Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Journal Information
ISSN / EISSN : 2087-9423 / 2085-6695
Published by: Journal of Consumer Sciences (10.29244)
Total articles ≅ 897
Current Coverage
ESCI
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

, Candra Gudiato, Sri Yulianto Joko Prasetyo, Charitas Fibriani
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 13, pp 219-239; https://doi.org/10.29244/jitkt.v13i2.34771

Abstract:
Community-based ecotourism is an appropriate approach which is effectively preserved mangrove sustainability. As an effort to identify the priority areas of mangrove development, mangrove density levels need to be analyzed. The distribution of mangroves with the lowest average density value needs to be prioritized as a preservation and conservation strategy through community-based ecotourism concept. This article aims to identify the distribution of mangroves using the normalized difference vegetation index (NDVI) model in North Halmahera Regency, Indonesia. Also, discuss the sustainable livelihoods' perspective. This study adopted a mixed-method. Data processing is divided into two stages: first stage, mapping the distribution of mangroves based on density levels; second stage, triangulation. Landsat 8 operational land imager (OLI) in 2013 and 2021 were used as primary data to get the NDVI value, and categorized mangrove density level in Pilawang Cape, Kumo Island, Kakara Island, Maiti Island, and Tagalaya Island. The findings show that Pilawang Cape has the lowest NDVI value. The average NDVI value in 2021 is 0.22 which can be categorized as a rare mangrove forest according to the mangrove standard damage criteria. Thus, Mangrove area in Pilawang Cape needs to be prioritized as a preservation and conservation strategy through community-based ecotourism concept.
Suko Ismi, Deny Suhermawan Yusup, Sephia Anjani
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 13, pp 261-268; https://doi.org/10.29244/jitkt.v13i2.35454

Abstract:
Copepod adalah pakan alami yang memiliki ukuran kecil pada stadia naupli dengan nilai nutrisi yang tinggi. Cocok sebagai pakan awal larva ikan laut dengan bukaan mulut kecil. Tujuan penelitian mengetahui hasil panen copepod dari Genus Acartia sebagai pakan alami pada kultur masal, untuk pakan larva pada produksi benih ikan laut. Penelitian dilakukan pada Tahun 2020, di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan, Gondol-Bali. Penelitian dibagi menjadi 2 tahap, pertama adalah untuk mengetahui pola pertumbuhan copepod sebagai acuan panen pada penelitian ke dua. Copepod dipelihara pada 3 buah toples volume 10 L. Penelitian ke dua untuk mengetahui jumlah copepod yang dipanen pada kultur masal sebagai persedian pakan. Kultur menggunakan 3 bak fiber bervolume 1.000 L. Inokulasi yang diberikan stadia copepodit dengan kepadatan 50 ind/L. Copepod diberi pakan buatan dan dipelihara hingga kepadatan menurun. Berdasarkan pola pertumbuhan kepadatan copepod dari penelitian pertama maka panen copepod penelitian ke dua dimulai hari ke delapan. Hasil panen tertinggi stadia naupli dicapai hari ke tujuh belas dengan kepadatan 184,7 ind/L, stadia copepodit 4,4 ind/L. Hasil kulur copepod tidak cukup dipakai sebagai pakan utama pada produksi larva secara masal dan hanya dapat dipakai sebagai campuran pakan alami untuk menambah nilai nutrisi bagi larva.
Heny Budi Setyorini, Amallia Puspitasari
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 13, pp 283-293; https://doi.org/10.29244/jitkt.v13i2.33654

Abstract:
Kandungan protein dan karbohidrat pada makroalga diperlukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan makroalga di Pantai Sepanjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan protein dan karbohidrat pada makroalga di Pantai Sepanjang, Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2020 di Pantai Sepanjang, Yogyakarta. Materi penelitian ini meliputi makroalga jenis Ulva lactuta, Palmaria palmata, Sargassum crassifolium, Gelidium spinosum, Gelidiella acerosa, dan Gracilaria verrucosa. Sampel makroalga secara purposive sampling pada zona intertidal Pantai Sepanjang. Analisis kandungan protein menggunakan metode Biuret, sedangkan analisis kandungan karbohidrat menggunakan metode by difference. Hasil menujukkan bahwa kandungan protein dan karbohidrat tertinggi terdapat pada G. spinosum di bagian tengah Pantai Sepanjang masing-masing sebesar 3,08% dan 19,38%. Berdasarkan hasil tersebut, G. spinosum memiliki potensi untuk dikembangkan dalam berbagai produk olahan dengan penelitian lebih lanjut.
Desti Nurul Ramadona, Churun Ain, Sigit Febrianto, Suryanti, Nurul Latifah
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 13, pp 319-332; https://doi.org/10.29244/jitkt.v13i2.33770

