Forum penelitian Agro Ekonomi

Journal Information
ISSN / EISSN : 0216-4361 / 2580-2674
Total articles ≅ 380
Filter:

Latest articles in this journal

Rika Reviza Rachmawati, Endro Gunawan
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 38, pp 67-87; https://doi.org/10.21082/fae.v38n1.2020.67-87

Abstract:
A variety of start-ups and agricultural applications show that there has been an increasing interest in agriculture. Using information and communication technology to make agricultural products distribution and marketing more effective and efficient, millennial farmers are expected to improve the agricultural product export. However, exporting agricultural products is a challenge. Agricultural products are perishable and the exporters have to meet international food safety standards. The farmers deal with regulations, lack of facilities and infrastructures for production process, as well as the standards of Good Manufacturing Practices. This article aims to assess potentials of millennial farmers pioneering agricultural product export in Indonesia and to analyze the impact of various government policies to millennial farmers. They need appropriate technology to improve agricultural product value added and support for development potential of various agricultural start-ups. Required government supports include farm practice, export procedure training, and export market survey using internet, as well as conducive regulation easy access to financial service provider institution. Those supports will boost the millennial farmers’ spirit along with Ministry of Agriculture’s program of three-fold agricultural product export.
Adi Setiyanto, Isabelita M. Pabuayon
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 38, pp 29-52; https://doi.org/10.21082/fae.v38n1.2020.29-52

Abstract:
Program Upsus adalah program nasional yang dirintis pada tahun 2014 dan mulai diterapkan secara besar-besaran pada tahun 2015. Dalam program ini, padi mendapatkan porsi terbesar dari anggaran pemerintah, dan diharapkan dapat meningkatkan produksi beras melalui peningkatan luas areal panen dan produktivitas. Target yang ditetapkan adalah bahwa Indonesia akan mencapai swasembada beras lagi dalam tiga tahun. Setelah itu, targetnya adalah Indonesia dapat memelihara keberlanjutan swasembada beras, mencapai surplus untuk ekspor setelah 2017, dan dalam jangka panjang Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Saat ini, program tersebut telah dilaksanakan selama lima tahun dan analisis dampak dari penerapan program Upsus terhadap sisi efisiensi biaya dan daya saing produksi beras Indonesia ini penting untuk dikaji. Makalah ini bertujuan untuk membahas kerangka teoritis dan konseptual pengaruh program Upsus terhadap peningkatan efisiensi biaya dan daya saing produksi padi pada tingkat usaha tani. Alat analisis yang dapat digunakan untuk ini adalah perbandingan antara sebelum dan sesudah implementasi program Upsus yang terdiri dari regresi fungsi stochastic frontier cost (SFC), policy analysis matrix (PAM), analisis distribusi kepadatan kernel, dan model regresi berganda pengaruh peningkatan efisiensi biaya terhadap perubahan daya saing. Beberapa rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari pembahasan makalah ini berguna untuk lebih membantu meningkatkan strategi implementasi selanjutnya dari program Upsus pada padi.
Nfn Ashari, Handewi Purwati Saliem, Mohammad Maulana, Ening Ariningsih, Kartika Sari Septanti
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 38, pp 1-11; https://doi.org/10.21082/fae.v38n1.2020.1-11

