Journal Information
ISSN / EISSN : 0215-7829 / 2502-7891
Total articles ≅ 27
Filter:

Latest articles in this journal

Lisa' Diyah Ma'Rifataini
Penamas, Volume 31, pp 433-448; doi:10.31330/penamas.v31i2.248

Abstract:
Keluhan tentang kekurangan guru pendidikan agama (GPAI) di sekolah selalu terdengar di setiap kesempatan. Secara kuantitas kebutuhan guru agama yang dirilis dibanyak media hanya berdasarkan rasio belum dilakukan penghitungan berdasarkan rumus yang seharusnya. Penelitian ini mencoba menghitung kebutuhan guru pendidikan agama Islam di sepuluh provinsi berdasarkan PP 74 tahun 2008 tentang kebutuhan guru, mengetahui pola penyediaan GPAI dan mengetahui pola pembinaan GPAI serta mengetahui beberapa opsi kebijakan yang dilakukan pimpinan lembaga. Pendekatan Penelitian ini adalah mixmethode yaitu kualitatif yang didukung oleh data-data kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan 1).secara keseluruhan di 10 provinsi sampel penelitian kekurangan GPAI pada semua jenjang (SD, SMP, SMA dan SMK) sebesar 17396 orang. 2) Posisi GPAI yang ada saat ini, secara riil pengangkatan dilakukan oleh Kementerian Agama dan Pemerintah Daerah, Pembinaan oleh Kementerian Agama, Tunjangan Profesi Guru (TPG) oleh Kementerian Agama, Pendidikan Profesi Guru oleh Pemerintah Daerah masih memiliki beberapa kekurangan. 3) Moratorium pengangkatan guru harus segera dicabut, mengingat kondisi darurat guru agama tersebut. 4) Persoalan pembinaan dan peningkatan kapasitas serta profesionalitas GPAI hendaklah dilakukan melalui penguatan KKG dan MGMP PAI menjadi pusat sumber belajar guru (PSBG). 5) Penelitian ini juga menyajikan 4 (empat) opsi kebijakan yang dapat diambil pimpinan Kementerian Agama dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Zakiyah Zakiyah
Penamas, Volume 31, pp 397-418; doi:10.31330/penamas.v31i2.232

Abstract:
Artikel ini membahas masalah Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di sekolah bagi siswa siswi penghayat Kepercayaan. Tema ini penting untuk dikaji karena masih banyak sekolah yang belum memberikan mata pelajaran “Pendidikan Kepercayaan” karena berbagai alasan seperti belum adanya perangkat pendukungnya dan adanya pandangan pendidikan Kepercayaan ini bukan merupakan “Pendidikan Agama” sebagaimana di atur dalam perundang-undangan. Data dalam tulisan ini diambil dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2016. Adapun penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dan data dikumpulkan dengan menggunakan metode wawacara dan studi pustaka terhadap dokumen terkait dengan topik penelitian. Riset ini dilakukan di Kabupaten Cilacap dengan pertimbangan di daerah ini terdapat sekolah-sekolah yang telah memberikan pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan YME bagi peserta didiknya. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan perpektif Hak Asasi Manusia. Hasil studi ini menunjukkan bahwa terdapat 14 sekolah mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas yang telah memberikan layanan pendidikan tersebut. Dalam pelaksanaannya mereka bekerjasama dengan MLKI Cilacap dalam hal penyediaan guru, materi, silabut, KIKD dan soal-soal tes. Hal ini merupakan gambaran pemenuhan hak dasar bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan keyakinannya
Syamsul Bakri
Penamas, Volume 31, pp 361-378; doi:10.31330/penamas.v31i2.231

Abstract:
This research is the result of a historical research, which aims to reconstruct the emergence and growth of movement in Surakarta in colonial period. This study answers the questions of dynamics and movement in Surakarta, which include: (1) background factors of the dynamics and movement in Surakarta in colonial period, and (2) the form of dynamics and movement. The method used in this study is historical method, which consists of four stages, namely heuristic, source criticism, interpretation, and historiography. The historical paradigm used is that of John Tosh, i.e. to reconstruct history by understanding the social background and circumstances that cause the development of an event, and the direction of its changes. As for the reconstruction of the past, this study uses the model of the central circle. In this model, it is assumed that the incident at the center of the circle will have consequences in the vicinity. In turn, the center of the circle and the surrounding areas will lead to a new center around which will also result in new symptoms. The theory used is the theory of conflict, social movements, and resistance ideology. The use of the social theories is important for the study of history to expand in space (synchronous), in addition to remaining in the basic ground pattern of history that extends in time (diachronic). This study found historical facts that, in a piece of history of the movement in Indonesia, there are various factors and form of the dynamics of movement in Surakarta at colonial period. Dynamics and movement in Surakarta motivated by external factors (pressure from Western imperialism) and internal one (increasing struggle of indigenous organizations and modern media). The form of dynamics and movement in Surakarta are central circular, complex and interrelated in various fields, namely social and cultural sectors, agrarian, economic, political and religion. The results of this research have contributed knowledge to the discipline of history, especially in the exposure and reconstruction of a history fragment of the dynamics and movement of natives (indigenous people) in the revolt imperialism. In addition, the role of religion movement in forming a moving situation is found in this study. It indicates that this research can also contribute to the discipline of History of Islamic Culture.
M. Dahlan R.
Penamas, Volume 31, pp 297-310; doi:10.31330/penamas.v31i2.262

