POROS TEKNIK

Journal Information
ISSN / EISSN : 2085-5761 / 2442-7764
Published by: P3M Politeknik Negeri Banjarmasin (10.31961)
Total articles ≅ 13
Filter:

Latest articles in this journal

Nurmahaludin Nurmahaludin, Gunawan Rudi Cahyono
POROS TEKNIK, Volume 9, pp 20-26; https://doi.org/10.31961/porosteknik.v9i1.509

Abstract:
Dempster Shafer merupakan metode yang banyak digunakan dalam penalaran sistempakar. Penarikan kesimpulan atas suatu permasalahan dalam metode tersebut didasarkan padapenggabungan dua buah evidence (fakta) yang ada, dimana masing-masing fakta mempunyaiukuran kepercayaan yang dinyatakan dalam nilai densitas m1 dan m2.Penelitian ini akan menentukan nilai densitas (m) dengan menggunakan logika fuzzy. Inputfuzzy adalah tingkat kemunculan gejala dan tingkat keunikan gejala, sedangkan output fuzzyadalah nilai crisp dari probabilitas densitas. Derajat kepastian dari jawaban pakar berdasarkangejala yang diberikan kemudian dihitung menggunakan aturan kombinasi Dempster.Implementasi dalam penelitian ini adalah sistem pakar untuk identifikasi hama dan penyakittanaman jagung. Aplikasi ini dipilih agar masyarakat tani mampu memanfaatkan sistem pakartersebut dalam rangka memberikan pengetahuan kepakaran mengenai hama penyakit dan carapemberantasannya.Sistem pakar yang dirancang dapat memberikan hasil identifikasi berdasar pada gejalayang diinputkan. Penentuan jenis hama atau penyakit yang menyerang didasarkan pada prosespencarian nilai kepercayaan terhadap suatu diagnosa. Semakin besar nilai kepercayaansemakin besar pula potensi hama/penyakit yang menyerang, begitu pula sebaliknyaPenelitianini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beda media pendingin pada proses hardening padakekerasan pegas daun. Proses penelitian adalah dengan jalan memanasan pegas daun sampaisuhu didaerah atau diatas daerah kritis disusul dengan pendinginan yang cepat. Bila kadarkarbon diketahui, suhu pemanasannya dapat dibaca dari diagram fasa besi-carbida . Akan tetapibila komposisi baja tidak diketahui, perlu diadakan percobaan untuk mengetahui daerahpemanasannya. Cara yang terbaik ialah memanaskan dan mencelup beberapa potongan bajapada suhu tertentu disusul dengan pengujian kekerasan. Bila suhu yang tepat telah diperolehakan terjadi perubahan dalam kekerasan dan sifat lainnya.
Karmila Achmad, Sunarno Sunarno
POROS TEKNIK, Volume 9, pp 7-12; https://doi.org/10.31961/porosteknik.v9i1.507

Abstract:
Serat dalam beton berfungsi mencegah retak-retak sehingga menjadikan beton lebih kuat daripada beton tanpa serat. Kawat galvanis banyak digunakan karena murah, mudah dibentuk dan mudah perawatannya. Tujuan penelitian untuk mendapatkan material serat buatan yang relatif murah dan mampu meningkatkan kekuatan beton secara optimal ditinjau dari kuat tarik dan kuat lentur. Material agregat halus yang digunakan dalam penelitian ini adalah material lokal pasir Samboja. Jenis Serat yang digunakan berupa serat buatan kawat galvanis berbentuk linting, spiral dan crimped. Hasil penelitian menunjukan bahwa benda uji BC1 (Crimped ф 1cm) memiliki kekuatan tarik terbesar dan L5 (Linting 5) memiliki kekuatan lentur terbesar dibandingkan benda uji lainnya. Besarnya kuat tarik yaitu 10,44 MPa dan kuat lentur sebesar 7,03 MPa.
, Nurhafni Karina Resentia
POROS TEKNIK, Volume 9, pp 36-41; https://doi.org/10.31961/porosteknik.v9i1.511