Abstract:
Pertanian memiliki peran penting karena lebih dari 60% populasi dunia bergantung pada pertanian sebagai mata pencaharian. Salah satu faktor penyumbang besar terhadap pertumbuhan produktivitas pertanian adalah penerapan teknologi baru. Teknologi baru pertanian diharapkan berperan sebagai jalan penting untuk keluar dari kemiskinan di sebagian besar negara berkembang. Namun, realita menunjukkan tingkat adopsi teknologi pertanian dianggap masih relatif rendah. Makalah ini merupakan scientific review yang merangkum dan menganalisis hasil-hasil penelitian tentang adopsi teknologi pertanian. Tujuan makalah adalah untuk mengamati pengalaman di sejumlah negara terkait adopsi teknologi pertanian dan menentukan faktor-faktor yang memengaruhi adopsi serta keberlanjutan suatu adopsi teknologi. Hasil studi mengungkapkan bahwa keputusan petani untuk mengadopsi teknologi baru bergantung pada interaksi dinamis antara karakteristik teknologi dan kondisi lingkungannya. Beberapa aspek yang memengaruhi adopsi teknologi pertanian antara lain aspek teknologi, ekonomi dan keuangan, sosial dan kelembagaan, serta usaha pertanian dan karakteristik rumah tangga petani. Namun, penentu adopsi teknologi pertanian tidak selalu tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa faktor sehingga untuk memacu adopsi teknologi harus memperhitungkan semua faktor penentunya. Pendekatan yang komprehensif menjadi pilihan terbaik untuk menyebarluaskan teknologi baru pertanian. Pemerintah dapat menjadi fasilitator untuk adopsi teknologi dan memastikan teknologi yang disebarkan bermanfaat bagi petani.
Bambang Sayaka, Sahat M. Pasaribu, Saktyanu Kristiantoadi Dermoredjo
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 38, pp 53-66; https://doi.org/10.21082/fae.v38n1.2020.53-66

Abstract:
Upaya peningkatan produksi bawang merah ditempuh melalui Program Lipat Ganda (PROLIGA) bawang merah dengan adopsi biji botani bawang merah atau True Shallot Seed (TSS) karena berbagai kelebihan, antara lain biaya benih murah, volume benih lebih sedikit, lebih tahan lama disimpan, dan potensi hasilnya lebih tinggi. Makalah ini bertujuan mengulas prospek adopsi TSS oleh petani berdasarkan ulasan (review) berbagai publikasi dan laporan hasil penelitian maupun proyek percontohan. Produksi TSS di Indonesia belum pada skala komersial, tetapi masih dalam skala percobaan. TSS yang digunakan untuk pilot proyek merupakan benih impor karena produksi TSS di dalam negeri masih sangat terbatas. Petani umumnya lebih memilih menanam umbi mini dibanding TSS karena masa tanam yang lebih singkat. Pada taraf tertentu potensi hasil TSS lebih tinggi dari benih umbi. TSS memiliki beberapa kelemahan, yaitu perlu pesemaian 5−7 minggu, daya tumbuh TSS menjadi umbi mini relatif rendah, dan penyakit yang membuat batang tanaman tumbuh bengkok. Penanaman bawang merah menggunakan TSS memerlukan waktu lebih lama dibanding menggunakan umbi mini maupun umbi. Peningkatan skala produksi untuk pasokan TSS di dalam negeri dan jaringan produsen umbi mini dengan petani akan dapat meningkatkan adospi TSS.
Agung Hendriadi, Mewa Ariani
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 38, pp 13-27; https://doi.org/10.21082/fae.v38n1.2020.13-27

Abstract:
One of the next development agendas is quality human capital improvement. However, the progress is affected by proportion of food insecure households not insignificantly improving. It is similar to prevalence of stunted under-five-year-old children as high as 27.9%. This paper is a critical review aiming to analyze magnitude, determinant, impact and policy alternative related with food and nutrition insecurity alleviation. Food and nutrition insecurity could be seen from perspectives of areas (island/district/city), households and individuals. Currently, there are five indicators used by the government to calculate food insecurity including three global indicators and 2 country indicators resulting in different proportion of households with food and nutrition security. There are various interlinked determinants consisting of purchasing power, sociocultural aspects, infrastructure, and natural resources. Therefore, efforts to reduce these problems should be comprehensive, sustainable and consistent in planning and implementation. Policy on self-sufficiency should be developed on the specific regions based on local resources and culture. The policy should be implemented through community empowerment especially among the poor for improving income and basic infrastructure in insecure areas. To achieve the goals, there should be collaboration between governments and representatives at central and local levels, as well as individuals.
Nfn Ashari, Juwaidah Sharifuddin, Zainal Abidin Mohammed, Nurul Nadia Ramli, Yong Farmata
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 37, pp 115-125; https://doi.org/10.21082/fae.v37n2.2019.115-125

