ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur

Journal Information
ISSN / EISSN : 25410598 / 25411217
Total articles ≅ 96
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur; doi:10.30822/arteks

Abstract:
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur UNWIRA
Iwan Sudradjat
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 1-6; doi:10.30822/arteks.v5i1.378

Abstract:
”Teori” merupakan terminologi yang maknanya jarang dipahami dengan benar oleh para mahasiswa, dosen dan bahkan peneliti sekalipun. Gambaran mental yang mereka miliki tentang teori adalah sesuatu yang abstrak, mengawang-awang, rumit, oleh karena itu dianggap sebagai hal yang patut dihindari. Seorang sosiolog terkenal Ian Craib (1984) dengan tepat memberikan gambaran tersebut: ”The very word “theory”sometimes seems to scare people … (Only) few people feel at home with theory or use it in a productive way”. Tidak dapat dibantah, teori mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam penelitian di bidang ilmu apapun, termasuk penelitian di bidang arsitektur. Teori berperan untuk menjelaskan keterkaitan antara suatu fenomena dengan data empiris yang diamati dan dianalisis secara sistematis oleh peneliti. Kerlinger (1973) mendefinisikan teori sebagai ”seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang menyajikan gambaran sistematik tentang suatu fenomena beserta hubungan di antara variabel-variabelnya, dengan tujuan memberi penjelasan atau memprediksi tentang fenomena tersebut”. Lebih lanjut Neuman (2003) menjelaskan bahwa teori memiliki peran penting dalam mengkaitkan suatu hasil penelitian dengan sejumlah pengetahuan relevan yang telah disumbangkan oleh para peneliti sebelumnya, sehingga melalui penelitiannya seorang peneliti tidak hanya mampu melihat sebatang pohon, tetapi sebuah hutan yang dipenuhi dengan banyak pohon. Teori dengan kata lain berperan meningkatkan kesadaran peneliti terhadap interkonektisitas di antara data dan hasil penelitian. Sayangnya banyak peneliti yang tidak mampu secara eksplisit menentukan teori mana yang sesuai dengan penelitiannya, dan bagaimana teori tersebut harus digunakan. Sebagai akibatnya mereka cenderung menjadi peneliti yang a-teoretis dan perannya hanya terbatas pada kolektor data empiris. Untuk meneliti tentang makna dalam arsitektur misalnya, seorang peneliti secara eksplisit harus menetapkan alternatif teori mana yang paling relevan baginya di antara sekian banyak teori yang telah berkembang, apakah teori strukturalisme, fenomenologi, pasca strukturalisme atau teori lainnya.
Editor Arteks : Jurnal Teknik Arsitektur
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5; doi:10.30822/arteks.v5i1.439

Paulus Bawole
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 115-126; doi:10.30822/arteks.v5i1.362

Abstract:
Banyak orang tertarik untuk pergi ke daerah perkotaan, karena peluang ekonomi yang ditawarkan oleh fasilitas kota. Ketika kota tumbuh dalam ukuran dan populasi, keharmonisan antara aspek spasial, sosial, lingkungan kota dan penghuninya menjadi sangat penting. Pembentukan permukiman kampung kota yang sebagian besar dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah adalah bagian integral dari proses pertumbuhan kota. Secara umum orang yang tinggal di pemukiman tidak memiliki kekuatan sosial, lebih sedikit sumber daya ekonomi dan kemampuan fisik untuk berjuang hidup di kota. Mereka harus kreatif dalam menangani fasilitas infrastruktur yang minim pada permukiman. Strategi pengembangan kampung kota menjadi destinasi wisata adalah proses pengembangan kampung kota yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pembangunan fasilitas infrastruktur fisik. Oleh karena itu pendekatan ini melibatkan pembelajaran pengetahuan lokal tidak hanya dari pemimpin masyarakat tetapi dari semua anggota masyarakat. Makalah ini akan berbagi pengalaman bagaimana memberdayakan masyarakat pada permukiman kampong kota untuk mengembangkan wilayah tempat tinggal mereka menjadi kawasan tujuan wisata minat khusus.
Alfred Wijaya, Sally Octaviana Sari
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 127-134; doi:10.30822/arteks.v5i1.363

