ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur

Journal Information
ISSN / EISSN : 25410598 / 25411217
Total articles ≅ 116
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Sri Yuliani, Gagoek Hardiman, Erni Setyowati
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 245-254; doi:10.30822/arteks.v5i2.395

Abstract:
Penelitian atap hijau telah berkembang pada berbagai ragam disiplin ilmu secara mendunia. Namun informasi penelitian dengan tema atap hijau di Indonesia masih terbatas diperoleh, termasuk dari disiplin ilmu arsitektur. Oleh karenanya, sangat penting mengidentifikasi pemetaan penelitian atap hijau dari sudut pandang arsitektur. Tujuan penelitian mengidentifikasi kebaruan penelitian atap hijau yang berpeluang dilakukan di Indonesia. Metode penelitian dengan menggunakan kajian literatur berdasarkan pemetaan melalui Vosviewer dilanjutkan dengan melakukan analisis isi pada sejumlah teori yang telah mengerucut. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penelitian atap hijau dari sudut pandang arsitektur, masih berpeluang pada penelitian yang menggunakan parameter lokasi berbasis iklim dan kriteria kepadatan, fungsi obyek hunian, inovasi bahan dan teknologi atap hijau yang aplikatif digunakan masyarakat Indonesia.
Alfanadi Agung Setiyawan, Suzanna Ratih Sari, Agung Budi Sardjono
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 287-296; doi:10.30822/arteks.v5i2.436

Abstract:
Trotoar adalah salah satu prasarana yang penting guna menunjang perkembangan dan efektivitas segala kegiatan pada skala kawasan. Keberadaan trotoar memiliki fungsi utama yakni mewadahi aktivitas berjalan kaki manusia, dengan tidak melupakan fungsi tambahan sebagai penghubung elemen transportasi perkotaan. Akan tetapi pada kenyataannya trotoar memiliki fungsi ganda, selain untuk berjalan kaki dimanfaatkan juga untuk sarana berdagang PKL (pedagang kaki lima). Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengungkap keterkaitan antara persepsi atribut yang ditunjukkan dengan bagaimana para PKL berperilaku, dengan latar seting trotoar koridor jalan Pandanaran Semarang. Terdapat dugaan bahwa objek street furniture memiliki kekuatan properti yang mampu mewadahi tuntutan atribut para PKL. Untuk menjawab dugaan tersebut digunakanlah kuesioner tertutup dan metode Person Centered Mapping untuk memperoleh data statistik maupun data gambar rekaman perilaku PKL dalam berdagang di trotoar. Data yang didapat kemudian dianalisis menggunakan metode analisis statistik deskriptif. Dimulai dari klasifikasi sesuai persepsi berupa minat, tujuan, dan harapan diikuti oleh atribut yang memiliki relevansi dengan seting trotoar antara lain visibilitas, aksesibilitas, keamanan, dan adaptabilitas.
Denny Huldiansyah, Tarcicius Yoyok Wahyu Subroto
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 173-184; doi:10.30822/arteks.v5i2.248

Abstract:
Masjid Pathok Negara Babadan merupakan salah satu dari empat Masjid Pathok Negara yang berperan sebagai batas Timur Negara di masa Kesultanan Yogyakarta. Masjid Pathok Negara Babadan telah mengalami berbagai macam perubahan fisik, khususnya pada ruang-ruang yang ada saat ini. Akan tetapi, dibalik perubahan-perubahan tersebut terdapat ruang yang keberadaannya selalu konsisten sejak masjid pertama kali berdiri hingga sekarang ini. Hal ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti apa saja ruang yang konsisten di dalam Masjid Pathok Negara Babadan dan apa yang mempengaruhi konsistensi dari ruang tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dalam mengumpulkan data dan informasi-informasi mengenai perkembangan denah dan ruang-ruang di Masjid Pathok Negara Babadan. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode diakronik dan sistem Koordinat Kartesian/Cartesian Coordinate System (CCS). Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa keberadaan ruang pangimaman, liwan, dan pawestren merupakan ruang yang konsisten di dalam Masjid Pathok Negara Babadan. Konsistensi ruang-ruang tersebut dipengaruhi faktor otoritas keraton sebagai pemilik utama masjid-masjid kesultanan (kagungan dalem), termasuk di dalamnya Masjid Pathok Negara Babadan. © 2020 Denny Huldiansyah, Tarcicius Yoyok Wahyu Subroto
Roqim Azyan Kemas, Yohannes Firzal, Mira Dharma Susilawaty
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 229-234; doi:10.30822/arteks.v5i2.391