Abstract:
Relevance of religious understanding with the Social Isnteraction of State High School Students in Tanahsareal Bogor City Research from SMAN in Tanahsareal Bogor city, was honored by 331 people. The methodology used in this study is a quantitative approach using a questionnaire as an instrument, with a sample of 331 from the eleventh grade students of Public High Schools in Tanahsareal Bogor City. The results show that there is a positive relevance between understanding religion with students' social interactions. The results of the analysis of the two research variables obtained the relevance between religious understanding and social interaction calculated by Pearson. Correlation obtained coefficient value of 0.868. The value of the coefficient of determination in this analysis obtained a value of 0.754, which means that 75.4% of students' social initiator variables could be from religious examination variables. The remaining 24.6% is removed by other causes. The regression equation is Ŷ = 36.624 + 0.618 X. Based on the results of these studies it can be stated that understanding religion (X), has relevance to student social interaction (Y). This is very relevant to the relevance between religious understanding and social interaction among high school students in Tanahsareal Bogor City.
Ismail Fahmi Arrauf Nasution
Penamas, Volume 30, pp 359-372; doi:10.31330/penamas.v30i2.182

I Nyoman Yoga Segara
Penamas, Volume 31, pp 13-28; doi:10.31330/penamas.v31i1.235

Abstract:
Artikel ini adalah ulasan atas hasil penelitian dan literatur yang bertujuan untuk melihat kembali posisi perempuan Hindu di Bali di tengah budaya dominannya. Dengan pendekatan antropologi feminisme, artikel ini tidak akan memasuki wilayah yang sudah umum dilakukan banyak orang jika mendiskusikan perempuan, misalnya tentang jender atau gerakan kesetaraan semata. Antropologi feminisme membawa artikel ini untuk memahami perempuan dari kebertubuhannya, perannya dalam konteks sosial budaya, dan juga agama. Strategi perempuan dalam menampilkan dirinya di ruang pribadi maupun di ruang publik, serta kemampuannya untuk bertahan dalam serangan diskriminasi menjadi penting untuk dijelaskan. Pendekatan seperti ini adalah cara untuk melihat kembali bagaimana tubuh perempuan secara antropologis. Dengan demikian, tema pokok artikel ini menjadi satu kasus untuk memperlihatkan bahwa perempuan Hindu masih dan akan terus menghadapi masalah, serta stigma dan stereotipe yang disematkan kepadanya, padahal secara dogmatis perempuan Hindu telah diakui dan banyak disebut-sebut dalam berbagai kitab suci Veda. Begitu juga peran perempuan di masa lalu yang diyakini sebagai Rsi dan ikut menulis beberapa kitab suci dan susastera Veda lainnya.
Juju Saepudin
Penamas, Volume 31, pp 125-148; doi:10.31330/penamas.v31i1.242

Abstract:
Tulisan ini menyajikan hasil penelitian tentang pengembangan Madrasah Aliyah Akademik Insan Cendekia (IC) di daerah. Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Serpong lahir dari keinginan untuk menjembatani dunia pesantren dengan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa diduga telah menjadi lembaga pendidikan menengah atas yang difavoritkan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil analisa data secara induktif dapat diketahui bahwa komitmen MAN Insan Cendekia Serpong sebagai Madrasah Aliyah Akademik untuk mencapai sintesis ideal itu adalah subsidi pemerintah yang kuat untuk sarana prasarana dan subsidi bagi siswa, rekrutmen siswa yang ketat dan guru secara otonomi serta kurikulum yang tajam dan fokus pada pengembangan kemampuan ilmu pengtahuan dan teknologi yang diintegrasikan dengan penguasaan agama melalui pembelajaran yang bertumpu pada tiga bidang hadlarah dengan mengadopsi sistem boarding dari pesantren. Dengan demikian potret MAN Insan Cendekia Serpong sebagai madrasah pencetak calon saintis berkarakter Islam ini bisa menjadi model bagi pengembangan Madrasah Akademik di daerah lainnya.
Rita Sukma Dewi
Penamas, Volume 31, pp 243-246; doi:10.31330/penamas.v31i1.245

Abstract:
The term “Sayyid” or “Arab” has always been associated with Islam in Indonesia. Since Islam originated in the land of Arab, Muslims in Indonesia often believe that religion and Arab race are similar, just as the term “Culture” or “Religion”, although they have different context, many people believe that the term “culture” is similar to “religion”. Religious influences are embedded in many aspects of culture but Arabic culture is not an identity about Islam, these two should be separate from one another.
Hidayatus Syarifah
Penamas, Volume 31, pp 83-106; doi:10.31330/penamas.v31i1.227

Saeful Bahri
Penamas, Volume 31, pp 183-204; doi:10.31330/penamas.v31i1.156

Abstract:
Tulisan ini menyajikan hasil penelitian tentang nilai akulturasi yang terkandung dalam bangunan masjid Indrapuri, di Aceh. Masjid Indrapuri unik. Keunikan tersebut diantaranya: pertama, Masjid ini mengisyaratkan kepada kita bahwa pada masa lalu di tempat itu telah terjadi sebuah peristiwa yang monumental yaitu peralihan budaya dan ideologi lama kepada budaya dan ideologi yang baru (Hindu ke Islam), kedua, sesugguhnya studi ini adalah studi tentang fenomena keagamaan di masa lalu melalui rumah badah pada masa lalu dalam hal ini masjid. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yakni berupa tafsir tinggalan kebudayaan yang berupa arsitektur masjid. Data dikumpulkan melalui wawancara kepada pihak-pihak yang terkait dengan masjid, observasi dan studi literatur untuk menggali data kesejarahan masjid. Penelitian ini menemukan bahwa masjid Indrapuri menggambarkan masjid itu dibangun dalam suasana peralihan budaya, sehingga tampilan nuansa kultur masa lalunya sangat dominan, meskipun dalam beberapa hal menampilkan ketegasan dan kejelasan yang tidak kompromistis. Kata kunci: Masjid kuno, Masjid Indrapuri, sejarah Aceh, akulturasi budaya.
Back to Top Top