Abstract:
Traffic load repetition is the main variable in flexible pavement layers design. In addition, a soil bearing capacity factor is also required for determining the thickness of the flexible pavement layer so that the pavement had been designed will be in good perfomance during the that period. The determination of thickness layers using the 2002 method (Pt T-01-2002 B) is based on the traffic load during the design period and subgrade resilient modulus value. Meanwhile the 2017 method (Pavement design manual No. 04/SE/Db/2017), layers thickness was determined based on traffic load and CBR subgrade value. Based on the calculation using both methods, the pavement layers thickness with the pavement design manual 2017 method is more thick than 2002 method. While the ESAL calculation using both methods, the 2002 method value is more larger than the pavement design manual 2017 method.
Darmawani Darmawani, Fahrurrazi Fahrurrazi, Ahmad Norhadi, Setiyo Setiyo
POROS TEKNIK, Volume 9, pp 27-35; https://doi.org/10.31961/porosteknik.v9i1.510

Abstract:
Kebutuhan pangan terutama beras terus meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk. Di sisi lain ketersediaan pangan terbatas sehubungan dengan terbatasnya lahan yang ada untuk bercocok tanam, teknologi, modal dan tenaga kerja, sehingga defisit penyediaan bahan pangan masih sering terjadi di negeri ini.Agroekosistem lahan rawa faktor pembatas yang menjadi kendala bagi pertumbuhan tanaman adalah genangan air atau banjir, kekeringan lahan pada musim kemarau, sifat fisik, sifat kimia, dan kesuburan tanah kurang baik akibat adanya lapisan pirit, dan intrusi garam sehingga hasil produksi kecil.Pengaruh air asin yang terjadi pada lahan rendah dengan seringnya terjadi pembilasan oleh air pasang surut yang masuk ke dalam lahan akan mengurangi tingkat keasaman bahkan mungkin sampai bersifat netral, untuk meningkatkan ketahanan dan hasil pertanian pangan daerah irigasi rawa dapat dilakukan dengan membuat atau mengubah sistem tata air dua arah menjadi satui arah, karena dengan sistem satu arah dapat mempercepat proses pembilasan pada lahan yaitu air masuk dan keluar pada saluran tersier yang berbeda maka dibuat air pintu otomatis. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi lapangan,wawancara dengan instansi terkait, masyarakat. Data primer berupa dimensi saluran, tinggi air pasang, sedangkan data sekunder berupa hidrologi, topografi, dan luas lahan. Objek studi adalah Daerah Rawa Unit Terantangdengan wilayahnya meliputi Desa Karang Buah, Desa Karang Indah, Desa Karang Bunga, dan Desa Karang Dukuh. Lokasi studi hanya mencakup daerah rawa pasang surut unit Terantang pada ray 19 dan 20 Desa Karang Dukuh Kecamatan Belawang Kabupaten Barito Kuala. Sistem Tata Air yang ada pada Daerah Irigasi Unit Terantang sesuai pengamatan lapangan adalah tipe garpu dengan kolam pasang. Tidak ada aliran mati ataupasang tidak sampai pada saluran tersier Kunyit maupun Kentang. Desain pintu air otomatis ini adalah berbentuk bujur sangkar kemiringan 10o, ukuran tinggi dan lebar 0,76 m, tinggi engsel pintu sama dengan tinggi tabat atau sama dengan tinggi untuk mempertahankan kebutuhan air di sawah 10 cm yaitu sebesar 1,25 m. Adapun nilai h didapat 0,73 m, ketinggian ambang pintu 0,5 m, tinggi lubang saluran pemberi dan keluar adalah 0,75 m. Pintu air otomatis berdasarkan hasil perhitungan dalam studi ini dapat menjamin pola aliran satu arah dengan beda tinggi (Δh) 0,01 m antara muka air di hilir dan di hulu pintu sudah terbuka, dan pada Δh sebesar 0,00 m maka pintu akan tertutup.
Ahmad Norhadi, Muhammad Fauzi, M. Yogi Indra Rukmana
POROS TEKNIK, Volume 9, pp 1-6; https://doi.org/10.31961/porosteknik.v9i1.506

