Jurnal Ilmu Perilaku

Journal Information
EISSN : 2581-0421
Published by: Universitas Andalas (10.25077)
Total articles ≅ 31
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Aria Saloka Immanuel, Adijanti Marheni, Komang Rahayu Indrawati, Ni Luh Indah Desira Swandi, Made Padma Dewi Bajirani
Published: 8 January 2022
Jurnal Ilmu Perilaku, Volume 5, pp 138-158; https://doi.org/10.25077/jip.5.2.138-158.2021

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kondisi kesehatan mental mahasiswa melalui desain penelitian cross-sectional survey. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan open-ended questionnaire, perceived stress scale-10 (PSS-10), dan the Brief COPE Questionnaire. Hasil penelitian menemukan bahwa: 1) permasalahan kehidupan kampus, perasaan dan pikiran negatif, serta permasalahan relasi merupakan situasi sulit yang dihadapi oleh mahasiswa; 2) sebanyak 50.45% mahasiswa mengalami stres pada kategori sedang, 45.05% mengalami stres pada kategori tinggi, dan 4.5% mengalami stres pada kategori rendah; 3) strategi koping dapat memprediksi stres secara signifikan [F(14,96)=5.781; p<0.001]; dan 4) strategi koping jenis positive reframing dan active coping dapat memprediksi penurunan stres, sedangkan strategi koping jenis self-blame dan self-distraction dapat memprediksi peningkatan stres
Nurul Adabina, Eko Handayani
Published: 7 January 2022
Jurnal Ilmu Perilaku, Volume 5, pp 174-192; https://doi.org/10.25077/jip.5.2.174-192.2021

Abstract:
Abstrak. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan hidup remaja adalah komunikasi dengan orang tua. Tuntutan pekerjaan yang seringkali menyulitkan orang tua untuk berkomunikasi dengan remaja dapat diminimalisir dengan komunikasi online. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komunikasi online orang tua-anak terhadap kepuasan hidup remaja dengan kedua orang tua bekerja. Partisipan terdiri dari 106 remaja berusia 10-15 tahun dengan kedua orang tua bekerja. Komunikasi online orang tua-anak diukur menggunakan instrumen hasil modifikasi alat ukur Online Parent-Child, sedangkan Satisfaction with Life Scale Adapted for Children digunakan untuk mengukur kepuasan hidup. Hasil penelitian menemukan adanya pengaruh yang signifikan dari komunikasi online orang tua-anak terhadap kepuasan hidup remaja yang memiliki orang tua bekerja. Selain itu, hasil yang sama juga ditemukan pada remaja laki-laki dan perempuan yang memiliki kedua orang tua bekerja. Orang tua perlu memaksimalkan komunikasi online dengan remaja selama berada di tempat kerja karena komunikasi online memberikan kesan bahwa orang tua mendukung mereka, sehingga dapat meningkatkan kepuasan hidup remaja.
Lutfi Arya, Wanda Rahma Syanti
Published: 7 January 2022
Jurnal Ilmu Perilaku, Volume 5, pp 193-207; https://doi.org/10.25077/jip.5.2.193-207.2021

Abstract:
Abstract. Bullying has become one of the most common violent behaviors among adolescentsworldwide. The current study examined the relationship between family functioning, happiness at school, and self-esteem with bullying among adolescents. A total of 121 adolescents (45 males and 76 females) aged between 12 – 15 years were recruited through simple random sampling. The measuring instruments were the Family Functioning in Adolescence Questionnaire (FFAQ), School Children’s Happiness Inventory (SCHI), Self-Esteem Scale (SSC), and Multidimensional Peer Victimization Scale (MPVS). Data were analyzed with multiple correlation techniques. The results showed that family functioning, happiness at school, and self-esteem were simultaneously correlated with bullying with negative direction. These findings have shown the importance of the roles of family and school to prevent bullying acts among adolescents.
Daniswara Agusta Wijaya, Endang Widyorini, Emiliana Primastuti, Jemerson Dominguez
Published: 31 July 2021
Jurnal Ilmu Perilaku, Volume 5, pp 1-20; https://doi.org/10.25077/jip.5.1.1-20.2021

