Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-900X / 2503-5215
Published by: Balai Bahasa Jawa Timur (10.24257)
Total articles ≅ 281
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Dyah Purwita Wardani, Vony Rizka Ayu Lestari
Published: 18 December 2020
ATAVISME, Volume 23, pp 220-232; https://doi.org/10.24257/atavisme.v23i2.684.220-232

Abstract:
Matched belongs to the dystopian novel, which is popular in the last twenty years. This genre usually satirizes the established state, which controls every part of people’s lives. Matched talks about how the government control people’s lives led to the social class conflict. The social class conflict is essential to be discussed because it shows the unequal structure in the established society. The objective of this research is to examine Ally Condie’s Matched by using Stuart Hall’s theory of representation is to find out the class conflict and exposes the critical position of the author. The method used is descriptive qualitative. The analysis technique is to look at the narrative of the figures, Cassia Reyes and Ky Markham, as the reflection of citizen struggle in a totalitarian government called Society. The findings show that Cassia and Ky have to strive in Society because Society perpetuates its power by manipulating politics and exploiting the economy. This research is encouraging the other researchers to examine Matched from different angles, perspectives and theories to complement the findings of this current study.
Nana Ruhaida, Wening Udasmoro
Published: 18 December 2020
ATAVISME, Volume 23, pp 161-174; https://doi.org/10.24257/atavisme.v23i2.673.161-174

Abstract:
Novel A Thousand Splendid Suns berbicara mengenai solidaritas dua perempuan yang merupakan istri pertama dan kedua yang berasal dari usia dan kelas sosial yang berbeda dalam latar gejolak konflik politik di Afghanistan. Poligami biasanya menghasilkan persaingan di antara para istri, tetapi kedua perempuan tersebut justru memiliki solidaritas kuat dalam menghadapi kekerasan suami, masyarakat, dan negara mereka. Permasalahan di dalam penelitian ini adalah mengapa solidaritas digarisbawahi sebagai sebuah fenomena masyarakat ketika menghadapi masa krisis seperti situasi kekerasan dan konflik? Penelitian ini menggunakan konsep solidaritas perempuan dan interseksi gender dari Chandra Talpade Mohanty. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan penyebab solidaritas sesama perempuan di dalam novel ini digarisbawahi sebagai sebuah fenomena masyarakat ketika menghadapi masa krisis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan data-data yang terkait dengan persoalan solidaritas dan interseksi gender. Penelitian ini mengungkapkan bahwa solidaritas perempuan menguat ketika mereka berada dalam situasi krisis yang sama sehingga satu-satunya cara menumbangkan dominasi maskulin berbentuk kekerasan adalah melalui solidaritas.Kata kunci: solidaritas; interseksi gender; A Thousand Splendid Suns; Chandra Mohanty[Women’s Solidarity in Khaled Hosseini’ Novel A Thousand Splendid Suns] The novel A Thousand Splendid Suns talks about the solidarity of two women who are the first and second wives from different ages and social classes in Afghanistan's political turmoil setting. Polygamy usually produces competition between wives, but both women actually have a strong solidarity in facing the violence of their husband, society, and state. The problem in this research is why solidarity is underlined as a community phenomenon when facing times of crisis, such as situations of violence and conflict. This study uses the concept of women's solidarity and gender intersection from Chandra Talpade Mohanty. The study aims to explain the solidarity causes among women in this novel, which is underlined as a community phenomenon when facing a crisis. The method used in this research is descriptive qualitative with data related to issues of solidarity and gender intersection. This research revealed that women's solidarity strengthens when they are in the same crisis. The only way to subvert masculine domination in the form of violence is through solidarity.
Diajeng Sofyanti, Yeni Artanti
Published: 18 December 2020
ATAVISME, Volume 23, pp 233-248; https://doi.org/10.24257/atavisme.v23i2.700.233-248

