AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika

Journal Information
ISSN / EISSN : 2086-2725 / 2579-7646
Current Publisher: Universitas PGRI Semarang (10.26877)
Total articles ≅ 121
Filter:

Latest articles in this journal

Lely Purnawati, Toto Nusantara
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 198-209; doi:10.26877/aks.v11i2.5978

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis pertanyaan guru matematika di MTsN 9 Banyuwangi selama proses pembelajaran daring melalui media Edmodo pada materi Statistika. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian yaitu guru matematika yang mengajar di kelas VIII. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan dokumentasi (capture dan catatan). Tahapan penelitian meliputi: (1) mencatat dan meng-capture semua pertanyaan guru pada saat pembelajaran berlangsung; (2) mengelompokkan data berdasarkan variabel; dan (3) menganalisis dan mendeskripsikan data hasil penelitian. Hasil analisis menemukan pertanyaan C1 (pengetahuan) 42,1%, pertanyaan C2 (pemahaman) 15,8%, pertanyaan C3 (aplikasi) 15,6%, pertanyaan C4 (analisis) 13,2% dan pertanyaanC5 (evaluasi) 13,2%. Pertanyaan dalam kategori C6 tidak nampak selama pembelajaran berangsung. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pertanyaan masih didominasi dengan pertanyaan berpikir tingkat rendah (Lower Order Thingking Skill). Karena itu, perlu penjabaran model-model pertanyaan yang terorientasi pada pertanyaan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thingking Skill). Kata kunci : jenis pertanyaan, Statistika, Taksonomi Bloom
Ruli Andriani, Toto Nusantara, Subanji Subanji, Abdur Rahman As'ari
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 219-228; doi:10.26877/aks.v11i2.5996

Abstract:
AbstrakPada era 4.0 dan abad ke-21 kegiatan pembelajaran membutuhkan keterampilan berpikir kritis dan penyelesaian masalah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa dalam menyelesaikan soal dengan informasi yang kontradiksi. Partisipan pada penelitian ini adalah siswa kelas XII MA Unggulan Mamba’ul Huda. Instrumen pada penelitian ini menggunakan soal non rutin dengan informasi yang kontradiksi dan pedoman wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan proses berpikir siswa yang dapat menyelesaiakan soal dengan informasi yang kontradiksi yaitu dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: (1) understanding the problem (2) devising the plan (3) carrying the plan, dan (4) looking back. Dan proses berpikir siswa yang tidak dapat menyelesaikan soal dengan informasi yang kontradiksi melakukan langkah (1) understanding the problem dan (2) devising the plan. Pada langkah (3) carrying the plan dilaksanakan tetapi tidak sempurna dan untuk langkah (4) looking back tidak dilakukan.Kata kunci: proses berpikir; penyelesaian masalah; soal dengan informasi yang kontradiksi
Rahmadhani Yulmi Putri, Wartono Wartono
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 240-251; doi:10.26877/aks.v11i2.6060

Abstract:
Metode Schroder merupakan metode iterasi berode dua yang digunakan untuk menentukan akar-akar persamaan nonlinear. Artikel ini membahas modifikasi metode Schroder untuk meningkatkan orde konvergensi. Metode Schroder dengan satu parameter real dikembangkan menggunakan ekspansi deret Taylor orde dua. Metode Schroder yang dimodifikasi masih memuat turunan kedua. Selanjutnya, turunan kedua tersebut direduksi menggunakan kesamaan dua metode iterasi. Berdasarkan hasil kajian, metode iterasi baru mempunyai orde konvergensi empat yang melibatkan tiga evaluasi fungsi dengan indeks efisiensi sebesar untuk b = ½. Simulasi numerik diberikan untuk menguji performa metode iterasi baru yang meliputi jumlah iterasi, orde konvergensi secara komputasi (COC), galat mutlak dan galat relatif. Nilai-nilai performa dari metode iterasi baru dibandingkan dengan metode Newton, metode Schroder, metode Chebyshev dan metode Halley. Hasil simulasi numerik menunjukkan bahwa performa metode iterasi baru lebih baik dibandingkan dengan metode iterasi lainnya.
Tiara Fikriani, Mirda Swetherly Nurva
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 252-266; doi:10.26877/aks.v11i2.6132

Abstract:
High Order Thinking Skill or HOTS should be had by the students to improve students thinking skills at a higher level are continued in curriculum 2013. The purpose of this study to determine the ability to solve student problems in working on the problem type Higher Order Thinkimg Skills (HOTS). By working on the Higher Order Thinking Skills questions, students will reach the levels of mathematical ability from the lowest level to the highest level. The type of this research is qualitative research with natural setting. Data collection using observation, test, and interview methods. The results of this study obtained the conclusion that students in solving problems using Polya step, can meet the indicators analyze, create, and evaluate.
Madensi Selan, Farida Daniel, Urni Babys
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 335-344; doi:10.26877/aks.v11i2.6256

