Journal Information
ISSN / EISSN : 1412-0992 / 2527-922X
Total articles ≅ 421
Filter:

Latest articles in this journal

Latifah Latifah
Millah, Volume 20, pp 173-194; https://doi.org/10.20885/millah.vol20.iss1.art7

Abstract:
The existence of the Krapyak Islamic Boarding School as a sub-culture of the Islamic community of Krapyak has become a distinct feature for the people of Krapyak. When viewed from a sociological perspective, Islamic pesantren culture contributes to determining certain value standards in society as a social system. This study seeks to see the role played by the Krapyak Islamic Boarding School for improving the quality of Islamic Religious Education at SDN Jageran Krapyak. The research findings show that Krapyak Islamic Boarding School plays a role for improving the quality of Islamic Education in SDN Jageran at least through understanding the material, forms of cooperation, and the results of quality improvement in the aspects of cognitive, affective and psychomotor.Keywords: Krapyak Islamic Boarding School, social system, social structure, Education Quality DevelopmentIntisari Keberadaan pondok Pesantren Krapyak sebagai sub kultur masyarakat krapyak yang islami menjadi ciri tersendiri bagi masyarakat krapyak. Bila dilihat dari perspektif Sosiologi, kultur islami pesantren turut andil dalam menentukan standar nilai tertentu dalam masyarakat sebagai sistem sosial.. Penelitian ini berusaha melihat peran yang dimainkan oleh Pondok Pesantren Krapyak terhadap peningkatan mutu Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN Jageran Krapyak. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Krapyak berperan dalam meningkatkan mutu PAI di SDN jageran setidaknya melalui pemahaman materi, bentuk kerjasama dan hasil peningkatan mutu dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.Kata Kunci: Pondok Pesantren Krapyak, sistem sosial, struktur sosial, Peningkatan Mutu Pendidikan
Imam Mukhyidin, Junanah Junanah, Mohamad Joko Susilo
Abstract:
Dalam era globalisasi saat ini, pendidikan Islam di Indonesia menghadapi banyak masalah, antara lain: degradasi moral, hilangnya semangat untuk meneliti, serta hilangnya keberanian dan kepercayaan diri. Fokus dalam artikel hasil penelitian ini adalah (a) bagaimana konsep humanisme religius dalam pendidikan islam? dan (b) bagaimana implikasi konsep humanisme religius menurut perspektif Abdurahman Mas'ud pada pendidikan formal di Indonesia? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan studi pustaka. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan islam humanisme religius merupakan proses pembentukan karakter, akhlak dan wawasan serta ilmu pengetahuan dengan cara menempatkan manusia sebagai manusia dengan landasan agama yang disertai hubungan manusia dengan Allah SWT dan sesama manusia atau hablun minallah dan hablun minnas. Implementasinya lebih fokus kepada aspek common sense, individualisme menuju kemandirian, thirst of knowledge, pendidikan pluralisme, kontekstualisme lebih mementingkan fungsi dari simbol, dan keseimbangan antara reward and punishment dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah/madrasah. Implikasi pendidikan islam humanisme religius terjadi dalam proses pendidikan di madrasah dan Universitas Islam dengan strategi menciptakan kombinasi yang seimbang antara pendekatan dan tujuan, keseimbangan antara orientasi dan informasi, menciptakan iklim/budaya akademik yang mendukung, dan membuat kurikulum yang berkarakteristik. Kata kunci: pendidikan islam, humanisme religius, Abdurrahman Mas’ud, madrasah
Komaruddin Sassi
Millah, Volume 20, pp 135-172; https://doi.org/10.20885/millah.vol20.iss1.art6

