PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia)

Journal Information
ISSN / EISSN : 16933591 / 2579910X
Total articles ≅ 65
Filter:

Latest articles in this journal

Hayatus Sa'adah, Marline Abdassah, Anis Yohana Chaerunisaa
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 16; doi:10.30595/pharmacy.v16i2.5827

Abstract:
Kaolin merupakan mineral tanah liat berwarna putih yang memiliki komponen terbesar berupa kaolinit dengan rumus kimia Al2O3.2SiO2.2H2O. Penggunaan kaolin untuk pengobatan berawal dari literatur-literatur barat abad pertengahan, terutama setelah kemunculan pendekatan yang lebih empiris terhadap efek farmakologi, pembentukan farmakope, perkembangan mineralogi, kimia dan teknologi farmasi, kemajuan dalam teknik instrumental, dan peningkatan dari reputasi terapeutik mineral. Kaolin dengan persyaratan khusus dapat digunakan dalam aplikasi farmasi (topikal maupun oral) dan kosmetik. Kaolin telah banyak digunakan sebagai obat dalam penyembuhan tradisional selama ribuan tahun dan penggunaannya sebagai bahan aktif untuk pengobatan beberapa penyakit terus diteliti. Artikel terkait pengumpulan informasi penggunaan kaolin dalam aplikasi farmasi dan kosmetik belum banyak dilakukan, sehingga artikel ini dibuat untuk mengulas peran dan fungsi kaolin dalam aplikasi farmasi dan kosmetik. Tujuan keseluruhan dari artikel ini adalah untuk memberikan informasi tentang pemanfaatan dan pengembangan kaolin sebagai bahan aktif atau eksipien dalam bidang farmasi dan kosmetik. Kaolin dapat diberikan secara oral sebagai antibakteri, antivirus, dan antidiare, dan secara topikal sebagai agen pelindung dermatologis. Selain sebagai bahan aktif, kaolin juga biasa digunakan dalam aplikasi farmasi sebagai bahan eksipien. Beberapa fungsi dari kaolin sebagai eksipien yaitu sebagai bahan pengisi, agen pengemulsi, agen suspensi, dan bahan penghancur. Selain dalam aplikasi farmasi, kaolin juga digunakan dalam aplikasi kosmetik sebagai agen tabir surya dan untuk tujuan perawatan kulit. Metode penulisan artikel ini ditulis berdasarkan studi literatur dari artikel dan jurnal yang relevan dengan permasalahan yang dikaji.
Dina Ratna Juwita, Nadya Faradani, Much Ilham Novalisa Aji Wibowo
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 16; doi:10.30595/pharmacy.v16i2.5627

Abstract:
Persalinan dan pelahiran dapat menimbulkan nyeri. Penanganan nyeri harus dikontrol secara adekuat agar nyeri tersebut tidak berubah menjadi nyeri kronis, sehingga tidak berdampak negatif terhadap morbiditas dan mortalitas ibu hamil. Nyeri tersebut dapat ditangani dengan analgesik. Konsumsi obat tersebut dapat terdistribusi ke ASI yang mengganggu proses menyusui. Oleh karena itu penggunaannya perlu diperhatikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan analgesik pada ibu pasca melahirkan yang meliputi penggunaan obat analgesik, intensitas nyeri pada pasien pasca melahirkan, dan efektivitas obat analgesik pada pasien pasca melahirkan di RSU Bunda Purwokerto periode Januari-Maret 2019. Penelitian ini merupakan penelitian noneksperimental dengan desain penelitian deskriptif observasional. Pengambilan data secara prospektif dengan sumber data penelitian yang digunakan yaitu hasil rekam medik dan penilaian nyeri menggunakan Visual Analog Scale. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan yaitu 50. Analisis hasil dalam bentuk persentase yang disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat analgesik yang paling banyak digunakan pada ibu pasca melahirkan normal yaitu asam mefenamat tablet dan pasca sectio caesarea yaitu ketoprofen suppositoriaI. Intensitas nyeri pada pasien pasca melahirkan berada di kategori nyeri sedang dan obat analgesik yang digunakan efektif untuk mengatasi nyeri pasca melahirkan.
Rico Hediyansah, Nurul Salima, Kristiando Siburian, Masriani Masriani, Rahmat Rasmawan
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 16; doi:10.30595/pharmacy.v16i2.5783

