Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar

Journal Information
ISSN / EISSN : 2356-1297 / 2528-7222
Total articles ≅ 149
Filter:

Latest articles in this journal

Yulius Ferry, Bariot Hafif, Kurnia Dewi Sasmita
Jurnal Tanaman Industri Dan Penyegar, Volume 9, pp 33-44; https://doi.org/10.21082/jtidp.v9n1.2022.p33-44

Abstract:
Ketebalan gambut bervariasi sesuai dengan umur serta jaraknya dari aliran sungai. Ketebalan gambut sangat berhubungan dengan kandungan unsur hara, daya beban lahan, dan kedalaman aras air sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat tanah gambut, pertumbuhan dan produksi tanaman kopi liberika pada beberapa ketebalan gambut. Penelitian dilakukan di desa Mekar Jaya Kecamatan Betara Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Penelitian dirancang sesuai dengan rancangan acak kelompok, dengan 4 perlakuan yaitu ketebalan: (T1) <50 cm, (T2) 50-75 cm, (T3) 76-100 cm, dan (T4) 101-125 cm, dengan jumlah ulangan 6 kali dan ukuran plot 2 x 5 pohon (10 pohon) (90 m2). Pengamatan meliputi laju subsiden, sifat kimia tanah, tinggi tanaman, jumlah cabang/tanaman, lilit batang, lebar tajuk, jumlah dompol buah/cabang, jumlah buah/dompol, jumlah buah/tanaman, dan bobot 100 biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ketebalan 101-125 cm memiliki tingkat subsiden yang paling tinggi (4,3 cm/tahun) dan pH paling rendah (3,49). Pertumbuhan dan produksi kopi Liberika terbaik dicapai pada gambut dengan ketebalan 51-75 cm dengan produksinya mencapai 1195,4 buah/pohon/tahun atau 1,37 ton biji/ha/tahun Pada ketebalan 101-125 cm, pertumbuhan vegetatif terhambat dan produksinya paling rendah yaitu sebesar 602,1 buah/pohon/tahun atau 0,56 ton biji/ha/tahun.
Fransiscus Xaverius Mario Jevta, Ahmad Thoriq, Kralawi Sita, Rizky Mulya Sampurno
Jurnal Tanaman Industri Dan Penyegar, Volume 9, pp 45-56; https://doi.org/10.21082/jtidp.v9n1.2022.p45-56

Abstract:
Pemetikan daun teh secara mekanis dengan gunting atau mesin pemetik selain dapat mengatasi kekurangan tenaga kerja, juga dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi sistem panen. Proses pemanenan teh dipengaruhi oleh alat pemetikan, kemiringan lahan, waktu pemetikan, luas areal petik, bobot hasil panen teh dan variabel lainnya yang bersifat dinamis. Peramalan hasil panen yang dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan model dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbandingan antara hasil pemanenan teh dengan menggunakan gunting petik dan menggunakan mesin petik, menganalisis faktor-faktor yang menentukan hasil panen teh, dan menentukan skenario yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas pemanenan teh. Data lapang dikumpulkan pada musim kemarau dari beberapa blok pada afdeling Gambung Selatan dan Gambung Utara. Data yang dikumpulkan untuk pengolahan data menjadi model dinamis sistem pemanenan teh adalah kemiringan lahan, waktu pemanenan, panjang lintasan pemetikan, lebar pemetikan, dan bobot hasil panen teh. Data yang telah dikumpulkan diolah menjadi sebuah model dinamis sistem pemanenan teh berupa diagram stock and flow menggunakan perangkat lunak komputer bernama Vensim dengan skenario perubahan alat petik, kemiringan, dan persentase mutu. Model dinamis yang dihasilkan akan menunjukkan besarnya produktivitas pemanenan teh berdasarkan waktu dan kondisi lahan sehingga dapat menentukan alat pemanenan mekanis yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan perbandingan produktivitas rata-rata dengan mesin petik sebesar 47,829 kg/JOK yang lebih besar 3,4 kali dari gunting yang sebesar 14,007 kg/JOK. Faktor pengungkit untuk meningkatkan kinerja sistem pemanenan adalah jenis alat pemetikan sehingga skenario yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas pemanenan teh adalah dengan penggunaan alat petik mesin.
Yusya' Abubakar, Dian Hasni, Siti Agustina Wati
Jurnal Tanaman Industri Dan Penyegar, Volume 9, pp 1-14; https://doi.org/10.21082/jtidp.v9n1.2022.p1-14