Abstract:
Tanah dalam ilmu teknik sipil, mempunyai peranan penting karena tanah sebagai pendukung kekuatan kontruksi di atasnya , maka dari itu pentingnya mengetahui sifat-sifat tanah, nilai activity, dan persentase penyusutan pada tanah timbunan yang akan digunakan guna menghindari tidak tercapainya atau kegagalan dalam perencanan saat menggunakan tanah asli, maka dilakukanlah penelitian tanah asli dari Jl. Semangat Karya yang bertepatan di daerah Barito Kuala. Pengujian yang dilakukan dengan alasan untuk mengetahui sifat sifat tanah asli yang akan digunakan dalam kegiatan kontruksi terdiri dari kadar air sesuai dengan SNI 03-1965:2008, berat jenis sesuai dengan SNI 03-1964:2008, batas plastis sesuai dengan SNI 03-1966:2008, batas cair sesuai dengan SNI 03-1967:2008, hydrometer sesuai dengan SNI 03-3423:2008, nilai activity, CBR sesuai SNI 03 - 1744 – 1989, dan penelitian shringkage limit sesuai SNI 03 - 1996 – 1990. Berdasarkan penelitian dan perhitungan data dari sampel tanah (disturbed) daerah Barito Kuala, maka didapatkan nilai sifat sifat tanah seperti kadar air (W) 98,52%, berat jenis (Gs) 2,415, batas cair (LL) 45%, batas plastis (PL) 33,85%, Plastisitas Indeks (PI) 11,2% Kadar Air Optimum (Omc) 34,9% , Kepadatan kering 1,120 Kg/Cm3 dan CBR design sebesar 3,9%, hasil perhitungan nilai Shrinkage Limit sebesar 38% dan nilai Activity tanah sebesar 2,6. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa tanah ini termasuk OL dengan O untuk lanau organic dikarenakan hasil analisis hydrometer didapatkan ukuran butiran 0,002 mm sampai 0,0074 dengan tingkat plastisitas, kadar air yang cukup tinggi, sehingga termasuk tanah yang tidak baik jika digunakan untuk menahan suatu beban kontruksi di atasnya.
, Ferry Sobatnu
POROS TEKNIK, Volume 9, pp 13-19; https://doi.org/10.31961/porosteknik.v9i1.508

Abstract:
Lahan rawa adalah lahan darat yang tergenang secara periodik atau terus menerus secara alami dalam waktu lama karena drainase yang terhambat. Menggunakan teknologi penginderaan jauh dapat mempermudah mengidentifikasi dan menganalisis suatu obyek dengan area yang besar tanpa kontak langsung terhadap obyek yang dikaji. Penelitian ini memperoleh hasil interpretasi satelit Landsat 8 dan klasifikasi lahan rawa yang secara fisik belum beralih fungsi. Dengan menggunakan metode klasifikasi terbimbing (Supervised Classification) dihasilkan luasan lahan rawa di daerah Kabupaten Barito Kuala pada Tahun 2015 dan sebarannya per kecamatan di Kabupaten tersebut. Hasil yang diperoleh dapat menjadi data tambahan untuk instansi pemerintah atau pihak pengelola yang terkait mengenai luasan daerah rawa di Kabupaten Barito Kuala dan dapat digunakan sebagai acuan untuk rencana lebih lanjut terhadap pemanfaatan lahan rawa dan penggunaan teknologi penginderaan jauh untuk monitoring lahan rawa. Berdasarkan hasil interpretasi dan klasifikasi terbimbing citra satelit Landsat 8 menggunakan sampel area yaitu Hutan Galam (melalueca leucadendra) dan vegetasi Purun Tikus (Eleocharis Dulcis) di lokasi penelitian di temukan yaitu, luas lahan rawa belum dialih fungsi mencapai 613.753 Km2 , yang tersebar di 12 Kecamatan. Hasil validasi lapangan menunjukan tingkat ketelitian interpretasi mencapai 80% dari 10 lokasi pengujian.
Gunawan Rudi Cahyono, Nurmahaludin Nurmahaludin
POROS TEKNIK, Volume 8, pp 55-60; https://doi.org/10.31961/porosteknik.v8i2.388

Abstract:
Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) pada tanaman padi khususnya hama penggerek batang seringkali menyebabkan kerusakan mulai dari intensitas ringansampai puso. Pencegahan dan pengendalian hama penggerek batang padi khususnya pada fase ngengat (imago) sebelum bertelur akan menekan potensi kehilangan hasil sehingga produktivitas padi meningkat. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya adalah membuat prototype alat perangkap hama tanaman padi yang akan melakukan identifikasi terhadap hama penggerek batang.Pada penelitian ini dibangun sistem monitoring dan peringatan dini serangan hama tanaman padi berdasarkan jumlah populasi hama di suatu lokasi. Sistem yang dibangun berbasis web, SMS Gateway, dan Sistem Informasi Geografis (SIG) secara terintegrasi. Data yang diamati adalah jumlah populasi hama yang termonitor dan terkirim otomatis secara wireless.Hasil pengujian menunjukkan akurasi data yang baik pada modul penerima data jumlah hama yang dikirimkan oleh modul pengirim, sesuai dengan data yang diterima oleh smsgateway dan server web. Sistem yang dibuat memberikan informasi secara lebih dini mengenai perkembangan populasi hama dalam lokasi yang dipantau sehingga dapat menyusun rencana tindakan untuk pengendalian terhadap hama tersebut.
Arifin Noor Asyikin, Rahimi Fitri, Agus Setiyo Budi Nugroho
Published: 1 January 1970
POROS TEKNIK, Volume 8, pp 61-67; https://doi.org/10.31961/porosteknik.v8i2.368

