PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia)

Journal Information
ISSN / EISSN : 1693-3591 / 2579-910X
Total articles ≅ 92
Filter:

Latest articles in this journal

Irmin Irmin, Prih Sarnianto, Yusi Anggriani, Jenny Pontoan
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 17; https://doi.org/10.30595/pharmacy.v17i1.5622

Abstract:
Minor Illness adalah kondisi medis yang kurang serius yang tidak memerlukan tes laboratorium atau tes darah. Minor illness juga didefinisikan sebagai kondisi yang akan hilang dengan sendirinya dan dapat sembuh dengan melakukan pengobatan sendiri (swamedikasi). Kebanyakan pasien dapat mengobati penyakit minor illness hanya dengan menggunakan obat-obat OTC (Over-the-Counter). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pasien dengan keluhan minor illness terhadap peran apoteker terkait efisiensi biaya obat dan akses pengobatan di era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Penelitian ini dapat memberikan masukan bagi pemerintah dalam hal ini BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) sebagai otoritas pelaksana program JKN terkait pentingnya peran apoteker dalam melakukan efisiensi biaya dan kemudahan akses pengobatan pasien dengan keluhan penyakit minor illness. Penelitian ini menggunakan metode observasi dengan pengolahan data secara deskriptif. Penelitian ini dilakukan di apotek yang bekerjasama dengan BPJS di wilayah DKI, dengan sampel sebanyak 99 responden pasien yang melakukan swamedikasi pada bulan Juni 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat potensi efisiensi biaya baik dari aspek manajemen, klinis, swamedikasi yang efektif dan terdapat kemudahan akses pengobatan melalui swamedikasi. Kesimpulan, keterlibatan apoteker dalam menangani keluhan minor illness terbukti menghemat biaya dan kemudahan akses pengobatan.
Havizur Rahman, Putri Maya Sari, Indri Maharini, Bilia Ayu Septiana
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 17; https://doi.org/10.30595/pharmacy.v17i1.5727

Abstract:
Peningkatan konsumsi akohol, obat-obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS), dan diet yang keliru menjadi penyebab meningkatnya penyakit tukak lambung (ulkus peptikum) di seluruh dunia. Penggunaan obat sintetis jangka panjang sering menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Belut diketahui memiliki kadar protein yang tinggi, mirip dengan ikan gabus. Penelitian tentang aktifitas ikan gabus dalam pengobatan luka bakar, luka dalam bekas operasi, serta tukak lambung telah banyak dilakukan. Diperkirakan aktifitas tersebut dipromotori oleh kandungan protein dan asam amino dari ikan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 5 kelompok perlakuan masing-masing 5 ekor tikus. Diperoleh hasil rata-rata titik pendarahan pada kontrol negatif 7,6: kontrol positif 2,6; dosis ekstrak kering belut 100 mg/kgBB sejumlah 4,2; dosis ekstrak kering belut 200 mg/kgBB sejumlah 1; dan dosis ekstrak kering belut 400 mg/kgBB sejumlah 1. Sedangkan rata-rata pH cairan lambung pada kontrol negatif 4,948: kontrol positif 5,182; dosis ekstrak kering belut 100 mg/kgBB 4,224; dosis ekstrak kering belut 200 mg/kgBB 2,888; dan dosis ekstrak kering belut 400 mg/kgBB 4,89. Secara statistik terdapat perbedaan titik pendarahan yang signifikan antara dosis kontrol positif, 100, 200, dan 400 mg/kgBB dengan kontrol negatif. Tidak ditemukan adanya korelasi antara pH dengan timbulnya titik pendarahan, sehingga pH tidak dapat dijadikan parameter terjadinya tukak lambung. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak kering belut memiliki aktifitas sebagai pengobatan tukak lambung dengan dosis terbaik pada 200 mg/kgBB.
Risca Amilia, Angelica Kresnamurti, Ana Khusnul Faizah
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 17; https://doi.org/10.30595/pharmacy.v17i1.5049