Abstract:
Kualitas biji dan citarasa kopi Arabika Gayo dipengaruhi oleh ketinggian tempat tumbuh dan kondisi kematangan buah. Kematangan buah kopi yang dipanen sering bercampur dan dikhawatirkan akan memengaruhi mutu dan citarasa kopi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kualitas buah kopi Arabika yang berasal dari ketinggian tempat yang berbeda dengan kualitas kopi beras dan seduhannya. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Aceh Tengah, bulan April-Juni 2021. Penelitian dilakukan melalui wawancara kepada petani dan pengepul, serta mengamati kualitas buah merah, mutu fisik, dan mutu seduhan (SCAA) kopi yang berasal dari tiga ketinggian tempat yang berbeda, yaitu 1000-1200 m dpl (E1), 1201-1400 m dpl (E2), dan 1401-1600 m dpl (E3). Penelitian dirancang berdasarkan Rancangan Acak Kelompok nonfaktorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian tempat tumbuh berpengaruh terhadap kualitas buah yang dipanen. Semakin tinggi tempat tumbuh maka semakin menurun persentase buah rusak dan semakin tinggi kualitas kopi berasnya. Hasil cupping test menunjukkan kualitas kopi termasuk specialty dengan skor rata-rata 82,67 + 0,98. Kopi dari lokasi yang lebih tinggi mempunyai skor atribut fragrance, flavor, dan acidity yang lebih tinggi. Analisis korelasi menunjukkan adanya korelasi positif kuat antara persentase buah kopi rusak dengan nilai cacat kopi beras, korelasi positif moderat antara persentase buah mengapung dengan nilai cacat kopi beras dan korelasi positif lemah antara persentase buah hijau dengan skor total cup test. Hasil penelitian mengidikasikan perlunya meningkatkan pemahaman kepada petani untuk hanya memanen kopi Arabika yang sudah berwarna merah.
Cici Tresniawati, Sakiroh Sakiroh, Nur Kholis Firdaus, Dibyo Pranowo
Jurnal Tanaman Industri Dan Penyegar, Volume 9, pp 15-22; https://doi.org/10.21082/jtidp.v9n1.2022.p15-22

Abstract:
Kopi Robusta diperbanyak secara klonal (vegetatif) melalui setek satu ruas. Pertumbuhan setek dipengaruhi oleh sumber bahan tanam (umur dan nomor ruas) dan faktor genetik. Penggunaan hormon alami dapat menjadi alternatif selain hormon berbahan dasar kimia. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Pakuwon dan Laboratoriun Terpadu Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Sukabumi, Jawa Barat, mulai bulan September sampai dengan Desember 2020. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui respons pertumbuhan setek enam klon kopi Robusta akibat dari perbedaan perlakuan nomor ruas dan hormon tumbuh yang digunakan. Penelitian menggunakan rancangan split split plot dengan dua ulangan. Petak utama adalah enam jenis klon kopi Robusta (BP 308, BP 913, BP 436, SA 237, BP 358, dan BP 936), anak petak adalah tiga jenis hormon: Root-Up 5%, ekstrak bawang merah 100%, dan pasta bawang merah, dan anak anak petak adalah nomor ruas entres (1, 2, 3, dan 4). Peubah yang diamati meliputi: tinggi tunas per setek, jumlah tunas per setek, jumlah ruas per setek, jumlah daun per setek, panjang akar primer, jumlah akar primer, dan persentase setek hidup. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara jenis klon, jenis hormon, dan nomor ruas. BP 308 memiliki panjang akar primer dan jumlah akar primer tertinggi dibandingkan dengan klon lainnya. Zat pengatur tumbuh kimia merangsang pertumbuhan tunas, jumlah akar, dan jumlah daun lebih tinggi dari larutan ekstrak dan pasta bawang. Nomor ruas berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas dan panjang akar. Interaksi klon dengan nomor ruas memengaruhi tinggi tunas, jumlah akar primer, dan persentase hidup setek.
Iing Sobari, Nur Kholis Firdaus, Dibyo Pranowo, Edi Wardiana
Jurnal Tanaman Industri Dan Penyegar, Volume 9, pp 23-32; https://doi.org/10.21082/jtidp.v9n1.2022.p23-32

