Forum penelitian Agro Ekonomi

Journal Information
ISSN / EISSN : 0216-4361 / 2580-2674
Current Publisher: Jurnal Informatika Pertanian (10.21082)
Total articles ≅ 365
Filter:

Latest articles in this journal

Rika Reviza Rachmawati, Herlina Tarigan
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 37, pp 77-94; doi:10.21082/fae.v37n1.2019.77-94

Abstract:
Indonesia is blessed with large potential peatland areas. Growing rice in peatland areas, for example, may be harmful to the environment if it is inappropriate farming practice. This paper aims to identify the best agricultural innovation and to propose strategic recommendation for peatland areas management. Farmers have applied agricultural innovations in growing rice in peatland areas with limited ecological damages carried out through water control management such as one way-water management, canal blocking, surjan or tukungan, and varieties adapted to peatland environment. The government has launched some measures to support peatland ecosystem but farmers’ support is inadequate. Implementing good agricultural technology through increased community participation in sustainable peatland management practices, strengthening farmers’ institution, information dissemination, and mutual community partnership. AbstrakIndonesia dikaruniai lahan gambut yang tersebar luas. Pemanfaatan lahan gambut untuk kegiatan pertanian padi banyak menimbulkan kontroversi apabila tidak dibudidayakan secara tepat. Tulisan ini membahas inovasi pertanian yang tepat dan merekomendasikan strategi pemberdayaan petani di kawasan lahan gambut. Inovasi pertanian untuk menanam padi di lahan gambut tanpa merusak lingkungan di antaranya pengaturan tata air yang mampu menekan terjadinya penurunan fungsi lingkungan, seperti tata air satu arah, tabat konservasi, surjan dan tukungan, sistem drainase dangkal, hingga inovasi pemberian kapur (ameliorasi), pemupukan N dan P serta pemilihan varietas tanaman adaptif baik tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Berbagai usaha dan kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk menjaga ekosistem lahan gambut belum optimal hasilnya karena kurang mendapat dukungan masyarakat setempat. Diperlukan pemberdayaan petani di kawasan lahan gambut agar lebih peduli kelangsungan ekosistem. Penguatan kelembagaan petani berperan dalam pemecahan masalah usaha tani, penyebarluasan informasi, penerapan teknologi sesuai agroekosistem, serta membangun kerja sama dan kemitraan yang saling menguntungkan.
Kartika Sari Septanti, Nfn Saptana
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 37, pp 59-75; doi:10.21082/fae.v37n1.2019.59-75

Abstract:
Lowland conversion to non-agriculture use improves along with economic growth. Various attempts have been exerted by the government to reduce lowland conversion. Local wisdoms throughout the regions in the country are potential to control lowland conversion. This paper aims to explore the role of local wisdoms in Indonesia and other countries in controlling lowland conversion. Some local wisdoms in Indonesia potentials for lowland conversion control are : tunggu tubang, mundang biniak, oloran sawah, Suku Samin, Buyut Cili, tradisi Ngarot, Kasepuhan Sinar Resmi, Suku Baduy, Subak, Suku Dayak, and pangale hutan. Some measures to take for empowering those local wisdoms, are: (i) incorporating local wisdoms into school education curriculum; (ii) developing a community-based natural resource management system, namely increasing participation of local people in land resource management. AbstrakKonversi lahan sawah ke nonsawah marak terjadi seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan laju konversi lahan sawah ke nonsawah, namun belum menunjukkan hasil yang optimal. Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang tersebar di seluruh nusantara yang berpotensi menghambat tingginya laju konversi lahan sawah ke nonsawah. Tulisan ini membahas kearifan lokal di Indonesia serta di beberapa negara yang telah dan akan dikembangkan untuk mempertahankan lahan sawah. Beberapa contoh kearifan lokal di Indonesia antara lain: tunggu tubang, mundang biniak, oloran sawah, Suku Samin, Buyut Cili, tradisi Ngarot, Kasepuhan Sinar Resmi, Suku Baduy, Subak, Suku Dayak, dan pangale hutan. Tantangan kearifan lokal pada masa depan semakin berat karena adanya pertumbuhan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, serta perubahan sosial masyarakat yang mendesak lunturnya nilai-nilai kearifan lokal. Beberapa strategi untuk mempertahankan kearifan lokal dapat dilakukan dengan cara: (1) memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan; (2) mengembangkan sistem pengelolaan sumber daya alam berbasis komunitas, yaitu peningkatan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan sumber daya lahan.
Ening Ariningsih, Helena J Purba, Julia F Sinuraya, Sri Suharyono, Kartika Sari Septanti
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 37, pp 1-23; doi:10.21082/fae.v37n1.2019.1-23

