan mengenai gizi ibu hamil masih perlu ditingkatkan, khususnya...