Abstract:
Wilayah Padalarang saat ini dikenal sebagai kawasan bermobilitas tinggi. Di wilayah ini terdapat Stasiun Kereta Api dan terminal sebagai titik simpul moda transportasi publik. Kawasan sekitar Stasiun Kereta Api ini mengalami penurunan kualitas fisik lingkungan dan visual akibat pertumbuhan bangunan liar, sektor informal, terutama dengan adanya fungsi pasardan terminal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pendekatan pengembangan yang berorientasi pada sistem transit (Transit Oriented Development), yang mengintegrasikan sistem jaringan jalan (moda transportasi massal dan pedestrian. Perkembangan tak teratur tersebut memicu permasalahan lingkungan kawasan. Salah satunya adalah jalur pedestrian yang kurang mendapatkan perhatian. Sementara jalur pedestrian dalam konteks perumahan warga, pasar, stasiun dan terminal memiliki peran penting bagi mereka sebagai kegiatan utama. Jalur pedestrian di Indonesia hingga kini masih selalu menjadi perdebatan yang belum selesai. Isu penting dalam merencanakan sistem jalur pedestrian dalam konsep pengembangan ini adalah bagaimana merencanakan jalur pedestrian yang walkable dan responsif, yaitu berorientasi pada pengguna trotoar. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan studi kasus di lapangan melalui survey, observasi dan mapping kondisi fisik lingkungan, serta wawancara para stakeholder. Hasil penelitian ini ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan perancang kebijakan dalam menata wilayah Stasiun Kereta Api Padalarang.
Cahyo Hutomo, Agus Suharjono Ekomadyo, Muchi Juma Ameir
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 101-114; doi:10.30822/arteks.v5i1.283

Abstract:
Kearifan lokal dapat dipelajari melalui penelusuran terhadap kampung adat secara fisik pada tata ruang kawasan, bentuk arsitektur, dan aktivitas sehari-hari. Organisasi yang berlaku dalam sebuah lingkungan menjadi faktor penting dalam mengelola budaya mitigasi yang kontekstual. Adanya wewenang (mandat) dapat menguasai nilai/modal kultural dan menciptakan unsur simbolis seperti kepercayaan atau keyakinan. Kampung Budaya Sindang Barang diambil sebagai kasus kajian untuk mengungkap sejarah dan peran mandat dalam budaya mitigasi bencana. Penelitian ini bertujuan mengamati adanya peran mandat beserta dampaknya dalam mitigasi bencana. Peran mandat juga ditelaah untuk melihat adanya upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal terhadap perkembangan jaman. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan menelusuri fenomena dan artefak yang ada di lapangan. Analisis dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah membuat tabel upaya mitigasi berdasarkan program atau artefak yang masih ada. Tahap ke-dua adalah membuat diskusi konsep budaya mitigasi berdasarkan kapasitasnya. Adapun mitigasi yang terlihat dari program dan artefak Kampung Budaya Sindang Barang adalah risiko kebakaran, bencana gempa bumi, dan tanah longsor. Proses menentukan mandat sepadan dengan kapasitas adaptif karena tahap ini cenderung mengarah kepada pantangan atau perintah dalam sebuah program yang diselenggarakan secara sistematis pada konteks tertentu.
Syamsun Ramli, Antariksa, Herry Santosa
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 87-100; doi:10.30822/arteks.v5i1.250

Abstract:
Karakter suatu bangunan dibentuk oleh beberapa elemen. Diantaranya adalah elemen arsitektural. Elemen arsitektural bisa dinilai menggunakan skala penilaian kualitas estetika. Nilai estetika berkaitan erat dengan persepsi masyarakat. Bangunan Kolonial di Jalan Basuki Rahmat Malang memiliki karakter yang khas sehingga patut dilestarikan. Penilaian estetika bangunan merupakan langkah awal dalam upaya pelestarian bangunan Kolonial. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas estetika elemen arsitektural bangunan Kolonial di Jalan Basuki Rahmat Malang. Kuesioner digunakan untuk pengambilan data. Pengukuran kualitas estetika dilakukan dengan menggunakan semantic differential scale. Masyarakat diminta menilai kualitas estetika bangunan berdasarkan persepsinya masing-masing dengan melihat foto. Data dianalisis menggunakan descriptive statistics, independent samples test, dan linier regression. Hasil penelitian menunjukan bahwa elemen arsitektural yang berdampak paling signifikan terhadap keindahan bangunan kolonial adalah fasade. Bangunan kolonial dengan nilai estetika tertinggi adalah Gereja Hati Kudus Yesus Malang.
Frengky Benediktus Ola, Maria Christina Prasetya, Maria Risky Pratiwi Renwarin, Cecilia Kitti, Fiona Purwanto
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 75-86; doi:10.30822/arteks.v5i1.195