Abstract:
Indonesia is among the largest cocoa producing countries in the world. Various policies for cocoa production and quality improvement has been issued, but it still deals with some constraints. This paper reviews cocoa Indonesia’s industry performance and its development strategy. Over the past decade, Indonesia’s cocoa production kept declining due to decreased mature crop areas, unproductive crops enhancement, lower yield, and conversion of cocoa fields. Cocoa plantation is dominated by smallholders, limited capital, less knowledge, lack of technology access, and restricted market information. Government’s role is crucial in facilitating efforts to increase productivity, quality, and markets access besides to developing its downstream industries. Developing cocoa industry is not only the responsibility of the Ministry of Agriculture but it involves other institutions, i.e., local governments, NGOs, businessmen, research institutions, and investors. It is expected to improve Indonesia’s cocoa competitiveness in international market. AbstrakIndonesia termasuk negara produsen kakao terbesar di dunia. Pemerintah telah berupaya mengeluarkan berbagai kebijakan untuk peningkatan produksi dan mutu kakao, namun pengembangan kakao di Indonesia masih mengalami berbagai masalah. Tulisan ini menganalisis kinerja industri kakao serta strategi pengembangannya di Indonesia melalui penelaahan literatur. Selama dekade terakhir produksi kakao Indonesia terus menurun karena berkurangnya luas areal tanaman menghasilkan, meningkatnya tanaman tidak produktif, penurunan produktivitas, dan konversi lahan kakao. Perkebunan kakao didominasi perkebunan rakyat skala kecil, bermodal terbatas, serta akses terbatas terhadap teknologi dan informasi pasar. Peran pemerintah sangat penting dalam fasilitasi upaya peningkatan produktivitas, mutu, akses pasar, serta pengembangan industri hilirnya. Upaya pengembangan kakao bukan hanya tanggung jawab Kementerian Pertanian, tetapi bersifat lintas sektoral. Peran serta pemerintah daerah, LSM, pelaku bisnis, lembaga penelitian, dan investor sangat besar untuk mengembangkan dan membenahi agribisnis kakao di Indonesia sehingga daya saingnya meningkat di pasar internasional.
Atika Dyah Perwita, Nfn Saptana
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 37, pp 41-58; doi:10.21082/fae.v37n1.2019.41-58