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antidiabetes ekstrak etanol kayu batang simpur (Dillenia suffruticosa (Griff.) Martelli dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes yang diinduksi streptozotosin-nikotinamid (STZ-NA). Desain penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 kelompok (N=30). Selain kelompok normal, semua kelompok diinduksi streptozotosin-nikotinamid (45,110 mg/kg BB ) pada awal perlakuan. Ekstrak etanol kayu batang simpur diberikan secara intraperitoneal dengan dosis P1 (150 mg/kg BB), P2 (300 mg/kg BB) dan P3 (600 mg/kg BB). Kelompok kontrol positif (KP) diberi glibenklamid 0,09 mg/200 g dan kelompok kontrol negatif (KN) sebagai kelompok diabetes. Pengukuran glukosa darah dilakukan dengan spektrofotometer UV-Vis metode enzimatis GOD-PAP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol kayu batang simpur dengan dosis 600 mg/kg BB menurunkan secara nyata kadar glukosa darah tikus yang diinduksi streptozotosin-nikotinamid yang sebanding dengan glibenklamid. Berdasarkan hasil penelitian ini maka ekstrak etanol kayu batang simpur diharapkan dapat menjadi alternatif pengobatan diabetes.
Ekadipta Ekadipta, Muhammad Sadikin, Muhammad Rizqi Yusuf
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 16; doi:10.30595/pharmacy.v16i2.4920

Abstract:
Pelayanan kefarmasian di puskesmas berperan penting dalam pelaksanaan upaya kesehatan bagi masyarakat, yaitu dengan pelaksanaan pemberian informasi obat untuk mendukung penggunaan obat. Pemberian informasi obat harus jelas agar pasien puas. Kualitas pelayanan kesehatan yang baik apabila dilakukan dengan standar dan menimbulkan kepuasan bagi pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas pemberian informasi obat pada pelayanan resep berdasarkan kepuasan pasien BPJS rawat jalan di Unit Pelayanan Obat, Puskesmas Kecamatan Cilandak periode Agustus 2018. Desain penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan menerapkan Permenkes nomor 74 tahun 2016 dan Permenpan nomor 14 tahun 2017. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa kualitas pemberian informasi obat secara keseluruhan mendapatkan nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) sebesar 77,21 dengan mutu B dan kualitas baik. Berdasarkan karakteristik responden yang menyatakan kualitas baik yaitu jenis kelamin perempuan, usia 19-49 tahun dan 50-59 tahun, pendidikan terakhir SMP ke atas. Kualitas kurang baik dinyatakan oleh jenis kelamin laki-laki dan pendidikan terakhir SD ke bawah. Berdasarkan perunsur dengan kualitas sangat baik diperoleh pada sediaan, dosis, cara pakai, dan indikasi. Kualitas baik diperoleh pada nama obat. Kualitas kurang baik diperoleh pada cara penyimpanan dan efek samping. Kualitas tidak baik diperoleh pada kontraindikasi, stabilitas, dan interaksi obat.
Erny Marleny Effendy, Shelly Taurhesia, Anny Victor Purba
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 16; doi:10.30595/pharmacy.v16i2.5859

Abstract:
Perubahan warna rambut menjadi putih pada usia lanjut sering kurang disukai. Keanekaragaman hayati Indonesia mendorong peneliti untuk melakukan pengembangan pewarna rambut dari ekstrak daun ketapang dan daun jambu biji. Ekstrak daun jambu biji mengandung pyrogallol yang berfungsi sebagai pembangkit warna dan ekstrak daun ketapang mengandung punicalagin sebagai polyphenol yang berfungsi sebagai pewarna. Kedua bahan ini diformulasikan dalam sediaan krim dengan tujuan memudahkan dalam pemakaian. Pada penelitian ini digunakan ekstrak daun jambu biji dengan konsentrasi 12,5% dan ekstrak daun ketapang dengan variasi konsentrasi 10; 12,5; dan 15%. Penambahan logam tembaga sulfat 1% (F5B) terhadap formula optimal menjadikan warna lebih tua. Pengujian warna pada pewarna rambut dengan penambahan logam menggunakan alat kromameter memberikan warna merah dengan nilai a (9,00) warna biru dengan nilai b (3,37) warna yang terrefleksi adalah coklat tua, sedangkan pewarna rambut tanpa penambahan logam memberikan warna merah dengan nilai a (7,36), warna biru dengan nilai b (16,96) warna yang terrefleksikan adalah coklat muda. Hasil uji keamanan menggunakan tiga ekor kelinci dengan metode uji iritasi akut dermal dengan indek iritasi nol (0) dinyatakan aman serta tidak mengiritasi.
Anggi Restyana, Wika Admaja
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 16; doi:10.30595/pharmacy.v16i2.5847