Abstract:
Literasi matematis merupakan kemampuan seseorang untuk merumuskan, menerapkan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis, menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat bantu matematika untuk mendeskripsikan suatu fenomena atau kejadian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan kajian tentang kemampuan literasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten change and relationship. Penelitian dilakukan di SMA Efata Soe dengan subjek penelitian adalah siswa kelas X Mia 1 sebanyak 30 siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa tes, observasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan hanya sebagian kecil siswa yang mampu mencapai semua indikator literasi matematis yaitu mengidentifikasi aspek-aspek matematika, mengubah ke dalam model matematika, merancang model untuk menemukan solusi dan menafsirkan hasil matematika ke dalam konteks dunia nyata. Sebagian besar siswa hanya mampu menyelesaikan soal sampai pada tahap membuat model, menerapkan rancangan model dan masih kesulitan dalam menemukan solusi yang tepat dan menafsirkan ke dalam konteks dunia nyata. Penyebab kesulitan tersebut karena dalam pembelajaran siswa kurang dibiasakan mengerjakan soal-soal latihan maupun tugas berkarakteristik PISA yang membutuhkan kemampuan literasi matematis dalam penyelesaiannya.
Nihara Aulyana Utami, Yanuar Hery Murtianto, Nizaruddin Nizaruddin
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 274-285; doi:10.26877/aks.v11i2.6501

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan representasi matematis ditinjau dari kemampuan berpikir kritis dan kecerdasan emosional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan subjek tiga siswa kelas VIII yaitu siswa yang memiliki kecerdasan emosional sangat baik dan tidak kritis, siswa yang memiliki kecerdasan emosional baik dan sangat kritis, dan siswa yang memiliki kecerdasan emosional cukup baik dan kritis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, tes, dan wawancara. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Teknik pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan triangulasi metode. Hasil penelitian ini adalah siswa yang memiliki kecerdasan emosional sangat baik dan tidak kritis kurang memiliki kemampuan representasi matematis, karena semua indikator kemampuan representasi matematis yaitu representasi gambar, representasi simbol, maupun representasi verbal kurang terpenuhi. Siswa yang memiliki kecerdasan emosional baik dan sangat kritis memiliki kemampuan representasi matematis karena semua indikator kemampuan representasi matematis terpenuhi dan menonjol pada representasi simbol. Siswa yang memiliki kecerdasan emosional cukup baik dan kritis memiliki kemampuan representasi matematis karena semua indikator kemampuan representasi matematis terpenuhi, dan menonjol pada representasi verbal. Uniknya, subjek yang diambil dalam penelitian ini memiliki kecerdasan emosional yang tidak signifikan dengan kemampuan berpikir kritisnya. Namun, ada pengaruh positif yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis siswa terhadap kemampuan representasi matematisnya. Kata kunci: Berpikir Kritis; Kecerdasan Emosional; Representasi Matematis
Yanuar Hery Murtianto, Muhammad Saifuddin Zuhri
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 296-305; doi:10.26877/aks.v11i2.6731

Abstract:
Kemampuan multipel representasi adalah sebuah keniscayaan bagi mahasiswa. Kemampuan adaptasi pemecahan masalah yang diintegrasikan dengan teknologi menggunakan berbagai kecerdasan ganda juga merupakan bagian penting yang harus dikuasai mahasiswa terutama mahasiswa calon guru. Penelitian ini mencoba mengkaji kemampuan representasi matematis mahasiswa calon guru matematika dalam memahami konsep integral ditinjau dari kecerdasan verbal linguistik. Subyek dalam penelitian ini adalah satu mahasiswa dengan kecerdasan verbal linguistik. Mahasiswa calon guru matematika dengan kecerdasan verbal linguistik diberi tes dengan konsep integral yang tertera didalamnya kemudian diwawancarai. Proses triangulai metode digunakan untuk mengetahui validitas data. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa calon guru matematika dengan kecerdasan verbal linguistik memiliki ragam representasi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada dalam tes. Representasi yang muncul meliputi representasi visual, gambar dan ekspresi matematis. Secara mendalam mahasiswa dengan kecerdasan verbal linguistik mampu memahami, merencanakan dan melksanakan penyelesaian dengan memunculkan berbagai representasi dalam satu waktu. Representasi gambar digunakan untuk menguatkan representasi visual yang ada begitu juga dengan representasi ekspresi matematis yang digunakan untuk menguatkan representasi gambar. Kompleksitas manipulasi aljabar dalam ekspresi matematis yang digunakan untuk menguatkan representasi visual dan gambar juga selalu muncul dalam setiap tahapan penyelesaian masalah. Dengan kata lain mahasiswa calon guru matematika yang memiliki kecerdasan verbal linguistik memiliki ragam multi representasi yang bisa digunakan untuk membantu dalam menyelesaikan permalasahan khususnya dalam pemahaman konsep integral.
Gita Aulia Erfani, Mohammad Shaefur Rokhman, Rizqi Amaliyakh Sholikhakh
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 306-314; doi:10.26877/aks.v11i2.6850

