Journal of Health Science and Prevention

Journal Information
EISSN : 2549919X
Current Publisher: Fakultas Sains dan Teknologi UINSA (10.29080)
Total articles ≅ 91
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Dwi Ghunayanti Novianda, Qomaruddin Mochammad Bagus
Journal of Health Science and Prevention, Volume 4, pp 125-133; doi:10.29080/jhsp.v4i2.402

Abstract:
Imunisasi dasar merupakan salah satu program pencegahan penyakit menular untuk anak. Angka cakupan imunisasi di beberapa daerah masih belum mencapai target. Hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemenuhan imunisasi dasar anak usia 12-24 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Sumobito Kabupaten Jombang. Penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan simple randomsampling, dengan jumlah sampel 73 ibu. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas, yaitu r hitung > r tabel (0,3) dan reliabilitas, yaitu r hitung > r tabel (0,6). Analisi data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas ibu berperilaku tidak baik dalam pemenuhan imunisasi anak. Faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemenuhan imunisasi dasar anak adalah sikap (p=0,000), kepercayaan (p=0,000), dukungan keluarga (p=0,001), akses (p=0,000), dan informasi (p=0,000).
Tria Wahyuningrum, Veryudha Eka Prameswari, Indra Yulianti
Journal of Health Science and Prevention, Volume 4, pp 105-110; doi:10.29080/jhsp.v4i2.272

Abstract:
Motivasi merupakan keinginan yang terdapat pada seseorang / individu yang merangsang untuk melakukan tindakan-tindakan. Motivasi orang tua dalam memberikan stimulasi pada balita sangat berperan dalam meningkatkan kemampuan tumbuh kembang balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis motivasi orang tua sebagai faktor yang mempengaruhi pemberian stimulasi anak melalui permainan edukatif.enis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik korelasional menggunakan pendekatan cross sectional, populasinya adalah semua orang tua yang memiliki anak pra sekolah di Desa Kembangsri Kecamatan Ngoro Kabupaten mojokerto sejumlah 43 orang, pengambilan sampel secara total sampling, Sampel sejumlah 43 orang. Instrumen yang digunakan untuk variabel motivasi adalah menggunakan kuesioner tertutup. Sedangkan untuk pelaksanaan stimulasi melalui APE, instrumen menggunakan kuesioner dan wawancara. Seluruh responden dikumpulkan di Balai desa Kembangsri, kemudian diberikan kuesioner tertutup dan dilakukan wawancara untuk mendapatkan data tentang 2 variabel. Uji statistik menggunakan rank spearman. Berdasarkan hasil uji statistik dimana angka koefisien korelasi pada hasil tersebut bernilai positif (0,270), itu artinya bahwa hubungan kedua variabel tersebut bersifat searah (jenis hubungan searah). Semakin tinggi motivasi orang tua maka semakin sering melakukan stimulasi melalui APE. Motivasi orang tua dalam memberikan stimulasi perlu ditingkatkan, dalam melaksanakan stimulasi melalui APE kepada anak pra sekolah. Sehingga, tumbuh kembang dapat berjalan secara optimal.
Tika Noor Prastia, Rahma Listyandini
Journal of Health Science and Prevention, Volume 4, pp 99-104; doi:10.29080/jhsp.v4i2.408

Abstract:
Stunting merupakan bentuk kekurangan gizi kronis yang dapat terjadi intergenerasi. Ibu hamil yang mengalami malnutrisi berisiko lebih besar menghasilkan anak stunting. Kondisi ini berkontribusi terhadap penurunan kualitas sumber daya manusia dan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui adanya perbedaan kadar hemoglobin dan lingkar lengan atas ibu hamil antara baduta yang mengalami stunting dan normal di wilayah kerja Puskesmas Cibungbulang Kabupaten Bogor. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 115 responden yang didapatkan dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada terdapat perbedaan kadar hemoglobin (p-value=0,835) dan lingkar lengan atas (p-value=0,114) ibu hamil antara baduta stunting dan normal. Stunting perlu difokuskan tidak hanya pada masa pra konsepsi tetapi perbaikan gizi selama periode 1000 hari pertama kehidupan karena masa tersebut merupakan masa kejar tumbuh dan menentukan kualitas individu pada fase kehidupan selanjutnya.
Mahesa Arya Muharram
Journal of Health Science and Prevention, Volume 4, pp 111-124; doi:10.29080/jhsp.v4i2.410