Abstract:
In 1960s, Indonesia experienced serious rice insufficiency and was one of the largest rice importing countries. The government was encouraged to achieve rice self-sufficiency, i.e. implementing the green revolution (GR) technology through promoting modern agricultural inputs adoption. GR had helped Indonesia to achieve rice self- sufficiency in 1984. However, such technology deals with some problems, e.g. environmental destruction and farmers’ dependence on agrochemical industry. Many consider organic farming system is the solution to address this issue as its practice offers the best way toward sustainable food production and resources use. Demand for organic rice is expected to increase in the future along with the population and income growth. However, prospect of organic rice farming is still uncertain as its adoption is very low. The main challenge is farmers’ unease on yield reduction. Other crucial problems are lack of technical know-how and government supports as well as increase in costs of land conversion and chemical contaminations from conventional farming. It is necessary to conduct more in-depth studies on the factors influencing farmers’ willingness to adopt organic farming. It will be useful for the government to design appropriate strategies and policies to accelerate organic rice farming adoption. AbstrakPada 1960-an, Indonesia mengalami kekurangan beras dan termasuk salah satu pengimpor beras terbesar di dunia. Pemerintah saat itu memprioritaskan pemenuhan beras dengan target swasembada dengan berbagai upaya, seperti penerapan teknologi revolusi hijau (RH) melalui penggunaan input pertanian modern. RH terbukti membuat Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Namun, teknologi tersebut juga telah menyebabkan dampak negatif, terutama kerusakan lingkungan dan petani sangat bergantung pada industri agro- kimia. Beberapa kalangan menganggap sistem pertanian organik adalah solusi untuk mengatasi masalah ini. Pertanian organik menawarkan cara terbaik untuk produksi pangan dan penggunaan sumber daya secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Permintaan beras organik diperkirakan akan meningkat di masa mendatang seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pendapatan. Adopsi pertanian organik masih sangat lambat. Tantangan utama pertanian padi organik adalah kekhawatiran anjloknya hasil panen ketika melakukan konversi. Permasalahan lainnya adalah kurangnya pengetahuan teknis dan dukungan pemerintah, mahalnya biaya konversi dan kontaminasi bahan kimia dari pertanian konvensional. Diperlukan penelitian yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang memengaruhi petani untuk mengadopsi pertanian organik. Dengan demikian pemerintah dapat merancang strategi dan kebijakan yang tepat untuk mempercepat adopsi pertanian padi organik.
Tri Bastuti Purwantini, Nfn Sunarsih
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 37, pp 127-142; https://doi.org/10.21082/fae.v37n2.2019.127-142

Abstract:
Organic agriculture grows rapidly both at national and global levels triggered by consumers’’ awareness of the dangers of synthetic chemicals in agriculture. Consumers are increasingly wise in choosing healthy, environmentally friendly food. The paper aims to describe the concept of organic agriculture and from international and national views, followed by an explanation of the development of organic agriculture in Indonesia. Discussion on the concept and development of organic agriculture in Indonesia covers the performance of organic agriculture development, programs, area, producers and markets. The results of the study indicate that Indonesia has considerable potential to compete in international markets of organic agriculture products albeit gradually. Institutions such as those of conventional agriculture, i.e. farmers’ groups, cooperatives, associations or corporations, are still very relevant to boost organic agriculture development. Organic agricultural products in the transition period are still pioneering the market. The community is the closest market accessible. Organic farming education should involve producers and consumers. AbstrakPertanian organik tumbuh pesat di tingkat nasional maupun global. Hal ini seiring peningkatan kesadaran konsumen terhadap bahaya bahan kimia sintetis dalam produk pertanian. Konsumen makin bijak dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Tujuan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan konsep pertanian organik menurut pandangan internasional maupun nasional, dilanjutkan dengan pemaparan perkembangan pertanian organik di Indonesia. Pembahasan tentang konsep dan perkembangan pertanian organik di Indonesia mencakup kinerja perkembangan pertanian organik, program, luas areal, produsen, dan pasar produk organik. Hasil kajian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Secara kelembagaan pengembangan pertanian organik di Indonesia hampir sama dengan pertanian konvensional, seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi, atau korporasi masih sangat relevan untuk digunakan sebagai pengembangan pertanian organik. Produk pertanian organik pada masa transisi masih merintis pasar dan biasanya komunitas menjadi pasar terdekat yang bisa dijangkau. Edukasi tentang pertanian organik perlu dilakukan pada kedua sisi, produsen dan konsumen.
Sri Suharyono, Nurmala K. Panjaitan, Nfn Saharuddin
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 37, pp 159-172; https://doi.org/10.21082/fae.v37n2.2019.159-172

