JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN

Journal Information
ISSN / EISSN : 1858-4322 / 2620-892X
Published by: Faculty of Law Pattimura University (10.30598)
Total articles ≅ 88
Filter:

Latest articles in this journal

Nur H D Ayu, Jumar Jumar, Noorkomala Sari
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 17, pp 83-88; https://doi.org/10.30598/jbdp.2021.17.1.83

Abstract:
Chili pepper is a plant that is favored by the community because its fruit has a spicy taste, so it is widely cultivated by farmers. One of the chili pepper varieties in Indonesia is Hiyung cayenne pepper which originally comes from Hiyung Village of Tapin Tengah District, Tapin Regency, South Kalimantan. In plant-cultivation, fertilization has an important role to meet the nutrient needs of plants. Fertilization to reduce environmental pollution can be done by using organic fertilizers, for example by giving compost of white oyster mushroom planting media waste (baglog). The purpose of this study was to know the effect and the best dose of application of white oyster mushroom baglog waste compost on the growth of cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) variety Hiyung. The research was carried out in February-May 2020, at the Hortibun Agroecotechnology Experimental Field, Faculty of Agriculture, Lambung Mangkurat University. The method used in this study was a Completely Randomized Design (CRD) with one factor. The treatments tested consisted of: k0 = control (without baglog waste compost) or 0 tons/ha; k1 = 5 tons/ha of baglog waste compost or 125 g/planting hole; k2 = 10 tons/ha of mushroom baglog waste compost or 250 g/planting hole, k3 = 15 tons/ha of mushroom baglog waste compost or 375 g/planting hole; and k4 = 20 tons/ha of baglog compost waste or 500 g/ planting hole. The treatment was repeated 4 times so that there were 20 experimental units. The results on the parameters of plant height, number of leaves, and productive branches showed that the application of white oyster mushroom baglog waste compost had an effect on the growth of cayenne pepper variety Hiyung. The best treatment recommendation was the K3 treatment (15 tons/ha or 375 g/planting hole) which was able to increase plant height by 55.9%; number of leaves 88.2%; and 160% productive branch compared to control at 42 days after planting. Keywords: Hiyung cayenne chilli, baglog waste compost, organic fertilizer, vegetative stage ABSTRAK Cabai merupakan tanaman yang disukai masyarakat karena buahnya memiliki cita rasa pedas, sehingga banyak dibudidayakan oleh pada petani. Salah satu varietas cabai yang ada di Indonesia, yaitu cabai rawit Hiyung, berasal dari Desa Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Dalam kegiatan budidaya tanaman, pemupukan memiliki peran yang penting untuk memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman. Pemupukan dengan tujuan mengurangi pencemaran lingkungan dapat dilakukan dengan pengunaan pupuk organik, misalnya pemberian kompos limbah media tanam jamur tiram putih (baglog). Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh dan dosis terbaik aplikasi kompos limbah baglog jamur tiram putih pada pertumbuhan cabai rawit (Capsicum frutescens L) varietas Hiyung. Pelaksanaan penelitian pada Februari 2020-Mei 2020, di Kebun Percobaan Hortibun Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor. Perlakuan yang diuji terdiri dari: K0 = kontrol (tanpa kompos limbah baglog ) atau 0 ton/ha; K1 = 5 ton/ha kompos limbah baglog atau 125 g/lubang tanam; K2 = 10 ton/ha kompos limbah baglog atau 250 g/lubang, K3 = 15 ton/ha kompos limbah baglog atau 375 g/lubang tanam dan K4 = 20 ton/ha kompos limbah baglog atau 500 g/lubang tanam. Perlakuan diulang 4 kali sehingga terdapat 20 satuan percobaan. Hasil pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, dan cabang produktif menunjukan bahwa aplikasi kompos limbah baglog jamur tiram putih berpengaruh pada pertumbuhan cabai rawit varietas Hiyung. Rekomendasi perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan K3 (15 ton/ha atau 375 g/lubang tanam) yang mampu meningkatkan tinggi tanaman 55,9%; jumlah daun 88,2%; dan cabang produktif 160% dibandingkan dengan kontrol pada 42 Hari Setelah Tanam (HST). Kata kunci: Cabai rawit Hiyung, kompos limbah baglog, pupuk organik