Abstract:
Penelitian ini mengeksplorasi tentang formulasi prinsip-prinsip pendidikan Islam paradigma tauhid yang digagas oleh Naquib al-Attas. Urgensi masalah pada tulisan ini adalah mengungkapkan hasil renungan yang dalam dari Naquib al-Attas terhadap praktik pendidikan Islam dewasa ini yang agaknya telah “lari” dari pandangan dunia Islam (ru'yah al-Islam li al-wujud) yang dianalisis penulis menjadi lima prinsip epistemologi pendidikan Islam berparadigma tauhid. Penelitian kepustakaan (library research) ini menggunakan data kualitatif dengan sumber primer, Prolegomena to The Metaphysics of Islam An Exposition of The Fundamental Elements of The Wordview of Islam (1995), dan sumber sekunder dari karya-karya Naguib al-Attas lainnya, termasuk juga karya orang lain terhadap gagasan dan pemikirannya. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: Pertama, pemaknaan tauhid tidak sebatas pada dimensi teosentris semata, melainkan berkembang pada pemaknaan dalam dimensi antroposentris sekaligus penggabungan antara keduanya dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan sehingga term pendidikan yang tepat dan benar adalah ta'dib. Kedua, implikasi dari pendidikan sebagai ta'dib, melahirkan konsekuensi lima prinsip epistemologi pendidikan Islam paradigma tauhid untuk dijadikan acuan dalam sistem dan proses pendidikan Islam yang berperadaban.
Husnul Hidayati
Millah, Volume 20, pp 111-134; https://doi.org/10.20885/millah.vol20.iss1.art5

Abstract:
Untuk mencapai kepuasan, manusia dituntut untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, salah satu kebutuhan yang paling dasar bagi manusia adalah kebutuhan fisiologis (physiological needs). Namun, untuk mencapai kepuasan tersebut, manusia harus mampu mengendalikan nafsunya sehingga mereka tidak lantas hanyut menuruti nafsu yang meluap-luap. Penelititan ini bertujuan menemukan peran riyadhah puasa sebagai bentuk pendidikan pengendalian diri dalam memenuhi kebutuhan fisiologis manusia. Temuan penelitian menunjukkan bahwa riyadhah puasa yang dijalani oleh santri Pondok Pesantren Al-Munawwir selama tiga tahun tanpa henti membantu mereka dalam menentukan batas kebutuhan yang sebenarnya mereka butuhkan. Selain itu, mereka juga lebih mengenali diri mereka sendiri, dan lebih tenang dalam menjalani hidup.
Asrizal Saiin, Pipin Armita, Muhammad Rizki
Millah, Volume 20, pp 89-110; https://doi.org/10.20885/millah.vol20.iss1.art4

Abstract:
Tulisan ini bertujuan untuk meluruskan pemahaman di masyarakat bahwa Pesantren adalah sumber terjadinya konflik sosial. Sebenarnya, pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang berfungsi sebagai pembentukan etika sosial. Seiring dengan berkembangnya globalisasi dan era modernisasi sekarang ini, fungsi-fungsi Pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan Islam, akan tetapi ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, mentransfer ilmu-ilmu keislaman, memelihara tradisi keislaman, dan menciptakan generasi Islam yang mampu bersaing di era globalisasi. Adapun metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan atau studi dokumentasi dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Berdasarkan data yang terkumpul, diketahui bahwa pesantren di samping sebagai lembaga pendidikan Islam, juga merupakan lembaga pendidikan masyarakat dan tetap mendapat kepercayaan di mata masyarakat. Apabila sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat, maka akan terwujud suatu bentuk pendidikan Islam yang dapat mengatasi masalah masyarakat, salah satunya adalah konflik sosial.
Dewi Isnawati Intan Putri
Abstract:
Students are an important element in education, without students it is impossible to develop in the classroom. This research was conducted at MI Al-Hidayah Bagor Sragen regency. This study aims to improve the quality of the students quality to have qualified abilities when completing studies at an educational institution and implement the development of students based on total quality management (TQM) as an alternative in printing intelligent educational outputs of intellect and morality, one of the educational institutions implementing the management is MI Al-Hidayah Bagor Sragen regency. Researchers in researching MI Al-Hidayah used a qualitative approach with descriptive analysis. The results of this study are that in developing the quality of students requires good management also in developing students such as understanding the process and customer satisfaction, the madrasa will be able to realize and appreciate quality. Management of student development used by researchers namely Planning, mechanism for student acceptance, selection process and orientation activities for new students, division of classrooms, guidance and development, monitoring and evalation of student management in MI Al-Hidayah Bagor Sragen regency.Keywords: Students, Development, Management.
Burhan Nudin
Abstract:
To build Islamic education for children in their early age requires a good understanding of Islamic values itself and technically also demand good cooperation from parents in house for children character building, the presence of teacher in the school and the support of a conducive environment. And this what is called ‘Tripusat Pendidikan’, which recognize the existence of educational centers which affect the process of growth and development of a child to face an era that difficult to predict the changes and the danger for children, the era that known as era of disruption. This work explains how to inculcate early childhood Islamic education concepts, which is implemented in the form of collaboration between parents and schools in an effort to shape children's character in responding to the challenges of today's disruption era. The inculcation of religious values is an important matter which is expected to be able to minimize the negative impacts of the Disruption era. Through the inculcation of religious values in children, it is expected that in the future children will have good character, responsibility and always remember Allah, that whatever is done by children will have positive values and be useful for themselves and others.
Muhammad Choirin
Millah, Volume 19, pp 279-306; https://doi.org/10.20885/millah.vol19.iss2.art5

