Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Journal Information
ISSN / EISSN : 2087-9423 / 2085-6695
Current Publisher: Institut Pertanian Bogor (10.29244)
Former Publisher: Department of Marine Science and Technology (10.28930)
Total articles ≅ 847
Current Coverage
ESCI
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Dietriech Geoffrey Bengen
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 12; doi:10.29244/jitkt.v12i2.32405

Dietriech Geoffrey Bengen
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 12; doi:10.29244/jitkt.v12i2.32404

Artika Nanda Magfiroh, Zairon, Achmad Fahrudin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 12, pp 369-383; doi:10.29244/jitkt.v12i2.29262

Abstract:
Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) masuk dalam rencana aksi nasional pengelolaan kawasan konservasi tahun 2018-2025. Tujuan penelitian adalah mengkaji efektivitas pengelolaan kawasan konservasi TNKJ, sehingga diperoleh rekomendasi strategis yang efektif untuk peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi TNKJ. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-Desember 2019. Metode penilaian yang digunakan adalah score card untuk pedoman Management Effectiveness Tracking Tool (METT) dan pedoman Evaluasi Efektivitas Pengelolaan untuk Kawasan Konservasi Laut di Indonesia (COREMAP II - LIPI) serta metode penilaian system blocking untuk pedoman Teknis Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (E-KKP3K). Analisis prioritas strategi peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi TNKJ dilakukan menggunakan metode jejaring analitik (Analytic Network process, ANP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian pengelolaan kawasan konservasi TNKJ dikatakan sangat efektif menurut pedoman METT, efektif menurut pedoman COREMAP II - LIPI dan berstatus hijau menurut pedoman E-KKP3K. Permasalahan prioritas pengelolaan TNKJ adalah implementasi sistem zonasi, sedangkan solusi prioritas untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan TNKJ adalah penyadaran masyarakat dan wisatawan terhadap bahaya sampah dan kerusakan lingkungan.
Defri Yona, Mela Dita Maharani, M. Reza Cordova, Yuyun Elvania, I Wayan Eka Dharmawan
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 12, pp 497-507; doi:10.29244/jitkt.v12i2.25971

Abstract:
Keberadaan mikroplastik di perairan dapat berpotensi masuk pada organisme perairan termasuk ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap keberadaan mikroplastik pada 12 ikan terumbu karang yang ditangkap dari perairan di tiga pulau kecil dan terluar Papua (Pulau Liki, Befondi dan Miossu) dan menganalisis perbedaan mikroplastik yang ditemukan pada insang dan saluran pencernaannya. Ikan ditangkap dengan alat pancing dan dipisahkan organ insang dan saluran pencernaannya untuk dianalisis jenis mikroplastiknya. Destruksi bahan organik dilakukan dengan menggunakan larutan H2O2 30% dan identifikasi mikroplastik dilakukan menggunakan mikroskop. Diantara jenis mikroplastik, hanya jenis fiber yang ditemukan di semua spesies ikan dengan kisaran 1,60-28,30 partikel/g berat kering. Mikroplastik yang ditemukan pada ikan yang ditangkap dari Pulau Liki lebih tinggi jika dibandingkan dengan di Pulau Befondi dan Miossu. Penelitian ini menemukan bahwa ukuran ikan tidak mempengaruhi keberadaan mikroplastik pada ikan. Ikan-ikan yang ditangkap dari Pulau Liki berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan ikan yang ditangkap dari Pulau Befondi dan Miossu. Sebagian besar ikan yang ditemukan, mengandung fiber pada insang dan saluran pencernaan dengan ukuran yang dominan adalah >1000 µm. Kelimpahan mikroplastik jenis fiber lebih tinggi pada insang dibandingkan pada saluran pencernaan dan hal ini diduga karena perbedaan fungsi antar organ dan proses masuknya mikroplastik dari perairan ke organ-organ tersebut.
Beta Susanto Barus, Roy Yosua Munthe, Miko Bernando
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 12, pp 397-408; doi:10.29244/jitkt.v12i2.28211