Murdaningsih Murdaningsih, Adrianus F G Uran
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 17, pp 23-27; https://doi.org/10.30598/jbdp.2021.17.1.23

Abstract:
Sorghum is a cereal crop that has the potential to be developed on dry land as a food source, has the ability to adapt widely, and requires less agricultural inputs than other food crops. Ende Regency is an area that has a dry climate and is dominated by dry land agriculture, so it has the potential for the development of sorghum plants. The purpose of this study was to conduct an agronomic study of the development of Nambu sorghum variety with the application of chicken manure. The research was conducted using a randomized block design, with 5 treatments chicken manure doses, i.e. A0: 0 tons per ha (control), A1: 3.25 tons per ha, A2: 6.5 tons per ha, A3: 9.75 tons per ha, and A4: 13 tons per ha. The application of chicken manure of 13 tons per ha to sorghum plants resulted in growth and yield variables with the highest values, i.e., plant height 277.08 cm, leaf number 15.69 pieces, leaf area 8720.03 cm2, fresh stover weight base 354.69 g, dry stover weight 249.38 g, panicle length 20.54 g, panicle dry weight 24.63 g, number of seeds per panicle 1392.19 g, 1000 seeds weight 7.50 g. Keywords: Chicken manure, dry land, food, sorghum. ABSTRAK Sorgum merupakan tanaman serealia yang berpotensi untuk dikembangkan pada lahan kering sebagai sumber pangan, memiliki kemampuan beradaptasi secara luas, serta membutuhkan input pertanian relatif lebih sedikit dibandingkan tanaman pangan lainnya. Kabupaten Ende merupakan daerah yang beriklim kering dan dengan dominasi pertanian lahan kering, sehingga berpotensi untuk pengembangan tanaman sorgum. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan kajian agronomis pengembangan tanaman sorgum varietas Nambu dengan aplikasi pupuk kandang ayam. Penelitan dilakukan dengan percobaan menggunakan rancangan acak kelompok, dengan 5 perlakuan penggunaan pupuk kandang ayam, yakni A0: 0 ton per ha (kontrol), A1: 3,25 ton per ha, A2: 6,5 ton per ha, A3: 9,75 ton per ha, dan A4: 13 ton per ha. Aplikasi pupuk kandang ayam sebesar 13 ton per ha terhadap tanaman sorgum menghasilkan variabel-variabel pertumbuhan dan hasil dengan nilai-nilai tertinggi, yaitu tinggi tanaman 277,08 cm, jumlah daun 15,69 helai, luas daun 8720,03 cm2, bobot brangkasan basah 354,69 g, bobot brangkasan kering 249,38 g, panjang malai 20,54 g, bobot malai kering 24,63 g, jumlah biji per malai 1392,19 g, bobot 1000 biji 7,50 g. Kata Kunci: Lahan kering, pangan, pupuk kandang ayam, sorgum.
Mega Silvia, Muhammad Hazmi, Hidayah Murtiyaningsih, Laras S Arum
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 17, pp 68-75; https://doi.org/10.30598/jbdp.2021.17.1.68

Abstract:
Sorghum has great potential to be developed as a food source in Indonesia. This study aims to regenerate sweet sorghum in vitro, by adding coconut water and garlic powder to tissue culture. The experiment used a completely randomized design with two treatment factors, and with 2 replications. The first factor was the concentration of coconut water (A), consisting of: A0 (0 mL/L), A1 (50 mL/L), A2 (100 mL/L), A3 (150 mL/L), and A4 (200 mL/L). The second factor was the concentration of garlic powder (B), consisting of : B0 (0 g/L), B1 (10 g/L), B2 (20 g/L), B3 (30 g/L), and B4 (40 g/L). Data were analysis by the analysis of variance wth the F test and DMRT follow-up test at a 0,05 level. The results of the F test showed that the variables of the time of shoot emergence, shoot height at the age of 3, 12, 15, and 18 days after initiation (DAI) were not significantly affected by treatments A, B, and their interaction (A×B), also the percentage of shoot emergence in treatments A, B, and shoot height in treatments B. Variables of shoot number and shoot height at 6 DAI were affected by treatments A, B, and A×B, also the percentage of shoot emergence in treatment A, and shoot height 9 DAI in treatments A and B. DMRT test results showed that the A4 treatment gave the best results on shoot percentage, shoot height at 6 and 9 DAI, and treatment B2 on shoot number. The addition of 200 mL/L coconut water increased shoot height and 20 g/l garlic powder increased the number of shoots in this study. Keywords: coconut water, concentration, garlic, in vitro regeneration, sorghum. ABSTRAK Sorgum memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai sumber pangan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk meregenerasi sorgum manis secara in vitro, dari kultur jaringan. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor perlakuan, dan dengan 2 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi air kelapa (A), terdiri dari: A0 (0 mL/L), A1 (50 mL/L), A2 (100 mL/L), A3 (150 mL/L), dan A4 (200 mL/L). Faktor kedua adalah konsentrasi bubuk bawang putih (B), terdiri B0 (0 g/L), B1 (10 g/L), B2 (20 g/L), B3 (30 g/L), dan B4 (40 g/L). Data dianalisis dengan analisis ragan dengan uji F dan uji lanjut DMRT pada taraf 0,05. Hasil uji F menunjukkan bahwa variabel saat munculnya tunas, tinggi tunas pada umur 3, 12, 15, dan 18 hari setelah inisiasi (HSI) tidak nyata dipengaruhi oleh perlakuan A, B, maupun interaksinya (A×B), demikian juga persentase munculnya tunas pada perlakuan A, B, serta tinggi tunas pada perlakuan B. Variabel-variabel jumlah tunas, tinggi tunas 6 HSI dipengaruh secara nyata oleh perlakuan A, B, maupun A×B, demikian juga persentase munculnya tunas pada perlakuan A, serta tinggi tunas 9 HSI pada perlakuan A dan B. Hasil uji DMRT menunjukkan bahwa perlakuan A4 memberikan hasil terbaik pada persentase tunas, tinggi tunas 6 dan 9 HSI, serta faktor B2 pada jumlah tunas. Penambahan air kelapa 200 mL/L meningkatkan tinggi tunas dan 20 g/L bubuk bawang putih meningkatkan jumlah tunas pada penelitian ini. Kata kunci: air kelapa, bawang putih, konsentrasi, regenerasi in vitro, sorgum
Geogriani Anthonius, Conradus Ufie, Simson Liubana
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 17, pp 59-67; https://doi.org/10.30598/jbdp.2021.17.1.59

Abstract:
Cassava is a food and trade commodity in the Kei Islands, Maluku Province. Various aspects of the cultivation of this crop are determined by traditional knowledge held by farmers from generation to generation. This study aimed to: 1) describe the potential of local wisdom (traditional knowledge) about the land owned by the Ohoi Wasar community in the Kei Islands regarding the suitability of the coastal land management for ‘enbal’ (bitter cassava) cultivation; 2) integrate local knowledge about land belonging to the Ohoi Wasar indigenous people with FAO land evaluation (modern soil knowledge in land suitability evaluation) for sustainable cultivation of ‘enbal’ cassava. This research was carried out using a transect-based survey method that was participatory and goal-oriented, which focused on farmers who cultivate ‘enbal’ cassava and their fields on the coastal land in the footslope of Mount Ar. The results of the study were: 1) there was local-traditional wisdom of the Wasar community that was directly related to ‘enbal’ cultivation (ethnopedological system); firstly, the wisdom of determining land suitability for ‘enbal’ cassava cultivation (ie. hadoichr ngametan or black soil = Renzina, and hadoichr vuil or red soil = Cambisol Dystrict); secondly was the wisdom of determining the time/day of land clearing for ‘enbal’ gardens (slash-and-burn) and the planting time which was started in early May; in addition, there was a supporting wisdom in the diversity or reliance of local foods, namely the habit of harvesting and consuming "boo" with " es­­`u/laor " at the end of March; 2) when the potential of local knowledge about soils (ethnopedology system) was integrated with the FAO FAO system of land evaluation, it appeared that there was an overlap in the studies of soil fertility, namely both categorizing “black soil” as more fertile (very suitable), and “red soil” as a less fertile" (slightly suitable) soil. Keywords: Ar-Wasar, bitter cassava, ‘enbal’, land evaluation, local wisdom ABSTRAK Ubi kayu merupakan komoditas pangan dan perdagangan di Kepulauan Kei, Provinsi Maluku. Berbagai aspek budidaya tanaman ini ditentukan oleh pengetahuan tradisional yang dipegang oleh petani secara turun temurun. Penelitian ini bertujuan: 1) menginventarisasi potensi kearifan lokal (pengetahuan tradisional) tentang tanah yang dimiliki masyarakat Ohoi Wasar di Kepulauan Kei terkait kesesuaian pengelolaan lahan pesisir bagi budidaya tanaman enbal (ubi kayu pahit); 2) mengintegrasikan kearifan pengetahuan lokal tentang tanah yang dimiliki masyarakat adat Ohoi Wasar dengan evaluasi