JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN

Journal Information
ISSN / EISSN : 1858-4322 / 2620-892X
Current Publisher: Faculty of Law Pattimura University (10.30598)
Total articles ≅ 54
Filter:

Latest articles in this journal

Sri Hadiati, Tri Budiyanti, Mizu Istianto, Melli Firiani
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 16, pp 61-64; doi:10.30598/jbdp.2020.16.1.61

Abstract:
Propagation of snake fruit (Salacca zalacca) plants can be done by layering with the advantage that the plant is identical to its parent, the fruiting age is earlier and the type of male or female plant can be known in advance. For the purpose of propagation, it was necessary to get the proper concentration of cow urine on snake fruit propagation by layering. This research was carried out in April-December 2017 in Bintan Regency Seed Unit, Riau Islands. The materials used for the layering were lateral shoots of Sari Intan snake fruit which had 3 to 4 leaves. This design research used was a Randomized Block Design, consist of five treatment levels of cow urine concentrations, i.e. 0 (control), 10%, 20%, 30%, and 40%, with three replication. Every treatment consisted of 5 shoots. The variables researched were leaf number, plant height, primary root number and length, root weight, percentage of successful layering, percentage of seedlings that had dry shoots. The results indicated that the number of primary roots and height of snake fruit seedlings increased by application of 20% cow urine. Thus, the use of cow urine at the right concentration of 20% in snake fruit layering could increase its success. Keywords: cow urine, layering, plant propagation, Salacca zalacca ABSTRAK Perbanyakan tanaman salak (Salacca zalacca) bisa dilakukan melalui cangkok dengan keuntungan yaitu hasil buahnya sama dengan induknya, umur berbuah lebih cepat serta jenis salak jantan atau betina dapat diketahui sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi urine sapi yang tepat pada perbanyakan salak secara cangkok. Penelitian telah dilakukan pada bulan April-Desember 2017 di Balai Benih Kabupaten (BBK) Bintan, Kepulauan Riau. Bahan yang digunakan untuk cangkok yaitu tunas anakan salak Sari Intan yang berdaun 3-4 pelepah. Desain penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok, terdiri atas lima level konsentrasi urine sapi, yakni 0 (kontrol), 10%, 20%, 30%, dan 40%, dengan pengulangan tiga kali. Setiap perlakuan terdiri atas 5 tunas anakan. Peubah yang diamati meliputi jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah dan panjang akar primer, bobot akar, persentase benih hidup, persentase benih mengalami kekeringan pada pucuk daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah akar primer dan tinggi bibit salak dapat meningkat dengan pemberian urine sapi pada konsentrasi 20%. Dengan demikian, penggunaan urine sapi dengan konsentrasi yang tepat yakni pada konsentrasi 20% pada pencangkokan salak dapat meningkatkan keberhasilannya. Kata kunci: cangkok, perbanyakan, Salacca zalacca, urine sapi
Husda Marwan, Rainiyati Rainiyati, Sri Mulyati
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 16, pp 95-101; doi:10.30598/jbdp.2020.16.1.95