Abstract:
Aktivitas antropogenik menghasilkan limbah domestik dan pertanian yang terdistribusi ke perairan yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya kandungan karbon organik total dan fosfat dari perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kandungan karbon organik total dan fosfat serta menganalisis sebaran dan korelasi konsentrasi karbon organik total dan fosfat pada sedimen dasar di muara Sungai Banyuasin, Sumatera Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2019. Pengambilan sampel sedimen menggunakan metode purposive sampling pada 10 stasiun saat kondisi surut. Analisis karbon organik total menggunakan metode Kadar Abu sesuai dengan SNI 01-2891-1992 dan analisis fosfat dengan metode Bray and KurtzPola sebaran konsentrasi karbon organik total dan fosfat dianalisis menggunakan software Surfer 9. Analisis korelasi dilakukan dengan program Ms. Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi karbon organik total berkisar antara 3,71 - 7,42 % dan konsentrasi fosfat berkisar antara 16,49 mg/kg - 26,45 mg/kg. Sebaran konsentrasi karbon organik total dan fosfat dipengaruhi oleh tipe substrat sedimen pada setiap stasiun. Sedimen dengan tekstur yang lebih halus memiliki kandungan bahan organik total dan fosfat lebih tinggi. Karbon organik total dan fosfat di perairan muara Sungai Banyuasin memiliki korelasi yang positif dan kuat. Semakin tinggi kandungan karbon organik total di perairan akan diikuti dengan semakin tinggi juga kandungan fosfatnya.
Yunita Luhulima, Neviaty Putri Zamani, Dietriech Geoffrey Bengen
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 12, pp 543-556; doi:10.29244/jitkt.v12i2.23454

Abstract:
Holothuria scabra, Holothuria atra dan Bohadschia marmorata merupakan jenis teripang dengan habitat yang sangat beragam dan umumnya ditemukan dalam jumlah yang dominan dibandingkan jenis lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepadatan dan pola pertumbuhan teripang H. scabra, H. atra dan B. marmorata serta asosiasinya dengan jenis lamun di pesisir Pulau Ambon, Pulau Osi dan Pulau Marsegu. Asosiasi teripang dengan lamun dianalisis dengan menggunakan analisis koresponden (CA). Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2019 sampai November 2019. Pengambilan sampel dilakukan pada pada 3 stasiun yang mewakili masing-masing lokasi dengan menggunakan kuadran 1m2. Hasil penelitian mendapatkan kepadatan teripang berkisar dari 4,0 sampai 6,6 ind/100 m2. Secara keseluruhan pola pertumbuhan teripang adalah allometrik negatif dimana pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan berat. Thalassia hemprichii merupakan jenis lamun dengan kerapatan tertinggi sebesar 64407 ind/100 m2 dan Halodule pinifolia adalah jenis terendah sebesar 900 ind/100 m2. Hasil koresponden analisis menunjukkan adanya tiga kelompok asosiasi antara teripang dengan lamun. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Perbedaan jenis lamun dan kerapatan lamun berdampak pada kepadatan dan penyebaran jenis teripang.
La Ode M. Gunawan Giu, Agus S. Atmadipoera, Yuli Naulita, Dwiyoga Nugroho
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 12, pp 457-472; doi:10.29244/jitkt.v12i2.29142

Abstract:
Arus Lintas Indonesia (Arlindo) merupakan sistem arus antara samudera Pasifik dan Hindia yang melewati Laut Indonesia, seperti melalui jalur primer Selat Makassar ke Laut Flores dan melalui jalur sekunder Selat Lifamatola ke Laut Banda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur vertikal dan variabilitas Arlindo di Laut Flores Timur (Flores) dan Laut Banda Utara (Banda) yang berasal dari keluaran model laut INDESO antara tahun 2008 dan 2014. Analisis struktur Arlindo dengan menghitung rataan komponen arus secara vertikal. Volume transpor dihitung dari penampang di Laut Banda dan Laut Flores. Deret waktu Arlindo dianalisis variabilitasnya menggunakan filter band-pass dan transformasi wavelet kontinu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Arlindo Banda secara dominan mengalir ke selatan, sedangkan Arlindo Flores mengalir ke timur di sepanjang utara Kepulauan Nusa Tenggara. Struktur vertikal aliran Arlindo mengalami penguatan di kedalaman antara 50 m dan 150 m. Perkiraan total volume transpor selama periode 7 tahun dari kedua jalur Arlindo yang masuk ke Laut Banda bagian barat sebesar 6,27 Sv (±3,81 Sv), yang merupakan kesepakatan baik dengan studi model sebelumnya. Variasi tahunan transpor Arlindo Banda (Flores) maksimum selama musim Barat Laut (Tenggara) dan minimum selama musim Tenggara (Barat Laut). Variabilitas yang mendominasi pada transpor Arlindo Banda ialah periode intra-musiman (ISV) dan semi-tahunan (SAV), sedangkan variabilitas transpor Arlindo Flores didominasi oleh periode tahunan (AV).
Lilik Maslukah, Muhammad Zainuri, Anindya Wirasatriya, Rikha Widiaratih
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 12, pp 385-396; doi:10.29244/jitkt.v12i2.32392