Abstract:
Tembilahan dikenal sebagai Negeri Hamparan Kelapa Dunia mempunyai kerajinan yang berbahan baku kelapa, baik itu dari batok, batang, dan bahkan dari sabut kelapa. Potensi kerajinan berbahan baku kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir belum mendapat respon yang positif dari masyarakat karena masih kuatnya persaingan dengan produksi produk-produk berbahan baku lainnya, padahal kelapa merupakan salah satu potensi terbesar yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi daerah. Untuk menunjang berkembangnya kerajinan berbahan baku kelapa, maka diperlukanlah Coconut Center yang dapat mewadahi berbagai macam kegiatan yang berkaitan dengan kelapa seperti pusat kerajinan tangan dan pengembangan kelapa. Dengan menggunakan metode primer berupa survei, serta berbagai sumber literatur sebagai metode sekunder. Pada perancangan arsitektur Coconut Center ini akan digunakan pendekatan tema Arsitektur Biomimetika yang pada dasarnya menggunakan alam sebagai model dan acuan dalam ide-ide perancangan, kiranya dapat memperkuat aspek alam pada objek rancangan yang mengacu pada fungsi Kerajinan, penelitian, produksi, edukasi, dan rekreasi. © 2020 Kemas Roqim Azyan, Yohannes Firzal, Mira Dharma Susilawaty
Santoni, Fransisca Yongsie, Evian Devi
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 205-218; doi:10.30822/arteks.v5i2.380

Abstract:
Penelitian ini dilatar belakangi oleh wadah yang disediakan pemerintah bagi lansia sebagian besar adalah panti jompo yang fasilitasnya kurang. Saat ini diperlukan sarana alternatif hunian kedua bagi lansia yang memberikan fasilitas rekreasi untuk memantau kesehatan mental dan fisik para lansia serta pelayanan umum. Penelitian ini berfokus pada lingkungan panti jompo, bangunan panti jompo dan tempat rekreasi lansia pada panti jompo. Teori yang digunakan adalah teori lansia, psikologis lansia, rekreasi, rekreasi lansia, perancangan panti jompo, dan tempat rekreasi. Variabel yang digunakan adalah lansia, panti jompo, dan rekreasi. Berdasarkan rumusan teori yang telah dilakukan maka kriteria yang akan diuji pada studi kasus mengenai aspek lingkungan panti jompo adalah jalur masuk tapak dan bangunan, area kedatangan, taman rekreasi pasif dan aktif, area bercocok tanam dan sirkulasi pedestrian. Pada aspek bangunan panti jompo akan dijui kriteria area komunal, area servis, loading dan staf, sirkulasi bangunan, unit kamar dan blakon, dan ruang duduk dan pantry. Sedangkan pada aspek tempat rekreasi untuk lansia maka akan diteliti mengenai pemilihan tema, pola sirkulasi, pengolahan ruang, kegiatan dan fasilitas dan bentuk ruang. Studi kasus yang akan digunakan ialah Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan dan Panti Werdha Wisma Mulia. Penelitian pada aspek lingkungan menunjukkan bahwa Panti Werdha Wisma Mulia lebih mendukung pergerakan dan psikologis lansia untuk beraktivitas secara mandiri karena lingkungan yang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan. Jika pada aspek bangunan Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan memiliki ruang-ruang pendukung dan kamar yang lebih memadai, sirkulasi bangunan pun dapat diakses secara keseluruhan oleh lansia, sedangkan Panti Werdha Wisma Mulia hanya memiliki fasilitas seadanya. Pada aspek tempat rekreasi keduanya memiliki kelebihan, Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan memiliki banyak ruang dan kegiatan untuk aktivitas lansia dalam jumlah besar, sedangkan Panti Werdha Wisma Mulia meski dengan taman yang kecil dan ruang serbaguna yang tidak terlalu besar namun cukup dalam menjawab kebutuhan lansia sebagai tempat rekreasi. © 2020 Santoni, Francisca Yongsie, Evian Devi
Gina Liana Wati, Anisa
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 185-196; doi:10.30822/arteks.v5i2.366

