Journal of Moral and Civic Education

Journal Information
ISSN / EISSN : 2580-412X / 2549-8851
Total articles ≅ 28
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Lili Halimah, Heni Heryani, Eva Enzelia Barus
Journal of Moral and Civic Education, Volume 4, pp 19-31; doi:10.24036/8851412412020214

Abstract:
North Sumatra province has a variety of unique cultures, one of which is marriage tradition and wedding ceremony. Marriages—containing noble values and norms of the purpose of life—are legally bound in traditional wedding ceremonies so the marriage will be safe. In Batak Karo tribe, one of the tribes in North Sumatra, the ideal marriage is the one that follows the rimpal tradition, which means that a man will be recommended to marry the daughter of his mother's brother. In its development, inter-ethnic marriages provide a solution to overcome the problems of unideal marriage. This article describes the condition when the ideal marriage is not fulfilled. The study used qualitative approach in the Karo Persadaan community in Cimahi City, West Java, involving the role of religious and traditional leaders. The results of the study show that inter-ethnic weddings in the Batak Karo community are allowed but with complete customary procedures as performed in ideal wedding ceremonies to preserve their local wisdom and prevent the Batak Karo identity from being extinct overseas.
Bakti Fatwa Anbiya, Abas Asyafah
Journal of Moral and Civic Education, Volume 4, pp 32-41; doi:10.24036/8851412412020220

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implemetasi pembelajaran Mata Kuliah Wajib Umum Pendidikan Kewarganegaraan dalam kerangka paradigma Unity Of Science di UIN Walisongo Semarang. Pendekatan dalam penelitian ini yakni pendekatan kualitatif dengan mengunakan metode analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Pendekatan Unity Of Science sebagai paradigma dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di UIN Walisongo Semarang memiliki karakteristik: humanisasi ilmu keislaman, spiritualisasi ilmu pengetahuan dan revitalisasi kearifan lokal yang terintegrasi melalui rencana pembelajaran semester (RPS) dan kegiatan pembelajaran mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini merupakan upaya semangat spritualisasi ilmu pengetahuan guna membentuk moderasi beragama dengan mengkontekstualisasi ayat-ayat Al-Quran dengan materi dan kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Paradigma Unity Of Science memberikan makna kepada mahasiswa bahwa pembelajaran mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan sarat dengan nilai–nilai spiritual yang berhubungan dengan ajaran Islam dan menjadi modal utama dalam pembinaan warga negara yang moderat.
Yakob Godlif Malatuny, Julianus Labobar, Bernard Labobar
Journal of Moral and Civic Education, Volume 4, pp 42-51; doi:10.24036/8851412412020225

Abstract:
Era disruspi memperlihatkan kecanggihan teknologi informasi yang berdampak pada gaya interaksi warga negara muda. Namun muncul persoalan baru yang semakin kompleks, yaitu banyaknya kejahatan dengan menggunakan kecanggihan teknologi informasi itu. Artikel ini menjelaskan pentingnya literasi media bagi warga negara muda di era disrupsi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus, sementara teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan pemenuhan kebutuhan informasi dan gaya interaksi warga negara muda telah bergerak mengikuti kecanggihan teknologi informasi di era disrupsi. Mengakses berita online, mempelajari riset terbaru, menonton khotbah adalah pilihan-pilihan bebas warga negara muda. Jaminan kebutuhan informasi dan gaya interaksi yang sehat bagi mereka adalah literasi media. Literasi media melatih kemampuan mereka untuk menginterpretasi, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara benar. Jadi, literasi media menjadi preferensi mereka untuk melihat dengan lebih tajam kebenaran pesan di media, kemudian mengkritisi jika dianggap mengandung resiko. Maka, diharapkan kepada mereka yang hidup di era disrupsi agar mempelajari pengetahuan tentang literasi media.
Ika Sandra
Journal of Moral and Civic Education, Volume 4, pp 52-59; doi:10.24036/8851412412020239

Abstract:
The interest of students from various countries to study overseas have been increasing lately, resulting in a global trend. Their reasons could be different from one another. This study analysed student migration using different models and theories. Through qualitative research, using literary and ethnographic analysis along with transnational perspectives, this project analyzed the reasons behind student’s migration. The finding indicates that different theories and approaches show different reasons why the students migrate. Push-pull factor theory shows that factors from the home country and the host country can count as reasons for why students study abroad. World system theory shows how economically, politically, and socially powerful countries play an important role in attracting international students. The demand and supply models are related to the middle class who are eager to gain cultural and social capital through studying abroad. Finally, the global space approach has three poles to look at international student flows; one of which is the Pacific pole where English-speaking countries become popular destinations particularly among international students from Asian countries. This article suggests that if host countries want to market their education comprehensively, the host countries should give more space and easy access for the home countries of the outflows of student migration.
M. Khoiri, Irwan Irwan
Journal of Moral and Civic Education, Volume 4, pp 11-18; doi:10.24036/8851412412020232