Abstract:
Mengurangi risiko bagi pekerja dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan upaya pencegahan kecelakaan kerja yang dilakukan sesuai dengan hirarki pengendalian yang terdiri dari pengendalian teknik, pengendalian administratif, dan alat pelindung diri (APD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan efikasi diri dengan perilaku penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) pada pekerja fungsi RSD (receiving, storage, distribution) PT. Pertamina (Persero) DPPU Juanda Sidoarjo. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan kuantitatif, dengan jumlah 71 sampel. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabulasi silang dan regresi logistik ganda. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan, dukungan emosional, dukungan informasional, dukungan instrumental, efikasi tingakatan, efikasi keluasaan berhubungan dengan perilaku penggunaan APD. Sedangkan pengetahuan dan dukungan informasi menjadi variable independen yang mempengaruhi perilaku penggunaan APD dengan nilai Exp(B) sebesar 8,664 dan 18,682. Kesimpulan dari penelitian ini adalah factor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan APD adalah pengetahuan, dukungan emosional, instrumental, informative, efikasi tingkatan, efikasi keluasaan. Sedanglan pegetahuan dan dukungan informative menjadi variabel yang mempengaruhi perilaku penggunaan APD.
Miguel Angel Garcés Villalá, José Andrés Nollen, Sergio David Rico, Gustavo Aníbal Cortez Quiroga, Jose Luis Calvo Guirado, Gabriel Osvaldo Aubone De Los Rios
Journal of Health Science and Prevention, Volume 4, pp 91-98; doi:10.29080/jhsp.v4i2.375

Abstract:
COVID 19 has spread uniformly across the planet without distinction of hemispheres, borders, or climates. However, underdeveloped countries lack sufficient means to effectively detect and cope with the pandemic. The catastrophic economic situation forces indefinite quarantines to avoid health collapse. The scarcity of massive detection tests has led health personnel, the general population and their rulers to ignorance of the true epidemiological magnitude of SARS-CoV-2. Method: A computerized bibliographic search was performed using the Google search engine of original and review articles indexed by Scopus and WOS, in the PubMed / Medline and Cochrane databases to identify all relevant manuscripts and preprints, notices from professional societies and comments from Experts published from the start of the current epidemic related to mild COVID 19 symptoms. Tools, massive methods for detecting the disease and their low availability in underdeveloped countries were analyzed. Inexpensive and easily accessible methods for testing for the disease were discussed. Result: According to the indexed publications on the incidence of hypoxemia as a symptom and parameter of the evolution of the disease, oxygen saturation of less than 93% was determined as the limit to consider the patient suspected of COVID 19. In addition, it was determined after the analysis of published studies show an average prevalence of anosmia-hyposmia as a mild symptom in 69% of patients infected with COVID 19. Conclusion: Suspected cases of COVID 19 infection could be detected by the presence of its prevalent signs and symptoms. More studies are needed to standardize and validate the postulated screening tests.
Eni Suwinawati, Hanifah Ardiani, Riska Ratnawati
Journal of Health Science and Prevention, Volume 4, pp 79-84; doi:10.29080/jhsp.v4i2.388

Abstract:
Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit diabetes yang disebabkan karena sel-sel tubuh tidak merespon insulin yang dilepaskan pankreas. Prevalensi DM di Indonesia tahun 2018 sebanyak 8,5 % dan tahun 2015 sebanyak 17,9 juta orang yang berisiko. Prevalensi DM Kabupaten Ngawi tahun 2018 sebesar 6,9 % dimana penderita DM tipe 2 mengalami kenaikan selama tiga tahun berturut-turut, terbukti tahun 2016 sebanyak 38.159, tahun 2017 sebanyak 43.279, dan tahun 2018 sebanyak 57.085 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan obesitas dengan kejadian DM tipe 2 di posbindu PTM Puskesmas Kendal Kabupaten Ngawi. Jenis penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol. Populasi studi adalah seluruh peserta posbindu tahun 2019. Jumlah sampel sebanyak 74 responden dengan 37 responden kelompok kasus dan 37 responden kelompok kontrol. Metode yang digunakan adalah Simple Random Sampling dengan analisis Uji Chi square. Variabel yang terbukti berhubungan dengan kejadian DM tipe 2 di posbindu PTM Puskesmas Kendal Kabupaten Ngawi adalah obesitas IMT p=0,014 (OR=3,826; 95%CI=1,388-10,548), obesitas sentral p=0,020 (OR=3,423; 95%CI=1,315-8,909). Dari hasil penelitian, Penderita DM tipe 2 diharapkan melakukan perilaku kesehatan seperti menerapkan gaya hidup sehat seperti mengontrol kadar gula darah, aktivitas fisik yang cukup, dan menjaga pola makan.
Dita Hasni, Vivinia Rahmi Andika Putri, Mutiara Anissa
Journal of Health Science and Prevention, Volume 4, pp 85-90; doi:10.29080/jhsp.v4i2.268

