Journal Information
ISSN / EISSN : 08532877 / 2598327X
Current Publisher: Diponegoro University (10.14710)
Total articles ≅ 62
Filter:

Latest articles in this journal

Sri Hartuti Wahyuningrum, Bintang Noor Prabowo, Mustika Kusumaning Wardhani
Published: 2 December 2019
MODUL, Volume 19, pp 85-94; doi:10.14710/mdl.19.2.2019.85-94

Abstract:
Kebutuhan akan pelayanan Radioterapi dan Onkologi di RSUP Dr. Kariadi dari tahun ke tahun semakin meningkat dengan dimilikinya alat seperti Brakiterapi dan Cobalt ( 2 macam/unit) serta LINAC pada saat ini sudah menyebabkan pelayanan bagi yang membutuhkan pengobatan dengan radioterapi maupun pelayanan terhadap penderita kanker masih memerlukan antrian yang panjang. Dari kebutuhan yang mendesak tersebut terlihat bahwa bangunan atau fasilitas untuk Onkology Center sebagai bentuk pelayanan untuk penyakit kanker yang komprehensif sangat diperlukan. Karakteristik bangunan ini menjadikannya perlunya kajian terhadap persyaratan utama dalam perancangan bangunan fasilitas kesehatan khusus yang terpadu. Korelasi yang jelas antara keperluan pemenuhan fungsional pelayanan dengan penyelesaian desain sangat diperlukan. Yaitu terkait penempatan fasilitas utama dan ruang lainnya yang terkait, persyaratan teknis khusus untuk tindakan perawatan (treatment) maupun penanganan kondisi pasien dan penyelesaian finishing ruang. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai panduan dalam proses perancangan arsitektur untuk perancangan bangunan spesifik terutama untuk bangunan Rumah Sakit melalui kajian terhadap integrasi persyaratan medik dalam implementasi desain arsitektur pada bangunan khususnya untuk bangunan Gedung Onkology Center yang spesifik, sehingga akan membantu menemukenali perancangan yang bersifat komprehensif.
Eva Satya Christy, Rona Fika Jamila, Gentina Pratama Putra, Bangun I.R. Harsritanto
Published: 2 December 2019
MODUL, Volume 19, pp 104-109; doi:10.14710/mdl.19.2.2019.116-121

Abstract:
Taman merupakan salah satu ruang publik kota yang memiliki fungsi penting sebagai tempat melakukan aktivitas interaksi, bersosialisasi, maupun rekreasi. Sebagai salah satu fasilitas umum, sebuah taman harus menerapkan standar aksesibilitas sehingga dapat digunakan oleh setiap orang termasuk penyandang disabilitas. Penelitian ini akan membahas kasus pada Taman Bumirejo Semarang untuk melihat sejauh mana penerapan sarana aksesbilitas yang memfasilitasi kebutuhan difabel. Yang menjadi parameter penilaian pada kajian ini adalah Peraturan Menteri Pekerjaan Umum no. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Umum. Penelitian ini akan menggunakan metode evaluasi antara data standar aksesiblitas dengan kondisi yang terdapat di lapangan. Hasil evaluasi ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang penerapan fasilitas dan aksesibilitas pada Taman Bumirejo serta masukan terkait fasilitas yang seharusnya diterapkan pada taman tersebut.
Baju Arie Wibawa, Alif Nur Hutama
Published: 2 December 2019
MODUL, Volume 19, pp 68-77; doi:10.14710/mdl.19.2.2019.68-77

Abstract:
The window as the opening of natural lighting is more critical to conserve building energy, but if the size opening is too broad will increase the solar heat into the room. Over of heat, will also cause discomfort in the place because the value of OTTV (overall thermal transfer value) will also increase. The purpose of this study is to identify components, calculate the OTTV value and the analysis of shadow of the sun into the room. In the meeting room of the UPGRIS post-graduate building, there is too many windows that make the room glare and hot. It is felt to affect inefficient artificial energy (Air Conditioning). The method used is a type of quantitative research with an experimental approach. The results of the OTTV study in this room is 52.33 watts/m2, and this is exceeded from SNI (35 watts/m2). This research redesign of windows and shading to comply with maximum standard.
Wulani Enggar Sari, Heri Andoni
Published: 2 December 2019
MODUL, Volume 19, pp 119-126; doi:10.14710/mdl.19.2.2019.131-138