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesalahan yang dilakukan siswa kelas VII dalam menyelesaikan soal cerita matematika materi aritmetika sosial menurut Polya, dan mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan kesalahan yang dilakukan siswa kelas VII dalam menyelesaikan soal cerita matematika materi aritmetika sosial menurut Polya. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 11 Kota Tegal Tahun Pelajaran 2019/2020. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesalahan yang dilakukan siswa, antara lain: (a) pada langkah memahami masalah siswa tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan, (b) Kesalahan menyusun rencana, pada langkah menyusun rencana siswa kurang tepat dalam menyusun langkah-langkah penyelesaian, (c) Kesalahan melaksanakan rencana, pada langkah melaksanakan rencana siswa tidak menuliskan rumus, lupa atau salah menuliskan operasi dalam perhitungan, salah dalam menghitung, dan tidak menuliskan kesimpulan, (d) Kesalahan memeriksa kembali, pada langkah ini siswa tidak memeriksa kembali solusi yang diperoleh, dan kurang tepat memperoleh jawaban akhir. (2) Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan siswa, yaitu: (a) Siswa tidak memahami maksud dari soal, (b) Siswa tidak mampu mengaitkan kalimat matematika yang ada pada soal, dan tidak mengetahui langkah mana yang dipilih dalam menyusun rencana, (c) Siswa tidak hafal rumus, tidak teliti dalam proses perhitungan, tidak menuliskan kesimpulan dan konsep dasar perkalian kurang, (d) Siswa tidak memeriksa kembali langkah dalam melaksanakan rencana, (e) Rendahnya motivasi belajar siswa, (f) Terpengaruh dengan teman.
Doni Susanto
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 365-375; doi:10.26877/aks.v11i2.6874

Abstract:
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 2x3 yang bertujuan untuk mengetahui manakah model pembelajaran yang memberikan prestasi belajar matematika yang paling baik antara siswa yang diajar dengan menggunakan TTW-TS atau DL-TS ditinjau dari kemandirian belajar siswa . Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa MA Negeri kelas XI di Kabupaten Ngawi pada tahun pelajaran 2019/2020. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, angket kemandirian belajar siswa dan tes prestasi belajar matematika. Teknik analisis data menggunakan anava dua jalan dengan sel tak sama.berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa (1) prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan TTW-TS lebih baik dari DL-TS (2) prestasi belajar matematika siswa dengan kemandirian belajar tinggi, sedang, dan rendah adalah sama (3) pada masing-masing model pembelajaran, Prestasi belajar matematika siswa dengan kemandirian belajar tinggi, sedang, dan rendah adalah sama (4) pada masing-masing kategori kemandirian belajar, prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan TTW-TS lebih baik dari DL-TSKata kunci: Think Talk Write, Pembelajaran langsung, Talking Stick, Kemandirian Belajar
Asri Fauzi, Aisa Nikmah Rahmatih, Dyah Indraswati , Husniati Husniati
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 323-334; doi:10.26877/aks.v11i2.6944

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris penalaran analogi mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika berdasarkan gaya berpikir. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian sebanyak 32 mahasiswa. Instrumen dalam penelitian ini adalah angket gaya berpikir, soal tes penalaran analogi matematika dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Kemampuan penalaran analogi mahasiswa yang berada pada kategori rendah sebesar 28%, kategori sedang sebesar 56%, dan pada kategori tinggi sebesar 16%. Mahasiswa yang memiliki kemampuan penalaran analogi tinggi sudah mampu menyelesaikan keempat tahapan penalaran analogi hingga Applying (Apl), mahasiswa yang memiliki kemampuan sedang hanya mampu sampai ke tahap ketiga yaitu Mapping (Map), sedangkan mahasiswa dengan kemampuan rendah hanya mampu sampai ke tahap Inferring (Inf); 2) Dilihat dari pola gaya berpikir mahasiswa didapatkan hasil pola gaya berpikir Sekuensial Konkret (SK) sebesar 34%, pola gaya berpikir Sekuensial Abstrak (SA) sebesar 28%, Acak Konkret (AA) sebesar 34%, dan Acak Konkret (AK) sebesar 3%. Kemampuan tinggi rendahnya penalaran analogi tidak dipengaruhi oleh pola gaya berpikir tertentu, sehingga tidak ada kecenderungan suatu gaya berpikir yang lebih tinggi dalam hasil penalaran analoginya.
Back to Top Top