Abstract:
Pengaruh kebisingan terhadap fisik manusia tidak saja mengganggu organ pendengaran, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan pada organ-organ tubuh yang lain serta penurunan efektivitas kerja dan kinerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kebisingan di hunian di tepi jalan raya Kota Yogyakarta serta menemukan indikasi dampak pada desain bangunan dan barrier oleh pemilik rumah untuk mengurangi kebisingan. Penelitian ini bersifat kuantitatif asosiatif. Data diperoleh dari pengukuran dan pengamatan lapangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat kebisingan di hunian di tepi jalan raya, kelas jalan II, jalan lokal, di Kota Yogyakarta belum memenuhi standar nilai LTNI dan LNP. Desain bangunan serta barrier sebagai faktor pereduksi kebisingan jalan raya ditemukan dengan persentase sebesar 100% pada ruas Jalan Bung Tarjo, 85,7% pada ruas Jalan Ki Penjawi, 20,83% pada ruas Jalan Juminahan, 52,08% pada ruas Jalan Bausasran, 13,37% pada ruas Jalan Suryodiningratan, dan 10,7% pada ruas Jalan Mangkuyudan. Dengan demikian masyarakat belum sepenuhnya sadar terhadap tingginya tingkat kebisingan jalan raya.
Efraim Lalu, Bachtiar Fauzy
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 67-74; doi:10.30822/arteks.v5i1.187

Abstract:
Fenomena wujud akulturasi arsitektur lokal-modern menjadi penting ditelusuri karena dapat dijadikan konsep arsitektur masa kini (arsitektur kiwari). Objek studi penelitian ini adalah bangunan Casablancka Residence di Bali. Objek studi merupakan bangunan baru dan jarang diteliti, terutama dari aspek wujud akulturasi arsitekturnya. Penelitian ini selain bertujuan untuk mengungkapkan ragam bentuk akulturasi arsitektur lokal - modern yang ditinjau dari aspek ragam bentuk akulturasi, juga untuk melihat mana yang lebih mendonimasi antara arsitektur lokal dan modern yang ada pada bangunan Casablancka Residence. Teori yang digunakan dalam studi ini adalah teori archetype yang berfungsi mengungkap fenomena arsitektur Casablancka Residence tersebut. Metoda yang digunakan dalam menelusuri kasus studi adalah deskriptif, analitik dan interpretatif, sesuai dengan karakteristik kasus studi yang diungkap. Hasil dari penelitian ini ditemukan dominasi yang lebih kuat pada unsur lokal dimana secara garis besar nampak pada bagian atap dan alas bangunan yang menggunakan bentuk serta material lokal yang kuat, sedangkan unsur modern lebih dominan pada bagian dinding bangunan yang didominasi material kaca modern. Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat akan pentingnya penerapan lokalitas dalam membangun serta mengupayakan pelestarian budaya arsitektur lokal dan juga menambah khasanah ilmu pengetahuan arsitektur yang telah ada baik bagi akademik maupun praktisi.
Asta Juliarman Hatta, Iwan Sudrajat
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 57-66; doi:10.30822/arteks.v5i1.119

Abstract:
Persebaran suku dan budaya yang begitu beragam menjadikan Indonesia menjadi negara yang kaya akan budaya. Bentuk rumah tradisional yang beragam merupakan simbol dan cerminan budaya pada setiap suku yang ada di Indonesia. Bentuk dan nilai arsitektur rumah tradisional Bugis di Sulawesi Selatan yang masih bertahan karena peran penting masyarakat suku Bugis merupakan contoh nilai budaya membangun rumah yang masih terjaga. Keterlibatan salah satu tokoh masyarakat seperti peran sanro bola dalam tradisi membangun rumah Bugis sangatlah penting karena ilmu dan pengalaman yang diterima diturunkan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran sanro bola dalam melestarikan nilai-nilai tradisi membangun rumah Bugis Soppeng. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat eksploratif. Hasil penelitian mengungkapkan peran sanro bola dalam proses tradisi membangun rumah tradisional Bugis Soppeng terbagi ke dalam 6 aspek yaitu pemimpin, pemilihan material, pemilihan waktu dan hari yang baik, arah orientasi rumah, mendirikan rumah dan penerapan filosofi sulapa eppa’e. Penerapan keenam aspek tersebut diterapkan oleh sanro bola secara fisik dan non fisik dengan tujuan untuk memberi arahan dan keselamatan bagi para penghuni rumah.
Back to Top Top