Abstract:
The marital dissolution as a traumatic event for children and adolescents might yield different outcomes for each adolescent. Previous studies suggested that adolescents who have high resilience tend to experience positive changes / post- traumatic growth following traumatic events, which results in higher well-being. Hence, it is necessary to conduct research about resilience and post-traumatic growth as predictors of psychological well-being among adolescents who have been through their parents’ marital dissolution. The recent study aims to investigate the relations among those variables. A total of 56 participants (mean age: 15.27; 66.1% female) who lived in Semarang completed three measurements. Correlational, t-test, and path analysis were applied. The result suggests that both resilience and post-traumatic growth significantly and positively correlated toward psychological well-being. Furthermore, post-traumatic growth was found to have a significant partial mediating effect on the relationship between resilience and psychological well-being. These findings suggest that though promoting resilience could improve the psychological well-being of adolescents who have been through their parents’ marital dissolution, clinicians need to ensure that adolescents experience post-traumatic growth through cognitive therapy or counseling sessions to achieve better psychological well-being.
Maya Khairani, Rizanna Rosemary, Risana Rachmatan, Lely Safrina
Published: 31 July 2021
Jurnal Ilmu Perilaku, Volume 5, pp 76-91; https://doi.org/10.25077/jip.5.1.76-91.2021

Abstract:
He lack of media information about Schizophrenia in Aceh explains caregivers’ limited understanding of mental disorders. Research on patient discharge systems found that communication media about Schizophrenia were still limited, mostly in the form of posters, flyers, or booklets. There was no specific information about the mental illness needed by the family or caregivers after the patient's discharged from the hospital. This study aims to develop and test a communication medium that can support the recovery process of post-discharge patients from the Mental Health Hospital or Rumah Sakit Jiwa (RSJ) in Aceh. This action research was carried out through focus group discussions (FGDs), interviews, and surveys to health practitioners (mental health nurses, psychiatrists, psychologists, community leaders) and family or caregivers of Patients with Schizophrenia (PWS). The study found that messages about Schizophrenia which are developed through a community-based approach are likely to be better accepted than the expert-led information.
Tiara Diah Sosialita, Hamidah Hamidah
Published: 1 January 2021
Jurnal Ilmu Perilaku, Volume 4, pp 154-169; https://doi.org/10.25077/jip.0.0.154-169.0

Abstract:
Abstrak. Penelitian ini merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian terdahulu, yaitu pemberian intervensi pada penderita diabetes mellitus tipe 2. Pada penelitian ini intervensi dilakukan terhadap caregiver yang menjadi keluarga penderita penyakit kronis tersebut, sebagai solusi atas umpan balik dari keluarga dan tenaga kesehatan bahwa stres juga dialami oleh caregiver. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi fenomena stres yang dialami oleh caregiver penyakit kronis yang kondisinya pun rentan mengalami stres, akan tetapi tetap dituntut untuk berperan optimal dalam merawat anggota keluarganya. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah menguji efektivitas manajemen stres untuk menurunkan tingkat stres pada caregiver penyakit kronis dengan menggunakan desain eksperimen one group pretest-posttest design pada 20 orang caregiver. Instrumen pengambilan data menggunakan kuesioner skala Perceived Stress Scale (PSS) dari Cohen. Analisis data menggunakan paired sample t-test dengan software SPSS 20 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat stres sebelum dan sesudah pemberian intervensi manajemen stres. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa manajemen stres yang diberikan efektif untuk menurunkan stres pada caregiver penyakit kronis. Kata kunci: Caregiver; manajemen stres; penyakit kronis
Putri Rahmawati, Edilburga Wulan Saptandari
Published: 1 January 2021
Jurnal Ilmu Perilaku, Volume 4, pp 120-134; https://doi.org/10.25077/jip.4.2.120-134.2020