Abstract:
Endophytic bacterium EAL15 and EKK22 isolated from banana plants can suppress the development of blood diseases caused by Ralstonia solanacearum Phylotype IV in banana. This study aims to obtain the best liquid media for multiplying endophytic bacterial isolates EAL15 and EKK22, as well as the effect of the application of endophytic bacteria to the development of blood diseases in banana plants in the field. The liquid media tested were: coconut water waste + peptone, coconut water waste, and peptone. The application of endophytic bacterial suspension on Raja Bulu banana seedlings was done one month before planting, during planting, and 3 months after planting. Inoculum of R. solanacearum was inoculated on roots and banana flowers. Observations were made on the number of endophytic bacterial populations in each liquid media, the severity of blood diseases in plants and the incidence of blood diseases in bananas. The results showed that the liquid media of coconut water waste +peptone was the best medium for multiplying endophytic bacterial isolates. The application of endophytic bacteria influences the severity of blood diseases in banana plants and the incidence of diseases in bananas. The frequency of application of endophytic bacteria has no effect on the development of blood diseases in plants and bananas. Keywords: banana; blood disease; endophytic bacteria ABSTRAK Isolat bakteri endofit EAL15 dan EKK22 yang diisolasi dari tanaman pisang mampu menekan perkembangan penyakit darah yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum Phylotipe IV pada bibit pisang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan media cair terbaikuntuk memperbanyak isolat bakteri endofit EAL15 dan EKK22, serta pengaruh aplikasi bakteri endofit terhadap perkembangan penyakit darah pada tanaman pisang di lapangan. Media cair yang diuji yaitu : limbah air kelapa + pepton, limbah air kelapa, dan pepton. Aplikasi suspensi bakteri endofit pada bibit pisang Raja Bulu dilakukan satu bulan sebelum ditanam, saat tanam, dan 3 bulan setelah tanam. Inokulum R. solanacearumdiinokulasikan pada perakaran dan bunga pisang. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah populasi bakteri endofit dalam masing-masing media cair, keparahan penyakit darah pada tanaman dan kejadian penyakit darah pada buah pisang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media limbah air kelapa + pepton merupakan media terbaik untuk memperbanyak isolat bakteri endofit. Aplikasi bakteri endofit berpengaruh terhadap keparahan penyakit darah pada tanaman pisang dan kejadian penyakit pada buah pisang. Frekuensi aplikasi bakteri endofit tidak berpengaruh terhadap perkembangan penyakit darah pada tanaman dan buah pisang. Kata kunci: Bakteri endofit, penyakit darah, pisang
Marni Papa, Helen Hetharie, Fransin Polnaya
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 16, pp 88-94; doi:10.30598/jbdp.2020.16.1.88

Abstract:
Cowpea belongs to minor legumes that have a prospect for future improvement as a supplementary food source. This research aimed to describe the vegetative growth of local cowpea and obtain genotypes with the highest performances of yield components and yields. This research was conducted as a single factor experiment that tested 14 accessions of cowpea. The study used a Completely Randomized Block Design with three replications. The results showed that KTm‑1, KTm-5, KTm-9, KTm-10, KTm-16, and KTm-26 accessions showed a denser appearance characteristic as indicated by their higher branch number and leaf number. Whereas, KTm-12 and KTm-20 had a characteristic of compact canopy appearance with a relatively short plant, but also with greater branch number and leaf number than that of the KT 6 national variety that did not have a dense canopy performance. The performance of KTm-5 and KTm-19 local accessions showed superior appearance in some of the observed yield variables, i.e. total pod number, full pod number, pod weight per plant, seed number, total seed number, and seed weight per plant, compared to the other local accessions. These two former local accessions showed the potential for all yield variables as good as those of the KT6 superior variety. For the seed number per pod and the seed locus number per pod, all local accessions except KTm-1 and KTm-17 were as excellent and high as those of the KT6 superior variety. Keywords: cowpea, local accessions, performance, yield ABSTRAK Kacang tunggak merupakan kacang-kacangan minor yang mempunyai prospek pengembangan ke depan sebagai sumber makanan tambahan. Penelitian bertujuan mendiskripsikan keragaan pertumbuhan vegetatif kacang tunggak lokal dan mendapatkan aksesi kacang tunggak lokal dengan hasil maupun komponen hasil tertinggi. Penelitian ini merupakan percobaan faktor tunggal yaitu menguji 14 aksesi kacang tunggak. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan KTm-1, KTm-5, KTm-9, KTm-10, KTm-16 dan KTm-26 memiliki karakteristik penampilan lebih rimbun berdasarkan jumlah cabang dan jumlah daun banyak. Sedangkan KTm-12 dan KTm-20 memiliki karakteristik rimbun dengan ciri tanaman relatif pendek namun jumlah cabang dan jumlah daunnya banyak dibandingkan varietas Nasional KT 6 dengan penampakan yang tidak rimbun. Keragaan produksi aksesi lokal KTm-5 dan KTm-19 memiliki penampilan lebih unggul pada beberapa peubah produksi yang diamati, yaitu jumlah polong total, jumlah polong bernas, bobot polong per tanaman, jumlah biji, jumlah biji bernas, bobot biji per tanaman, dibandingkan aksesi-aksesi lokal yang lain. Dua aksesi lokal tersebut berpotensi pada semua peubah produksi yang sama baik dengan varietas unggul KT6. Pada peubah jumlah biji per polong dan jumlah lokus biji per polong semua aksesi lokal sama baik dan tinggi dengan varietas unggul KT6 kecuali aksesi lokal KTm-1 dan KTm-17. Kata kunci: aksesi lokal, kacang tunggak, keragaan, produksi
Natelda R Timisela, Yuliahwati E Salampessy, Yolanda M T N Apituley
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 16, pp 31-41; doi:10.30598/jbdp.2020.16.1.31