Abstract:
Semua manusia menjalani kehidupannya dengan bertumbuh, baik secara fisik maupun secara psikis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pertumbuhan kepribadian sebagai sosok perempuan yang menunjukkan superioritasnya dalam roman "Trois Femmes Puissantes" karya Marie Ndiaye. Sumber data penelitian adalah cerita bagian pertama pada roman "Trois Femmes Puissantes" karya Marie NDiaye yang diterbikan oleh Gallimard tahun 2009. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan datanya dengan membaca, mengidentifikasi, mencatat, membuat tabel, dan mengkategorisasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Norah pada awalnya memiliki kepribadian inferior dan pendendam, lalu terdapat perubahan kepribadian, yaitu menjadi pribadi yang cerdas, pekerja keras, kreatif, tepat janji dan pemaaf. Proses pendidikan yang dilaluinya dan lingkungan yang positif membuat Norah mampu berdamai dengan dirinya sendiri dan sekitarnya. Selain itu, tokoh Norah menujukkan wujud superioritas baik sebagai pribadi sehingga menjadi pribadi yang sehat dan tumbuh. Tokoh Norah menunjukkan bahwa 'growth mindset' diperlukan untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang sehat. Kata kunci: kepribadian; superioritas; psikologi individual; Adler; growth mindset[Becoming Growth Person in Marie Ndiaye’s Trois Femmes Puissantes] All humans do their task by growing, both physically and psychologically. This study aims to describe the process of personality growth as a female figure that shows her superiority in Marie Ndiaye's "Trois Femmes Puissantes". The source of the research data is the story of the first part of the novel "Trois Femmes Puissantes" by Marie NDiaye published by Gallimard in 2009. This research is a qualitative descriptive study with reading, identifying, taking notes, making tables, and categorizing as data collection techniques. The results showed that Norah initially had an inferior and vengeful personality, then becoming a smart, hard-working, creative, right on promise and forgiving. The educational process and the positive environment made Norah able to make peace with herself and her surroundings. In addition, Norah shows a form of superiority both as a person so that he becomes a healthy and growing person. So, this character shows that a "growth mindset" is needed to continue to grow into a healthy person.
Muhammad Surahman Djunuhi
Published: 18 December 2020
ATAVISME, Volume 23, pp 175-188; https://doi.org/10.24257/atavisme.v23i2.697.175-188

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan strategi produksi yang termaktub pada konstituen ekternal dan struktur ideologi teks yang ada pada konstituen internal dalam novel Perempuan Berkalung Sorban (PBS) karya Abidah El-Khalieqy dengan menggunakan konsep Terry Eagleton. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian membuktikan bahwa (1) novel PBS telah melewati proses produksi material eksternal, dengan strategi sebagai berikut; pada masa reformasi, ideologi-ideologi dalam novel PBS telah menjadi buah artikulasi kekuasaaan. Untuk melewati sensor produksi yang ketat, pengarang mengangkat tema-tema romantisisme, humanisme serta pola sosial realisme dalam masyarakat pesantren yang dirangkai secara estetik oleh pengarang dalam PBS layaknya novel-novel populer pada umumnya. (2) Konstituen internal mengungkap struktur ideologi PBS berhubungan dengan insiden-insiden historis yang dimaksudkan sebagai kritik terhadap rezim kekuasaan, khususnya masyarakat komunal pesantren yang identik dengan ideologi patriarki. Ini dilakukan dengan langkah menegosiasikan ideologi subordinatif atau resisten, yakni feminisme, humanism, dan seksualisme terhadap ideologi dominan,ideologi patriarki yang konservatif dan represif pada tindak tanduk perempuan.Kata kunci: struktur ideologi;strategi produksi; Terry Eagelton[Production Strategy and Ideological Structure in Perempuan Berkalung Sorban] This study aims to describe the production strategy in the external constituents and the text’s ideological structure in the internal constituents in the novel Perempuan Berkalung Sorban (PBS), written by Abidah El-Khalieqy by using Terry Eagleton’s concept. The method used is descriptive qualitative. The results of the research prove that (1) the PBS has passed through an external material production process, by following strategies. During the reformation period, the ideologies in the PBS novel had become the articulation of power. To get past the strict censorship of production, the PBS’s author raises the themes of romanticism, humanism and social realism in the pesantren society which are arranged aesthetically by the authors in PBS like popular novels in general. (2) The internal constituents reveal the ideological structure of the PBS in relation to historical incidents which are intended to be a criticism on the regime of power, especially the pe-santren communal society which is identical to the patriarchal ideology. This is done by negotiating challenging ideologies, namely feminism, humanism and sexualism against the dominant ideology which is a patriarchal ideology that is conservative and repressive towards women's behavior.
Muharsyam Dwi Anantama, Suryanto Suryanto
Published: 18 December 2020
ATAVISME, Volume 23, pp 206-219; https://doi.org/10.24257/atavisme.v23i2.688.206-219