Abstract:
Kenyamanan termal adaptif adalah model utama yang digunakan untuk mempelajari kenyamanan termal di bangunan berventilasi alami, sehingga salah satu pemanfaatan alam untuk bangunan dapat menyelaraskan dengan iklim dan salah satunya adalah aliran udara. Upaya seminimal mungkin menggunakan energi dan merespon potensi aliran udara dapat dilakukan dengan desain adaptif pada bangunan. Inovasi teknologi bukaan jalusi adaptif dilakukan untuk merespon iklim dan meadaptasi kondisi aliran udara untuk mencapai kenyamanan termal tujuan penelitian ini adalah menerapkan strategi desain adaptif dengan pendekatan desain komponen bangunan yang bekerja self kinetic sebagai bentuk penyesuaian terhadap konteks iklim stempat. Penelitian ini dilakukan dengan studi literatur tentang pemikiran self kinetik yang dapat dijadikan referensi atau pengembangan desain berikutnya.Hal menarik yang dapat dilihat pada penelitian ini dilihat dari perkembangan teknologi desain adaptif yang terus dilakukan dan melihat arsitektur merupakan pemikiran bangunan yang selalu beradaptasi untuk merespon perubahan kebutuhan manusia dan fluktuasi kondisi lingkungan. Bangunan yang mampu bereaksi terhadap gangguan dan berfluktuasi kondisi lingkungan khususnya merespon termal dan aliran udara.
Previari Umi Pramesti, Bintang Noor Prabowo, Muhammad Ismail Hasan
Published: 2 December 2019
MODUL, Volume 19, pp 110-118; doi:10.14710/mdl.19.2.2019.122-130

Abstract:
Kohesi sosial adalah sebuah perekat yang secara fungsional merupakan kristalisasi dari adanya kesamaan famili, klan, etnik, kesamaan nasib, jenis pekerjaan, orientasi budaya, dan tujuan sosial. Dalam sudut pandang ini, terbentuknya sebuah masyatakat harus melalui mekanisme penyatuan berbagai kesamaan yang disebut di atas. Dengan kalimat lain, pembentukan sebuah masyarakat harus melalui mekanisme perekatan yang disebut kohesi sosial. Pasar Minggu Taman Setiabudi Banyumanik adalah salah satu fenomena sosial yang ada di wilayah Semarang Atas dimana terdapat aktivitas ekonomi yang secara tidak langsung memfasilitasi terciptanya aktivitas sosial masyarakat setempat. Analisis Teori Produksi Ruang Henri Lefebvre digunakan sebagai alat untuk membaca kondisi di lapangan.Hasil penganalisaan diketahui bahwa kohesi sosial di Pasar Minggu Taman Setiabudi ini merupakan sinergi suatu interaksi dinamis antara proses sosial dan proses spasial, berupa tata ruang, perkembangan masyarakat urban, ruang publik, dan berbagai ekspresi budaya yang muncul atas berbagai praktek ‘menghuni’ suatu ruang
Arnis Rochma Harani, Eddy Indarto, Resza Riskiyanto, Muhammad Najieb Sholih
Published: 2 December 2019
MODUL, Volume 19, pp 95-103; doi:10.14710/mdl.19.2.2019.95-115

Abstract:
Kawasan kecamatan di Indonesia pada saat ini harus mampu mewadahi kegiatan masyarakat tingkat kecamatan tersebut, baik itu formal dan informal. Kebutuhan ruangan dan kelayakan tapak untuk kantor kecamatan mengalami tren yang meningkat. Sehingga bangunan saat iniyang hanya mampu menampung kegiatan-kegiatan bagi staffnya dan ruang yang sudah ada, harus dikembangkan agar dapat menampung masyarakat. Kebencanaan juga berkembang dalam kondisi Indonesia yang terletak pada lingkaran gunung api (ring of fire). Berbagai masalah yang timbul di lokasi memerlukan suatu studi untuk mengetahui kecamatan untuk dapat dikembangkan. Studi berlangsung dengan paradigma kuantitatif dengan pendekatan deduktif melalui analisis pustaka, studi observasi lapangan dan studi kasus kecamatan. Tujuan dari studi ini adalah untuk menentukan kelaikan tapak yang sedang digunakan sebagai kantor kecamatan. Hasil dari studi ini menemukan bahwa tapak eksisting masih layak untuk dikembangkan.
Ikhwanul Ahfadz, Erni Setyowati, Eddy Prianto
Published: 2 December 2019
MODUL, Volume 19, pp 78-84; doi:10.14710/mdl.19.2.2019.78-84

Abstract:
Simulasi Komputer sebagai alat peminimalisir kesalahan pada desain kerap kali digunakan untuk memprediksi dalam penentuan keputusan desain. Selain Fungsi bangunan dan kebutuhan lainnya arsitek diwajibkan untuk faham akan konteks dan Kemampuan mengoptimalkan potensi iklim dari lokasi pembangunannya. Perolehan Sinar Matahari menjadi Faktor utamanya karena apabila sedikit sinar matahari yang masuk ruangannya akan kurang penerangan dan apabila terlalu banyak sinar matahari yang datang akan meningkatkan perolehan panas bangunan sehingga pengoptimalan daripada masalah tersebut merupakan kunci keberhasilan dalam sebuah perancangan. Penelitian Ini menggunakan Metode Experimental dengan mengidentifikasi lokasi, material, Fungsi ruang dan Hal-hal terkait lainnya. Tujuan penelitian ini ialah mencari shading device yang optimal sebagi perisai luar ruangan aset gedung Dekanat FT kampus Universitas Diponegoro ini. Hasil dari penlitian ini menunjukan bahwasannya dengan ada satu desain shading device yang bisa menurunkan rata-rata 33% perolehan sinar matahari yang berpotensi besar menekan penggunaan energi Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang.
Muhammad Sahid Indraswara, Hudan Izza Alghifary
Published: 2 December 2019
MODUL, Volume 19, pp 62-67; doi:10.14710/mdl.19.2.2019.62-67