lahan FAO (pengetahuan tanah moderen dalam evaluasi kesesuaian lahan) bagi budidaya tanaman enbal yang berkelanjutan. Penelitian dilaksankan dengan metode survey berbasis transek secara partisipatif berorientasi tujuan, yang difokuskan pada petani yang bercocok tanam enbal dan kebunnya pada lahan pesisir kaki Gunung Ar. Hasil penelitian adalah: 1) Ada kearifan lokal-tradisonal dari masyarakat Wasar yang terkait langsung dengan budidaya enbal (sistem etnopedologi); pertama, kearifan penentuan tanah/lahan yang cocok atau sesuai bagi usaha kebun enbal (yakni hadoichr ngametan atau tanah hitam = Renzina, dan hadoichr vuil atau tanah merah =Kambisol Distrik); kedua, kearifan penentuan waktu/hari buka kebun enbal (tebas-bakar) dan waktu tanam di awal Mei; selain itu, terdapat kearifan pendukung dalam keragaman/kemandirian pangan lokal, yakni kebiasaan panen dan konsumsi “boo” bersama “es­­`u/laor” pada akhir Maret. 2) Jika potensi kearifan pengetahuan tanah lokal (sistem etnopedologi) diintegrasikan dengan evaluasi lahan sistem FAO, nampak titik temunya (overlap) pada telaahan kesuburan tanah, yakni keduanya mengkategorikan “tanah hitam” sebagai yang lebih subur (sangat sesuai), dan “tanah merah” kurang subur (cukup sesuai). Kata kunci: Ar-Wasar , enbal, evaluasi lahan, kearifan lokal, ubi kayu pahit
Handry R D Amanupunyo, Nace E Tahitu, Gratiana N C Tuhumury
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 17, pp 36-42; https://doi.org/10.30598/jbdp.2021.17.1.36

Abstract:
Various problems have caused the decline in peanut production, among others the low resistance of peanut plants to various diseases. One of the obstacles in peanut production is the attack of plant diseases, such as the fungus Sclerotium rolfsii Sacc. The use of plant-based insecticides can be an alternative to disease control in peanuts. This study aimed to obtain the appropriate and effective dose of clove leaves and flower stalks in suppressing the in vitro growth of the fungus S. rolfsii Sacc causing damping off in peanuts, and to test the effectiveness of clove leaves and flower stalks on the formation of sklerotia of the fungus. This study used ‘tuni’ clove powder from Waai Village, Salahutu District. This experimental study employed a completely randomized design (CRD) with 8 treatments and 3 replications. The results showed that the growth of the fungus S. rolfsii Sacc. was inhibited by clove flower stalk powder at a dose of 1.5 g per100 mL of PDA, which was indicated by the number of sklerotia formed of 13.67% and propagule weight of 0.12 g, followed by a dose of clove leaf powder of 1.5 g per100 mL PDA, with amount of sklerotia formed of 27.33% and propagule weight of 0.17 g. These results were statistically shown on the parameters: colony diameter, Sklerotia formation time, number of Sklerotia, and weight of propagules. Keywords: Clove powder, dosage, in vitro, Sclerotium rolfsii Sacc. ABSTRAK Berbagai masalah telah menyebabkan turunnya produksi kacang tanah, diantaranya masih rendahnya ketahanan tanaman kacang tanah terhadap berbagai penyakit. Salah satu kendala dalam produksi kacang tanah adalah serangan penyakit tanaman, seperti jamur Sclerotium rolfsii Sacc. Penggunaan insektisida nabati dapat menjadi alternatif pengendalian penyakit pada kacang tanah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dosis daun dan tangkai bunga cengkih yang tepat dan efektif dalam menekan pertumbuhan jamur S. rolfsii Sacc penyebab damping off pada kacang tanah secara in vitro, serta menguji efektifitas daun dan tangkai bunga cengkih terhadap pembentukan sklerotia jamur. Penelitian ini menggunakan bubuk cengkih tuni, dari Desa Waai, Kecamatan Salahutu. Penelitian eksperimental ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 8 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan jamur S. rolfsii Sacc. terhambat oleh bubuk tangkai bunga cengkih pada dosis 1,5 g per 100 mL PDA yang ditunjukan oleh jumlah sklerotia terbentuk 13,67% dan berat propagul 0,12 g dan diikuti oleh dosis bubuk daun cengkih 1,5 g per 100 mL PDA, dengan jumlah sklerotia 27,33% dan berat propagul 0,17 g. Hasil ini secara statistik ditunjukkan pada parameter: diameter koloni, waktu terbentuk sklerotia, jumlah sklerotia, dan berat propagul. Kata kunci: bubuk cengkih, dosis, in vitro, Sclerotium rolfsii Sacc.