Abstract:
Volcanic eruption victims to be relocated deal with two sequential shaking conditions, namely when a volcano erupts and when the community is relocated. This paper reviews the literatures on social relations and community resilience to the natural disasters, especially volcanoes, as well as how the relocation policy is implemented for farmer community victims. The ability of the community to rise from adversity due to natural disasters and to deal with challenges of a new life in the relocation area is determined by existing resources and their adaptive capacity. The more various the resources and the stronger the adaptive the community, the community will be more resilient. Social relations will further accelerate community resilience. Relocation is expected to improve the community’s life, but in fact in several places it raises new problems. Some considerations are needed for relocation such as location, natural and social environment, and social ties in the community. It is essential to design an efficient, effective policy to deal with natural disasters which includes sustainable livelihood and social systems. AbstrakKomunitas korban erupsi gunung berapi yang direlokasi dihadapkan pada dua kondisi goncangan yang berurutan, yakni pada saat terjadinya erupsi dan saat komunitas tersebut direlokasi. Tulisan ini mengulas sejumlah literatur yang terkait dengan relasi sosial, resiliensi komunitas terhadap bencana alam yang mereka hadapi, khususnya gunung berapi. Ulasan juga mencakup bagaimana kebijakan relokasi yang diterapkan bagi komunitas petani korban bencana alam. Kemampuan komunitas untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencana alam dan untuk menghadapi tantangan kehidupan yang baru di kawasan relokasi ditentukan oleh kekuatan sumber daya dan kapasitas adaptif yang dimiliki oleh komunitas. Semakin bervariasi sumber daya dan semakin kuat kapasitas adaptif yang dimiliki oleh komunitas maka menentukan sejauh mana resiliensi komunitas itu berlangsung. Relasi sosial dalam bentuknya yang asosiatif semakin mempercepat terjadinya resiliensi komunitas. Relokasi yang diharapkan mampu memperbaiki kehidupan komunitas dengan menjauhkannya dari ancaman bencana yang akan datang, justru di beberapa tempat menimbulkan persoalan. Diperlukan pertimbangan dalam pelaksanaan relokasi seperti lokasi, lingkungan alam dan sosial, dan juga ikatan sosial dalam komunitas. Perlu dirumuskan kebijakan yang efektif dan efisien untuk penanggulangan dampak bencana alam yang meliputi sistem penghidupan dan sistem sosial secara berkelanjutan.
S. Rusdiana, C. Talib, A Anggraini
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 37, pp 95-114; https://doi.org/10.21082/fae.v37n2.2019.95-114