Abstract:
Penelitian ini mencoba meneroka anasir kuliner dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori. Melalui pendekatan gastronomi sastra, penelitian ini menggali filosofi makanan yang dihadirkan da-lam novel Pulang karya Leila S. Chudori, bagaimana tokoh dalam novel memperlakukan kuliner, serta bagaimana representasi keindonesiaan yang ada dalam kuliner di novel tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan sumber data novel Pulang karya Leila S. Chudori. Unsur-unsur yang berhubungan dengan kuliner dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori menjadi data dalam pe-nelitian ini dan dikumpulkan dengan teknik studi dokumen atau pustaka. Data kemudian dianalisis dengan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) makanan yang terdapat dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori adalah satai kambing, kue putu, bir, kopi, pindang serani, dan nasi kuning. Kuliner-kuliner tersebut mengusung filosofi masing-masing; (2) tokoh dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori begitu memuliakan makanan; (3) melalui kuliner, tokoh dalam novel menegaskan identitas kebangsaan mereka.Kata kunci: kuliner; novel;identitas bangsa[Culinary and Indonesian Identity in Leila S. Chudori’s Novel Pulang] This research tries to explore the culinary elements in Leila S. Chudori’s novel Pulang. Through a literary gastronomy approach, this research explores the food philosophy presented in the novel, how the characters in the novel treat culinary, as well as how the representations of Indonesian-ness in culinary in the novel. This research is a descriptive qualitative research using the novel Pulang as the data source. The elements related to culinary in the novel became the data in this study and were collected using document or literature study techniques. The data were then analyzed using the interactive analysis model. The results show that (1) the foods contained in Leila S. Chudori’s Pulang are satai kambing, putu cake, beer, coffee, pindang serani, and yellow rice. These culinary delights carry their respective philosophies; (2) the character in Pulang exalts food; (3) through culinary delights, the characters in the novel confirm their national identity.
Fadlun Suweleh
Published: 18 December 2020
ATAVISME, Volume 23, pp 135-146; https://doi.org/10.24257/atavisme.v23i2.645.135-146

Abstract:
Hal menarik yang menjadi ciri khas tulisan Najib Mahfudz selain politik adalah keberadaan latar tempat kafe yang nyaris tak pernah alpa dari karya-karyanya. Penelitian ini bertujuan menggambarkan karakteristik heterotopia ruang kafe dalam novel Al-Karnak (1974, 2008) karya Najib Mahfudz. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data penelitian ini berupa kalimat atau dialog antartokoh yang berhubungan dengan kafe dan ruang heterotopia. Dengan menggunakan konsep other space Michel Foucault, penelitian ini menemukan adanya karakteristik heterotopia pada ruang kafe Karnak dalam novel Al-Karnak karya Najib Mahfudz. Sebagai karya memorial, Al-Karnak menggambarkan kafe Karnak dengan sangat kompleks. Kompleksitas tersebut erat kaitannya dengan realitas sosial masyarakat Mesir pasca perang Juni 1967. Kafe Karnak mampu merepresentasikan kondisi masyarakat Mesir yang menanggung beban distopis sekaligus menginginkan kehidupan utopis pada masa itu. Penelitian ini melihat bahwa karakteristik heterotopia yang ditemukan dalam kafe Karnak berkontribusi dalam memproduksi ruang lain, yang direfleksikan melalui imajinasi serta realitas tokoh-tokoh dalam novel.Kata kunci: heterotopia; kafe; ruang lain; utopia[Heterotopia Characteristics of Café in Najib Mahfudz’s Al-Karnak: Michel Foucault’s Other Space Analysis] The interesting thing that characterizes Najib Mahfudz’s works besides politics is the existence of café setting which is almost never neglected from his works. This study aims to describe the heterotopia characteristics of the café space in the novel Al-Karnak (1974, 2008) by Najib Mahfudz. This study uses a qualitative method. The data in this study are in the form of sentences or dialogues between figures related to cafes and heterotopia spaces. By using the concept of other space by Michel Foucault, this research found the characteristics of heterotopia at Karnak café space in Al-Karnak novel by Najib Mahfudz. As a memorial work, Al-Karnak describes Karnak café so complexly. The complexity is closely related to the social realities of the post-war June 1967 Egyptian society. Karnak café is able to represent the conditions of Egyptian society who bear the burden of dystopian as well as want a utopian life in those days. This research then sees that the heterotopia characteristics found in Karnak café can contribute in producing ‘other spaces’ which are reflected through the imagination and reality of the characters in Al-Karnak novel.
Ivana Septia Rahaya
Published: 18 December 2020
ATAVISME, Volume 23, pp 249-260; https://doi.org/10.24257/atavisme.v23i2.637.249-260