Abstract:
Kopi Liberika (Coffea liberica Bull ex Hiern) tergolong kopi Liberoid yang memiliki ukuran buah lebih besar daripada kopi Arabika dan Robusta. Setiap jenis kopi Liberoid memiliki ukuran biji yang beragam dari yang berukuran kecil, sedang, hingga besar. Oleh karena itu, diperlukan informasi tentang ukuran benih yang optimal untuk perbanyakan kopi Liberoid secara generatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran klas benih terhadap perkecambahan dan pertumbuhan benih kopi Liberoid Meranti. Penelitian dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Pakuwon, Sukabumi, mulai bulan Januari sampai September 2021. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap, yaitu tahap persemaian awal dan persemaian utama, dengan rancangannya masing-masing adalah rancangan petak terpisah yang diulang 5 kali. Sebagai petak utama adalah 2 jenis kopi Liberoid Meranti yaitu LIM 1 dan LIM 2, sedangkan sebagai anak petak adalah 3 ukuran klas benih yaitu ukuran kecil, sedang, dan besar. Pengamatan dilakukan terhadap proses perkecambahan dan pertumbuhan benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa viabilitas, pertumbuhan tinggi, dan diameter batang benih dipengaruhi oleh interaksi antara jenis kopi dengan ukuran benih, sedangkan panjang hipokotil dan panjang akar dipengaruhi oleh perbedaan ukuran benih. Untuk meningkatkan keberhasilan perbanyakan benih melalui biji, maka untuk kopi LIM 1 sebaiknya menggunakan benih yang berukuran sedang sampai besar (0,51-0,70 g/benih), sedangkan untuk LIM 2 sebaiknya menggunakan benih yang berukuan kecil (0,56-0,62 g/benih).
Enny Randriani, Elsera Br Tarigan, Edi Wardiana
Jurnal Tanaman Industri Dan Penyegar, Volume 8, pp 109-120; https://doi.org/10.21082/jtidp.v8n3.2021.p109-120

Abstract:
In general, Kobura coffee farmers in South Ogan Komering Ulu (OKU) harvest coffee with the criteria of red fruit and a mixture of red and green, while the processing method is a dry process. However, the sensory attributes of these activities are not yet known. This study aims to map the sensory qualities of Kobura coffee at the farmer level based on differences in harvesting and processing methods. The research was carried out in Banding Agung District, South OKU Regency, and the Coffee and Cocoa Bioindustry Laboratory, Balittri, Sukabumi, from March to December 2019. The design used was a completely randomized design with 3 treatment factors and two replications. The first factor was three clones of Kobura coffee (Kobura 1, 2, 3), the second factor was two harvesting methods (red and mix of red + green fruit), and the third factor is two processing methods (dry and wet). The variable observed were the sensory attributes analyzed by multivariate analysis of variance, principal component analysis, cluster analysis, and path analysis. The results showed that the harvesting and processing methods of Kobura coffee at the farmer level in South OKU did not significantly affect the sensory. Furthermore, each cluster's harvesting and processing methods were evenly distributed because the proportion between red and green fruit was not clearly identified in the mixed fruit harvest. Superior genetic and optimal altitude factors make Kobura coffee categorized into Fine Robusta with a final score of 81.13-85.75. The final score is directly and dominantly influenced by mouthfeel (body), flavor, overall, and fragrance, respectively.
Meynarti Sari Dewi Ibrahim, Indah Sulistiyorini
Jurnal Tanaman Industri Dan Penyegar, Volume 8, pp 151-164; https://doi.org/10.21082/jtidp.v8n3.2021.p151-164

Abstract:
Studying the fruit age and proper media formulation is one of the important stages in embryo culture of coffee. The data is highly benefical, especially in saving embryos generated from intra- and inter-species crosses that fall prematurely or experience problems in germination. The aim of this study was to determine the suitable age and media formulation for embryo culture of Arabica, Robusta, and Liberica coffee. The study was conducted at the Tissue Culture Laboratory, Indonesian Industrial and Beverage Crops Research Institute from January 2019 to November 2020. Murashige and Skoog (MS) media with growth regulators adapted to embryonic development were used in this study. The three types of coffee divided into 5 groups, namely pinhead, immature, early mature, almost mature, mature, and used as planting material. The research was designed in a completely randomized design with 10 replications, and media formulation as a treatment. The results showed that embryo culture of the three coffee species was conducted successfully, except for pinhead fruit. The older the cultured fruit, the higher the percentage of germination. There is a difference in germination time between the three coffee species. The medium for embryo culture should be adjusted with the age of the fruit being cultured. Aside from growing embryos, the cultured mature fruit embryos on MS medium given 0.5 mg/l BA can also be used for propagation by utilizing the secondary somatic embryos formation.
Elsera Br Tarigan, Febriska Ditiea Utami, Nura Malahayati, Eko Heri Purwanto
Jurnal Tanaman Industri Dan Penyegar, Volume 8, pp 121-128; https://doi.org/10.21082/jtidp.v8n3.2021.p121-128