Abstract:
The village is the smallest part of the system of administrative governance in Indonesia,which is required to keep abreast of technological developments and improve its ability tomanage the administrative data the village population. Currently several villages in southernKalimantan, there are many uses conventional technologies in system administrationservices village population. It is very possible impact to village officials and villagers, wherefrequent human error, as well as a waste of time and cost. Therefore, it needs a system thatleads to e-Government to address any problems that occur.In the implementation of e-Government, the Government needed some kind of strategicplanning that is often referred to as the Master Plan for ICT as a base village government inimplementing Information Technology and communication. Preparation of Master Plan ICTto the village administration office is expected to be a guide or reference for the villagegovernment in determining policies, strategic plans, work programs of ICT, ICT developmentunit manager, user management, network infrastructure development, ICT infrastructure,and information systems management guidelinesThe preparation of the ICT master plan begins with identifying the current condition ofthe village so that it can be seen readiness of the village at the time of the master plan willbe applied, and then determine a strategic plan in ICT include information technologyinfrastructure, and management ICT
Rabiatul Adawiyah, M. Khafidz Arifin
Published: 1 January 1970
POROS TEKNIK, Volume 8, pp 79-85; https://doi.org/10.31961/porosteknik.v8i2.372

Abstract:
Based on the review of references from journals, and review of the literature supportingthis research, state of art the underlying issue of solar collectors in particular types of flatplate solar collector how to improve performance such as efficiency the collector can beincreased maximum. In improving this performance history researchers perform a variety ofways, that is modification, add fixtures, test material used etc. From the results of researchrelated to the problem of the increase in performance use of hosepipes connected with theuse of heat pipe absorber all round. This raises a hypothesis in which the surface directlyexposed to hot sun or in contact with the absorber a little part of the arch so that the surfacearea too small conduction, if used pipes square shape is expected to occur heat absorptionis better because of surface conduction wider and coupled with a fin heat sink.Based on the above, the underlying issue is the increase in performance generated inthe form of heating efficiency, is to examine how they affect the use of heat pipe square andadded a fin on the top to the increased performance of the solar collector.The results of this study found that the performance of solar collector that uses squarepipe equipped with fins better than solar collector with a round pipe
Utami Sylvia Lestari
Published: 1 January 1970
POROS TEKNIK, Volume 8, pp 86-96; https://doi.org/10.31961/porosteknik.v8i2.373

Abstract:
Sungai Negara adalah salah satu sungai di propinsi Kalimantan Selatan yangmempunyai luas daerah aliran sungai (DAS) sebesar 3.921 km². Di sungai ini sering terjadibanjir yang banyak menyebabkan banyak kerugian. Oleh karena itu diperlukan adanyaperhitungan debit banjir untuk mengetahui nilai debit banjir rencana di Sungai Negara.Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh penyimpangan nilai debit banjir rencanadari metode empiris dengan data debit terukur sungai sehingga perlu adanya kajianketelitian untuk mendapatkan debit banjir rencana yang sesuai dengan keadaaansebenarnya di lapangan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dan melakukananalisis terhadap data curah hujan untuk mendapatkan debit banjir pada daerah aliranSungai Negara dengan Metode Rasional, metode Der Weduwen dan metode Haspersserta melakukan analisis frekuensi terhadap data debit terukur.Hasil perhitungan data curah hujan menggunakan metode Rasional, metode DerWeduwen dan metode Haspers terhadap nilai analisis frekuensi data debit terukurdidapatkan bahwa penyimpangan terkecil terjadi terhadap metode Der Weduwen yaitusebesar 38.28% untuk kala ulang 2 tahun, 36.47% untuk kala ulang 5 tahun, 36.04% untukkala ulang 10 tahun, 35.96% untuk kala ulang 20 tahun, 36.17% untuk kala ulang 50 tahundan 36.50% untuk kala ulang 100 tahun. Oleh karena itu, metode Der Weduwen dapatdigunakan sebagai acuan untuk dalam perhitungan debit banjir rencana untukmerencanakan penanggulangan bencana banjir di Sungai Negara
Back to Top Top