Abstract:
The distribution channel is one of the significant factors that influence the price formation of a commodity. This research intended to analyze several factors that affect the price formation of cayenne and shallot at the retail level in Ambon City. The data collected in this research were primary and secondary. The samples used in this research consisted of 30 respondents of each commodity (shallot and cayenne), and eight people from each marketing agency or distributors (wholesalers, distributors, and retailers). The collected data were analyzed by applying Multiple Linear Regression analysis. The result of the research depicted that factors that influenced the price formation of cayenne at the retail levels were transportation (X1), the packaging (X3), the difference between in supply and demand (X5), while that factors that influence the price formation of shallots at the retail levels were transportation (X1), the difference between in supply and demand (X5), production (X6), and substitution goods (X7). Keywords: cayenne, shallot, price, retail ABSTRAK Saluran distribusi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan harga suatu komoditas. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor mempengaruhi pembentukan harga cabai rawit dan bawang merah ditingkat eceran di Kota Ambon. Sampel penelitian adalah pengecer komoditi bawag merah dan cabe rawit berjumlah masing-masing 30 responden. Analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan harga cabai rawit di tingkat eceran adalah transportasi (X1), kemasan (X3) dan selisih pasokan dan permintaan (X5), sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan harga bawang merah di tingkat eceran adalah transportasi (X1), selisih pasokan dan permintaan (X5), produksi (X6), dan barang substitusi (X7). Kata Kunci: bawang merah, cabai rawit, harga, eceran
Marietje Pesireron, Sheny S Kaihatu, Rein E Senewe
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 16, pp 42-50; doi:10.30598/jbdp.2020.16.1.42

Abstract:
The low yield of cabbage in Maluku is thought to due to the lack of attention of farmers to grow to crop because so far farmers think it can only grow well and forms crops in the highlands, so no one wants to grow cabbage. This study aimed to determine the yield performance of five cabbage varieties with the use of several types of mulches and was carried out in Gemba Village, Kairatu Subdistrict, Western Seram Regency. The experimental design used was the factorial Randomized Block Design with three replications and the farmers as replications. The first factor was five varieties of cabbage (Sehati-F1, Daehnfeldt, Green Hero, Green Coronet, KK-Koss), the second factor was the type of mulch, consisting of four types, namely: without mulch (M0), black silver plastic mulch, straw mulch, and husk mulch. The data obtained were analyzed with analysis of variance and DMRT test at the level of 5% if necessary. Parameters observed included plant height at 45 days after planting, leaf number, percentage of crop formation, percentage of pest and disease attacks, crop circumference per plant at harvest, fruit weight, and yield. The study results showed that the five varieties tested with the use of various types of mulch had the potentials to be developed in Maluku. Varieties with the highest yields and very good adaptation to lowland environments in Maluku included Sehati-F1 and KK-Cross. Pest control by using plant-based pesticides in a combination with scheduled mechanical control (yellow plates, pitfalls, and stick traps) could reduce the levels of pest and disease attacks and the crops appeared healthy for consumption. Keywords: cabbage, lowland, mulch ABSTRAK Rendahnya produksi kubis di Maluku diduga akibat kurangnya perhatian petani untuk bertanam kubis, yang dikarenakan selama ini petani mengira kubis hanya dapat tumbuh baik dan membentuk krop di dataran tinggi, sehingga sedikit petani yang mau berusahatani kubis. Kajian ini bertujuan mengetahui keragaan hasil lima varietas kubis dengan penggunaan berbagai jenis mulsa di desa Gemba, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan dan petani sebagai ulangan. Faktor pertama adalah lima varietas kubis (Sehati-F1, Daehnfeldt, Green hero, Green Coronet, KK-Cross); faktor kedua adalah jenis mulsa yang terdiri dari empat macam, yaitu: tanpa mulsa (M0), mulsa plastic hitam perak, mulsa jerami dan mulsa sekam. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan uji lanjut DMRT pada taraf 5% sesuai kebutuhan. Peubah-peubah yang diamati meliputi tinggi tanaman umur 45 hari setelah tanam (hst), jumlah daun, persentase pembentukan krop, persentase serangan hama dan penyakit, lingkar buah per tanaman saat panen, bobot buah dan hasil panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima varietas yang di uji dengan penggunaan berbagai jenis mulsa sangat berpotensi untuk dibudidayakan di Maluku berdasarkan kemampuannya membentuk krop. Varietas dengan produksi tertinggi dan beradaptasi sangat baik terhadap lingkungan dataran rendah di lokasi penelitian adalah Sehati-F1 dan KK-Cross. Penggendalian hama dengan menggunakan pestisida nabati yang dikombinasikan dengan pengendalian secara mekanis (tampan kuning, pitfoll dan sticky trap) secara terjadwal dapat menurunkan tingkat serangan hama dan penyakit, dan menghasilkan tanaman-tanaman yang sehat. Kata Kunci: dataran rendah, kubis, mulsa, varietas
Syaiful Asikin, Yuli Lestari
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 16, pp 102-108; doi:10.30598/jbdp.2020.16.1.102