Esterlina Kelbulan, Samuel Laimeheriwa, Jacob R Patty
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 17, pp 52-58; https://doi.org/10.30598/jbdp.2021.17.1.52

Abstract:
Climate change has an impact that includes extreme climate events such as El Nino. Experience in recent decades has shown that the El Nino climate anomaly has caused prolonged droughts. Peanut are susceptible to drought in part or all of its growth phases due to below-normal rainfall. This study aimed to describe the occurrence of extreme El-Nino rainfall on Kei Kecil Island, Maluku Province, and how much the El-Nino events affected the planting season and peanut production on Kei Kecil Island. This was carried out using the algebraic average technique for calculating the average (normal) rainfall and the FAO (1978) method for determining the growing season. The variables observed were rainfall data and peanut plant productivity data. Data were analyzed using simple regression analysis. The results of the study showed that the El Nino phenomenon generally took place in the period from April to November; mostly starting in April, May, June and September, October and November. Drought events on Kei Kecil Island did not always coincide with El Nino events, and El Nino events did not always cause drought or rainfall below normal. In 1993, 2003, 2007, and 2012 the amount of rainfall on Kei Kecil Island was below normal (<2,308 mm per year) but these years were not recorded as El Nino years. Whereas, 1994, 2009, 2014, and 2018 were recorded as El Nino years but did not cause drought or rainfall under normal conditions on Kei Kecil Island. During the last 30 years, this incident occurred 3 times, i.e. in 1991, 1997, and 2015. The results of the analysis of the growing season showed that the planting season on Kei Kecil Island under conditions of average (normal) rainfall lasted for 289 days or 9 months 16 days (November 1 to August 16). Meanwhile, the growing season when extreme El Nino rainfall occurred, lasted for 201 days or 6 months 20 days (November 1 to May 20). This indicated that when El Nino occurred on Kei Kecil Island, there was a shift in the growing season (ending sooner). The results of the regression analysis illustrated that the increase of the value of rainfall would increase the productivity of peanut crop. Keywords: El Nino phenomenon, growing season, peanut, productivity, rainfall ABSTRAK Perubahan iklim berdampak di antaranya terhadap kejadian iklim ekstrim seperti El Nino. Pengalaman dalam beberapa dekade terakhir ini menunjukkan bahwa anomali iklim El Nino telah menyebabkan kekeringan berkepanjangan. Kacang tanah rentan oleh deraan kekeringan pada sebagian ataupun seluruh fase pertumbuhannya akibat curah hujan yang di bawah normal. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kejadian curah hujan ekstrim El-Nino di Pulau Kei Kecil, Provinsi Maluku, dan seberapa besar kejadian El-Nino mempengaruhi musim tanam dan produksi kacang tanah di Pulau Kei Kecil. Ini dilaksanakan dengan menggunakan metode teknik rata-rata aljabar untuk perhitungan curah hujan rata-rata (normal) dan metode FAO (1978) untuk penentuan musim tanam. Variabel yang diamati adalah data curah hujan dan data produktifitas tanaman kacang tanah. Data dianalisis menggunakan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan fenomena El Nino umumnya berlangsung dalam periode April hingga November; terbanyak mulai bulan April, Mei, Juni dan September, Oktober dan November. Kejadian kekeringan di Pulau Kei Kecil tidak selalu bersamaan dengan kejadian El Nino, dan kejadian El Nino tidak selalu menyebabkan kekeringan atau curah hujan di bawah normal. Pada tahun 1993, 2003, 2007, dan 2012 jumlah curah hujan di Pulau Kei Kecil berada pada kondisi di bawah normal (<2.308 mm per btahun) tetapi tahun-tahun tersebut tidak tercatat sebagai tahun-tahun El Nino. Sementara itu, tahun 1994, 2009, 2014, dan 2018 tercatat sebagai tahun-tahun El Nino tetapi tidak menyebabkan kekeringan atau curah hujan di bawah kondisi normalnya di Pulau Kei Kecil. Selama periode 30 tahun terakhir kejadian ini berlangsung selama 3 kali, yaitu pada tahun 1991, 1997, dan 2015. Hasil analisis musim tanam menunjukkan bahwa musim tanam di Pulau Kei Kecil pada kondisi curah hujan rata-rata (normal) berlangsung selama 289 hari (1 November sampai dengan 16 Agustus; 9 bulan 16 hari). Sedangkan musim tanam ketika curah hujan ekstrim El Nino berlangsung selama 201 hari (1 November sampai dengan 20 Mei). Hal ini mengindikasikan bahwa ketika El Nino berlangsung di Pulau Kei Kecil, akan terjadi pergeseran musim tanam (berakhir lebih cepat). Hasil analisis regresi menggambarkan bahwa penigkatan nilai curah hujan akan menigkatkan produktivitas tanaman kacang tanah. Kata kunci: curah hujan, fenomena El Nino, kacang tanah, musim tanam, produktivitas
