Buletin Agrohorti

Journal Information
ISSN / EISSN : 2337-3407 / 2614-3194
Published by: Journal of Consumer Sciences (10.29244)
Total articles ≅ 507
Filter:

Latest articles in this journal

Dwi Djosep Hidayat, Hariyadi
Published: 1 September 2019
Buletin Agrohorti, Volume 7, pp 311-318; https://doi.org/10.29244/agrob.v7i3.30203

Abstract:
Penelitian ini dilakukan di Kebun Seruyan Estate yang terletak pada Desa Pembuang Hulu II, Kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah dari bulan Februari sampai Juni 2015. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui sarana panen, kriteria matang panen, angka kerapatan panen, kualitas hasil panen, kualitas hanca panen, transport panen dan alat pelindung diri. Secara umun Kebun Seruyan Estate sudah melakukan kegiatan kebun sesuai dengan standar. Permasalah yang ditemukan di bidang pemanenan yaitu kualitas matang panen dan mutu hancak yang belum memenuhi standar perusahaan.
Rika Riyani, Heni Purnamawati
Published: 1 September 2019
Buletin Agrohorti, Volume 7, pp 363-374; https://doi.org/10.29244/agrob.v7i3.30473

Abstract:
Padi gogo merupakan budi daya padi di lahan kering. Padi gogo memiliki produktivitas yang masihrendah. Perlakuan metode pemupukan kalium dilakukan untuk mengetahui respon pertumbuhan danproduktivitas padi gogo varietas IPB 9G. Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan dimulai dari November2017 hingga April 2018 di Kebun Percobaan IPB Sawah Baru Lahan Kering. Rancangan perlakuan yangdigunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan satu faktor yaitu metodepemupukan kalium yang terdiri dari 4 taraf yaitu P1 (KCl 100 kg ha-1), P2 (KCl 50 kg ha-1 + KCl 50 kg ha-1),P3 (KCl 50 kg ha-1 + 3 x KNO3 22 kg ha-1), dan P4 (KCl 50 kg ha-1 + 2 x K-Builder 600 ml ha-1) dengan 3kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pemupukan kalium berpengaruh nyata terhadappeubah pertumbuhan yaitu tinggi tanaman pada 4 MST, jumlah anakan pada 11 dan 12 MST, skor BaganWarna Daun (BWD) pada 5 MST, jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, jumlah anakan tidakproduktif, dan tinggi tanaman panen serta berpengaruh nyata pada komponen hasil panen yaitu panjangmalai, bobot gabah ubinan, produktivitas GKP, dan produktivitas GKG. Pemupukan kalium taraf P1, P3, danP4 mampu meningkatkan bobot gabah ubinan, produktivitas GKP, dan produktivitas GKG.
Rifka, Memen Surahman, Suryo Wiyono
Published: 1 September 2019
Buletin Agrohorti, Volume 7, pp 375-385; https://doi.org/10.29244/agrob.v7i3.30474

Abstract:
Penelitian ini bertujuan mendapatkan jenis pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas dan mutubenih tanaman kedelai (Glycine max L.). Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo, InstitutPertanian Bogor, Dramaga, Bogor pada bulan Desember 2017-April 2018. Jenis tanah Kebun PercobaanLeuwikopo yaitu latosol. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah faktorial satu faktor dalam rancanganlingkungan kelompok lengkap teracak dengan empat ulangan. Faktor yang diamati adalah jenis pupuk yangterdiri atas enam taraf yaitu perlakuan P0 (tanpa pupuk anorganik dan pupuk organik), P1 (Pupukanorganik), P2 (Abu sekam bakar), P3 (Bio organik), P4 (Pupuk organik cair) dan P5 (Plant growthPromoting Rhizobacteria (PGPR)). Pengujian mutu benih hasil produksi dilaksanakan di LaboratoriumPengujian dan Penyimpanan Benih pada bulan April 2018. Pengujian tersebut terdiri atas pengujian dayaberkecambah, indeks vigor benih, potensi tumbuh maksimum, berat kering kecambah normal dan bobot 100butir benih. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pupuk organik tidak berpengaruh terhadapkomponen pertumbuhan vegetatif seperti tinggi tanaman, jumlah cabang per tanaman, dan jumlah daunterkecuali daya tumbuh dan jumlah bintil akar. Perlakuan pupuk memberikan pengaruh nyata terhadapproduksi kedelai dan bobot 100 butir benih tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah polong pertanaman, jumlah polong isi, bobot polong isi, bobot biji tanpa polong, jumlah butir per tanaman, jumlahcabang produktif, dan bobot akar. Perlakuan pupuk tidak memberikan pengaruh nyata pada komponenpengujian mutu benih yakni variabel daya berkecambah, indeks vigor, potensi tumbuh maksimum dan bobotkering kecambah normal. Penambahan pupuk organik yang menghasilkan produksi terbaik yaitu perlakuanPGPR dengan dosis 10 g kg-1 benih. Semua perlakuan pupuk organik tidak berpengaruh terhadap mutufisiologis benih.
Synthia Dewi, Purwono
Published: 1 September 2019
Buletin Agrohorti, Volume 7, pp 337-342; https://doi.org/10.29244/agrob.v7i3.30261