Abstract:
Cocoa bean shells (Theobroma cacao L.) are by-products of cocoa beans processing and are considered waste. However, cocoa bean shells are potential antioxidants due to their content of bioactive compounds. This study aimed to: (1) determine the polyphenol content of cocoa bean shell extract using three types of solvents, and (2) determine the effect of adding cocoa bean shell extract on changes in the quality of cocoa butter. This research was conducted at the Integrated Laboratory of Balittri, Sukabumi, West Java, from December 2020 to January 2021. This study used a completely randomized design (CRD) with several solvents: metanol 80%, ethanol 96%, and ethyl acetate 96%. Three extracts solutions were applied to cocoa butter stored for 12 months (control) with a volumes factor: 0,5; 1,5; and 2,5 ml/50 ml cocoa butter. The results showed that the total polyphenol value and antioxidant capacity of cocoa bean shells extract in ethanol and methanol solvents were not significantly different. The extract using methanol solvent had the highest total polyphenol value and antioxidant capacity compared to the other two solvents, 29,27±2,45 mgGAE/g and 19,55±5,52 mgGAEAC/g, respectively. The types of solvent were not significantly different in reducing acid number and peroxide value, but increasing the volume of cocoa bean shell extract reducing the acid number and peroxide values. The addition of 2.5 ml extract to cocoa butter that has been stored for 12 months could reduce the acid number and peroxide to below the value of fresh cocoa butter.
Aldicky Faizal Amri, Muhammad Taqiyuddin, Windi Atmaka, Ervika Rahayu Novita Herawati
Jurnal Tanaman Industri Dan Penyegar, Volume 8, pp 173-182; https://doi.org/10.21082/jtidp.v8n3.2021.p173-182

Abstract:
Coffee is one of the most widely distributed and consumed beverages in the world. In general, coffee is brewed using hot water, but as the coffee industry develops, cold water also can be used for the coffee brewing process. This brewing technique is known as cold brew. There is little information regarding the characteristics of cold brew coffee. Therefore it is necessary to study the characteristics of cold brew beverages, especially with local Indonesian coffee as its main ingredient. This research used Menoreh Arabica coffee as its main research object. This study aimed to determine the physicochemical and sensory characteristics of Menoreh Arabica coffee with cold brew brewing techniques. This research begins with roasting coffee into three types, which is light (T = 193 oC, t = 5 minute), medium (T = 208 oC, t = 7 minute), and dark (T = 223 oC, t = 13 minute). Furthermore, the coffee is grinded into two types grind size (medium and coarse). Samples of cold brew formulation were made with an extraction time of 8 hours. The sensory analysis is conducted based on the SCA method. Sensory data analysis was done to determine the three best formulations according to roast profiles, continued with the physicochemical analysis. The best cold brew sample obtained from this research was medium-coarse Arabica Menoreh coffee, with the highest sensory parameters values in aroma, acidity, aftertaste, and sweetness. The value of pH, chlorogenic acid, and some organic acids affect acidity. Lactic acid affects body value, and caffeine levels were relatively stable in each sample. This research result can be used as a reference for product diversification of Arabica Menoreh coffee.
Rita Harni, Khaerati Khaerati, Edi Wardiana
Jurnal Tanaman Industri Dan Penyegar, Volume 8, pp 129-140; https://doi.org/10.21082/jtidp.v8n3.2021.p129-140

Abstract:
Colletotrichum leaf fall disease caused by Colletotrichum gloeosporioides is an important disease in rubber plants. The C. gloeosporioides Infection can reduce production by 7%-45%. Controlling the pathogen using endophytic fungi is very promising because it can suppress inoculum and pathogen colonization, induce plant resistance, and trigger plant growth. The study aimed to evaluate the endophytic fungus isolate from rubber to control C. gloeosporioides as a pathogen that caused the rubber leaf fall disease. This research was carried out in the laboratory and greenhouse of the Indonesian Industrial and Beverage Crop Research Institute (IIBCRI), Sukabumi, from March to November 2018. The isolates used were endophytic fungi isolates from rubber plants, which were tested for their inhibition against C. gloeosporioides in vitro on rubber leaves and seedlings, and their mechanism. The variable observed were the inhibition rate, incubation periods, number of spots, disease severity, and plant growth. The results showed that the endophytic fungus could inhibit the growth of C. gloeosporioides about 64.17% - 86.67%. The high inhibitory activity (>80%) in isolates CEPR.19, CEPR.6, CEBPM.21, DTJE.1, and DMJE27 were 86.67%; 83.33%; 83.33%; 82.92%, and 82.50%, respectively. The observations on seedlings obtained three potential fungal isolates to control C. gloeosporioides on rubber leaves, namely CEBPM.21, CEPR19, and DTJE.1 with suppression of disease severity about 68.57%; 67.88%, and 60.20% with their mechanisms of action inducing resistance, antibiosis, competition, and hyperparasites.
Back to Top Top