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nasionalisme masyarakat Tionghoa Batam di dekat perbatasan Indonesia-Singapura, menganalisis sejauh mana mereka memaknai rasa nasionalismenya, serta mengetahui upaya pemeliharaan rasa nasionalisme yang dilakukan negara terhadap masyarakat Tionghoa-Batam. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Lokasi penelitian adalah di wilayah Nongsa Batam. Penelitian ini menemukan bahwa nasionalisme masyarakat di perbatasan tidak begitu terlihat disebabkan oleh beberapa faktor-faktor, di antaranya mobi-litas yang tinggi serta pertukaran informasi dan kamunikasi. Masyarakat Tionghoa-Batam lebih tertarik menggunakan Bahasa Mandarin, Hokkian dibandingkan bahasa Indonesia dalam berinteraksi. Mereka juga lebih tertarik melihat saluran televisi Singapura dan Malay-sia yang menggunakan Bahasa Mandarin. Dengan demikian mereka tidak tertarik dengan isu dan perkembangan nasional. Upaya yang dilakukan pemerintah daerah Kepulau-an Riau untuk memelihara rasa nasionalisme masyarakat Tionghoa-Batam di antaranya yaitu mewajibkan memasang bendera Indonesia saat perayaan HUT RI. Selain itu juga se-ring dilaksanakan berbagai pawai adat dan budaya untuk membangun rasa cinta terhadap adat dan budaya Indonesia, serta kegiatan sosialisasi pentingnya mencintai produk dalam negeri dan melakukan pembinaan terhadap perkumpulan warga masyarakat Tionghoa-Batam.
Eri Sakti, Akmal Akmal
Journal of Moral and Civic Education, Volume 4, pp 1-10; doi:10.24036/8851412412020229

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk melihat permasalahan yang terjadi pada aktivitas pertambangan emas, baik dalam masyarakat maupun pada pekerja pertambangan emas itu sendiri. Pelanggaran hukum yang dilakukan oleh penambang emas tidak serta merta menjadi tolak ukur baik atau tidaknya kesadaran hukum masyarakat pertambangan emas di Desa Teluk Pandak Kecamatan Tebo Tengah Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pemilihan informan dilakukan dengan snowball sampling, dan menghasilkan 29 informan. Data dikumpulkan dengan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Selama observasi peneliti mengumpulkan beberapa data berupa foto aktivitas penambang emas, pencemaran sungai, artikel tentang penertiban penambang emas, serta data pembayaran lahan. Agar data yang diperoleh bisa dipercaya (absah), maka dalam penelitian ini dilakukan triangulasi yaitu triangulasi sumber dan waktu. Data yang diperoleh dianalisis dengan mengacu pada model analisis Miles dan Huberman dengan langkah-langkah yaitu reduksi data, model data (data display) dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terkendalanya kesadaran masyarakat disebabkan kurangnya informasi dan pembinaan dari pemerintah tentang Undang-Undang serta implementasinya dalam penambangan.
Ridwan Fauzi, Prima Roza
Journal of Moral and Civic Education, Volume 3, pp 92-107; doi:10.24036/8851412322019194

Abstract:
Pendidikan kewarganegaraan memiliki peran yang mendasar dalam pendidikan karakter multidimensi terutama untuk mengembangkan kompetensi kewarganegaraan. Kompetensi ini secara psikososial tercermin dalam pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), sikap kewarganegaraan (civic disposition), keterampilan kewarganegaraan (civic skill), komitmen kewarganegaraan (civic commitment), dan keteguhan kewarganegaraan (civic confidence), yang semua itu memancar dan mengkristal menjadi kebajikan/keadaban kewarganegaraan (civic virtues). Salah satu peran mata kuliah PPKn adalah untuk meningkatkan warga negara yang lebih berkeadaban. Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai salah satu institusi pendidikan berbasis sains dan teknologi juga berperan dalam membangun karakter mahasiswa melalui mata kuliah PPKn. Tujuan dari penelitian ini adalah: pertama, untuk menjelaskan pentingnya mata kuliah PPKn di ITB; kedua, untuk mengetahui hasil belajar mata kuliah PPKn di ITB; dan ketiga, untuk menganalisis pelaksanaan mata kuliah PPKn dalam penanaman nilai-nilai kebajikan berdasarkan Pancasila. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif, dengan teknik pengambilan data yaitu survei di kelas PPKn di ITB. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran mata kuliah PPKn di ITB telah memberikan pengaruh yang signifikan untuk penanaman nilai-nilai kebajikan kepada siswa berdasarkan Pancasila. Pembelajaran ini juga memberikan pemahaman dan keterampilan yang dibutuhkan warga negara untuk siap berpartisipasi dalam mewujudkan kebajikan warga negara.
Novitasari Novitasari, Achmad Busrotun Nufus
Journal of Moral and Civic Education, Volume 3, pp 64-75; doi:10.24036/8851412322019191