Abstract:
Schizophrenia is ranked 4th of the top 10 diseases that burden worldwide. If the population of Indonesia reaches 200 million, it estimates that around two million have Schizophrenia. Based on Data from the World Health Organization (WHO), it estimates that around 24 million people worldwide have schizophrenia.2 the American Psychiatric Association (APA) were reported the incidence of Schizophrenia in the United States is about 1% of the adult population with a total of more than 2 million people. Schizophrenic patients were treated by antipsychotic agents that act to inhibit dopamine receptors, especially D2, and also inhibit adrenergic acetylcholine receptors and serotonin 5-HT2A. It can manifest side effects like extrapyramidal syndrome, amenorrhea, drowsiness, and others. This research aims to the identification of antipsychotic side effects with Glasgow Antipsychotic Side-effect Scale (GASS). 100 schizophrenics in HB. Saanin Mental Hospital were participating in this descriptive study after fulfilling the criteria of inclusion and exclusion. This study used the GASS questionnaire to interview subjects who were signing informed consent and get an explanation about this study. In this study, 92% of subjects reported mild side effects. The frequent complaints were extrapyramidal effects, sedation and CNS effects, anticholinergic effects, and weight gain (93%,80%,70 0% and 70% respectively). We found women complained of the side effects more often (16.38 ± 5.275) than men (12.58 ± 5.484) significantly with the value P = 0.001. Gass instruments can use screening antipsychotic side effects. This study concludes the most side effects complaints being extrapyramidal and drowsiness, and women more commonly found side effects than men.
Ni Putu Sri Indrani Remitha, Andreliano Yosua Rompis, Made Violin Weda Yani, I Gede Wikania Wira Wiguna, I Gusti Ayu Stiti Sadvika, I Gusti Made Anom Darma Putra
Journal of Health Science and Prevention, Volume 4, pp 68-78; doi:10.29080/jhsp.v4i2.369

Abstract:
Triple negative breast cancer (TNBC) adalah salah stau subtipe kanker payudara yang memiliki persentase sebanyak 15% dari total kasus kanker payudara. Triple negative breast cancer memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan jenis kanker payudara pada umumnya karena bersifat agresif, resisten terhadap pengobatan, proliferasi yang tinggi, dan angka harapan hidup yang rendah. Pengobatan yang umum dilakukan untuk TNBC adalah pembedahan dan kemoterapi. Namun, pembedahan menimbulkan banyak efek samping, seperti bentuk payudara yang berubah, terjadinya hematoma, dan lymphedema. Begitu pula dengan kemoterapi yang tidak hanya membunuh sel kanker, tetapi juga merusak sel normal di dalam tubuh. Pemanfaatan siRNA spesifik silencing gen mutan p53 dan VEGF sebagai penatalaksanaan TNBC merupakan metode yang menjanjikan. Nantinya, siRNA akan dikonjugasi dengan aptamer dan PLEGP1800. Aptamer berfungsi untuk meningkatkan kestabilannya dan PLEGP1800 digunakan untuk meningkatkan konsentrasi dan transfeksi yang lebih efisien, serta memiliki sitotoksisitas yang rendah. siRNA-Aptamer-PLEGP1800 juga akan dienkapsulasi dengan chitosan untuk meningkatkan bioavailibilitas, melindungi senyawa di dalamnya dari degradasi serum, dan meningkatkan penyerapan ke gen target. Penulisan literature review ini bertujuan untuk mengkaji mekanisme dan efek klinis siRNA-Aptamer-PLEGP1800-Chitosan sebagai terapi TNBC berbasis teknologi nano.
Rani Latifah Filmira, Mohammad Zainal Fatah
Journal of Health Science and Prevention, Volume 4, pp 58-67; doi:10.29080/jhsp.v4i2.384

Abstract:
Berdasarkan pencapaian program KKBPK pada RPJMN 2015-2019, belum mengalami banyak peningkatan, sehingga pada tahun 2017 pemerintah berupaya mengendalikan jumlah penduduk melalui pembinaan remaja terkait program KB. Penelitian terkait keinginan penerapan program KB pada remaja pria di masa mendatang tergolong sangat jarang. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis determinan yang berhubungan dengan keinginan penerapan program KB pada remaja pria Indonesia di masa mendatang. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Besar sampel penelitian berjumlah 11.459 remaja pria di Indonesia berumur 15-24 tahun dan belum menikah diperoleh menggunakan teknik multi stage sampling. Instrumen yang digunakan adalah data sekunder dari SDKI tahun 2017. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi Square. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p masing-masing variabel yaitu peran keluarga (p=0,000), peran petugas kesehatan (p=0,000), akses informasi melalui televisi (p=0,000), sumber informasi dan konseling (p=0,000), pengambilan keputusan (p=0,213), dan tempat tinggal (p=0,000). Determinan keinginan penerapan program KB pada remaja pria Indonesia di masa mendatang adalah peran keluarga, peran petugas kesehatan, akses informasi melalui televisi, sumber informasi dan konseling, serta tempat tinggal. Diperlukan pendampingan BKKBN atau Dinas Kesehatan dengan melakukan peningkatan KIE terkait program KB pada remaja melalui peran yang diberikan oleh petugas kesehatan, keluarga, dan institusi pendidikan dengan menggunakan media promosi kesehatan. Memunculkan kesadaran remaja untuk mau membicarakan masalah seksual kepada petugas kesehatan melalui PIK R sebagai sumber informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja.
Sonia Elka Amalia
Journal of Health Science and Prevention, Volume 4, pp 50-57; doi:10.29080/jhsp.v4i1.331

Abstract:
Sisa makanan adalah makanan yang tidak habis dikonsumsi oleh pasien, dengan kategori banyak apabila sisa makanan >20% dari makanan yang disajikan dan kategori sedikit apabila sisa makanan
Back to Top Top