Abstract:
Changes in strategic environment of economic globalization including disruptive innovation require agribusiness actors’ view adjustment. This paper discusses role of agri-entrepreneurs dealing with distrubictive innovation in agriculture. There are three elements of disrupsi innovation, i.e. (i) improvement levels acceptable to customer; (ii) improvement path when new agricultural commodities are introduced and refined through technological innovations; (iii) importance of different understanding between continuous and disruption innovations. Professional managers are encouraged to grow a new business expected to compete with the established ones. Agricultural business models for the upper-middle class consumers run by young entrepreneur produce new products with premium prices but the sale volume is limited. It is important to inspire young agri- entrepreneurs who accustomed to disrupted innovation to develop business based on their goals and market segments. AbstrakPerubahan lingkungan strategis berupa globalisasi ekonomi termasuk disrupsi inovasi memerlukan cara pandang baru pelaku usaha agribisnis. Tulisan ini membahas peran kewirausahaan agribisnis menghadapi era disrupsi inovasi. Ada tiga unsur disrupsi inovasi yang penting, yaitu: (i) tingkatan penyempurnaan yang dapat diterima oleh pelanggan; (2) jalur untuk penyempurnaan melalui terobosan inovasi; (iii) pemahaman yang berbeda antara inovasi berkelanjutan dan disrupsi inovasi. Para manajer profesional didorong untuk menumbuhkan bisnis baru yang dapat bersaing dengan bisnis yang telah mapan. Para wirausahawan muda menjalankan model bisnis pertanian dengan sasaran konsumen golongan ekonomi menengah-atas dengan introduksi komoditas kualitas prima dan harga premium, namun volume pasar terbatas. Implikasinya adalah perlu menyiapkan wirausaha pertanian muda yang memahami disrupsi inovasi untuk menghasilkan produk pertanian berdasarkan tujuan dan segmen pasarnya.
Resty Puspa Perdana
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 37, pp 25-39; doi:10.21082/fae.v37n1.2019.25-39

Abstract:
Rubber as an export commodity plays an important role in the national economy. Rubber prices fluctuate and tend to decline leading to lower national as rubber areas converted to other more prospective commodities. Downstream rubber industry enhancement is crucial for improving domestic rubber consumption and price stabilization in Indonesia. Export reduction policy carried out by the government for price stabilization is effective but only in the short term. Therefore, downstream rubber industry development is essential to deal with global rubber price fluctuation. Continuous supply and quality maintenance are crucial. Replanting should be implemented such that yield increases and its quality may compete with that imported. AbstrakKaret sebagai komoditas ekspor memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Harga karet yang fluktuatif dan menurun dapat memengaruhi produksi karet nasional karena alih fungsi lahan perkebunan karet ke komoditas lain yang lebih prospektif. Hal tersebut akan berdampak pada menurunnya devisa negara dan kesejahteraan petani. Pengembangan hilirisasi karet merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan serapan karet dalam negeri guna mengurangi pengaruh fluktuasi harga karet. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya pengembangan hilirisasi karet dalam mencapai kestabilan harga karet di Indonesia. Kebijakan pengurangan ekspor yang dilakukan pemerintah dalam rangka stabilisasi harga karet cukup efektif, namun hanya berpengaruh dalam jangka pendek. Oleh karena itu pengembangan hilirisasi karet diperlukan untuk mengurangi pengaruh fluktuasi harga karet internasional. Pengembangan hilirisasi karet memerlukan dukungan pemerintah dalam berbagai aspek. Untuk menjaga kontinuitas dan kualitas karet untuk bahan baku industri hilir maka upaya peremajaan karet harus dilakukan agar produktivitas karet meningkat serta kualitasnya dapat bersaing dengan karet impor
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 36, pp 23-44; doi:10.21082/fae.v36n1.2018.23-44