Abstract:
Peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) terutama karbondioksida (CO2) menyebabkan pemanasan global. Oleh karena itu diperlukan mitigasi emisi CO2 dengan memanfaatkan potensi lamun sebagai penyimpan karbon dalam bentuk biomassa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan lamun jaringan atas dan jaringan bawah dalam menyimpan karbon di perairan Pantai Pokemon pada Agustus 2020. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei dan deskriptif eksploratif. Sampel diambil dari 3 stasiun pengamatan dengan line dan kuadrant transect menggunakan metode purposive sampling. Pengukuran parameter kualitas perairan dilakukan secara insitu. Analisis simpanan karbon lamun diukur menggunakan metode pengabuan atau loss on ignition (LOI). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Halophila ovalis dengan jenis T. hemprichii yang mendominasi. Total kerapatan sebesar 295,62 ind/m2 dan total penutupan yaitu 21,29%. Biomassa secara keseluruhan sebesar 74,42 gbk/m2 dengan biomassa jaringan atas sebesar 35,80 gbk/m2 dan jaringan bawah sebesar 38,62 gbk/m2. Simpanan karbon sebesar 0,23 ton C/ha dengan jaringan atas sebesar 0,10 ton C/ha dan jaringan bawah 0,13 ton C/ha. Total stok karbon mencapai 1,13 ton C dalam luasan padang lamun sebesar 4,903 ha dengan stok karbon jaringan atas bernilai 0,51 ton C dan jaringan bawah sebesar 0,62 ton C. Secara umum lamun jaringan bawah di Pantai Pokemon lebih besar menyimpan karbon.
Aswin, Ario Damar, Gatot Yulianto
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 13, pp 305-318; https://doi.org/10.29244/jitkt.v13i2.33636

Abstract:
Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir dengan tingkat produktivitas yang tinggi, sehingga keberadaannya dapat memperkaya kawasan pesisir dan menjaga keseimbangan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perubahan luasan dan sebaran ekosistem mangrove dalam kurun waktu 20 tahun, yakni dari tahun 2000 sampai dengan 2020 dan untuk mengetahui kondisi vegetasi ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga April 2020 di Pulau Tanakeke. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling. Analisis perubahan luasan ekosistem mangrove dari tahun 2000 sampai 2020 menggunakan metode supervised classification dengan analisis maximum likelihood, sedangkan kondisi vegetasi ekosistem mangrove menggunakan metode analisis indeks nilai penting (INP) dan indeks keanekaragaman jenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke dari tahun 2000 sampai 2020 mengalami degradasi seluas -337,41 ha (28,32% dari luas tahun 2000). Pada lokasi penelitian ditemukan 9 jenis mangrove, yaitu Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Phemphis acidula, Lumnitzera racemosa dan Ceriops decandra. Mangrove jenis Rhizophora mucronata memiliki indeks nilai penting tertinggi yaitu sebesar 192,55%, sementara untuk keanekaragaman jenis secara umum tergolong rendah.
Rahmat Sawalman, Neviaty Putri Zamani, Shinta Werorilangi, Meutia Samira Ismet
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 13, pp 241-259; https://doi.org/10.29244/jitkt.v13i2.34587

Abstract:
Mikroplastik (MP) telah ditemukan di berbagai lingkungan laut khususnya pada ikan, dan informasi terkait akumulasi mikroplastik pada organ-organ ikan masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan keberadaan mikroplastik pada organ insang, saluran pencernaan, dan daging ikan ekonomis penting (Hemiramphus far, Siganus virgatus, dan Lethrinus lentjan) di perairan Pulau Barranglompo, Makassar, serta mengidentifikasi karakteristik mikroplastik meliputi warna, bentuk, dan ukuran. Setiap organ diekstraksi menggunakan KOH 20% dan pengamatan karakteristik MP dilakukan secara visual menggunakan mikroskop stereo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukan di insang, saluran pencernaan, dan daging dari ketiga spesies ikan. Tingkat deteksi mikroplastik pada masing-masing H. far, S. virgatus, dan L. lentjan adalah 100%, 100%, dan 82%. Karakteristik warna mikroplastik didominasi oleh biru, bentuk mikroplastik didominasi oleh line, dan kisaran ukuran mikroplastik didominasi 1–5 mm. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk melihat akumulasi mikroplastik pada setiap organ secara eksperimental di laboratorium.
Emilio De la Rosa, Mennofatria Boer, Taryono, Handoko Adi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 13, pp 345-360; https://doi.org/10.29244/jitkt.v13i2.35824