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu petik tanaman teh yang dilaksanakan di kebun. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan mulai dari bulan Januari sampai Juni 2018 di Kebun Bedakah, Wonosobo, Jawa Tengah. Pengamatan terhadap objek kegiatan kebun juga harus dilakukan terutama pada aspek pemetikan dan produksi. Analisis petik pada bulan Mei 2018 dengan komposisi pucuk medium sebesar 23.83% belum memenuhi standar yang ditetapkan yaitu 50%. Analisis pucuk pada bulan April sudah memenuhi syarat pengolahan dilihat dari rata-rata yaitu 51.44%. Analisis pucuk pada bulan Januari-April 2018 dengan rata-rata sebesar 48.78% pucuk memenuhi syarat pengolahan (MS) belum memenuhi standar yaitu 50%.
Dhedy Kristanto,
Published: 1 September 2019
Buletin Agrohorti, Volume 7, pp 281-286; https://doi.org/10.29244/agrob.v7i3.30192

Abstract:
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Kebun Organik Yayasan Bina Sarana Bakti (YBSB), Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi pupuk organik cair urin kelinci terhadap pertumbuhan dan hasil produksi sayuran caisim secara organik. Data primer diambil melalui percobaan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) 1 faktor dengan 4 taraf urin kelinci (0, 5, 10, dan 15%) dan 3 ulangan sehingga terdapat 12 satuan percobaan. Tanaman caisim dikombinasikan dengan selada merah dengan letak 3 baris tanaman caisim dan 2 baris selada merah di sisi kanan dan kirinya. Kegiatan produksi sayuran organik di YBSB secara keseluruhan telah berjalan dengan baik. Kegiatan penelitian ini mampu meningkatkan pengetahuan serta keterampilan penulis baik dari segi teknis maupun manajerial dalam budidaya sayuran organik. Aplikasi pupuk organik cair urin kelinci pada 1 minggu setelah tanam nyata meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman caisim diantaranya jumlah, daun, panjang daun, lebar daun dan diameter batang. Konsentrasi urin kelinci 10% adalah konsentrasi terbaik untuk diaplikasikan pada tanaman caisim. Konsentrasi ini nyata meningkatkan bobot basah dan bobot rompesan caisim yang dipanen. Meskipun secara statistik ketiga perlakuan konsentrasi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, namun konsentrasi POC 10% menghasilkan rataan nilai tengah bobot layak jual tertinggi dengan persentase peningkatan sebesar 72.87%, sehingga dapat dijadikan sebagai pilihan terbaik karena lebih menguntungkan dari segi ekonomi.
Haris Aprianto Setiawan, Asep Setiawan, Megayani Sri Rahayu
Published: 1 September 2019
Buletin Agrohorti, Volume 7, pp 271-280; https://doi.org/10.29244/agrob.v7i3.30191