Abstract:
Based on integrated pest control, the use of toxic chemicals or chemical pesticides/insecticides is the last alternative if other components are no longer able to control, then pesticides/insecticides can be used. Currently, plant-based insecticides are being developed in controlling plant pests. Unwise and continuous use of chemical pesticides/insecticides will cause environmental pollution problems that result in pest outbreaks, pest resistance, and resurgence, ridding of non-targeted pests and natural enemies of plant pests and bad effects on consumers and pets. About 350-500 species of plants have the potentials to become sources of plant-based insecticides, from that number around 90-100 species of swamp plants have the potentials to be used as biological insecticides in controlling rice and vegetable/horticulture pests. Some of the plant species that extracts were used in this study were ‘jingah’, ‘tapak liman’, ‘simpur’ and ‘kamandrah’. This study was arranged in an experiment using a randomized block design (RBD) with 5 replications. The treatments given included extracts of 4 types of swamp plants plus 3 control treatments, namely control 1 (without pest control), control 2 (BGA plant-based insecticide treatment), and control 3 ('Dimehipo' chemical insecticide). From the results of the study it could be concluded that extracts for ‘jingah’, ‘tapak liman’, ‘simpur’ and ‘kamandrah’ were effective in controlling the main rice pests in the tidal swamp land. As for the yield of dried grain harvest in the swamp, plant extracts 4.54-4.62 and control of chemical insecticides 4.63 t/ha, BGA biological insecticide. For convenience for use, Jingahextracts need to be considered because this jingah plant extract can cause allergies and itching when exposed to the skin and is very disturbing for the user. Keywords: application, rice pest, tidal swamp, vegetable insecticide ABSTRAK Berdasarkan pengendalian hama terpadu, penggunaan bahan kimia beracun atau pestisida/insektisida kimiawi merupakan alternatif terakhir apabila komponen lainnya tidak mampu lagi, baru pestisida/insektisida dapat digunakan. Bahkan sekarang ini mulai dikembangkan pestisida/insektisida nabati dalam mengendalikan hama tanaman. Penggunaan pestisida/insektisida kimiawi yang kurang bijak dan terus-menerus akan menyebabkan masalah pencemaran lingkungan yang berakibat terjadinya ledakan hama, terjadinya resistensi dan resurgensi hama, terbunuhnya hama bukan sasaran dan musuh alami hama tanaman, serta pengaruh buruk bagi konsumen dan hewan peliharaan. Di lahan rawa ditemukan sekitar 350-500 jenis tumbuhan/tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati, dari jumlah tersebut sekitar 90-100 jenis tumbuhan rawa berpotensi sebagai bahan pembuatan insektisida nabati dalam mengendalikan hama padi, hama sayuran/hortikultura. Beberapa jenis tumbuhan tersebut yang ekstraknya digunakan pada penelitian ini adalah jingah, tapak liman, kamandrah dan pulai. Penelitian dilakukan dengan percobaan yang menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Perlakuan yang diberikan meliputi ekstrak empat macam tumbuhan rawa dan ditambah dengan 3 perlakuan kontrol, yaitu kontrol 1 (tanpa pengendalian), kontrol 2 (perlakuan insektisida nabati BGA) dan kontrol 3 (insektisida kimiawi Dimehipo). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tumbuhan-tumbuhan jingah, tapak liman, simpur dan tumbuhan kamandrah efektif dalam mengendalikan hama utama padi di lahan rawa pasang surut. Hasil gabah kering panen dengan aplikasi ekstrak tumbuhan rawa adalah sebesar 4,54-4,62 t/ha dan kontrol insektisida kimia 4,63 t/ha, insektisida nabati BGA. Untuk kenyamanan bagi penggunakan maka ekstrak tumbuhan jingah perlu dipertimbangkan karena ekstrak tumbuhan jingah ini dapat menimbulkan alergi dan gatal-gatal kalau terkena kulit dan sangat mengganggu bagi pengguna. Kata kunci: hama padi, insektisida nabati, rawa pasang surut
Rebin Rebin, Karsinah Karsinah, Ni L P Indriyani
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 16, pp 71-76; doi:10.30598/jbdp.2020.16.1.71