Abstract:
Minyak ikan merupakan sumber EPA dan DHA yang berasal dari sumber daya laut. Kapsul minyak ikan merupakan salah satu nutraseutikal untuk memenuhi kebutuhan omega-3 dan omega-6. Penelitian telah dilakukan menggunakan minyak ikan salmon yang mengandung EPA dan DHA. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas analgesik pada tikus putih jantan (Mus musculus) strain BALB/c. Sejumlah 25 ekor tikus putih jantan dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus putih jantan. Kelompok kontrol negatif diberi kombinasi emulsi Tween 80 dan Span 80, kelompok kontrol positif diberi aspirin, dan kelompok perlakuan diberi emulsi minyak ikan salmon dengan dosis 20, 30, dan 40 mg/kg BB. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah writhing test dengan menginduksi tikus putih jantan dengan asam asetat 0,6%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emulsi minyak ikan salmon dengan dosis 20, 30, dan 40 mg/kg BB memiliki persentase hambatan nyeri masing-masing sebesar 29,44; 42,64; dan 52,59%. Dapat disimpulkan bahwa emulsi minyak ikan salmon memiliki aktivitas analgesik.
Muhamad Ramadhan Salam, Dwi Endarti, Tri Murti Andayani
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 17; https://doi.org/10.30595/pharmacy.v17i1.6906

Abstract:
Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Vaksin dapat melindungi anak dari penyakit yang mematikan. Pengetahuan tentang vaksinasi penting bagi orang tua untuk mengembangkan sikap positif sehingga mendukung pada program vaksinasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan demam tifoid dan vaksin tifoid orang tua di Indonesia. Penelitian ini termasuk dalam penelitian observasional survei dengan pendekatan multi-center cross sectional yang dilakukan pada orang tua di 5 Provinsi di Indonesia yaitu DI Yogyakarta, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tengah. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang terdiri dari 28 pertanyaan yang meliputi pertanyaan informasi sosiodemografi dan tingkat pengetahuan tentang demam tifoid dan vaksin tifoid. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Oktober 2019 sampai Desember 2019. Data dianalisis menggunakan software IBM SPSS Statistics 25, untuk analisis karakteristik sampel digunakan analisis deskriptif yang menggambarkan keseluruhan data sampel penelitian berupa data sosiodemografi dan data pengetahuan. Analisis inferensial yang digunakan yaitu uji Mann Whitney untuk melihat perbedaan tingkat pengetahuan responden tentang demam tifoid dan vaksin tifoid antar kelompok pada karakteristik sosiodemografi responden. Rata-rata nilai pengetahuan dari 500 responden adalah 77%. Item pengetahuan yang masih kurang pada pertanyaan tentang cara penularan penyakit, dosis vaksin tifoid dan vaksin tifoid tidak termasuk dalam program jaminan kesehatan nasional. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan terdapat perbedaan bermakna nilai pengetahuan antar kelompok pada karakteristik kepemilikan asuransi kesehatan (p=0,039), pernah mendengar tentang vaksin tifoid (p=0,000) dan pernah melakukan vaksinasi tifoid (p=0,002). Diperlukan adanya program intervensi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit demam tifoid dan vaksin tifoid.
Trie Yuni Elfasyari, Mutia Amelia Putri, Regina Andayani
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 17; https://doi.org/10.30595/pharmacy.v17i1.5066

Abstract:
Zat warna rhodamin B adalah bahan pewarna yang dilarang penggunaannya dalam sediaan lipstik karena memiliki potensi karsinogenik dan merusak organ hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara kualitatif dan kuantitatif zat rhodamin B dalam sediaan lipstik impor yang beredar di Pasar Kota Batam. Metode yang digunakan adalah kromatografi lapis tipis untuk mengidentifikasi senyawa rhodamin B dengan menghitung nilai Rf dari fluoresensi bercak di bawah sinar ultraviolet. Penentuan kadar rhodamin B dilakukan dengan alat spektrofotometer UV-visibel dengan mengukur absorban pada panjang gelombang maksimum 548,5 nm. Konsentrasi larutan baku standar rhodamin B adalah 0,8; 1,2; 1,6; 2,0; dan 2,4 µg/mL. Didapatkan persamaan kurva y=0,0128+0,276x dengan r=0,9999. Hasil analisis kualitatif dari 15 merek sampel lipstik didapatkan dua merek lipstik yang teridentifikasi positif rhodamin B yaitu lipstik I dengan Rf 0,78 dan lipstik L dengan nilai Rf 0,77. Penentuan kadar rhodamin B dari masing-masing lipstik didapatkan kadar sebesar 73,225 µg/g pada lipstik I dan 92,61 µg/g pada lipstik L.
Mimi Aria, Epi Supri Wardi, Sintia Putri Ayu
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 17; https://doi.org/10.30595/pharmacy.v17i1.5503