Abstract:
Banten Province is characterized by local potentials of buffalo farming, e.g. breeding, rearing and fattening. It is promising to develop traditional buffalo farming into commercial one. This paper theoretically describes existing buffalo farming in Banten Province and how to develop it. Buffalo farming in Banten Province is relatively traditional, i.e. secondary business, livestock mainly for savings, small scales, inefficient production cost, and less profitable. Supporting facilities needed for improving the buffalo farming from traditional to commercial business are mutual cooperation among members in the farmers’ group, upgrading farmers’ knowledge on cow breeding, feed, farm business, applied technology, and natural resource use. The farmers require guidance and supervision, financial support, feed and calves assistance, and water supply for the livestock all year around. The government needs to set policy on marketing, e.g. selling price and requirements of bodyweight and health of the livestock. Eventually, the buffalo farmers in this province will be encouraged to conduct more profitable buffalo farming. AbstrakProvinsi Banten memiliki potensi yang cukup banyak untuk pengembangan ternak kerbau, pembibitan, serta pembesaran dan penggemukan dari tradisional menjadi komersial. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara teoritis mengenai potensi kerbau di Provinsi Banten dan pengembangannya. Peternak kerbau di Banten dicirikan dengan usaha sampingan, beternak untuk tabungan, skala pemilikan kecil, biaya produksi tinggi, dan kurang menguntungkan. Faktor pendukung untuk mengarahkan usaha ternak tradisional menjadi komersial adalah penguatan pengetahuan dan kinerja SDM peternak dalam hal kelembagaan, kerja sama antaranggota kelompok, peningkatan pengetahuan terkait bibit, pakan dan bisnis, serta teknologi terapan dan mengoptimalkan pemanfaatan SDA sekitarnya. Untuk kemajuan usaha komersial dibutuhkan pendampingan, dana, bibit ternak, pakan dan air minum untuk ternak sepanjang tahun. Kebijakan pemasaran seperti harga jual ternak bibit dan daging perlu dibuat agar ternak yang masuk dari luar provinsi memenuhi persyaratan ukuran tubuh, bobot, dan kesehatan supaya peternak lokal terpacu untuk menghasilkan ternak yang lebih baik dengan harga jual yang lebih menguntungkan.
Nfn Syahyuti
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 37, pp 143-157; https://doi.org/10.21082/fae.v37n2.2019.143-157

Abstract:
In Indonesia the discourse of farmers is relatively limited and unsatisfactory, unlike that at global level. It leads to our different understanding of farmers as shown by the various definitions in regulations and policies including those in academics. This paper aims to search on how farmers are interpreted in Indonesia in order to find more exact formulation in the future. The identical, standard understanding is essential in formulating agricultural development plan. Scientific review analysis on evolution of understanding and attitude toward farmers are compiled from various scientific sources, policies, and regulations. The results show that farmers should be considered as complete human being with multi dimensions as labor, socio-cultural creature, and religious individuals. It implies that it is necessary to harmonize the definition of farmers and to expand its coverage such that farm workers are part of farmers because they directly involved in daily agricultural activities. AbstrakDi Indonesia, diskursus tentang “petani” agak terbatas dan belum memuaskan, tidak sebagaimana di tataran global. Akibatnya, pemahaman kita terhadap petani belum sama satu sama lain, sebagaimana ditunjukkan dari beragamnya batasan yang digunakan dalam berbagai produk regulasi dan kebijakan, termasuk di dunia akademis. Tulisan ini bertujuan melakukan penelusuran terhadap bagaimana petani diinterpretasikan selama ini di Indonesia, sebagai upaya untuk mendapatkan formulasi yang lebih tepat pada masa depan. Pemahaman yang sama dan baku sangat penting sebagai basis dalam penyusunan perencanaan pembangunan pertanian. Analisis review ilmiah terhadap perkembangan pemahaman dan sikap terhadap petani diambil dari berbagai sumber akademis, kebijakan maupun regulasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa petani harus diposisikan seutuhnya sebagai manusia yang memiliki multidimensi, baik sebagai tenaga kerja, makhluk sosial kultural, sekaligus insan religi. Implikasi ke depan perlu dilakukan penyelarasan batasan petani dan memperluas cakupan sehingga buruh tani menjadi bagian dari petani, karena mereka adalah pelaku langsung di lapangan sehari-hari secara riil.
Back to Top Top