Abstract:
Perubahan pola pikir akibat globalisasi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah pemaknaan pepatah Jawa yang sedari dulu digunakan sebagai prinsip hidup masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna pepatah Jawa yang mencerminkan kehidupan masyarakat modern di Amerika dalam novel Impian Amerika karya Kuntowijoyo. Penelitian ini diharapkan mampu membuktikan bahwa pepatah Jawa tetap relevan dengan perkembangan zaman dan menyadarkan pembaca bahwa karya sastra bukan hanya hasil imajinasi pengarang tetapi juga merepresentasikan kehidupan sehingga mampu meningkatkan apresiasi pembaca terhadap karya sastra. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologi sastra. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca catat. Analisis data menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa novel Impian Amerika karya Kuntowijoyo menggambarkan prinsip hidup masyarakat modern yang diambil dari pepatah Jawa. Prinsip hidup tersebut berhubungan dengan usaha masyarakat dalam menciptakan keselarasan antara individu dan Tuhan serta keselarasan antar individuKata Kunci: pepatah Jawa; masyarakat modern; prinsip hidup; globalisasi[Javanese Proverbs as a Principle of Modern Society’s Life in Kuntowijoyo’s Novel Impian Amerika] Changes of mindset because of the changing era affect so many aspects of life. One of them is the interpretation of Javanese proverb which has always been used as a principle of modern society's life. The purpose of this research is to explain and describe the meaning of Javanese proverb which is the principle of modern society’s life in Kuntowijoyo’s Novel Impian Amerika that reflect modern society’s life in America. This research is expected to be able to prove that Javanese proverbs which are an ancestral heritage still relevant to today’s modern conditions and remind the readers that literary works are not only the result of the author's imagination but can also represent life and other positive values, thereby increasing the reader’s appreciation of literary works. This research is a descriptive qualitative with a literary anthropology approach. Data collection technique was note-taking technique. The data were analyzed with content analysis technique. The results of this research prove that Impian Amerika illustrates the principle of modern society's life taken from the Javanese proverb. The principle of life is related to community efforts in creating harmony between individuals and God and individuals as well.
Hary Sulistyo
Published: 18 December 2020
ATAVISME, Volume 23, pp 147-160; https://doi.org/10.24257/atavisme.v23i2.633.147-160

Abstract:
Tulisan ini membahas politik spasial Gesang dan Soetedja dalam lirik lagu “Bengawan Solo” dan “Di Tepinya Sungai Serayu”. Persoalan tersebut menarik dikemukakan karena menghadirkan konsepsi baru melalui redefinisi atas kedua objek. Tujuan penulisan ini adalah menunjukkan bentuk-bentuk place, space, dan postspace kedua lagu terhadap objek yang telah menghadirkan definisi baru atas pengetahuan. Teori yang digunakan adalah pascakolonial Sara Upstone mengenai place, space, dan postspace. Metode penelitian ini adalah mengamati aspek tekstual di dalam teks dan mengorelasikannya dengan persoalan kontekstual berdasarkan aspek-aspek teoretis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa politik spasial melalui kedua lirik lagu menghadirkan kebaruan informasi mengenai objek yang berbeda dengan realitas kedua sungai sebagai bentuk place. Jejak-jejak space yang ditinggalkan oleh kedua pengarang menunjukkan bahwa penciptaan lagu lebih pada kepentingan estetis dan romantik. Postspace yang dihasilkan dengan kehadiran lagu itu memberikan legitimasi atas konsepsi administratif dalam penyebutan asal sumber mata air Bengawan Solo dan hilangnya sisi mistisme yang terdapat di Sungai Serayu.Kata kunci: politik spasial; Bengawan Solo; Sungai Serayu[Spatial Politic in The Song Lyrics of “Bengawan Solo” and “Di Tepinya Sungai Serayu” : Sara Upstone’s Postcolonial Analysis] This paper discusses Gesang and Soetedja’s spatial politics in the song lyrics of “Bengawan Solo” and “Di Tepinya Sungai Serayu”. The issue is interesting to be raised because it presents a new conception through redefinition of the two objects. The purpose of this paper is to show forms of place, space, and postspace in both songs toward the object that have presented a new definition of knowledge. The theory used is Sara Upstone’s post-colonialism about place, space, and postspace. The method in this study is to observe textual aspects in the text and correlate them with contextual issues based on theoretical aspects. The results show that spatial politics through both song lyrics presents new information about objects that are different from the reality of the two rivers as a form of place. The traces of space left by the two authors through their songs show the creation of songs more in the interests of aesthetic and romantic aspects. The postspace produced by the presence of the two songs gives legitimacy to the administrative conception in the mention of the origin of the Bengawan Solo spring and the loss of the mysticism found in the Serayu River.
Ayu Fitri Kusumaningrum
Published: 18 December 2020
ATAVISME, Volume 23, pp 189-205; https://doi.org/10.24257/atavisme.v23i2.641.189-205