Abstract:
Price changes affect all aspects of agricultural activities, especially on agricultural development.To increase the production of strategic commodities such as rice, maize, and soybean, needs special attention to the impact of price changes closely related to that trading, so it is expected that the implications for farming income will be better and can make farmers more prosperous in the future. Often the fact, the growth in food demand is faster than the growth of its supply, causing changes in the price of staple foodstuffs, and ultimately impacting at the farmers income whose are uncertain. This paper aims to analyze the impact of changes in rice,maize and soybean prices on that trading, and its implications for farm income. The determination of the Reference Price of Purchase which only considers the cost of farming to produce rice, corn and soybean has not provided optimal support for efforts to increase the income of pajale farming. Therefore, it is necessary to consider all cost components, as well as government intervention in helping to strengthen the bargaining position of farmers in the trading system of these three commodities in Indonesia, so that the supply chain from farmers to the hands of end consumers can be cut, in order to provide direct implications for increased farm revenues.AbstrakPerubahan harga memengaruhi seluruh aspek kegiatan pertanian, khususnya terhadap pembangunan pertanian. Untuk meningkatkan produksi komoditas pangan utama, seperti padi, jagung, dan kedelai diperlukan perhatian khusus terhadap dampak perubahan harga yang berkaitan erat dengan perdagangannya sehingga diharapkan pendapatan usaha tani menjadi lebih baik dan petani makin sejahtera kedepannya. Seringkali faktanya bahwa pertumbuhan permintaan pangan lebih cepat dari pertumbuhan penyediaannya yang menyebabkan perubahan harga pangan pokok sering bergejolak dan akhirnya berdampak pada pendapatan petani yang tidak menentu. Tulisan ini bertujuan menganalisis dampak perubahan harga padi, jagung dan kedelai terhadap perdagangannya, serta implikasinya terhadap pendapatan usaha tani. Penetapan harga acuan pembelian (HAP) yang hanya mempertimbangkan biaya usaha tani untuk memproduksi padi, jagung dan kedelai belum memberikan dukungan yang optimal bagi upaya peningkatan pendapatan usaha tani pajale. Untuk itu, perlunya mempertimbangkan semua komponen biaya serta intervensi pemerintah dalam membantu memperkuat posisi tawar petani dalam sistem perdagangan ketiga komoditas tersebut di Indonesia sehingga rantai pasok dari petani ke tangan konsumen akhir dapat dipangkas dengan tujuan dapat memberikan implikasi secara langsung terhadap peningkatan pendapatan usaha tani.
Nfn Hermanto
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 36, pp 63-79; doi:10.21082/fae.v36n1.2018.63-79

Abstract:
In the current globalization era, it can no longer be inevitable the importance of cooperation among countries to realize peace and mutual prosperity. One of the growing international collaborations in the Asia Pacific region is Association of South East Asian Nations (ASEAN) and Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). The idea of the agricultural cooperation importance is one of the efforts to respond to various challenges in free trade and globalization era where each country in the Asia Pacific region has its advantages and disadvantages. This paper aims to describe the readiness of Indonesia’s agriculture and reviewing several international cooperation that built in the Asia Pacific region. With the use of the analysis framework based on the theories of international cooperation, showed that Indonesian agricultural sector still requires effort to empowerment because dominated by the small-scale businesses with limited capital and innovative technology, respectively. Most of the agricultural export products are also still needs the exertion of increase of its competitiveness. The cooperation in the Asia-Pacific region is very prospective. Trade and investment cooperation are more open in the Asia Pacific region will open market opportunities for agricultural products Indonesia thereby potentially encourage high economic growth and to increase the standard of life of the people of Indonesia and other countries in the Asia Pacific region. To create new opportunities and new markets in the Asia Pacific region, needed the policy direction covering four interrelated matters, namely how to improve access of agricultural commodity markets, increase investment, develop technical cooperation and strengthen diplomacy function as a factor of facilitating Indonesia facilitators in facing many agriculture collaborations for today and the future.AbstrakDi era globalisasi seperti sekarang ini, tidak dapat lagi dielakkan pentingnya menjalin kerja sama antarnegara dalam rangka mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan bersama. Salah satu kerja sama internasional yang berkembang saat ini di kawasan Asia Pasifik adalah Association of South East Asian Nations (ASEAN) dan Asia Pasific Economic Coorperation (APEC). Pemikiran akan pentingnya menjalin kerja sama, khususnya di bidang pertanian merupakan salah satu upaya merespon berbagai tantangan di era globalisasi dimana masing-masing negara di kawasan Asia Pasifik memiliki kelebihan dan kekurangannya. Tulisan ini bertujuan menganalisis kesiapan pertanian Indonesia serta mereview beberapa kerja sama internasional yang dibangun di kawasan Asia Pasifik. Dengan kerangka analisis yang didasarkan pada teori-teori kerja sama internasional, diperoleh gambaran bahwa sektor pertanian Indonesia masih memerlukan upaya pembenahan/ dan pemberdayaan karena usaha pertanian saat ini masih didominasi oleh usaha dengan skala kecil, modal yang terbatas, dan penggunaan teknologi yang masih sederhana. Sebagian besar produk ekspor...
Nfn Saptana, Atika Dyah Perwita, Valeriana Darwis, Sri Hastuti Suhartini
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 36, pp 45-61; doi:10.21082/fae.v36n1.2018.45-61