Jollanda Effendy, Don R LaBonte, Darda Efendi, Nurul Khumaida, Gustaaf A Wattimena
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 17, pp 1-8; https://doi.org/10.30598/jbdp.2021.17.1.1

Abstract:
In sweetpotatoes (Ipomoea batatas L. Lamb), the loss of skin from the surface of the storage roots is known as skinning injury. It is responsible for significant postharvest loss resulting from moisture increase and weight reduction, wrinkling, and susceptibility to pathogen attack. Reduced root weight by water loss is associated with a higher rate of rot predominantly occurred in the developing and underdeveloped countries which can count of 8-20% of postharvest loss. Plants have different adaptation to protect themselves against skinning injury. Lignification, suberization, and increased sugar at the wound site have been shown to be correlated with wound healing. Changing in gene expressions have been associated with skinning injury. Genes associated in the biosynthesis of lignin and suberin, protein fate, cell-wall modification, transcription and protein synthesis, and stress responses and defense have been associated with skinning injury responses in plants. Understanding the skinning injury responses and how to regulate them can be used to produce a more desirable plant resistant to skinning injury. This paper especially reviews and discusses skinning injury responses in sweetpotato, a root crop which product may severely be affected by skinning injury. Keywords: gene expression, Ipomoea batatas, lignification, postharvest loss, wounding ABSTRAK Pada ubi jalar (Ipomoea batatas L. Lamb), cedera kulit adalah hilangnya kulit dari permukaan umbi. Cedera kulit ini bertanggung jawab atas kerugian pascapanen yang signifikan akibat peningkatan laju kelembaban dan penurunan berat umbi, pengerutan, dan kerentanan terhadap serangan patogen. Berat umbi yang berkurang karena kehilangan air dikaitkan dengan tingkat pembusukan yang lebih tinggi, terutama terjadi di negara-negara berkembang dan yang kurang berkembang dengan kehilangan hasil panen umbi 8-20%. Tanaman memiliki adaptasi yang berbeda untuk melindungi diri dari cedera kulit. Lignifikasi, suberisasi, dan peningkatan gula di lokasi pelukaan telah terbukti berkorelasi dengan penyembuhan luka. Perubahan ekspresi gen telah dikaitkan dengan cedera kulit. Gen-gen yang terlibat dalam jalur biosintesis lignin dan suberin, protein tujuan akhir, modifikasi dinding sel, transkripsi dan sintesis protein, serta respons stres dan pertahanan telah dikaitkan dengan respons cedera kulit pada tanaman. Memahami respons cedera kulit dan bagimana cara mengaturnya dapat digunakan untuk menghasilkan tanaman yang diinginkan yang tahan terhadap cedera kulit umbi. Paper ini secara khusus mengulas dan membahas respon cedera kulit pada ubi jalar, suatu tanaman umbian yang hasilnya sangat terpengaruh oleh cedera kulit. Kata kunci: ekspresi gen, Ipomoea batatas, lignifikasi, kehilangan pascapanen, pelukaan
Deno Okalia, Tri Nopsagiarti, Gusti Marlina
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 17, pp 76-82; https://doi.org/10.30598/jbdp.2021.17.1.76

Abstract:
Growing vegetable crops such as lettuce, on Ultisol soil has several obstacles, such as insufficient organic matter and nutrients in the soil. The provision of biochar and POC leri or organic fertilizer from rice washing liquid is expected to be a long-term and sustainable solution. This study was intended to test the addition of biochar to the growing media and the application of leri on lettuce cultivation. This study used a factorial Randomized Block Design (RAK) method. The first factor was the application of biochar to the planting medium (M), which consisted of M1: Ultisol without biochar and M2: Ultisol + 30 g biochar. The second factor was the administration of liquid organic fertilizer (LOF) leri (P), with 5 treatments consisting of P0: without giving LOF leri, P1: giving LOF leri without fermentation once a week, P2: giving LOF leri without fermentation twice a week, P3: giving fermented LOF leri once a week, P4: giving fermented LOF leri twice a week. The results of this study were tested statistically by analysis of variance, with the F