Abstract:
Uji efek anti-inflamasi ekstrak etanol daun piladang (Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br.) pada mencit putih betina telah dilakukan secara topikal menggunakan metode modifikasi yaitu pembentukan edema buatan dan kantong granuloma. Induksi dilakukan dengan menginjeksikan karagen 2% (b/v) dalam NaCl fisiologis secara subkutan. Pengujian dilakukan menggunakan hewan percobaan yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang terdiri dari 1 kelompok kontrol, 1 kelompok pembanding, dan 3 kelompok perlakuan. Ekstraknya diberikan secara topikal dalam bentuk salep selama 4 hari dengan variasi konsentrasi 0,5; 1; dan 2%. Parameter yang diamati meliputi volume edema, jumlah sel leukosit pada edema dan darah mencit putih betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun piladang memberikan efek anti-inflamasi topikal. Hal ini dapat dilihat dari penurunan volume edema dan pengaruh terhadap sel leukosit pada cairan eksudat dan darah seperti neutrofil segmen, neutrofil batang, monosit serta limfosit secara bermakna (P0,05). Efek maksimal dari anti-inflamasi didapatkan pada konsentrasi 2% dengan volume edema terendah 0,09 mL dan sama dengan efek anti-inflamasi hidrokortison asetat 2,5% dengan volume edema terendah 0,09 mL.
Lia Mardiana, Titik Sunarni, Mimiek Murukmihadi
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 17; https://doi.org/10.30595/pharmacy.v17i1.6261

Abstract:
Ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L.) dapat digunakan sebagai pewarna alami karena mengandung pigmen antosianin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari kombinasi carbomer dan CMC-Na terhadap stabilitas sifat fisik dan pewarnaan gel serta iritasi formula optimum yang diperoleh. Serbuk kering bunga telang dimaserasi menggunakan gelombang ultrasonik dengan air yang diasamkan dengan asam tartrat sebagai pelarut. Ekstrak yang diperoleh dari penyaringan vakum kemudian dikeringkan dengan metode freeze dry selama 3 hari. Formula optimum yang diperoleh diuji iritasi, stabilitas mutu fisik dengan metode freeze and thaw selama 3 siklus, dan stabilitas warnanya terhadap lama pewarnaan pada rambut, pencucian serta pengaruh sinar matahari. Hasil menunjukkan bahwa carbomer dominan meningkatkan viskositas, daya lekat, dan pH gel sedangkan CMC-Na dominan meningkatkan daya sebar gel. Interaksi dari carbomer dan CMC-Na meningkatkan viskositas, daya lekat, pH, dan daya sebar. Formula optimum diperoleh dari kombinasi carbomer dan CMC-Na masing-masing pada konsentrasi 1,66 dan 6,00%. Tidak terdapat perbedaan respon antara prediksi dengan perlakuan. Viskositas, daya lekat, daya sebar, dan pH gel tidak stabil (p
Arsiaty Sumule, Ilham Kuncahyo, Fransiska Leviana
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 17; https://doi.org/10.30595/pharmacy.v17i1.5640