Abstract:
Adsorpsi dan desorpsi merupakan proses penting yang mempengaruhi distribusi bahan kimia di lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pola perubahan konsentrasi ion PO42- terhadap waktu melalui proses simulasi adsorpsi dan desorpsi sedimen perairan Semarang dan Jepara. Melalui proses desorpsi, dapat ditentukan kontribusi masukan ion PO42- oleh sedimen yang ditentukan dari jumlah ion PO42- yang terlepas pada awal sampai pada kondisi maksimum dari proses desorpsi. Penentuan kinetika adsoprsi ditentukan berdasarkan persamaan orde 1 dan 2 serta isoterm adsorpsinya berdasarkan model Langmuir dan Freundlich. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses desorpsi terjadi pada 1 jam pertama dan kontribusi ion PO42- yang dapat dilepaskan oleh sedimen perairan Semarang tiga kali lebih besar dibandingkan dengan sedimen perairan Jepara. Berdasarkan kinetika adsorpsi ion P oleh sedimen dari dua lokasi lebih tepat dijelaskan oleh model persamaan ordo 2 dan isoterm adsorpsinya berdasarkan model Langmuir. Model ini mengasumsikan bahwa kapasitas adsorpsi sebanding dengan jumlah situs aktif yang ditempati oleh ion PO42- dan adsorpsi terjadi dalam satu lapisan sedimen homogen. Sedimen Semarang memiliki kemampuan menyerap zat pencemar (ion P) lebih besar dibandingkan dengan sedimen Jepara dengan nilai kapasitas secara berurutan adalah 11,57 dan 11,2 µmol g-1.
Ani Mardiastuti, Tonny R. Soehartono
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 12, pp 597-607; doi:10.29244/jitkt.v12i2.30944

Abstract:
Banggai cardinalfish (Pterapogon kauderni) is a commercial ornamental fish originated and endemic to Banggai Islands of Indonesia. The objective of this paper was (a) to examine the sequence and the reasons to include Banggai cardinalfish into CITES Appendix II by USA and again by European Union, (b) to explain the responds (policy and actions) by Indonesian Government, and (c) to analyse the impact of the international and national policies related to CITES decisions. Basically, USA and EU claimed that the exploitation of Banggai cardinalfish for export was over-harvested and unsustainable, and thus they proposed to include the species into CITES Appendix II. The Government of Indonesia considered that the species has been appropriately managed in accordance to sustainable yield, and thus this species no need to include in the CITES Appendix II. To ensure its sustainability, the Government has issued a number of activities and interventions, among other, imposing limited access to harvest area, establishment of breeding operations, study of its natural population as well as development of a national action plan. After a long process involving various institutions, Bangai cardinalfish was decided not to be included in CITES Appendix II. Conservation measures, however, need to be continued by Indonesian Government to make sure that the population and the trade of Banggai cardinalfish will be sustainable in the future.
Mudian Paena, Rajuddin Syamsuddin, Chair Rani, Haryati Tandipayuk
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 12, pp 509-518; doi:10.29244/jitkt.v12i2.27738

Abstract:
Pencemaran lingkungan oleh limbah organik mengandung nitrogen (N) dan fosfat (P) yang bersumber dari tambak udang superintensif karena penggunaan pakan yang banyak merupakan masalah serius dalam pengembangan teknologi superintensif di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi jumlah pakan yang terbuang ke lingkungan selama budidaya di tambak superintensifdan untuk mengestimasi jumlah limbah N dan P yang terbuang ke lingkungan dari kegiatan budidaya superintensif. Metode penelitian dilakukan sebanyak 3 tahap; tahap pertama dilakukan pada tambak superintensif selama 76 hari dengan melakukan budidaya udang superintensif dengan kepadatan 600 ekor/m2 selanjutnya dilakukan pengamatan pakan yang terbuang. Tahap kedua adalah melakukan uji kecernaan udang skala laboratorium dan tahap ketiga adalah penelitian ekskresi udang skala laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pakan tidak termakan yang terbuang ke lingkungan dari tambak superintensif sebesar 24,32% dari total pakan yang digunakan. Beban limbah organik dari tambak udang superintensif yang terbuang ke perairan Teluk Labuange sebesar 3,89 ton terdiri dari limbah organik mengandung N sebesar 3,61 ton/tahun dengan rerata buangan ke perairan 10,31 kg/hari, dan limbah organik mengandung P sebesar 0,28 ton/tahun dengan rerata buangan ke perairan 0,81 kg/hari. Hasil ini menunjukkan bahwa perairan Teluk Labuange telah mengalami tekanan limbah organik yang berasal dari kegiatan tambak udang superintensif.
Back to Top Top