Abstract:
Mango propagation by grafting usually uses scions 15-20 cm in length consisting of 3-4 buds. This method is less efficient because producing mass plant materials requires a considerable number of scion sources. To increase the efficiency of the scion use, grafting propagation technique with scions that have less than three buds (short scion) is needed. The research aimed to obtain information about the use of the most efficient number of scion bud(s) on mango propagation through grafting technique. The study was carried out at Cukurgondang Experimental Field, Pasuruan, East Java, from January to December 2018. The experiment was arranged in a factorial Randomized Block Design with two factors and three replications. The factor I was the number of buds on scion for grafting, consisting of 3 levels, i.e., P1 (1 bud), P2 (2 buds), and P3 (3 buds) as a control. Factor II was the variety of scion, consisting of 3 types, i.e., V1 (Garifta Merah), V2 (Agri Gardina 45), and V3 (Gadung 21). Each experimental unit consisted of 15 plant materials. The results indicated that there was no interaction between the number of scion bud(s) with the variety for all observational variables. Scion with 1 bud was the most efficient treatment compared to those with 2 and 3 buds for propagation by grafting. So that with the finding of useful technology in producing mango plant materials, the number of plant materials that can be provided in the same unit of time can be increased. Keywords: grafting, mango, propagation, scion bud ABSTRAK Perbanyakan mangga dengan sambung pucuk biasanya menggunakan entres yang panjangnya 15-20 cm yang terdiri dari 3-4 mata tunas. Cara ini kurang efisien karena untuk memproduksi benih secara masal memerlukan sumber entres yang sangat banyak. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan entres maka diperlukan teknik perbanyakan sambung pucuk dengan menggunakan entres dengan jumlah mata kurang dari 3 mata (entres pendek). Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang penggunaan jumlah mata entres yang paling efisien pada perbanyakan mangga melaui teknik sambung pucuk. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cukurgondang, Pasuruan, Jawa Timur mulai Januari sampai Desember 2018. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor I adalah jumlah mata entres untuk sambung pucuk terdiri dari tiga level, yaitu: P1 (1 mata), P2 (2 mata), dan P3 (3 mata) sebagai kontrol. Faktor II adalah varietas batang atas terdiri dari tiga level, yaitu: V1 (Garifta Merah), V2 (Agri Gardina 45) dan V3 (Gadung 21). Setiap unit percobaan terdiri dari 15 benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara perlakuan jumlah mata entres dengan perlakuan varietas untuk semua parameter pengamatan. Entres satu mata merupakan perlakuan yang paling efisien dibandingkan dengan entres 2 dan 3 mata dalam perbanyakan mangga dengan sambung pucuk. Dengan diperolehnya teknologi yang efisien dalam memproduksi benih mangga, maka jumlah benih yang dapat diproduksi dalam satuan waktu yang sama menjadi lebih banyak. Kata kunci: mata entres, mangga, perbanyakan, sambung pucuk
Ni Luh Putu Indriyani, Deni Emilda
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 16, pp 56-60; doi:10.30598/jbdp.2020.16.1.56