Abstract:
The main problem faced in the development of Indonesia's tropical fruits are the lack of variety, quantity, quality and continuity of supply that is in line with market demand dynamics and consumer preferences. The purpose of this paper is to examine the performance of export-oriented tropical fruit business partnership institutions. The method of analysis is carried out by reviewing various literature studies, especially primary scientific journals and other data and information. Indonesia's main tropical fruits are mango, pineapple, papaya, and avocado, constituting 75% of global tropical fruit production. National fruit production sequentially from the largest are banana of 6,189,052 tons, mango 2,376,339 tons, papaya 906,312 tons, durian 888,130 tons, and mangosteen 190,294 tons. Fruit consumption level in 2000 had reached 36 kg/capita/year, increasing in 2005 to 45 kg/capita/year, in 2007 it had reached 47 kg/capita/year, but in 2011 it decreased to 34.55 kg/capita/year, and in 2014 it increased again to 43.33 kg/capita/year. In the period January to March 2018 the volume of Indonesian fruit exports amounted to 325,236 tons, while in the same period in 2017, the volume of Indonesian fruit exports was recorded at 306,441 tons, an increase of 6.13%. Institutional performance of supply chain partnerships in tropical fruits, both carried out through general trade patterns and contract farming has not been fully efficient. The strategy of developing export-oriented tropical fruits in the future needs to be carried out through integrated supply chain business partnership institutions. Operationally can be done by using seeds/superior clone seeds, cultivation technology based on Standard Operational Procedure (SOP) and the application of Good Agricultural Practices (GAP), the application of Good Handling Practices (GHP), and integrated supply chain business partnerships. AbstrakPermasalahan pokok yang dihadapi dalam pengembangan buah tropika Indonesia adalah belum terwujudnya ragam, kuantitas, kualitas, dan kesinambungan pasokan yang sesuai dengan dinamika permintaan pasar dan preferensi konsumen. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengkaji kinerja kelembagan kemitraan usaha buah tropika berorientasi ekspor. Metode penulisan dengan melakukan review dari berbagai studi pustaka terutama jurnal ilmiah primer serta data dan informasi terkait. Buah tropika utama Indonesia adalah mangga, nenas, papaya, dan alpukat, merupakan 75% produksi buah tropika global. Produksi buah nasional secara berturut-turut adalah pisang sebesar 6.189.052 ton, mangga 2.376.339 ton, pepaya 906.312 ton, durian 888.130 ton, dan manggis sebesar 190.294 ton. Tingkat konsumsi buah pada tahun 2000 sudah mencapai 36 kg/kapita/tahun, meningkat pada tahun 2005 menjadi 45 kg/kapita/tahun, tahun 2007 telah mencapai 47 kg/kapita/tahun, namun pada tahun 2011 mengalami penurunan menjadi sebesar 34,55 kg/kapita/tahun, dan tahun 2014 meningkat kembali mencapai 43.33 kg/kapita/tahun. Pada...
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 36, pp 1-12; doi:10.21082/fae.v36n1.2018.1-12