Abstract:
Jumlah penderita Infeksi Saluran Kemih (ISK) mencapai 90-100 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Dalam penanganannya berbagai macam antibiotik digunakan sebagai terapi pengobatan termasuk siprofloksasin. Saat ini siprofloksasin merupakan antibiotik pilihan pertama dalam terapi ISK di Rumah Sakit X Kabupaten Jombang. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan biaya terapi penggunaan antibiotik seftriakson dan siprofloksasin pada pasien infeksi saluran kemih. Telah dilakukan penelitian cost effectiveness analysis menggunakan metode observasi analitik dengan rancangan secara cross-sectional, pengambilan data secara retrospektif dengan menelusur dokumen rekam medis pasien. Metode analisis menggunakan statistic uji-t tidak berpasangan. Penelitian dilakukan pada perspektif rumah sakit. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 164 pasien. Terdapat 64 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Sebanyak 32 pasien mendapatkan siprofloksasin dan 32 pasien mendapatkan seftriakson. Total biaya langsung rata-rata pasien ISK yang mendapatkan seftriakson adalah Rp902.908,3 sedangkan pasien yang mendapatkan siprofloksasin adalah Rp959.918,91. Efektivitas diukur berdasarkan probabilitas lama rawat yang ditentukan. Pasien dengan seftriakson memiliki lama rawat 4,468 hari dengan probabilitas 0,875 dan siprofloksasin memiliki lama rawat 4,688 hari dengan probabilitas 0,781. Berdasarkan efektivitas, nilai ACER seftriakson sebesar Rp1.031.895,28 dan nilai ACER siprofloksasin sebesar Rp1.229.089,51. Namun secara uji statistik tidak ditemukan perbedaan yang bermakna pada efektivitas dan biaya antara seftriakson dan siprofloksasin. Pada perhitungan nilai ICER pada penelitian ini didapatkan nilai sebesar Rp259.138,82. Artinya ada biaya tambahan sebesar Rp259.138,82 per outcome terapi.
Iin Ruliana Rohenti, Hesty Utami Rahmadaniati, Prih Sarnianto
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 16; doi:10.30595/pharmacy.v16i2.5731

Abstract:
Pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) tahap akhir diindikasikan untuk memperoleh terapi renal replacement therapy, yaitu dialisis. Dialisis yang dimaksud baik dialisis peritonial maupun hemodialisis. Pembiayaan PGK merupakan peringkat kedua pembiayaan terbesar dari BPJS kesehatan setelah penyakit jantung. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengobatan dan biaya rata-rata menurut perspektif rumah sakit dibandingkan dengan tarif INA CBGs pada pasien PGK yang menjalani hemodialisa rawat jalan di RS X. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional (retrospektif) menggunakan dokumen rekam medis, data keuangan, dan data pengobatan pasien. Analisis biaya membandingkan biaya riil dengan biaya ideal menggunakan uji Wilcoxon. Data penelitian adalah data kuantitatif. Sampel penelitian ini berjumlah 74 pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan biaya riil untuk satu kali kunjungan hemodialisa di RS X adalah sebesar Rp705.523,00. Besaran tarif INA CBGs untuk hemodialisa rumah sakit pemerintah kelas B adalah Rp879.100,00. Biaya ideal untuk manajemen terapi anemia sebesar Rp1.056.946,00. Analisis biaya riil dengan ideal menyatakan perbedaan bermakna dengan nilai p
Suci Fitriani Sammulia, Netty Suhatri, Hesti Chaterine Raja Guk-Guk
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 16; doi:10.30595/pharmacy.v16i2.5744