Abstract:
Pembelajaran mata kuliah Kewarganegaraan memiliki tujuan menciptakan lulusan yang memiliki civic competencies sehingga dapat menjadi warga negara yang baik. Akan tetapi, pembelajaran kewarganegaraan cenderung dilaksanakan dengan model pembelajaran yang berpusat pada dosen sehingga dosen sebagai satu-satunya sumber belajar, sedangkan kompetensi kewarganegaraan khususnya civic skills tidak dapat diperoleh hanya dengan mentransfer pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan model belajar berbasis riset dalam meningkatkan civic skills mahasiswa pada mata kuliah Kewarganegaraan. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa penerapan model belajar berbasis riset dapat melatih mahasiswa untuk terbiasa berpikir kritis dan memiliki keterampilan partisipasi. Berdasarkan hasil penelitian, penulis merekomendasikan antara lain: (a) bagi pendidik, memetakan kebutuhan dan kemampuan belajar peserta didik di awal semester atau tahun ajaran baru sehingga dapat menggunakan model pembelajaran yang efektif; (b) bagi peneliti selanjutnya, mencoba menggunakan model belajar berbasis riset pada responden yang berbeda atau mata kuliah yang lain sehingga dapat mengetahui efektivitas penggunaan model belajar berbasis riset secara lebih luas.
Silvia Rahmelia, Endang Danial Ar
Journal of Moral and Civic Education, Volume 3, pp 48-63; doi:10.24036/8851412322019184

Abstract:
Spirit solidaritas sebagai nilai historis Konferensi Asia Afrika (KAA) sepatutnya diteladani dan diinternalisasikan dalam implementasi pengembangan karakter warga negara muda. Keterlibatan yang solid dan efektif melalui pemaknaan sejarah perjuangan bangsa sebagai nilai dasar inisiasi warga negara muda menjadi bentuk keterlibatan dan solidaritas yang positif. Solidaritas yang positif selayaknya mampu meminimalisir penyimpangan makna solidaritas yang banyak terjadi pada generasi muda. Tujuan penelitian ini adalah menggam-barkan analisis transformasi peran keterlibatan warga negara muda dalam perwujudan hak, kewajiban, tanggung jawab, serta terlibat aktif pada level lokal, nasional, regional, maupun internasional dengan tidak meninggalkan identitas kebangsaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang dilakukan dengan teknik pengum-pulan data berupa wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menun-jukkan bahwa spirit perjuangan bangsa pada jaman dahulu serta komitmen kebangsaan terwujud dalam format baru keterlibatan warga negara muda pada sebuah komunitas, yaitu Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika (SMKAA). Spirit solidaritas KAA dinilai masih relevan hingga saat ini dan bertransformasi menjadi semangat terbarukan berupa kebersa-maan, semangat perjuangan, melepaskan subjektivitas, dan semangat bersatu. SMKAA melalui program kegiatannya telah mentransformasikan sejarah KAA yang bersifat abstrak menjadi konkret dengan penyebarluasan nilai-nilai KAA, yaitu kesetaraan, kerjasama, dan hidup berdampingan. Keterlibatan warga negara muda hari ini perlu dilandasi pula oleh spirit untuk mengkaji sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Memperkuat dan menumbuhkan literasi dalam spirit solidaritas akan menjadi modal yang penting. Pola pikir spirit solidaritas (the past as the memories) perlu ditumbuhkan kembali saat ini untuk meraih harapan-harapan ke depan (the future as expecatation).
Ludovikus Bomans Wadu, Iskandar Ladamay, Elisabet Elsiana Vemi
Journal of Moral and Civic Education, Volume 3, pp 108-114; doi:10.24036/8851412322019204

Abstract:
Penelitian ini menggambarkan keterlibatan gereja dalam pembinaan moral anak-anak melalui sekolah minggu di Tidar, Malang, dengan tujuan untuk mendukung terwujudnya warga negara yang baik sejak dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan reduksi, tampilan (display), dan verifikasi dalam bentuk koding, kategori, dan tema. Sedangkan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukan keterlibatan gereja dalam pembinaan moral anak-anak melalui sekolah minggu dilakukan dengan kegiatan pembinaan iman, pembinaan mental, dan penguatan untuk peduli terhadap sesama. Dengan adanya keterlibatan gereja melalui sekolah minggu dalam pembinaan moral anak-anak, mereka menjadi peka terhadap apa yang dialami oleh orang lain, menjadi peka terhadap lingkungan di sekitarnya, seperti membuang sampah pada tempatnya dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Keterlibatan gereja dalam pembinaan moral anak-anak melalui sekolah minggu merupakan wujud partisipasi gereja dalam mendukung terbentuknya warga negara yang baik.
Back to Top Top