Abstract:
Territorial Use Rights for Fisheries-Reserve (TURF-Reserve) adalah salah satu bentuk dari pendekatan pengelolaan sumber daya perikanan berbasis hak yang dapat meningkatkan efektivitas dan upaya konservasi ekosistem terumbu karang di kawasan konservasi perairan (KKP). Dewan Adat Suku Maya dan masyarakat adat di Teluk Mayalibit mendeklarasikan Kelola Perikanan Adat (KPA), suatu bentuk pengelolaan sumber daya perikanan yang mengombinasikan hak ulayat laut, kearifan ekologi tradisional, dan prinsip-prinsip TURF-Reserve. Tujuan penelitian ini adalah mengukur kondisi kesehatan ekosistem terumbu karang untuk melihat efektivitas KPA dalam menjaga kondisi ekosistem terumbu karang di Teluk Mayalibit. Penelitian ini menggunakan metode Point Intercept Transect (PIT) dan transek sabuk ikan untuk mengumpulkan data kesehatan terumbu karang. Kondisi ekosistem terumbu karang diukur menggunakan lima indikator dengan ambang batas ekologi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai biomassa ikan karang dan proporsi biomassa ikan herbivor dari kondisi sebelumnya, hal ini mengindikasikan ekosistem terumbu karang yang sehat. Nilai rasio makroalga: karang keras hidup serta rasio fished: unfished yang menurun jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya mengindikasikan ekosistem terumbu karang yang berstatus moderat. Berdasarkan hasil analisis, disimpulkan bahwa ekosistem terumbu karang di Teluk Mayalibit masih berada dalam kondisi yang sehat dan aktivitas perikanan karang masih terkendali di dalam batas yang mendukung kelestarian. Hal ini memberikan indikasi bahwa KPA masih efektif dalam menjaga kondisi ekosistem terumbu karang dan membantu upaya konservasi serta pengelolaan sumber daya perikanan karang di Teluk Mayalibit.
Dietriech Geoffrey Bengen
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 13; https://doi.org/10.29244/jitkt.v13i2.37536

Wa Ode Nur Asma La Dia Nur, Wayan Kantun, Arnold Kabangnga
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 13, pp 333-343; https://doi.org/10.29244/jitkt.v13i2.34871

Abstract:
Pencemaran plastik memiliki efek terhadap perairan laut dan terbatasnya informasi mengenai dampak terhadap saluran pencernaan ikan migrasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan mikroplastik pada sistem pencernaan ikan yang terletak pada bagian usus dan identifikasi jenis polimer mikroplastik pada daging ikan tuna mata besar yang didaratkan di pelabuhan ikan Wakatobi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2020 di Kabupaten Wakatobi. Proses identifikasi kandungan mikroplastik pada usus ikan tuna mata besar dilakukan dengan 4 tahap, yaitu (1) tahap pembedahan ikan, (2) pemisahan densitas, (3) penghilangan senyawa organik, (4) pengamatan visual. Identifikasi jenis polimer mikroplastik pada daging ikan tuna mata besar dianalisis menggunakan fourrier trasform infrared (FTIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat mikroplastik pada usus ikan tuna mata besar berjumlah dua belas partikel dengan tipe mikroplastik berupa fiber berwarna biru, cokelat dan merah. Ukuran mikroplastik yang ditemukan yaitu 0,701-4,305 mm. Hasil analisis FTIR pada daging ikan menunjukkan senyawa polyethylene ditandai dengan adanya ikatan C=O stretch.
Alex Retraubun, Winster Larwuy, Ong T. S. Ongkers
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 13, pp 295-304; https://doi.org/10.29244/jitkt.v13i2.37543

Abstract:
Ikan selar adalah sumberdaya perikanan pelagis kecil yang potensial di perairan teritorial Indonesia dan berada di Provinsi Maluku, khususnya di perairan Seram Barat. Penelitian ini dilakukan di perairan Seram Barat, Maluku, dari bulan Maret 2018 sampai Februari 2019. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari kondisi stok ikan Selar (Selar crumenopththalmus) didasarkan pada dinamika populasi dari distribusi frekuensi panjang. Contoh ikan dikoleksi tiap bulan di tempat pendaratan dari nelayan lift net. Total 1890 individu dikoleksi selama penelitian kecuali bulan Juni yang terdiri dari 925 jantan dan 965 betina dengan panjang berkisar dari 13,3 cm sampai 27,2 cm yang terdiri dari 2 dan 3 kelompok umur tiap bulan. Kondisi stok ikan selar didasarkan pada analisis hasil per penambahan individu baru menunjukkan bahwa stok masih di bawah tingkat MSY (0,03 dari 0,047) yang diperoleh dari L∞= 27,40 cm, K= 1,55/yr, Z= 3,66/tahun, M= 2,51/tahun, F= 1,15/tahun, E= 0,32/tahun, Lc (panjang utk pertama kali tertangkap)= 19,92 cm and t0= -0,10/ yr. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai Lc ikan selar di Perairan Seram Barat akan semakin selektif dan sebaliknya.
Back to Top Top