Abstract:
K.H. Abdullah Syafi’ie is widely known as an Islamic scholar and preacher in the Indonesian Muslim community, particularly among Betawi natives. His significant contribution to spreading Islam, notably in education, is depicted through as-Syafi’iyah Islamic Education. Furthermore, his role in Islam in the Indonesian archipelago is evidenced by writing more than twenty-one titles of books in the field of Islamic faith and Usuluddin, which has been marking his name in the Islamic discourse. This paper aims at exploring the persona of K.H. Abdullah Syafi'ie as a Muslim theologian, particularly in the issues related to the science of kalam. In doing so, this study employs historical approaches combined with interviews and observation. This study finds that the thought of divinity established within the literature written by KH Abdullah Syafi’ie supports the validity of ahli sunnah wal jama’ah Asy’ariyah belief which he had practiced.
Ali Akhbar Abaib Mas Rabbani Lubis
Millah, Volume 19, pp 167-198; https://doi.org/10.20885/millah.vol19.iss2.art1

Abstract:
This paper discusses the thoughts of Bactiar Efendy in his work entitled Islam and the State; Transforming Islamic Political Thoughts and Principles in Indonesia, to see the relevance and reflection of his thoughts on the relationship between Islam and the State. This paper is included in the cluster of qualitative research involving library research. This study uses data analysis conducted after a set of library documentation is obtained, then the data is analyzed and analyzed including data reduction, data display, and conclusion making. The research results obtained in this paper that Bahtiar Effendy is a Muslim scholar and professor of political science at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta and Chairman of PP Muhammadiyah. The relevance and reflection of his thoughts on political Islam in Indonesia in his work do not consider secularization between Islam and the State as the best solution, instead, the contribution of Bahtiar Effendy's thought to a shifting of paradigm on Islamic politics from what previously led to formalism-legalism is shifting to substantialism, without the need to be forced make an Islamic state but enough to provide the substance of the teachings (ethical/moral), then the Indonesian state deserves to be called a religious nation-state.Keywords: Bactiar Effendy, Relevance and Reflection, Religious Nation-State
Muhammad Faiz
Millah, Volume 19, pp 199-224; https://doi.org/10.20885/millah.vol19.iss2.art2

Abstract:
Badiuzzaman Said Nursi (1877-1960) yang terlahir dari keluarga sederhana pengamal tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tokoh sentral gerakan kultural “Thullab Al-Nur” di Turki. Dia tumbuh dan berjuang pada masa akhir keruntuhan kekhalifahan Utsmani dan era awal pemerintahan Republik Turki. Di antara pandangan Said Nursi yang menarik untuk dikaji adalah mengenai konsep tasawuf. Nursi menuangkan pemikiran tasawuf dalam karya masterpiece-nya Risalah Nur. Dengan mengkaji dan menganalisa karya Nursi tersebut serta meneliti pendapat para pakar tentang Nursi dan gagasannya dapat disimpulkan bahwa Nursi membangun konsep tasawufnya secara ilmiah, kontekstual, mudah diaplikasikan dan inklusif. Konsep tasawuf Nursi ini merupakan ekstraksi dari nilai-nilai moderasi yang jauh dari kesan eksklusif, ekstrem dan tekstualis. Nursi membangun argumen konsep tasawufnya dengan menjelaskannya secara sederhana dan mudah dipahami yang mencerminkan ajaran Islam yang moderat.Kata Kunci: Tasawuf, Moderasi, Said Nursi
Back to Top Top