Abstract:
Pasar Tradisional Wonodri di Kota Semarang merupakan salah satu pasar tradisional hasil redesain ulang di bawah arahan Pemerintah Kota Semarang. Minimnya bukaan di sisi Pasar Wonodri juga membuat temperatur ruangan tinggi. Penggunaan penghawaan buatan yang ada di setiap sisi pasar merupakan dampak dari temperatur ruangan yang tinggi. Kenyamanan di dalam pasar sangat dibutuhkan untuk menunjang kegiatan jual beli di dalamnya. Hal ini yang merekomendasikan adanya penerapan konsep arsitektur tropis pada bangunan yang dapat meminimalisir ketidaknyamanan pengguna di dalam bangunan. Berdasarkan hasil penelitian, lubang ventilasi Pasar Wonodri kurang dari 10% dari luas lantai yang akan di ventilasi dan untuk temperature ruangan pasar wonodri lebih dari 30,5oC yang membuat kondisi lingkungan mulai sukar. Kenyataan tersebut berbanding terbalik yang sebagaimana dituliskan menurut SNI 03-6572 2001 bahwa lubang ventilasi pada bangunan gedung (pasar) seharusnya tidak kurang dari 10% luas lantai yang akan di ventilasi dan untuk temperatur ruangan yang nyaman sesuai teori dari Georg Lippsmeier dan peraturan MENKES NO.261/MENKES/SK/II/1998 berkisar antara 18°C-26°C. Dengan begitu minimnya bukaan bangunan dan temperature ruangan yang tinggi membuat pengguna didalamnya merasa sukar dan kurang nyaman
Varian Dedy Hartawan, Erni Setyowati, Atik Suprapti
Published: 29 May 2019
MODUL, Volume 19, pp 33-49; doi:10.14710/mdl.19.1.2019.33-49

Abstract:
As a primary need, shelter or boards are often to the top priority in human life which must be fulfilled after clothing and food. The Police Dormitory from Indonesian Republic Police Education And Training Institutions – Police Academy or abbreviated in Indonesian “Lemdiklat Polri – Akpol” is residential facility in the police dormitory provided for personnel and staff who teach or served in the Police Academy both members of the National Police or PNS (Goverment Employees). Not infrequently this dormitory are also inhabited more than two years by its members who serve in the Indonesian Republic Police Education And Training Instituitions – Police Academy. The majority of residents can be said to be decent enough to buy, or rent and inhabit outside the plice dormitory which has far better conditions than the police dormitory itself. This paper aims to determine the factors that make them stay at home to live there, even thought they can rent or buy more suitable home to live. The method used is mixing of qualitative methods and quantitative methods called mixed methods, and also look at the psychological and economic aspects of them. The results of the study reveal that there are a numbers of reasons for neighboring life that are safe, comfortable, economically affordable, the tranquility and natural silence in the surrounding area along with pollution – free air makes the residents still remain even though this location is far from the economic center in mainly.
Arnis Rochma Harani, Eddy Indarto, Muhammad Najieb Sholih
Published: 29 May 2019
MODUL, Volume 19, pp 19-24; doi:10.14710/mdl.19.1.2019.19-24

Abstract:
Perkembangan model penataan kawasan di Indonesia membuat kantor kecamatan perlu mewadahi kegiatan formal dan informal masyakatnya. Kantor kecamatan dituntut mampu mengoptimalkan luasan yang dimilikinya untuk berkumpul, melakukan aktivitas masyarakat serta menjadi sebuah pusat pemerintahan skala kecamatan yang tanggap saat terjadi bencana khususnya dapat menampung masyarakat dengan cukup ruang. Dari berbagai permasalahan yang ada di lokasi, maka dibutuhkan suatu studi untuk mengetahui kecamatan untuk dapat dikembangkan, baik itu di relokasi atau dikembangkan kembali dengan tapak yang sama. Studi ini membahas tentang pembobotan tapak sebagai acuan mengembangkan kantor kecamatan. Studi dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan deduktif. Kajian regulasi dan pustaka, studi observasi lapangan dan studi kasus dilakukan untuk mengkonfirmasi kelaikan tapak eksisting. Tujuan dari studi ini adalah untuk menentukan kelaikan tapak yang sedang digunakan sebagai kantor kecamatan. Hasil yang dicapai adalah kelayakan kondisi eksisting tapak until dikembangkan menjadi kantor kecamatan dengan beberapa Saran perbaikan.
Back to Top Top