Abstract:
Regulasi emosi merupakan hal yang penting dalam interaksi sosial siswa. Sekolah inklusi yang memfasilitasi keberagaman dapat meningkatkan terjadinya konflik antar siswa. Konflik terjadi karena kurangnya keterampilan dalam mengatur emosi. Oleh karena itu guru memiliki tugas dalam mendukung perkembangan regulasi emosi siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji secara empirik peran persepsi siswa atas keterampilan sosial-emosional guru terhadap regulasi emosi siswa sekolah inklusi. Partisipan penelitian ini adalah 109 siswa dengan rentang usia 9-13 tahun dari tiga sekolah dasar inklusi di Kota Yogyakarta. Metode yang digunakan yaitu survei dengan menyebarkan skala secara langsung. Persepsi siswa atas keterampilan sosial-emosional guru diukur dengan Teacher Social and Emotional Practice – Student Perspective, sedangkan regulasi emosi diukur dengan skala regulasi emosi. Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mengukur peran persepsi siswa atas keterampilan sosial-emosional guru terhadap regulasi emosi. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi siswa atas keterampilan sosial-emosional guru memiliki peran yang positif terhadap regulasi emosi siswa sekolah inklusi. Ketika siswa mempersepsikan guru memiliki keterampilan sosial-emosional yang tinggi maka regulasi emosi siswa juga cenderung akan tinggi.
Alfina Rizkia, Chandradewi Kusristanti
Published: 1 January 2021
Jurnal Ilmu Perilaku, Volume 4, pp 104-119; https://doi.org/10.25077/jip.4.2.104-119.2020

Abstract:
The number of violent incidents on women is increasing every year in Indonesia. Some women can survive through traumatic experiences, and it is related to their resilience. Locus of control (LoC) is known to contribute to resilience by enhancing individuals’ self- control and problem-solving behavior. This study aims to determine the role of LoC in trauma resilience among 134 young women (20 – 40 years old) who were exposed to violence (domestic, physical, and sexual) and a minimum of high school education. This study used a quantitative approach with the Locus of Control Scale (α = 0.732, 18 items) and the Trauma Resilience Scale (α = 0.961, 48 items). Two hypotheses are proved in this study: (1) external LoC significantly contributes to trauma resilience (p = .000, R2 = .139), (2) there is a significant difference between violence exposure (<.001), perpetrators (.005), and disclosure to others about their experience of violence (.009). We also found that no participants reported a dominant internal LoC, so future studies are advised to focus on women who were exposed to violence with a more dominant internal LoC.
, Kadek Dilan Ari Rahayu, Supriyadi -
Published: 27 July 2020
Jurnal Ilmu Perilaku, Volume 4, pp 1-19; https://doi.org/10.25077/jip.4.1.1-19.2020

Abstract:
Love is an indispensable part of human life, and this study specifically investigated the expression of feeling loved. This study aims to explore the association between couples’ feeling loved and different components of wellbeing. We constructed a continuous rating scale to measure couples’ feeling loved and its contribution toward life satisfaction and positive affect. There were 252 couples participated in this study. To examine the measurement’s consistency, this study compared the continuous rating scale of feeling loved with its Likert scale and rating scale counterpart. This study also investigated the role of feeling loved towards the scores of positive affect and life satisfaction as the components of wellbeing. Actor partner interdependence model and linear regression results showed that feeling loved was positively contributed to life satisfaction and positive affect; however, there was no significant interactive effect within partner. This study suggested feeling loved influenced wellbeing, although other predictors may play more prominent roles in determining wellbeing. Keywords: love, feeling loved, wellbeing
Agus Abdul Rahman
Published: 31 December 2019
Jurnal Ilmu Perilaku, Volume 3, pp 110-117; https://doi.org/10.25077/jip.3.2.110-117.2019

Abstract:
Salah satu faktor yang mendorong remaja terlibat dalam perilaku anti-sosial adalah kekurangmampuan mereka dalam mengontrol perilaku (low behavioral selfcontrol). Dalam rangka mengurangi keterlibatan remaja dalam perilaku anti-sosial tersebut, penting diidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan behavioral selfcontrol remaja. Ada banyak faktor yang diduga berpengaruh terhadap behavioral self control, antara lain adalah mindfulness. Penelitian ini ditujukan untuk menguji sejauhmana pengaruh mindfulness terhadap behavioral self control. Jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak 243 orang siswa di salah satu sekolah yang ada di propinsi Jawa Barat. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif mindfulness terhadap behavioral self control. Aspek behavioral self control yang paling terpengaruh oleh mindfulness adalah aspek becoming aware.
Back to Top Top