Abstract:
Arsitektur organik merupakan konsep arsitektur yang selaras dengan alam dan terintegrasi dengan tapak melalui visualisasi. Terdapat delapan konsep dasar yang dijadikan acuan dalam mendesain bangunan berkonsep arsitektur organik yaitu, building as nature, continous present, form follows flow, of the people, of the hill, of the material, youthful and unexpected, living music.Penerapan arsitektur organik pada kawasan agrowisata modern dapat menghidupkan suasana kawasan agrowisata modern, sehingga meningkatkan daya tarik kawasan agrowisata modern tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deduktif untuk mengetahui lebih dalam mengenai penerapan arsitektur organik pada kawasan Kuntum Farmfield. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif menggunakan teori delapan konsep arsitektur organik. Kesimpulan yang didapatkan adalah konsep arsitektur organik dapat diterapkan pada kawasan agrowisata modern, antara lain mengaplikasikan gubahan massa terbuka dan bentuk menyerupai organisme, menghadirkan unsur alam, dan menjadikan alam itu bagian dari desain merupakan penerapan konsep building is nature. Form follows flow diterapkan pada kawasan agrowisata modern dengan mendesain sisi terpanjang bangunan mengarah ke Utara dan Selatan, mendesain bangunan dengan bukaan, serta mendesain area terbuka mengarah ke lingkungan alam. Of the people diterapkan pada kawasan agrowisata modern dengan memberikan ruang yang cukup bagi pengunjung untuk berinteraksi dengan hewan dan mendesain bangunan dengan ruang terbuka yang dapat menampung orang banyak. © 2020 Anisa, Gina Liana Wati
Muhammad Hidayat, Budi Prayitno, Dwita Hadi Ratmi
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 277-286; doi:10.30822/arteks.v5i2.405

Abstract:
Sejak awal berdirinya kota, masyarakat Pontianak merupakan masyarakat multietnik yang multikultur, tercermin dari perwujudan akulturasi arsitektur rumah tradisionalnya yang tersebar di wilayah cikal bakal kota Pontianak, yang saat ini masih bisa dijumpai. Sejarah budaya multikultur sudah terjadi sejak masa awal terbentuknya kesultanan Pontianak, sebagaia wujud hasil integrasi budaya dari beragam etnis tertentu. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji lebih jauh, tentang akulturasi religi yang menyertai perwujudan akulturasi etnik pada wujud arsitektur vernakular rumah Melayu Pontianak. Melayu di sini adalah sebuah perwujudan diaspora antar etnis yang memiliki kesamaan keyakinan iman Islam. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi kasus atas 30 sampel terpilih. Analisis dilakukan didasarkan, sejauhmana kekuatan sistem religi dari tiap etnik yang berakulturasi, dengan merujuk pada sejarah perkembangan dakwah Islam di Pontianak khususnya dan di Kalimantan Barat pada umumnya. Penelitian menghasilkan temuan bahwa akulturasi religi dalam perwujudan arsitektur vernakular Melayu Pontianak terjadi dalam bentuk saling toleransi antar religiusitas Islam dari masing-masing etnik (akulturasi-separatif), dalam dasar wujud akulturasi elemen fisik yang bersifat menghargai otoritas vernakularitas Bugis (akulturasi integratif-asimilatif) dalam mewujudkan rumah Melayu Pontianak. Diharapkan hasil kajian ini makin memperkaya anasir utama tentang arsitektur vernakular rumah Melayu Pontianak, dan makin memberikan gambaran tentang kekayaan Budaya Melayu Pontianak.
Bintang Padu Prakoso, Herman Wilianto
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 165-172; doi:10.30822/arteks.v5i2.219

Abstract:
Masyarakat Jawa memiliki falsafah hidup yang unik. Falsafah hidup masyarakat Jawa dikenal sebagai ajaran kejawen. Falsafah kejawen diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dimanifestasikan dalam simbol-simbol dan ritual pada hunian. Bagi masyarakat Jawa, rumah tidak dianggap sebagai tempat tinggal semata, namun rumah juga menjadi tempat perwujudan banyak simbol atau ritual yang memberi dorongan bagi pemiliknya. Penelitian mengenai rumah adat Jawa memang sudah sering dilakukan, namun banyak dari hasil penelitian lebih menekankan aspek fisik. Sedangkan masyarakat Jawa tradisional yang mengacu pada falsafah kejawen memahami realitas secara intuitif, tidak terbatas pada wujud fisiknya saja. Untuk memahami isu dari penelitian ini secara mendalam observasi lapangnan dilakukan untuk periode waktu tertentu menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, rumah bagi masyarakat Jawa merupakan perpaduan jagad ageng dan jagat alit. Omah yang berasal dari kata "Om" sebagai bapak angkasa dan "Mah" lemah atau tanah merupakan ibu bumi. Omah bagi masyarakat Jawa merupakan manifestasi dari makro kosmos dan mikro kosmos. © 2020 Bintang Padu Prakoso, Herman Wilianto
Nino Ardhiansyah
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 197-204; doi:10.30822/arteks.v5i2.372