Abstract:
Makanan Pedagang Kaki Lima (PKL) belum tersentuh pengawasan yang ketat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga secara kualitas tidak terpantau dengan baik sehingga perlu diwaspadai akan keamanan pangan seperti pada cilok, terutama pada jajanan Sekolah Dasar. Selain itu, cilok dijual dalam keadaan terbuka, sehingga memungkinkan terjadinya cemaran oleh mikroba. Tujuan penelitian ini sebagai sumber informasi ilmiah tentang deteksi rhodamin B dan boraks serta cemaran bakteri Salmonella sp. pada cilok di Sekolah Dasar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 5 sampel, 3 sampel (C, D, E) positif tercemar oleh Salmonella sp, untuk uji boraks dan rhodamin B menunjukkan bahwa kelima sampel negatif mengandung boraks dan rhodamin B, sehingga dapat disimpulkan dari kelima sampel yang paling aman untuk di komsumsi adalah cilok sampel A dan B.
Ani Anggriani, Deni Iskandar, Devi Aharyanti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 16; doi:10.30595/pharmacy.v16i2.5771

Abstract:
Metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan peserta KB aktif di Indonesia tahun 2014 adalah suntikan (47,54%). Karena rendahnya pendidikan dan kurangnya pengetahuan masyarakat mengakibatkan banyaknya perempuan mengalami kesulitan dalam menentukan jenis kontrasepsi dan sering menyebabkan wanita beralih ke metode lain bahkan mengakibatkan banyak wanita yang berhenti menggunakan kontrasepsi hingga terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan alasan menggunakan kontrasepsi suntik pada akseptor KB di Panyileukan Bandung. Penelitian ini menggunakan survei deskriptif dengan analisis kuantitatif menggunakan instrumen kuesioner dengan sampel berjumlah 51 responden. Teknik analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Sebesar 72% responden memiliki tingkat pengetahuan cukup baik. Alasan penggunaan kontrasepsi suntik pada akseptor KB secara berturut-turut adalah karena aspek manfaat kontrasepsi suntik 74,83%, kemudahan menggunakan kontrasepsi suntik (74,50%), kenyamanan menggunakan kontrasepsi suntik (72,71%), dan biaya metode kontrasepsi suntik (67,81%). Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan jenis kontrasepsi suntik dengan p-value 0,310. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat pengetahuan cukup baik dan alasan menggunakan kontrasepsi suntik paling banyak adalah karena aspek manfaat kontrasepsi suntik tersebut.
Ninik Mas Ulfa, Iin Ernawati, Purwanti Purwanti, Riki Kurniawanto, Ari Indrawati
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 16; doi:10.30595/pharmacy.v16i2.5724

Abstract:
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan elektrolit dan menyebabkan uremia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil penggunaan obat antianemia, antihipertensi, dan antidiabetik pada pasien PGK dengan hemodialisa. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Wilayah Surabaya Selatan. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional menggunakan data secara retrospektif, pada bulan Januari-Maret 2018. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh pada pemakaian obat antianemia dengan menggunakan EPO alfa 2000 IU dan 3000 IU, keduanya dapat meningkatkan kadar Hb. Variasi dosis EPO alfa yang digunakan yaitu dosis 2000 IU sebanyak 60% pasien dan 3000 IU sebanyak 40% pasien. Untuk obat antihipertensi pemakaian terbanyak kombinasi irbesartan 300 mg dan amlodipine 10 mg dengan frekuensi pemberian 1 kali sehari 1 tablet. Antidiabetik yang digunakan pada pasien PGK adalah kombinasi insulin basal dan prandial sebanyak 80% daripada terapi OAD atau insulin tunggal. Pada golongan sulfonilurea digunakan gliquidone dosis 30 mg dengan frekuensi satu kali sehari (20%). Golongan insulin paling banyak diberikan adalah kombinasi insulin analog kerja panjang dan insulin aspart analog kerja cepat (34%).
Back to Top Top