Abstract:
Lendir bekicot (Achatina fulica Ferr) mengandung protein achasin, suatu senyawa dengan aktivitas antibakteri yang mendukung proses penyembuhan luka. Selain itu, peptida mytimacin-AF pada lender bekicot diketahui menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus ATCC 25923. Lendir bekicot kurang praktis jika digunakan secara langsung sehingga perlu dikembangkan menjadi bentuk sediaan gel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi optimum campuran carbopol 940 dengan gliserin dalam formula gel dan mengevaluasi aktivitas antibakteri formula optimum terhadap S. aureus ATCC 25923. Gel lendir bekicot dibuat tiga formula dengan komposisi carbopol 940 dan gliserin masing-masing sebesar 1; 1,5; dan 2%, serta 15; 14,5; dan 14%. Semua formula diuji sifat fisiknya selama empat minggu, meliputi organoleptis, homogenitas, viskositas, daya sebar, daya lekat, dan pergeseran viskositas. Hasil uji dioptimasi dengan metode simplex lattice design menggunakan program Design Expert 8.0.6.1. Formula optimum yang diperoleh dievaluasi sifat fisiknya selama empat minggu, sedangkan aktivitas antibakterinya diuji dengan menggunakan metode difusi sumuran. Hasil penelitian menunjukkan formula optimum gel lendir bekicot dengan proporsi campuran carbopol 940 dan gliserin masing-masing 1,123 dan 14,877%. Formula optimum memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus dengan diameter zona hambat sebesar 1,73 cm.
Widhya Aligita, Dulce De Sousa Tpoy, Elis Susilawati
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 17; https://doi.org/10.30595/pharmacy.v17i1.6062

Abstract:
Hiperlipidemia merupakan salah satu faktor penyakit kardiovaskular dengan angka kematian di dunia cukup tinggi. Buah okra (Abelmoschus esculentus (L.) Moench) merupakan salah satu sayuran yang berpotensi dapat digunakan sebagai antihiperlipidemia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efek antihiperlipidemia dan dosis optimal dari ekstrak air buah okra pada tikus galur wistar yang diinduksi emulsi lemak. Tikus putih jantan galur wistar berumur 2-3 bulan dengan bobot 150-200 gram dibagi secara merata menjadi 6 kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok simvastatin 10 mg/kg BB, kelompok ekstrak air buah okra dosis 50, 100, dan 200 mg/kg BB. Induksi hiperlipidemia dilakukan dengan pemberian emulsi lemak. Perlakuan dilakukan selama 35 hari. Parameter yang diukur adalah kadar kolesterol total, trigliserida, dan low-density lipoprotein (LDL). Berdasarkan hasil pengukuran kolesterol total, trigliserida, dan LDL, dapat dilihat bahwa pemberian ekstrak air buah okra dengan dosis 100 dan 200 mg/kg BB mampu menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, dan LDL secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol positif. Ekstrak air buah okra pada dosis 100 mg/kg BB memiliki aktivitas dalam menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, dan LDL.
Rasmala Dewi, Deny Sutrisno, Fhatia Medina
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 17; https://doi.org/10.30595/pharmacy.v17i1.6936

Abstract:
Prevalensi penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) tahun 2018 di Provinsi Jambi sebesar 5,5%. Hal ini berdampak pada meningkatnya kunjungan berobat ke Puskesmas dan penggunaan obat, salah satunya antibiotik. Hasil survey di Puskesmas Olak Kemang, Kota Jambi menunjukkan masih ada ketidakrasionalan dalam penggunaan antibiotik pada penderita ISPA, khususnya pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik demografi, pola, dan kerasionalan penggunaan antibiotik pada anak di Puskesmas Olak Kemang, Kota Jambi Tahun 2018. Sampel dalam penelitian yaitu anak berusia 5-11 tahun, yang didapat dari data register harian dan data sekunder berupa rekam medik dan resep obat. Pengambilan data secara retrospektif, dan data dianalisis dengan kriteria kerasionalan penggunaan obat yang disesuaikan dengan acuan Pharmaceutical Care untuk infeksi saluran pernapasan. Terdapat 70 kasus anak yang didiagnosis ISPA, dengan penggunaan antibiotik terbesar berupa amoksisilin (88,5%). Kerasionalan penggunaan antibiotik, meliputi parameter ketepatan indikasi, ketepatan pasien, ketepatan obat, ketepatan dosis berdasarkan frekuensi pemberian, dan durasi pemberian, masing-masing dengan skor 100; 98,5; 54,2; 48,5; dan 1,4%. Dapat disimpulkan bahwa kerasionalan penggunaan antibiotik pada anak di Puskesmas Olak Kemang, Kota Jambi untuk diagnosis ISPA, dari empat parameter ketepatan hanya ketepatan indikasi yang dinilai sudah rasional.
Back to Top Top