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh dari Rootone F dan pemupukan daun terhadap produksi bibit dengan teknik perbanyakan cepat.Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Cikabayan Bawah, Dramaga, Bogor IPB pada bulan Agustus 2017 sampai Desember 2017.Percobaan disusun secara Split Blok dalam Rancangan Acak Kelompok melibatkan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan.Faktor pertama adalah konsentrasi auksinyang terdiri dari empat taraf yaitu, 0 ppm, 150 ppm dan 300 ppm.Faktor kedua adalah frekuensi aplikasi pupuk daun yang terdiri dari empat taraf yaitu, tanpa pupuk, 1 kali/ minggu, 1 kali/ 2 minggu dan 1 kali/ 3 minggu.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara konsentrasi Rootone F dan frekuensi pemberian pupuk terhadap panjang cabang primer, jumlah daun cabang primer dan jumlah bibit cabang primer.Frekuensi pemberian pupuk berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan.Pemberian pupuk daun meningkatkan jumlah buku. Teknik perbanyakan cepat ubi jalar menghasilkan multiplikasi rasio 1:3 bibit ukuran 15 cm dalam waktu dua bulan.
Imam Fauzi Tanjung, Edi Santosa
Published: 1 September 2019
Buletin Agrohorti, Volume 7, pp 351-361; https://doi.org/10.29244/agrob.v7i3.30472

Abstract:
Pemanenan perlu dilakukan dengan baik untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi dengankadar asam lemak bebas yang rendah. Pengamatan terhadap manajemen panen dilaksanakan di KebunAdolina, Sumatera Utara pada tanggal 5 Februari 2018 sampai 30 Juni 2018terdiri organisasi panen,perencanaan panen, pelaksanaan panen, pengawasan dan evaluasi panen. Secara khusus efisensipengangkutan diamati dengan membandingkan teknis dan waktu muat buah pada hanca. Hasil pengamatanterkait manajemen panen seperti rotasi panen, estimasi dan realisasi dari angka kerapatan panen, jumlahtenaga kerja, kriteria matang panen mengalami deviasi dari standar prosedur operasional (SPO) perusahaan.Hal ini dilakukan untuk mencapai target produksi bulanan saat kerapatan buah menurun akibat pencurian. Dikebun tidak ditemukan adanya losses berupa buah matang tidak dipanen setelah ada perubahan sistem hanca.Selain itu terdapat perbedaan tingkat kepatuhan pemanen pada tanaman yang menggunakan sistem tanamstandar dan big hole. Hasil pengamatan terkait efisiensi pengangkutan menunjukkan adanya perbedaan teknisdan waktu yang nyata antara cara pengangkutan menggunakan jembatan atau tidak.
Norul Dewi Susanti, Eny Widajati, Dwi Guntoro
Published: 1 September 2019
Buletin Agrohorti, Volume 7, pp 263-269; https://doi.org/10.29244/agrob.v7i3.30173

Abstract:
Ciplukan merupakan tanaman dengan banyak manfaat. Permintaan buah ciplukan yang meningkat menjadi peluang yang baik bagi petani. Masalah yang dihadapi petani adalah belum tersedianya benih bermutu. Informasi mengenai perkecambahan benih ciplukan masih sangat sedikit, sehingga perlu dilakukan pengembangan terhadap studi perkecambahan benih ciplukan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode pengujian daya berkecambah dan mengetahui pengaruh tingkat masak dan perlakuan benih sebelum pengecambahan pada perkecambahan benih ciplukan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih IPB pada bulan Februari sampai dengan April 2019. Penelitian menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dua faktor. Faktor pertama yaitu tingkat masak benih yang diindikasikan oleh warna kelopak buah yaitu hijau kekuningan, kuning dan coklat. Faktor kedua adalah perlakuan sebelum pengecambahan yaitu tanpa perlakuan, perendaman benih dengan aquades dan perendaman dengan KNO3 0.2% selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengamatan daya berkecambah hitungan pertama adalah pada 14 HSP dan hitungan kedua pada 28 HSP. Berdasarkan pengamatan indeks vigor dan kecepatan tumbuh, panen benih terbaik dapat dilakukan ketika kelopak buah berwarna kuning hingga coklat. Perlakuan benih sebelum pengecambahan dengan KNO3 nyata meningkatkan daya berkecambah pada tingkat masak kuning.
Nur Khayati, Ade Wachjar, Sudarsono
Published: 1 September 2019
Buletin Agrohorti, Volume 7, pp 295-301; https://doi.org/10.29244/agrob.v7i3.30531