test; if there was a significant difference, it was continued with the BNJ test (Honest Significant Difference) at a 0.05 level. The results showed that the best treatment of LOF leri in increasing lettuce growth and yield was 25% fermented LOF leri given 2 times a week, at 250 mL per lettuce plant. As a single treatment the best growing media was M2 (Ultisol soil + 30 g of biochar) with a plant height of 25.80 cm and the leaf number of 12.83; whereas the best LOF leri treatment was P4 (fermented LOF leri given twice a week), with a plant height of 30.27 cm and leaf number of 14.42. Based on whole plant fresh weight, the best treatment was the M2P4 (Ultisol + biochar growing medium and fermented LOF leri given week), which was 185.99 g per plant. Keywords: household waste, lettuce, POC leri, rice washing liquid ABSTRAK Melakukan budidaya tanaman sayuran, seperti selada, pada tanah Ultisol memiliki beberapa kendala, seperti kurangnya bahan organik dan unsur hara pada tanah tersebut. Pemberian biochar dan POC leri atau pupuk organik dari cairan cucian beras diharapkan dapat menjadi solusi yang bersifat jangka panjang dan berkelanjutan. Penelitian ini dimaksudkan untuk menguji penambahan biochar pada media tanam dan pemberian leri pada budidaya selada. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama adalah pemberian biochar pada media tanam (M), yang terdiri dari M1: Ultisol tanpa biochar dan M2: Ultisol + 30 g biochar. Faktor kedua adalah pemberian pupuk organic cair (POC) leri (P), dengan sebanyak 5 perlakuan yang terdiri dari adalah P0: tanpa pemberian POC leri, P1: pemberian POC leri tanpa fermentasi 1 kali seminggu, P2: pemberian POC leri tanpa fermentasi 2 kali seminggu, P3: pemberian POC leri fermentasi 1 kali seminggu, P4: pemberian POC leri fermentasi 2 kali seminggu. Hasil penelitian ini diuji secara statistik dengan analisis ragam, dengan uji F; bila terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji BNJ (Beda Nyata Jujur) pada taraf 0,05. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan POC leri yang terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi selada adalah 25% POC leri fermentasi yang diberikan 2 kali seminggu, sebanyak 250 mL per tanaman selada. Secara tunggal perlakuan media tanam terbaik adalah M2 (tanah Ultisol+ 30 g biochar) dengan tinggi tanaman 25,80 cm dan jumlah daun 12, 83 helai; sedangkan perlakuan POC leri terbaik adalah P4 (POC leri fermentasi yang diberikan 2 kali seminggu), dengan tinggi tanaman 30,27 cm dan jumlah daun 14,42 helai. Berdasarkan berat basah tanaman, yang terbaik adalah pada perlakuan M2P4 (media tanam Ultisol + biochar dan POC leri fermentasi yang diberikan 2 kali seminggu), yaitu 185,99 g per tanaman. Kata kunci: cairan cucian beras, limbah rumah tangga, POC leri, selada
Jacobus S A Lamerkabel, Victor G Siahaya, Wulandari Saepuloh, Anang Lastriyanto, Mochammad Junus, Erwan Erwan, Jati Batoro, Firman Jaya, Dewi Masyithoh
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 17, pp 28-35; https://doi.org/10.30598/jbdp.2021.17.1.28

Abstract:
This study aimed to describe the morphological characters and morphometric measurements of worker level from the genus and species of stingless bee colonies in coastal areas. Observation of morphological characters and morphometric measurements used a microscope (stereo model Nikon C-LEEDS equipped with obtilab viewers software camera and image raster). The stingless bee species found in coastal areas belonged to the genus Tetragonula which consisted of Tetragonula sapiens and T. clypearis. T. sapiens was found in two locations, namely the coast of Airlow Hamlet and Negeri Rutong. T. clypearis was found in four locations, i.e., on the coast of Dusun Airlow, Negeri Rutong, Negeri Hukurila and Dusun Seri. Morphological identification was done by identifying ten morphological characters, and morphometric identification was done by measuring fourteen body parts. The results of this study indicated that the morphological and morphometric characters of T. sapiens workers were dominantly black in color with a body size of 3.74-4.25 mm. The first through the sixth abdomen tergites were black. The morphological and morphometric characters T. clypearis had a brownish black body color with a body size of 2.81-3.38 mm, a black thorax covered by six longitudinal hair bands and each separated by five conspicuous glabrous, the first and second abdomen tergites were brownish whereas the third through the sixth were black. Keywords: Ambon Island, morphology, morphometric, stingless bees. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakter morfologi dan pengukuran morfometrik strata pekerja dari genus dan spesies lebah tak bersengat koloni daerah pesisir. Pengamatan karakter morfologi dan pengukuran morfometrik menggunakan mikroskop (stereo model Nikon C-LEEDS yang dilengkapi kamera software obtilab viewers dan image raster). Spesies lebah tak bersengat yang ditemukan di daerah pesisir pantai tergolong dalam genus Tetragonula yang terdiri dari Tetragonula sapiens dan T. clypearis. T. sapiens ditemukan di dua lokasi yaitu pesisir pantai Dusun Airlow dan Negeri Rutong. T. clypearis ditemukan di empat lokasi, yaitu di pesisir pantai Dusun Airlow, Negeri Rutong, Negeri Hukurila dan Dusun Seri. Identifikasi morfologi dilakukan dengan mengidentifikasi sepuluh karakter morfologi dan identifikasi morfometrik dilakukan dengan cara mengukur empat belas bagian tubuh. Hasil penelitian ini menunjukan karakter morfologi dan morfometrik tubuh pekerja T. sapiens dominan berwarna hitam dengan ukuran tubuh 3.74-4.25 mm. Abdomen dan tergite satu sampai enam berwarna hitam. Karakter morfologi dan morfometrik T. clypearis memiliki warna tubuh hitam kecoklatan dengan ukuran tubuh 2.81-3.38 mm, thorax berwarna hitam yang ditutupi oleh enam hair bands longitudinal dan masing-masing dipisahkan oleh lima glabrous yang mencolok, abdomen dan tergite pertama sampai kedua berwarna kecoklatan sedangkan tergite ketiga sampai enam berwarna hitam. Kata kunci: Lebah tak bersengat, morfologi, morfometrik, Pulau Ambon.
Liza Octriana, Mizu Istianto
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 17, pp 15-22; https://doi.org/10.30598/jbdp.2021.17.1.15

Abstract:
One of the problems in papaya cultivation is the high attack of pests and diseases. The mealybug, P. marginatus L (Hemiptera: Pseudococcidae) is currently found to attack papaya plants. The infestation of mealybugs greatly affects the yield and quality of fruits. The purpose of this study was to determine the effect of the concentration of citronella oil on mealybugs on papaya plants. The study for the observation of mortality and fecundity used a Randomized Block Design (RAK), with 4 treatment levels of citronella oil concentration, namely 0 (control), 0.5 mL/L, 1 mL/L and 2 mL/L. Observation parameters included preference level of papaya mealybugs on the aroma of citronella oil, repellency, fecundity and mortality of mealybugs, with the application of citronella oil. The results showed that citronella oil has the potential to be used to control papaya mealybugs. The application of citronella oil at concentrations of 0.5, 1 and 2 mL/L showed repellent activity against mealybugs, reducing fecundity and causing mortality. The higher the concentration of citronella oil applied, the more potential to control mealybugs. However, the application of citronella oil must be considered for its impact on plants. Too high a concentration can cause toxicity to plants. Keywords: Citronella oil, mealybug, papaya ABSTRAK Salah satu kendala dalam budidaya pepaya adalah tingginya serangan hama dan penyakit. Kutu putih, P. marginatus L (Hemiptera: Pseudococidae) saat ini ditemukan banyak menyerang tanaman pepaya. Infestasi hama kutu putih sangat berpengaruh terhadap produksi dan kualitas buah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi minyak serai wangi terhadap kutu putih pada tanaman pepaya. Penelitian untuk pengamatan mortalitas dan keperidian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan 4 taraf perlakuan konsentrasi minyak sereh wangi, yaitu 0 (kontrol), 0,5 mL/L, 1 mL/L dan 2 mL/L. Parameter pengamatan meliputi preferensi (tingkat kesukaan) hama kutu putih pepaya terhadap aroma minyak serai wangi, daya repelensi, keperidian, serta tingkat kematian (mortalitas) hama kutu putih dengan pemberian minyak sereh wangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak sereh wangi berpotensi digunakan untuk pengendalian hama kutu putih pepaya. Aplikasi minyak sereh wangi pada konsentrasi 0.5, 1 dan 2 mL/L menunjukkan aktivitas repelen (penolak) terhadap kutu putih, menurunkan angka keperidian dan menyebabkan kematian (mortalitas). Semakin tinggi konsentrasi minyak sereh wangi yang diaplikasikan, semakin berpotensi mengendalikan hama kutu putih. Namun, aplikasi minyak serai wangi harus diperhatikan dampaknya pada tanaman. Konsentrasi terlalu tinggi bisa menyebabkan toksisitas pada tanaman. Kata kunci: Kutu putih, minyak sereh wangi, pepaya
Back to Top Top