Abstract:
Massive land grabbing is a global phenomenon that takes place widely by involving cross-country and continental actors. However, this approach to agricultural development with this pattern is less in line with agrarian reform, because it produces inequality, conflict, and marginalization of small farmers. Various studies report the massive land grabbing especially in African countries, Latin America and also Asia. Until now, the phenomenon of land grabbing that has such serious impacts is not openly discussed by academics, and is often covered as an inter-state investment dynamic. This paper is a scientific review derived from various studies and reports, which are constructed into land grabbing character, its causal factors, the resulting impacts, and the urgency of solutions to suppress its spread. The results of the study show that in Indonesia this is also the case, and has begun to show the impacts that are less in line with the vision and mission of national agricultural development, especially the threat to the achievement of food security and farmers' welfare. In the future, the phenomenon of land grabbing should be used as an open agenda and find solutions by integrating with agrarian reform planning.AbstrakAkuisisi lahan secara besar-besaran merupakan sebuah fenomena global yang berlangsung secara luas dengan melibatkan aktor lintas negara dan benua. Namun demikian, pendekatan pembangunan pertanian dengan pola ini kurang sejalan dengan reforma agraria, karena menghasilkan ketimpangan, konflik, serta peminggiran petani kecil. Beragam studi melaporkan masifnya akuisisi lahan terutama di negara-negara Afrika, Amerika Latin dan juga Asia. Sampai saat ini, fenomena akuisisi lahan yang memiliki dampak serius tersebut tidak dibicarakan secara terbuka oleh kalangan akademisi, dan seringkali ditutupi sebagai sebuah dinamika investasi antar negara belaka. Tulisan ini merupakan sebuah review ilmiah yang berasal dari berbagai hasil studi dan laporan, yang dikontruksi menjadi karakteristik akuisisi lahan, faktor penyebabnya, dampak yang dihasilkan, serta urgensi solusi untuk menekan penyebarannya. Hasil kajian menunjukan bahwa di Indonesia hal ini juga berlangsung, dan telah mulai memperlihatkan berbagai dampak yang kurang sejalan dengan visi dan misi pembangunan pertanian nasional, terutama ancamannya terhadap pencapaian ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Ke depan, semestinya fenomena akuisisi lahan harus dijadikan sebagai agenda terbuka dan dicarikan solusinya dengan mengintegrasikan dengan perencanaan reforma agraria.
Enti Sirnawati, Nfn Syahyuti
Forum penelitian Agro Ekonomi, Volume 36, pp 13-22; doi:10.21082/fae.v36n1.2018.13-22

Abstract:
Indonesia Agricultural Agency for Research and Development (IAARD) has more than four decades in supporting agricultural development. This support is indicated by its contribution to the creation of agricultural development models, field assistance, and technology dissemination. These activities are inseparable from its support for the Ministry of Agriculture’s program. The IAARD program follows the development of agricultural innovations. This paper aims to describe how the conception of innovation develops in the realm of science, as well as how the concept is implementing in IAARD, especiallyin relation to the down streaming of innovation inAgricultural Technology Assessment and Development (AIATs). This study also examines how IAARD should work according to the innovation concept, to make sustainable innovation. AbstrakBadan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) telah empat dasawarsa lebih berperan mendukung pembangunan pertanian. Hal ini ditunjukkan oleh kontribusinya terhadap penciptaan model-model pembangunan pertanian, pendampingan, dan diseminasi teknologi di lapangan. Aktivitas yang dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian tersebut tidak terlepas dari dukungannya terhadap program-program Kementerian Pertanian. Di lain pihak, program yang dijalankan oleh Badan Litbang Pertanian tersebut mengikuti perkembangan konsep keilmuan yang ada, antara lain terkait dengan penciptaan inovasi pertanian. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana konsepsi inovasi berkembang di ranah keilmuan, serta bagaimana implikasinya terhadap penciptaan inovasi yang telah dan sedang berlangsung di Badan Litbang Pertanian, khususnya terkait dengan hilirisasi inovasi oleh BPTP. Telaahan juga akan mengulas bagaimana implikasi perkembangan keilmuan tentang konsepsi inovasi perdesaan tersebut terhadap kiprah kelembagaan Litbang untuk menciptakan inovasi berkelanjutan.
Back to Top Top