Abstract:
Kegiatan penelitian ini bertujuan menganalisis dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapidalam kegiatan pemangkasan kopi. Selain itu, melatih keterampilan kerja dan menambah pengetahuan terkaitbudidaya kopi. Kegiatan penelitian telah dilaksanakan di Kebun Kalisat Jampit, PT Perkebunan NusantaraXII (Persero), Bondowoso, Jawa Timur pada bulan Januari sampai bulan Mei 2019. Kopi merupakan salahsatu komoditas perkebunan yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Salah satuteknik budidaya tanaman kopi yang penting adalah pemangkasan. Pengamatan dilakukan pada aspekpemangkasan yang meliputi tinggi tanaman, komposisi cabang, dan pertumbuhan tunas. Sampel tanamandiambil dari 5 blok kebun dan terdiri atas 3 tanaman per blok. Data sekunder diperoleh dari laporanmanajemen perusahaan. Analisis data yang dilakukan secara deskriptif, rata-rata, dan persentase.Pemangkasan tanaman kopi yang dilakukan di Kebun Kalisat Jampit termasuk pemangkasanpemeliharaan/produksi. Komposisi cabang produktif yang merata (±33%) akan berpengaruh terhadap hasiltaksasi produksi. Jumlah cabang yang dipangkas merupakan cabang yang sudah tua, terserang penyakit, danproduksinya sudah menurun. Cabang yang sudah dipangkas akan menumbuhkan tunas-tunas produktif yangbaru. Pelaksanaan pemangkasan di Afdeling Kampung Baru sudah sesuai dengan standar kebun dilihat daritinggi tanaman kopi yang tidak lebih dari 160 cm.
Frederico Tunggal, Asep Setiawan, Megayani Sri Rahayu
Published: 1 September 2019
Buletin Agrohorti, Volume 7, pp 329-335; https://doi.org/10.29244/agrob.v7i3.30260

Abstract:
Teknik budidaya hidroponik merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil dan kualitas tanaman tomat. Kegiatan di PT Amazing Farm dilakukan bulan Maret hingga Juli 2018. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan meningkatkan kemampuan dalam aspek teknis dan aspek manajerial dalam budidaya sayuran, khususnya tanaman tomat. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk menentukan laju pertumbuhan dua varietas tomat berbeda yang ditanam di rumah kaca yang sama. Metode langsung diterapkan untuk mendapatkan data yang terkait dengan aspek teknis dan manajemen. Aspek teknis terdiri dari beberapa kegiatan yaitu: persiapan lahan, persiapan bahan tanam, persiapan penanaman dan penanaman, pemeliharaan, panen, dan pascapanen. Untuk mempelajari aspek manajerial, penulis telah aktif terlibat sebagai karyawan harian lepas, asisten mandor, dan pengawas. Metode tidak langsung dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder dan data pendukung dari perusahaan seperti informasi umum perusahaan, arsip taman dan studi literatur. Secara umum, PT Agrikultura Amazing Farm telah menerapkan praktik pertanian yang baik. Uji coba melibatkan dua varietas yaitu varietas umagna dan levanso. Percobaan dilakukan dengan 3 ulangan dan unit pengamatan terdiri dari 5 sampel tanaman. Praktek budidaya yang diberikan terdiri dari penyiraman tanaman sebanyak 5 kali setiap hari dengan dosis setiap penyiraman pada 1 - 2 MST dengan larutan nutrisi 100 ml AB mix dan kadar EC 2 ms / cm, pada 3 - 4 MST dengan 150 ml AB mix dan kadar EC 2 ms / cm, pada 5 -7 MST dengan 200 ml AB mix dan kadar EC2,2 ms / cm, dan pada 8-24 MST dengan 300 ml AB mix dengan kadar EC 2,2 ms / cm. Hasil menunjukkan bahwa teknik budidaya tunggal dapat diterapkan untuk dua varietas yang berbeda dan menghasilkan hasil yang sama baiknya.
Back to Top Top