Abstract:
One of the horticultural commodities included in the national seed provision program in 2018 is a stinking bean. The aim of the research was to determine the effect of seed weight on stink bean seedling growth. The research was conducted at Sumani Research Station, Indonesian Tropical Fruit Research Institute, from September to December 2017. A Complete Randomized Block Design was used in this study consisted of 5 treatments and 4 replications. The treatments were stink bean seed weights, namely: A) 1.5-1.8 g; B) 1.9-2.2 g; C) 2.3-2.6 g; D) 2.7-3 g; and E) > 3 g. The observed variables were plant height, stem diameter, leaf number, leaflet number, total dry weight of plants, length of roots, and a number of living seedlings. Data analysis used analysis of variance (ANOVA) and was proceeded with HSD test at α 5% if these treatments given gave significantly different effects. The results showed that the stink bean seed weight significantly affected the growth parameters of seedlings, including plant height, stem diameter, leaflet number, dry weights (of roots, upper parts of plants, and total) at 12 weeks after sowing. The seedlings from seeds weighing >3 g had the highest plant height, stem diameter, leaflet number, and dry weight (of roots, upper parts of plants, and total) compared to those seedlings from smaller seeds. Keywords: stink bean, seed weight, seedling growth ABSTRAK Salah satu komoditas hortikultura yang termasuk dalam program perbenihan nasional pada tahun 2018 adalah petai. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh bobot biji terhadap pertumbuhan semai petai. Penelitian dilakukan di KP Sumani, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, mulai bulan September sampai Desember 2017. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan adalah bobot biji petai, yaitu: A) 1,5-1,8 g; B) 1,9-2,2 g; C) 2,3-2,6 g; D) 2,7-3 g; dan E) > 3 g. Peubah yang diamati adalah tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, jumlah anak daun,bobot kering total tanaman, panjang akar dan jumlah benih hidup. Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji beda BNJ 5% jika perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang nyata. Penelitian menunjukkan bahwa bobot biji petai berpengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan, seperti tinggi tanaman, diameter batang, jumlah anak daun, bobot kering (akar, bagian atas tanaman dan total) pada umur 12 minggu setelah semai. Semaian dari biji dengan bobot > 3 g mempunyai tinggi tanaman, diameter batang, jumlah anak daun dan bobot kering (akar, bagian atas tanaman dan total) yang terbesar dibandingkan bibit-bibit dari biji-biji yang lebih kecil. Kata kunci: bobot biji, pertumbuhan bibit, petai
Ckrisna Nuruwe, Johan M Matinahoru, Miranda H Hadijah
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 16, pp 65-70; doi:10.30598/jbdp.2020.16.1.65

Abstract:
The purpose of this study was to determine the macroscopic and microscopic characteristics of endophytic bacteria that live in the root and leaf tissue of several wet habitat trees, such as: kayu marsegu (Anthocephalus cadamba), ketapang hutan (Terminalia copelandii) and kayu burung (Elaeocarpus ganitrus). This study shows that the results of microscopic identification of 20 samples of bacterial isolates, there are only 11 samples of endophytic bacteria that live in the root and leaf tissue of tree samples. Furthermore, based on microscopic identification with the Gram Staining Method, it was found that there were 17 samples of endophytic bacterial isolates categorized into gram-negative (-), namely: DM1, DM3, DM4, AM1, AM2, AM3, AM4, DKH2, DKH3, DKH4, AKH1, AKH2, AKB1, AKB2, AKB3, DKB3, and DKB4. While 3 other bacterial isolate samples were classified into gram-positive (+), namely: AKH3, AKH4, and AKB4. Based on observations with a microscope with 1000 times the magnification size, all bacteria isolates were categorized as a rounded bacterial group, and therefore they are classified as genera Monococcus, Staphylococcus, and Streptococcus. The study also found that all three genera of bacteria have the ability to live in root and leaf tissue, even though the tree habitat is in a long-wet condition. Keywords: endophytic bacteria, isolation, morphology, wet habitat trees ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan karakteristik makroskopis dan mikroskopis dari bakteri endofit yang hidup di akar dan jaringan daun dari beberapa pohon habitat basah, seperti: kayu marsegu (Anthocephalus cadamba), ketapang hutan (Terminalia copelandii) dan kayu burung (Elaeocarpus ganitrus). Penelitian ini menunjukkan bahwa dari hasil identifikasi mikroskopis terhadap 20 sampel isolat bakteri, hanya ada 11 sampel bakteri endofit yang hidup di akar dan jaringan daun sampel pohon. Selanjutnya, berdasarkan identifikasi mikroskopis dengan Metode Pewarnaan Gram, ditemukan bahwa ada 17 sampel isolat bakteri endofit yang dikategorikan menjadi gram‑negatif (-), yaitu: DM1, DM3, DM4, AM1, AM2, AM3, AM4, DKH2, DKH3, DKH4, AKH1, AKH2, AKB1, AKB2, AKB3, DKB3, dan DKB4. Sedangkan 3 sampel isolat bakteri lainnya digolongkan kedalam gram-positif (+), yaitu: AKH3, AKH4, dan AKB4. Berdasarkan pengamatan dengan mikroskop ukuran pembesaran 1000 kali, semua isolat bakteri dikategorikan sebagai kelompok bakteri bulat, dan oleh karena itu mereka diklasifikasikan sebagai genus Monococcus, Staphylococcus, dan Streptococcus. Studi ini juga menemukan bahwa ketiga genera bakteri memiliki kemampuan untuk hidup dalam jaringan akar dan daun, meskipun habitat pohon berada dalam kondisi basah yang lama. Kata Kunci: bakteri endofit, isolasi, morfologi, pohon berhabitat basah
Junaidi Junaidi
JURNAL BUDIDAYA PERTANIAN, Volume 16, pp 1-10; doi:10.30598/jbdp.2020.16.1.1