Abstract:
Narasi perempuan dapat ditemukan dalam berbagai macam media sejak berabad-abad lamanya. Mulai dari yang dinarasikan oleh laki-laki sampai yang dituliskan oleh perempuan sendiri, media menampilkan bermacam-macam narasi perempuan. Novel anak, sebagai salah satu bentuk media, sebenarnya juga tak luput memotret narasi perempuan dan isu-isu yang berkaitan dengan gender lainnya, meski penelitian terhadap sastra anak masih terpinggirkan dalam kalangan komunitas sastra. Penelitian ini kemudian melihat adanya narasi perempuan yang dimusnahkan dalam novel anak Hetty Feather karya Jacqueline Wilson. Menggunakan teori symbolic annihilation yang digagas Gaye Tuchman dan beberapa konsep pendukung mengenai tipe-tipe perempuan era Victoria, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk symbolic annihilation terhadap tiga tipe perempuan era Victoria. Penelitian ini kemudian menemukan adanya trivialization, omission, dan condemnation terhadap sosok angel in the house, fallen woman, dan new woman dalam Hetty Feather.Kata kunci:Era Victoria;narasiperempuan;media;sastraanak[The Symbolic Annihilation of Three Types of Victorian Women in Jacqueline Wilson’s Hetty Feather] Women’s narratives can be found in various types of media for centuries. Starting from one narrated by men to one written by women themselves, the media presents a variety of women’s narratives. Children’s novels, as one form of media, actually also capture women’s narratives and other gender-related issues, although research on children’s literature is still marginalized within the literary community. This research, then, examines the existence of the annihilation of women’s narratives in a children’s book Hetty Feather by Jacqueline Wilson. Using the theory of the symbolic annihilation proposed by Gaye Tuchman and some supporting concepts about types of Victorian women, this study aims to identify the forms of the symbolic annihilation of three types of Victorian women. This study, then, finds that there are trivialization, omission, and condemnation acts toward angel in the house, fallen woman, and new woman in Hetty Feather.
Sujarwoko Sujarwoko
Published: 30 June 2020
ATAVISME, Volume 23, pp 89-103; https://doi.org/10.24257/atavisme.v23i1.627.89-103

Abstract:
Puisi sufistik sebagai abstraksi kehidupan dunia sufi dapat digunakan untuk melihat jatuh bangunnya seorang sufi dalam pendakian rohani. Untuk melukiskan pendakian rohani, puisi sufistik menggunakan imaji alam dan binatang. Tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan makna dan mendeskripsikan imaji sufistik alam dan binatang dalam puisi-puisi Abdul Hadi W.M., Sutardji Calzoum Bachri, dan Kuntowijoyo. Penelitian ini menggunakan teori estetika sufistik puisi Braginsky dan metode deskriptif kualitatif dengan data karya-karya ketiga penyair tersebut. Hasil penelitian menunjukkan puisi sufistik karya ketiga penyair tersebut menggunakan berbagai imaji alam: cahaya, gelombang, batu, rumput, pohon, dan angin. Imaji binatang yang digunakan, meliputi: kupu-kupu, kucing, cengkerik, gajah, semut, dan singa. Imaji sufistik alam sebagai sarana untuk menggambarkan kedekatan dan penyatuan diri dengan Tuhan, sedangkan imaji sufistik binatang untuk melukiskan hakikat salik dan liku-liku perjalanan rohani yang dialami pejalan yang sedang mengalami hambatan dan ancaman dalam upaya menuju keindahan rohani sebagai puncak keriangan spiritual.[Natural and Animal Sufistic Images in Abdul Hadi W.M., Sutardji Calzoum Bachri, and Kuntowijoyo Poetries] Sufistic poetry as an abstraction of sufi’s life can be used to see the rise and fall of a sufi in spiritual ascent. To describe spiritual ascent, sufistic poetry uses natural and animals images. The purposed of this research were to reveal the meaning and describe the sufistic images of nature and animal s in Abdul Hadi W.M., Sutardji Calzoum Bachri, and Kuntowijoyo poetries. This research used the sufistic poetry aesthetic theory of Braginsky and qualitative descriptive methods with data on the works of the three poets. The results of the research showed that the poetic works of the three poets used a variety of natural images: light, waves, stone, grass, trees, and wind. Animals imagesthat were used includ: butterflies, cats, cloves, elephants, ants, and lions. Natural sufistic images as a means to describe closeness and union with God, while sufistic imagery of animals were used to describe the nature of salik and the intricacies of the spiritual journey experienced by travelers who were experiencing obstacles and threats in an effort to reach spiritual beauty as the peak of spiritual joy.Keywords: sufistic poetry; sufistic images; natural sufistic images; animals’ sufistic images
Back to Top Top