Abstract:
Identitas ruang yang dimiliki oleh sebuah kota dapat ditunjukkan melalui kota yang bersih, sehat, dan tertata. Kota yang bersih, tertata dan bebas dari vandalisme mampu memenuhi standar identitas kota. Pelaku aksi vandalisme yang semakin tidak terkontrol mencoreng keistimewaan Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota budaya. Aksi grafiti tagging dilakukan dengan cara menuliskan nama geng/kelompok pada media/bangunan di ruang publik dengan menggunakan cat semprot sebagai wujud eksistensi. Grafiti tagging akan menimbulkan polusi visual yang merusak keistimewaan Kota Yogyakarta. Fenomena merebaknya graffiti tagging menyebabkan permasalahan pada visualisasi representasi Kota Yogyakarta. Tujuan Penelitian ini mengidentifikasi faktor – faktor setting fisik yang mempengaruhi aktifitas grafiti tagging di Kota Yogyakarta serta memberikan gagasan melalui penyusunan Urban Design Guideline terkait permasalahan grafiti tagging sebagai bentuk vandalisme yang terjadi di Kota Yogyakarta. Metode Penelitian ini mengkaji setting fisik dan aktivitas pada koridor Jalan AM Sangaji. Koridor jalan ini merupakan bagian dari sumbu imajiner Kota Yogyakarta namun sering menjadi lokasi aksi vandalisme. Pengumpulan data dilakukan melalui survey dan studi pustaka terkait fungsi bangunan, massa, ketinggian bangunan, warna, transparansi dan setback. Hasil identifikasi kemudian dianalisis berdasarkan masing-masing elemen yang dijadikan variabel penelitian untuk menemukan kriteria bangunan yang cenderung menjadi objek vandalisme. Hasil studi menunjukkan lokasi yang sering dijadikan aksi grafiti tagging yaitu tempat tempat yang berada pada jalan utama. Faktor setting fisik yang paling berpengaruh terhadap aksi vandalisme yaitu vegetasi yang kurang, massa bangunan yang kecil, transparansi yang kurang, dan dimensi setback yang sempit. © 2020 Nino Ardhiansyah
Agus Setiawan, Ikaputra
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 255-264; doi:10.30822/arteks.v5i2.402

Abstract:
Pengembangan kawasan berbasis transit atau transit oriented development (TOD) adalah konsep untuk menjawab permasalahan terkait minimnya penggunaan moda transportasi publik yang terjadi di kawasan perkotaan. Kondisi empiris dikawasan stasiun Maguwo belum menerapkan prinsip TOD khususnya terkait aspek densitas dan diversitas, yang berakibat terhadap rendahnya intensitas pemanfaatan transportasi publik khususnya kereta api, berdasar kondisi tersebut perlu dilakukan penataan kembali dengan menerapkan prinsip TOD. Penataan kawasan stasiun Maguwo dengan konsep TOD diawali dengan tinjauan kondisi eksisting dan tipologi TOD yang ideal untuk diterapkan dikawasan stasiun Maguwo, temuan kesenjangan antara kondisi eksisting dengan tipologi TOD yang ideal untuk diterapkan, serta rekomendasi untuk menyelesaikan kesenjangan tersebut, akan menjadi masukan dalam proses perencanaan desain kawasan TOD. Penelitian menggunakan metode deduktif kuantitatif dan kualitatif dengan variabel penelitian meliputi karakter pengembangan kawasan, ragam dan intensitas pemanfaatan ruang. Hasil penelitian menunjukan tipologi TOD yang ideal diterapkan di kawasan stasiun Maguwo adalah tipologi TOD sub kota. Kesenjangan antara kondisi eksisting dengan standar tipologi TOD sub kota adalah pada kurangnya jumlah unit hunian dan rendahnya intensitas pemanfaatan ruang meliputi kepadatan bangunan, kepadatan unit hunian, dan kepadatan populasi, sehingga desain kawasan nantinya perlu menambahkan jumlah unit hunian dan meningkatkan angka intensitas kepadatan bangunan agar sesuai dengan standar tipologi TOD sub kota. © 2020 Agus Setiawan, Ikaputra
Back to Top Top