Abstract:
Most people understate that latex harvesting is merely cutting the bark and collecting the sap. Since it was cultivated in the monoculture plantation system, rubber (Hevea brasiliensis) harvesting system has been transformed continually. This article presents the transformation of rubber harvesting systems, tapping innovations that have been developed, and the current condition of rubber agribusiness and its impact on the tapping system applied. At the beginning of the development of the rubber cultivation era, tapping was conducted with multiple slicings to gain high rubber yield. This system turned into one slice to extend the economic span of the plant. The invention of latex stimulants transformed the rubber tapping system from once every two days (d2) without stimulants to once every three days (d3) with stimulants. In the case of the tapping technique, several tapping systems have been developed, including puncture tapping, upward and double-cut tapping, Alternate Tapping System, and Change Over Panel. Except for the puncture tapping, those tapping systems are still used nowadays. Latex diagnosis, that is the measurements of the sucrose, inorganic phosphate, and thiol contents in the latex, became the basis of clonal grouping and the clonal typology tapping system. The current low rubber price renders the adoption of low-frequency tapping systems (d4, d5, or d6) with high dose and frequency of stimulant application. In the future, the low-frequency tapping system will remain the ultimate choice as labor costs continue rising. Besides, the use of sensory technology and digital instruments is being widely studied, which indicates that the latex harvesting system in rubber plants is believed to continue to develop. Keywords: Hevea brasiliensis, latex diagnosis, latex yield, stimulant, tapping ABSTRAK Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa memanen lateks hanya mengiris kulit dan menampung getahnya. Namun sebenarnya, sejak dikembangkan dalam sistem perkebunan monokultur, sistem pemanenan lateks karet (Hevea brasiliensis) terus mengalami pembaharuan. Artikel ini menyajikan transformasi sistem pemanenan lateks tanaman karet, inovasi-inovasi yang pernah dikembangkan, serta kondisi agribisnis karet saat ini dan dampaknya terhadap sistem sadap yang diterapkan. Pada awal perkembangan perkebunan karet, penyadapan dilakukan dengan banyak irisan untuk mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya. Ini kemudian berubah menjadi satu irisan untuk memperpanjang umur ekonomis tanaman. Penggunaan stimulan mengubah sistem penyadapan karet dari dua hari sekali (d2) tanpa stimulan menjadi tiga hari sekali (d3) dengan stimulan. Dalam hal teknis, beberapa sistem sadap pernah dikembangkan antara lain, sadap tusuk, penyadapan ke arah atas, sadap ganda, Alternate Tapping System, dan Change Over Panel. Selain sadap tusuk, inovasi-inovasi penyadapan tersebut tetap digunakan sampai saat ini. Diagnosis lateks melalui pengukuran kadar sukrosa, fosfat anorganik, dan thiol dalam lateks, menjadi dasar pengelompokan klon dan penyadapan tipologi klonal. Harga karet yang rendah saat ini menyebabkan perusahaan perkebunan cenderung mengadopsi sistem sadap frekuensi rendah (d4, d5, atau d6) dengan dosis dan frekuensi stimulan yang tinggi. Di masa yang akan datang, sistem sadap frekuensi rendah akan tetap menjadi pilihan utama karena upah tenaga kerja terus meningkat. Selain itu, penggunaan teknologi sensorik dan instrumen digital mulai banyak diteliti. Melihat fakta-fakta ini, sistem pemanenan lateks pada tanaman karet diyakini akan terus berkembang. Kata kunci: diagnosis lateks, Hevea brasiliensis, penyadapan, produksi karet, stimulan
Back to Top Top